Stay by My Side

*Chapter 2*

Story © alice dreamland

The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort (maybe)

Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixIgnorant!Reader, slight KisexReader, OOC, Request Nakamura Hikari

Limousin mewah memarkir di depan gerbang SMA Teiko—sukses menjadi objek pandang seluruh warga. Sang supir turun dan cepat membuka pintu—mempersilahkan dirimu dan Akashi turun.

Disusul bodyguard berpakaian hitam muncul dari berbagai arah—berbaris manis dengan perlengkapan sempurna.

Wah wah, sepertinya sang ayah sangat protektif pada kedua anaknya.

Ya, dapat dikatakan Akashi Seichirou telah menganggapmu seperti anaknya sendiri. Terlebih setelah sang ibu meninggal, ia semakin protektif.

Bisikan menyapa telingamu dari berbagai arah—mayoritas tercipta dari kaum hawa.

Yang bagi Akashi adalah lumrah, namun kau sebaliknya.

Kedua tas terselempang manis di tubuh kalian. Kau pun melirik Akashi—panik akan perhatian berlebih masyarakat sekitar.

Meski sifat dasarmu cuek, tetap saja kau risih diperbincangkan mereka.

Akashi tersenyum menenangkan—membuat rasa panikmu sedikit mereda. Lelaki itu mengambil langkah pertama—disusul olehmu yang mengikutinya masuk dalam gedung.

—dan supir serta para bodyguard pun menghilang dari pandangan.

.

.

.

Teiko memang luar biasa.

Fasilitas lengkap, lingkungan bersih, tempat berkumpulnya umat terpandang.

Sungguh membuatmu terpana. Ya, sebelum ini kau memilih SMP Shion karena terkenal dalam bidang seninya, dan di sana semuanya tak sesempurna Teiko.

Kalian telah mengunjungi kepala sekolah. Ia telah menjelaskan semua tentang Teiko lengkap dengan visi misinya.

Ia tak memberitahukan kelasmu, hanya mengatakan: "Aida-sensei adalah wali kelasmu."

Kau tak memedulikannya, hanya mengangguk agar tak dicurigai meski sesungguhnya tak mengerti—dan sang kepsek pun memberikan salam penutup, membiarkanmu pergi.

Kini kau bersama Akashi tengah menyusuri salah satu koridor sekolah di lantai satu. Mengenal sifat kalian yang serupa—meski tidak sepenuhnya—menyebabkan suasana hening tanpa suara.

Akashi berjalan terus—kau mengikutinya.

Kalian sedang mencari papan pengumuman, di mana letak kelas seluruh murid tertampang. Kau hanya dapat berdoa bahwa kau sekelas dengan Akashi.

"Akashi-kun."

Suara polos bernada datar menyapa daun telingamu.

Akashi menghentikan langkah—menyadari seseorang di hadapan. Kau berhenti di sebelah Akashi—menautkan alis bingung, siapa gerangan sang pemanggil nama.

"Ada apa, Tetsuya?" tanya Akashi—menatap lurus ke depan. Kau mengerjapkan kedua mata—heran. Mengikuti arah pandang Akashi, seraya membelalakan mata.

Tampak seorang lelaki berambut biru muda mengenakan seragam. Ekspresi datar, wajah tampan (manis), perilaku sopan tahu tata krama. Tak lupa seragam rapi khas murid teladan. Siapa lagi kalau bukan Kuroko Tetsuya?

Kau menegang sejenak. Kau yakin sebelumnya, tak ada orang disana. Lagipula, siapa dia? Kau netralisir degup jantung yang berpacu karena kaget, seraya kembali pada ekspresi semula.

"Kaori-sensei memintaku untuk memanggilmu ke ruang guru. Sepertinya berhubungan dengan kegiatan OSIS," jawab Kuroko.

Kau terdiam. Ya, kau tahu Akashi Seijuuro adalah sang ketua OSIS. Namun mengapa sekarang? Mungkin saja kau akan tersesat nantinya—meski persentasenya kecil.

Akashi menghela nafas—mengalihkan pandangan padamu. "[name], sebaiknya kau cari papan pengumumannya sendiri."

Kau mengangguk. Akashi pun berjalan menjauh—meninggalkanmu dengan Kuroko di koridor. Kau tatap nanar punggungnya hingga menghilang di tikungan, kemudian beralih pada Kuroko.

"... Anata wa dare?" [1] tanyamu singkat. Kuroko menoleh padamu.

"Doumo, Kuroko Tetsuya desu. Yoroshiku onegaishimasu." [2] Kau mengangguk datar.

"[surname][name], yoroshiku."

Kuroko mengangguk dengan senyuman kecil. "Kalau begitu salam kenal, [name]-san."

Kau membalas senyumannya. "Jaa, aku pergi dulu Kuroko-kun."

Kakimu melangkah tanpa menunggu respon—meski sekali berbalik, mendapati sang lelaki tak lagi dalam posisi.

Menghela nafas lega dan berjalan lurus menyusuri koridor tanpa arah jelas. Terus lurus, lurus, dan lurus—manik mata memerhatikan sekitar. Siapa tahu kau temukan tujuanmu—papan pengumuman.

Meski secara logika, kau yakini banyak siswa berkumpul demi melihatnya—sehingga suasana menjadi ramai.

Namun koridor ini sepi. Padahal jendela kaca di sebelah koridor berhadapan langsung dengan lapangan, cocok bagi para supporter untuk mendukung pemain favorit mereka.

Tapi sepertinya terdapat sesuatu yang menyebabkan murid enggan berada lama-lama.

Kau tak memedulikannya, toh tak lama lagi kau juga akan tahu.

"AWAS!"

Eh? Siapa?

Kau menoleh ke samping—mendapati sebuah bola bermotif hexagon hitam putih meluncur ke arahmu dengan kecepatan tinggi.

"Eh?"

Otakmu seakan malfungsi, langkahmu terhenti. Setelah beberapa detik—sistem syaraf pun menerima kabar, mengirim perintah balik tuk merespon.

Manik matamu melebar.

Bola mengenai kaca jendela.

Pranggg!

Serpihan kaca berhamburan di udara.

Kau melangkah mundur—diri di ambang panik dan terkejut. Kehilangan keseimbangan, sehingga jatuh terduduk.

Dan kini serpihan kaca berjatuhan tak teratur di hadapanmu—beserta sebuah bola.

Wajahmu memucat. Tubuhmu bergetar.

Oh, astaga. Sepertinya memang ada yang salah pada koridor ini.

"Ah!" Seorang lelaki memasuki koridor melalui jendela yang tak lagi berkaca. Tanpa memedulikan serpihan-serpihan tajamnya, ia meraih bola futsal yang tergeletak di lantai.

Kau menatapnya datar.

Cukup.

Yang kau inginkan hanyalah mencari kelasmu, dan apakah horoskopmu berada di urutan terendah hingga kau harus mengalami kejadian semacam ini?

Tidak, kau ingat jelas hari ini horoskopmu mendapatkan peringkat tertinggi. Disertai ramalan yang cukup aneh:

Bertemu seseorang berperan penting dalam hidupmu.

Kau mendengus.

Tentu saja, toh mengetahui ini hari pertamamu di Teiko.

Tiba-tiba, pekikan nyaring menyapa telinga. "HUWAAA!"

Kau mengadah.

Oh. Lelaki tadi.

Sepertinya ia baru saja menyadari kehadiranmu dalam koridor. Membawa bola di tangan kiri, ia menghampirimu.

"Gomen—ssu! Daijoubu?" [3] Lelaki berambut pirang itu mengulurkan tangan kanannya.

Eh?

Oh.

Rupanya kau belum berdiri sedari tadi karena terlalu banyak berpikir.

Kau menatap manik matanya yang mencerminkan rasa bersalah. Helaian rambut pirang diterpa cahaya mentari dari jendela tak berkaca. Pantulan sinar memperkuat aura bercahaya di sekitarnya. Ditambah wajah tampannya yang memesona.

Sedikit kau rasakan dadamu berdegup—meski tak kau mengerti maksudnya.

"Un, daijoubu," [4] jawabmu datar—menerima uluran tangannya. Sang pemuda menghela nafas lega, menarikmu untuk berdiri tegap di sebelahnya. Namun maniknya kembali melebar menyadari sesuatu.

"Tanganmu berdarah—ssu! Kau harus ke UKS!"

Kau menatap telapak tanganmu.

Ah, rupanya sebuah serpihan kaca menggores tanganmu cukup dalam. Tapi... mengapa kau tidak menyadarinya?

Segera, lenganmu ditarik tanpa persetujuan sang empunya.

"Kita ke UKS!" Pemuda itu berucap khawatir.

Kau memprotes—berusaha melepaskan diri. Namun tak bisa, genggamannya terlalu erat. Dan astaga, larinya cepat sekali! Koridor demi koridor kalian lewati, dan kau sadar tak sedikit siswi menatapmu sirik serta iri.

Hei, siapa memangnya lelaki ini?

Kesulitan menyeimbangkan langkahmu dengannya, nafasmu terengah-engah saat sampai di UKS. Bisikan terdengar dari murid di sepanjang koridor.

"Siapa dia?"

"Meski cantik, aku tidak rela menyerahkan Kise-kun padanya."

"Enaknya, aku juga ingin seperti itu!"

"Murid baru? Sombong sekali—berani memegang Kise-kun."

Kau menautkan kedua alis.

Kau tidak menyentuhnya, lagipula ia yang menarikmu—bukan kau! Kau tidak pernah mau diperlakukan begini! Ia yang dengan seenak hati membawamu!

Dan, hei! Apakah pemuda di sebelahmu tak menyadarinya?!

"Ayo kita masuk." Pemuda berambut pirang itu tersenyum. Kau mengangguk—mendengus cukup keras agar terdengar oleh para murid yang memperbincangkan dirimu.

Mereka tersentak—bisikan menghilang bagai angin seketika. Kau menyeringai kecil.

Lelaki itu pun membuka pintu.

"Eh? Di mana penjaga UKSnya—ssu?" tanyanya—menoleh kesana kemari mendapati UKS yang kosong. Kau tak menanggapi, masuk seraya memandang pada sekeliling.

Ruangan bernuansa putih dengan dua buah ranjang, lemari kayu (tampaknya tempat menyimpan obat-obatan), meja lebar dengan cermin dan berbagai alat lainnya, serta sebuah berkas terkunci.

Cklek!

Pintu ditutup. Kau menoleh ka arah sang lelaki yang kini berjalan dan sampai di depan lemari. Membukanya, mengaduk isinya.

Sebagai seorang gadis yang pintar, kau yakini ia mencari kotak P3K.

"Kalau cari kotak P3K, ada di meja." Kau menunjuk kotak kecil di permukaan meja. Pemuda itu membelalakan mata.

"Ah! Itu kotaknya—ssu!" Ia mengangkat dan membukanya—mengambil perban. "Ini perbannya!"

Pemuda itu menghampirimu. "Arigatou... em, anata no namae wa?" [5]

"[surname][name]." Kau mendudukan diri di pinggir kasur—menyebabkan dirimu harus mengadah untuk menatapnya.

"Jaa... [surname]cchi, arigatou! [surname]cchi murid baru—ssu?"

Kau menaikkan sebelah alis—melihatnya berlutut mengambil sebelah tanganmu, memerbannya dengan ahli.

"Aku bisa memerban sendiri, dan... cchi? Tolong jangan memanggilku seperti itu."

"Tapi itu imut—ssu." Ia bersikeras—tatapan terpusat pada tanganmu yang belum selesai diperban.

Kau menghela nafas. "Bagiku tidak, cerewet."

"Hidoi—ssu! Panggil namaku yang benar!" [6] Pemuda itu menggembungkan kedua pipi—memperkuat pendapatmu bahwa dia sangat childish.

"Kau belum memberitahuku," jawabmu polos.

"Eh? Kau tidak mengenalku—ssu?" tanyanya—mengadah. Kau menggeleng acuh tak acuh. Ia berdiri, selesai memerban tanganmu.

"Memang aku harus mengenalmu?" Dan perkataanmu sukses membuat tiga panah imajiner menembus hati sang lelaki secara beruntun.

"Huwaa! [surname]cchi hidoiii!" Ia pun meratap di pojok UKS—membuatmu sedikit tak tega. Yah, entah tertular siapa lidahmu jadi setajam sekarang.

"Hah... Baiklah, aku minta maaf." Kau memutar kedua mata—tidak ingin mencari masalah pada hari pertama. "Sekarang beritahu namamu."

"Kise Ryouta." Lelaki itu tersenyum cerah. "Namaku Kise Ryouta—ssu!"

Kau mengerjap melihat pemulihan batinnya yang sangat cepat.

"Oh," jawabmu. "Kelas?"

"10-A! Kalau [surname]cchi?"

Kau menggidikan kedua bahu. "Aku belum melihat papan pengumuman. Dan kelas berapa yang wali kelasnya Aida-sensei?"

Oke, ini bukan tipemu untuk bertanya panjang lebar. Namun kau sudah malas mencari papan pengumuman.

Terlebih, lihat jam! Sepertinya kau sudah terlambat dua puluh menit lebih.

"Aida-sensei? Itu kelas 10-A—ssu. Kelasku."

Kau menaikkan sebelah alis. "Oh. Berarti aku kelas 10-A."

"Heh?" Kise heran. "Jadi [surname]cchi sekelas denganku—ssu?"

Kau mengangguk datar.

Dan kau menyesal karena lelaki itu dengan erat langsung memelukmu dari depan—sukses membuatmu nyaris kehabisan nafas.

"Hei! Lepaskan aku! Aku bahkan baru mengenalmu dan kau berani memelukku?!"

.

.

.

Kalian berjalan berdampingan. Karena Kise tahu arah, ia sedikit berada di depan. Tentu karena tahu kalian sekelas, kau memutuskan untuk pergi bersama.

Koridor telah kosong—menyisakan dirimu bersama Kise.

"Kise-kun."

Kise menoleh—menatapmu heran. "Ada apa, [surname]cchi?"

"Arigatou sudah memerban tanganku." Kau tersenyum tulus. Kise tercekat. Langkahnya terhenti sesaat.

Otomatis, kau ikut berhenti.

"Kenapa diam? Cepat jalan."

"Tidak, aku hanya berpikir [surname]cchi sangat cantik saat tersenyum seperti itu," gumamnya tidak jelas—menggaruk pipi dengan jemari tangan kanan. Tampak sedikit rona merah di kedua pipinya.

Kau menatapnya aneh. "Maksudmu apa? Cepatlah. Aku tak ingin semakin terlambat."

"He? Memangnya sekarang jam berapa—ssu?"

"Jam sembilan."

"... [surname]cchi."

"Hm?"

"... KITA TERLAMBAT SETENGAH JAM—SSU! BAGAIMANA INI?! HUWAAA! APALAGI SEKARANG PELAJARAN AIDA-SENSEI!" Kise meracau berbagai hal yang tak kau pahami.

Kau mendengus kesal. "Urusai na, berisik."

Kise membelalakan mata. "HIDOI—SSU! KENAPA [SURNAME]CCHI BISA TENANG DI SAAT SEPERTI INI?!"

"Aku murid baru, Kise-kun," sindirmu. "Mungkin saja sensei memberiku toleransi."

Kise mengangguk ragu. "... A-Ah, aku lupa bagian itu."

Dan kau mendapati kepalanya tertunduk—tampak sedikit sedih.

Kau menghela nafas—muncul rasa iba melihatnya. "Tapi aku bisa mengatakan padanya bahwa kau menolongku. Entah efektif atau tidak, kurasa dapat meringankan hukumanmu."

Kise mengadahkan kepala—manik matanya berbinar, senyuman lebar terlukis di parasnya yang menawan.

"Arigatou, [surname]cchi!"

.

Setelah ga update karena pulsa, iya. Pulsa. Akhirnya saya update juga, banzaiii!

Btw, ini kamusnya (meski saya cukup yakin semuanya paham, ini hanya untuk jaga-jaga ._.)/

[1]: "... Siapa kau?"

[2]: "Halo, Kuroko Tetsuya. Salam kenal."

[3]: "Maaf—ssu! Apa kau tidak apa-apa?"

[4]: "Iya, aku tidak apa-apa."

[5]: "Terima kasih... em, siapa namamu?"

[6]: "Kejam—ssu! Panggil namaku yang benar!"

Balasan review anon:

-nechan

Makasih banyak, ini sudah lanjut :''3 Terima kasih banyak reviewnya :D

Terima kasih banyak yang menyempatkan diri untuk membaca, fave, fol, dan mereview! Saya suka ketika seseorang mengomentari gaya bahasa atau memberi masukan/saran mengenai cerita saya huehehe.

Sekian!

~alice dreamland

.

.

.

Omake

Akashi terdiam di bangku kelas—mengetuk pensil berulang kali pada permukaan meja. Wajahnya kusut dan ekspreksinya sukses membuat sekelas ingin menghindar darinya.

Apa yang membuatnya begitu? Sepertinya semua sudah tahu.

Tentu saja penyebabnya adalah [surname][name].

Kau tak peka bahwa Akashi mencarimu semenjak dirinya selesai berurusan dengan sang guru. Ia tak menemukanmu, dan berakhir kembali ke kelas dengan tangan kosong.

Dapat dikatakan Akashi telah tahu bahwa kau sekelas dengannya—setelah melihat papan pengumuman sendiri, mengingat dirinya memerintahkanmu untuk pergi mengecek sebelumnya.

Awalnya ia mengira kau akan datang beberapa menit kemudian, mengetahui dirimu yang tergolong tepat waktu.

Tiga puluh menit berlalu, dan sang guru tetap melanjutkan pelajaran tanpa dirimu—oh, tanpa Kise juga.

Dan itu sukses membuat Akashi kalut (tentunya mengenai dirimu, bukan Kise).

Perasaan cemas, heran, dan ingin menyerbu—dengan gunting karena tak memberikan kabar selama setengah jam—bercampur jadi satu.

Meski ingin menyerbu, mungkin dapat diubah menjadi 'menyerbu dengan seribu pertanyaan beruntun'—mengenai perilaku yang tak ia awasi selama setengah jam.

"[name]. Sebenarnya apa yang membuatmu selama ini?"