"Ne, Kise-kun."
Oke, ini bukan tipemu memulai percakapan. Namun kau tak tahan lagi. Semenjak tadi, pertanyaan ini terus berputar dalam benakmu tanpa henti.
"Nani, [surname]cchi?"
Diam sejenak—hingga pita suaramu bercakap. "Dimana bolanya?"
"Bola?" Kise menghentikan langkah. Kau ikut menghentikan langkah—menunggu jawaban Kise di tengah koridor sepi tanpa insan lain selain kalian.
Jada dua detik.
Manik mata Kise melebar. "HUWAA! [SURNAME]CCHI! SEPERTINYA BOLANYA TERTINGGAL DI KORIDOR SAAT AKU MENARIKMU TADI! BAGAIMANA INI?!"
Menutup telinga dengan kedua tangan, kau menatapnya lurus tanpa ekspresi. "Urusai, kalau begitu seharusnya sudah diambil orang. Kita harus masuk kelas."
"D-Demo, kalau belum bagaimana? Huwaaa, lagipula aku bukan dari klub sepak bola!"
Kise tampak frustasi. Kau menghela napas—melepaskan kedua tanganmu, melipatnya di depan dada.
"Minta maaf. Beres, kan?" ujarmu singkat.
Kise mengerucutkan bibirnya. "Meminta maaf tidak semudah itu, [surname]cchi!"
Kau mendesah. "Sudahlah, kita masuk kelas saja."
"HEE?! TAPI, BOLANYA—"
Pandanganmu berubah. Kau mentapnya tajam serta lurus. Hawa gelap berpencaran di balik punggung.
"Masuk kelas," tekanmu. "Kau dengar tidak?"
Kise meneguk ludah. Entah mengapa ia merasa dirimu mirip dengan seseorang.
"H-Ha'i." Kise tak berani berucap banyak, ia pun berjalan di depanmu—menuntun hingga sampai ke depan pintu coklat berpapan '10-A'.
"Terima kasih." Kau bergumam samar—tatapan lurus ke pintu dengan ekspresi datar.
Kise tersenyum lebar. "Sama-sama."
Stay by My Side
*Chapter 3*
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort (maybe)
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixIgnorant!Reader, slight KisexReader, OOC, Request Nakamura Hikari
Mengetuk pintu sebanyak tiga kali seraya membukanya—menampakkan kelas beranggotaan tiga puluh murid yang langsung menatap kalian heran.
Kau meneliti kelas, dan mendapati dua kursi kosong.
Dua kursi yang bersebelahan.
Manik matamu melebar—menyadari fakta.
TIIIDDAAAKKKKK!
Kau tidak mau sebangku dengan lelaki cerewet ini! Bisa-bisa konsentrasimu buyar dan nilaimu menurun! Mendapat peringkat tiga saat ujian masuk sudah buruk menurutmu—setidaknya kau ingin mendapat peringkat kedua.
Namun Midorima Shintarou-lah yang berhasil meraihnya.
Peringkat satu? Tentu saja Akashi Seijuuro.
Kau menghela napas—mengedarkan pandangan sekali lagi, dan mendapati seorang guru berambut coklat pendek membawa tongkat dengan senyuman manis di hadapanmu.
Iya, senyuman manis.
Meski tak dipungkiri terdapat perempatan ganda di pelipisnya—serta hawa gelap mencuar di balik punggung, membuatmu sedikit bergidik.
Tapi... Bagaimana bisa kau tak menyadari kehadirannya?
Menautkan kedua alis, kau menoleh—mendapati Kise panik dengan keringat dingin.
"A-Aida-sensei, ma-maaf kami terlambat—ssu!" Kise membungkuk sembilan puluh derajat. Kau ikut membungkuk, meski hanya empat puluh lima derajat.
Seketika, kalian menjadi pusat perhatian kelas. Murid-murid yang semula sibuk dengan pekerjaan mereka, memandang kalian antusias.
Kau menegakkan tubuh—disusul Kise. Manikmu melirik ke arah murid. Entah mengapa kau malas berurusan dengan sang guru—kakimu lelah berjalan menyusuri koridor, ingin segera duduk.
Cepat, manik matamu meneliti murid satu per satu—hingga kau dapati wajah orang yang sangat kau kenal.
Akashi Seijuuro.
Kau menghela napas lega—bersyukur masih diperbolehkan sekelas dengan teman terbaikmu pada Yang Maha Esa.
Tapi, ada yang aneh.
Ekspresinya.
Ekspresinya tampak sangat kesal.
Kau mengerjapkan kedua mata.
Pensil di tangan Akashi patah jadi dua—aura gelap mencuar di balik punggungnya. Semua murid ikut merinding merasakan suasana kelas yang buruk seketika.
Kau berkeringat dingin.
Gawat.
Sepertinya Akashi marah padamu, meski kau tak tahu apa salahmu.
Dan lagi—
Kau menatap sang guru yang masih tersenyum manis (sadis)—menepuk penggaris di tangannya berulang kali, ancang-ancang memberi hukuman. "Apa alasan kalian terlambat, hm? Ini sudah setengah jam lebih."
—tidak hanya Akashi, sang guru pun terlihat murka.
"Gomenasai sensei, saya murid baru dan tersesat saat mencari papan pengumuman."
Wanita itu melebarkan senyum—membuatnya semakin mengerikan. "Tapi seharusnya tak memerlukan waktu setengah jam lebih hanya untuk mencari papan pengumuman, kan?"
Ekspresimu tetap datar—meski sesungguhnya hati malangmu menjerit frustasi, betapa lelahnya dirimu akan cobaan yang diberikan Tuhan di hari ini.
"Sebenarnya saat sedang mencari papan pengumuman, saya bertemu Kise-kun." Kau berucap. "Ada kecelakaan dan akhirnya kami terpaksa ke UKS."
"Jadi intinya kalian terlambat karena salah seorang dari kalian terluka?" Sang guru memijit keningnya.
"U-Un, [surname]cchi terluka—ssu. Karenanya, aku membantu memerban tangannya." Kise angkat bicara. Kau mengangguk—tanpa mengatakan apa pun.
Wanita berambut coklat itu memandang kalian berdua bergantian—seakan berusaha mendeteksi kebohongan melalui mimik wajah—seraya menghela napas.
"Baiklah, kali ini kumaafkan. Tapi lain kali..." Perempatan siku-siku mulai tampak beserta aura gelap menggumpal—membuatmu kembali merinding. "Jangan harap ada toleransi."
"H-H'AI!"
"H-Hai, Aida-sensei."
"Sekarang kalian boleh duduk."
Kise langsung berlari menuju tempat duduknya, sesekali dipuji beberapa teman sekelas—mayoritas lelaki—karena berhasil menghidar dari murka sang guru.
Kau hendak duduk, jika saja sang guru tidak memperingatimu.
"Eh—tunggu, kau murid baru, kan? Perkenalkan dirimu." Kau mengerjap, kemudian mengangguk datar. Melangkah menuju depan kelas, mengibaskan rambut ke belakang punggung karena risih—menatap seluruh penjuru kelas dengan ekspresi tidak tertarik.
"[surname][name], yoroshiku." Datar.
Hening.
Sekelas hening—canggung. Beberapa murid ragu mengemukakan pendapat. Mungkin karena auramu yang terkesan negatif dan gloomy, membuat siswa-siswi menjadi tegang.
Hingga seorang gadis berambut hitam mengangkat tangannya—nekat menatap lurus manik matamu meski raut wajah dilingkupi rasa takut.
"A-Ano, [surname]-san dari se-sekolah mana?" tanyanya tergagap.
"Shion." Kali ini kau menjawab disertai senyuman tipis—mencairkan suasana kelas. Beberapa terperangah dan tak sedikit siswi berbisik kala SMP Shion disebut. Kau menghela napas pelan, kemudian murid lain mengangkat tangan.
"Kenapa [surname]-san pindah ke Teiko?" tanya seorang lelaki, rambutnya coklat kehitaman dengan seragam tak rapi.
"Karena teman masa kecilku berada di sini. Dan karena kami sangat dekat, akhirnya aku pun menyusulnya pindah kemari." Kali ini, bibirmu tak kuasa menahan senyuman manis—dan sekelas pun tercekat.
Suasana berubah ricuh.
Gadis berkacamata di barisan depan mengangkat tangan. "Siapa nama teman masa kecilmu? Apa dia di kelas ini?"
Kau mengangguk kecil—memandang sekeliling, mendapati sekelas menghentikan aktivitas sejenak karena rasa penasaran.
Senyuman langkamu merekah—menatap lurus sang pemuda merah yang memandangmu datar namun menusuk. "Akashi Seijuuro."
Hening.
Hening.
Hening.
He—
"HEEEEEEHHHHH?!" koor mayoritas murid—membuatmu terpaksa menutup telinga dengan kedua tangan. Manik mata mendelik sebal. Reaksi mereka sungguh menganggu.
Sungguh, apa ada yang salah?
.
.
.
KKRRRIIINNNGGGG!
Bel makan siang menggema—memasuki indra pendengaran setiap murid dalam kelas. Guru dalam ruangan pun mengakhiri pelajaran, keluar kelas—menyisakan murid yang seketika berhambur menghampiri meja kawan baru mereka.
Dan sekarang—tiga per empat murid kelas 10-A mengerubungi mejamu dan menyerbu dengan pertanyaan beruntun yang tumpang tindih.
Berhubung introduksi dirimu dipotong demi melanjutkan pelajaran Aida-sensei yang sangatlah berharga. Yah, meski kau ragu apakah kelas sesungguhnya berminat akan pelajaran tersebut—karena tak sedikit murid tidur pulas di balik buku berdiri.
"Tolong ucapkan satu per satu." Wajahmu menggelap.
Pertanyaan dari murid-murid tak dapat kau cerna, ditambah rengekan Kise sukses memperburuk keadaan. Bahkan kau rasa nafsu makan pun hilang karena ocehnya yang tiada henti sedari pelajaran bermula.
Sungguh. Lelaki ini harus tahu kata stop!
Oh, dan kini Kise sang teman sebangku sedang menarik-narik tangan kirimu. Ia terus memanggil namamu, membujuk untuk makan bersama dengan keenam teman baiknya.
Dan plus rentetan pertanyaan teman sekelas, daun telinga serasa diterkam badai suara. Menggigit bibir karena emosi yang membuncah, kau pun berdiri—mengulangi peringatan awalmu yang tak berefek.
"Tolong ucapkan satu per satu!" ulangmu—lebih keras. Manikmu menatap lurus teman-teman sekelas.
Kali ini berhasil. Semua bungkam, termasuk Kise.
"Aku tidak dapat mendengar pertanyaan jika kalian mengatakannya secara bersamaan." Kau mendesah, kemudian menoleh pada Kise—memandangnya dingin juga tajam. "Dan kau, berhenti menarik-narik tanganku. Aku tidak mau makan bersamamu."
"Huwee! [surname]cchi hidooiii—ssu!" Kise nangis buaya.
Entah keberapa kalinya hari ini kau dikatai hidoi olehnya, namun kau tak peduli. Manik matamu beralih pada teman sekelas yang memandangmu dan Kise curiga—dan kau sadari tangan Kise masih memeluk lengan kirimu.
Kau menghela napas—mengabaikannya, memandang murid yang merumpi di mejamu dengan pandangan heran. Ekspresi mereka tampak aneh di matamu.
"Ada apa?"
"Hmmm, apa hubungan [surname]-san dengan Kise-sama?" tanya seorang gadis berambut pirang—blasteran Amerika-Jepang. Nada suaranya angkuh, kau tak menyukainya. Tatapannya juga meremehkan.
Kau mengernyit. Kise-sama? Apakah lelaki banci yang menganggu pekerjaanmu sedari tadi layak disebut seperti itu? Kau pun tak tahu.
Memutuskan mengabaikan panggilan norak tersebut, kau menatapnya lurus—datar. "Kami baru tadi pagi bertemu, tapi dia seenaknya menempel padaku. Aku tidak menyukainya—seperti lintah."
Beberapa murid menahan tawa mendengar komentar pedasmu. Sang gadis pirang menautkan alis, kemudian melangkah anggun ke depan pintu—di mana kau dapati tiga temannya menunggu.
Semua cantik, namun masuk dalam kolum penggangu (itulah yang kau simpulkan melihat mereka yang tampak tak menyukaimu).
Menggidikan kedua bahu—menyadari Kise melepaskan tanganmu. Kau menoleh padanya heran.
Matanya berkaca-kaca, entah ia sungguh sedih atau menggunakan obat tetes mata saat kau tak melihat—kau tak tahu. Yang pasti, kau tidak mempermasalahkannya saat lelaki itu berdiri dan berlari menuju sudut kelas.
Dan menit-menit selanjutnya ia lalui dengan diam berjongkok di sana, aura kelam mengelilinginya—kadang menimbulkan suara isakan pelan yang mengerikan.
Kau mendesah kesal. Sungguh kekanakan teman sekelasmu ini. Tidak bisakah ia mencontoh Akashi yang lebih dewasa? Ia sudah kelas 1 SMA! Ia tidak bisa terus berperilaku bagai anak balita!
"[surname]-chan tadi bilang [surname]-chan itu teman masa kecilnya Akashi-san. Bagaimana sifat Akashi-san menurut [surname]-chan?" tanya seorang lelaki berambut hitam pekat—terpancar rasa penasaran di manik matanya.
Tatapanmu beralih padanya. "Biasa saja."
"Ehhh? Benarkah?" Seorang gadis berambut coklat tua terlihat kecewa. "Padahal kalian sangat serasi."
Kau mendelik heran.
"Entahlah, aku tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu." Menggidikan bahu acuh tak acuh, cuek. "Lagipula—"
"[name]."
Ucapanmu dipotong, kau menoleh—mendengar suara datar nan dingin khas teman masa kecilmu. "Ah, Sei."
Suasana meja yang awalnya ricuh menjadi tenang—atau tegang. Keheningan melanda dan semua terlihat ragu tuk kembali bertanya.
Murid-murid yang mengitarimu segera melangkah cepat keluar kelas—pergi ke kantin (mengingat mereka telah menghabiskan waktu sepuluh menit kala menyerbumu dengan rentetan pertanyaan).
Entahlah, sepertinya para murid cenderung takut akan figur sang emperor yang menurutmu sangat penyayang (sekali lagi, kau sadar bahwa pikiranmu lain dari yang lain).
Lelaki merah itu menatap Kise yang masih di sudut dengan aura kelamnya.
"Ryouta, sampai kapan kau mau diam di sana? Yang lain sudah menunggu di atap." Dan seakan tersadar, Kise langsung berdiri—berbalik menghadap Akashi. Maniknya melebar panik, keringat dingin mengalir deras dari pelipis.
"HUWAA, GOMENE AKASHICCHI! AKU LUPAAAA!" Pemuda kuning itu langsung berlari keluar kelas—menuju atap.
Derap kakinya menggema samar hingga akhirnya menghilang—menyisakan dirimu beserta Akashi dalam kelas bermandikan cahaya matahari siang.
Semenit berlalu, namun Akashi tak kian berkata. Kau pun menaikkan alis heran—melihatnya termenung.
"Sei, ada apa?"
Akashi mengadahkan kepala, dan kau dapati ia menatapmu kesal. Ohya—tadi Akashi marah padamu. Tapi karena apa? Kau yakin kau tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Di mana bentonya?" Kau tersentak—merogoh tas dan mengeluarkan kotak bekalmu yang dibuat oleh butler keluarga Akashi.
Akashi mendekatkan dirinya padamu hingga jarak terpaut satu tegel—tangan kanannya menarik pergelangan tanganmu, sementara kiri memegang kotak bekal lain. Kakinya mulai berjalan keluar kelas, diikuti olehmu.
Kau mengerjapkan kedua mata.
Langkah kalian konstan, tidak terlalu cepat—tapi lambat juga tidak. Akashi terus berjalan, sesekali belok pada tikungan. Kau hanya mengikuti tanpa mempersalahkan pergelangan tangan yang dicekang erat.
Kau sadar. Akashi sedari tadi menunggumu dalam kelas. Ia tidak keluar terlebih dahulu, atau meninggalkanmu—toh ini hari pertamamu di SMA Teiko.
"[name]." Tiba-tiba Akashi menghentikan langkah—berbalik menghadapmu. Kau ikut berhenti—menatapnya dengan sepasang mata berkerlip heran.
"Katakan kalau kau tidak akan meninggalkanku." Maniknya memandangmu lurus, sangat serius. Jemarinya melepaskan cengkraman pergelangan tanganmu.
Kau mengerjap. Batinmu heran, mengapa tiba-tiba Akashi bertanya sesuatu seperti ini? Bukankah hal itu sudah pasti?
Tanpa sadar, kau tersenyum geli—kemudian tertawa kecil. Kau tahu Akashi semakin memicingkan mata—menusukmu dengan tatapan tajamnya. Karenanya, sesegera mungkin kau menghentikan tawa—menggantinya dengan seulas senyuman.
"Apa yang kau katakan? Kita sejak kecil sudah bersama-sama, kan? Sepertinya meninggalkanmu adalah hal yang mustahil, Sei."
Pandangan Akashi berubah teduh. Rasa kesalnya mereda. Beban serasa hilang dalam sekejab. Kau menyadari perubahan mimiknya
Ia menggandeng tanganmu lembut—sangat lembut—seraya tersenyum.
Deg!
Kau terdiam. Jantungmu berdetak lebih kecang.
Padahal ia hanya tersenyum seperti biasa—bahkan kau sudah sering melihatnya di rumah. Tidak ada yang istimewa atau pun spesial.
Namun mengapa kali ini...
"Hari ini kita makan di atap."
Kau mengerjapkan kedua mata. Ekspresi Akashi telah kembali datar. Sensasi tadi hilang, tersisa genggaman hangat pada kedua tangan yang saling bertaut erat.
Mungkin hanya ilusi.
"Terserah." Kau menggidikan kedua bahu. "Dan Sei—"
Akashi menatapmu bingung.
"—aku menyayangimu." Entahlah, bibirmu bergerak sendiri. Tak lupa senyuman semanis madu tertampang jelas di wajah.
Lelaki itu mengerjap—kemudian melangkah cepat tanpa melepaskan genggaman tangannya, membuatmu ikut berjalan di samping meski bingung melanda pikiran.
Sungguh, Akashi heran. Sejak dulu, kau suka sekali mengucapkan rentetan kata yang sangat memalukan (yang bahkan seorang Akashi Seijuuro harus berpikir matang sebelum mengucapkannya).
Namun sepertinya bagimu berbeda. Kau selalu saja dapat mengatakan hal semacam itu tanpa berpikir dua kali—terlalu cuek akan konsekuensi.
Lelaki itu menghela napas—tak kuasa menahan semburat merah yang tercipta pada kedua pipi putihnya. Manik Akashi menatap lurus koridor, sementara kau melangkah dalam diam.
Akhirnya, Akashi bersuara. "Aku tahu. Dan jangan ucapkan kalimat itu pada orang lain selain aku."
"... Ha?"
.
Weird, saya tahu. Tapi semoga semuanya suka :''3
Saya pengen coba humor tapi jadinya garing banget *krik* /plak
Tapi biarlah. Lagipula ini memang part of the plot kok. Ini balasan review anon:
-Dewi chan
Ini sudah lanjut, semoga tetap memuaskan ya x3
Fufufu, itu lihat saja nanti /?/ Terima kasih telah merespon :3
-kumaa
Sebenernya karena xReader, saya sengaja ngak kasih deskripsi lengkap. Jadi reader bisa bayangin sendiri charanya seperti apa ._.)a
Tapi jika Anda mau tahu, saya membayangkan charanya sebagai seorang gadis berambut panjang sedada berwarna coklat tua dengan ujung ikal.
Ini sudah lanjut, terima kasih telah mereview :3
Terima kasih buat semua yang telah fave, fol, baca, dan mereview. Maaf jika fict ini aneh atau apa. Semoga Nakamura-san puas dengan hasil chap yang saya usahakan biar enteng /?
Sekian! :3
~alice dreamland
