Chapter 2 – Misi
.
.
Tōō
"Akan ada pertemuan antara Tōō, Rakuzan dan Shūtoku. Kali ini bertempat Shūtoku.", Ucap Momoi memecah keheningan sarapan pagi.
"Hah? Memangnya ada apa?", tanya Kagami sambil memenuhi piringnya dengan burger.
"Ini mengenai masalah penyerangan yang kita alami. Ternyata Rakuzan dan Shūtoku juga mengalaminya."
"Hah? Mereka juga?" kali ini Hyuuga yang bertanya dijawab anggukan si surai merah muda. "Kau tahu siapa saja yang berangkat?", tanya Hyuuga sekali lagi.
"Raja, penasehat kerajaan, meteri keamanan, dan beberapa petinggi militer. Untuk tim pengawal aku belum tahu, Imayoshi-san yang memutuskannya."
"Ada apa? Kenapa namaku disebut-sebut?", panjang umur sekali. Imayoshi berjalan santai, kemudian mulai mengambil dan mengisi piringnya dengan roti panggang.
"Senpai, siapa saja yang ikut ke Shūtoku?"
"Jangan bilang karena Aomine ikut kau juga ingin ikut Kagami?"
"Apa? Aomine ikut?"
"Ya... dia datang padaku begitu mendengar tentang pertemuan ini, entahlah apa motivasinya."
Brak! Kagami menggebrak meja, "Baiklah, kalau begitu aku juga akan ikut!", ucapnya berapi-api.
"Tidak bisa! Kau pikir siapa yang akan melindungi Tōō hah? Karena Aomine ikut, kau tidak boleh ikut! Kau mengerti? Kagami.", ucap Hyuuga sambil mengeluarkan ekspresi ter-garang yang ia punya.
"Hahaha, maafkan aku Kagami. Tapi Hyuuga ada benarnya.", Ucap Imayoshi sambil tersenyum.
"A-apa? Tapi... ada Izuki-senpai yang juga kuat kan? Hyuuga-senpai juga kuat, Sakurai juga. Kita punya banyak orang kuat. Kumohon senpai, aku ingin ikut."
"Hmm? Sayangnya, aku akan mengajak Izuki. Oh Momoi, Aomine merekomendasikanmu selain itu kupikir kau bisa membantu kami dengan data-datamu nantinya, ikutlah.", ucap Imayoshi sambil mengalihkan pandangannya dari Kagami ke Momoi.
"Baiklah, Imayoshi-san."
Dan sarapan mereka berlanjut dengan... tenang.
("Kau seperti anak kecil saja Kagami."
"Kau benar-benar mengidolakan Aomine ya?"
"DIAMLAH! Aku tidak mengidolakan Aomine!"
"Oh~ BEGITU CARAMU BICARA PADA SENPAIMU HAH?!")
.
.
Shūtoku
Hari kedatangan para petinggi dari Rakuzan dan Tōō
"Coba jelaskan padaku.", ucap Miyaji dengan penuh kekesalah di setiap katanya.
"Eh?", Kise Ryouta yang bingung menoleh ke arah senpainya itu, hanya untuk mendapati wajah garang Miyaji.
"Kenapa aku harus menjadi tour guide mereka hah?!"
"Ma-mana aku tahu senpai. Sudahlah kita nikmati saja-ssu.", ucap Kise sambil tersenyum canggung. "Sudah lagi tugas ini cukup gampang kan-ssu?"
"Gampang katamu?!", nampaknya ucapan Kise bukannya menenangkan justru menyulut emosi Miyaji. Pemuda bernama kecil Kiyoshi itu menarik kerah baju Kise. "Otsubo membebankan begitu banyak paper work ke mejaku. Membuatku harus lembur untuk menyelesaikannya, dan sekarang aku harus bangun pagi-pagi untuk menyambut tamu-tamu kita!", Miyaji kemudian menghela nafas berat, sambil melepas cengkeramannya pada kerah Kise. Sementara Kise mencoba merapikan daerah sekitar kerah bajunya yang kusut.
"Ku pikir tugas ini lebih cocok untuk Takaocchi dari pada Miyaji-senpai."
"HAH? Kau mau bilang Takao lebih hebat dariku?!", sekali lagi Miyaji menarik kerah Kise.
"A-apa? Bu-bukan itu maksudku. Senpai salah tangkap-ssu.", ucap Kise sambil mengangkat tangannya, membuat huruf X.
"Sekarang kau mau bilang aku bodoh Kise? Kau mau kulempar nanas Kise?!"
"J-jangan senpai, ampuni aku-ssu!"
Sementara itu, Takao yang kebetulan lewat justru tertawa nista.
.
.
"Apa yang mereka lakukan?", tanya Aomine sambil ber-sweatdrop ria melihat dua pemuda dengan warna rambut yang nyaris sama tengah bertengkar (atau lebih tepatnya yang lebih tinggi mengancam yang lainnya dengan... Nanas?) dengan seorang pemuda lain bersurai hitam yang tertawa puas di depan pintu masuk istana kerajaan Shūtoku.
"Hmm, bukannya mereka sedang cek cok Dai-chan?"
"Kalau itu aku juga tahu Satsuki."
"Kelihatannya kau akan cocok bekerjasama dengan mereka Aomine.", ucap Imayoshi yang tiba-tiba muncul di belakang Aomine dan Momoi.
"Bah! Aku mana bisa bekerja sama dengan orang berisik macam mereka."
"Hmm? Begitu?", Imayoshi tersenyum mengejek setelahnya. Membuat Aomine mengerutkan dahinya kesal.
.
.
"Ehem.", raja dari Tōō, Harasawa Katsunori berdeham untuk mendapatkan perhatian dari 3 pemuda yang masih saja ribut sendiri (kali ini orang yang dipanggil Miyaji-senpai mengancam akan melempar durian). Sayangnya tidak ada respon dari kedua pemuda yang rambutnya nyaris sama tersebut. Sedangkan pemuda lain yang berambut hitam menyadari kedatangan rombongan Tōō, tapi ia malah semakin geli dan sedang berusaha menahan tawanya dengan cara menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Pfft s-senpai... Ryou-chan, cepat laksanakan tugas kalian.", susah payah Takao berbicara dengan keadaannya saat ini.
"Hah? Sekarang kau memerintahku Takao? Mau kulempar nanas? Atau durian?"
"Bu-bukan begitu senpai pfft. Lihatlah kebelakang.", Ucap Takao masih dengan menahan tawanya. Dan sang senpai dengan 'Ryou-chan' pun menoleh kebelakang mereka. Mendapati rombongan Tōō melihat ke arah mereka dengan berbagai macam ekspresi, dari bosan (Aomine) sampai terhibur (Imayoshi).
"Selamat datang di Shūtoku-ssu!", ucap pemuda yang tadi dipanggil 'Ryou-chan' oleh Takao. Pemuda itu kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Selamat datang di imperial palace Kaijō. Namaku Kise Ryōta, ak-eh saya yang ditugaskan untuk menjemput dan menjadi tour guide anda sekalian selama di sini-ssu!", lanjut si surai pirang dengan kelewat antusias diikuti senyum cerah ceria yang menyegarkan kaum hawa.
"Saya Miyaji Kiyoshi. Selamat datang. Kise akan mengantarkan anda sekalian ke paviliun Kokuran, tampat anda beristirahat selama di sini.", ucap pemuda pirang satunya dengan membungkuk. Sementara pemuda yang tadi dipanggil Takao sudah kabur duluan (diduga karena tidak bisa menahan tawa).
"Benar sekali-ssu!", ucap Kise lagi. "Ah, mari yang mulia. Lewat sini-ssu!"
"Terima kasih, Kise-kun.", ucap orang nomer 1 dari Tōō. Kemudian Harasawa mengangguk pada Miyaji dan berjalan mengikuti Kise bersama rombongannya.
Setelah rombongan dari Tōō menghilang di tikungan, Miyaji menghela nafas lelah. "Hah... mana orang-orang Rakuzan itu?"
.
.
"Moriyama-san!", panggil Takao sambil berlari-lari kecil ke arah Moriyama.
Yang dipanggil namanya pun menoleh, kemudian bertanya balik. "Ah Takao? Ada apa?"
"Kenapa pertemuannya tidak dimulai hari ini saja?"
"Kau ini bagaimana? Dari Tōō ke sini perlu waktu sekitar 2.5 hari, sedangkan untuk Rakuzan perlu waktu 3 hari dengan kecepatan normal. Tamu kita pasti lelah.", ucap Moriyama sambil melanjutkan langkahnya ke ruang kerjanya.
"Ah tadi aku sempat bertemu rombongan dari Tōō. Ada seseorang yang auranya beda dari yang lain."
"Begitu? Bagaimana dengan wanitanya? Aku ingin sekali berkunjung ke paviliun Kokuran untuk bertemu wanita dari Tōō. Orang-orang bilang wanita Tōō itu sangat... mempesona dan cerdas.", ucap Moriyama sambil mencium bunga mawar yang entah dari mana asalnya.
"Bukankah semua wanita sangat mempesona bagimu? Moriyama-san.", tanya Takao sambil memasang tampang datar.
Dan kalimat Takao yang barusan justru membuat Moriyama berapi-api. "Benar sekali Takao! Entah dari Tōō, Rakuzan, ataupun dari negara kita tercinta ini, semua wanita memang mempesona! Kita harus mengunjungi paviliun Tsutsuji juga Takao!"
"Paviliun Tsutsuji tempat Rakuzan kan? Chottomatte! kenapa aku harus ikut?"
"Kurasa aku perlu mengajarimu cara mendapatkan kekasih."
"Apa?! Apa maksudmu Moriyama-san?"
"Bukankah kau dari dulu single?"
"Eeeh... iya memang, tapi bukannya kau selalu ditolak Moriyama-san?"
"Aku sudah mempelajari jurus baru Takao.", ucap Moriyama kalem.
Takao memangdang Moriyama dengan tatapan 'kau pasti bercanda'. "Uh... aku akan minta ajari Ryou-chan saja Moriyama-san. Terima kasih sebelumnya."
"Apa kau baru saja menolakku Takao?", Moriyama memasang tampang serius sambil menghentikan langkahnya, membuat Takao juga berhenti.
"Tolong jangan mengucapkan kalimat yang ambigu Moriyama-san. Jika ada orang yang mendengar mereka akan berpikir yang tidak-tidak."
"Jangan tolak aku Takao, aku berani menjamin kebahagiaanmu kedepannya.", kali ini Moriyama memohon sambil menaruh kedua tangannya di pundak Takao. Dan disaat yang bersamaan Kise yang telah selesai melaksanakan tugasnya muncul dari tikungan bersama dengan Kasamatsu Yukio.
"Maafkan aku Moriyama-san. Aku duluan.", ucap Takao tegas. Kemudian pemuda bernama kecil Kazunari tersebut berlari menginggalkan TKP.
"Tunggu Takao!", entah kenapa yang jelas Moriyama mengejarnya.
"WUAAAA~ jangan kejar aku Moriyama-saaaan."
"TAKAOOOO~"
"A-aku tidak menyangka... ternyata Takaocchi dan Moriyama-senpai...", sambil mengucapkan kalimat yang tidak selesai itu Kise menggeleng-gelengkan kepalanya, mendramatisir suasana.
DUAK. Tendangan dipunggung menyelamatkan Kise dari imajinasi aneh yang mulai berputar-putar di kepalanya. "Jangan berpikiran aneh-aneh. Lanjutkan tugasmu sana!"
"Hai-ssu!"
.
.
Besoknya
"Selama rapat berlangsung, Shūtoku menyediakan ruang tunggu untuk kita." Imayoshi berjalan memimpin anak buahnya menuju ruang tunggu yang dimaksud.
"Hmm, apa ada model selevel Mai-chan di sini?", tanya Aomine out of topic.
"Kau bisa menanyakan pada Kise-kun nanti.", jawab Imayoshi kalem dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
"Ah, Imayoshi-san. Kau yakin ini jalannya? Aku rasa kita berputar-putar dari tadi.", kali ini Izuki Shun yang berucap.
"Tentu saja ini jalannya. Menurut yang diceritakan Kise-kun bangunan ini memang sengaja dibuat memiliki struktur yang rumit. Untuk menjebak para penyusup."
"Che. Mereka suka sekali hal-hal yang merepotkan." Aomine mendengus, kemudian melihat lukisan-lukisan penghias dinding tanpa minat.
"Aomine, mengucapkan hal seperti itu tidak baik untuk kebaikanmu. Kitakore!" dan kemudian sang pemilik eagle eyes mengeluarkan buku catatannya, mulai menulis lelucon barunya disana.
Sementara Imayoshi memilih diam.
Ketika mereka melewati lorong panjang, seorang pemuda bersurai merah muncul dari tikungan dan berjalan di depan mereka. Imayoshi berhenti, membuat anak buahnya ikut-ikutan berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Aomine dengan nada yang sangat menjengkelkan. Beruntung senpai-senpainya sudah maklum.
"Hmm, tidak apa. Ngomong-ngomong, kita tidak salah jalan."
"Eh?"
"Yang di depan itu Akashi Seijuurou dari Rakuzan. Aku yakin destinasi kita sama."
"Akashi siapa?" tanya Aomine dengan volume keras. Membuat Izuki menginjak kaki pemuda kebanggaan Tōō itu.
"Oi senpai!"
Dan tanpa mereka ketahui, Akashi Seijuurou tersenyum geli di depan sana.
.
.
Paviliun Kokuran
"Berdasarkan keputusan rapat tadi siang, ke-3 negara sepakat membentuk aliansi untuk mengatasi serangan-serangan yang muncul. Telah di bentuk 2 tim."
"Tim pertama adalah tim Daria. Bertugas melakukan pengintaian di puncak Andrastea yang merupakan sumber kemunculan energi sihir sesaat sebelum penyerangan. Tim ini terdiri dari Takao Kazunari dan Hisao Goro dari Shūtoku, kemudian Arata Ren, Arata Ken dari Tōō, dan terakhir Miho Akiko dan Takashi Torvald dari Rakuzan. Kapten tim ini adalah Arata Ken." Kemudian Momoi membalik notesnya.
"Tim selanjutnya adalah Tim Bara. Bertugas untuk melakukan penyelidikan di Lyra."
Penjelasan Momoi diinterupsi oleh Izuki Shun. "Lyra?"
"Um. Radar milik Shūtoku menangkap adanya energi sihir yang setipe dengan energi dari puncak Andrastea di Lyra. Tim Bara diminta untuk menyelidikinya. Ah, tim ini akan dipimpin oleh Miyaji Kiyoshi. Anggotanya Kise Ryouta dari Shūtoku, Izuki Shun dan Aomine Daiki dari Tōō, dan dari Rakuzan ada Himuro Tatsuya dengan Fukui Kensuke. Masing-masing anggota yang terpilih diharap melapor divisi 2 kemiliteran Shūtoku besok pagi jam 10."
"Ck, merepotkan." Siapa lagi kalau bukan Aomine.
"Dai-chan!"
Protes dari sahabatnya diabaikan. 'Dai-chan' justru menoleh ke arah Imayoshi dan bertanya. "Lalu kalian yang tidak tergabung dalam tim manapun akan kembali ke Tōō?"
"Tidak juga. Raja dan para petinggi akan kembali. Tapi akan ada perwakilan dari tiap negara untuk mengawasi jalannya misi."
"Dan Imayoshi-san yang akan jadi perwakilan?" kali ini Izuki.
"Begitulah. Ah, jangan lupakan Momoi."
"Sou ka."
"Lebih baik kalian istirahat. Jangan lupa Aomine, Izuki, Ren, Ken besok kalian harus melapor ke divisi 2." Imayoshi beranjak dari duduknya, kemudian dia berjalan ke luar dari 'ruang rapat mendadak' mereka. Hendak menuju kamarnya sendiri.
"Hai!"
"Nah, selamat malam."
Bukannya tidur, Aomine justru beranjak keluar. Berdalih mencari angin malam. Pemuda itu mengarahkan pandangnya menelusuri halaman paviliun Konkuran dengan malas. Kemudian tanpa sengaja netranya menangkap sosok berjubah hitam tengah duduk santai di atas pagar. Saat itu pula pandangan si surai navy blue menajam, memberi peringatan. Dan sosok berjubah itu terlihat menyeringai. Detik berikutnya sosok itu lenyap dari pandangan. Meninggalkan Aomine yang tengah menatap kosong tempatnya beberapa detik lalu.
.
.
TBC
.
.
Terima kasih untuk yang sudah baca, review, fav, follow. Semoga cerita ini menghibur dan tidak membosankan.
kritik dan saran diterima :D
