Another Life

Disclamer :

Naruto just belong to Mashi Kishimoto

Genre :

Romance, Drama, Canon, Fantasy.

Pair :

SasuFemNaru

Warn :

GS(Gender Switch), Alternative Universe, Alternative Reality, World Swithcer, EYD berantakan, typo(s), Newbi.

Fushigina Ashita Presented

New Fict Project

.

.

Another Life

Summary:

Di umurnya yang ke tujuh belas, Naruto mendapatkan kenyataan bahwa dirinya bukanlah salah satu anggota keluarga Akasuna. Ia hanyalah seorang anak angkat, dan pada saat itu juga ia di berikan sebuah liontin yang menemaninya di waktu kecil. Tapi aiapa sangka liontin itulah yang mengubah hidupnya, mengantarkan takdir untuknya, juga...

Pengalih dunianya.

...

...

..

.

.

Another Life

Chapter : 2

.

.

.

Disaat ku lelah tuk meratap, disaat ku kalang kabut tuk mencari, dan di saat ku gagal tuk memiliki...

Kau datang... Kau datang dengan pesonamu, kau datang menarikku dalam jerat keputus asaan, kau datang memberikan setitik cahaya kecil dalam redup harapan...

Namun, disaat ku sadari kau adalah hatiku, mimpiku, jiwaku, harapanku, dan saat ku menyadari bahwa Kau lah cintaku. Kau pergi tanpa kata, kau pergi disaat ku kan menggapai mu, kau pergi beranjak meninggalkanku.

Kini kau pergi, kini kau menghilang

Di sebuah hutan, diantara lebatnya pohon. Terlihat dua orang atau lebih tepatnya dua pemuda, sedang berlari melompati dahan dahan sekitaran pohon disekelilingnya. Wajah kedua pemuda itu hampir sama persis, hanya saja gaya rambut juga raut Wajah lah yang jadi pembeda keduanya.

Keduanya sama sama rupawan dengan tubuh atletis mereka, rambut hitam kelam yang membingkai kulit seputih porselen, juga mata tajam sewarna langit malam mencekam yang mampu menawan dalam buaian tatapan nya.

Sasuke, yang kini tengah melompat, sedang berada dalam perjalanan pulang. Ia pulang, kembali ke desa setelah melaksanakan misi yang telah Hokage-Sama bebankan untuknya.

Sasuke merasa cukup kesal terhadap keputusan tuan Hokage-Sama yang menurutnya cukup tidak bijak, karena dengan sepenuh hati pemimpin desa yang ditempatinya itu, membiarkan ia menyelesaikan misi bersama anikinya di dekat perbatasan desa, di tengah tengah hutan kematian.

Sementara ia disini, tersiksa bersama anikinya. Mengawasi, memantau, serta melakukan penyergapan. Sedangkan kedua orang tuanya juga sahabat sahabat menyebalkannya, sedang bersantai menikmati jamuan sambil memperhatikan jalannya pertandingan ujian chunin yang diadakan di desa suna.

Haah... bukankah itu cukup adil untuknya. Jadi, wajar saja jika ia sedikit iri dengan apa yang harus ia jalani sekarang. Ditambah lagi dengan sikap Itachi yang menurutnya begitu aneh dan menyebalkan, ia tak pernah berhenti bicara dan terus mengoceh ini itu, sungguh hari yang sempurna untuknya.

Walaupun dalam hatinnya ada rasa kesal, dan mungkin sedikit emm... iri. Tapi sebisa mungkin Sasuke menyembunyikannya. Karena bisa gawat jika anikinya tau, ia bisa di ejek habis habisan. Harga dirinya sebagai Uchiha muda bisa-bisa tercoreng.

..

.

Saat sedang berjalan melompati dahan, samar-samar ia merasakan pendaran cakra yang samar dan tipis.

'Trak'

" kau merasakannya, Sasuke?"

Sasuke hanya melirik Itachi yang kini berhenti di salah satu dahan. Manik kelamnya berubah sewarna darah segar, begitu pula dengan dirinya. Yang merasakan sebuah sinyal alarm bahaya, sontak intuisi ninja yang ia miliki langsung bereaksi.

"hn." Sasuke berujar singkat. Karena, seorang ninja yang mampu menyembunyikan cakranya, ia bukanlah ninja sembarangan.

Dan juga, jika bukan musuh untuk apa orang tersebut menyembunyikannya? Heck. walau bagaimanapun, tempat suram yang bernama hutan kematian ini adalah desanya.

Jadi menurutnya, ini pasti musuh. Tidak mungkin jika ia ninja yang sedang menjaga perbatasan. Oh come on, ia disini bukanlah pajangan maupun pengusir hama, melainkan ketua divisi pertahanan yang sedang mengorganisir bagian perbatasan. Ditambah lagi, sebagian orang sedang pergi ke Suna untuk menonton ujian chunin. So, that's fools reason.

Sasuke segera beranjak, mencari dari mana cakra itu berasal. Ia dengan sigap melompati pepohonan dan dengan gesit berlari. Namun, langkahnya terhenti, saat ia melihat sosok asing di hadapannya. Mata merah pekat yang ia miliki, kembali menghitam saat ia merasa aliran cakra yang tampak menguar samar.

Saat mendekatinya, kini kian jelas seperti apa rupa sosok itu.

Indah..

Ya, indah. Satu kata yang cukup mendeskripsikan apa yang kini dilihatnya.

Helai emas yang kini terurai, nampak kian bersinar membingkai wajah yang terpahat sempurna milik sosok nya. Manik biru layaknya samudera, bersinar redup di balik kelopak sewarna madu yang setengah terbuka. Sasuke yakin, butuh waktu lama untuk menyelami samudera itu.

Pipi bulat yang nampak manis dengan bias merah, mengingatkan Sasuke pada buah favoritnya. Sungguh, ia tak tahan untuk mencicipinya. Apa lagi bibir tipis sewarna cherry milik gadis pirang ini, tampak begitu ranum, membuat Sasuke menahan diri agar tidak mengecup nya dan menyesapi rasa manis cherry lips yang kian menggodanya.

Ah sempurna, itulah nilai yang Sasuke berikan pada sosok malaikat tanpa sayap ini.

Perlahan Sasuke mendekati sosok yang tergeletak lemah diatas tumpukan daun-daun kering. Ia bisa melihat samudera luas itu kian meredup. Sasuke mengangkat tubuh mungil yang terasa rapuh dalam dekapannya.

Sasuke menatap lamat-lamat manik biru dihadapannya, harus ia akui ia terjerat dalam pautan biru yang begitu memikat.

Bisa Sasuke lihat, mata itu kini tertutup oleh kelopak sewarna madu. Sasuke mengernyit, saat ia merasakan pendaran cakra yang kian melemah. Ia heran, gadis ini mampu bertahan dengan cakra yang begitu minim.

"Ku sangka dirimu ditawan, karena tak kunjung kembali. Tapi sepertinya, hatimu yang kini tertawan" Itachi yang kini muncul di belakang Sasuke hanya berujar tenang saat ia mendapati adiknya tengah bersama gadis asing dalam pelukan adik ravennya.

"Wah siapa dia, Sasuke? Dan, apa yang kau lakukan pada gadis manis itu?" Itachi dengan antusias bertanya, pasalnya adik yang dinginnya melebihi dua kutub ini tak pernah terlihat begitu dekat dengan seorang mahluk yang bernama kan wanita. Ohh... terkecuali sang kaasan tentunya, ia adalah perempuan pertama dari daftar hidup yang wajib Sasuke agungkan.

Tapi lihatlah sekarang? Seorang Uchiha Sasuke, yang digadang-gadangkan seorang pangeran tak berpedang, karena sampai sekarang tak menemukan kepingan hatinya. Yang juga diakibatkan oleh sifat dingin yang mendarah daging dalam jiwanya, kini sedang bersama gadis asing berambut pirang. Juga, keduanya dalam sebuah posisi yang bisa dibilang emmm... intim, layaknya sepasang insan yang sedang di mabuk kepayang. Ini pasti keajaiban. Atau mungkin, ini sebuah bencana! Berlebihan memang tapi itulah kenyataannya.

"Hn, kita harus cepat membawanya ke desa. Dia harus segera dirawat, mungkin saja kita dapat menemukan informasi dari gadis ini."

"Mendapatkan informasi, ataukah mendapatkan tambatan hati, hm outoto?" Sungguh, wajah Itachi kini sangatlah menggelikan. Ia benar - benar akan memukul habis wajah menyebalkan yang kini tengah menggodanya.

"Urussai Itachi! Kau urus saja urusanmu!" Sasuke kini cukup kesal dengan apa yang Itachi katakan. Hell, lagi pula ia ingin menyelesaikan tugasnya.

"Hn. Cepatlah baka aniki!"

Dan akhirnya mereka berduapun pergi dari hutan ini. Juga di tambah satu sosok dalam dekapan Sasuke.

...

..

.

Disebuah ruangan kamar kecil, di sana terdapat empat sosok dewasa. Tiga diantaranya sedang berdiri berhadapan, sementara satu sosok lainnya sedang terbaring diatas bangsal.

"Kita tunggu saja, sampai ia sadar. Ku telah memberikan transfer cakra yang cukup untuknya, tak ada satupun luka dalam tubuhnya. Hanya mungkin, beberapa fungsi organ vitalnya menurun." Wanita berambut pirang yang diikat dua itu, menjelaskan perihal keadaan satu sosok yang masih betah menutup mata.

Menatap lamat wajah si gadis, ia sekilas merasakan perasaan yang tak asing dalam dadanya. Tapi apa? Ia sendiri tidak tahu apa yang kini dilihatnya. sosok itu, adalah sosok asing. Namun, baru beberapa saat ia merasa rasa sesak melesak masuk diantara rongga jiwanya.

"Well.. Sasuke. sepertinya, princessmu sudah membuka mata." Tsunade kini membuka suara, saat ia melihat sosok cantik di depannya mulai melengguh.

"Eugnh" sosok itu, kini mulai mengerjapkan matanya. Ia mulai kebingungan, saat mendapati tempat asing yang ia lihat pertama kali. Sungguh, ia mulai ketakutan sekarang. Rasa panik mulai menelusup masuk, apalagi melihat tiga sosok yang tak dikenalnya.

"ddi...di mana ini? " sosok itu mulai bertanya, suaranya bergetar mencerminkan apa yang ia rasakan.

"Tenanglah, kau aman bersama kami." wanita pirang atau yang kita kenal sebagai Tsunade, kini berujar tenang.

"Ini adalah desa Konoha. Kau kami temukan ditengah hutan kematian oleh dua pemuda di hadapanmu. Jadi, apa yang kau lakukan disana? dan dari desa mana kau berasal? Karena seperti yang ku lihat kau adalah pure blood, bukan half blood maupun human. Karena kau memiliki cakra, dan kau mampu menerima cakra yang ku transfusikan."

"Apa?! Desa Konoha? Tapi, terakhir kali aku ingat. Aku berada di sekolahku! Di Tokyo! Bukan di desa ini. Dan juga, hutan kematian? Bahkan, aku masih hafal bagaimana tata letak taman yang ku tempati."

"Lalu, bagaimana caranya kau bisa kemari?"

"Aku tak tahu! Dan jangan tanyakan aku. Aku juga tak mengerti, dengan keadaan ini!" Gadis itu berujar frustrasi. Karena jangankan menjawab pertanyaan, untuk menjawab apa yang terjadi pada dirinya saja, ia bingung bukan kepalang.

" jika seperti itu, apa hal terakhir yang lakukan?"

"Aku, hanya berdiri di taman dan memegang sebuah liontin yang ku pakai. Hanya itu, tak lebih." Ia menjelaskan apa yang di ingatnya, sambil menunjuk sebuah liontin yang terpasang apik pada leher jenjangnya.

"Siapa namamu?"

"Naruto."

"Siapa?"

"Namaku, Akasuna Naruto. Umurku, tujuh belas tahun. Statusku, seorang pelajar tingkat kedua di Tokyo Senior High School. Cukup?" Gadis yang bernama kan Naruto itu , menjelaskan dalam satu tarikan nafas. Ia kesal , harus menjelaskan ini , itu. Yang ada dialah yang butuh penjelasan, secara lengkap dan rinci. Terhadap apa yang terjadi saat ini.

"Hm, seperti itu. Baiklah, aku akan laporkan permasalahan ini pada hokage. Karena, aku hanya perwakilan saja untuk mengatasi hal yang terjadi di desa sampai ia kembali datang."

Tsunade, lalu memandang dua Uchiha dihadapannya.

"Kau untuk sementara, kau akan tinggal di kediaman Uchiha. Dan untuk kalian berdua, aku akan membagi tugas. Kau, Uchiha Itachi. Akan menerima misi dari hokage, dalam pengawasan ujian chunin. Sementara kau, Uchiha Sasuke. Kau akan bertugas menemani nona Akasuna ini." Ia memandang semua wajah yang ada dihadapannya.

"Apa, cukup jelas?!"

"Jelas Tsunade -sama!"

"Baik. Kalau begitu laksanakan!"

"Ha'i Tsunade -sama!"

"Dan untuk kau Itachi, "

"Ya, Tsunade - sama"

"Kau akan pergi sore ini. Jadi bersiaplah."

"Ha'i,Tsunade - sama!"

...

...

..

.

TBC

Nah, loh... nah, loh... pertanyaan satu saja belum kejawb, ini dah nambh lagi...

Tapi tak apalh, jawaban ada kok di Chapter depan.

Saya juga mau bertrimaaaa kasih pada minna-san yang mau meluangkan waktunya untuk meriview, fav, follow, dan mau membaca cerita gaje saya.

By the way any busway... banyak yang ngucpin trma kasih karena saya membuat Fict sfn. Saya mau jawab sama sama saja, karena saya adalah pecinan Naru uke...baik female , maupun innocent male...kkkkk. ..dan yang trpenting semenya Sasu dong. ...

Maaf saya tak bsa bls riview satu persatu.. tpi semoga, chap tadi mampu menjawabnya ya..walau masih ambigu...

Okey hnya itu saja, semoga saya bisa publish pda waktunya..

See you!