"Hm, seperti itu. Baiklah, aku akan laporkan permasalahan ini pada hokage. Karena, aku hanya perwakilan saja untuk mengatasi hal yang terjadi di desa sampai ia kembali datang."

Tsunade, lalu memandang dua Uchiha dihadapannya.

"Kau untuk sementara, kau akan tinggal di kediaman Uchiha. Dan untuk kalian berdua, aku akan membagi tugas. Kau, Uchiha Itachi. Akan menerima misi dari hokage, dalam pengawasan ujian chunin. Sementara kau, Uchiha Sasuke. Kau akan bertugas menemani nona Akasuna ini." Ia memandang semua wajah yang ada dihadapannya.

"Apa, cukup jelas?!"

"Jelas Tsunade -sama!"

"Baik. Kalau begitu laksanakan!"

"Ha'i Tsunade -sama!"

"Dan untuk kau Itachi, "

"Ya, Tsunade - sama"

"Kau akan pergi sore ini. Jadi bersiaplah."

"Ha'i,Tsunade - sama!"

...

...

..

Another Life

Disclamer :

Naruto just belong to Mashi Kishimoto

Genre :

Romance, Drama, Canon, Fantasy.

Pair :

SasuFemNaru

Warn :

GS(Gender Switch), Alternative Universe, Alternative Reality, World Swithcer, EYD berantakan, typo(s), Newbi.

Fushigina Ashita Presented

New Fict Project

.

.

Another Life

Summary:

Di umurnya yang ke tujuh belas, Naruto mendapatkan kenyataan bahwa dirinya bukanlah salah satu anggota keluarga Akasuna. Ia hanyalah seorang anak angkat, dan pada saat itu juga ia di berikan sebuah liontin yang menemaninya di waktu kecil. Tapi aiapa sangka liontin itulah yang mengubah hidupnya, mengantarkan takdir untuknya, juga...

Pengalih dunianya.

...

...

..

.

.

Another Life

Chapter : 3

.

.

.

Naruto hanya memandang tak mengerti pada apa yang di bicarakan oleh orang yang dipanggil Tsunade - sama.

Ia baru sadar, ternyata ia masih memakai seragam sekolahnya plus coat yang membalut tubuh mungilnya. Ia tidak berubah menjadi gila. Karena kejadian tadi itu memang nyata! Ia juga masih belum percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Hell. Jika seperti ini caranya, ia yang akan perlahan-lahan menjadi gila.

Ia juga menyadari , bahwa kini dihadapannya terdapat dua sosok tampan rupawan. Jujur, Naruto terpana pada saat , saat tatapan matanya terkunci pada tatapan tajam pemuda berambut raven. Ia merasakan Seolah-olah waktu kian terhenti untuk sesaat. Jantungnya berdegup kencang, seakan meronta-ronta meminta keluar. Perutnya bergolak pelan, merasakan luapan rasa yang kian bergemuruh.

Naruto berjenggit kaget, saat ia rasa sebuah telapak tangan besar menyentuh pundaknya.

"Apa yang akan kau lakukan?!" Ia membentak pelan, mencoba berkelit. Pipinya terasa panas, detak jantungnya bertalu-talu tak terkendali. Tapi dengan bersusah payah Naruto mencoba menutupinya.

"Membawa mu pergi. Kau tak mendengar, apa yang dikatakan wanita pirang itu?"

"Tapi, tak usah menyentuhku!" Naruto dengan kasar menghempas tangan putih itu.

"Ck, terserah Kau lah. Jika bisa, berjalanlah tanpa bantuan siapapun."

"Baik! Aku bisa melakukannya. Bahkan tanpa bantuanmu!"

"Hn. Buktikan."

Naruto yang masih kesal, mencoba untuk turun dari bangsal itu. Sejujurnya, ia masih merasa lemas. Jangankan untuk berdiri, untuk duduk saat ini pun, ia berjuang mati matian. Tapi demi menyelamatkan harga dirinya, ia dengan keras kepala, mencoba untuk berdiri.

'Bruk'

"Arrgh...ittai.."

Naruto mengerang pelan, saat kakinya terasa lemas bagai tak bertulang. Suaranya bergetar, matanya berkaca - kaca siap mengalir kapan saja.

Walau tubuhnya kini sakit, karena dengan kerasnya mencium lantai. Ia tak mungkin mengeluarkan tangisannya, yang menurutnya adalah sisi lemahnya kepada tuan menyebalkan berambut aneh ini.

"Hn. Kau, dobe."

"A..apa? Dobe?" Naruto berujar tak percaya. Yang benar saja! Kasan, tousan, bahkan anikinya yang tak pernah akur dan selalu mengejeknya, tak pernah Sekalipun menyebutnya bodoh, aho, ataupun dobe, walau sekonyol apapun tingkahnya.

"Hn. Cepat bergegas! Aku ingin cepat cepat terlepas dari tekanan ini."

"Kau! Memangnya, ini mudah apa?!" Naruto berseru emosi, pupus sudah bayang bayang tentang betapa sempurna nya sosok ini. Ia memang menawan dengan kilatan manik kelam tanpa emosi, akan tetapi mulutnya pun tak kalah menawan pula dengan lontaran kata yang tajam menikam.

"Kau yang hanya bicara, mudah saja bagimu. Sementara aku?" Naruto yang merasa dirinya yang dirugikan dengan keadaan ini, tak terima diperlakukan seperti ini. Seharusnya pria itulah yang membantunya, bukan malah mengejeknya.

"Hn. That's not my business ." Sasuke berujar tak peduli. Sungguh raut flat face yang dimiliki pemuda ini, membuat Naruto ingin mencakar habis dan memahat lebar lebar satu tarikan di sudut bibirnya.

"Tapi, setidaknya kau har..."

"Stop! "

Tsunade cukup geram dengan apa yang didengarnya kini, ia cukup lelah dengan tugas yang menumpuk juga berbagai permasalahan desa yang bisa dibilang tak mudah. Jadi apakah bisa ketiga emm... mungkin dua, orang ini memberikan ketenangan untuknya?

"Henti kan perdebatan kalian! Sasuke, kau cukup antarkan gadis ini. Dan Akasuna - san, jangan banyak bicara. Karena untuk sementara waktu, anda akan tinggal bersama Sasuke."

Mata hazelnya, melirik sesaat. Memandang tajam pada wanita pirang bermata biru di hadapannya. Terlihat gadis itu, dengan cepat mengatupkan kembali mulut mungil miliknya. Mata sebening kristal itu, tampak bergerak - gerak gelisah.

"Apa cukup jelas?" Tsunade menaikkan alisnya, melipat tangannya di depan dada. Aura hitam tampak jelas terpancar memenuhi ruangan begitu tipis, namun menyayat. Suaranya terdengar pelan, melesak perlahan menghunus kedalam sukma.

"Je..jelas Tsunade-sama"

"Hn."

"Tentu."

Mereka menjawab bersamaan, akan tetapi dengan jawaban beragam. Dimulai dari Naruto yang gelagapan , tuan Uchiha Sasuke yang dingin,dan Mr. Itachi yang santai.

"Baiklah."

Tsunade tersenyum manis sambil menatap ketiga orang itu.

" Kalian boleh keluar. "

" Ha'i, Tsunade-sama. "

Mereka, menyahut bersamaan. Dan dengan cepat, Sasuke, menggendong gadis dihadapannya. Ia juga masih tau waktu. Ia tak ingin masa depannya hancur begitu saja, apalagi dikarenakan hal konyol. Hah. Takan pernah.

.

.

.

...Another Life...

.

.

.

Naruto, memandang punggung tegap dihadapannya. Dalam hati, ia berkoar-koar tak suka juga merutuki 'keberuntungannya' karena bertemu satu mahluk ini. Kemudian, dengan berat hati, ia berjalan perlahan mengikuti sosok yang kini tengah menatapnya malas.

" Apa?!"

Naruto bertanya ketus. Mata birunya, balas menatap tajam manik kelam yang seolah-olah mengejeknya.

"Hn. Bisakah kau lebih cepat? Waktuku bukan hanya untuk mengurusi mu saja. Apakah aku, harus kembali menyeretmu, hn?"

"Tidak! Jangan harap kau bisa melakukannya lagi, aku tak mau! Takan pernah mau!"

Ya. Ia berharap hal itu takan terulang. Sungguh, sebagai seorang perempuan, ia merasa harga dirinya terinjak-injak. Siapa yang tidak marah, jika kau tiba-tiba diangkat secara paksa dengan posisi yang bahkan orang butapun takan sudi melihatnya. Apalagi ia masih menggunakan setelan seragam dengan rok minimnya. Dan kau, dibawa pergi dengan cara berlarian bak kesetanan dan meloncat-loncat melompati gedung.

Hell No! Really Damn Hell No!

Bahkan, sisi rasionalnya pun terus meronta mencoba melepas ingatan laknat itu. Beruntung disini ia masih menggunakan short yang mampu setidaknya sedikit menutupi rasa malunya.

Dan... di sinilah ia. Dengan kaki bergetar, mencoba berjalan mengikuti pemuda menyebalkan dengan rupa emm... mungkin mmm..menyenangkan? Emmm atau entah apalah itu. Yang pasti setelah ia berjuang meminta diturunkan, ia dengan cepat - cepat memasang coat - nya tepat di pinggang.

"Cepatlah, nona!"

Naruto menggeram kesal. Apakah pria itu tak melihat? Jikalau bisa, ia pun akan terus melangkah. bahkan jika perlu, ia akan menyempatkan waktu untuk menundukkan rambut ayamnya, ataupun menendang kakinya.

" kau..."

Suara baritone milik Sasuke , mengalun tenang.

Selanjutnya, ia melangkah perlahan menghampiri Naruto.

"Lambat."

Berbisik pelan. Tepat di sebelah telinga Naruto, dapat Sasuke rasakan bagaimana tubuh itu menegang. Sasuke juga dapat mencium aroma citrus yang tampak menguar samar di tengkuknya.

'Set'

'Grep'

Naruto untuk sesaat hanya bisa menahan nafas dan menjerit tertahan, saat ia tiba-tiba merasakan tangannya ditarik dan tubuhnya terangkat.

Kini mereka berdua terdiam. Tak ada kata yang terucap, hanya saling memandang mencoba menyelami keindahan satu sama lain.

Suara riak air, mengalun pelan membentuk melodi penenang. Dengan bermandikan cahaya jingga matahari senja yang kan kembali keperaduaannya. Mereka atau lebih tepatnya Sasuke, berdiri tepat diatas jembatan, ditemani semilir angin lembut juga dihiasi gugura daun.

Naruto mendongak, memandangi sosok dihadapannya. Sosok itu begitu sempurna, rahang tegas dengan di bingkai surai kelam yang nampak kontras dengan kulit putihnya. Ia kembali terpaku, saat tatapan nya kembali terkunci pada manik hitam tajam yang balik menatap dirinya. Ia terpesona dengan iris hitam itu. Ya, begitu kelam tajam dan mempesona.

" Ku sarankan kau untuk berpegangan, dobe."

Suara datar itu, rupanya telah menyentak Naruto dari rasa kagumnya. Pipinya terasa panas mengetahui bahwa kini ia sedang berada di pangkuan pria ini, dengan suasana yang sedikit err... dramatis ini.

Ia kemudian dengan cepat berpegangan memeluk lehernya, saat laki-laki itu kembali berlari dan melompat. Naruto, semakin mengeratkan pegangannya saat ia rasa angin mulai menerpa nya secara tak wajar. Ia menelungkup kan kepalanya tepat kedalam dada bidang si raven, mencoba menghilangkan rasa takutnya.

Bisa Naruto dengar, suara detak jantung yang berdegup teratur sebagai melodi indah yang menenangkan.

Perlahan kelopak matanya kian memberat saat degupan itu, kian kentara. Ia pejamkan matanya, melepaskan sejenak beban yang menimpanya juga rasa lelahnya. Tubuhnya kian merapat, mencari - cari kenyamanan juga kehangatan. Sungguh, kini Naruto terbuai oleh ketenangan yang disuguhkan pemuda ini. Hingga tanpa ia sadari, sebuah tarikan hinggap di sudut bibirnya, sebelum kesadarannya makin memudar.

.

.

.

...Another Life...

.

.

.

Sasuke mendengus, saat mengetahui gadis di pangkuannya ini terlelap dengan mudahnya , ia tersenyum geli saat mengingat bagaimana tubuh mungil itu merapat mencari-cari kehangatan.

Dengan pelan dan hati-hati, Sasuke membaringkan sosok itu di atas sebuah sofa. Alisnya mengernyit saat melihat sebuah baju tebal yang diikatkan di pinggang si pirang. Bisa Sasuke ingat, bagaimana panik nya sosok itu , di saat Sasuke dengan mudahnya mengangkut tubuh si pirang tanpa aba aba. Dan setelah Sasuke turunkan, dengan cekatan gadis itu melepaskan baju tebal seperti jaket yang entah itu apa, lalu segera ia ika di pinggang.

Sepertinya gadis itu cukup marah dan juga malu. Terlihat dari bagaimana pipi bulat nya terhiasi rona samar yang nampak begitu manis, dengan bibir yang bergerak gerak lucu dan sesekali mengerucut juga kerutan samar yang menghiasi dahinya.

Yang bisa Sasuke lakukan saat itu hanyalah diam memperhatikan, Sasuke hanya memutar kedua bola matanya melihat dengan keras kepalanya sosok itu kukuh untuk tetap berjalan. Menghela nafas sejenak, akhirnya Sasuke memutuskan untuk membawanya secara manusiawi, selain itu ia juga tak tega atas apa yang dialami sosok asing ini.

Ia tatap wajah itu dalam. Rupa indah tanpa cacat. Ia usap wajah itu lembut, menelusuri keindahannya. Sasuke tertegun, ia baru sadar baru kali ini selama ia tumbuh dan bernafas ia begitu dekat juga begitu peduli terhadap orang lain. Terlebih orang ini adalah sosok asing yang baru saja ia temui beberapa jam lalu. Namun ia dapat merasakan satu hal yang berbeda dan entah itu apa, tapi yang pasti ia merasa tak ingin rasa ini menghilang.

Sasuke menghela nafas, lalu segera beranjak dari sana. Menaiki tangga, sampai akhirnya ia berpapasan dengan Itachi.

" outoto . Kau sudah kembali?"

" hn."

" Baiklah, karena sekarang aku tak ada di rumahJadi. Jangan macam-macam ya, outoto" Oh Sungguh, Sasuke ingin sekali memukul habis wajah di hadapannya, apalagi senyum menggelikan nya itu. Oh... sungguh...

"Tentu. Karena aku bukan kau."

" oke.. ittekimasu ne, outoto."

" hn "

Itachi hanya tersenyum tipis, ia lalu berjalan menuruni tangga. Ia kembali tersenyum saat retina nya menangkap sesosok gadis yang tengah terlelap di sofa.

Ia lalu berjalan keluar dan terus melangkah, sampai tertelan jarak.

.

.

.

...Another Life...

.

.

.

Sasuke kini sedang membersihkan tubuhnya. Matanya terpejam, menikmati sensasi dingin saat air mengguyur tubuhnya.

Mendesis pelan, saat ia teringat apa yang telah anikinya katakan. Hah... macam-macam? Memang apa yang akan Sasuke lakukan terhadap gadis labil itu... ia akui gadis itu memang bagai malaikat tak bersayap, atau mungkin malaikat tersesat tepatnya. Tapi bukan berarti ia bisa melakukan hal macam-macam, Ohh.. ayolah, meski bagaimanapun dinginnya ia terhadap perempuan, ia masih tetap menghormati mahluk itu. Ia takan mungkin melakukan hal-hal yang bisa merusak kehormatannya.

Sasuke merasa cukup dengan kegiatan bersihkan diri, ia langsung memakai handuk sebatas pinggang dan membiarkan tubuh kekarnya terekspos.

Berjalan keluar menuju kamar. Namun apa yang di liatnya kini, sungguh membuat Sasuke ingin membenturkan kepalanya ketembok.

Di hadapannya kini ada Naruto yang sedang memandangnya terkejut. Mata biru bulat nya, semakin membulat saat melihat penampilan Sasuke kali ini. Naruto berdiri tepat didepannya pintu dimana Sasuke keluar.

"A..aku..aku. hanya ingin ke kamar mandi. Dan ruangan inilah yang satu satunya terbuka." Seolah-olah mengerti akan apa arti dari tatapan tajam milik Sasuke, Naruto mencoba menjelaskan dengan gugup.

Sasuke hanya menatap datar pada Naruto, gadis itu hanya memainkan jari jemarinya sambil menunduk. Kedua pipinya kini kembali memerah. Manik biru jernih itu hanya bergerak - gerak gelisah, mencoba menghindari kontak mata yang tengah menatapnya tak bersahabat.

Sasuke menatap tajam pada Naruto, mengunci pergerakan gadis itu. Ia melangkah satu persatu. Sehingga gadis itu terpojok diantara tembok dan lemari.

Sasuke mengukung gadis itu di antara kedua tangannya. Sasuke mendekatkan wajahnya, memupus jarak diantar keduanya hingga tersisa beberapa senti. Ia bisa merasakan bagaimana gadis itu menahan nafas.

Mendongak , menatap gadis pirang yang kini hanya menunduk dan mengatupkan mulutnya. Sasuke mengangkat dagu Naruto lalu menatapnya lamat.

"Tunggu di sini. Akan ku pastikan."

Memutuskan kontaknya, dan segera berlalu dan menuju lemari. Mengambil asal kaus kemudian memakainya cepat.

Berjalan keluar kamar, matanya memandang mengitari rumahnya. Ia melihat daun pintu kamar orang tuanya, mencoba dibuka. Akan tetapi..

'Di kunci?'

Kedua alisnya tertaut, tak biasanya mereka mengunci pintu. Ia kemudian berjalan, menatap sederet ruangan lalu membukanya. Tapi sayangnya, pintu itu terkunci. Mencoba tenang, Sasuke dengan santai menelusuri rumahnya, namun tetap sama semua ruangan resmi terkunci.

Ia kini berjalan menuruni tangga, untuk pergi ke dapur. Mata kelamnya melihat toilet di sebelah ruangan dapur, menghampirinya lalu membukanya.

'Lagi?'

Walau merasa janggal, tapi ia tetap tenang. Menghampiri laci di dekat meja makan, dan membukanya. Mencari-cari kunci cadangan di sana, namun ia tak menemukan apapun selain note yang di tempelan ke laci.

_Note_

From: your beloved aniki.

To: my sweeties outoto.

Outoto ku sayang... maafkanlah aniki mu ini. Tapi aku melakukan ini untuk kebaikanmu pula. Jadi... bersenang - senanglah.

Ingat! Jangan melakukan hal macam-macam. Cukup lakukan satu macam... emm.. maksudku tetap pada garis batasan, oke?

Bye.. see you.

P.s : jangan merusak pintu, karena mungkin kaasan takan menyukainya .

Sasuke menggeram kesal. Ia remas kertas itu sampai tak berbentuk.

Gahh... kusso aniki! Seenaknya saja! Dasar keriput tua!

Ia kemudian berlalu, dengan kepala yang mengepulkan asap. Ohh... baru ia sadari, mengapa ia bisa senista ini. Kapankah penderitaan ini harus berakhir...

.

.

.

.

Sementara itu, Naruto yang kini berada di kamar Sasuke. Hanya bisa menaikkan alisnya heran. Melihat bagaimana tingkah aneh laki-laki berambut raven ini.

Tadi saja, sebelum ia keluar ia bertingkah layaknya om-om mesum berhidung belang yang So keren dan so tampan. Emm.. memang tampan dan keren sih. Oh..lupakan.

Tapi sekarang? Pria aneh dengan rambut aneh itu, kembali kesini dengan muka masam, raut tegang tak bersahabat juga mata hitam yang berkilat kilat tajam.

Memang sih, Naruto sempat terpesona oleh ke tampanan pria ini. Tapi, jika ada masalah dengan kewarasannya ia sepertinya harus pikir pikir kembali.

Naruto melihat Sasuke membuka lemarinya. Lalu dengan tanpa aba aba, laki-laki itu melempar beberapa potong pakaian kearahnya.

"Bersihkan dirimu! Setelah itu, keluar dari kamar ini!"

Sasuke kemudian mendekat dan menatap Naruto kembali.

"Paham?"

"P.. pa..paham."

Naruto, dengan cepat langsung melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi. Ia tak mau menjadi santapan ular gila yang sedang menjadi. Jadi ia harus cepat cepat, karena hal itu tak baik bagi keselamatannya.

.

.

.

...Another Life...

.

.

.

_In Another Side_

Sasori, saat ini sedang berada di kamar adiknya. Nuansa kamar yang cerah debgan beberapa barang orange dan biru muda yang mendominasi, nampak begitu menyilaukan mata. Ia genggam tangan itu erat, seolah takut kehilangan.

Jujur, saat itu ia panik melihat adiknya yang kehilangan kesadarannya. Ia dengan segera mengendarai mobilanya cepat. Setelah sampai rumah, ia memanggil dokter pribadi agar cepat di tangani.

Ia sepertinya akan izin untuk beberapa hari, sampai adiknya pulih kembali. Karena kedua orang tuanya tak ada di rumah, keduanya tengah pergi untuk menyelesaikan urusan bisnis. Jadi, hanya ia dan beberapa pelayan saja yang saat ini berada dirumah. Ia bukannya mau menitipkan Naruto pada pelayan, akan tetapi lebih baik jika ia saja yang merawatnya.

Ia begitu menyayangi Naruto, tapi tak ia sangka rasa sayang itu akan terus tumbuh seperti ini. Memang, Naruto bukanlah adik kandungnya. Akan tetapi kaasannya takan pernah menyetujui apa yang tengah di rasakan nya saat ini.

Ia usap wajah itu, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi parasnya.

"Cepat sembuh ne, little Kitsune. "

Memajukan wajahnya dan..

'Cup'

Mengecup lembut dahinya.

" Nissan menyayangi mu."

.

.

.

TBC

Fiuuhhh ~~ akhirnya selesai juga nih chapie,,, duh... Gimana ya, Maafkan saya karena selalu ngaret dalam mempublish Fict nya... tapi Gimana lagi, setiap orang pasti punya kesibukan masing masing, jadi mohon pengertiannya ya...

Tak bosan, saya ucapkan terima kasih bagi minna-san yang mau meluangkan waktunya untuk membaca nih Fict, terima kasih juga buat minna-san yang ridho, iklahs mau mengfav, follow, maupun riview.

Jaa ne.!

See you!