SOMEONE
Cast :
Do Kyungsoo (20) - Kim Jongin (21)
Wu Yifan (22) - Oh Sehun (21)
And All Member EXO
Pairing : KaiSoo, HunSoo, KrisSoo
Rate : T-M
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort.
Warning! : Genderswitch For Uke, DLDR, OOC, Typo(s)
.
.
Cerita murni berdasarkan pemikiran saya dan imajinasi saya. Apabila ada kesamaan tokoh, sifat, atau alur cerita, itu merupakan sebuah kebetulan! Bila tak suka, silahkan close tab! Dilarang compas cerita tanpa izin. Dimohon untuk menghargai.
.
.
.
DLDR
.
.
.
.
Rattingnya di naikkan menjadi M (mature) ingat di "naikkan menjdi M" janggan sampai nanti saudara-saudara semua berkata 'kok gak di kasih tau?' atau 'kok gak di beri peringatan?'
anak-anak di bawah umur silahkan close tabnya. Silahkan membaca ff lain yang sesuai umur. Tapi terserahlah, dosa di tanggung masing-masing yahh ^^
bila ada reaksi aneh, dimohon untuk tidak menyalah kan uthor
.
.
.
Just Enjoy Reading ^^
Chapter 3
Aku mengerang tersiksa saat sebuah sentuhan lembut menjalari kulit ku, membuatku merasakan kelembutan yang merangsang seluruh denyut nadiku. Sentuhan memabukkan yang sungguh membuatku terlena, dan terbuai di buatnya. Sebuah sentuhan ragu-ragu yang terkesan malu-malu itu membuatku tersiksa.
Ku pandangi wajah manisnya yang sedang memerah menahan malu dan nafsu. Nafasnya tersengal-sengal hangat menerpa wajahku. Ku pandangi kedua bolamata bundarnya yang kini tertutup rapat. Bibir merahnya yang bengkak karena ulahku, sungguh membuatku kembali terlena akan kelembutan dan rasa manis yang tercipta dari bibir itu.
Ku pandangi hasil jerih payahku akan sosok dirinya. Bukan bermaksud kurang ajar, namun yah nafsu manusia apalagi seorang lelaki yang sedang dalam masa pertumbuhan sepertiku pasti menumpuk sangat besar dan menunggu untuk di puaskan.
Tubuh mungilnya terlihat begitu mungil dan lemah dalam kungkungan tubuhku. Aku ragu, apakah nanti dirinya mampu menerima segala perlakuan ku? Dengan tubuh lemah seperti ini, aku sangatlah ragu. Namun, nafsuku sudah sangat memuncak. Entahlah. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa aku dapat dengan mudahnya menjadi bernafsu seperti ini hanya dengan melihatnya dan menyentuh tubuhnya?
Meski aku bajingan liar yang tak tahu diri dengan nafsu besar, yang kerap kali butuh untuk bermain dengan banyak wanita jalang di luar sana untuk meredakannya, namun tak pernah ku rasakan tubuhku bereaksi seperti ini sebelumnya. Sungguh reaksi yang berlebihan. Hanya dengan memeluknya, aku inginkan ia berada di bawah tubuhku, dalam sebuah hubungan intim yang begitu menggairahkan sepanjang hari.
Hanya dengan mendengar suara merdunya memanggil lembut namaku, aku berfikir tentang bagaimana merdu dan indahnya saat ia mendesahkan namaku di setiap tingkah ku mencari kenikmatan? Bagaimana indahnya suara itu memanggil-manggil bahkan menjeritkan namaku di bawah kenikmatan yang akan ku berikan?
Hanya dengan megecup dan membelai kulit lembutnya, hal itu membuatku terlena akan kelembutan kulitnya yang mampu membuatku tersiksa akan kebutuhan birahi. Oh sial! Semua ini sungguh sangat menyiksa ku.
Saat pertama kali melihat dirinya pun, Ingin sekali rasanya aku membawanya kedalam kenikmatan sempurna dalam sebuah hubungan sesungguhnya. Ingin ku kenalkan dirinya yang polos dan lugu itu akan dunia penuh kenikmatan dalam sebuah hubungan intim yang sungguh sangat menggiurkan. Namun, aku masihlah ragu. Apakah aku sanggup hati untuk merusaknya? Merusak dirinya, pikirannya, bahkan hatinya?
Dan akhirnya, ketika aku mendapatkan kesempatan untuk melakukannya, aku masih ragu. Di tengah-tengah sebuah cumbuan merangsang yang kulakukan padanya, aku sungguh masih meragu. Entahlah, seharusnya aku tak perlu lagi merasa ragu saat menjadi casanova. Bukannya telah menjadi hal yang biasa bahkan wajar bagi ku yang seorang casanova untuk mempermainkan perasaan gadis, dan mendapatkan sebuah hubungan One Night Stand atau bahkan mempermainkannya dan membuatnya sakit dalam sebuah hubungan percintaan?
Namun perasaan ragu yang tumbuh dalam hatiku, seolah menghalangi-halangiku untuk melakukan hal lebih dan menyakiti hatinya. Entahlah, berpikir bahwa semua tindakkanku yang nanti akan menyakiti hatinya dan akan membuatnya menangis, membuatku merasakan perasaan aneh yang menyesakkan dan menyakitkan.
Aku berhenti sejenak memainkan bibirnya yang lembut dan manis. Memberikan sejenak waktu kosong untuknya menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal akibat ku, sekaligus memberikan sejenak waktu untuk hatiku menetapkan pilihannya. Haruskan aku melakukannya atau tidak?
Aku memandang wajahnya yang sayu dipenuhi dengan remah kemerahan di setiap inci wajahnya. Terkesan begitu manis sekaligus menggoda. Matanya yang begitu jernih menatapku sayu. 'Oh Shit! Kyungsoo berhentilah bertingkah seperti itu. Aku tak kuat untuk tak menerkammu sekarang juga' batinku lirih.
Ku gerakkan tanganku untuk menyentuh sudut bibirnya yang merah mengkilap, menghapuskan benang-benang saliva kami yang berada di sepanjang bibir hingga dagunya. Arhggg! Sial. Aku tak tahan lagi. Namun, aku tetap harus berpikiran matang. Tubuhku panas dan sungguh membutuhkan kehangatan serta kenikmatan yang mampu membuatnya menjadi lebih baik. Namun hatiku tetap meragu.
"Jonginiee~" Terdengar suara merdu nan lembut Kyungsoo yang menggetarkan jiwaku kembali pada kenyataan. Ku pandangi sekali lagi matanya yang menatapku sayu. Alisnya berkerut samar,menandakan ia sedang kebingungan. Arghh sial! Sial! Sial!
Dengan segala keterpaksaan, ku mencoba mengakhiri kenikmatan yang menyiksa ini dengannya. Yap! Aku memutuskan untuk mengakhiri cumbuanku, membiarkannya pulang dengan selamat dari apartementku, dan segera menelepon beberapa wanita yang siap menemaniku dan memuaskanku. Menuntaskan segala nafsuku saat ini juga.
Namun apa daya, tubuhku tetap tak mampu beranjak dari tempatnya. Aku masih terlena akan kehangatan tubuh mungilnya yang berada dalam kungkungan tubuhku saat ini. Aku masih terlena akan keindahan wajahnya yang menatapku sayu penuh dengan nafsu. Aku masih ingin mendengarkan suaranya yang mendendangkan desahan-desahan nikmat atas segala perlakuanku padanya.
Manis ini sungguhlah manis. Nikmat, ini sungguhlah nikmat! Ini adalah sebuah kenikmatan termanis yang pernah ku rasakan sepanjang 21 tahun aku hidup di dunia ini.
Pandanganku teralihkan pada lehernya yang basah akibat lidahku yang bermain liar menebar salivaku, serta ruam-ruam merah kebiaruan yang tersebar merata dileher mulusnya. Pandanganku kembali turun, aku menatap kemeja putih yang tiga kancing teratasnya nya terbuka manampakkan dadanya yang montok masih tertutupi Bra hitam. Aku menatap kagum pada keindahan yang tersaji di hadapanku ini.
Meski sudah sering untukku melihat dan mendapati pemandangan yang seperti ini, dengan beberapa wanita, namun entah mengapa, sensasi yang di timbulkannya sungguh sangatlah berbeda. Perasaan penasaran mulai menghinggap kehatiku. Bagaimanakah rasanya dada itu? Seberapa kenyal dan padatkah kedua bukit kembar itu? seberapa sensitifnya kah Kyungsoo apabila aku bermain di sekitar puncuk payudaranya?
Arghh sial! Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak lagi berpikiran macam-macam. Ingin sekali rasanya aku menarik turun bra sialan itu yang menghalangi laju pandangku. ingin sekali rasanya aku meremas lembut kedua bongkahan kenyal tersebut. Menghisap puncuk bukit kembar itu hingga membuatnya tegak berdiri karena kenikmatan yang ku suguhkan. Mendengarkan desahan-desahan nikmat darinya yang mengalun lembut, membangkitkan nafsuku.
Aku mengerang tertahan saat merasakan sebuah senggolan yang tak sengaja, saat Kyungsoo mengeliat tak nyaman di bawah tubuhku itu, mengenai sesuatu di bawah sana. Membuatnya semakin sesak dan keras. Oh Shit! It's so Hard! Aku tak kuat lagi!
Bermain-main sebentar lagi tak masalah bukan? Hanya menikmati keindahan bola kembar itu, takkan menjadi masalah bukan? Asal aku masih mampu menahan kontrol tubuh dan nafsuku.
Aku terus saja menatap kagum pada kedua bukit kembarnya yang tertutup separuh isinya oleh cup bra hitamnya. Aku meneguk salivaku kasar. Sialan! Kenapa bagian selatan tubuhku semakin hard? Hanya karena menatap kedua bukit kembar ini, bahkan aku belum menyentuh dan mempermainkannya? Oh my god! Kyungsoo sebenarnya apa yang telah kau lakukan pada tubuhku?
Aku tersadar dari kekagumanku saat merasakan gerakan Kyungsoo yang akan mengancingkan kembali pakaiannya. Mungkin ia merasa risih akibat tatapanku. Mau tak mau, aku pun terkekeh karena tingkah lakunya.
Aku menahan pergerakkan tangannya yang akan mengancingkan kembali kancing kemejanya. Aku menahan tangannya tepat di samping kanan kiri kepalanya. Dia menatapku kaget. Mata bulat itu kini kembali bulat, bahkan semakin membulat kaget. Ohh.. betapa lucunya.
Aku tersenyum jahil padanya, sebelum ku gerakkan kembali wajahku mendekat kearah wajahnya, mengecup kilat bibirnya, sebelum ku gerakkan bibir dan lidahku untuk bermain liar di sekitar belakang kupingnya, menggigit gemas dan meniup telinganya, menghantarkan rasa geli yang membuatnya mengerang dan mendesah tertahan. Ku bisikkan kata-kata manis dengan suara yang serak dan rendah, berusaha mencoba untuk menggodanya. Ku turunkan lidah dan bibirku untuk bermain di lehernya. Ku kecup kecup ringan bekas-bekas ruam di lehernya, hingga cubuanku turun ke tulang selangkanya. Aku menciumnya lembut, membelai menggunakan lidahku, menghisap dan menggigitnya sekali-kali, sebelum kembali menghisapnya kuat-kuat. Hal tersebut membuatnya mendesah dan mengerang memanggil namaku. Aku semakin semangat karenanya.
Ku turunkan lagi cumbuanku ke belahan dadanya yang terpampang indah. Ku kecup-kecup ringan belahan dadanya hingga bagian dadanya yang bebas dari kungkungan cupbra yang ia gunakan. Karena merasa gemas sekaligus terganggu, ku gigit ujung cup bra hitam yang ia gunakkan, menariknya kebawah dengan gerakan sensual, mengeluarkan sebelah bukit kembar yang indah. Sengaja ku permainkan puncuk payudaranya dengan hidungku. Sebelum ku kecup ringan dan kujilati dadanya tanpa menyentuh pucuk payudaranya yang sudah berdiri tegak.
Dia melirih , mendesah, bahkann memohon padaku. Aku tersenyum di tengah aktifitasku. Kulepas kedua tangannya, dan dengan secara langsung, ia memeluk kepalaku erat, mengarahkannya kebagian pucuk payudaranya. Aku pun menurutinya.
Kuangkat sedikit punggungnya, menyelusupkan kedua tanganku untuk membuka kaitan bra yang menghalangi aktifitasku, ia menurut untuk mengangkat tubuhnya sedikit, memberi ruang dan memudahkanku melepaskannya. Setelah lepas, ku lempar secara asal bra tersebut. Ku genggam bongkahan kenyal payudaranya yang terasa pas di ukuran tanganku yang besar. Oh.. sungguh besar, kenyal dan padat. Berbeda dengan payudara wanita-wanita lain yang keras karena inplan.
Ohh.. aku sungguh menikmati kegiatanku ini. Ku remas-remas kedua bukit kembar yang kini menjadi canduku itu. menghantarkan kenikmatan untuknya, mebuatnya melenguh nikmat akibat perbuatanku. Mulutku terus bermain di puncuk payudaranya, menghisap dengan kuat, sesekali menggigitnya gemas. Ia hanya melenguh dan mendesah nikmat. Ku pilin nipple nya yang satu lagi dengan ibu jari dan jari telunjukku. Ku pilin, ku putar, dan ku tarik.
Ahh.. dia semakin mendesah keenakkan. Aktifitas kami terus berlanjut dengan sangat hikmat. Di selingi dengan desahan dan lenguhan nikmat yang mengalun lembut dari mulutnya. Sebelum pada akhirnya sebuah dering panggillan menyadarkannya pada dunia yang nyata ini. Menghentikanku dengan sebuh dorongan kecil yang membuatku terlepas dari kegiatan –mari menyusu- di payudaranya. Ia mengerang tertahan, berusah bangkit terduduk dari kungkunganku. Ku perhatikan setiap gerak geriknya yang kaku dan ragu dengan mata elangku yang menatapnya kesal.
Ia bangkit terduduk bersandar pada kepala kasur. Ia berusaha mengapai handphonenya yang berdering di nakas samping tempat tidur. Aku mendudukkan diriku tepat di sebelah kirinya, tanganku meraih tangannya yang sedang menutupi payudaranya yang besar dan indah. meski usahanya itu percuma saja sebenarnya. Ku jauhkan tangannya dari payudara itu dan aku pun kembali menunduk, memeluk tubuhnya, dengan sebelah tangan. Ku arahkan tangan kananku, menyelinap di balik tubuhnya dan meremas gemas payudara kanannya yang menganggur. Ku hisap dan ku jilati pucuk payudaranya yang bagian kiri. Ku lanjutkan kembali aktifitas ku yang sempat terhentikan olehnya. Ia hanya terdiam mengerang, mendesah, dan mengeluh nikmat. Aku kembali fokus pada tindakkanku memainkan payudara nya yang begitu menggairahkan. Aku mengarahkan tangan kirinya, untuk menyentuh selangkanganku yang sudah membesar dan mengeras di balik celana jeans yang kuganakan. Ia terlihat ragu dan takut. Namun ku paksakan tangannya untuk tetap berada di selangkanganku, dan mengajarinya untuk mengelus-elus dan meremas ereksiku.
Aku kembali terbuai akan sentuhannya. Oh.. nikmat! Sungguh nikmat! Ku rasakan ereksiku semakin membesar dan mendesak untuk di bebaskan. Sungguh sesak. Namun aku menahan diriku. Aku tak ingin menyakitinya. Ku dengar dirinya menyahut panggilan yang mengganggu aktifitasku.
"Eohh~ Emhh Oppah? We..weo Kris Oppah?"
Tubuhku membeku. Aku menghentikan aktifitasku sesaat saat mendengar Kyungsoo menyebutkan nama bajingan itu. nama bajingan yang telah membawaku kepada niatan untuk berbalas dendam. Nama Lalaki yang secara tak langsung menghantarkanku pada pertemuan dengan Kyungsoo. Secara tak sadar, aku menggigit kuat-kuat nipple Kyungsoo yang masih berada di mulutku. Ia menjerit kuat, karena nyeri. Ku dengar seseorang di seberang sana yang kutahu bajingan yang bernama Kris bertanya dengan nada yang sangat khawatir. Hal itu sontak membuatku merasa mual.
Arhgg! Sial! Aku lupa pada tujuan awalku bertemu dengan Kyungsoo. Aku melupakan hal terpenting yang mestiku lakukan dan ku selesaikan dengan secepatnya. Aku melepas kulumanku, menatap wajah Kyungsoo yang berseri-seri senang menjawab panggilan bajingan itu. aku mengeram kesal. Entah mengapa hatiku bergetar tak suka.
"Aniyeo Oppa.. Sooiee do. Nado! nado bogoshipeoyeo Oppa.. ne.. ne.. saranghaeyo Oppa.."
Aku menjauhkan tangan Kyungsoo dari telinganya. Merebut paksa handphone tersebut dan melemparnya kasar. Terdengar suara handphone yang mungkin tengah hancur. Entahlah aku takk perduli lagi. Ku fokuskan pandanganku pada Kyungsoo yang tengah menatapku ragu dan takut.
Ku tarik tubuhnya untuk berbaring secara paksa. Aku tak boleh ragu lagi. Setelah mendengar nama bajingan tersebut, aku kembali yakin pada tujuanku.
Aku menindih tubuhnya yang lemah dan kecil. Tubuh itu terus memberontak di bawah tubuhku. Namun aku sama sekali tak menghiraukannya. Karena setiap dorongan atau rontaannya, hanya bagaikan sebuah goncangan ringan di tubuhku.
Aku memaksanya, menjeratnya, mencumbunya, dengan sangat-sangat kasar. Inilah pilihanku. Inilah tujuanku, dan aku akan melakukannya. Tak peduli pada resiko yang akan ku tanggung nanti. Biarkan aku melakukannya. Sebelum semuanya kembali hitam.
.
.
.
.
TBC
Yaeayy..akhirnya update juga.. sesuai permintaan para riview, aku mencoba untuk bisa fast update
Semoga chapter ini mampu membuat readers puas yaa ..:) mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan lainnya.
Mohon untuk di simak dengan baik, karena ini merupakan poin penting antara asal-usul kesedihan Kyungsooo. Buat kalian semua yang nanya, ada apa dengan Kyungsoo, atau 'apa siih yang udah jongin lakuin ke Kyungsoo' maka ini adalah awal dari jawabannya. Inget yahh "awal"
Dan,, semoga para readers masih berkenang untuk sekedar mencurahkan ide, kritik, bahkan cuap-cuap asalnya. Review, foll,dan favo nya sangatlah berartti untuk saya di tunggu reviewnya ya..
Semakin banyak review, semakin menjamiin untuk saya fast update
*deepbow
Thanks a lot for:
Baby Crong, Nam Jung, anastasoo, Guest, Kaisooship, sofia Magdalena, Yixingcom, fitria96 (Guest), Kyung1225, Krisoo (Guest), Lovesoo
