SOMEONE

Cast :

Do Kyungsoo (20) - Kim Jongin (21)

Wu Yifan (22) - Oh Sehun (21)

And All Member EXO

Pairing : KaiSoo, HunSoo, KrisSoo

Rate : T-M

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort.

Warning! : Genderswitch For Uke, DLDR, OOC, Typo(s)

.

.

Cerita murni berdasarkan pemikiran saya dan imajinasi saya. Apabila ada kesamaan tokoh, sifat, atau alur cerita, itu merupakan sebuah kebetulan! Bila tak suka, silahkan close tab! Dilarang compas cerita tanpa izin. Dimohon untuk menghargai.

.

.

.

DLDR

.

.

.

.

Rattingnya di naikkan menjadi M (mature) ingat di "naikkan menjdi M" janggan sampai nanti saudara-saudara semua berkata 'kok gak di kasih tau?' atau 'kok gak di beri peringatan?'

anak-anak di bawah umur silahkan close tabnya. Silahkan membaca ff lain yang sesuai umur. Tapi terserahlah, dosa di tanggung masing-masing yahh ^^

bila ada reaksi aneh, dimohon untuk tidak menyalah kan saya..

.

.

.
Just Enjoy Reading ^^

Chapter 4

Ia menjauhkan tangan Ku yang mengenggam handphone dari telingaku. Merebut paksa handphone tersebut dan melemparnya kasar. Terdengar suara handphone yang mungkin tengah hancur. Entahlah perasaanku mulai tak karuan. Ia menatapku tajam. Pandangannya sungguh berbeda, membuat ku gemetar takut dan ragu.

Dia menarik tubuh ku untuk berbaring secara paksa. Sorot matanya penuh amarah, gelap dan dingin. Entah apa yang telah ku perbuat sehingga dia berubah seperti ini.

Dia menindih tubuh ku yang lemah dan kecil. Tubuh ku terus memberontak di bawah tubuh nya. Namun dia sama sekali tak menghiraukan ku. Karena setiap dorongan atau rontaan ku, hanya bagaikan sebuah goncangan ringan di tubuh nya.

Dia memaksa ku, menjerat ku, mencumbu ku, dengan sangat-sangat kasar. Dan aku terus saja memberontak meski ku tahu ini hanyalah sia-sia. Aku menangis, menjerit keras. Mencoba membangkitkan kembali kesadarannya. Namun, bukan sebuah kelegaan yang ku rasa, melainkan sebuah kesakitan yang amat parah.

"Diam Bitch! Aku tahu kamu menginginkannya bukan? Berlakulah seperti wanita jalang biasanya. Jangan kau sok jual mahal."

Pipiku terasa panas dan perih. Bibirku terasa asin dan tercium bau amis yang menyengat. Dia menampar ku dengan sangat keras. Aku lemas. Sakit! Fisik dan batinku sakit. Mengapa ia berubah bagaikan monster? Relung hatiku sakit mendengar ia berbicara seperti itu.

'Oppa, tolong Sooiee, Oppa jebal !' batinku lirih.Aku terus saja menangis. Dalam hati aku berdoa semoga ini benar-benar hanya mimpi buruk ku yang dapat ku lupakan esok harinya. Namun, Hingga rasa sakit yang teramat sangat menghinggapi ku dan membuatku tersadar, bahwa ini bukanlah mimpi yang dapat ku lupakan keesokkan harinya.

"Arghh.. Soo.. Shit! Ini nikmat sayang." Suara menjijikkan itu terus saja terdengar mengalun ber-iringan seiring dengan dorongan keras di tubuhku yang menghantarkan rasa perih dan sakit yang membekas.

Aku hanya dapat terdiam menahan sakit di sekujur tubuhku, terutama sakit di relung hatiku. Ucapannya bahkan begitu merendahkanku, seakan aku adalah manusia yang paling hina. Ia bahkan tak memperdulikan jeritan kesakitanku. Dia hanya terus menjamah tubuhku, mencari kenikmatannya sendiri. Tanpa pernah peduli akan rasa sakit yang kurasa.

"Ouhhh.. Nikmathh Soohh.." Entah telah berapa lama aku bergerumul dengannya yang telah menghasilkan desahan dan erangan Nikmat untuknya. Bahkan sekali kepuasan yang keluar ke dalam tubuhku pun, tak kunjung membuatnya lega dan berhenti. Dia malah menggagahiku, terus menerus. Aku menangis. Aku kotor. Dan aku lelah.

Aku berharap, ini benarlah mimpi. Aku berharap, ini semua tak terjadi. Aku terus saja berharap. Meski ku tau, harapanku adalah sebuah keputus asaan jiwaku. Aku mengerang sakit karena perlakuan kasarnya yang terus menyodokku, menghujamku, dengan penuh kekuatan dan kekasaran. Oh Tuhan! Dosa apa aku?

Aku merasa, aku tak lagi memiliki wajah untuk ku tampakkan di kedua Oppaku nanti. Aku sudah hina. Dan sudah mempermalukan keluargaku. Aku telah mencoreng tinta hitam di wajah keluargaku. Aku menangis. Kembali menangis hingga derai air mata itu sudah enggan tuk keluar. Aku tersiksa, berharap semoga tuhan segera mencabut nyawaku.

"Sakit Jonghhin.. Ini sakit! Ku mohon berhentilah.."

"Diam dan rasakan sajalah.. ahhh,, Soo.."

Rasa perih dan sakit itu kembali mengerayapi tubuhku. Disaat dirinya telah mencapai kepuasan, yang entah telah ke berapa kalinya. Aku mengerang tersiksa karena desakkannya yang semakin cepat dan keras. Ini sakit sungguh! Tidaklah nikmat! Seperti yan kerap kali orang lain omongkan. Aku menjerit karena sakit yang terus menghujamku, membuatku semakin lemah, hingga hitam mengaburkan pandanganku, membuatku terlelap dengan tubuh yang masih berbalut perih.

~OooOooO~

Aku merasakan tubuhnya bergerak-gerak gelisah. Meski kantuk masih menerkamku, menyambutku agar kembal terlelap. Namun ku tetap mencoba membuka mataku, menatap akan sosok terkasih ku yang sednag berada dalam pelukanku ini.

Matanya terpejam erat. Buliran-buliran keringat yang begitu besar nampak banyak keluar dari dahinya. Wajahnya memerah. Di ujung mata indahnya yang tertutup, nampak linang air mata yang terus keluar, membuat hatiku perih.

Ia semakin bergerak gelisah. Membuatku khawatir. Aku mengguncangkan tubuh mungilnya, berusaha membangunkannya dari segala mimpi buruknya. Ku usap dahinya, mencoba untuk menyeka peluh yang membanjiri wajahnya. Aku semakin kalut kala, dirinya semakin gemetar, dan tak kunjung membuka matanya. Aku segera melepaskan rangkulanku, mencoba mengambil handphone ku yang berada di nakas samping tempat tidur. Aku menelepon adikku yang entah sedang berada di mana saat ini.

Rasa kesal menghujam hatiku karena si bodoh satu itu tak kunung mengangkat panggilanku. "argghh.. sial! Kemana perginya si doby bodoh itu?! mengapa ia tak kunjung mengangkat teleponnya juga ?" aku mengeram tertahan mencoba menahan amarah yang telah memuncak saat ku dengar nada sambung teleponnya.

"Yeoboseo?" Suara seorang wanita menyapa indra pendengaranku. Membuatku terdiam sesaat.

"Yeoboseo. Dimana si idiot doby, eehh ani. Chanyeol itu?"

"Ne. nuguseo?" Wanita itu malah kembali bertanya, membuat kekesalanku kembali mendesak keluar

"Aish.. Palli perikan teleponnya pada si berengsek itu.. atau ia..

"Ne! Hyung? Weo?" sebelum ku selesai menyelesaikan omonganku, Si idiot itu sudah terlebih dulu menyahut. Dari kejauhan Terdengar suara wanita itu yang mendengus dan mengomel tak jelas. Meski penasaran, namun aku tak ingin membahas hal itu dulu. Masih ada hal penting lainnya yang mendasariku membuat panggilan ini.

"Ya! Eodiseo? Cepatlah pulang. Kyungsoo.."

"Wae? Wae? Kyungsoo Wae?!" Aku mendengus kesal. Bagaimana tidak, omonganku kembali ia potong begitu saja. bahkan sepertinya ia sama sekali tak mendengar omonganku.

"Kemarilah cepat!" Aku berusaha bersikap tenang. Meski sebenarnya tubuhku gemetar ketakutan. Ku matikan sambungan telepon itu secara sepihak. Aku merangkul tubuh mungil Kyungsoo kembali dalam dekapanku. Aku menyanyikan sebuah lagu kesukaannya, meski dengan suara yang jauh dari kata bagus. Namun aku berharap semoga hal itu dapat menenangkannya. Aku mengelus surainya lembut. Mengelus dan membelai punggung sempitnya berusaha menenangkannya dan memberikan ia kenyamanan.

Guratan kesedihan masih nampak jelas di wajahnya. Alisnya berkerut samar tanda tak suka. Ia menendang nendang tak tentu arah. Bibir kissablenya ia gigit kuat kuat, menghasilkan cairan merah pekat yang keluar dari bibir itu. sesegera mungkin ku cium bibir itu, berusaha menghalangi niatannya untuk kembali menggigit keras bibirnya, hingga meninggalkan bekas luka.

Wajahnya semakin nampak ketakutan. Aku melepaskan ciumanku karena merasa ia tak menyukainya. meski sedikit merasa tak rela, namun aku melepaskannya juga. Aku Membisikkan kata-kata penenang di telinganya. Tubuhnya masih kaku. Teramat kaku malah. Suara jeritan tertahan terus terdengar. Erangan kesakitan bahkan mengalun lembut dari bibirnya, membuat hatiku perih terasa tersayat. Aku kesal! Sungguh kesal! Akan seseorang yang telah membuat wanita kesayanganku harus menderita seperti ini.

Aku terus membisikkan kata-kata penenang kepadanya "Gwenchana Sooiee.. Oppa yeogiseo.. Gwenchana.." hingga beberapa lama, akhirnya tubuhnya kembali tenang. Guratan ketakutan di wajahnya sudah tak lagi nampak. Tubuhnya kembali berbaring lemah. Deru nafasnya kembali teratur. Dan ia kembali tertidur nyenyak. Hal itu sontak membuatku dapat bernafas lega. Aku membawanya kedalam dekapanku. Ku dekap tubuh mungilnya erat-erat, berusaha memberikan sebuah rasa aman. Sebelah tangaku mengusap wajahnya. Mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.

"Sebegitu menderitanya kah kau Sooiee? Mian ne.. karena Oppa.." aku berbisik lirih pada sang malam. Berusaha menyampaikan rasa bersalahku. Aku menyesal. Sungguh! Karena ku, bunga yang selama ini ku jaga agar tak layu, malah melayu gegara orang lain. Aku mengeram kesal. Kim Jongin. akan ku balas perbuatanmu.

"Hyung!" Suara dobrakkan pintu dan teriakannya yang keras, menembus indra pendengaranku, membuatku terlonjak kaget. 'sialan si doby babbo!' ia melangkah mendekat ke arah kami dengan wajah yang nampak tak merasa bersalah. Ku lirik wajah damai Kyungsoo yang masih terlelap nyaman dalam dekapanku. Aku menghela nafas lega. 'Untung Kyungsoo tak bangun' pikirku.

Aku menatap adik lelaki ku yang sedang berjalan dengan gurat kekhawatirannya. Ku pandangi dirinya yang nampak sangat berantakkan. Rambut acak-acakan dan basah, baju kemeja yang tak di kancing dengan benar, celana yang kusut dan meski ruangan kamar ku meremang, namun aku masih mampu melihat ruam ruam yang berada di leher jenjangnya. Aku manatapnya tajam dan dingin. Namun ia malah melangkah acuh kearah kami yang sedang terbaring. Ia melepas sepatunya dan duduk di pinggiran kasur. Ia mengangkat kakinya ke atas kasur dan mulai berbaring sambil memeluk Tubuh Kyungsoo dari belakang.

"Lepas!" ucapnya dingin dengan nada suara yang kecil. Nampak sekali, ia tak ingin membuat adik kesayangan kami berdua itu bangun dari kenyamanannya. Aku hanya menatapnya datar seraya mengangkat sebelah alis mataku.

"Wae?" tanyaku datar. Ia mendengus sebelum menarik tubuh Kyungsoo mendekat ke arahnya, dan melepaskan secara paksa rangkulan tanganku di tubuh Kyungsoo. Hal itu sontak membuat Kyungsoo tertidur dengan posisi terlentang.

"Kyungsoo wae?" tanyanya sekali lagi. Aku hanya melihatnya yang sedang membelai lembut wajah Kyungsoo. Menatapnya dengan pandangan sendu, sambil sesekali mengecup wajah manis Kyungsoo.

"Mimpi buruk lagi." Jawabku singkat, seraya menjauhkan wajahnya yang hendak mencium pipi Kyungsoo.

"Berapa lama?" tanyanya lagi sambil menatapku fokus

"Entahlah.. 8 hingga 10 menit?"

"Lebih lama dari biasanya. Ada apa?"

"Mian.. Aku tak bisa menjaganya." Jawabku asal. Yah, memang bukan baru kali ini Kyungsoo mengalami mimpi buruk seperti ini. Ini memang sudah sering terjadi. Saat pertama kali terjadi, hanya berkisar 3 menit lamanya. Meski sebentar, namun itu mampu membuat jantung kami berhenti berpompa karena Khawatir. Kami pun mencoba membawa Kyungsoo ke dokter psikiater terbaik. Dan hasilnya, membuat kami semua tercengang luar biasa.

"Nona Kyungsoo sedang dalam kondisi yang kurang baik. Beliau mengidap sebuah trauma akut akan suatu tragedi. Hal tersebut akan berpengaruh buruk pada kondisinya. Karena Trauma ini membuat nona Kyungsoo terus merasakan tragedi itu secara berulang-ulang. Ibaratkan mimpi buruk yang terus terulang tanpa henti setiap saatnya"

"Apakah berbahaya?"

"Ya. Selama Nona Kyungsoo belum mampu untuk mengatasinya. Trauma yang di alami oleh Nona Kyungsoo cukuplah sulit. Karena otaknya terus menyimpan memory buruk itu di dalam ruang terdalamnya. Hingga suatu saat, memory itu akan berputar layaknya sebuah film. Bahkan bukan hanya membayangkan, namun Nona Kyungsoo juga seperti merasakan hal itu terjadi lagi kepada dirinya."

"Apakah ada solusinya?"

"Ajak ia berbicara tentang masalahnya, buat ia bercerita tentang tragedy buruk itu. buat ia merasa nyamann dan tak lagi takut akan hal itu."

Segala hal telah kami lakukan untuk membuatnya bercerita akan hal yang tengah mengganggunya selama ini. Bujuk rayu, hingga ancaman pun kami keluarkan. Namun naas, bibir itu tak kunjung berucap satu patah kata pun tentang masalahnya. Ia hanya akan tersenyum lemah, seraya berkata "Gwenchana Oppadeul.." dan perkataan itu mampu membuat kami terdiam mematung dengan palung hati yang teriris perih.

Aku teringat akan ia masa itu. ketika pertama kali kami menyadari kesayangan kami terluka. Kyungsoo Kerap kali melamun, sorot pandangannya kosong. Dan ia tak lagi seceria dulu. Bibir mungil itu kini jarang berucap. Hanya ketika di tanya saja, maka ia akan berucap dan tersenyum pedih.

Aku dan Chanyeol kala itu sempat frustasi karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Dan muncul lah Sehun. Teman masa kecil Kyungsoo yang sudah kami anggap sebagai adik kami sendiri. Ia berdiri di ambang pintu dengan ragu, dan sorot mata yang kosong. Dengan ekspresi sedih, ia berkata "Kyungsoo membenciku. Ia tak ingin menemui ku" dan air matanya pun turun membasahi wajahnya yang seputih es.

Aku menghelanya kedalam rangkulanku. Membawanya kedalam rasa nyaman. Chanyeol yang sedang terduduk lemas menatapi kami, hanya dapat menghela nafasnya berat. Aku menatap pintu kamar Kyungsoo yang tertutup rapat di lantai atas. 'Ada apa denganmu sayang?'

Di hari kemudiannya, sahabat baik Kyungsoo, Byun Baekhyun dan Xi Luhan, datang menjenguk Kyungsoo yang masih enggan tuk keluar kamar, bahkan hanya untuk memakan makanan yang telah kami siapkan.

Mereka berkata denganpenuh kehati-hatian. "Kami ingin menjenguk Kyungsoo. Dan menghiburnya. Berharap ia dapat kembali seperti sedia kala." Wanita dengan eyeliner itu berkata. Aku sempat merasa ragu sesaat. Darimana mereka mengetahuinya. Hingga keraguanku terjawab oleh senyum Sehun yang muncul di belakang mereka.

Hari-hari masih berlalu dengan ketidak pastian setelah kedatangan para sahabatnya –menurut Sehun-. Kyungsoo masih menjaga jarak kepada kami bertiga. Meski berita baiknya, Kyungsoo sudah mulai berani keluar kamarnya, menampakki dirinya yang semakin kurus dan lemah, serta sudah berani makan bersama kami seperti sedia kala. Meski dirinya masih enggan bercerita, dan masih enggan tuk kembali ke kampus.

Kecurigaan ku mulai timbul saat gurat matanya menampakkan kesakitan, ketakutan, dan keraguaan saat salah satu sahabat wanitanya yang keturunan china, berkata "Sooiee, Kim Jongin menitipkan salam padamu. Ia berkata bahwa ia merindukanmu." Mata Kyungsoo pun mulai tak fokus, wajahnya pucat pasi, dan ia pingsan di tempat saat itu juga.

Aku membawanya di kamarku. Menidurkannya di kasurku dengan tubuhku yang berbaring memeluk dirinya. Saat ia membuka mata, ia langsung terlonjak kaget, meronta dari pelukannku, melompat turun dan berteriak begitu kencang seraya menitikkan air matanya. Chanyeol terbangun langsung menuju kamarku. Dan Sehun yang sedang menginap pun berlalu terpogoh-pogoh, dengan selimut yang masih melilit sebelah kakinya.

Kami semua pada akhirnya menyaksikan Kyungsoo yang berubah menjadi sedemikian menderita. Ia meringkuk di pojokk kamarku seraya menekuk lututnya dan menelenggelamkan wajahnya di lutut. Dengan suara gemetar dan terus terisak ia berkata lirih dalam tangisannya "Keumanhae.. jebal.. keumanhae.."

Sehun yang pertama kali mencoba mendekatinya. Sehun berjalan dengan sangat pelan. Ia bergumam memanggil nama Kyungsoo berkali-kali. Namun, Kyungsoo seakan tuli. Ia sama sekali tak menyahut, seakan tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia masih saja terus mengucapkan kata-kata itu dengan begitu lirih. "Keumanhae.. jebal.. keumanhae.."

Chanyeool berdiri dengan tubuh yang gemetar. Ku tatap dirinya yang terdiam. Dan betapa aku tak menyangka saat kulihat dirinya menangis menatap sosok wanita kami yang kini semakin ringkih dan lemah dalam deritanya sendiri. Chanyeol perlahan maju dan mulai mendekati Kyungsoo. Di tariknya tubuh lemah itu kedalam pelukannya. Kyungsoo meronta-ronta dan menjerit. Ia menendang, memukul, dan terus menjerit.

"Andwae! Andwae!" dan betapa aku melemas melihat tingkah Kyungsoo yang seakan tak mengenal kami. ia ketakutan. Dan Chanyeol masih tetap memeluknya.

"Andwae! Andwae!Arghhh.. lepas! Lepas! Jangan Jongin! jangan! Hiks.."

Dan ketika Kyungsoo menjerit dan memanggil nama seseorang itu, aku merasakan suasana suram menyelimuti ruang kamarku. Ku lihat reaksi Sehun yang hanya duduk terdiam dengan wajah yang kaku. Tak jauh berbeda dengan Chanyeol yang kaku namun masih tetap memeluk tubuh Kyungsoo hingga, Kyungsoo melemah dan terlelap dalam tangisannya.

Ku rasakan darah di tubuhku mendidih hingga ke kepala. Aku menggeram dan terus mengingat nama itu 'Jongin' dan jantungku bertalu-talu cepat. Amarahku sudah sampai di ubun-ubun.

"Ingatkan aku untuk menanyai tentang Jongin kepadanya." Ucapku lirih kepada mereka berdua yang amsih terdiam kaku. Aku melangkahkan kaki ku menjauh dan meninggalkan ruangan kamarku. Aku kesal! Dan butuh pelampiasan.

.

.

.

.

TBC

Yeayy.. Update ^^

Terimakasih banyak kepada para pembaca yang telah memberikan responnya baik berupa riview, foll, dan favo-nya itu sangat membantu menyemangati saya.

Ini saya hadir dengan chapter baru. Yang semoga dapat membuat puas para reders. Saya sudah mencoba untuk Update faster, sesuai dengan permintaan para reders. Meski yah.. lumayan lelet juga. Itu karena halangan saya yang sudah mulai belajar di kampus, dan tugas yang yah lumayan berat

Saya mohon untuk di maklumi yahh :D

Dan terakhir, semoga para readers masih dapat mencurahkan kritik, saran, atau bahkan cuap-cuapnya di kolom Review. Terimakasih banyak..

Sampai jumpa di chapter berikutnya

Jangan lupa review okee?

Paii.. paii~ *deepbow