Title : Pure Love
Author : XiaLu BlackPearl
Genre : Thriller, Romance, Angst, Hurt/Comfort, GS for uke except Tao
Rating : T
Length : 1 Prologue + ? Chapter
Main Cast :
Kim Baekhyun (Just for this story)
Park Chanyeol
Other Cast :
EXO
Pairing : Mainly Chanbaek, Slight Hunhan/Yibaek/Chenmin/Kristao/Kaisoo/Sulay
Note : Disini para uke akan menjadi cewek kecuali Tao, biar ada shonen-ainya dikit : )
Author Note :
HELLOOOOO IT'S BEEN A WHILE, ISN'T IT? Halo, lama tidak bersua. Dan saya baru melanjutkan fanfic ini setelah saya anggurkan selama 2 tahun. Just wow. Maafkan saya karena selama ini tidak berkutat di fanfic melainkan roleplay hahaha. Dan saya memutuskan untuk kembali ke dunia fanfic karena saya rindu~~
Awalnya saya tidak akan melanjutkan fanfic Pure Love ini karena file doc yang berisi plot dari fanfic ini hilang! Padahal saya sudah buat detail-detail per chapternya. Dan tiba-tiba saja notebook saya ini mengalami masalah dan berakhir file saya semuanya hilang. Menyedihkan : (
Well, segitu aja dari saya. Semoga fanfic ini bisa dinikmati walaupun nantinya akan ada yang berbeda. Dan maaf saya tidak bisa balas review dulu hehe. ^^'
PLEASE ENJOY THE CHAPTER~!
Disclaimer : Plot is mine, EXO is owned by sment and its parent.
Summary :
Baekhyun, seorang yeoja yang memiliki kekuatan berupa kutukan bertemu dengan namja tinggi bernama Chanyeol. Seorang namja yang menurutnya sangat menyebalkan namun karena perhatian lembut dari Chanyeol lah ia merasakan arti dari Cinta dan Kasih sayang. Bagaimana kisahnya?
-o0O0oo0O0o-
*Baekhyun POV*
Keesokan harinya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Tampak normal layaknya siswa lain. Bersikap seolah hari kemarin tak pernah terjadi padaku. Dan dapat kurasakan banyak pasang mata yang menatap ke arahku. Entah itu merasa simpati, jijik, atau ketakutan. Hal itu sudah biasa bagiku, toh sedari dulu aku memang sudah diperlakukan demikian.
Setelah berjalan menyusuri lorong, akhirnya aku telah sampai di kelasku. Dan sontak saja semua murid yang awalnya tengah bercanda, berbicara di sana-sini terdiam melihat kedatanganku. Memandangiku seolah aku ini adalah seorang narapidana yang baru saja keluar dari singgasananya, maksudku penjara. Dasar payah. Dan salah satu dari mereka adalah orang itu. Ya, siapa lagi kalau bukan si pahlawan kesiangan juga kesialan, Park Chanyeol? Walaupun dia telah menolongku, namun tetap saja, aku membencinya. Terlebih setelah dia meremehkan kutukan milikku.
"…" tak ada satupun yang bicara. Dan aku sama sekali tak peduli. Yang kulakukan adalah menyimpan tasku di bangku, lalu berjalan keluar dari kelas. Meninggalkan kelas dalam keadaan sunyi senyap.
Tak ada yang menghujat, tak ada pula yang berani berbicara. Memangnya aku melakukan apa pada mereka? Dasar orang-orang payah. Seharusnya ku kutuk mereka mendapatkan kesialan karena telah membuatku jengkel.
Dug!
"Ow!" pekikku ketika sebuah bola basket menghantam kepalaku. Sialnya.
"E-eerrr m-maaf, maafkan aku!" seru seorang pemuda yang entah namanya siapa. Dia begitu ketakutan melihatku, itu semua terlihat dari raut wajahnya saat menghampiriku. Aku memelototinya dan hal itu semakin membuat si pemuda tersentak, lalu lari terbirit-birit menjauhiku. Dapat kurasakan beberapa pasang mata memandang ke arahku lalu kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Aku terdiam untuk sesaat sebelum mengendikkan bahuku acuh tak acuh. Kedua kakiku terus melangkah yang bahkan aku pun tak tahu kemana arah tujuanku. Aku hanya berjalan mengikuti insting. Setidaknya aku tidak menghabiskan waktu lowong ini di dalam kelas. Atmosfir di sana terasa tak menyenangkan, terlebih ada pemuda itu di sana.
"Apa kau berniat untuk bolos? Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," ucap seseorang tiba-tiba, menginterupsi waktu kesendirianku. Dan rasanya suara itu terasa familiar bagiku.
Aku pun segera membalikkan tubuhku dan mendapati pemuda jangkung itu di sana. Bersandar pada sebuah pohon rindang dengan kedua tangan diselipkan di saku celana. Ya, kami sedang berada di taman belakang sekolah.
Mendapati bahwa pemuda itulah yang berada di sana membuat emosiku naik. Entah kenapa melihat wajah pemuda itu yang terlihat tanpa ekspresi apapun membuatku kesal. Rasanya seperti pemuda itu meremehkan diriku—ah! Dia memang meremehkanku!
"Lalu apa urusannya denganmu? Itu terserah padaku mau membolos pelajaran atau tidak. Tak ada hubungannya denganmu," balasku sembari menatap tajam ke arah pemuda menyebalkan itu.
Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Hanya melangkah maju menjauhi pohon tersebut dengan kedua tangannya yang masih di saku. "Kau setidaknya harus patuh terhadap aturan sekolah karena aku sudah menolongmu." Kata-katanya membuatku teringat kembali hari itu dan jelas membuatku kesal. Cih, dasar menyebalkan!
"Ya ya ya, aku tahu kau itu memiliki kekuasaan yang lebih di sini. Dan aku sangat terbantu olehmu hari kemarin. Tapi bukan berarti kau bisa mengaturku," aku menatapnya sinis seraya berjalan meninggalkannya, hendak menuju kelas.
Selama perjalanan ke kelas dapat kurasakan banyak pasang mata yang memandangku tajam. Namun tak kuindahkan perlakuan mereka karena yang kuinginkan sekarang adalah cepat pulang!
"Baekhyun-ssi!" seru seseorang begitu aku duduk di bangku. Siapa lagi kalau bukan Yixing?
Aku hanya tersenyum tipis kearahnya sebagai respon. Dan selang beberapa detik kemudian bel masuk pun berbunyi. Pelajaran hari ini berjalan seperti biasanya. Membosankan. Hingga akhirnya mata pelajaran seni datang dan bagai bencana bagiku. Ya Tuhan!
"Jung Jaemi dan Song Yikyo. Zhang Yixing dan Kim Min Ah. Kim Baekhyun dan.. Park Chanyeol." Dan sontak saja seluruh pandangan siswa beralih padaku tak percaya. Aku bersikap cuek seolah tak ada hal aneh yang terjadi. Sempat kulirik pemuda itu yang tetap memasang wajah datar seolah tak tertarik. Tiba-tiba saja ia melirik ke arahku dan pandangan kami bertemu untuk sesaat.
"Aku akan memberikan kalian tugas mengaransemen musik dan juga membuat satu buah lagu ciptaan kalian sendiri. Deadline untuk partitur lagu dua minggu dan kalian tampil tiga minggu dari sekarang." Jelas wanita kepala empat itu sembari membetulkan letak kacamatanya.
"Sial..!" umpatku cukup pelan hingga tak begitu terdengar. Aku benar-benar tak mau ini terjadi, apalagi aku akan lebih sering menghabiskan waktu bersamanya.
Aku melempar arah pandangku keluar jendela, memandangi bangunan kelas dibanding bertemu pandang lagi dengan pemuda itu. Tak sudi!
Kebetulan pelajaran seni adalah pelajaran terakhir, sehingga ketika bel, itu menandakan sekolah hari ini telah berakhir. Aku pun bergegas memasukkan seluruh bukuku ke dalam tas dan hendak meninggalkan bangkuku kalau saja tak ada yang menghadang. Pemuda bertubuh jangkung dan memiliki paras yang tampan. Sayangnya aku tak tertarik.
"Apa maumu?" tanyaku to the point, tak mau berbasa-basi lagi.
Keadaan kelas menjadi hening dan terpusat pada kami berdua yang berada di sudut kanan bagian belakang ruangan. Seolah kami menjadi tontonan yang menarik bagi mereka. Payah.
"Aku paling tidak suka bekerja sama dengan seorang yang pemalas dan tak bertanggung jawab. Kuharap kau tidak akan merepotkan kunantinya," katanya dengan ekspresi wajah datar khas miliknya. Aku melotot mendengar pernyataannya seolah pemuda ini baru saja menyatakan perang denganku. Aku mengepalkan tanganku hingga buku-buku jariku memutih. Dan di saat aku hendak meresponnya, ia sudah lebih dulu berucap. "Besok kita akan mengerjakan tugas ini, tidak ada penolakan." Dan ia melenggang pergi.
Seluruh orang-orang di sana seperti terhipnotis oleh keadaan sehingga mereka masih terpaku di tempat, terkejut menurutku. Aku mengendikkan bahu acuh tak acuh lalu melenggang pergi sementara pikiranku melayang akan hari esok. Di mana kami akan mengerjakan tugas musik ini? Apa kami bisa bekerja sama dengan baik? Apa nantinya akan hancur? Aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat. Sial! Kenapa juga aku memikirkan hal itu!?
Sial! Aku sampai tak bisa tidur dengan nyenyak kemarin. Aku terlalu memikirkan tentang hari ini, lebih tepatnya memikirkan si pemuda jangkung. Aku tak habis pikir kenapa aku repot-repot memikirkan apa yang akan kami lakukan saat mengerjakan tugas. Ini semua benar-benar menggangguku hingga membuatku tak bisa berkonsentrasi belajar.
Aku mengetuk meja dengan pensil beberapa kali seperti orang frustasi. Lalu aku melirik sekilas ke arah pemuda itu yang tengah serius mendengarkan penjelasan guru literature bahasa inggris. Lalu aku beralih ke arah Yixing dan terkejut saat gadis itu menoleh padaku seraya tersenyum lebar. Astaga! Segera saja aku mengalihkan pandanganku ke buku catatan yang menganggur di atas mejaku. Berharap ini semua akan segera berakhir.
Waktu istirahat telah tiba, dan seperti biasa aku memilih untuk sendiri dibanding pergi ke kantin. Namun kali ini tujuanku berbeda, bukan lagi taman belakang, melainkan atap sekolah. Aku membawa kotak bekal milikku lalu bersandar di tembok atap sekolah dan menghabiskan bekalku.
Karena aku sendirian di atap sekolah ini, aku pun memutuskan untuk menyanyikan satu lagu favoritku. Judulnya yakni Open Arms. Dan aku pun mulai menyanyikan bait perbait dari lagunya.
"Lying beside you, here in the dark,
Feeling your heartbeat with mine,
Softly you whisper, you're so sincere,
How could our love be so blind,
We sailed on together, we drifted apart,
And here you are by my side,"
Aku memejamkan mataku, merasakan terpaan angin di wajahku. Lalu aku menarik napas panjang sebelum menyanyikan bagian reff.
"So now I come to you, with open arms,
Nothing to hide, believe what I say,
So here I am, with open arms,
Hoping you'll see what your love means to me, open arms,"
Kembali ku buka mataku dan memandangi langit biru cerah yang nampak indah di hadapanku. Tak ada awan yang terlihat dan itu jarang-jarang terjadi. Berdiam di atap sekolah terasa nyaman dan menyenangkan, benar-benar membuai. Namun aku tak boleh membolos, bukan karena ucapan si pemuda jangkung itu, namun karena aku merasa berdosa pada kakakku karena dia telah membiayai sekolah.
Aku pun menutup kotak bekalku seraya beranjak dari tempatku lalu berjalan ke arah pintu. Setelah menuruni beberapa anak tangga, akhirnya aku telah sampai di lantai dasar. Segera aku berjalan menuju kelasku lalu kembali belajar seperti biasanya.
Bel pulang telah berbunyi, dan itu berarti aku akan mengerjakan tugas seni musik dengan Park Chanyeol. Aku mendesah panjang sembari membereskan seluruh bukuku dan memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba saja Chanyeol datang ke arahku dan berkata dengan nada mengintimidasinya.
"Aku tunggu kau di tempat parkir, jangan lama." Aku merengut seperkian detik lalu mengangguk kecil, malas berdebat dengannya. Dan pula banyak pasang mata memandangku sengit.
Pemuda itu menghilang dari hadapanku setelah aku merespon ucapannya. Aku tak berkata apa-apa lagi dan hanya berjalan ke lemari untuk mengambil sapu di sana. Ya, kebetulan aku piket hari ini. Dan aku sengaja mengulur-ulur waktuku di sini.
Lima belas menit kemudian aku telah selesai melaksanakan piketku. Aku menyambar tasku lalu berjalan menuju parkiran. Dan dapat kulihat sebuah mobil sport hitam datang ke arahku dan jendelanya terbuka menampakkan wajah Chanyeol.
"Cepat naik," titahnya. "Kim Baekhyun."
Deg.
Dapat kurasakan detak jantungku memacu dengan cepat tatkala pemuda itu menyebut nama lengkapku. Namun segera kutepiskan perasaan itu dan tetap memasang wajah datar padanya. Aku pun membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Tak menatap ke arah Chanyeol sedikitpun.
Chanyeol pun memacu mobil sportnya membelah jalanan kota. Dan barulah aku sadar, aku tak tahu ke mana ia akan membawaku, ia tak mengatakan sebelumnya.
"Rumahku, kita akan mengerjakan tugas ini di rumahku." Katanya menjawab pertanyaan di benakku. Sial, apa ia sekarang bisa membaca pikiranku juga?
"Kenapa? Kau keberatan?" tanyanya tetap memasang wajah datar saat aku menoleh padanya. Kenapa ia bisa betah memasang raut itu di wajahnya? Seolah tak ada hal menarik yang bisa membuat dirinya tersenyum.
"Tidak masalah. Kau fokus saja menyetir, tak usah memikirkanku." Jawabku tak kalah datar.
Dan setelahnya tak ada percakapan lagi antara kami.
Butuh tiga puluh menit untuk sampai ke rumahnya dan itu sangat besar. Namun malah mengingatkanku dengan rumah orang tuaku yang sudah membuangku.
"Hei, kau akan diam di sana saja?" pertanyaannya menarikku dari lamunan. Dan aku pun segera turun dari mobil dan berdiri kikuk di sana. Merasa terintimidasi secara batin dan jasmani. "Ikuti aku."
Aku berjalan mengikuti Chanyeol dari belakang sembari mataku menjelajah ke seluruh ruangan megah di rumahnya. Dan dapat kulihat taman belakang dari balik kaca raksasa. Di tengah taman terdapat kolam pancuran yang terlihat indah.
Kami menaiki tangga yang melingkar, lalu tiba di lantai dua. Dan lagi kami menaiki tangga berbentuk melingkar itu lalu berhenti di lantai tiga. Chanyeol berjalan menuju sebuah pintu yang berada di sudut kanan, tampilannya agak berbeda dengan pintu lainnya.
Chanyeol pun membuka pintunya dan menampilkan sebuah ruangan yang dilapisi dinding busa berwarna merah. Dan ruangan ini adalah ruangan kedap suara. Sebuah studio musik! Terdapat sebuah stand mic, sound system, piano, gitar listrik, dsb. Dan bahkan ada ruangan yang dibatasi oleh kaca, ruangan khusus rekaman. Dan aku penasaran, apa Chanyeol memiliki sebuah grup band? Bahkan memikirkan ia bisa memainkan musik saja membuatku terperangah.
"Kau tunggulah dulu di sini, aku akan kembali." Ujarnya seraya meninggalkanku sendiri di ruangan ini. Dan aku gunakan kesempatan itu untuk menjelajahi seisi studio musik. Dan ini semua membuatku takjub, andaikan saja aku memiliki studio musik sendiri.
Tiba-tiba saja Chanyeol datang dan sudah berganti pakaian dengan kaus hitam berlengan pendek yang terdapat sebuah tulisan 'Life is music' berwarna putih di tengahnya. Ia juga mengenakan celana training berwarna abu-abu. Dan di tangannya terdapat sebuah nampan berisi dua gelas jus jeruk dan juga beberapa camilan. Ternyata ia bisa berbuat baik? Dan kembali aku teringat saat ia menyelamatkanku dari bully-an geng Luhan dan kawan-kawan. Ia bersikap baik namun setelahnya menyebalkan. Aku jadi curiga ia menaruh serbuk racun di minumanku.
"Aku tak menaruh racun pada minumanmu. Lagipula tak ada gunanya juga membunuhmu." Sebenarnya dia itu siapa sih? Bagaimana bisa ia membaca pikiranku dengan tepat! Namun aku jadi teringat bahwa aku akan membunuh pemuda ini, dan kebetulan aku memiliki serbuk racun di tasku.
"Tidak, aku justru ingin berterima kasih padamu." Aku tersenyum simpul. Dan dibalas dengan sebuah tatapan geli darinya. Sial! Aku ingin sekali merobek wajahnya!
"Ternyata dirimu bisa berterima kasih juga. Ku pikir kau itu adalah seorang yang angkuh." Ucapnya tenang.
Aku mengepalkan tanganku, bibirku merengut kesal sembari menatap sengit padanya. "Kau itu menyebalkan! Aku ingin sekali—"
"Cukup nona Kim. Simpan suaramu itu untuk bernyanyi nanti." Potongnya dan ia tersenyum simpul. Ia tetap tenang namun itu mengusikku.
"Maaf tuan Park, tampaknya aku tak bisa bernyanyi untuk tugas ini." Kataku enteng. Jujur saja, aku tak pernah bernyanyi di depan orang lain selain kakakku.
"Kenapa?" tanyanya seraya menyalakan piano kecil.
"Aku tak yakin kau akan bersedia mendengarkan suaraku, karena suaraku ini sangat buruk." Kataku sembari melipat kedua tangan di depan dada. Memperhatikan pemuda itu yang kini duduk di hadapan piano berukuran lebih kecil dari grand piano itu.
"Begitu?" tanyanya lagi masih terfokus dengan alat musik di hadapannya. Menekan tuts piano dan menghasilkan nada-nada indah. Oh, dia benar-benar ahli.
"Ya."
"Kau berniat membohongiku? Atau kau berniat menghancurkan tugas ini?" kini ia beralih menatapku dan jemarinya masih menekan tuts namun terasa tekanan pada nadanya meningkat.
Aku bungkam dan terjebak oleh tatapan matanya. Seolah mencari kebenaran lewat bola mataku. "Tidak. Aku tidak." Cicitku.
"Bohong. Setelah apa yang kau lakukan di atap sekolah pada saat istirahat siang." Ia kembali memainkan nada-nada indah yang kini tekanannya lebih lembut dari sebelumnya.
Aku awalnya tak mengerti dengan ucapannya tadi, namun tak lama kemudian barulah aku menyadarinya. Tunggu! Apa dia mengikuti diriku ke atap sekolah? Penguntit!
"Kau yang merebut tempatku, jangan dulu berprasangka buruk." Aku menelan ludahku dengan susah. Tak tahu harus bereaksi apa.
"Aku tak menyalahkanmu," katanya lagi. "Lebih baik sekarang kau memikirkan ide lagunya dan aku akan mengambil kertas partitur yang kosong dulu." Ia beranjak dan lagi meninggalkanku sendiri. Kesempatan yang baik!
Dengan terburu-buru aku meraih tasku lalu mengeluarkan serbuk racun dari dalam sana yang berada di dalam sebuah botol. Aku membeli ini saat aku berniat membunuh orangtuaku. Jadi aku tak tahu racun ini masih berfungsi atau tidak. Apa racun memiliki masa berakhirnya?
Setelah memastikan serbuk itu telah tercampur dengan jus jeruk milik Chanyeol, aku pun segera menyimpan botol racun itu kembali ke tas dan berpura-pura seperti tengah berpikir. Saat Chanyeol masuk ke dalam ruangan sembari membawa kertas partitur itu, entah mengapa rasanya tenggorokanku kering. Dan aku pun segera mengambil gelas berisi jus jeruk—yang tentunya tidak beracun—lalu meneguk isinya.
"Sudah mendapatkan ide?" matanya mendelik ke arahku. Dan aku menggeleng pelan.
Kulihat ia mendesah panjang sembari menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang berada di sudut ruangan. Dan aku baru sadar posisiku yang masih berdiri di dekat pintu. "Duduklah." Ia memintaku. Aku menurut dan duduk di kursi empuk berbentuk segi empat lalu terdiam di sana.
Kesunyian melanda kami, dan bahkan aku dapat mendengar deru napasku sendiri. Hingga akhirnya ia angkat bicara, memecah keheningan di antara kami.
"Apa kau tahu kisah the little mermaid?" tanyanya sembari melihat ke arahku.
Aku menggeleng pelan karena aku benar-benar tidak tahu. Aku bukanlah tipe orang yang gemar membaca. "Memangnya ada apa dengan kisah itu?" ku kembalikan pertanyaan itu padanya.
Pemuda itu meletakkan kertas partitur yang kosong ke atas meja kayu berbentuk persegi panjang lalu menjawab. "Itulah yang akan menjadi tema lagu kita. Makna kisahnya dalam dan itu bisa menjadi tema yang baik."
Oh, batinku. Aku menjadi penasaran dengan kisah the little mermaid ini. Bagaimana bisa kisah seorang atau seekor mermaid ini menjadi begitu dalam maknanya? Apa ada sesuatu yang menarik di dalamnya?
"Bisa kau beritahu tentang apa itu? Kalau kau tak keberatan itupun." Aku meminta. Berharap dia tak mencercaku dengan sebutan gadis yang merepotkan.
"Tentu, aku tak keberatan sama sekali," katanya, aku mendesah lega dalam benakku. "Kisah ini dimulai ketika seorang gadis mermaid di usia 15 tahunnya jatuh cinta pada seorang pangeran. Dan ia meminta penyihir laut untuk memberinya sepasang kaki, menggantikan suara indahnya."
Aku menyimak penjelasannya dan ikut terdiam saat pemuda itu berhenti sebentar. Ia kembali melanjutkan.
"Ia berpikir bahwa pangeran itu akan mencintainya dan menikahinya, namun ternyata salah. Pangeran itu ternyata menikahi putri raja dari kerajaan tetangga. Hal itu membuatnya patah hati." Aku meringis, cukup emosional. Ternyata ini tentang kisah cinta yang kandas.
"Dan suatu hari, saudari mermaid itu datang padanya sembari membawa sebuah pisau. Saudarinya berkata, gadis itu harus membunuh si pangeran dan darahnya dicipratkan ke kakinya agar ia bisa kembali menjadi mermaid. Dan ia harus melakukannya sebelum matahari terbit atau ia akan menjadi buih." Wow, tak terbayang betapa dilemanya ia.
"Dan malamnya gadis mermaid itu mendatangi sang pangeran yang tertidur. Ia sudah membawa pisau namun tak sanggup membunuh si pangeran. Hingga terbit sang fajar dan ia memutuskan untuk tidak membunuh si pangeran dan kembali ke lautan, dan menjadi buih-buih lautan."
Aku terdiam, Chanyeol pun turut diam. Lagi keheningan ini melanda, namun tak lama aku berdeham kecil. "Apa tidak bisa kita ubah bagian ketika si gadis mermaid akan membunuh si pangeran?" aku ragu-ragu bertanya.
"Maksudmu?" ia terlihat bingung, ya tidak begitu terlihat jelas.
"Maksudku, di saat si gadis mermaid akan membunuh pangeran di kala tidur, kita ubah alur ceritanya sedikit. Kita buat si pangeran terbangun dan ia meminta si gadis mermaid untuk membunuhnya. Lagu ini akan terasa lebih dramatis dan anggaplah lagu ini terinspirasi dari kisah aslinya." Aku segera membungkam mulutku setelah menyuarakan ideku. Kulihat ekspresi tak terbaca dari seorang Park Chanyeol dan itu malah membuatku semakin gugup.
"Ide yang cemerlang, Kim Baekhyun," Ia tersenyum lebar bahkan menampakkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Aku terpana dalam beberapa detik, ia terlihat memesona. Dan baru kali ini ia memberikan ekspresi seperti itu. "Lebih baik kita mulai merancang lirik lagunya sekarang."
Aku tergagap saat ia menyarankan untuk merancang lirik lagunya sekarang. Pesonanya benar-benar. Namun aku segera menggeleng dengan cepat saat memikirkan hal itu. Dan itu jelas membuat pemuda itu bertanya keheranan.
"Kenapa? Kau keberatan?" ia kembali ke ekspresi datarnya. Dan itu membuatku kembali sadar bahwa dia adalah targetku.
Aku menggeleng.
Chanyeol menautkan kedua alisnya, memandangku dengan tatapan yang terasa menusuk. Namun sedetik kemudian tatapan itu berubah menjadi tatapan teduh. Ia beranjak dari sofa dan mendudukkan diri di hadapan piano berukuran kecil itu. Lagi, ia memainkan nada-nada indah namun terdengar melankolis.
Dan aku baru sadar, ia sama sekali tidak menyentuh minumannya. Apa tenggorokannya tidak terasa kering setelah bercerita cukup panjang tadi? Lebih tepatnya mendongeng secara singkat.
"Kau tidak merasa haus?" aku bertanya padanya, namun tak berani menatap matanya langsung, melainkan memandangi gelas berisi jus jeruk yang sudah kuberi racun tadi.
Chanyeol tak menjawab dan kupikir ia tak mendengar pertanyaanku karena suaraku tadi cukup pelan. Mungkin saja tenggelam oleh bunyi dari tuts-tuts piano yang ia mainkan.
"Lebih baik menahan rasa haus dibanding mati keracunan," katanya tiba-tiba dan ia mengakhiri permainan pianonya dengan akhiran yang tajam. Kursi yang ia duduki berbentuk lingkaran dan dapat diputar ke arah manapun, ia memutarnya ke arahku. Bulu kudukku meremang dan aku tak tahu bahwa aku akan tertangkap basah olehnya. Tunggu, apa ia memang yakin aku membubuhi racun ke dalam minumannya? Saat aku hendak berkata, ia sudah lebih dulu menyela. "Aku tahu, kau begitu membenciku. Dan gelagatmu menunjukkan bahwa kau baru saja melakukan sesuatu yang buruk. Terlebih matamu yang tak terlepas dari gelas itu. Mau mengelak?"
Deg!
Aku ketakutan. Apa yang akan menghampiriku kali ini? Kesialan apa lagi yang akan menungguku? Tiap kali aku memikirkan Chanyeol mendapat kesialan, itu semua selalu berbalik padaku. Dan kali ini apa? Aku menggigil.
"Kau tak akan mati, menurutku. Dan pula aku tak menyalahkanmu, itu wajar," ia berkata dengan tenang seolah itu bukanlah hal yang serius dan itu berbeda denganku. "Ayo kita selesaikan ini."
Aku tetap diam, sementara Chanyeol mulai mencoret-coret sebuah kertas kosong dengan tulisan. Dan nampaknya ia sudah mendapatkan bait pertama namun aku belum mendapatkannya sama sekali.
"Kalau kau diam saja tugas ini tak akan pernah selesai," katanya seraya menggumamkan nada-nada yang mungkin akan ia pakai untuk bait pertama. Namun aku yang tak bereaksi apa-apa membuatnya terhenti dan menatap ke arahku. "Kim Baekhyun."
Aku terkesiap saat Chanyeol memanggil nama lengkapku. Aku pun mendongak ke arahnya dan menjawab panggilannya. "Maaf." Kata itulah yang malah terucap dari bibirku. Entah, mungkin aku benar-benar ketakutan hingga bersikap aneh seperti ini.
"Kau masih memikirkan hal itu?" ia kembali mengungkitnya. Tapi aku tak mau berkata jujur karena itu pasti akan terkesan berlebihan.
"Tidak. Aku kepikiran kakakku, ia akan khawatir karena aku tak kunjung pulang padahal hari sudah menjelang malam." Padahal jam masih menunjukkan pukul empat. Ada waktu dua jam sebelum petang datang.
Chanyeol melirik jam tangannya sekilas lalu kembali memandang ke arahku. Ia tak berkomentar apa-apa dan secara tiba-tiba mematikan pianonya lalu beranjak berdiri dari kursi. "Ayo kuantar."
Mataku membulat tak percaya, ia dengan mudahnya percaya? Padahal ia bisa meminta sekitar 30 menit untuk berlatih bait pertama padaku. Dan ia akan mengantarku?
"Kau serius?" rasanya aku ingin menjahit mulutku yang tak bisa menahan diri. Seharusnya aku berkata 'ya' atau 'oke' atau sekadar mengangguk.
Chanyeol merengut. "Apa aku terlihat tidak serius?"
Aku menggeleng cepat seraya beranjak dari tempatku duduk sembari memegangi tasku dengan kuat. "Lupakan."
Chanyeol memandangku dengan tatapan heran dan aneh. Namun ia tak merespon dan memilih untuk berjalan ke luar dari studio musik. Aku mengikutinya dari belakang hingga akhirnya kami telah sampai di halaman. Aku baru sadar rumahnya besar namun sepi sekali.
Pemuda jangkung itu masuk ke dalam mobil lalu mengendarainya ke arahku. "Naiklah." Titahnya. Rasanya seperti De Javu.
Aku menurut dan segera masuk ke dalam mobil, duduk di tempat yang sama seperti saat aku pergi tadi.
Tak ada yang berbicara selama perjalanan menuju rumahku. Tentu saja sebelum itu aku sudah memberitahu lokasinya. Dan pemuda itu tak bertanya apa-apa lagi padaku. Ia tampak fokus menyetir. Sementara pikiranku melayang entah ke mana dan tak sadar kalau kami sudah sampai.
"Ah terima kasih," ucapku tulus. Dan Chanyeol tersenyum tipis padaku. Aku balas tersenyum sebagai tanda terima kasih. Mungkin saja pemuda ini baik dan aku bisa membatalkan niat untuk membunuhnya. "Aku minta maaf untuk hari ini. Aku benar-benar menyesal." Aku menunduk merasa bersalah.
Dan dapat kurasakan sebuah tepukan lembut di kepalaku. Apa Chanyeol yang melakukannya? Mana mungkin..
"Tidak apa. Setidaknya kau mau untuk meminta maaf. Aku menghargainya." Ia berkata dengan nada lembut. Dan aku tak mengerti kenapa wajahku memanas setelah mendengarnya. Tidak, aku baru saja terpikat oleh pesona Park Chanyeol!
"Terima kasih." Kataku pelan sembari tersenyum kecil padanya. Ia membalasnya.
Canggung. Dapat kurasakan atmosfir di antara kami berubah canggung. Dan aku yang sadar akan hal itu segera saja turun dari mobil dan memberi salam padanya.
"Sampai jumpa besok Kim Baekhyun." Ucapnya.
"Sampai jumpa besok Park Chanyeol." Balasku.
Setelah bersalam sapa, Chanyeol pun memacu mobil sport hitamnya meninggalkan diriku di halaman rumahku. Entah mengapa senyum di wajahku enggan pergi dan wajahku kian memanas. Namun itu semua terhenti ketika ponselku bergetar cukup lama, tanda ada sebuah panggilan.
Aku pun buru-buru mengangkatnya dan ponselku lolos begitu saja dari tanganku setelah mendengar kabar buruk yang menimpaku.
Mataku memanas dan air mata meleleh. Tanganku perlahan mengepal dengan keras hingga buku-buku jariku memutih. Aku benar-benar marah sekarang dan tak dapat terhindarkan lagi. Ia harus mati, ia yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
Park Chanyeol.
Kau harus mati.
To Be Continued
"Bagaimana bisa Oppa berkata kalau Oppa baik-baik saja?! Ini cedera yang serius Oppa!"
"Hei gadis aneh, lihat saja nanti kau akan kami habisi karena telah berdekat-dekatan dengan Chanyeol kami!"
"Kau baik-baik saja Baekhyun?"
"Kau harus bertanggung jawab atas semua ini!"
"Bunuh saja aku kalau itu memang yang terbaik. Ini semua tergantung padamu, asal kau tak menyesal di kemudian hari."
