I Won't Left You
Genre: Romance, Adventure, Angst, Hurt/Comfort
Rated: T
Chapter 2: I Can't Believe This
Warning: OOC, Gaje, Romance alay, maklum masih amatiran ye. OCxKakashi, slight pairing KakashixRin
Disclaimer: Masashi Kishimoto own NARUTO and all the characters. I just own my OC and the story.
*Katsumi Uzumaki*
Aku menghadirinya, pemakaman orang itu. Awan hitam menyelimuti langit, menurunkan tetesan air yang tak kunjung berhenti. Langit pun bersedih, pikirku. Langit menangisi kematian dirinya. Pemakaman siapa sebenarnya ini? Mengapa semuanya terlihat sedih? Kakashi menunduk dalam-dalam dengan Minato-sensei dan Kushina-sensei, Rin menjerit dan menangis meraung-raung. Aku menghampirinya,
"Rin.. Rin.. Siapa yang kau tangisi?" Rin melihat ke arahku, rambutnya yang biasa tertata rapih sekarang tampak lusuh. Matanya berkaca-kaca saat menatapku, tidak ada lagi mata penuh keceriaan di dalamnya. Ia memelukku erat-erat sembari menangis. "Katsumi.. Katsumi! Aku tidak ingin ini terjadi! Seandainya saja.. Seandainya Kakashi dan 'Dia' tidak menyelamatkanku saat itu!" jerit Rin di dalam pelukanku. "Siapa 'Dia'? Siapa yang kau tangisi, Rin?" aku bertanya untuk kedua kalinya, dengan nada tidak sabar memenuhi suaraku.
"Obito.. Obito Uchiha. Obito sudah pergi, Katsumi" Obito? Kenapa? Perlahan aku melihat ke arah altar pemakaman. Terpampang jelas foto dirinya, ya, Obito Uchiha yang sedang tersenyum dengan google miliknya. Wajah itu terasa asing sekarang. Kurasakan pandanganku mulai buram, air mata memenuhi mataku. Tumpah dengan deras dan mengalir di kedua pipiku. "Bohong. Obito tidak mungkin pergi. Tidak.. Tidak! Aku tidak percaya ini." suaraku terdengar bergetar, aku melepaskan pelukan Rin yang saat ini melihatku dengan air mata masih berurai di wajahhnya.
Aku berjalan perlahan, ke arah altar itu. Di sebelah foto miliknya, terdapat dua buah vas bunga. "Tidak.. Aku tidak percaya ini. TIDAK!" Aku menjerit sekencang yang kubisa, menjambak rambut merahku dengan kedua tanganku seraya menutupi kedua telingaku. Kulihat foto dirinya sekali lagi, buram, air mata menutupi penglihatanku. Mengapa sekarang aku melihat langit? Dan, hei! Kenapa mataku terasa berat? Tanpa kusadari aku sudah tidak dapat melihat apapun dalam sekejap.
*Kakashi Hatake*
Gomen, hanya itu kata yang dapat kuucapkan. Aku, menorehkan luka besar di hatinya, Katsumi Uzumaki. Gomen. Karena diriku, Obito sudah pergi. Aku tidak menyangka, di hari pemakaman Obito. Aku melihatnya begitu lemah, tidak berdaya, juga hampa. Kekosongan di matanya terlihat dengan jelas. Tiba-tiba saja ia menjerit keras, sembari memegangi rambut merahnya dengan erat. Kulihat pegangan di rambutnya merenggang, kakinya yang gemetaran melemas, tubuhnya yang terlihat ringan itu tiba-tiba saja seperti terdorong ke belakang. Menuju tanah dengan rambut merahnya yang berkibar dan menjulurkan kedua tangannya ke depan seperti meminta pertolongan.
Aku berlari menghampirinya, secepat yang kubisa. Sebelum tubuh gadis bersurai merah itu terjatuh ke atas tanah, lelaki dengan rambut kuning dan jubah bertuliskan "Yondaime" sudah mendahuluiku, merangkul gadis itu dan mengangkatnya. "Sensei.." sahutku pelan, "Kamu telat, Kakashi." Kushina-sensei menghampirinya dan mengelus dahi Katsumi dengan wajah sendu. "Lebih baik kita membawanya pulang, oji-san dan oba-san pasti tidak ada di rumah." Kushina-sensei menyarankan,
"Kamu mau ikut Kakashi?" aku perlahan melihat ke arah Rin yang tampak shock, ia yang sedari tadi berada di dekatku segera menggenggam erat tanganku dengan kedua tangannya. "Aku.. Akan menemani Rin." Minato-sensei dan Kushina-sensei terlihat agak shock. "Baiklah, kami akan membawa pulang Katsumi. Hati-hati, Kakashi, Rin" sahut Minato-sensei sebelum pergi bersama Kushina-sensei. Aku mengangguk pelan, lalu melihat ke arah Rin, rambutnya tampak lusuh dan basah. Aku mengelus kepalanya pelan, ia melihat ke arahku, matanya terlihat sayu dan bengkak karena menangis terus menerus. "Rin, aku akan mengantarmu pulang." Rin mengangguk, dapat kurasakan kepalanya yang menempel di bahuku bergerak. Ia masih menggenggam tanganku dan menyembunyikan wajahnya di balik bahuku. "Ayo, kita jalan"
*Katsumi Uzumaki*
Aku tidak percaya. Setelah aku pingsan karena shock akibat kematian sahabat tercintaku yang selalu bertindak seperti kakak laki-laki bagiku, meninggal secara mendadak seperti ini, dan itu karena perang. Sekarang, lelaki yang kucintai sejak dulu, lebih memilih Rin daripada menjagaku yang pingsan? Jujur saja, aku shock kukira ia akan tetap bersamaku dan menemaniku.
"Sudah bangun kan, Katsumi?" suara Minato-sensei menganggetkanku, aku membuka mataku perlahan, dan melihat wajah Minato-sensei dan Kushina-sensei yang penuh pengertian mengelilingiku. Mataku mulai berkaca-kaca lagi, Minato-sensei menurunkanku, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. "Onii-chan sudah tau, lho. Dari tadi kamu sudah bangun kan. Sejak Kakashi.. Bilang begitu"
Mengingat semua kejadian tadi membuatku menangis lagi, "Aku.. Akan menemani Rin". Kata-kata yang di ucapkan lelaki bersurai keabuan itu. "Onee-chan, onii-chan, aku.. Aku tidak rela, Kakashi-kun selalu bilang, ia akan selalu mencintaiku dan menjagaku, melindungiku di tengah perang yang melanda ini.. Kenapa? Kenapa ia memilih menemani Rin?" Ya, aku selalu memanggil mereka berdua dengan sebutan onee dan onii disaat tidak ada siapa-siapa lagi selain kami bertiga.
Kushina-nee menepuk kepalaku, "Kakashi itu sedang bimbang," sahut Minato-nii. "ia merasa bersalah, ia menyalahkan dirinya sendiri. Kakashi mengira karena dirinya Obito pergi, dan bukan hanya itu. Kakashi tau Rin mencintai Obito dan kamu menyayanginya seperti seorang adik-kakak." Lanjut Minato-nii. Aku mengusap mataku yang penuh air mata, "Berarti, Kakashi memilih untuk menjaga Rin. Karena dia tau luka yang Rin rasakan lebih dalam kan?" Kushina-nee terlihat ragu untuk mengangguk walau akhirnya ia mengangguk juga, "Ya, Rin pasti sakit hati, seperti nee-chan, kalau Minato-nii pergi juga, nee-chan juga pasti akan merasa sangat sedih dan sakit hati karena ditinggalkan." Kushina-nee menjelaskan,
"Karena itu, onii-chan ngga berani mati duluan." dalam sekejap Minato-nii menjerit kesakitan karena Kushina-nee sudah memukul punggungnya dengan 'agak' kencang. Hehe, mereka berdua memang terkadang konyol. Mungkin hanya untuk menghibur diriku. Tapi onee-chan, onii-chan, apa kalian tau? Bagaimana rasanya disaat melihat orang yang kalian cintai, memilih untuk menjaga orang lain daripada dirimu yang disaat itu sedang rapuh. Aku sudah merasakannya, sakit. Sangat sakit.
*Kakashi Hatake*
Entah kenapa Rin sedari tadi tidak mau melepaskan tanganku, sampai akhirnya aku terpaksa menemaninya di rumah keluarga Nohara ini. Ia beralasan orang tuanya tidak ada di rumah dan ia tidak ingin sendirian disaat mengingat bahwa Obito sudah tiada. Tapi, aku merasa bersalah pada Katsumi. Tadinya sesudah mengantarkan Rin pulang aku ingin langsung menemui Katsumi, aku tidak tahan lagi melihatnya menanggung rasa sakit sampai seperti itu.
Apa hal yang kuperbuat saat ini malah membuatnya semakin sakit hati? Gomen, sekali lagi hanya itu yang dapat kukatakan. "Kakashi…" Suara Rin yang parau karena menangis terus menerus membuyarkan lamunanku. "Kenapa Katsumi seperti itu..? Mengapa ia bisa terlihat begitu sakit hati? Padahal.. Akulah pacarnya Obito." Begitukah, ternyata Rin merasa sakit hati juga melihat Katsumi seperti itu, "Katsumi, tidak punya adik maupun kakak, juga teman-teman yang mendukungnya, ia hanya punya kita, dan diantara kita. Selain aku, Obito sangat dekat dengannya, mereka berdua terlihat seperti adik kakak disaat bercanda dan saling melindungi." Ya, mungkin ini jawaban yang tepat. "Hehe, aku.. Sekarang aku merasa diriku sungguh hina, kenapa aku bisa-bisanya merasa iri melihatnya seperti itu? Mungkin jauh di dalam hatiku, aku merasa akulah yang seharusnya menangis dan mungkin pingsan seperti Katsumi."
Aku menepuk kepalanya dan mengelusnya perlahan. Menenangkan dirinya, ya, hanya untuk beberapa saat, seperti ini saja. Setelah itu aku akan pergi ke tempat Katsumi. "Kakashi, aku merasa bersalah pada Katsumi. Sekarang.. Seharusnya kamu menemani Katsumi hingga ia sadar." Ya, itu yang sebenarnya harus kulakukan, tapi bagaimana dengan janjiku pada Obito untuk menjagamu? "Kakashi, pergilah.. Aku ingin kamu sekarang menemani Katsumi. Aku sudah tidak apa-apa. Pergilah." ia menarikku pelan, membawaku ke depan pintu keluar.
"Benar tidak apa-apa?" Rin mengangguk. Dan tersenyum sedih, "Ya, sampai jumpa.." Aku mengangguk dan berbalik ingin membuka pintu keluar, tapi kurasakan badanku tertahan. Dua tangan milik Rin sedang memeluk badanku, kurasakan senderan kepalanya di punggungku. Baiklah, bagaimana aku bisa pergi sekarang dengan keadaan seperti ini? Katsumi pasti cemburu, melihat Rin memelukku seperti ini. Sekali lagi, gomen, Katsumi.
