I Won't Left You
Genre: Romance, Adventure, Angst, Hurt/Comfort
Rated: T
Chapter 3: 'Rin Nohara'
Warning: OOC, Gaje, Romance alay, maklum masih amatiran ye. OCxKakashi, slight pairing KakashixRin
Disclaimer: Masashi Kishimoto own NARUTO and all the characters. I just own my OC and the story.
*Rin Nohara*
Jujur saja, selama ini, aku menyukai Kakashi. Tentu saja sebelum gadis bersurai merah yang asing itu datang ke desa ini. Surai merahnya itu, selalu mengingatkanku pada istri Minato-sensei. Alias, Kushina-sensei kunoichi hebat yang berasal dari klan Uzumaki. Aku mengagumi beliau selama ini, begitu aku mengetahui bahwa gadis bersurai merah itu sepupu dari Kushina-sensei, aku kira dia akan menjadi seorang kunoichi yang hebat.
Tapi aku kecewa, kemampuannya bahkan di bawah rata-rata, aku heran kenapa ia bisa menjadi chuunin saat umur 8 tahun? Aku menjadi kesal padanya, apalagi ia ternyata menyukai Kakashi! Aku kesal sekali. Namun, lama kelamaan rasa kesal itu berubah menjadi rasa iri dan.. Senang? Entah kenapa aku merasa senang, aku merasa iri sekaligus ingin sekali berteman padanya.
Walaupun aku awalnya kesal dan kecewa padanya, ternyata ia sebenarnya jauh melebihi ekspetasiku, chakra miliknya, kental, kuat, namun indah. Ia tidak ingin mencurahkan semua chakranya untuk pertarungan, ia lebih memilih menggunakannya untuk mengobati orang-orang yang terluka karena perang.
Pernah sekali waktu, ia terpaksa menggunakan chakranya untuk berperang. Aku ingat sekali, aku begitu ketakutan namun aku merasa dapat membiarkan dirinya melindungiku juga yang lainnya.
o0o
Saat itu, peperangan sedang pecah. Konoha terpaksa mengerahkan kami yang saat itu baru lulus chuunin untuk maju berperang. Tim Minato dan Tim Kushina berada di garis depan. Suasana sangat kacau saat itu, aku dan Katsumi berusaha keras mengobati teman-teman kami, semua ninja Konoha yang terluka, aku merasa lelah, sangat lelah.
Aku melirik Katsumi, ia terlihat.. Mengerikan, ia seperti berusaha mengerahkan semua chakra-nya untuk mengobati orang yang terbaring lemas di hadapannya itu, keringat mengucur deras dari badannya. "Katsumi, istirahatlah dulu, aku bisa membantumu kok" sahutku akhirnya tidak tega lagi melihat dirinya yang terlihat begitu kecapaian. Ia menggeleng sembari mengusap keringat yang mengucur di pelipisnya.
"Aku baik-baik saja, lebih baik kau fokus pada orang di hadapanmu yang terluka saat ini.." ia membalas perkataanku tanpa memalingkan wajahnya dari pasien di depannya. Aku mengangguk dan segera mengobati pasien di depanku lagi.
Sekitar 2 hingga 3 jam kemudian, kami semua beristirahat. Katsumi terlihat paling kelelahan diantara yang lainnya. Ia hanya berbaring di dalam camp bersama denganku dan ninja medis lainnya, wajahnya terlihat pucat, rambut merahnya terkena bercak-bercak tanah entah lumpur juga debu.
"Bahaya! Para ninja medis segera mengungsi ke camp barat! Musuh semakin mendekat kemari! Cepat! Ninja dari tim Minato dan tim Kushina sedang menghadang musuh!" Teriak seorang ninja dari luar camp, astaga. Apakah Obito dan Kakashi baik-baik saja?
"Oi, Katsumi! Kamu mau kemana?!" teriakan itu menyadarkanku, aku melihat ke arah Katsumi dan ia sudah berlari keluar camp, aku mengejarnya dan menemukan ia tidak pergi ke arah camp barat. Melainkan, ia pergi ke tempat Obito dan Kakashi berada. Aku segera mengejarnya, ia berlari tanpa henti, "Katsumi! Tunggu aku!" Aku berteriak, lelah sekali rasanya
Padahal ia terlihat lebih lelah dariku, Ia menengok ke arahku tanpa berhenti berlari, "Cepatlah! Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Kakashi?!" Ia membentakku kesal, astaga. Ternyata ia mengkhawatirkan Kakashi, rasa khawatir yang terpancar dari wajahnya, terasa jauh lebih besar daripada rasa khawatirku pada Kakashi. Kesal, tapi.. Mungkin memang perasaan yang dimilikinya untuk Kakashi, jauh lebih dalam dan indah daripada milikku.
Sakit. Kesal. Tapi, aku salut dengannya. Ia lebih mementingkan Kakashi daripada dirinya sendiri yang seakan-akan bisa tumbang kapan saja. Aku segera mendekatinya dan berlari di sampingnya. Dari kejauhan aku dapat melihat, astaga! Obito?! Aku segera mendekati Obito bersama dengan Katsumi, ia terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya. Dengan sigap aku dan Katsumi segera mengobatinya.
Namun, kejadian itu terjadi. Tiba-tiba saja Katsumi berhenti mengobati Obito, badannya seperti terpaku, matanya menatap kosong pemandangan di hadapannya, ia menatap jauh ke depan, tubuhnya bergetar kencang. Aku melihat ke arah pandangannya, terlihat Kakashi, tergeletak lemah dengan kunai yang menancap di perutnya, darah membasahi bajunya. Seorang lelaki dengan wajah mengerikan, badan besar seperti beruang, dengan pedang besar di tangannya dan chakra terasa jelas mengalir ke pedang itu. Hanya dengan melihatnya dari jauh saja, bulu kudukku berdiri semua.
Aku melirik ke arah Katsumi, astaga! Tidak ada lagi wajah pucat gadis itu yang seakan-akan dapat tumbang kapan saja, semua itu sudah berganti dengan wajahnya yang penuh amarah. Kurasakan chakra miliknya menguar keluar dari dalam tubuhnya, chakra yang indah, kuat, kental, namun dingin, mengibarkan surai merahnya. Ia berjalan perlahan di depan ku dan Obito.
Obito yang setengah sadar mencoba bangun sembari berpegangan padaku, "Katsumi.. Jangan.." suara Obito yang biasa ceria terdengar lemah dan khawatir, perlahan Katsumi melihat ke arah kami berdua tanpa menghentikan chakranya yang merebak semakin kuat, tatapan matanya yang tajam dan penuh amarah, berubah lembut saat menatap kami. Bibirnya menampakan senyum tulus yang terlihat menyedihkan, kemudian ia segera berbalik dan menatap nyalang pada sang musuh.
Katsumi membentuk beberapa segel sembari berbisik "Buka segel ke 7", kemudian chakra milik Katsumi, berubah setajam mata pedang, ia berlari kencang, ke arah lelaki yang sedang mengayunkan pedang besarnya pada Kakashi yang tak berdaya. Astaga! Dalam sekejap dengan chakra miliknya, Katsumi menangkis pedang besar itu. Tanpa takut ia menghadang musuh yang besarnya 3x lipat badannya.
Katsumi terus menahan pedang musuh itu, dengan wajah kesal lelaki itu segera mencabut pedang lainnya yang lebih kecil dan mengalirkan chakranya ke dalam pedang itu, dengan cepat ia mencoba menusukannya pada Katsumi. "Awas, Katsumi!" jeritku menyaksikan salah seorang kunoichi kecil ditusuk oleh ninja dari negara lain. Aku menutup mata dengan ketakutan.
Trang!
Saat membuka mata, pedang yang hampir menusuk Katsumi sudah menancap di tanah jauh dari mereka. Dengan gerakan cepat Katsumi melepaskan pertahanannya dari pedang besar itu, ia segera merangkul Kakashi dan menghindar dari ayunan pedang besar yang membabi buta itu.
Slash!
Astaga! Katsumi tertebas! Tanpa menghiraukan tebasan di punggungnya ia segera membawa Kakashi ke arah kami, kulihat peluh mengucur deras dari tubuhnya. Ia meletakan Kakashi di sampingku. "Rin, tolong jaga mereka ya.." Ia tersenyum lembut sembari mengatakan itu, sebelum aku sempat membalas ia sudah berbalik dan berlari ke arah musuh tadi.
Aku terpesona dengan punggung gadis itu, gadis kecil yang bahkan umurnya 1 tahun di bawahku, tetapi ia, melindungi kami bertiga, menjaga kami juga mengobati kami, tanpa mengindahkan luka sayatan di punggungnya.
Katsumi menyerang ke arah kaki musuh itu dengan kunai yang ia aliri chakra, musuh itu menjerit dan jatuh berlutut, namun dengan sigap ia mengeluarkan kunai dan membalas serangan Katsumi. Menyayat beberapa helai rambut indahnya, walaupun Katsumi sudah berusaha menghindar. Katsumi melompat ke belakang tak begitu jauh darinya namun cukup menjaga jarak. Lelaki itu kembali bangun, merenggangkan badannya dan tersenyum menghina ke arah Katsumi. Ia menarik pedang besarnya yang tertancap di tanah, Katsumi mempersiapkan kuda-kudanya, lelaki itu menyerang secara membabi buta ke arah Katsumi mengayunkan pedangnya ke arah kepala Katsumi, tanpa basa basi ia seperti ingin segera membunuhnya. Katsumi menghindarinya, tanpa basa basi juga ia segera menendang belakang lutut orang itu, sembari menghindar ke samping kiri orang itu.
Karena tendangan Katsumi, orang itu jatuh terduduk untuk kedua kalinya, ia mencoba untuk bangun kedua kalinya, namun terlambat. Katsumi sudah menendang pipinya kencang, walau kesakitan lelaki itu segera memukul perut Katsumi, sehingga ia terpelanting dan jatuh. Lelaki besar itu segera bangun dan menghampiri Katsumi sembari memegang kunai.
Katsumi terlihat setengah sadar, astaga, bagaimana ini, tidak.. Jangan bunuh Katsumi! Tiba-tiba saja, Kakashi yang sedari tadi terbaring lemas bangun dan segera melempar kunai ke arah lelaki besar itu dan menancap di bahunya. "Kakashi!" sahutku sembari berdiri dan menahan tubuh Kakashi yang mulai terjatuh. Lelaki besar itu menengok ke arah kami, uh-oh, mengerikan sekali! "Berani-beraninya! Dengan tubuh lemah seperti itu, apa yang bisa kau lakukan, hah?! Bocah!" Lelaki itu berlari mengambil pedang besarnya dan berlari ke arah kami, ia segera mengayunkan pedangnya tepat di depan kami bertiga! "Mati kalian!" Teriak lelaki besar itu lagi. "Tidakkkkkk!" jeritku sekencang mungkin.
Jduar!
Terdengar ledakan dari arah Katsumi terjatuh tadi, perlahan aku membuka mata. Pemandangan yang kulihat adalah, mayat lelaki besar tadi dengan darah membasahi Katsumi, kulihat chakra Katsumi melindungi kami dari hujan darah yang disebabkan olehnya, apakah, chakra Katsumi yang meledakan lelaki besar tadi? Bagaimana bisa, ia dapat mengeluarkan dan mengendalikan chakra sekuat itu? Chakra yang melindungi kami memudar dan perlahan menghilang, aku segera meletakkan Kakashi yang masih pingsan di samping Obito yang sudah sadar namun tidak dapat bangun karena luka yang di dapatkannya.
Aku segera berdiri dan berlari menghampiri Katsumi yang hanya menatap mayat lelaki tadi dengan sedih, wajahnya kembali pucat, terlihat tubuhnya semakin melemah. "Katsumi!" sahutku, saat aku menghampirinya ia hampir terjatuh, untung aku segera menahannya. Aku menopangnya dan berjalan ke arah Obito dan Kakashi. Katsumi memaksa untuk melepaskan peganganku padanya, ia terjatuh dan segera mengelus pipi Kakashi yang masih tak sadarkan diri, "Kakashi.. Syukurlah, ia baik-baik saja.." Katsumi menangis sendu. Entahlah, aku tidak merasa cemburu, melainkan, senang? Juga terharu.
Selanjutnya, aku hanya mengingat Minato-sensei dan Kushina-sensei menemukan kami dan membawa kami ke kamp ninja medis. Kami semua di rawat disana, tapi anehnya, hanya Katsumi yang ditempatkan di tenda khusus. Kushina-sensei sendirilah yang menjaganya.
Saat itu aku ingin sekali menjenguk Katsumi, namun disaat aku mau membuka pintu tenda itu, kudengar suara Kushina-sensei yang sedang memarahi Katsumi, "Katsumi! Aku sudah bilang kan? Segel itu tidak pernah boleh kau buka!" Segel? Segel apa yang mereka maksud? "Jadi, maksud nee-chan aku harus membiarkan teman-temanku mati begitu saja di hadapanku?" lirih Katsumi, "Bukan begitu, nee-chan khawatir, tubuhmu belum cukup kuat untuk menahan efek dari semua chakra yang kau keluarkan." Kushina-sensei mengelus surai Katsumi lembut. Segel? Chakra? Apa yang mereka bicarakan? "Baiklah, nee-chan pergi dulu ya." astaga! Aku harus sembunyi!
"Rin.." uh-oh sepertinya aku terlambat, "O-ohh, hai, sensei! Aku baru mau menjenguk Katsumi" sahutku canggung, "Aku tau kok, sedari tadi kamu ada diluar kan?" tanyanya, aduh, ketahuan deh. "Yah, ketahuan, iya.. Memang benar, ehem, apa sih yang kalian bicarakan di dalam, sensei?" tanyaku pada Kushina-sensei, ia tersenyum lembut, lalu menarikku menjauh dari tenda milik Katsumi dan pergi ke tenda miliknya. Kami berdua duduk di atas kasur putih tempat biasa ia tidur.
"Rin, kulihat kalian dekat sekali, yah walaupun terlihat seperti saingan juga sih. Karena kamu satu-satunya teman perempuan pertamanya Katsumi, mau kan kamu mendengarkan ini semua?" Aku mengangguk mantap, "Baiklah, tapi sensei minta kamu jangan kasih tau pada siapa-siapa, karena semua ini dapat membahayakan Katsumi.. Semuanya berasal dari chakra yang dimiliki orang tua Katsumi, keduanya memiliki chakra Klan Uzumaki yang begitu kental, kuat, namun berbahaya, bisa membahayakan diri mereka sendiri juga orang lain. Tapi, karena Katsumi masih terlalu muda, ia belum bisa mengendalikan chakra miliknya sendiri. Makanya, dengan segel dari klan Uzumaki, kami menerapkan 7 segel pintu chakra yang bisa di buka olehnya. Kami tidak mengizinkannya untuk membuka satupun pintu segel tersebut, alasannya sederhana," Kushina-sensei menghembuskan nafas pelan, " jika ia membuka seluruh segel itu, badannya tidak akan kuat dan dalam sekejap ia akan meninggal. Tapi, ia rela mati untuk kalian, kemarin ia membuka pintu segel ke 7, pintu paling awal, namun cukup dengan itu saja, hingga sekarang ia tidak bisa bergerak sedikitpun."
Astaga.. Aku tidak menyangka sama sekali, "Oh, iya, lalu kenapa disaat ia mengobati para ninja yang terluka ia terlihat paling kelelahan?" Aku penasaran sekali dengan yang satu ini, "Ohh, soal itu. Katsumi masih kesusahan untuk mengontrol chakra miliknya, karena bisa terlalu tajam dan malah merusak sel-sel di dalam tubuh orang yang dia obati, selain itu ia tidak bisa memakai semua chakranya kan, ada chakra yang tidak kami segel, itu untuk dia pakai selama ini. Tapi terkadang ia masih kesusahan untuk mengambil chakra itu, dan mungkin memisahkan chakra yang disegel dengan chakra yang biasa iya gunakan itu memang sulit dan melelahkan."Aku jadi merasa kasihan padanya sekarang.
"Baiklah, aku akan pergi menjenguk Obito dan Kakashi dulu, terimakasih sudah menceritakannya padaku, sensei" Aku berjalan keluar dari tenda milik Kushina-sensei, ternyata begitu ya. Katsumi, aku sepertinya menyesal sudah sirik dan kesal padanya.
o0o
Mungkin karena kejadian itu, aku akhirnya mengalah pada Katsumi, tapi mungkin sejak awal aku sudah tau kok, Kakashi tidak mungkin menyukaiku, pasti ia lebih menyukai gadis seperti Katsumi, ya. Karena itu, sekarang aku harus melepaskannya dan membiarkannya pergi menemani Katsumi. Aku melepaskan pelukanku padanya, "Kakashi, maaf, pergilah sekarang." kataku padanya, ia terlihat ingin segera pergi namun enggan meninggalkanku dengan tampang mengerikan karena habis menangis, "Ayolah, pergilah sekarang dan temani dia, sampaikan salam dariku ya.." kataku sambil mendorong pelan Kakashi keluar pintu rumahku, aku melambaikan tanganku lalu segera menutup pintu.
Memaksakan kakiku untuk berjalan ke kamarku, menjatuhkan diriku di atas tempat tidurku yang nyaman. Dan memeluk kedua lututku sembari menangis, "Obito, aishiterru.."
Review's answer:
Shiryuseo Walker: Biar rame nat nyehehe biar nge feel, kan kan kan masih prolog? Sepertinya sih.. masiiii panjaaaaaang banget ini cerita keknya :' thx for review!
Guest: Wih itu udah pastiii, dan Katsumi pasti akan tambah sakit hati :'( kasian dia.. Ya sudahlah sudah nasibnya dia menjadi OC ku banyak sakit hatinya #plakkk thx for reviews!
