Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warning : Typo, Alur kecepatan, gaje, abal, OOC dan sebagainya.

.

.

.

Aku akan merubah sifat suram dari seorang center tim basket Teikou, Murasakibara Atsushi!

.

.

Aku akan merubah Murasakibara-kun.

Kata-kata itu terus terngiang dikepalaku, sebegitukah aku menginginkannya untuk berubah?

Aku melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Saat mengintip sedikit, aku melihat Ama yang sedang tersenyum kearahku sambil bersandar ke tembok dekat gerbang itu. Aku menghampirinya.

"Ah, Ouka-chan. Ohayou." Aku tersenyum kecil kearahnya sambil memegang erat tasku. Ama—yang sedari tadi menungguku sambil membaca sebuah novel kecil membalasku dengan senyuman. "Ohayou. Ayo kita kekelas."

Ditutupnya buku novel yang tadi ia baca, lalu ia memasukkannya ditas. Ditariknya pergelangan tanganku dengan buru-buru sambil berjalan dengan cepat. Ia celingak-celinguk entah mengapa—seolah-olah ada seseorang yang mengintainya. Aku yang mengikutinya dari belakang merasa terganggu dengan tempo jalan Ama yang cepat mendadak. "Ama, jangan terlalu cepat!"

Gadis yang berada dihadapanku hanya tersenyum—tidak, lebih mirip seperti nyengir kearahku tanpa membalas satu patah kata pun dariku. Oke, aku mulai kesal. Jangan sampai diriku naik darah karena ini.

Ama tiba-tiba memperlambatkan langkahnya. "Tadi aku merasa seseorang mengikutimu." Bisiknya ketika kita berada di lorong yang cukup sunyi. Tempo jalannya kini tak terlalu cepat—bisa dibilang sedang. Aku menghela napas lega ketika jalannya mulai melambat. "Seseorang mengikutiku—bagaimana bisa?" aku menatap bingung kearah gadis dihadapanku, sedangkan gadis itu hanya meghembuskan nafasnya. "Dengarkan langkah-langkahku, langkahmu dan langkah dia."

Langkah Ama? Langkahku? Langkah dia? Dia sapa?

Aku mulai mempertajam pendengaranku pada langkah kakiku dan langka kaki gadis didepanku. Ku berusaha untuk menyamakan langahku dengan miliknya. Dan saat itu aku merasa—

Memang ada yang mengikutiku. Ada yang menatapku tajam dari kejauhan, dan itu membuatku merinding. Mengapa aku tak menyadarinya dari tadi? Seharusnya aku sudah menyadarinya karena instingku—ehem bisa dibilang sangat tajam. Beruntunglah ada Ama yang berada disisiku.

"Ah, kau benar." Jawabku. Setelah beberapa menit dari lorong itu—Ama berhenti mendadak.

"Dia sudah berhenti mengikutimu.. yokatta." Ama menghela napas, lalu membalikkan badannya. "Ayo ke kelas!" ajak Ama sambil berjalan menuju kelas, sedangkan aku hanya mengikutinya dari belakang.

"Oh ya, Chikarashi. Kau ada jadwal sabtu besok?" Ama melirikku sesaat. Sabtu.. itu harinya—

"Ada." Jawabku sambil memegang erat tasku yang sedari tadi aku masih bawa. Ama menghela napas, "baiklah, lain kali." Sahutnya sambil berjalan melewati koridor-koridor yang panjang. "Kau.. akan merubah sifat dari Murasaki-kun sabtu besok.. benar?"

DEG.

"Hum? Darimana kau mengetahuinya, Ouka?" tanyaku polos. Sebenarnya—di polos polosin sih, biar nutupin ekspresi-kaget-sama-malu-yang-gatau-deh-jadinya-kayak-gimana. "Hahaha. Ternyata benar! Aku akan membantumu~!" Ama tersenyum manis kearahku.

.

.

.

Aku yang merencanakan—untuk mengubah sifat Murasakibara.

Tetapi—apakah aku terlalu awal untuk mengubahnya..

Atau terlalu lama untuk mengubahnya?

Oke, mengapa perasaan ini begitu berdegup kencang.. seaakan-akan ini sebuah kencan atau semacamnya! Padahal aku belom menanyakannya!

Ayolah, kau harus berani, Rii Chikarashi! Aku yakin kau bisa!

"Eh, Rii-chin? Apa yang kau lakukan disini?"

Oh tuhan. Monster gigantik itu muncul pada saat aku memikirkan nya.

"Ah, aku tak melakukan apa-apa! Kalau Murasakibara-kun?"

Ini saatnya yang tepat untuk mengajaknya.. tapi aku belom berani!

"Tanpa alasan ne.. hanya untuk membeli beberapa snack, Rii-chin."

Ayolah, ucapkan kata-kata itu!

"Benarkah Murasakibara-kun? Jenis snack apa yang kau suka?"

Mengapa aku gugup sekali..

"Maiubo.."

Tuhan. Tolong aku.

"Ah, maiubo ya? Aku juga suka!"

Oke, saatnya untuk memberanikan diri..

"Murasakibara-kun, bagaimana kalau kau ikut bersamaku? Aku akan menemanimu jalan-jalan mencari makanan di suatu festival! Mau?"

Dan yak.. aku berhasil mengatakannya.

"Eh.. makanan? Boleh, Rii-chin.. kapan..?"

Sudah kuduga, pikirannya hanya makanan.

"Sabtu besok, jam enam sore.. oke?"

Serius.. ini realita kan? Aku tak berada di mimpi kan?

"Baiklah Rii-chin…"

Murasakibara melangkahkan kakinya menuju gerbang, dan menuju supermarket dengan santainya sambil memakan snack maiubo nya yang tinggal satu. Aku menghela napas. "Yesshu!" teriakku dalam hati.

Aku berhasil!

.

.

.

Aku merapikan penampilanku di hadapan cermin. Dirapikan rambutku yang kugerai dengan memakai jepit rambut untuk menghilangkan poniku yang menghalangi mataku. Dress ungu yang dibalut dengan jaket berwarna putih dengan motif bunga-bunga di pinggirannya, tas kecil berwarna putih, dan jepit rambut berwarna putih sebagai finishing touch. Kanpeki!

Ah, aku terlalu banyak merapikan penampilanku.. sehingga aku melupakan waktu. Kulihat handphone merahku yang telah berbunyi berkali-kali , segera ku ambil handphone ku, dan mengecek apa yang kuterima.

From : Murasakibara

Ne.. Rii-chin tak lupa sama perjanjian kita, ne? Aku sudah kelaparan..Rii-chin..

Aku tertawa geli melihat pesan itu. Ahaha.. aku sudah tidak sabar! Aku segera membalas pesan itu, lalu meninggalkan apartemenku. Kulihat dari jauh, sudah tampak terlihat Murasakibara yang sudah bosan menunggu.

"Hahaha. Gomen Murasakibara-kun!" kataku sambil terkekeh geli. Murasakibara, yang sudah berpenampilan kaos berwarna hitam yang berlengan panjang dengan warna ungu sebagai dalamannya dan celana putih panjang yang cukup—ergh, tinggi itu hanya menatapku ketawa. Dia.. emotionless.. tidak—bukan emotionless.. pikiran nya hanya makanan. Selain makanan, ia tidak tertarik pada apapun.. benar?

"Jangan menertawakan aku Rii-chin.. aku sudah lapar.." katanya sambil membuka satu bungkus makanan favoritnya, maiubo. Aku tertawa kecil. "Baiklah. Tapi kali ini .. bukan maiubo, tak apa? Tenang saja aku akan mentraktirmu."

"He..? bukan Maiubo..? baiklah, tak apa…" jawabnya pelan sambil mengunyah makanannya. Entah berapa kali—aku ingin tertawa melihat kepolosannya.

"Yaudah, ayo. Ikuti aku." Aku tersenyum kecil mengarahnya, lalu berjalan mendahuluinya menuju suatu tempat, yaitu sebuah festival dekat situ. Aku dengar banyak makanan disana. Aku tak bisa menunggu..~!

.

.

.

"Selamat datang di festival!"

Aku berjalan menatapi nya sambil melihat kearah kerumunan dihadapanku. Mata pemuda bersurai ungu itu mendadak berbinar-binar melihat apa yang dihadapannya.

"Banyak sekali makanannya disini Rii-chin.. kau beneran akan mentraktirnya?" Tanya Murasakibara memastikan. Aku mengangguk. "benar, aku akan membayarnya. Nikmati makananmu, Murasakibara-kun! Aku akan menunggu di sebelah sana!" aku menunjuk kearah rerumputan yang berada disebelah kiri festival, yang terdapat banyak tanaman dan sebuah danau kecil. "Pakailah uangku ini… mintalah lagi padaku jika menginginkan lagi." Kataku sambil menyerahkan uang yang cukup banyak. Murasakibara mengangguk. "Terima kasih, Rii-chin.."

.

.

.

Normal POV

Rii menyerahkan sejumlah uang yang cukup banyak ke Murasakibara sambil tersenyum kecil kearahnya. Murasakibara yang melihat uang yang cukup banyak—itu cukup senang mendapatkan makan sepuasnya di kios-kios ini. "Terima kasih, Rii-chin." Ucap Murasakibara lalu ngacir pergi kedalam festival itu. Sedangkan Rii yang sedari tadi melihat Murasakibara yang perlahan-lahan menghilang dari tatapannya itu segera duduk kedalam rerumputan disebelah festival itu. Sungguh, ia sangat menikmati angin semilir-semilir yang sedang menghembuskan itu.

Murasakibara yang sudah diberikan cukup banyak uang—segera ngacir ke kios-kios yang ia ingin beli makannannya. Hanya dalam beberapa menit, terkumpul banyak makanan snack-snack favoritnya, termasuk maiubo yang kebetulan lewat disana.

"Apakah aku perlu membelikan sesuatu untuk Rii-chin ya.." kata Murasakibara sambil berpikir dengan memakan makanannya. "Rii-chin sudah temani aku buat memakan.. Rii-chin sudah mentraktirku.. Aku harus memberinya satu.. paling tidak.. Rii-chin sudah baik denganku.." bisik Murasakibara. Ditatapnya kosong untuk sesaat, lalu mengalihkan pandangannya menuju rerumputan di sebelah festival. Dilihatnya gadis itu sedang bermain-main di pinggir danau.. dan tampak sangat…sendiri.

Murasakibara yang merasa kasihan dengan gadis itu, ia segera menghampirinya. Entah mengapa—hal hal sepele seperti orang kesepian itu tak dipedulikan oleh Murasakibara, tapi gadis itu membuat seorang Murasakibara Atsushi tertarik. Di tepuknya pelan pundak gadis dihadapannya.

"Gyaa!"

Gadis itu berteriak kaget melihat ia merasakan sesuatu dipundaknya. Ia segera menoleh kearah tersebut. "Ah, ternyata hanya Murasakibara-kun. Kukira ada penjahat yang mau menculikku!" seru Rii dengan tampang yang takut. Murasakibara hanya tersenyum tipis, lalu duduk disebelah Rii. "Kau tak lapar, Rii-chin..?" tanya Murasakibara sambil menyerahkannya sekotak makanan berisi takoyaki. Rii menggeleng, tetapi tetap menerima takoyaki yang diberikan oleh Murasakibara. "Arigatou." Balasnya sambil menaruh takoyaki disebelahnya. Ditatapnya pantulan dirinya didekat danau, sambil melihat-lihat keadaan sekitar.

"Murasakibara-kun.. sebegitu kah kau malas latihan?"

Murasakibara menatap Rii sekilas, lalu kembali memakan makanannya. "Latihan itu melelahkan, Rii-chin…nyam.."

"Melelahkan ya..?" Rii menatap kearah langit, "Apapun itu memang melelahkan Murasakibara-kun.. kau tak boleh mengeluh.." kata Rii dengan pelan, tapi dapat Murasakibara dengar dengan jelas. "Semua orang juga merasakan sama.. bahkan diriku juga."

JLEB.

Murasakibara merasakan sebuah panah tepat menusuk kearahnya.

"Kamu tahu.. Murasakibara-kun? Kau sebenarnya baik.. tapi hanya saja kau susah untuk mengatakannya.."

"Murasakibara-kun.. Melihat bunga-bunga berwarna ungu ini.. mengingatkanku pada dirimu, Murasakibara-kun."

"Hati Murasakibara-kun.. secantik bunga-bunga ini.."

"Kau tahu, Murasakibara-kun? Salah satu bunga favorit ku adalah ini.."

"Murasakibara-kun itu baik. Aku tahu itu."

"Anggota Kisedai.. tanpa Murasakibara-kun terasa tidak akan lengkap.."

"Murasakibara-kun tidak boleh lelah akan semuanya.."

"Jangan mengeluh, Murasakibara-kun!"

Dan kalimat terakhir itu benar-benar meleleh dihatinya seorang Murasakibara Atsushi.

.

.

.

Murasakibara's POV

"Semua orang juga merasakan sama.. bahkan diriku juga."

Eh.. benarkah?

"Kamu tahu.. Murasakibara-kun? Kau sebenarnya baik.. tapi hanya saja kau susah untuk mengatakannya.."

Rii-chin ngomong apa.. Aku baik? Susah mengatakan? Mengatakan apa..?

"Murasakibara-kun.. Melihat bunga-bunga berwarna ungu ini.. mengingatkanku pada dirimu, Murasakibara-kun."

Mengingatkan diriku? Kok bisa—apa miripnya bunga itu dengan aku, Rii-chin?!

"Hati Murasakibara-kun.. secantik bunga-bunga ini.."

Hati?

"Kau tahu, Murasakibara-kun? Salah satu bunga favorit ku adalah ini.."

Bunga favorit? Apa hubungannya hati dengan bunga favorit?

"Murasakibara-kun itu baik. Aku tahu itu."

Baik.. ya..

"Anggota Kisedai.. tanpa Murasakibara-kun terasa tidak akan lengkap.."

Aku mulai mengetahui apa yang Rii-chin bicarakan..

"Murasakibara-kun tidak boleh lelah akan semuanya.."

"Jangan mengeluh, Murasakibara-kun!"

Aku tak mengira.. Rii-chin begitu sangat..

Dia mendukungku..

Dia menyemangatiku..

Dia menghiburku..

Ke-kenapa tiba-tiba dadaku menjadi panas?

Rii-chin.. ini perasaan apa..

.

.

.

Sementara mereka berdua bercakap-cakap, ada sepasang manik heterokrom yang menatapnya dari kejauhan. Diikutinya terus gerakan-pergerakan gadis yang berada disebelah pemuda bersurai ungu itu.

Ia merasa tak begitu senang.

Tetapi beberapa menit kemudian, ia menyeringai. Ia tampaknya sedang memikirkan sesuatu yang akan berhasil.

Ia yakin akan berhasil..

.

.

.

Astaga fanfic apa ini /lempar leptop ke author/

Author entah mengapa bikinnya melenceng banget kali ini.. dan gaje.

Ara rasa.. feelsnya kurang kuat disini, dan memang ada beberapa point-point yang Author skip karena author malas. /timpuk author/

Dan.. seperti biasa, alur kecepatan ya hahaha. Gomenasai!

Atmosfer nya rasanya berbeda sekali dari chapter-chapter sebelumnya, abis author labil mulu, pikirannya kontervesasisasi hati mulu~

Author akan pastikan.. bukan—maksudnya usahakan akan membuat chapter yang lebih baik. _(:3

Chapternya Gaje ya, gomenasai _(:3

Oka~~y.

Kurosaki Yukia
Makasih! Author akan usahakan /bows/

Kumada Chiyu
Ah, Gomenasai! Ara baru nyadar, jadi sekarang baru diperbaikin kok sama author. Terima kasih! /bows/

Terima kasih yang selama ini sudah mereview dan mendukung author! /bows/

.

.

Mind to review minna?

Kritik dan saran jika perlu!