Chapter Four

Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

Warning : Typo, gaje, alur cepat, alur gaje, OOC, OOT, dan sebagainya.

Aku mencengkram kuat tali tasku sambil perlahan-lahan membuka amplop berwarna putih yang tergeletak didepan rumah. Surat teror, ya? pikirku sambil melihat kertas yang terdapat didalamnya. Aku membacanya perlahan sambil menghela napas. Surat teror.. ternyata..

Aku membuka teras rumah, lau menutupnya kembali. Kutaruh amplop tadi ditas, lalu berjalan menuju SMP Teikou.

Ketika sampai di SMP Teikou, aku sudah disambut hangat oleh Ama saat dipagar. Entah mengapa, Ama sedang dalam mood-yang benar-benar hepi, mungkin ia kesambat sesuatu ya? Ia tak pernah sebahagia ini.

"Chikarashi! Bagaimana kencanmu dengan Murasaki-kun? Bagaimana?! Bagaimana?!" tanya Ama antusias. Cepat-cepat aku menaruh jari telunjuk dibibirku, memberitahu dirinya untuk diam. Untung saja ia menurut.

"I-itu bukan kencan.. Ouka. Itu.. hanyalah menraktirnya membeli makanan. Lagipula.. jangan mengatakannya terlalu keras! Ini rahasia!" ucapku dengan nada sedikit berbisik-bisik. Ama nyengir sambil menatapku dengan tatapan iseng. "Lagipula.. bukannya kalau seorang gadis SMP dan seorang pemuda SMP berjalan bersama dan tertawa bersama-sama, menikmati bersama-sama bukannya bernama kencan ya?"

"Enggak! Lagipula kita hanyalah teman!" sahutku sambil mengalih pandanganku, berusaha untuk menyembunyikan semburat merah yang terlukis di pipi. Ama tersenyum. "Hahaha.. kau imut sekali, Chikarashi." cerocos tertawa kecil, lalu ngambil sesuatu ditasnya. Dikeluarkannya amplop berwarna putih yang sekarang ia pegang. Amplop itu serupa yang aku temukan tadi.

"Kau lihat ini? ini surat terror, lho?"

Ama mengeluarkan kertas yang terdapat di amplop itu lalu menunjukkannya ke aku. Isinya serupa! Tak ada perbedaan didalam kertas itu. Buru-buru aku juga mengeluarkan kertas yang tadi aku dapat. "Aku juga mendapatnya tadi.." ucapku sambil menunjukkannya terhadap Ama. Ama mengangguk-ngangguk.

"Aku dengar.. kerumunan terroris sedang berkumpul disini.." bisik Ama sambil menatapku serius. "Sebaiknya jangan pulang sore-sore, dan sendiri. Setidaknya, kau pulang bersama siapa lah." jelasnya, lalu menarik tanganku. "Ayo kita kekelas, Chikarashi. Naluri ku berkata sebentar lagi bel."

.

.

.

CIIIT CIIIT

Suara sepatu olahraga terdengar sampai keluar gym, dan bahkan terdengar sampai kelas yang terjauh itu. Aku berkali-kali membalik-balikkan halaman buku yang sedari tadi aku baca, lalu merangkumnya kembali disuatu buku. Bertumpuk-tumpuk kertas berserakan dimeja- dan ada beberapa yang terjatuh.

Matahari perlahan-lahan mulai tak tampak, sehingga ruangan menjadi gelap. Cepat-cepat aku menyalakan lampu kelas.

Sungguh, menjadi ketua kelas.. itu berat juga ya? Hahaha.

Aku terus mengerjakan tugasku, sehingga jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ah, sepertinya aku telat.. aku yakin sudah tak ada orang lagi disekitar sini kecuali penjaga yang sedang berpatroli.

"Hei, kamu. Kamu tidak pulang nak?"

Suara seseorang mengejutkanku, dengan cepat aku segera menoleh kebelakang. Ah.. cuma penjaga ya.. pikirku sambil bernapas lega. "Sebentar lagi saya pulang, pak." jawabku sambil tetap fokus pada tugas yang berada dihadapanku. Penjaga itu mengangguk. "Jangan terlalu malam ya, sebentar lagi sekolah tutup." ucap penjaga itu sambil melangkah pergi. Aku mengangguk.

Sial.. mengapa tugas ini terlalu banyak..

aku berdecak kesal. Kertas-kertas sebentar lagi habis, dan akhirnya bisa pulang.

Sudah malam..

Kataku sambil menengok kearah jendela. Tiba-tiba aku mengingat perkataan Ama tadi.

Sebaiknya jangan pulang sore-sore, dan sendiri. Setidaknya, kau pulang bersama siapa lah.

Tamatlah riwayatku. Terroris ya? Aku dengar ada terroris disini. Masa harus menginap disini? tidak mungkin, tempat ini terlalu menyeramkan untuk disinggahi!

Aku mempercepat tulisanku, dan akhirnya selesai. Setelah merapikan semuanya, aku berjalan menuju keluar sekolah. Suasana sekolah tampak sangat sunyi, yang terdengar hanyalah suara jangkrik. Sebelumnya, aku harus berkata pada penjaga itu terlebih dahulu agar bahwa sekolah bisa dikunci.

"Semoga kamu selamat, nak." ucap penjaga itu sambil tersenyum kearahku. Aku mengangguk. "terima kasih telah menghawatirkanku. Aku tak apa." jawabku lalu melangkahkan kakiku menuju rumah.

Sebenarnya.. rumahku jauhh sekali dari tempat ini. harus mengikuti jalan yang berliku-liku, yang curam, dan sebagainya. Cukup melelahkan jika hanya berjalan kaki. Tetapi, mau apa lagi? yang aku bisa hanyalah berjalan kaki sambil mengawasi sekitar.

Suasana malam hari tampak sangat sunyi. Angin semilir-semilir berkali-kali menerpa diriku, dan membuatku sedikit mengigil.

"Nona.. mengapa kamu berjalan sendiri disini, nona manis~?"

Suara itu mengejutkanku ketika aku merasakan sebuah tangan mencengkram kuat salah satu tanganku. Aku segera menoleh cepat dan melihat seorang pemuda-pemuda yang lebih tua dariku beberapa tahun dengan banyak gerombolan dibelakangnya. Oh tidak..

"Minggir kau, om-om pedo." cetusku. Aku menepis tangan pemuda itu yang hendak memegang salah satu tanganku lagi. Aku menatapnya tajam. Penjahat itu merasa kesal, lalu mencengkram tanganku lebih kuat. "Nggh!" Rintihku. Penjahat itu tersenyum sinis. "Kau memiliki badan yang indah nona~ maukkah kamu bermain bersama kami beberapa malam~?" kata penjahat itu . JIJAAAAYY!

"Sampai mati pun aku tak mau."

"Apa katamu?!" bentak penjahat itu. Aku menelan ludah. "Aku mengatakan, bahwa sebaiknya kau lebih baik mati, bodoh."

Dengan sigap aku segara menginjak kaki penjahat itu, lalu berlari jauh dari mereka. Penjahat itu mengejarku hingga sampai beberapa komplek, lari ku pun perlahan-lahan mulai melambat gara gara letih.

Aku terlalu capek.

.

.

.

"Tolo—"

Aku merasakan cengkraman kuat ditangan sebelah kiri, dan membuatku hampir berteriak. Cengkraman itu menarik tubuhku menuju sebuah gang yang cukup sempit dan sedikit redup. Tangannya membekap mulutku agar aku tidak bersuara.

Aroma ini .. Tangan ini..

Akashi..?

.

.

.

Akashi Seijuurou.

Ya, Akashi Seijuurou.

Sosoknya sendang berada dibelakangku, membekap mulutku untuk tetap diam. Beberapa detik kemudian muncullah penjahat-penjahat tadi yang mengejarnya berlalu melewati mereka. Aku menghela napas, lalu menatap Akashi. Akashi melepas tangannya, dan mulai menatapku kembali.

"Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini, Chikarashi?"

Suara dingin nya membuat aku merinding. Manik heterokromnya menatapku tajam, seolah-olah ia akan melampiaskan amarahnya terhadapku.

"E-ehm.. Seharusnya aku yang bertanya padamu."

"Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab aku terlebih dahulu." perintahnya tegas. Aku menghela napas, lalu memejamkan mataku sesaat.

"—aku baru pulang dari sekolah.." "lalu tak sengaja bertemu dengan penjahat—"

"Hanya itu?" potong Akashi. Aku mengangguk. Akashi menghela napas lega, lalu memelukku. "Kukira kau terluka.. makannya kalau pulang jangan terlalu malam dan sendiri.. kau tahu terroris sedang berkeliaran sekitar sini kan?" ucapnya dengan lirih.

E-ehm..

Seorang Akashi Seijuurou, mengapa bisa menjadi se khawatir ini?

Sejak kapan.. ia menjadi penyayang dan baik hati?

"I-iya.." jawabku terbata-bata. OKE, INI BENAR GILA. SEORANG MAKHLUK KEJAM SEPERTI AKASHI MEMELUKKU? JANGAN BERCANDA. INI TIDAK LUCU.

"Lain kali, aku akan menemanimu, meskipun kamu pulang selarut apapun-"

..HA?

"Kau tak boleh menolakkku. Perintahku itu absolute."

"TAPI—"

CKRIS.

"BA-BAIKLAH."

.

.

.

Aku mencengkram kuat tasku lagi. Lagi-lagi, aku mendapatkan surat terror yang tidak jelas alamat pengirimnya. Stalker-kah? Atau siapa?

Aku pandang lagi kearah kotak surat. Selain amplop itu, terdapat Koran yang terdapat disana. Ia segera mengambilnya, dan membacanya.

XXXX NEWS

Sebaiknya berhati-hati jika berada dikawasan XXXX, karena diketahui bahwa sekelompok teroris sedang berjaga disana. Jangan pulang terlalu malam, dan jangan pulang sendiri.

Ah.. ini. Artikel ini sudah muncul beberapa kali akhir-akhir ini.

Tim basket Kiseki no Sedai memenangkan pertandingan dan mendapat kejuaraan yang pertama! Akankah Kiseki no Sedai berhasil menjadi yang pertama tahun depan?

Kiseki no sedai ya.. sudah kuduga, mereka hebat.

Ramalan Oha-Asa hari ini, menempati sebagai Libra peringkat pertama.

Oha-Asa.. aha, Midorima Shintarou. Pemuda itu maniak sekali dengan Oha-Asa.

Siapa yang tak kenal dengan model, Kise Ryouta? Pasti tak ada ya~ apalagi model ini memiliki paras yang tampan dan cantik.

"Rii-chan ya, namamu?"

.

.

.

GOMEN GOMEN GOMEEEEN FANFIC GAGAL DARI SAYA KINI MUNCUL DENGAN CHAPTER KEEMPAT. KALI INI CHAPTERNYA PENDEK SEKALI YA WWWWW

Oke, alur masih kecepatan seperti biasa, dan gaje

Kalau terakhir kali pairingnya sama Murasakibara, sekarang Akashi. Iya sih, memang adegannya yang Akashi kurang banyak. Ara kurang puas dengan ini. TETAPI CHAPTER-CHAPTERNYA SELANJUT-SELANJUT SELANJUT SELANJUT NYA ADA ADEGAN AKASHI NYA KOK, TAPI GA TAHU CHAPTER BERAPA

Pairing selanjutnya.. pasti tahu deh.

Pokoknya maafkan atas tidak kesopanan Ara dan author, yang berhubungan ada sedikit kata-kata kasar dan rate yang sedikit melenceng.

Kritik dan Review minna!

Terima kasih yang telah mereview~!