Chapter 5
Kuroko no Basuke Milik Fujimaki Tadatoshi.
Warning : Typo. Alur Kecepatan. Gaje. Tidak Sesuai EyD dan sebagainya.
Haaaloo Minna-tachi~~ Sekarang udah muncul chapter limanya.. tetapi apdetnya mungkin terlalu lama ya~~? Hehehhe~ 3
Oh iya.. kalau saya perhatikan, chapter-chapternya semakin gaje ya.. abis.. lagi bener-bener buntu pikiran author, jadi maklumi ya~
.
.
.
Normal POV
Rii perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya, dan menampilkan iris berwarna cokelat muda. Matanya berair dan mukanya berwarna merah bekas menangis.
Ah.. mimpi buruk..
Ia mengalihkan pandangannya menuju tangannya, seperti ia merasakan sesuatu. Ia segera cepat-cepat menarik tangannya ketika ia melihat tangannya mencengkram kuat lengan baju seorang pemuda bersurai kuning emas yang berada dihadapan tempat duduknya.
"Kise-kun?" Tanya Rii memastikan sambil berdiri. Pemuda bersurai kuning itu perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya dan menampilakn iris madu. Kise tersenyum sambil mengucek-ngucek salah satu matanya. "Kau sudah bangun.. Riicchi?"
Rii mengangguk, lalu menatap kedua iris madu milik Kise yang masih sayu. "Apa yang kau lakukan disini, Kise-kun?" Tanya Rii sambil kembali duduk. Tatapannya terfokus dengan pemuda yang dihadapannya.
"Ah.. Itu.." Kise menelan ludah sesaat, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku hanya kebetulan lewat 'ssu.. terus aku melihatmu menangis didalam tidurmu.. jadi a-aku menemanimu..Riicchi.."
"Ah, begitukah Kise-kun? Seharusnya kau tak perlu, tetapi terima kasih." Ucap Rii tulus sambil tersenyum. Melihat Rii tersenyum, Kise mendadak merasa mukanya mulai bersemu merah dan ia mulai salah tingkah. Rii hanya tertawa kecil, lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Eh? Mau kemana 'ssu?" Tanya Kise sambil melihat kearah Rii yang mulai berjalan menuju pintu kelas. Rii tersenyum, "Aku akan pulang. Kau takkan menginap disini kan?" sindirnya sambil tertawa kecil. Kise nyengir lalu meraih tas yang berada disebelahnya. "Aku antarkan 'ssu!"
Eh?
"Ah, tak perlu Kise-kun! Lagipula, sebentar lagi kau ada latihan basket kan? Aku juga bisa pulang sendiri kok!" ucap Rii panik. Entah apa yang membuatnya panik, ia sendiri pun tidak tahu.
"Latihan Basket? Aku sudah menyelesaikannya dari tadi 'ssu!" pekiknya girang.
'Gimana ini.. aku tidak mau merepotkan Kise-kun..' batin Rii sambil menelan ludah.
"Jadi, gimana?" tanyanya sambil menghampiri Rii. Senyum model miliknya pun merekah di wajah mulus nan putih milik Kise.
"B-Baiklah.." jawab Rii terpaksa sambil menghela napas. Rii pun berjalan duluan dengan Kise dibelakangnya. Mereka berjalan dengan suasana hening, tak ada yang mau berbicara. Bahkan si cerewet Kise itu pun tidak mau berbicara.
"Riicchi.."
"Hn?" Rii menoleh kebelakang ketika menemukan Kise sedang menunduk kebawah sambil memanggilnya. Kise menggeleng, lalu tersenyum kecil. Ia sedang menyembunyikan sesuatu, itulah pikiran Rii yang pertama kali terlintas. Tetapi ia segera buang-buang pernyataan tersebut jauh-jauh.
"Ah, kalau begitu.. aku pulang terlebih dahulu. Rumahku hanya sebelah sana." Tunjuk Rii kearah gang yang cukup besar. "Eh, disitu ya 'ssu?"
"Ah! Riicchi, ayo kita melihat sunset 'ssu!" ajaknya sambil menarik-narik lengan Rii. Rii melongo, "Hah?! Sunset?!"
"Iya 'ssu! Mau kan? Sekali 'ssu! Pertanda bahwa kita teman Riicchi!" katanya sambil menarik lengan Rii lebih kuat. Diakui, memang kekuatan Kise lebih kuat dari Rii. Mau tak mau ia harus menerima Kise mau mengajaknya kemana.
Kise menarik lengannya menuju sebuah tempat yang penuh dengan semak-semak dan pohon-pohon yang tinggi. Rii heran, apakah Kise mau mengajaknya kehutan atau apa?
Ia juga tampak tergesa-gesa.
Setelah melewati semak-semak dan pohon-pohon yang tinggi, mereka melewati setapak demi setapak. Samar-samar terdengar suara seperti air mengalir gemericik dari kejauhan. Rii merasa penasaran akan yang didengarnya.
Setelah berhasil mendekat, air mengalir itu pun menjadi keras dan semakin keras. Entah kenapa bau hujan sangat menyengat disana.
"Sebentar lagi kita sampai 'ssu!"
Kise mulai melambatkan langkah kakinya lalu berjongkok. Ia tersenyum manis seraya membalikkan tubuhnya kearah Rii. "Aku masuk duluan ya."
Eh? Masuk duluan?
"Cho-chotto—"
"Tenang aja 'ssu!" ucapnya seraya merangkak melewati semak-semak. "Aku akan membuat lintasan untukmu melewati 'ssu." Katanya dengan yakin. Ia terus melewati semak-semak, sementara Rii menunggu dibelakangnya.
Beberapa detik kemudian, terdengar seperti suara pintu yang terbuka yang cukup keras. Rii menjongkok dan menundukkan kepalanya berusaha untuk melihat apa yang dilakukan oleh Kise. Tapi ia tak melihat sosok itu, melainkan hanyalah cahaya biasa.
"Kise-kun..?"
Rii memanggil namanya, berusaha untuk mencari sosok yang ia ingin cari. Beberapa detik Kise tak menjawab, Rii mulai khawatir. Tetapi ia segera menghela napas lega ketika ia melihat wajah Kise menyembul dari balik semak-semak dengan wajah innocent miliknya.
"Maaf membuatmu menunggu 'ssu! Ayo ikut aku, Ricchi!"
Kise membalikkan badannya sedangkan Rii mengikutinya dari belakang. Bau hujan yang tadi ia cium mulai terganti dengan aroma bau mawar dan melati. Ketika ia berhasil keluar dari semak-semak itu, Ia memandang sekelilingnya dengan takjub.
Air terjun yang cukup tinggi yang terus mengalir dan akhirnya berakhir disebuah danau. Disekeliling danau tersebut, terdapat pohon-pohon yang indah, dengan berbagai macam tanaman dan bunga-bunga yang jarang ditemui. Pintu kayu yang tadi ia lewati terbelit dengan tanaman yang membuat kesan indah menurut Rii.
"Bagaimana? Indah bukan 'ssu? Kalau begitu ayo kita lihat matahari terbenam melewati itu." Kise menunjuk-nunjuk sebuah celah diantara pepohonan. "Disitu, kita bisa melihat lebih jelas, 'ssu!" Kise menarik lengan Rii dan membawanya menuju celah diantara pepohonan. Tetapi, sebelum Ia masuk, ia memutar balikkan badannya dan menatap Rii.
"Pejamkan matamu dan terus mengikuti petunjuk dariku 'ssu." Ucapnya sambil tersenyum manis. Rii mengangguk lalu mengikuti perintahnya, memejamkan mata.
"Nah, setelah matamu terpejam, peganglah tanganku 'ssu" tuntunnya sambil menjulurkan tangan kanannya. Rii dengan tangan yang meraba-raba pun berhasil menyentuh tangan kanan Kise. Kise pun menarik tangan mulus Rii kearahnya ia berjalan.
"Hati-hati, perhatikan langkahmu 'ssu!" peringat Kise. Rii tertawa kecil, "Bagaimana aku bisa memperhatikan langkahku dengan mata terpejam Kise-kun?" sahut Rii sambil melompat kecil. Kise nyengir, meskipun itu tak terlihat oleh Rii. "Hehehe, maafkan aku 'ssu."
"Nah, kalau begitu, kapan aku akan membuka mataku?"
"Sebentar lagi 'ssu! Sabarlah!" ucap Kise sambil mencengkram pelan tangan Rii. "Nah, sekarang bukalah matamu 'ssu." Perintahnya sambil melepas genggamannya.
Rii perlahan-lahan membuka matanya dan merasakan sesuatu yang silau. Setelah terbiasa dengan silau itu, ia pun mulai melihat jelas apa yang sedang ia pandang. Ya, matahari terbenam. Didalam posisi ini, mereka bisa melihat dengan jelas matahari terbenam seperti apa.
"Huwaa~ Bagus sekali Kise-kun!" seru Rii sambil duduk di rerumputan, menikmati pemandangan itu sembari merasakan semilir-semilir angin yang berlalu. "Hehe~ Bagus kan 'ssu? Siapa dong, kalau tidak Kise Ryouta!" seru Kise sambil membanggakan dirinya. Rii tertawa lalu tersenyum kearah Kise. "Makasih, Kise-kun, telah membawaku kesini!"
"Hahaha, tak apa. Lagi pula, kita teman, kan?" katanya sambil menyibak poni yang terkena hembusan semilir angin yang menutupi matanya. Rii mengangguk. "Kita memang teman, Kise-kun!"
"Kise-kun! Kau tahu? Matahari itu seperti Kise yang selalu ceria. Aku suka mempunyai teman seperti Kise-kun!" celoteh Rii sambil tersenyum manis.
"Aku juga suka punya teman seperti Riicchi 'ssu!"
.
.
.
Kise POV
Hari yang melelahkan ya.. aku lelah 'ssu..
Aku melonggarkan dasiku dan langsung merebahkan diriku di tempat tidur yang empuk. Pusing dan lelah. Itulah yang biasa kurasakan sehari-harinya.
Aku berusaha bangkit lagi untuk duduk di pojok tempat tidur sambil memijat-mijat pelipisku. Setelah merasa aku sudah sedikit baikan, aku mengganti bajuku dengan baju rumah alias piyama. Aku berjalan menuju tempat aku menaruh tasku tadi, bermaksud untuk mengerjakan pekerjaan rumah untuk besok.
SREK.
Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak yang terjatuh dari tasku. Sebuah kotak berwarna kuning dengan pita berwarna putih. Ah.. aku ingat siapa yang memberikan ini.
Gadis itu.. kalau tidak salah… namanya Rii Chikarashi ya?
Gadis itu cantik juga 'ssu. Aku tertarik dengannya.
Aku membuka pita berwarna putih itu lalu menaruhnya di meja belajar. Perlahan-lahan kubuka kotak berwarna kuning itu.
Sebuah gantungan kunci..?
Buat apa dia memberikan aku gantungan kunci 'ssu? Padahal aku sudah punya.. Ah, tak apalah 'ssu. Aku akan menyimpan ini sebagai kenang-kenangan menjadi teman 'ssu..
Tetapi aku tak hanya ingin menjadi temannya 'ssu..
..Aku akan menjadi sesuatu yang lebih dari "teman"!
.
.
.
Ahahaa~ maafkan author /bows/
Sekali lagi, minta kripik eh, maksud saya kritik dan saran untuk fanfic Author yang masih proses development (?) ini.
Review jika perlu~
.. Saya mau balas review dulu ya~
Guest
Ah, benarkah? Kalau begitu saya akan ganti saja biar kesannya tidak sama..
.5872682
Eehh?~ Makasiih! Salam kenal juga~!
Ne~ RnR minna~?
