Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warning : OOC, Typo, Gaje, Abal, Death Chara,dsb.

Genre : Romance-Hurt/Comfort-Angst-Drama


Rii mengelap peluh keringatnya yang menetes dari ujung pelipisnya. Tangannya bersimpuh pada kedua lututnya dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"1,5 detik."

Wanita paruh baya yang sedang duduk di bench itu menghampiri Rii sembari menepuk pundaknya pelan, menyuruhnya untuk kembali duduk. Wanita itu memiliki postur tubuh yang indah dan rambutnya yang panjang berwarna cokelat, ia adalah guru olahraga Rii, Akesawa Ken-sensei.

"Oh ya, Rii-san? Bisakah aku memintamu untuk memanggil Akashi-san setelah jam pelajaran usai?" pintanya sembari membalikkan badannya. Rii mengangguk sembari melepaskan ikatan rambutnya, yang membuat helaian hitamnya tergerai. Langkah kakinya menuju ruang loker, lalu berganti baju.

Setelah berganti baju, Rii berjalan menuju kelasnya, lalu mendongak mencari siluet merah tersebut. Tangannya melambai kearah pemuda itu, "Akashi Seijuurou, kau dipanggil oleh Akesawa-sensei," Rii berjalan kearah tempat duduknya, yang merupakan kursi dekat Seijuurou.

"Akesawa-sensei? Baiklah. Terima kasih, Chikarashi." ucapnya sembari berdiri, meninggalkan Rii yang masih sibuk dengan buku-buku nya.

Mata Rii menangkap secarik kertas yang terselip diantara buku-bukunya, sebuah kertas berwarna putih dengan tulisan yang ditulis tangan secara rapi. Bingung dengan siapa yang menyelipkan kertas itu, ia membaliknya dan menemukan nama 'Seijuurou' yang tertera dalam kertas tersebut.

Temui aku saat 13 Maret, aku akan memberitahumu sesuatu,

Rii mengernyitkan dahinya, untuk apa Seijuurou memanggilnya pada saat 13 Maret? Apa keperluannya?

Tak kunjung menemui jawaban, pada akhirnya Rii memasukkan kembali secarik kertas itu kedalam tasnya untuk menyimpannya. Didalam benaknya, gadis itu memikirkan apa yang diinginkan Seijuurou. Mengapa 13 Maret? Mengapa tidak besok saja?

Argh, aku terlalu memikirkannya,

Gadis itu menepuk kedua pipinya sendiri, berusaha untuk menyadarkan dirinya untuk tidak terlalu memikirkannya. Rii beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah keluar dari kelas untuk mencari udara segar.

Sampailah Rii disebuah tempat yang cukup ia jarang untuk ia kunjungi, yaitu atap. Ia berselonjor disana sambil meregangkan kedua tangannya. Angin sepoi-sepoi yang menerpanya membuatnya ia merasa mengantuk. Kedua kelopak matanya berusaha untuk tidak tertutup dan memaksakannya terbuka.

"Hnggghh..."

Rii mendesah pelan sembari mengacak-ngacak rambutnya pelan, frustasi karena ngantuknya tak kunjung hilang. Tangan kirinya meraih flap ponselnya, lalu mulai mengutak-ngatik ponsel tersebut untuk menghilangkan rasa kantuknya.

Rii mendelik kearah pesan singkat yang merupakan dari Kise. Sontak posisi nya yang semulanya sedang tidur-tiduran langsung mengambil posisi duduk. Ah, bahkan Kise juga? Sebenarnya ada apa dengan tanggal 13 Maret?

Berusaha untuk menolak pertanyaan-pertanyaan tersebut, Rii kembali tidur-tiduran ditempat tersebut. Rasa ngantuknya kembali menyerangnya, dan kini kembali menjadi-jadi.

Perlahan-lahan, karena tak kuasa untuk menahan rasa ngantuknya, ia tertidur ditempat itu.

.

.

.

"Hnngghh...?"

Rii menguap pelan sembari menggeliat. Kedua matanya menangkap silau nya cahaya matahari yang tiba-tiba menusuk-nusuk kedua matanya. Ia memejamkan matanya sesaat, lalu mengambil alih-alih untuk duduk. Ia melihat sekeliling, langit masih begitu terang dan cerah.

"Eng.."

Mendengar suara asing ditelinganya, ia segera menoleh kearah sampingnya, yang ternyata terdapat pemuda bersurai biru tua yang sedang tidur nyenyak. Kedua kelopak matanya terpejam, dan ditangannya ia menggenggam erat sebuah majalah nista.

Yak, sebuah majalah nista.

Dan sedari tadi pemuda tersebut telah tidur disebelahnya selama beberapa jam.

Mengerikan, bukannya?

"Eh.. ettou, Aomine-kun," panggil Rii sembari berusaha untuk membangunkan pemuda itu dari tidur lelapnya. Tangan mungilnya mengguncang-guncangkan tubuh Aomine.

"Hnggh.. go away,"

Rii mendelik tajam kearah Aomine lalu mengepalkan tangannya erat-erat. Rupanya, pemuda itu mengingau. Tidak, ternyata ia tidak mengingau. Ia memang mengusir Rii untuk pergi menjauh dan tak menganggu tidur lelapnya.

Perempatan muncul di dahi Rii, ia menggigit bibir bagian bawahnya sembari berdiri. Tangannya yang ia kepalkan sangat erat, hingga buku-bukunya memutih. "Dasar tak sopan, Ahomine-" ucapnya, tetapi lebih mirip seperti berbisik.

Rii mengumpulkan sisa-sisa energinya, ancang-ancang untuk membangun pemuda itu dengan seluruh kemampuannya. Ia menarik napas, lalu-

"AHOMINE-KUN, BANGUNLAH.."

Bentaknya, yang membuat Aomine sedikit tersentak, tetapi tetap dalam posisi tidurnya. Ia berganti posisi, "Kau bukan Akashi, kau tak berhak untuk menyuruh-nyuruhku."

Rii semakin kesal dengan perbuatan Aomine itu, ia menendangkan kaki kanannya kearah Aomine yang sedang tertidur lelap. Dengan nada kesal, ia merebut majalah nista itu dan langsung membuangnya jauh-jauh, tak peduli majalah itu hampir terlempar- ehm, jatuh kebawah.

"Itte- Ouch! Mai-chan-ku!"

Aomine menatap majalahnya yang nyaris tewas tersebut sesaat, lalu mengalihkan pandangannya menuju Rii. Tatapannya sulit dibaca, antara kecewa dan marah.

"Serve you right," umpat Rii sambil berlari kabur dari pemuda mesum itu.

"KAU!"

Aomine bangkir dari tempat duduknya, lalu mengejar Rii yang sedang kabur yang sedang menghindari sosok Aomine. Rii berlari menuju gedung per gedung secara sembunyi-sembunyi.

Ketika Rii hendak untuk membelok, sorot matanya menangkap pemuda bersurai biru itu yang sedang berjalan. Rii cepat-cepat mengerem larinya. Jika ia tidak cepat-cepat menghentikkan larinya, ia akan tetabrak.

Ketika ia mengerem, hanya beberapa centi pun tersisa sebelum mengenai Kuroko.

"Ku-Kuroko-kun! Maafkan aku, hampir menabrakmu." ucap Rii sembari meminta maaf kepada Kuroko. Kuroko yang sedang menatapnya kebingungan hanya mengangguk sambil menenguk Milkshake Vanilla-nya, "Tak apa. Apa yang membuat kamu tergesa-gesa, Rii-san?"

"U-uh," wajah Rii kembali panik. Mukanya kembali menoleh-noleh, memastikan pemuda bersurai biru tua itu tak ada. Ia berbisik kepada telinga Kuroko, "Aku dikejar oleh pemuda mesum yang membawa majalah itu,"

"O-oh, ehm maksudnya Aomine-kun?"

"TEPAT." jawab Rii cepat lalu berlalu meninggalkan Kuroko, "Ehm- kalau begitu aku pergi dulu, Jaa- Kuroko-kun!"

Sebelum Rii cepat-cepat kabur dari tempat itu, Kuroko menarik lengan Rii pelan, lalu membisikkan sebuah kalimat di telinga Rii. Rii yang mendengarnya itu pun melebarkan kedua matanya, lalu tersenyum canggung.

"Aku akan pikirkan dahulu, Kuroko-kun," ucapnya sambil menyembunyikan kedua tangannya dibelakangnya, lalu berbalik.

"13 Maret, tolonglah,"

Anggukan pelan lalu ia pergi.

.

.

.

Merasakan kakinya yang mulai letih dan Aomine tak terlihat lagi dari pandangannya, ia mengistirahatkan dirinya di salah satu tempat duduk di belakang sekolah. Entah sudah seberapa jauh mereka berlari- Rii pun tak tahu. Mungkin saja pemuda bersurai biru tua itu menyerah karena gerakan lincah Rii yang sedari tadi menghindar barang-barang yang dilempar dari pemuda bersurai biru tua itu dan lari-nya yang begitu cepat.

Diambilnya ponsel yang berada di saku roknya sambil mengecek pesan yang ia dapat. Tangannya dengan cepat menekan-nekan tombol-tombol di ponsel itu, lalu melihat sebuah kotak berwarna putih muncul di layar ponselnya.

Kedua matanya membulat, tak percaya dengan pesan yang barusan muncul. Tangannya kanannya yang memegang ponsel bergetar, sementara tangan kirinya menutup mulutnya. Ia memejamkan matanya erat- berusaha untuk menganalisa apa yang terjadi.

Murasakibara-kun.. bahkan kau juga?


-TBC-

Yosh, sampai sini dulu ya.

Author update nya lama banget ya? Gomen!

Author lagi sibuk sama UTS sama acara-acara sekolah gitu.. jadi maklumi ya?

RnR!
Terima kasih yang sudah selama ini mereview~

Tunggu, author mau jawab review dulu deh~

.5872682

Author minta maaf sedalam-dalamnya tentang angst nya yang telat. Angst sama Hurt/Comfornya muncul dibangian akhir, dan juga Kisedai banyak banget characternya~~ jadi author harus jelasin satu-satu dulu, biar mengerti. Maafkan Ara! /bows/

RieRei-09

Terimakasih~~

RnR ya?