Chapter Seven
Author – Aratsuuuki
Happy Reading.
Disclaimer – Fujimaki Tadatoshi.
WARN – Masih tetap seperti sebelumnya.
Genre – Romance, H/C, Angst, Drama, Sedikit Humor.. /?
"Apa keperluanmu denganku, Midorima-kun..?"
"Aomine-kun, apakah kau tahu mengapa Akashi-kun, Kuroko-kun, Murasakibara-kun, Kise-kun dan Midorima-kun seperti ini?"
"Oukai, sebenarnya tanggal yang memperingati hari apa, pada tanggal 13 Maret?"
"Apa?"
.
.
.
"Chikarashii!"
Seseorang berteriak memanggil namaku, yang membuatku berhenti dari mimpi indahku di meja. Dengan malas aku mendongak ke arahnya dan memberi tatapan sedikit kesal. Gadis itu malah menyengir, lalu memberikanku selembar kertas tipis dengan penuh coret-coretan diatasnya.
"Terdapat festival kebudayaan beberapa hari lagi, loh?"
Ama menunjuk ke arah sederetan tulisan yang berjejer rapi disana. Ditulisan-tulisan yang berjejer rapi itu, terdapat huruf-huruf yang berwarna ungu tua tercetak di selembar kertas tersebut. Disana, tertulis "Festival Kebudayaan, 10-13 Maret." Dan dengan keterangan waktu dibawahnya. Aku mengernyit ketika melihat keterangan waktu yang tertulis dibawah judul. Dengan cepat aku mendongakkan kepalaku,
"Apa maksud ini Oukai? 'festival Kebudayaan, 10-13 Maret. Pagi menjelang malam, 24 Jam menginap disekolah,' ini gila, Oukai," cerocosku sembari menaruh kembali kertas di meja. Aku mendongakkan kepala, dan melihat Ama kembali menyengir dan memasang ekspresi tak bersalah. "Apakah ini keputusanmu, Oukai?" tanyaku memastikan. Ama kembali menyengir, lalu mengangguk pelan. "Ya.. meskipun ini masih rough sketch nya, tetapi ini disetujui oleh Ketua OSIS! Ini akan menjadi menyenangkan, Chikarashi. Bayangkan, menginap disekolah bersama dengan lain! Ini pasti asyik," serunya bangga. Ia kembali merebut kertas yang berada dimeja, "Aku akan memberikan desain ini kepada Akashi-kun. Temani aku, Chikarashi!"
"Eh? Dengan senang hati aku menolaknya,"
"Hidoi." Ucap Ama sembari mengembungkan kedua pipinya. Aku tertawa kecil, lucu dengan sikap sahabatku ini. Aku tersenyum, "Bercanda, Oukai! Tentu saja aku akan mengantarkanmu," ucapku kemudian menyengir. Ama mengerucutkan bibirnya, "Hidoi. Kau menipuku lagi," sahutnya sembari melipat kedua lengannya ke dada. Biasa, ngambek—
"Hei, Hei, sudahlah, jangan ngambek. Sini, ayo aku temani," ucapku berusaha untuk melerai. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menarik pergelangan Ama pelan. Ia menoleh kepadaku, "Hei, menurutmu, klub basket akan menampilakan penampilan seperti apa?" tanyanya sembari berusaha untuk menjajarkan langkahnya dengan langkahku. Aku melirik kearahnya, "Klub basket juga akan menampilkan penampilan untuk festival kebudayaan? Heh, yang satu ini juga gila," timpalku sembari menaikkan salah satu alisku, penasaran.
Ama menggeleng, tak setuju. "Justru aku menantikan klub basket untuk menampilkan penampilannya. Apalagi dengan penampilan yang dibuat oleh anak-anak Kisedai, tentunya," sahutnya sembari memainkan ujung kertas tipis yang tadi ia bawa.
Aku mengernyit. Menantikannya? Sebenarnya, aku juga menantikan penampilan Kisedai, juga. Apalagi dengan mahluk-mahluk warna-warni itu. Rasanya sedikit aneh jika melihat mereka menampil, karena mereka tak pernah menunjukkan atau menampilkan yang asli dari diri mereka, seberapa ke-kreatif mereka. Dan aku yakin, pasti semua sekolah Teikou menantikan pertunjukan mereka.
"Nah, sudah sampai,"
Aku mengetuk pelan ruang OSIS, dan memutar knopnya perlahan. Ketika aku pertama kali masuk, yang kulihat adalah anak-anak Kisedai yang sedang bercanda dengan Akashi ditengah-tengahnya. Aku memanggilnya pelan, "Akashi-kun, Oukai ingin memberimu desain brosur serta poster untuk festival kebudayaan,"
Semua mahluk disana hening dan kemudian menoleh kearahku—sementara aku ikut menatap mereka—dengan bingung. Ama yang berada disampingku menyenggol sikutku pelan, kemudian menghampiri Akashi yang sedang bertopang dagu di meja. Ia menyerahkan rough sketch desain tersebut kepada Akashi, "Ehm, Akashi-kun.. Ini desainnya," ucapnya sembari mengulurkan tangan, memberikan desain. Akashi melihat sesaat kepada desain tersebut, kemudian menggeleng. "Aku menolaknya,"
"APA?!"
Aku segera menghampiri Akashi dan menggebrak mejanya, yang membuat banyak sepasang mata menatap kearahku. Aku melirik kearah desain yang dibuat oleh Ama, lumayan bagus kok. Apa yang salah? Disana sudah rapi, dengan dekorasi yang serasi.
Oke, ini Lebay. Tetapi sungguh, Entah mengapa, aku bisa-bisanya protes kepada Akashi. Ini gila.
"Jangan membuatku mengulangi perkataanku, Chikarashi. Aku sudah mengatakan itu dan itu sudah mutlak. Dan kau, barusan tidak sopan dengan ketua OSIS,"
Masa bodo dengan jabatan OSIS atau sebagaimananya. Aku kembali menggebrak meja Akashi, yang membuat Ama sedikit takut. Entahlah, mengapa aku bisa se-emosional ini. Aku melirik kearah Ama—yang masih menatap kearahku dan Akashi dengan takut yang sedikit menguasai dirinya. "Tak peduli kau OSIS atau apalah—tapi kau tak bisa semena-mena seperti itu, Akashi. Festival kebudayaan sudah dekat! Emang masih punya waktu lagi untuk membuat desain?"
"Masih ada," jawabnya santai. Ia memainkan jari-jari lentiknya diatas permukaan meja, kemudian menunjuk kearahku dengan angkuh, "Kau yang akan membuat desainnya, dengan bantuan gadis itu," ujarnya kemudian menunjuk kearah Ama. Aku membulatkan mataku, "Hei, aku tak bisa mendesain, kau tahu? Kau tahu nilai karya seni-ku berapa, Akashi-kun?" protesku sembari melipat kedua tangan kedada.
"Perintahku itu mutlak, Chikarashi. Kau tak boleh menolakku,"
Dengan cepat Akashi mengeluarkan gunting merah kesayangannya—yang sedari tadi tergeletak di meja, dan ia putar-putarkan keudara. Aku mendengus, "Oh? Jadi mainnya ancam-ancaman nih, Emperor?" ucapku dengan nada sarkatis. Ah, masa bodo dengan dirinya yang Emperor. Aku lelah dengan sifatnya yang menginginkan semuanya sekenanya.
"Kau membantahku?"
Nyaris saja—gunting merah itu melayang kepadaku beberapa centi. Untung saja, aku bisa menghindarinya. Aku menarik gunting merah tertancap dinding, lalu melemparnya kembali ke arah Akashi yang membuatnya ia sedikit terkaget, meskipun hanya beberapa detik. Gunting itu sukses mencancap di meja OSIS miliknya. "Aku tidak membantah, tetapi menentang. Aku akan tunjukkan ke dirimu bahwa aku dan Ama akan membuat desain lebih baik!"
Aku membuka pintu OSIS, lalu dengan cepat menarik lengan Ama, keluar dari ruangan tersebut. Aku membanting pintu tersebut—cukup keras. Tak peduli dengan sepasang mata yang melihatku dengan kebingungan.
.
.
.
"Chikarashi, kau terlalu emosional terhadap Akashi-kun!" bentak Ama sedikit pelan dari biasanya. Ia melepas cengkramannya dariku, Lalu menatapku dengan pandangan tidak percaya, "Aku tak menyangka kau berani menghadapi Akashi-kun,"
"Sifatnya itu—membuatku marah, Oukai. Aku tak bisa memaafkan dirinya!"
"Hngh.. Sudahlah, lupakan. Ayo membuat desain bersama-sama sepulang sekolah. Di Maji Burger, oke?" lerai Ama, yang sukses emosi ku berusaha untuk mereda. Aku menoleh kepadanya, "Hm? Maji Burger? Oke!" balasku sembari tersenyum kepadanya.
KRIIING.
"Ah, Oukai, sudah bel. Ayo cepat masuk sebelum Akesawa-sensei tiba!"
.
.
.
"He~ Akashicchi, aku tak menyangka ia berani denganmu-ssu," seorang pemuda bersurai kuning itu meminum air putih yang berada dihadapannya sembari melirik kearah pemuda bersurai merah yang sedang bertopang dagu. Pemuda bersurai merah itu melepaskan gunting merah yang menancap di meja, kemudian memutar-mutarkannya kembali diudara. "Hhh.. Menarik bukan? Dia sudah berani denganku dua kali," ujarnya sembari menyeringai. Pemuda bersurai kuning itu melebarkan kedua matanya, "Eh? Riichin berani sama Akachin." Sahut pemuda bersurai ungu yang berada disebelah pemuda bersurai kuning.
"Tapi dia punyaku, Akashicchi. Kau tak boleh merebutnya dariku 'ssu,"
"Tidak, itu dia itu milikku, Kise."
"Tentu aku pasangan yang tepat untuk dirinya, nanodayo."
"Ah mou~ Lagipula Midorimacchi dan Aominecchi belum menyatakannya kan 'ssu?"
"Eh? Tetsu sudah menyatakannya?"
"Diam kau semua."
Suara pemuda bersurai merah terdengar keras, memecahkan perdebatan dari pemuda bersurai kuning, hijau, dan biru. Pemuda bersurai merah menyeringai,
"Tentunya ia milikku. Kalian tak punya hak."
.
.
.
TBC.
.
.
.
Ha, tolong. Seseorang, jelaskan apa ini.
Maafkan Ara yang sudah updet lama ya~ buat para reviewers /?, readers, atau pun para silent readers~! Ara meminta maaf sedalam-dalamnya! /?
Berikan saran untuk Ara jika ada yang mungkin kurang, atau apa..
Untuk scene part yang ini... tampaknya gak ada romance sama sekali atau hurt/comfortnya..
Author sedang berusaha sebaik-baiknya untuk kalian semua! *bows*
RnR, ya minna?
Ara sangat menghargai para orang orang diluar sana yang mau menyempatkan diri untuk membaca. Sekali lagi, Ara meminta maaf sebanyak-banyaknya.
-Aratsuuuki
