Chapter 8


Disclaimer – Fujimaki Tadatoshi.

WARN – Bahasa, sikap, ataupun ke gaje-an suatu cerita akan berkecamuk didalam fanfic ini. OOC, typos, dan alur cepat ikut serta. Disarankan untuk segera memencet tombol Back sebelum semuanya terlambat (?)


"Siapapun yang berhasil menaklukan hati dirinya, makalah dia adalah pemenang dari permainan cinta ini."


"Yatta.. Akhirnya selesai, bukan?"

Ama menghela napas pelan seraya menyandarkan punggungnya di kursi. Lelah telah menguasainya sejak tadi, apalagi dua jam berturut-turut berada didepan leptop dan pentab tanpa istirahat. Aku yang duduk berhadapan dengannya hanya tersenyum, "Otsukaresama!" ucapku sembari menenguk teh susu milikku.

"Aku tak mengira akan selesai secepat ini.. Ini berkat bantuanmu, Chikarashi!" seru Ama sembari memasang sebuah cengiran di wajahnya. Aku mengangguk, "Aku juga tak bisa melakukannya tanpamu, Oukai." Ucapku. Ama terkekeh, "Kita tinggal memberikan ini kepada Aka—"

"Psst! Chikarashi, lihat siniii~" Ama menggerakkan tangan kanannya kearahnya, menyuruhku untuk mendekatnya. Ama kemudian menunjuk kearah kasir, "Bukankah itu Kisedai? Apa yang mereka lakukan disini, Hm?" tanyanya sembari berbisik ditelingaku.

Butuh beberapa detik untuk aku menyadari sosok warna-warni yang kini berada di kasir. Ketika aku menyadarinya, spontan aku berteriak heboh, "EEEH? MAJI DEE?! KISEDA—"

"Psst! Pelankan suaramu, nanti mereka mendengarmu!" celetuk Ama yang segera membungkam mulutku dengan burger yang aku makan. Aku mengangguk, "Aku tak menyangka mereka berada disini.. oh, sekalian berikan sketch ini kepada Akash—"

"Chikarashi, pelankan suaramu! Kita akan memata-matai mereka, oke? Lihat! Mereka berjalan kearah kursi dibelakang kita!" bisik Ama yang segera memasang sebuah topi untuk menutupi rambutku dan sebuah kacamata frame hitam tanpa lensa di mataku. Karena kehebohan yang disebabkan oleh Ama, aku malah ikut-ikutan penasaran untuk memata-matai mereka.

"Aominecchi, kau makan terlalu banyak 'ssu. Setidaknya bagilah aku beberapa!" teriak pemuda kuning heboh dengan suara cemprengnya. Aomine yang berada disebelahnya hanya menggeleng, "Tidak, lagipula ini merupakan porsiku sehari-sehari, Kise!" –sembari memukulnya pelan.

"Hidoi 'ssu yo, Aominecchi. Ah, Kurokocchi, Vanilla Milkshake seperti biasa 'ssu?" Tanya Kise sembari menengok kearah pemuda bersurai biru muda di sebelahnya. Kuroko mengangguk singkat, "Iya, Kise-kun. Ini merupakan minuman kesukaanku.."

"Tak baik hanya memakan Vanilla Milkshake saja sehabis latihan basket. Ini, aku berikan kepadamu, Tetsu." Ujar Aomine sembari memberikan sebuah burger didepan Kuroko. Kise yang melihatnya langsung cemberut, "Aominecchi Hidoi, masa aku tidak diberikan 'ssu?"

"Kuroko lebih membutuhkannya daripadamu, nanodayo." Sahut Midorima sembari menaikkan kacamatanya. Kise kembali cemberut, "Midorimacchi, juga!" ucap Kise. Aku menghela napas, mereka ribut sekali! Bahkan telingaku hampir pecah mendengarnya.

"Berhentilah kalian semua. Kalian menganggu pelanggan yang lain."

"Mereka heboh sekali ya.." bisikku kearah Ama setelah melihat Akashi mengeluarkan gunting merahnya dan menunjukkannya terhadap Kisedai. Semuanya langsung bungkam, kecuali Murasakibara yang masih asyik makan dan Kuroko yang meminum minumannya. Ama yang disebelahku mengangguk, "Mochiron!"

Aku kembali menatap mereka yang entah mengapa kembali merebutkan sesuatu yang sepele. Sekilas aku melihat Akashi berkedip kearahku dan memasang seringai tipis, sebelum dirinya memakan burger miliknya. Aku mengatup kedua tanganku didepan dada, "Sepertinya, Akashi telah menemukan kita." bisikku kearah Ama. Ama langsung membulatkan matanya, "Bagaimana?!"

"Ayo kita mengendap-ngendap keluar!" sahut Ama antusias, yang langsung ditatap olehku dengan tajam. Barusan saja ia mengatakan bahwa menyuruhku untuk memata-matainya, sekarang mengendap-ngendap keluar?

"Baiklah." ucapku pasrah sembari berdiri dan kemudian mengeratkan topiku hingga menutupi mata. Aku mulai berjalan menjauhi mereka, tetapi tanpa sadar aku mendengar percakapannya.

"Hoi, kau tahu? Rii tampak pemarah sekali hari ini."

—Oke, aku mulai menajamkan indra pendengaranku dan menyuruh Ama untuk jalan terlebih dahulu. Aku berjalan menuju wastafel, yang kebetulan berada persis dibelakang tempat duduk Kisedai.

"Hahaha, memang 'ssu! Dia lagi badmood, karena Akashicchi! Kalau marah dia terlihat serem 'ssu, mirip nenek-nenek!" sahut si kuning sembari tertawa pelan. Plis, nenek-nenek?! Aku sama sekali bukan nenek-nenek, kau tahu?! Aku adalah Rii Chikarashi, umur 13 tahun!

"Hoi, Kise! Tapi memang sih.. dia terlihat sedikit seperti nenek-nenek-sifatnya-" sindir Aomine sembari memasukkan burger kedalam mulutnya. Sontak aku langsung menatap mereka berdua sinis dengan perasaan menggebu-ngebu, hingga tanpa sadar salah satu dari mereka melihatku.

"Tak baik untuk membicarakan Chikarashi, Ryouta, Daiki. Apalagi langsung didengar oleh orangnya." Ucap Akashi sembari menyeringai kepadaku. Oh, tidak! Mereka melihatku!

"Heh? Mana? Nenek-nenek itu gak mungkin berada disini!" cerocos Aomine yang membuatku langsung naik darah. Oke. Pertama, aku bukan nenek-nenek. Kedua, aku tidak memiliki sifat nenek-nenek. Ketiga, aku tidak memiliki muka seperti nenek-nenek, mengerti?!

Tanpa sadar, langkah-langkahku mulai menjauhi wastafel dan mulai berjalan kebelakang Aomine. Oke, aku marah. Dan marah, itu bukanlah pertanda yang baik.


Normal POV.


"Nenek-nenek, ya, Aomine-kun~!"

Beberapa detik setelah itu, mulai terdengar teriakan ricuh dari sang pelaku biru alias Aomine Daiki karena sudah naas bentuknya, ah, bahkan ia sudah tak memiliki bentuk lagi disebabkan oleh –uhuknenekuhuk—berparas manis yang tengah membantai Aomine. Ingat itu, tak pernah sekali-sekali membuat seorang gadis marah.

"Riicchi, kau berada disini? Apa yang kau lakukan disini—tunggu, kau memakai kacamata?" Tanya Kise sembari menatap heran kearah Rii. Rii menggeleng pelan, "Tentu saja tidak! Ini tidak ada lensanya.." sahutnya sembari melepas topi dan kacamatanya, yang langsung menampilkan ujung surai nya yang jatuh ke pundak.

"Rii-san darimana? Kau tidak menggunakan seragam sekolah." Sahut Kuroko tiba-tiba. Rii menengok kearahnya, dan mengeluarkan seulas senyuman tipis. "Aku tidak kemana-mana. Aku hanya memiliki perjanjian dengan Oukai untuk membuat desain untuk si maniak gunting itu." Ucap Rii sembari menunjuk kearah Akashi.

"Hooh~ kau berani menentangku, Chikarashi?"

"Aku tak menentangmu, plis." Ucap Rii segera facepalm. Rii kemudian mengeluarkan kertas desain yang dibuat oleh Ama dan dia, dan menunjukkannya kearah Akashi. "Lihat, cukup bagus kan! Ini kerja kerasku dan Oukai!" serunya sembari menaruh kertas itu dihadapan Akashi.

Akashi menatap kertas itu dengan pandangan datar, tetapi kemudian perlahan lahan bibirnya membuat sebuah senyuman tipis yang ditujukan kearah Rii, "..kalau ini memang beberapa buatanmu, aku senang melihatnya.." ucapnya pelan.

KRIK.

Sontak, wajah Rii langsung memerah. Ia segera menatap kearah lain, berusaha untuk tidak menatap kearah Akashi. "I-iya, memang bagus dong..! Te-terima kasih, Akashi-kun!" ucap Rii dengan sedikit terbata-bata. "A-aku harus pergi! Oukai menungguku diluar, ja-jadi! Jaa, minna—" ucap Rii sembari melambaikan tangan kearah mereka semua dan segera berlari.

Tanpa sadar, mereka semua menatap Rii dengan pandangan tidak percaya.


Spanduk, orang-orang berlatih, brosur, mereka berada dimana-mana.

"Hua~ah, 9 Maret! Festival Kebudayaan besok!" aku meregangkan tanganku keatas, capek karena pelajaran Akesawa-sensei tadi.

"Aku tak sabar untuk menunggunya.. Yang lain sudah siap-siap mempersiapkannya, lho? Aku penasaran.. apa yang akan ditampilkan kelas kita!" seru Ama sembari memasang pose berpikir. Aku tertawa kecil, "Kau kepo ya, Oukai."

"Aku tidak kepo!" bantah Ama sembari cemberut. Aku tersenyum, kemudian mengambil ponselku yang tiba-tiba bordering. Sebuah pesan singkat tertulis dilayar ponsel:

TO – Seluruh murid kelas 7-1, 7-2, 7-3.

From – Akashi Seijuurou

Harap untuk semua siswa murid 7-1, 7-2, dan 7-3 untuk hadir di aula untuk membahas collab drama yang akan diselenggarakan saat festival kebudayaan nanti, saat istirahat pertama.

Ama langsung memekik, "Collab drama?!"

"Collab drama.. menarik!" seruku sembari menutup ponselku. Aku kemudian menoleh kearah Ama, "kau tahu, Kisedai… juga ikut dalam Collab ini. Aku rasa ini akan menjadi drama yang hebat!"

"Hmft.. Apalagi di ketua-kan oleh Akashi Seijuurou.. dan—tunggu, Nijimura-senpai?" Ama kemudian menunjukkan ponselnya kearahku, dan menampilkan sederet nama berisi role yang mengatur drama.

Ketua – Akashi Seijuurou, 7-1 dan Nijimura Shuuzou, 8-3.

Wakil – Midorima Shintarou, 7-2.

Sekretaris – Shufuku Kuroyomi, 7-3.

Bendahara – Sawada Reoru, 7-3.

Penanggung Jawab – Akashi Seijuurou, 7-1.

P.S : Yang belum disebutkan akan dibahas nanti, -Nijimura

"..Sangat diluar dugaanku." Bisikku karena menahan napas. Oke, aku berlebihan.

...

"Ha, yang benar saja.. "


Oke. Malam semuanya.

Aku pusing toyong. Tugas sekolah menumpuk, jadi aku sibuk sama tugas sekolah..

Yosh~! Aku usahain bisa update dua kali minggu ini, kay? Karena minggu ini aku libur full karena senpie di sekolahku sedang ujian~! Aku doakan kalian akan lulus, senpai-senpai ku yang tertjintah~! *tjivok jauh*

Oke, yang minta chapter ini buat dipanjangin.. kemungkinan manjanginnya bakal ada di chapter berikutnya :")

Terima kasih yang selama ini sudah mau merepiu. Berkat kalian aku takkan berada disini. /lebay

Untuk Juvia Hanaka, Ao Yukari, Gemini Otaku – chan, Mey-chan, dan Para silent reader , ataupun yang follow, favorite atau sebagainya.. maafkan jika chapter ini kurang memuaskan kalian dan aku belum sempat untuk membalas repiu kalian bagi yang me repiu (?) /apaini

Kalau begitu, review? *kedip-kedip* /NO