Toshiro mendapati kamarnya dalam keadaan yang lebih terang dari sebelumnya. Ia tahu, Pagi hari sudah datang. Pandangannya beredar ke segala penjuru ruangan. Hingga akhirnya terkejut melihat Ichigo yang kini tertidur pulas, meringkuk dengan kepala di pangkuan Toshiro. Mata lelah Toshiro membelalak kaku, tidak tahu harus berbuat apa. Menyingkir atau membiarkannya saja? Namun, entah mengapa perasaannya lebih suka jika ia menyingkir dari Ichigo. Meski ia takut akan Amarah Ichigo nantinya.

Sudah sangat lama ia tidak melihat wajah tidur Ichigo. Rasanya sudah lama sekali… Sampai Toshiro merindukan wajah penuh kedamaian milik Ichigo itu. Toshiro ingin melupakan semua kenangan mengerikannya bersama Ichigo. Pernah suatu kali ia hampir berhasil. Namun ichigo selalu menjernihkan memori traumatis itu dengan mudahnya. Toshiro pun meningatnya lagi…dan lagi, karena luka yang berbekas di tubuhnya. Dan juga luka yang berbekas di Hatinya. Menyakitkan sekali…

"Ngh.." Ichigo menggumam mengagetkan Toshiro.

Toshiro celingukan, bingung, takut, tak tahu berbuat apa..

Ichigo pun terbangun, menggerakkan tangannya perlahan ke tangan Toshiro. Ia ingin menggenggamnya. Memastikan jika ia hidup bersama Toshiro, sekaligus memastikan jika ia membutuhkan Toshiro.

Sementara Toshiro bergerak menjauh dengan pelan. Ia Ketakutan lagi…

"Tidak' Jangan tinggalkan aku, Toshiro…" Ichigo menahan tangan Toshiro. Ia mendapati Toshiro menatapnya seperti sedang diancam. Tatapan itu amat menyakitkan bagi Ichigo.

"Aku… Maafkan aku.." Ichigo menelan air liur "Aku' menyayangimu Toshiro..Sungguh! Maafkan semua kesalahanku!" Tangannya mengecup punggung tangan Toshiro. Ichigo menangis sesenggukan.

Toshiro tidak juga bersuara. Ia masih ragu dengan perkataan Ichigo. Bisa saja ia berbohong lagi, menyakiti Toshiro lagi, lalu… minta maaf dengan mudahnya lagi… Lagi dan Lagi…Tiada henti. Dan akhirnya Toshiro hanya akan mendapatkan hal yang sama. Ichigo tetap akan Menyakitinya.

"..Toshiro, Aku Mohon Padamu.. Maafkan Aku" Ichigo semakin keras menangis. Menggenggam tangan Toshiro erat.

Toshiro hanya menatap Ichigo dingin seperti orang mati.

"Percayalah padaku.. Aku tak akan pernah memukulmu lagi, Aku janji Toshiro!" Tangan Ichigo meraih pundak kecil Toshiro. Mendekap Toshiro dalam pelukannya dengan lembut. Mengelus rambut Putih Toshiro perlahan. Ichigo dapat merasakan nafas pelan Toshiro di lehernya. Ia tidak mau momen ini terlewat dengan cepat. Ia ingin Toshiro memaafkannya.

Bagi Ichigo, Keterdiaman Toshiro lebih membuatnya takut daripada kemarahan Toshiro. Terakhir kali mereka bertengkar, Toshiro masih melawan dengan Kata-kata menusuk untuk menyadarkan Ichigo. Tapi Untuk kali ini, Toshiro hanya terdiam. Berusaha bertahan dan tidak merespon segala amarah Ichigo yang meledak-ledak padanya. Ichigo merasa kali ini ia sudah Keterlaluan. Tak salah jika Toshiro tidak mau memaafkannya.

"..Toshiro..?" Ichigo melepaskan pelukannya. Menatap Toshiro dengan penuh kesedihan. Ia merasakan beban berat menimpa badannya ketika mendapati Toshiro yang memandangnya dengan kecut. Air mata menggenangi pelupuk matanya yang indah. Sedetik kemudian air mata itu mengaliri pipinya yang pucat. Menetes berulang kali karena saking derasnya. Ia sadar, Ia sangat Mencintai Ichigo. Kekasihnya. Berapa kalipun Ichigo memukulnya, ia tetap mencintai Ichigo.

Tangisan Ichigo semakin deras karena itu. Jarinya mengusap air mata Toshiro lembut. Tidak ingin melukai Toshiro yang rapuh lagi. Meskipun menangis, Toshiro tetap tidak bersuara. Ia hanya menangis dalam diam.

Ichigo kembali memeluk Toshiro. Mereka menangis tanpa henti. Introspeksi diri satu sama lainnya. Berharap saling memaafkan.

"Sumimasen…sumimasen.."

Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Ichigo. Ia membisikkannya berulang kali. Berharap kata-kata itu menyentuh relung hati Toshiro agar memaafkan segala kesalahannya yang fatal.

"Em.. kurasa telurnya sedikit.. gosong" Ichigo tersenyum malu sambil menunjuk telur mata sapi yang tak berbentuk lagi. Toshiro duduk manis di kursi makan, memandang Ichigo heran bercampur konyol.

Ichigo meminta Toshiro untuk tetap diam. Menantinya menyajikan sarapan pagi. Hari ini Ichigo ingin memperlakukan Toshiro dengan 'Istimewa'. Ichigo akan melakukan segala hal yang Toshiro inginkan. Termasuk membuatkan sarapan. Walaupun ia tidak bisa memasak dengan benar. Demi Toshiro apapun akan ia lakukan.

"Aku akan membuatnya lagi!" Ichigo berlari ke dapur untuk membuat telur untuk ke-sepersekian kalinya. Ia belum juga menyerah. Padahal Toshiro tidak terlalu ambil pusing dengan telur-telur gagal yang Ichigo buat. Ada beberapa telur yang hanya sedikit cacat dan masih bisa dimakan.

Toshiro mengambil bagian itu, menuangkan susu ke dalam 2 buah gelas. Untuknya dan Ichigo. Tak lama kemudian Ichigo datang dari dapur. Menggunakan celemek merah yang sudah kusam sambil tersenyum senang.

"Lihat! Akhirnya Aku berhasil!" Ichigo menunjukkan hasil masakannya pada Toshiro. Ia tampak senang sekali. Dan Toshiro menatap Ichigo dengan ekspresi 'tidak percaya'. Matanya berkaca-kaca. Terharu dengan perubahan mendadak pada sikap Ichigo. Sebelumnya Ichigo selalu bertindak kasar padanya. Tapi' sekarang? Ini sama seperti mimpi indah yang selalu Toshiro inginkan.

Dengan cepat Toshiro menggelengkan kepalanya. Tidak ingin Ichigo mendapatinya hampir menangis.

"Nah, sekarang kita makan ya?" Ichigo duduk di depan Toshiro. Menatap kekasihnya lekat-lekat.

'Toshiro masih belum mau berbicara padaku' Batin Ichigo.

"Toshiro..?" Ichigo memanggil "Apa kau masih marah padaku?"

Toshiro menatap Ichigo sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Masih tidak mau berbicara dengan Ichigo.

"Syukurlah.." Gumamnya "..Tapi, apa kau mau berbicara?"

Toshiro menggeleng perlahan.

"..Mengapa? Bicaralah padaku. Aku tak akan marah lagi padamu" Ichigo bersungguh-sungguh kali ini

Toshiro menunduk dalam diam.

"Baiklah, mungkin nanti.." Ichigo agak kecewa kali ini. Ia harap Toshiro berbicara dengannya secepat mungkin. Ichigo sangat menantikan saat itu.

"Kau mau kita beli ini?" Ichigo mengangkat sebatang Brokoli hijau sambil menunjukkannya pada Toshiro. Sementara Toshiro mengangguk setuju.

Saat ini mereka sedang berbelanja di supermarket. Dan merupakan inisiatif Ichigo sendiri. Tentu saja Toshiro senang akan hal ini. Biasanya ia pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari seorang diri.

Ichigo mendorong troli sementara Toshiro mengambil barang-barang yang diperlukan terutama untuk makan malam. Prediksi Ichigo, Toshiro akan membuat sup malam ini.

"Toshiro, aku lupa membeli sesuatu!" Kata Ichigo setelah mereka sampai di kasir "Aku segera kembali" Dengan terburu-buru Ichigo pergi. Menghilang dibalik rak yang berjejer tinggi.

Toshiro hampir bengong ketika antrian tidak bergerak sama sekali. Ia dapat melihat seorang pria bertopi didepannya yang membawa perabotan dapur yang sangat banyak. Pasti wanita kasir butuh waktu lama untuk memasukkan data barcode nya. Toshiro menghembuskan nafas panjang. Mencoba bersabar menunggu.

"Toshiro?"

Toshiro berbalik ketika seseorang memanggil nama nya. Dan ia senang mendapati Kusaka Sojiro tepat didepannya. Berdiri dengan wajah riang seperti pertama kali bertemu dengannya.

"Kusaka.." Suara Toshiro sangat kecil seperti berbisik.

"Bagaimana kabarmu? Wah, kau tidak berubah sama sekali ya!" Kusaka berbicara tanpa henti seperti biasanya.

"Baik" Toshiro tersenyum kecil

"Kau disini sendirian?"

"A..aku bersama Ichigo" Toshiro memandang was-was kearah kepergian Ichigo.

"Oh, Ichigo yang berambut orange itu ya?"

"Ya"

Sesaat mereka saling pandang, terhanyut dalam kebekuan yang menyenangkan.

"Aku senang sekali bisa melihatmu lagi. Berkunjunglah ke toko ku jika sempat"

"Tentu, aku ingin makan roti buatanmu lagi"

Kusaka tertawa kecil "Jika kau benar-benar datang, aku akan membuatkan cheese cake andalanku. Rasanya enak sekali!"

"Aku suka cheese cake. Aku pasti datang ke tokomu nanti" Ujar Toshiro senang.

"Ehem, Permisi.." Ichigo menyela pembicaraan mereka tiba-tiba.

"Hai, Kurosaki, kebetulan kita bertemu disini" Kusaka berbicara dengan canggung.

Ichigo tidak berminat menjawab basa-basi Kusaka. Ia menatap Toshiro dengan geram. Sementara Toshiro menunduk, menghindari bertatapan dengan Ichigo. Suasana yang tadinya menyenangkan berubah menjadi sebaliknya seketika.

Dengan kasar Ichigo mendorong troli, menaruh barang-barang di atas meja kasir, membayarnya dengan uang pas dan menarik tangan Toshiro pergi dari sana.

Toshiro tampak kepayahan menyamai langkahnya dengan Ichigo. Ichigo berjalan dengan cepat tanpa memperdulikannya sama sekali. Toshiro tahu, Ichigo pasti marah besar.

Samar-samar Toshiro dapat mendengar Kusaka yang memanggilnya dengan nada Khawatir. Hingga akhirnya menghilang di kerumunan orang.

Ichigo membanting pintu Apartemen. Duduk di sova. Sebelumya ia melempar plastik belanja ke lantai di depannya. Sementara Toshiro tercenung di depan pintu menatap Ichigo.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?!" Amarah tertahan amat terdengar pada nada bicara Ichigo.

Toshiro merasa semakin takut berbicara dengan Ichigo meski itu hanya kata 'ya' atau 'tidak'. Ia paling tahu kapan amarah Ichigo memuncak. Dan inilah saatnya.

Ichigo berdiri mendekati Toshiro perlahan "Kau bisa bicara kan?"

Toshiro ragu bahkan sebelum ia menjawab.

"…Bicara sebelum aku semakin marah" Ichigo berbicara pelan, hampir tidak terdengar.

'Aku bicara pun, kau akan tetap marah' Pikir Toshiro.

*PLAKK!*

Toshiro terjerembab ke lantai karena kuatnya tamparan Ichigo. Dengan kejam Ichigo mencengkram leher Toshiro. Menghantamkan Toshiro ke Dinding, mencekiknya. Mata Toshiro membelalak ngeri. Tangannya menggapai-gapai cekikan Ichigo, berusaha melepaskan udara di tenggorokannya.

"Aku mencoba bersabar menghadapimu, aku berusaha membuatmu senang. Tapi, kau lebih senang berbicara dengan lelaki lain daripada aku, Kekasihmu. Cukup sudah. Kau memang harus selalu diberi pelajaran agar kau jera!" Ichigo berteriak meluapkan kemarahan dan kekecewaannya.

Cekikannya semakin erat di leher Toshiro. Toshiro meronta, mengerahkan seluruh tenaganya yang ada. Kakinya menendang-nendang Ichigo. Air mata menetes di pipi Toshiro. Dan akhirnya ia kehabisan tenaga. Pandangannya mengabur, ia hanya dapat melihat samar-samar warna Oranye rambut Ichigo dan wajah Ichigo yang Dingin. Ia merasakan tangannya mati rasa, terkulai begitu saja di pangkuannya yang juga mati rasa. Ia pikir ia mati. Takkan ada lagi keberuntungan yang menolongnya. Sama sekali tak ada yang bisa menolongnya sekarang. Tapi, ia tak berhenti berharap.

Ia hampir menutup matanya ketika Ichigo melepaskan tangannya. Membiarkan Toshiro terbatuk-batuk, bernafas beberapa detik. Seolah menikmati ekspresi sekarat Toshiro. Tanpa mengindahkan Toshiro yang hampir kehilangan kesadaran, Ichigo menyeret Toshiro dengan menarik rambutnya ke dalam kamar Ichigo. Sepanjang perjalanan Toshiro merintih kesakitan, membuat Ichigo semakin haus akan penderitaan Toshiro.

Setelah sampai disamping kasur, Ichigo mengangkat Toshiro ke atasnya. Ia memperhatikan Toshiro yang berantakan dari atas ke bawah.

"Sungguh, Kau mahluk terindah yang pernah ku jumpai" Ichigo tersenyum licik.

Ichigo mengeluarkan pisau lipat dari kantung celananya. Menekan pisau itu ke pipi Toshiro hingga darah menetes dari luka yang terbentuk.

"Ukh.." Toshiro memejamkan matanya karena perih.

Pisau itu bergerak ke leher putih Toshiro.

"Kau tidak mau aku membunuhmu kan?" Ichigo mentatap Toshiro penuh nafsu.

Toshiro menggeleng pelan

"Maka, berteriaklah sampai aku puas" Ichigo tertawa kejam melihat Toshiro yang tidak berdaya di hadapannya.

Dengan sekali goresan pisau, baju Toshiro bagian atas dengan mudahnya dirobek Ichigo. Nafas Toshiro memburu. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Bagian atas tubuh Toshiro telah terekspos.

"A..apa yang, akan kau lakukan?" Suara Toshiro seperti tercekik.

"Sudah jelas kan? Aku akan memperkosamu 'Disini' dikamarku" Ichigo memperjelasnya.

Belum sempat Toshiro bangkit dari kasur, Ichigo membungkam Toshiro dengan Ciuman penuh nafsu.

"Ngh..mmh.." Toshiro Mengerang.

Tangan Toshiro berusaha mendorong badan Ichigo yang menindihnya. Karena ia tahu ia takkan kuat, Toshiro menggigit bibir Ichigo sekuat mungkin hingga darah Ichigo tertinggal di mengerang, menarik badannya. Matanya menatap Toshiro marah.

*PLAKK!*

Toshiro mendapatkan tamparan yang sama kuatnya seperti tamparan sebelumnya. Pipi Toshiro memerah, tampak bekas tamparan keras disana. Toshiro menggigit bibir bawahnya agar tidak mengerang. Ia tahu Ichigo senang jika ia kesakitan. Dengan kejam Ichigo menjambak rambut Toshiro ke sekian kalinya.

"DASAR JALANG! KAU SUDAH MENUMPANG DI RUMAHKU! DAN KAU HARUS MEMBAYARNYA!" Ichigo berteriak tepat di telinga Toshiro.

Hati Toshiro seolah diiris mendengar perkataan Ichigo yang menyakitkan. Mulanya ia tahu Ichigo akan menyakitinya lagi. Seandainya ia sudah pergi dari kemarin, pasti hal ini takkan terjadi.

Ichigo mencumbui Toshiro lagi dengan penuh nafsu. Sementara Toshiro hanya bisa berdoa agar hal ini segera berakhir. Ichigo membuat 'kissmark' di leher putih Toshiro. Ia ingin mengklaim bahwa Toshiro adalah miliknya. Tangan Ichigo meraba tubuh Toshiro, merasakan kelembutannya dan lekuk tubuh yang amat sesuai ditangannya. Begitu mungil dan menggoda.

Jari Ichigo menyentuh nipple Toshiro yang sedikit membulat, memainkannya, berusaha membuat Toshiro terangsang dengan setiap sentuhan yang ada. Ichigo belum juga mendengar erangan ataupun desahan Toshiro dari tadi. Bibir Ichigo sampai di dada Toshiro. Dengan lembut Ichigo menjilat nipple Toshiro. Sementara tangannya yang satunya digunakan untuk memainkan nipple Toshiro yang lain.

Nafas Toshiro semakin memburu. Ia tidak mau bersuara sama sekali, ia takut terhanyut ke dalam permainan Ichigo. Meskipun nyatanya ia telah terhanyut cukup jauh.

Tiba-tiba Toshiro merasakan tangan Ichigo meraba kemaluannya. Kepanikan melanda Toshiro, ia tidak ingin diperkosa oleh Ichigo.

"J-Jangan! Hentikan!" Toshiro berteriak.

Namun Ichigo tidak memperdulikannya sama sekali. Ichigo membuka resleting celana Jeans Toshiro, menariknya sampai lepas. Hanya celana Boxer yang masih melekat di tubuh Toshiro. Menunggu untuk dilepaskan. Dan dengan sekali tarik, celana itu terlepas begitu saja. Sekarang hanya tersisa Toshiro yang terbaring tanpa sehelai benang pun dengan tubuh seputih susu. Wajah Toshiro memerah seketika saat Ichigo memandanginya penuh gairah.

"Wow, mengapa aku tak menidurimu dari dulu ya?" Gumam Ichigo.

Tak sepatah katapun keluar dari mulut Toshiro, saat ini ia sedang sibuk menutupi badannya yang telanjang dengan selembar selimut tipis milik Ichigo. Dengan gemas Ichigo merebut selimut itu, melemparnya ke sembarang arah. Ichigo menindih tubuh Toshiro, mencium telinganya dan menjilatnya lembut. Toshiro mengejang kaget. Pertahanan Toshiro mulai goyah. Ichigo telah menemukan titik sensitifnya. Dan tanpa ragu Ichigo melakukan hal itu berulang-ulang. Sementara tangan Ichigo memainkan kemaluan kecil Toshiro di bawah sana.

"Ha..ah..Ichigo.."

Bingo! Akhirnya Toshiro menyerah padanya. Mulai detik ini Ichigo semakin percaya diri menggerayangi Tubuh mungil Toshiro.

".. .. Ku..mo..hon..Aah.." Toshiro mengerang seiring gerak tangan Ichigo yang naik turun di kemaluannya.

Ichigo semakin penasaran. Ia ingin sekali melihat Toshiro klimaks. Tapi, tidak saat ini.

"..Ah..Ahn..haah..!" Klimaks Toshiro sudah diujung tanduk, namun Ichigo sengaja menghentikan tangannya.

"Ah..? Apa..yang..-Aah!" Toshiro merasakan rasa sakit pada hole nya.

Rupanya Ichigo memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang Toshiro. Toshiro dapat merasakan sentakan yang kasar di hole nya dan sangat menyakitkan. Ichigo menikmati ekspresi kesakitan Toshiro dengan puas. Tapi, ia ingin Toshiro merasakan yang lebih lagi.

".. ! I..chigo! Aakh!" Ichigo memasukkan jarinya yang kedua tanpa pelumas.

Toshiro terus berteriak dan memekik karena lubangnya terasa panas seolah hampir terobek. Ia sudah tidak perduli lagi jika Ichigo akan menikmati semua teriakan kesakitannya. Kemudian, Ichigo memasukkan jarinya yang ketiga. Menggerakkan ketiga jarinya di dalam lubang Toshiro, memaju mundurkannya agar Toshiro semakin kesakitan. Air mata menetes dari mata Toshiro yang terpejam menahan sakit. Ia berharap ini semua tidak pernah terjadi.

"..Ssh, ayolah.. Kau berisik sekali manis?" Ichigo meledek di sela teriakan Toshiro. Meski Ichigo tak yakin Toshiro mendengarkan.

Hampir 3 menit Ichigo memaju mundurkan jarinya. Dan teriakan Toshiro sedikit demi sedikit berkurang karena rasa sakit yang berubah menjadi ganjil setiap kalinya.

"..ah..ngh.."

Yap, Ichigo menemukan Titik nikmat Toshiro untuk kedua kalinya! Ichigo menyentuh titik tadi untuk memastikan.

"..Ahn..aah!" Benar, Toshiro mendesah meski ia terlihat sedikit kaget.

Ichigo Menyeringai senang. Matanya menatap Toshiro seperti serigala. Dada Toshiro naik turun, nafasnya semakin memburu karena tegang. Dengan cepat Ichigo menarik jarinya, bangun dan melepaskan seluruh pakaiannya tepat di depan mata Toshiro. Toshiro terbelalak melihat kemaluan Ichigo dan badan six-pack nya. Wajahnya memerah karena malu mendapati Ichigo, baru kali ini ia melihat Ichigo Tak berpakaian sama sekali. Tiba-tiba Ichigo menindih badan Toshiro yang berbaring, menatap matanya lekat-lekat. Jarak mereka hanya tersisa 3 cm hingga dapat merasakan hembusan nafas satu sama lainnya.

"Seperti yang kau mau. Aku akan membuatmu berteriak hingga kau tidak bisa berbicara padaku" Bisik Ichigo. Kedua tangannya melebarkan kaki Toshiro dan dengan satu tangan ia mengarahkan kemaluannya yang telah menegak ke lubang Toshiro.

"A..ARRGHHH! ICHI..GO!" Ichigo berhasil masuk dengan satu sentakan. Jari Toshiro mencengkram pundak Ichigo dengan kuat hingga kulit Ichigo tercakar dan mengeluarkan darah segar. Nafas Toshiro tak terkendali di bawah Ichigo. Toshiro benar-benar yakin lubang nya telah robek. Ia dapat merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari sana. Apalagi jika bukan darah? Ia bisa melihat Ichigo tersenyum puas.

Dengan keji Ichigo memaju mundurkan badannya tanpa memperdulikan Toshiro yang berteriak di bawahnya. Sampai akhir pun ia hanya akan mementingkan kehendak nafsunya.

"..Hen..tikan! Aakh! Itai Ichigo!"

Ichigo masih tak memperdulikan Toshiro

"..Ichigo..! Ahk.." Ichigo semakin mempercepat gerakannya. Ia hampir mencapai puncak. Suara Toshiro semakin tercekat.

Akhirnya, Ichigo merasakan badannya mengejang. Dan dengan satu kali sentakan ia mengerang. Ia mencapai Klimaks. Ichigo memeluk tubuh mungil kekasihnya dengan erat. Seketika pandangannya menjadi putih. Ia dapat merasakan kenikmatan lebih bersama Toshiro daripada dengan wanita-wanita yang pernah ia tiduri sebelumnya.

Ichigo dapat merasakan spermanya memenuhi lubang Toshiro. Ia terengah-engah setelah kenikamatan tiada tara yang dirasakannya barusan. Kemudian Ichigo mengeluarkan kemaluannya dari lubang Toshiro. Tampak Sperma bercampur darah menetes dari sana. Sejenak Ichigo memeluk Toshiro dalam diam.

"Toshiro?" Ichigo memanggil

Namun Toshiro tidak bergeming

Cepat-cepat Ichigo bangkit. Mendapati Toshiro yang matanya terpejam. Wajah Toshiro yang seputih susu menjadi pucat seketika. Butiran keringat memenuhi dahinya. Ichigo tau ada sesuatu yang tidak beres.

"Bangun!" Ichigo menampar Toshiro dengan kencang. Toshiro tetap tidak sadar.

"Toshiro?!" Dengan kasar ia mengguncang pundak kecil Toshiro.

Ichigo menempelkan telinganya ke dada Toshiro. Jantungnya masih berdetak, meski sangat lambat dan pelan. Toshiro hanya pingsan. Ichigo tak terlalu khawatir dengan keadaan Toshiro.

Dengan cuek Ichigo menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Lalu tertidur karena kelelahan.

Uhuhu… T^T

Ichigo kejam sekali ya pada Toshiro,

Tapi, ini adalah FF Yadong pertamaku yang sukses! Hahaha ^-^

Apa anda suka dengan kelanjutan ceritanya? Hmm silahkan Review!

Kurasa aku akan memperbaiki adegan-adegan 18++ dengan lebih baik lagi untuk pembaca setia dan pembaca tidak setia ku

Terimakasih sudah membaca..

Jika Review dari pembaca sekalian mendukungku untuk membuat sekuelnya, Aku akan Buat dengan senang hati..

Arigato Gozaimasu!

#Shirosindy20 ;)