Cahaya matahari merangsek masuk lewat celah gorden berwarna coklat karamel, menilik bibir pucat setengah terbuka seorang pria yang tengah terlelap –hanyut terbawa mimpi tengah malam –di sofa ruang keluarga.
Nafas teratur dan mendengkur halus, Levi bak putri tidur yang siap dapat kecupan di bibir perawannya. Tangannya yang setengah terkepal menelusup ke sisi kepala persis kucing. Dengan selimut berwarna hijau dengan gambar sayap kebebasan dari cuplikan film attack to titan menyelubungi perut hingga dada.
Tenang dan hening
Tak lama pintu yang terkunci berhasil di bobol –dengan kunci cadangan –seorang duda tamvan memasuki koridor, tampilan luar bak kapten Amerika baru pulang kampung mencuri perhatian. Suasana sepi membuatnya curiga. Perlahan melenggang menuju ruang keluarga
Ia Berjingkat bak maling jemuran, Erwin mendekati sosok yang tertidur di sofa ruang keluarga.
Manik biru lautnya berkilat saat melihat sosok guru muda yang sedang dalam mode lengah. Celingak-celinguk lihat keadaan –dan keadaan aman sentosa – ia pikir Eren akan berlari histeris sambil berteriak 'dimana oleh-olehnya papa?' atau cengiran anak bersurai almond itu sambil bermain dengan 'sensei privatnya'.
Tapi suasana aman terkendali. Tak ada cengiran, cengengesan, atau teriakan kolosal yang dapat memecahkan jendela rumah.
Secarik catatan tertinggal di atas meja pendek persis di hadapan sofa yang di tiduri guru itu. pastilah surat wasiat –bukan –peninggalan Eren pikir si klimis tersebut. Benar saja isinya adalah pesan singkat bahwa ia akan menunaikan tugas sebagai penjaga gawang di pertandingan bola anak komplek sebelah.
Erwin menghela nafas, sebenarnya ia bangga dengan anaknya hanya saja kebiasaan sang anak yang suka menantang belum juga hilang.
Abaikan cerita itu, Erwin berbalik dan menatap lekat lekat sosok guru yang menggaet hati. Di sini Levi lah malingnya, yang dengan seenak pantat semoknya menyabet hatinya sampai kebayang ke dalam mimpi.
Melepaskan headset yang masih tersambung dengan telinga Levi, pemutar musik memainkan lantunan lagu s-AVE dimatikan.
Sunyi dan tenang
Erwin menundukan kepala, pipinya bersemu membayangkan ia tidak pernah melakukan hal ini pada wanita –maupun pria –lain. Hanji zoe membayang di ambang pikiran, bibirnya terhenti di tengah jalan bak di tilang polisi berkacamata hitam.
Erwin ganti haluan mencium kening si kulit pucat. Berharap si objek tidak menyadarinya.
Sodara-sodara inilah Erwin yang tak bisa move on.
.
.
.
Choice with no Regret
chp 3: Duda Klimis dan Guru Perjaka
.
Shingeki No Kyojin Hajime Isayama
Saya di bagian meminjam karakter doang...
.
Warn: ooc, typos, and the others
.
.
Enjoy
.
.
Jam dinding berdetak menunjukan pukul sepuluh lebih lima. Erwin kelar mandi sambil sibuk mengancingi kemejanya, Levi lewat, menuju kulkas dan meneguk air. Tak ada salam sama sekali.
Jeda hening sejenak, "mau makan?" Tangan kanan mengepal dua butir telur Levi sedikit menoleh menunggu jawaban. Erwin senyam-senyum bak penjahat kolor perjaka muda sebelum menyetujui setelahnya.
Levi dengan sigap mengambil segala macam peralatan dapur dari mangkok, garpu hingga talenan. Bahan makanan segar tertata rapi di atas meja dapur, tinggal menunggu mereka bertransformasi menjadi makanan matang yang enak di lidah dan mengenyangkan perut.
Erwin tak enak hanya duduk diam sambil menonton tapi sayangnya ia tak tau harus membantu apa. Saat di tanya bisakah dia membantu, Levi menjawab "bantulah akau cuci piring dan bebersih rumah, tenagamu bisa di pakai." Erwin speechless. Rencananay ia gak mau terlibat sama yang itu.
Tak butuh waktu lama daun seledri telah terpotong-potong, tercampur dengan telur. Kemampuan memasak ala cheff internasional dengan kecepatan cahaya –abaikan menu masakannya yang hanya telur dadar –Erwin terpukau dengan keahlian memotongnya, kiranya mirip dengan penyembelih kerbau.
Jujur dalam waktu kurang lebih setengah jam tersebut godaan meminang Levi menjadi istri makin tinggi presentasenya. Apa lagi kenyataan bahwa Levi masih perjaka alias tak berpengalaman alias masih suci, masih polos –di luar fakta bahwa mulutnya kasar.
Tapi yang terburuk adalah ia tak bisa move on. Persis seperti anak muda zaman sekarang yang ditinggal pacar. Bedanya Erwin paling anti mutar lagu galau untuk ngefeels, malahan ia membikin suasana bahagia di sekitarnya sekalipun auranya mencekam.
Erwin masih ingat dulu saat pulang dari pemakaman, Eren yang biasa cengeng kehabisan air mata di depan pusara sang ibu, sementara ia menggantikan sang anak dengan menangis diam-diam. Dan sesampainya di rumah ia memutar lagu Thunderclap yang notabene adalah musik trancecore.
Kembali pada kenyataan hidup. Erwin yang cemburu, galau katanya.
Ia senang guru muda tersebut bersamanya tapi sayang yang di bicarakan sang guru perjaka satu ini hanya Eren saja. Sedikit-sedikit Eren, intinya guru ini suka sama daun muda –tapi bukan tunas –artinya dia agak pedofil.
Sepertinya Eren berhasil menanamkan hipnotis atau sesuatu pada guru ini, jadinya Levi mengingat bocah satu itu terus.
Gagah gentleman kalah dari si konyol imut tersebut. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke tembok untuk antisipasi ingat masalah Hanji semasa hidup.
.
Sapu di tangan kiri, entah kapan Levi telah merubah kostum. Apakah ia meniru supermen yang tinggal copot-copot saja? Atau ia pernah kesambar petir sehingga bisa menjadi secepat flash? Hanya tuhan dan Levi seorang yang tau.
"oi, siapkan peralatan. Kita akan membersihkan rumah."
Satu kalimat sederhana tapi sukses merubah dunia Erwin. Ia tak menyangka bahwa ia malah harus membersihkan rumah yang sudah bersih dan tidak kaya akan debu macam rumahnya.
Jeda sunyi sejenak. Kesungguhan terlihat di mata si pemilik tinggi rata-rata anak smp akhir tahun. Kesungguhan yang misterius yang membuat kedua ulat bulu yang memiliki nama lain 'alis Erwin' menukik bingung.
"Erwin..."
"ok. Mulai dari gudang 'kan?"
"tepat!"
Maka hari bersih-bersih di mulai.
.
17.24 p.m
Eren diam-diam memasuki pekarangan rumah. Berusaha sebisa mungkin tidak membuat suara-suara yang bisa menyebabkannya pulang ke akhirat. Pasalnya Eren telah melewati perjanjian waktu pulang, ia berjanji akan pulang pukul lima tepat tapi sayang ajakan Mikasa membelikannya es krim kemenangan membuatnya melenceng dari jadwal yang di tetapkan.
Eren bahkan tak tau bagai mana Levi bisa menjelma menjadi setan hanya gara-gara ia tidak menepati janji.
Sebenarnya, bisa saja Eren bilang bahwa ada urusan mendadak atau apalah yang bisa membuatnya selamat dari amukan macan hitam –sekarang Eren pikir "emangnya ada yang namanya macan hitam?" –seperti Levi.
Berjingkat, Eren berusaha sekuat tenaga agar tidak membuat sedikit pun suara. Pintu depan di tutup dengan hati-hati, lanjut berjingkat bak astronot yang baru mendaratkan kakinya di bulan. Perjalanan tidak jauh lagi, sebentar lagi ia sudah sampai di depan pintu kamarnya, sebelum sesuatu menarik penglihatannya di balik pintu kamar sang ayah.
.
"hik..." Ini sudah cegukan yang ke berapa belas kali, tapi Levi belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti minum. Erwin yang salah, tidak seharusnya ia mengajak Levi minum-minum. Sebenarnya Erwin hanya mau iseng mengajak si guru berbadan minimalis itu minum minuman lain selain air putih dan susu –mengingat Levi tak bertambah tinggi sekalipun minum susu – sempat di tolak –sedih juga sih –tapi tak lama Levi menyetujui hal itu.
Nile menatap pasangan tak beres di sampingnya, menepuk punggung Levi pelan –maksudnya sekadar tau ia masih sadar apa tidak –bukannya sadar guru tersebut tumbang ke tanah. Erwin cengo, tak lupa Nile ikutan cengo sebelum meneguk kembali minuman di gelasnya.
"bawa pulang sana, anak orang tuh..." Mike yang jarang bicara ikutan bicara setelah melihat Levi mendengkur. Tatapan tajam Erwin terima dari kedua temannya. Ia mengaku kalah dan membopong levi ke rumah.
.
Levi di baringkan di kasur pria klimis tersebut. Kalau di lihat Levi pesis penari erotis yang hobi bergelayut di tiang, bedanya Levi suka bergelayut di lengan Erwin.
Erwin paksa lepas cengkraman kucing binal versi Levi dari lengannya –terlepas memang tapi tak lama Levi kembali memeluk lengan Erwin.
Dengan usaha seorang maling ingin lepas dari kejaran para penggrebegnya, Erwin sekuat tenaga menjauhkan tangan Levi dari lengannya. Berujung ia nyaris menimpa tubuh yang lebih kecil darinya tepat diatas ranjang.
Jantung si klimis berdegup keras, wajah Levi terlalu dekat, sampai ia bisa merasakan deru nafas lembut bau alkohol dari nafasnya. Tuhan emang paling gak suka kalau si klimis ini belum mentok tembok, Erwin serius ingin langsung cipok sana sini saat melihat wajah guru tersebut.
Pipi bersemu merah sampai ke belakang telinga, bibir tipis yang minta di sosor, serta suara rendah yang menggelitik pendengarnya. Levi dalam mode lengah dan menggoda menyebabkan bagian bawah Erwin menegang –tapi serius ia tak tega merengut kepolosan seorang perjaka secara curang, ia ingin face to face. Apalagi ini guru anaknya sendiri –bisa gawat kalau Levi mogok kerja, bisa say good bye dia.
Levi menggesek pahanya pada lutut Erwin sedikit desahan seduktif yang sukses membuat Erwin harus kembali ke sekolah untuk mempelajari tips dasar bercinta dari teman mesumnya, Nile.
"mnh" Levi mengalungkan lengannya pada leher Erwin saat lutut si klimis tak sengaja menyerempet bagian privasinya. Sekarang Erwin terjebak, kalau bisa ia ingin telpon Mike, Nile, atau Nifa untuk membantunya keluar dari rengkuhan lengan Levi.
Antara panas karena udara atau karena kegiatan nyaris menyimpang yang mereka lakukan. Erwin hanya bisa diam saat guru muda setengah mesum –saat mabuk –tersebut asik sendiri
Erwin hanya diam sampai si surai hitam tersebut kelelahan dan tertidur.
"Tuhan, terima kasih." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Erwin. Entah lega entah senang melihat wajah erotis Levi, perasaanya campur aduk kala itu.
Baru saja pak klimis menghela nafas lega campur gembira selanjutnya jantungnya nyaris lompat dari tempatnya saat Eren muncul dari kolong tempat tidur sambil teriak "kuchiyose no jutsu!" dengan efek suara asap buatan sendiri yang sukses membuat hujan iler.
Hening sejenak, suara dengkuran Levi memenuhi ruangan.
"papa tadi ngapain?" Anak kecil dengan wajah polos dan pertanyaan yang tajam bagai ujung garpu. Si ayah yang tau maksudnya, musti berpikir dua kali untuk menjawab.
Seperti kuis adu kepintaran, Erwin berusaha mengelak dan tetap menjawab pertanyaan sang anak. Hening sejenak, "itu, papa mijit guru kamu. Katanya dia keseleo tadi..." sang dewa alasan beraksi. Jawaban yang di berikan malah membuat Eren makin curiga, apalah guna suara desahan erotik yang sempat mangkreng di gendang telinga tadi kalau Cuma di pijat?
Awalnya Eren hanya diam, terpaku masang muka orang berpikir.
"papa gak bohong?" Eren mengangkat kedua tangannya ke udara membentuk kode tanda kutip dengan kedua jari mungilnya. Erwin smith dalam masalah, ia hanya berpikir apa yang harus ia katakan setelahnya –tak mungkin dia ngaku –ia segera menggali ke dalam otaknya, mencoba menemukan rumus berbohong paling ampuh dari perpustakaan terbaik di seluruh kota ini.
"kamu gak percaya sama papa?" Sekarang gantian Eren yang skak. Ia akan kalah bila sang ayah mengeluarkan jurus andalannya –kamu percaya gak sama papa –Eren hanya diam dan tutup mulut.
"E...Eren percaya kok..." Maka dengan wajah sedikit kecewa Eren berhasil di giring menuju ranjang tidurnya.
.
.
Jam kukuk di dinding berkoar untuk yang ke sepuluh kalinya. Levi mulai menampakan kedua iris matanya, mengumpulkan pecahan kesadaran yang berserakan layaknya kolor bekas cucian.
Yang pertama kali ia lihat adalah foto seorang wanita berambut coklat berkacamata dengan rambut tergerai. Levi berpikir ia benar seseorang, tak lama ia baru menyadari bingkai figura di sisi foto.
Levi sadar bahwa seseorang itu orang yang spesial. Siapa yang mau repot repot melukis foto bila itu bukan sesuatu yang spesial.
Levi sama sekali tidak menyadari sekitarnya sebelum ia berbalik dan menemukan punggung kekar orang lain. Reflek bangkit dari posisi dan berdiri di sisi ranjang. Ia biasanya tertidur di sisi seorang bocah lima tahunan bersurai lebut bulu anjing sekarang tidur bersama seorang lelaki lain.
Ia belum mau mengakhiri masa perjakanya
Yang di sebelah merasa terganggu dangan decit pegas pada ranjang. Menoleh kebelakang dan menyaksikan Levi menatapnya seperti seorang perjaka yang baru di tiduri –tapi suer, Erwin gak melakukan apa pun, sumpah DEMI-KIAN!
"Levi, kau belum pakai celana ya..." Lupa upgrade otak di pagi hari, Erwin main tunjuk sepasang paha jenjang nan mulus tak tertutup sehelai benang kecuali kolor abu-abu di balik kemeja longgar yang di kenakan.
Levi menoleh bajunya. Ini bukan kemeja hitam yang dia kenakan kemarin malam, ukurannya juga lebih besar dari sebelumnya, dan dimana celananya? Hening mengisi sejenak sebelum Levi menyerang Erwin dengan jurus 'anti-rape serangan kucing gila masih perjaka'. Keduanya heboh berguling di ranjang, Erwin berusaha menghindari setiap 'patokan' Levi , sementara yang satunya lagi heboh sendiri melancarkan jurus.
"semalam kau muntah gara-gara mabuk, jadi aku mengganti bajumu. Aku janji lain kali gak akan mengajakmu minum-minum lagi!" Erwin menahan kedua telapak tangan guru muda tersebut. Levi meronta
"setidaknya pakaikan aku celana!"
"hah?! Kau sendiri yang berontak tak mau pakai celana semalam!"
"segitunya?"
"IYA!"
Keduanya tenggelam dalam keheningan pagi. Absurd rupanya kalau bertengkar hanya karena itu. Erwin tak mau ketahuan ambil senyum dalam pagi aneh tersebut. Erwin berusaha menahan tawa, tapi lepas juga akhirnya.
Guru perjaka yang tak terima di raep memukul keras pundak si duda.
"kenapa melepas celanaku?"
"kalau mau tidur dengan celana bernoda muntahan silakan saja..." Menarik nafas sejenak. Terlalu banyak tertawa juga tak bagus, perutnya bisa sakit.
"oh, baguslah" Jawabannya tak cocok dengan harapan. Keduanya segera bersiap sendiri-sendiri saat menyadari hari sudah siang dan mereka belum menyiapkan sarapan.
Keduanya tak meyadari mereka di perhatikan dari celah pintu oleh seseorang.
.
.
.
To be continued
.
.
.
a/n: halo, halo!
Updatenya lama karena saya harus menghadapi segunung tugas dan proyek tahunan sekolah. Tapi saya usahakan akan saya lanjutkan sampai titik akhir. Chapter ini temanya Eruri tapi belom berasa ya? Sori deh –masih kagok –akan di bagusin next chap.
Last Review? ^^
