If you don't like this fanfic, you can out from this page.
Not like don't read. Oke? :)
.
.
.
FANFIC RE:WRITE. BASSIC FROM MY ORIGINAL FICTION STORY.
The World Around Us
Original story by: Me
Kris Wu x Huang Zi Tao
With support cast, and also my original fiction character here.
Drama / Romance / Slice of Life / Action
Rating: T (in the beginning)
Beware with the typo(s)!
.
.
.
Beberapa menit sebelumnya...
"Mobil merah itu masih mengikuti Bos"
Mengangkat wajahnya dari tablet pc di tangannya, orb beku milik pria bermarga Wu itu kini mengarah pada kaca spion dalam yang tepat berada di bagian tengah mobil. Datar seperti biasa, tak sedikitpun menunjukkan emosi saat melihat sebuah mobil berwarna merah yang berada di belakang mobilnya dengan jarak sekitar 20 meter. Sedikitpun tak terlihat terganggu atau curiga, dan cukup membuat sopir sekaligus bawahannya menerka bingung harus berbuat apa.
"Biarkan saja. Ubah tujuan, ke restoran terdekat" titahnya kembali menundukkan kepala, berkutat dengan gadget dengan logo apel. Dan di patuhi secara singkat oleh sang bawahan.
Mobil pun melaju lebih cepat, meliuk-liuk diantara banyaknya kendaraan di jalanan yang ramai, pria Wu itu tak terusik sedikitpun meski harus menerima suara memekakan telinga dari klakson beberapa mobil yang memprotes cara sopirnya mengemudi. Jari telunjuknya yang panjang kurus masih bermain-main diatas layar sentuh tabletnya, sesekali rahangnya mengeras dengan dahi berkerut samar ketika menemukan sesuatu entah apa, dan kemudian ia beralih pada tampilan lain yang membuatnya kembali berekspresi seperti biasa.
"Kita sampai Bos"
Masih mengatupkan bibir tebalnya, ia mematikan tablet pc miliknya, merogoh saku depan jasnya mengambil sebuah kacamata hitam, dan memakainya dengan gerakan arogan. Bawahannya telah bergerak cepat turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya. Tak harus memandang ke sekitar tempat mobilnya di parkir, ia melangkahkan kaki panjangnya memutari mobil menuju sebuah restauran minimalis dan sempat berpapasan dengan seorang wanifa cantik dengan coat merah gelap yang baru saja keluar dari restauran tersebut.
.
.
Membuka pintu restauran dan masuk, bukannya segera memilih meja untuk bersantap pagi, pria minim ekspresi itu hanya berdi disana sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh restauran, hingga mata tajamnya melihat sesosok pria bercelana ketat berwarna merah tengah melenggang kearah toilet restauran, membuatnya melepas kacamata yamg bertenger di tulang hidungnya.
"Tetap disini" perintahnya, seraya memberikan kacamata miliknya pada bawahannya yang berdiri tegap di belakang tubuhnya. Pria berkebangsaan Jepang itu menundukkan kepala, menerima kacamata sang majikan.
"Baik Bos"
Sang Wu kembali melangkahkan kaki panjangnya melewati deretan meja, dengan membawa tablet pc di tangan kanannya, sebelah tangannya yang lain tersimpan di dalam saku celana. Berjalan kearah toilet terletak, menutup pintunya, dan jarinya bergerak otomatis mengunci pintu bercat coklat pohon tersebut. Sebuah kebiasaan sebenarnya. Dan baru saha ia berbalik hendak menuju wastafel, matanya yang penuh intimidasi nan tajam di suguhi pemandangan tak terduga.
Bongkahan bokong bulat terlapisi celana merah ketat menungging tak jauh dari tempatnya berdiri. Pemilik bokong indah itu sepertinya tak menyadari jika kegiatannya menyimpulkan tali sneakers yang di kenakannya, membuat orang asing seperti dirinya di suguhi pemandangan indah yang pantang untuk di tolak. Hingga Wu memutuskan untuk mendekat, dan berdiri tepat di belakang pemilik bokong indah itu.
NYUT
Satu tangan besarnya mendarat tepat di atas salah satu bulatan layaknya apel raksasa itu. Meremasnya kasar, dan menekannya lembut sebelum si pemilik berteriak histeris dan menepis tangannya kasar.
"F*ck! What the hell are you doing!?" pria muda korban peremasan bokong itu meradang dengan nafas kembang kempis. Menatap Wu berang dengan manik birunya yang indah di dalam naungan bentuk mata yang runcing menyipit.
Wu hanya mengangkat sebelah alisnya melihat wajah oriental yang begitu menarik di hadapannya. Hingga kerutan samar tampak menghiasi dahi lebarnya, kemudian lenyap di gantikan tatapan intens yang ia tujukan pada pria muda di hadapannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian kembali menatap si pemuda yang terasa familiar di dalam memori otaknya. Wajah menarik perpaduan 2 karakter yang unik namun mempesona itu seperti pernah di lihatnya belum lama ini. Terlebih bentuk bibirnya yang mungil dan segar berbentuk seperti bibir kucing yang menggemaskan.
Dan hal itu membuatnya semakin berjalan mendekat, membuat si korban pelecehan bergerak mundur dengan tatapan waspada. Menyesalkan tak lebih dulu meletakkan tablet pc yang ada di tangan kanannya, Wu tetap mengarahkan kaki panjangnya untuk mempertipis jarak.
"Stop it! Don't ever close more than this!" pria muda itu mengulurkan tangan kanannya ke depan, bermaksud untuk mencegah Wu lebib dekat. Tapi pria tinggi itu seolah tuli, karena tak sedikitpun merespon.
"I said stop! Or i call police!" ancamnya tak main-main.
Langkah Wu terhenti. Menatap datar sang pria muda yang menatapnya penuh rasa takut, menggulirkan tatapannya kearah satu tangan si korban yang masih memegangi aset berharganya yang baru saha di remasnya.
"Huang Edison. Aku baru saja melihat banyak penampakanmu di hampir sepanjang jalan menuju restauran, dan kita bertemu di dalam toilet. Tidakkah kau berpikir ini takdir?" suara hushkynya mengalun lancar mengucapkan lebih dari 2-5 kata.
Uh oh, apa yang sedang terjadi? Sangat jarang bagi Wu berkata panjang lebar selain membicarakan bisnis.
EdisonーTaoーyang menjadi korban pelecehan pagi ini memgernyitkan dahinya dalam mendengar kalimat ajaib dari seorang pria yang tak di kenalnya itu.
"Huh? Apa katamu? Takdir? Oh benar sekali, ini takdir yang kejam bahwa seseorang baru saja meremas bokong ku. You just harassing me moron!" amuknya benar-benar tak tertahankan.
Wu mengangkat tangan kanannya yang tadi ia gunakan untuk meremas bokong pria menarik di hadapannya itu. "Aku hanya melakukan apa yang ingin ku lakukan"
Sungguh, dengan wajah datar dan intonasi yang sama persis, membuat lelaki tinggi super tampan itu menjelma menjadi manusia paling amat sangat menyebalkan sedunia. Bagaimana bisa ia bicara sedatar itu tanpa rasa bersalah sedikit pun?!
"Dan kau pikir kau bisa meremas bokongku semaumu!?"
"Aku selalu melakukan apapun yang ku inginkan. Dan aku selalu bisa memilikinya"
Uh oh, Tao bisa benar-benar meledak saat ini.
"Oh gosh! Aku akan benar-benar menelpon Polisi sekarang juga!"
Wu masih datar tak berekspresi, memasukkan tangan kanannya ke dalam saku tanpa melepaskan tatapannya dari sang model semampai yang kini tengah merogoh saku depan celana ketatnya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna rose pink. Tak sedikitpun rasa takut saat sang model mulai mengetik kombinasi nomor telepon Polisi. Bosan dengan hal yang menurutnya sia-sia, ia pun kembali bergerak mendekat, tak lupa meletakkan tablet pc yang sejak awal masuk ke toilet telah berpindah ke tangan kiri diatas urinoir yang terdapat ruang kecil untuk meletakkan sesuatu, dan mendorong lembut bahu Tao hingga pria yang tingginya hanga berbeda beberapa senti darinya itu mengangkat wajahnya cepat.
"Apa kau tuli? Ku bilang jangan dekat-dekat!" ujarnya tak suka. Mendorong dada bidang Wu namun pria itu tak bergeser sedikit pun.
Oh ayolah, bahkan dirinya belum sempat menghubungi Polisi!
Dan dengan tidak sopannya Wu membungkam bibir imut yang berwarna merah muda alami itu dengan tangan kanannya, seraya mendekatkan wajahnya nyaris mempersatukan ujung hidung mereka. Membuat Tao membeku dengan mata berkedip-kedip lucu.
"Pingjing qin ai de, bie haipa" (Tenanglah sayang, jangan takut) suaranya begitu pelan dengan suara yang dalam dan serak mampu meremangkan bulu-bulu halus di tubuh Tao. Juga jangan lupakan mata tajamnya yang penuh intimidasi.
Tao meletakkan satu tangannya di atas tangan besar Wu yang membungkam mulutnya bermaksud melepaskan tangan hangat itu, tapi yang ada pria yang lebih tinggi darinya itu malah meraih pinggulnya dengan tangannya yang bebas hingga dada mereka bersentuhan. Ia pun refleks menahan bahu pria itu dengan tubuh yang menegang.
Mata biru yang indah itu melebar cantik, meski terlihat takut dan juga seolah bertanya 'Kau berbahasa China?'
"Huang, jelas itu nama China. Dan kau tahu siapa aku Huang?"
Tao menggelengkan kepalanya pelan, dan matanya tak bisa berpaling dari terkaman orb beku pria di hadapannya meski ia ingin.
"Kau tidak perlu tahu"
Sang model menyipitkan matanya kesal, kembali memegang tangan besar Wu yang membungkam mulutnya dan kini dapat dengan mudah menepis tangan yang sudah kurang ajar pada salah satu anggota tubuhnya itu. Dan Wu memang tidak keberatan akan hal itu, karena ia dapat meletakkan kedua tangannya di aset berharga sang model yang tadi telah di cicipi oleh salah satu tangannya. Meremasnya lebih keras dan merasakan tekstur kenyal bokong bulat yang menggoda itu dengan
NYUT
"WHAT THE HELL ARE YOU DOING BASTARD!?"
PLAK!
Tangan halus Tao mendarat dengan indahnya di pipi tirus Wu dengan efek suara yang cukup mengerikan. Bahkan membuat kepala sang Wu tertoleh ke samping karena kerasnya tamparan.
Melepaskan kedua tangan Kris dengan amarah yang meluap-luap, Tao berkata, "Aku akan benar-benar menuntutmu atas pasal pelecehan seksual!"
Pria tampan itu sedikitpun tak menunjukkan ekspresi sakit, hanya sedikit menggerakkan rahangnya yang terasa kaku, kemudian kembali menatap sang model yang menatap marah padanya.
"Kau berani menamparku?" desisnya berbahaya. Orb abu-abunya yang tajam kini terasa lebih menusuk.
Tao menegak ludahnya yang tercekat. Memutuskan untuk tak ambil pusing, ia mendorong tubuh pria di hadapannya menjauh dengan kasar, dan berjalan cepat melewati pria tinggi itu dengan menggigit bibir kuat. Hingga benar-benar meninggalkan Wu sendiri dengan aura mengerikan di sekeliling tubuh menjulangnya.
"Kau sudah berurusan dengan orang yang salah Huang Edison"
.
.
.
"Don't put boat race¹ like that Edi"
Pria bernama Max yang berada di belakang kamera di studio siang ini berkata cukup keras pada sang model yang berdiri di tengah ruangan dengan latar belakang bernuansa biru langit. Membuat beberapa staf yang berada disana tertawa kecil karena logat cockney aneh sang fotografer yang sesungguhnya ingin agar sang model pria sedikit menunjukkan senyum menawannya. Karena apa? Model kesayangannya itu tak biasanya memasang wajah di tekuk-tekuk selama sesi pemotretan di mulai.
Edison, Tao menghela nafas kecil, mengusap lehernya yang terasa dingin karena pendingin ruangan, dan membuat pasangan pemotretannya siang ini memandangnya heran.
"Break ten minuets! Edi you must repair your mood!" ujar Max cukup lantang. Yang di jawab anggukkan kepala oleh Tao.
"Ada yang mengganggumu Edi?" tanya wanita cantik berhelai hitam panjang. Tampil cantik dengan busana Burberry koleksi musim gugur untuk wanita tahun ini.
Tao menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menoleh pada Jessica yang masih menatapnya intens. "Nothing. Aku hanya teringat kesialan ku kemarin" katanya pelan. Wanita bernama lengkap Jessica Gomez menautkan alisnya.
"Kesialan apa yang membuatmu bad mood seperti ini?"
"Jika aku mengatakannya padamu, hal itu sangat tidak membantu Jess. Mood ku akan semakin buruk"
"Okay okay. Tapi kau harus mengatasi bad mood mu itu, apa kau ingin membuat pakaian indah ini jadi sia-sia?" model cantik itu tersenyum. Tao hanya menarik tipis sudut bibirnya, kemudian mengangguk samar.
Peristiwa pelecehan di dalam toilet restaurant kemarin sangat mempengaruhi suasana hati seorang supermodel Huang Zi Tao. Bahkan setelah insiden memalukan itu sesampainya di apartement, Tao benar-benar melampiaskan amarah dan rasa kesalnya pada koleksi boneka Panda di kamar dan juga pada cemilan yang tersimpan di lemari khusus. Hingga hari ini pun ia masih cukup bad mood karena peristiwa memalukan itu sama sekali tak lepas dari ingatannya. Bahkan busana Burberry yang selalu menjadi trend setter desain dan fashion show yang tengah di bawakannya untuk pemotretan pun tak bisa memperbaiki kondisi moodnya yang berantakan.
Biasanya model yang juga di juluki 'White Leopard from Asia' itu selalu bersemangat di depan kamera, terlebih kali ini Burberry mengangkat tema yang cukup unik, yaitu "Classically Bohemia". Dan seharusnya tak ada yang bisa membuat moodnya berantakan, dan model mana saja tidak akan memiliki alasan untuk hal tersebut.
Bukannya Tao tidak suka dengan pakaian yang tengah di bawakannya, sungguh ia sangat menyukai tema dari Burberry kali ini. Bagaimana tidak? Dengan motif utama paisley untuk shirt lengan panjang bernuansa maroon yang di kenakannya, menerapkan potongan laid back, dan luaran jacket ungu tua dengan style button down menambah kesan eksotik dan sensual pemakainya, tak lupa totte bag gelap yang menyempurnakan pakaiannya.
Tao tampak seperti pemuda Asia yang bergaya british dengan sangat cantik. Berkelas dan juga santai. Meski kenyataannya Tao selalu pantas membawakan busana apapun. Dan itulah yang membuat banyak desainer, fotografer, dan kritikus fashion menyukainya.
"Kita lanjutkan!" Max kembali berseru.
Jessica sempat menepuk bahu Tao pelan, memberi senyum penyemangat kemudian mundur ke belakang dan duduk untuk menunggu gilirannya tiba. Maka dengan satu tarikan nafas panjang, Tao dapat mengendalikan mood nya kali ini dan membuat pemotretan berjalan lancar. Max sebagai fotografer pun terlihat puas dan senang, dan lagi ia mendapatkan pujian akan hal itu.
Namun pemotretan tak usai sampai disana, ia harus mengganti pakaian untuk di foto bersama Jessica. Untungnya sesi kedua tak berlangsung lama, karena model wanita yang lebih senior darinya itu cukup banyak memberi masukan untuknya. Setelah pemotretan selesai, tanpa membuang waktu ia segera mengganti pakaian dengan baju casual yang di kenakannya saat datang ke studio. Yaitu kemeja putih lengan panjang yang sebagian di masukkan ke dalam ripped boyfriend jeans yang di kenakannya yang membuat aksen berantakan, santai, sekaligus seksi karena aksen ripped di bagian paha dan lutut, tak lupa kacamata milik Chrome Hearts Kufannaw II, dan Versus Versace Black Leather New Brogue Shoes yang mengkilat, semakin membuat penampilannya mempesona. Oh! Jangan lupakan juga MCM Tranaformer Bag yang memggantung di punggungnya.
"Hi Edi~"
Tao tersenyum, membalas sapaan ramah itu dengan baik pula. Sambil memainkan ponsel rose pink nya, ia berjalan menyusuri lorong gedung berlantai 5 itu, melihat kembali list pekerjaannya yang sudah siap menanti, dan menggumam kecil ketika melihat adanya beberapa agenda yang kurang di sukainya. Dan saat matanya melihat sebuah agenda pertemuan untuk produk parfum terkenal, seketika wajahnya mengerut tak suka karena mengingatkamnya pada peristiwa pelecehan yang menimpanya kemarin.
Alhasil tanpa sadar ia mengusap bokongnya dengan wajah kesal, lalu tak lama menghela nafas kecil.
"Damn" umpatnya. "Kenapa aku harus mengingat hal itu lagi? Sialan!"
Kesal karena kembali mengingat, Tao pun melepas sebelah sabuk backpack nya dan mengarahkan tas tersebut ke depan untuk membuka kantung terdepan mengambil sebuah earphone ponselnya. Kembali memakai tasnya dengan benar, ia memasang perangkat tambahan audio itu pada ponselnya, dan memilih beberapa lagu untuk di masukkan ke dalam playlist.
"It's been a long day, without you my friend... Oh, hi Sarah!" sebait lagu yang meluncur dari bibir mungilnya terputus karena menyapa seorang model wanita salah satu temannya.
Wanita berkulit gelap itu balas melambaikan tangannya, tersenyum lebar dan memberi gestur jika dirinya sedang terburu-buru. Tao mengangguk singkat, dan melanjutkan langkahnya, mengambil arah kiri di ujung lorong, sambil kembali bernyanyi, sesekali menilik jam tangannya, hingga harus mempercepat langkah kaki jenjangnya. Beberapa kali melompat kecil di tangga, ia bergerak cepat menuju basement.
Kembali membuka salah satu kantung pada backpack nya, Tao mengeluarkan kunci mobil miliknya, dengan langkah yang sagat ringan masih bersenandung merdu lagu yang menyeruak di telinganya, hingga tiba-tiba langkahnya terhenti mendadak saat melihat sebuah Subaru WRX STi hitam terparkir di belakang Toyota Mirai biru miliknya. Tao memperlambat langkahnya seraya melepas sebelah earphone di telinga dengan keningnya berkerut dalam mengamati Subaru hitam itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa mobil ini di parkir disini huh?" ia berkacak pinggang kesal. "Bagaimana aku bisa mengeluarkan mobil ku kalau begini?"
Tao berdecak kesal, menghentakkan kakinya keras seraya mengedarkan pandangannya tak sabar mencari orang asing yang sekiranya memiliki mobil keluaran Jepang tersebut. Tapi sayangnya area parkir basemen dalam kondisi sepi, tak tampak satu orangpun yang melintas, dan hal itu membuatnya semakin kesal.
Duk!
Tendangan di berikannya pada ban belakang mobil hitam itu. Mengumpat kesal, namun tak urung berusaha mendorong bagian belakang mobil, berharap agar mobil tersebut dapat sedikit bergeser dan memberi ruang untuk mobilnya keluar. Tapi jangankan begeser, tenaganya saja tidak cukup kuat melakukan hal itu.
"Sialan! Siapa orang bodoh yang memarkirkan mobilnya disini? Dia pikir tempat ini milik neneknya apa huh?"
Tao mendesis keras, berdecak, kemudian menoleh ke segala arah untuk menemukan pemilik Subaru hitam itu. Beberapa menit berlalu, dan ia semakin tak sabar karena waktunya semakin menipis. Yang benar saja, ia harus mendatangi pertemuan dengan sebuah brand parfum ternama untuk mendiskusikan aroma mana yang cocok dengan dirinya sekitar pukul satu siang, dan saat ini sudah melewati 30 menit dari waktu yang di sepakati.
"Oh God! I'm so sorry!" panik suara berat yang dalam.
Tao spontan menolehkan kepalanya ke belakang punggungnya cepat dan menggeser tubuhnya ketika seorang pria tinggi dengan mengenakkan jacket kulit serta jeans rebell berjalan lebar kearah mobil hitam yang menghalangi mobilnya itu. Pria yang sangat tinggi dan bermata lebar, namun jika di lihat pria itu sama sekali tidak terlihat sebagai wajah barat.
"This car is yours sir?" tanya Tao. Pria yang sedang merogoh saku celananya itu berhenti bergerak dan menoleh.
"Ya ini mobilku. Maaf aku tadi terburu-buru, jadi ku parkirkan disini" ucapnya, sembari mengeluarkan kunci mobil dari saku depan celananya.
"Gara-gara mobil Anda, aku terlambat menemui seseorang. Apa Anda tahu nama baikku sedang di pertaruhkan?"
"Sekali lagi aku minta maaf" pria itu membungkuk dalam. Tao mengangkat sebelah alisnya melihat kesopanan pria itu, yang seharusnya hanya di lakukan oleh orang Asia saja.
"Kau bukan orang Inggris?" tanyanya. Pria muda itu menggelengkan kepalanya.
"Bukan, aku orang Korea. Ah, sekali lagi aku minta maaf sudah menghambat pekerjaan seorang Huang Edison"
Tao membulatkan bibir kucingnya dan mengangguk paham. "Sesama orang Asia harus berbaik hati bukan? Sudahlah, tolong pinggirkan mobil mu sir"
Pria itu tersenyum. "Ok, wait a minute"
Tao melangkah mundur, menunggu pria tinggi dengan helai dark brown itu yang masuk ke dalam mobil dan memundurkan Subaru hitam itu yang sudah menghalangi jalan keluar Mirai kesayangannya. Kemudian pria itu turun dari mobil, membiarkan pintunya terbuka dan menghampiri Tao yang baru saja akan menghampiri mobilnya.
"Sorry, can i take a picture with you?"
"Yeah. But first, whats your name sir?"
Pria itu tersenyum, dan menyebutkan namanya.
.
.
Menunggu. Dan Kris sama sekali tidak menyukai hal itu. Seseorang seperti dirinya tidak akan pernah sudi menunggu, meskipun jika hal itu berhubungan dengan hidup pribadinya, termasuk mobil BMW X5 eDrive yang di pakainya siang ini. Duduk di kursi belakang dengan kamera LSR di tangannya, berkali-kali ia berdecak dengan alis tertekuk, lalu kembali melihat kembali hasil jepretannya selama perjalanan hendak menuju kesuatu tempat.
"Apa lagi? Kenapa mobil ini tidak berjalan?" tanyanya datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar LSR yang sedang di tekuninya. Tepat saat pintu mobil belakang dibuka oleh salah seorang bawahannya.
"Maaf Bos, mesin hidrogennya tidak bisa terisi" pria itu menundukkan kepalanya. Kris menghela nafas, menoleh ke sisi kanannya dimana bawahannya itu berdiri di depan pintu mobil.
Menatap datar, penuh intimidasi, dan menusuk. Meski kenyataannya Kris tengah memakai kacamata yang menyembunyikan orb bekunya. "Kenapa mesinnya tidak bisa terisi?"
"Saya juga tidak tahu Bos. Teknisinya sedang menuju kemari"
"Kau tahu pukul berapa aku harus segera datang ke pertemuan?"
Bawahannya semakin menundukkan kepala dalam. "Pardon" bahasa Negeri kelahirannya pun terucap.
Kris memalingkan wajahnya, kembali berkutat dengan kameranya. Membiarkan bawahannya tetap berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk, mengacuhkannya seolah tak ada siapapun yang menunggu perintahnya. Hingga tampilan foto digital yang tersimpan tak tersisa, ia pun mematikan benda canggih tersebut dan menolehkan kepalanya ke kanan, melihat keluar jendela super gelap tepat saat sebuah mobil bercat electric blue datang dan menempati stasiun bahan bakar hidrogen sebrang yang kosong.
Orb bekunya mengunci pergerakan pada mobil tersebut, hingga pengemudinya keluar dari mobil dan membuatnya mengangkat sebelah alis tebalnya melihat si pemilik berhelai hitam kelam yang seksi dengan ripped jeans yang menunjukkan bagian paha mulusnya, serta tubuh rampingnya yang membayang di balik kemeja putihnya yang tipis.
Kemeja itu benar-benar tipis, bahkan dari jarak ini saja dirinya dapat melihat lekukan pinggul ramping sang model yang kini tengah menyisir helai kelamnya dengan jari-jarinya yang lentik, gerakannya terlihat sensual, serta gerak bibir mungilnya yang mengerucut lucu layaknya bebek kecil. Hingga bokong bulat yang menungging karena sang model tengah membungkukkan tubuhnya si bagian samping mobil, sepertinya tengah mengamati badan mobilnya.
Kris meletakkan kameranya di tempat duduk yang kosong, membuka pintu mobil di sisi kirinya dan keluar, membuat bawahannya yang masih setia berdiri cukup bingung.
Berjalan santai dengan kedua tangan di dalam saku, ia memperhatikan sang model bertubuh tinggi nan ramping yang telah usai mengisi hidrogen pada mobilnya, dan menuju ke minimarket di stasiun pengisian bahan bakar tersebut. Ia pun masuk ke dalam, melihat si model incarannya yang menuju ke rak tertentu. Memutuskan untuk mengikuti, dan dirinya kembali di suguhi bokong bulat yang tengah menungging.
Sepertinya model seksi itu tengah bingung memilih cemilan yang berada di rak paling bawah, dan membuatnya tak tahan untuk tidak mendekat. Merogoh saku depan celana chino khaki nya dan mengeluarkan smartphone miliknya, yang segera ia arahkan pada bokong yang menungging itu, membua aplikasi kamera, dan...
Klik klik klik klik
Pengambilan foto diam-diam itu berjalan lancar, dan sebenarnya tak mengeluarkan suara sedikitpun, tapi entah kenapa sang model yang sedang asyik mengambil beberapa cemilan dan berada di dekapan tangannya tiba-tiba menoleh ke balik punggungnya dan mengernyitkan alis melihat sosok asing Kris yang berdiri.
"Apa yang anda lakukan disana sir?" pertanyaan curiga itu terucap dari belah bibir mungil merah muda.
Kris menurunkan ponselnya, kemudian melepas kacamatanya dan masih dengan wajah datarnya memandang tepat di mata milik sang model yang sayangnya tertutup oleh kacamata coklat. Hingga tiba-tiba model semampai itu menunjuk kearahnya dengan ekspresi terkejut dan mulut terbuka.
"Kau!" pekiknya horror.
Tao melepas kacamatanya cepat dengan tangan kanan karena tangan kirinya mendekap cemilan di dada, menunjukkan kilau indah permata birunya pada Kris dengan tatapan tak percaya.
"Kau 'kan yang melecahkan aku di toilet restauran kemarin? Kenapa kau ada disini? Kau mengikuti ku!?" tudingnya cukup histeris.
Beruntung minimarket tersebut sedang sepi, kalau tidak sudah di pastikan jika Tao sendiri lah yang akan merasa malu. Suaranya cukup keras, sungguh.
"Jadi kau mengingatnya?" oh sungguh. Nada bicaranya benar-benar datar.
"Kau stalker? Atau papparazi?" Tao menyipitkan matanya.
"Apa terlihat seperti itu?"
Tao menautkan alisnya, mulai memperhatikan sosok Kris di hadapannya, dan pria tampan asal Kanada itu hanya diam, mengunci tatapan elangnya pada wajah Tao yang sungguh menarik. Jika tatapan mata dapat berfungsi selayaknya laser, pastilah wajah Tao akan hancur saat ini.
"Penampilan bisa menipu, kau tahu" ucapnya tak suka.
Kris memang berpenampilan santai kali ini, berbeda dengan insiden toilet pertemuan pertama mereka saat pria itu mengenakkan stelan jas resmi ala Direktur. Karena saat ini pria tampan itu memakai celana chino berwarna khaki, kemeja abu-abu, serta denim blue jacket, lalu navy blazer sebagai luaran. Sangat fashionable dan segar, membuat Kris terlihat lebih muda di usianya yang sebenarnya belum menginjak kepala 3.
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Kenapa tiba-tiba kau berdiri di belakang ku?" tanya Tao bertubi-tubi. Masih menatap curiga.
"Apa kau pikir statisun pengisian bahan bakar ini milikmu?"
"Oh, dan apakah minimarket ini tempat untuk mengisi bahan bakar?"
"Aku kemari karena melihatmu masuk"
"And we call it a stalker, moron! Kau bilang bukan penguntit, tapi kau memasuki minimarket karena melihatku masuk, bagian mananya yang 'bukan penguntit' huh!?"
Kris mengangkat bahu samar, Tao mendengus keras, kemudian melangkahkan kakinya beranjak dari hadapan pria tinggi itu dengan wajah tertekuk mendekap beberapa cemilan di dadanya, membawanya ke bagian kasir. Dan Kris mengikuti, hal itulah yang membuat sang model berhenti dan berbalik, menatap tajam Kris yang masih memasang 'wajah sok tak berdosa'.
"Jangan macam-macam, aku akan berteriak dan menuntutmu ke Polisi" ancamnya. Dan entah kenapa membuat Kris merasa jika ekspresi marah model di depannya itu sangat menarik.
"Maksudmu meremas bokongmu begitu?"
"Shut up! Jangan ucapkan hal itu seolah kau sedang mencubit bakpau!"
Kris mengusap dagunya dengan jari telunjuk. "Bokongmu lebih baik daripada bakpau"
Tao menghela nafas kasar. "Apa kau kelainan? Bersyukurlah aku tidak melaporkanmu ke Polisi setelah melecehkan ku, jadi sekarang pergi dari hadapanku"
"Kau tahu? Aku melakukan sesuatu yang ku sukai, dan bokongmu adalah hal yang ku sukai"
Oh my Kris, bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu dengan wajah dan nada datar?
"Pergi sebelum aku telepon Polisi" ancam Tao. Tak tahan lagi. "Kau tahu siapa aku?"
"Huang Edison, supermodel from China"
"Yeah, kau tahu siapa aku. Dan aku tidak peduli meski kau Presiden, anak Presiden, anak Menteri, atau siapapun itu, aku tidak peduli!"
"Jika aku tidak mau?"
"Aku akan melapor Polisi"
"Kalau aku tetap tidak ingin?"
Tao menggertakkan giginya kesal. Dan tanpa banyak bicara lagi segera menuju meja kasir untuk membayar belanjaanya, dan Kris masih mengikuti. Ia hanya terlalu datar bukannya tidak peka, terlalu cuek meski tahu jika model semampai itu mulai marah kepadanya, dan tak ingin ambil pusing jika sang model dengan bokong yang di sukainya itu marah besar, meskipun sudah mengancam akan melaporkannya ke Polisi.
Godness...sungguh ancaman seperti itu tidak akan berpengaruh untuknya.
"Kau seorang Model. Bukankah tugasmu untuk membawakan suatu produk dan di potret?"
Tao meletakkan barang belanjanya diatas meja kasir, kemudian menoleh pada Kris dengan mata menyipit tajam. "Lalu?"
"Bukan masalah jika aku mengambil beberapa fotomu"
"Foto apa?"
"Bokongmu"
Mata runcing Tao membulat sempurna, dan mulutnya terbuka. "Kah gila!? Siapa yang memberimu izin memotretnya!?" marahnya tak terbendung lagi. "Pervert!"
Makian terakhir yang di lontarkan Tao, sebelum ia beranjak dengan wajah merah padam karena amarah menuju pintu minimarket. Tak peduli dengan panggilan sang penjaga kasir jika sang model meninggalkan barang belanjaannya yang baru saja selesai di hitung. Sementara Kris yang menjadi penyebab keributan hanya diam memandangi sang model yang berjalan sambil mengomel kearah mobilnya.
"Sorry sir, who will pay for this?" tanya pria penjaga kasir yang kebingungan. Kris menoleh, memperhatikan belanjaan yang rata-rata adalah makanan ringan, hingga tak sengaja ia melihat rak majalah yang berada di sisi kanan belakang si penjaga kasir.
Sebuah majalah dengan model Huang Edison di bagian sampulnya.
"Total semuanya dengan majalah itu" ucapnya, menunjuk pada majalah yang dimaksud.
Penjaga kasir itupun mengambil majalah yang di inginkan Kris, kembali menghitung belanjaan di meja yang sempat tertunda. Dan Kris meraih majalah tersebut, mengamati sampul depannya dimana sang model bermarga Huang mengenakkan coat panjang diatas lutut berwarna fushia.
Dan seorang bawahannya datang menghampiri, menunduk hormat. "Mobil sudah selesai di perbaiki" ujarnya.
Kris mengalihkan pandangannya ke depan, terdiam sejenak, hingga si penjaga kasir menyebutkan nominal yang harus si bayarnya. Ia memberikan beberapa lembar uang dan kembali menyimpan dompetnya di saku belakang, tanpa menunggu uang kembalian di berikan, ia beranjak membawa majalah tersebut di tangan kanannya, selagi sebelah tangannya yang lain merogoh saku depan celananya mengambil ponsel. Bawahannya pun dengan sigap mengambil paper bag coklat yang berada diatas meja kasir, dan mengikuti Kris menuju kearah mobil.
Meeting schedule: 21.00 pm at Grand Royal Hotel.
Kris menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu mobil, seolah tengah memikirkan sesuatu, lalu membuka pintu di hadapannya, di ikuti sang bawahan yang meletakkan paper bag melalui pintu belakang yang lain, dan meletakkannya di samping Kris.
"Putar arah, aku harus menemui Johnson" titahnya.
"Baik Bos"
To be continue
Note 1: Akhirnya update, wkwk. Semoga cukup puas sama part 1 ya :3
Btw, maaf ga bales review disini, gw kena serangan males mendadak :/ ntar gw bales via pm aja kalo sempet #soksibuk #sokpenting
Udah, ga banyak omong, gw males ngetik tiba2, untung aja pas part 1 ini kelar, haha. Dan big thanks for Tata Sinta yang udah sukarela buat bantu edit :3
Eh iya, mohon maklum kalo disini banyak merk yang kesebut, dan kayanya part2 selanjutnya bakal ada merk yang di sebut, karena ini mengangkat tema fashion :3 dan rata2 merk / model pakaian yang muncul di ff ini yang pernah di pakai Tao ataupun Kris, sebisa mungkin ga gw karang biar feel nya berasa. Tapi ada yang gw karang soalnya susah cari info soal style nya Kris, tantang brand/harga. Kalo kalian tahu ada fansite yang bikin info soal style Kris, bisa beritau gw lewat pm :)
Ada yang ngerasa ff ini terlalu glamour n mewah? Memang itu tujuannya. Gw pengen menunjukkan sisi glamour Tao disini, karena aslinya Tao emang fashionable banget :3
Note 2: kata yang di cetak miring+tebal itu kebanyakan nama merk, dan kata 'boat race' itu artinya wajah, bahasa gaul di London gitu, kaya plesetan :3
Review please!
Review wajib bagi yang baca!
©Skylar.K
