2. A TES SOUHAITS (Bless You)

15 JANUARI 2015 (94 HARI SEBELUM KEMATIAN)

Jika Luhan memang benar-benar tidak memiliki teman, dokter mungkin telah menduga ada sesuatu yang terjadi pada anak laki-laki itu, tapi dugaan mereka tertahan karena hubungan Luhan dengan dunianya sangat normal.

Untuk beberapa alasan Luhan tidak menyukai Byun Baekhyun, tapi bukan berarti ia membencinya juga. Byun Baekhyun adalah tipikal orang yang membuatmu berpapasan dengannya hari ini lalu 20 tahun kemudian ketika kau menyewa sebuah apartemen bersamanya kau akan menanyai dirimu sendiri, bagaimana ia bisa menjadi yang paling aku sukai?

Luhan dan Baekhyun menyantap makan siang mereka sepanjang perjalanan ke sebuah halaman kosong setiap hari sejak mereka bertemu. Luhan menyukai ruangan terbuka, Baekhyun menyukai pengawasan minim di tempat itu yang mengizinkannya untuk merokok.

Luhan telah menganggap Baekhyun semacam sahabatnya. Ia tak pernah benar-benar berbagi tentang dirinya secara personal dan detail dan ia tak pernah bercerita tentang Sehun. Itu merupakan bagian dari dinamika mereka –untuk hanya duduk dalam keheningan –kecuali salah satu dari mereka benar-benar butuh bicara kepada yang lainnya. Dalam kasus Luhan, semua orang selalu tahu jika ada sesuatu yang baru mengenai dirinya entah ia mengenal mereka atau tidak. Dalam kasus Baekhyun, tidak banyak orang yang tahu tentang dia. Luhan pernah menduga bahwa Baekhyun berada di sekitarnya hanya untuk mengambil atensi orang-orang, tetapi momen-momen mereka di halaman kosong itu selalu meyakinkannya bahwa Baekhyun dengan jujur menikmati keberadaannya. Di tempat itu tidak ada yang berspekulasi, tidak ada yang harus tahu. Sebagai seseorang yang dengan senang hati berbagi cerita kepada orang asing, Luhan justru merahasiakan tentang hidupnya dari seseorang yang sesungguhnya ia kenal.

Udara terasa dingin seperti biasa. Luhan telah mengenakan syal warna merah yang sama selama beberapa hari. Bahan wol yang membuat gatal menyembunyikan kulit memarnya. Baekhyun memakai seragam sekolah. Kain kuningnya yang norak telah dimodel sedemikian di beberapa tempat untuk menonjolkan bentuk tubuh Baekhyun. Jemarinya yang nyaris membiru mengapit sepuntung rokok tanpa tenaga, asapnya jatuh berhembus menuju rerumputan.

"Pernahkan kau berpikir tentang kehidupan setelah mati, Luhan?"

"Kehidupan…setelah mati?"

"Ya. Seperti hantu dan sejenis itu. Apakah kau mempercayai salah satunya?"

"Aku tidak pernah terlalu memikirkan itu."

"Itu adalah omong kosong. Dan lagi, kau tidak pernah tahu. Beberapa jalang yang depresi pasti telah menjajakan dirinya di masa lalu…dan masih berkeliaran di lorong-lorong mencari sesuatu yang sekiranya baik." Baekhyun menertawai kata-katanya sendiri. Itu adalah hal pertama yang ia katakan pada Luhan setelah berhari-hari tapi entah bagaimana itu tidak terasa buruk.

.

.

.

Mungkin hanyalah ketidakstabilan mental atau masalah remaja biasa, tapi ada hari-hari di mana Luhan suka bertingkah seperti ia bukanlah dirinya sendiri. Dia berkeliaran di koridor, sebuah lagu berputar di kepalanya selagi ia berjalan. Ia tahu di mana ia berada tapi dalam pikirannya, ia berada di dimensi lain; sebuah tempat seperti lokasi MV. Bahkan jika sesuatu hal buruk terjadi di dimensi lain, entah bagaimana itu akan terasa romantic atau berseni, memiliki arti. Bagaimanapun ketika ia kembali pada kenyataan, ia menyadari bahwa ia hanya sedang berjalan sepanjang koridor –dan itu tidak ada artinya.

.

.

"Sehun, apa pendapatmu tentang hantu?" Luhan berada di pangkuan Sehun. Ingatannya tentang bagaimana rupa Sehun memudar. Alih-alih melihat figurnya yang tampan, Luhan tidak melakukan apa-apa selain merasakan bahwa ia pernah melihat Sehun tapi tidak dalam wujud yang sesungguhnya. Namun meski begitu, ia tidak khawatir. Terkadang ia merasa sangat bingung ketika membayangkan semua tentang Sehun, tapi dalam waktu singkat ia akan mengingat semuanya kembali. Beberapa hari terakhir ia merasa kekurangan –ingatan akan Sehun. Ia tidak bisa mengingat wajah Sehun, dan sentuhan Sehun seolah terasa samar alih-alih nyata dan berkelanjutan.

"Hantu? Mengapa kau bertanya?" Sehun memainkan jarinya di antara helaian rambut Luhan. Mereka telah berada di posisi ini untuk beberapa lama.

"Tidak ada alasan. Jadi, apa yang kau lakukan hari ini?"

"Aku berhenti untuk menjadi ada."

"Sehun, tolong biarkan aku sekali saja berpura-pura bahwa kau tidak ada dalam pikiranku. Tolong bertingkahlah seolah kau teman nyataku."

"Baiklah…aku…bermain video games?" Sesegera mungkin setelah kata-kata itu terucap dari mulutnya, bibir Luhan melengkung membentuk satu senyuman.

"Oh ya? Games apa?"

"Grand Theft…apa itu…Halo?" Tawa Luhan menggema di dinding ruangan. Sudah lama sejak ia tertawa lepas seperti itu.

Itu suatu kecelakaan, tapi itu hal yang baik juga. Mungkin Luhan terlalu kesepian, atau mungkin ia terlalu serius dalam berpura-pura. Luhan menemukan dirinya mencium sebuah bibir yang dingin dan padat. Tidak begitu nyaman, tapi familiar dalam waktu yang sama. Bibir Sehun.

Perpisahan bibir mereka lebih disengaja daripada saat pertemuannya. Mata Luhan membesar saat ia menatap Sehun balik, tapi kembali mengecil ketika ia menyadari ia telah mencium teman khayalannya dan lebih lagi ketika ia sadar fakta bahwa figur wajah Sehun tidak hanya kembali, tapi terlihat secara detail. Luhan dapat menghitung tiap helai bulu mata, menjejaki setiap detail dari wajah Sehun.

"Sehun…wajahmu. Sudah kembali. Kau tampan…" Luhan mengira imajinasinya sudah terlampau gila. Dia mengira akan ada satu ciuman lain. Dia mengira semua hal kecuali Sehun akan menghilang.

Bagaimanapun, ketika ia kembali pada kenyataan, ia sedang terduduk sendiri di kasurnya. Dan tentang Sehun, ia tidak ada.

Sehun menghilang selama empat hari.

-TBC-

T/N : chapter kedua untuk kalian guys! Seperti biasanya kalau kalian punya kritik/saran atau pertanyaan, silahkan di sampaikan. Bisa lewat pm atau review. Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya, see you!

P.S: di sini Baekhyun gimana gimana gitu aih gemes. Aku suka sama karakter baek dan segenap kalimat (sok) puitisnya di ff ini (?)