SNIPPER CODE

Desclaimer:
Exo itu milik tuhan yang dijaga sama ortu mereka dan didebutkan sama SM :v. Author hanya minjam nama saja beib :3. Cerita milik saya murni sekali.

CAST: Byun Baekhyun, Park Chanyeol and other

Genre: Mysteri, romance, action, and little bit of comedy

Rating: T++

Pairing: ChanBaek, and other official exo couple

N/B: jalan cerita terinspirasi sama all anime yang pernah daku tonton :v

AVIANCE PRESENT

CHAP 3( Pertemuan Kecil)

Apartemen bernuansa putih dengan dekorasi klasik terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Tak ada suara musik klasik yang menggema, tak ada percekcokan seperti kucing dan tikus, tak ada wangi masakan yang biasanya tercium ketika malam menjelang. Semuanya berbeda semenjak tiga tahun lalu. Semenjak salah satu dari penghuni disana pergi. Semuanya terasa sepi.

Chanyeol melirik pria yang sedang menikmati makan malamnya sekilas. Sesosok kakak yang selalu melindunginya. Kakak dari orang yang paling ia cintai di dunia ini.

Chanyeol masih sedikit marah dengan pria itu karena perkataannya tempo hari. Pria yang dengan mudahnya melupakan bagian dari mereka.

Sosok malaikat bagi mereka.

Chanyeol melamun.

"Kau tidak memakannya, Yeol?".Pria itu membuka suaranya. Menyindir Chanyeol dengan halus meski tanpa melihat sedikitpun.

Chanyeol tersentak untuk yang kedua kalinya dalam sehari. Dia tersenyum kecut menanggapi perkataan pria dihadapannya."Aku kenyang". Ucap Chanyeol dengan nada enggan. Ia meletakan sendok dan garpunya yang sudah melayang diatas tumpukan daging lezat begitu saja. Chanyeol menyambar air putih yang tersedia. Kemudian menenggaknya hingga habis.

Dia hendak beranjak dari sana.

"Kau benar-benar percaya aku melupakan 'dia' begitu saja?". Suara itu terdengar sendu. Alunan sendok dan garpu miliknya terhenti membuat Chanyeol termangu ditempatnya dengan posisi tangan kanan sudah memegang belakang kursi.

"Kau tahu, Yeol?. Selama ini aku selalu berlatih mati-matian untuk menjadi yang terbaik. Aku iri dengan kemampuan 'dia'. Padahal dia adalah adik kandungku sendiri. Menyedihkan sekali, bukan". Pria itu mendongakan wajahnya. Menatap kearah Chanyeol dengan senyum miris.

Chanyeol semakin diam. Dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ini adalah kali pertamanya dia mendengarkan isi hati pria di depannya. Pria yang baru ia sadari memendam tekanan yang teramat sangat.

"Jun master banyak berharap kepadaku. Beliau selalu melatihku setiap hari tanpa henti, dia percaya kalau aku ini adalah aset yang sangat berharga untuk organisasi dikemudian hari". Dia melanjutkan setelah mengetahui tak ada reaksi Chanyeol yang terlihat akan menyangkal.

"Tekanan terbesarku adalah mengalahkan adik kandungku sendiri dalam pertempuran menjadi yang terbaik. Dan aku akui, pertama kalinya aku berhasil, diriku sangat senang. Aku bisa berkata kepada dunia bahwa aku bukanlah seorang kakak yang pecundang". Dia terkekeh dengan tatapan nanar. Chanyeol mengepalkan tangannya diatas meja.

"Aku yang dulunya mendapatkan ID Sixth kini melonjak naik ketingkat yang sangat tinggi...aku memang tak pernah menjadi yang pertama...tapi menjadi anggota dewan master adalah hal yang sangat kubanggakan. Kau tahu?. Kebanggaan itu malah membuat diriku melupakan rencana kami yang sesungguhnya". Dia meringis. Membayangkan masa lalunya yang dipenuhi dengan penyesalan. Dia terbayang dengan adiknya yang selalu tersenyum menyemangati. Dia teringat adiknya yang selalu sabar menghadapi sikap egoisnya.

"Dan aku tak akan pernah melupakannya, Yeol".

Chanyeol berdiri. Cukup. Ia tidak ingin mendengarnya lagi. Ia tahu ujung percakapan ini. Ia tidak ingin mendengarnya.

"Cukup". Kata Chanyeol tegas.

"Aku tidak akan pernah melupakannya, bahkan dihari itu...". Dia tak menghiraukan ucapan Chanyeol dan terus melanjutkan perkataannya.

"CUKUP". Chanyeol membalikan badannya dengan kedua tangan yang menutup telinga. Dia tak ingin mendengar.

"Ketika dia jatuh ...

Chanyeol mulai menjauhi ruang makan.

...dan bersimbah darah".

===========Snipper Code=========

Baekhyun menatap papan tulis dengan tak minat. Dia menopang dagunya dengan tangan kanan, memperhatikan setiap kata yang keluar dari guru Fisikanya dengan seksama meski kebosanan mulai melanda otaknya. Sungguh, program empat tahun sekolah ini membuatnya ingin mati. Baekhyun harusnya sudah lepas dari stasunya sebagai pelajar setengah bulan yang lalu. Akan tetapi, karena sekolah ini memiliki sistem studi tambahan kepada muridnya, maka mau tak mau Baekhyun harus kembali merasakan dunia anak SMA satu tahun lebih lama lagi. Dengan pelajaran yang tingkat kesulitannya diatas rata-rata. Intinya Baekhyun terjebak dalam masa kuliah yang berkedok SMA. Oke lupakan.

Berbicara tentang seharusnya mereka yang kini seangkatan dengan Baekhyun mengenyam pendidikan ke Universitas. Baekhyun melirik Chanyeol si murid baru. Segelintir pertanyaan memutar diotaknya yang cemerlang. Iya, kenapa orang seperti Chanyeol mau memasuki SMA di tahun keempat padahal dia bisa saja meneruskannya keperguruan tiggi.

Baekhyun memperhatikan Chanyeol dengan seksama. Bagaimana cara dia menggerakan tangannya untuk menulis, bagaimana dia duduk dengan nyaman dikursi, bagaimana dia mengeritkan dahinya karena penjelasan guru yang sulit dipahami, atau bagaimana cara Chanyeol bernafas dan tersenyum tipis kepadanya. Tunggu...tersenyum tipis kepadanya?.

Baekhyun melotot. Sial. Dia ketahuan dengan sangat tidak elit. Wajah Baekhyun seketika merah menahan malu. Ia segera membalikan wajahnya kedepan lagi. Menunduk dalam untuk menyembunyikan rasa malunya . Sial. Sial. Baekhyun merasa dirinya sangat bodoh sekarang.

"Baek, kau tak apa?". Luhan berbisik dengan tangan yang sibuk mencatat. Walau begitu, dia masih bisa melihat wajah sahabatnya yang menunduk meskipun samar.

"A-aku tidak apa-apa. J-jangan khawatir...". Baekhyun buru-buru membuka buku catatannya. Mencoba menenggelamkan diri dengan kesibukan yang ia buat.

Luhan mendengus geli. "Kau terlihat seperti gadis yang tengah jatuh cinta, Baek". Ucap Luhan. Kali ini dia menatap Baekhyun dengan senyuman.

"A-apa?...Jangan bercanda kau, rusa cina". Desis Baekhyun tak terima. Hell. Masa iya dia yang tampan ini jatuh cinta kepada pria kelebihan protein seperti Park Chanyeol. Maaf saja.

"Gelagatmu aneh beberapa hari ini, tahu".

"Memang salah, ya?". Baekhyun menatap Luhan datar.

"Ayolah. Kau ini berubah ".

"Positif atau negatif?".

"Well, bisa keduanya. Tergantung kepada orang yang melihat dan seberapa dia mengenalmu". Luhan menggedikan bahunya.

"Sialan, kau".

Mereka terus berdebat sampai tidak sadar dengan keributan yang diciptakan ditengah pelajaran. Jangan harap guru yang sedang menerangkan itu menegur keduanya. Disamping karena tak berani , kedua murid itu adalah si kembar jenius di sekolah. Jadi, meskipun tak mendengarkan apa yang dikatakan guru, mereka bisa memperoleh nilai besar dengan mudah. Intinya mereka diberi kebebasan disekolah dengan catatan nilai mereka harus cerah seperti mentari.

Chanyeol kini bergantian mengamati Baekhyun dari belakang. Dia tersenyum tulus. Menikmati pemandangan yang tersuguh di depan. Targetnya kali ini sangatlah menarik. Menarik sekali malahan. Target yang selalu membuat hidup Chanyeol kembali berwarna seperti tiga tahun lalu.

.

.

.

Perpustakaan

Baekhyun menaruh kepalanya diatas meja di tengah perpustakaan yang senggang. Seluruh wajahnya tertutup sempurna oleh buku yang ia ambil dengan asal. Niatnya sih mau mengusir kegalauan dengan membaca buku tapi yang ia dapat hanyalah rasa bosan. Membuatnya ingin segera mati saja. Dan , demi tuhan, Baekhyun butuh dihibur sekarang. Tapi, orang yang Baekhyun harapkan akan menghiburnya (Read Luhan) malah melenggang pergi dengan ketua kelas untuk mengurusi keperluan festival nanti.

"Festival, ya...". Baekhyun bergumam. Dia baru ingat, dua minggu lagi sekolah akan mengadakan festival tahunan sebelum merayakan natal eve. Artinya, sebelum berlibur selama empat hari, mereka akan disibukan oleh ujian dan persiapan festival sekolah yang terkenal seantero Korea.

Otak Baekhyun tiba-tiba mengeluarkan asap yang tebal. Ia menjedukan kepalanya ke meja setelah menyingkirkan buku cetak bercover putih dari wajah. Baekhyun tak memperdulikan pandangan aneh yang menghujaninya kini. Toh disini tidak terlalu banyak yang memperhatikan. Maksudnya , Baekhyun tidak perlu menahan malu dihadapan banyak orang karena kegalauannya ini.

Baekhyun bukan galau karena Chanyeol,melainkan galau karena mendapati wali kelasnya yang tiba-tiba digantikan oleh guru baru. Sebenarnya sih dia tidak peduli. Tapi...

"Ah! Kenapa harus Jonghyun hyeong...". Baekhyun menghentikan acara menjedukan kepalanya. Dia sebenarnya senang mendapati sepupunya menjadi wali kelas. Hanya saja, menilik sifat Jonghyun yang sangat maniak dengan permainan piano yang dibawakan Baekhyun, membuat si surai abu-abu merinding disko. Dia ingat kejadian mengerikan dua hari yang lalu, saat ia mengunjungi kediaman keluarga Lee. Dengan mata yang berkobar, Jonghyun menyuruhnya bermain piano. Dia benar-benar memaksa Baekhyun hingga pemuda itu kewalahan. Bukannya membantu mencari solusi, Kris dan Luhan malah asyik menertawan dirinya. Sungguh. Kehidupan Baekhyun itu penuh ironi.

Pada akhirnya, pertarungan itu dimenangkan oleh Byun Baekhyun.

Berkat kemenangnya, masalah lain muncul. Jonghyun si ahli Judo menjadi wali kelasnya dan menyuruh dia untuk bermain piano difestival. Jika Baekhyu menolak, maka jangan harap ia akan lulus tahun ini dari sekolah.

"Arghhh...menyebalkan". Baekhyun serasa ingin menangis kencang sekarang. Ayolah, ia sudah lama tak bermain piano. Malahan jarinya selalu bergetar ketika hendak memencet tuts piano.

"Masa aku harus mengorbankan satu tahun lagi hanya karena tidak bermain piano". Baekhyun menopang dagunya.

Baekhyun terlalu sibuk mempertimbangkan keputusan yang akan ia pilih hingga tidak menyadari sesosok pemuda tinggi kini telah duduk manis disampingnya.

"Sebegitu tertekannya kah kau atas permintaan Jonghyun saenim tadi?".

Suara berat seperti Ahjussi mesum menghampiri indra pendengaran Baekhyun.

"Kau...". Baekhyun menegakan tubuhnya. Menatap Chanyeol dengan mata memicing tajam.

"Yo! Tuan Stalker...". Chanyeol menyapa dengan akrab meski mendapat penolakan dari tatapan mata Baekhyun.

Baekhyun melotot lagi. Jadi, kegiatan menguntit Chanyeol beberapa hari terakhir ini adalah usaha yang sia-sia. Baekhyun semakin menatap Chanyeol tidak suka. Kalau memang sudah tahu kenapa si Chanyeol tidak bilang sejak tadi. Jadikan Baekhyun tak usah repot-repot berjalan dibelakang Chanyeol seperti penguntit dan menghabiskan waktunya yang berharga demi kegiatannya menegakan kebenaran itu. Oke Baekhyun hanya mencari sebuah alasan agar ia tidak terlalu malu di hadapan Chanyeol.

"Cih!...Mau apa kau kemari?". Baekhyun berkata jutek. Ia membuka buku yang sebelumnya ia jadikan sebagai penutup wajah. Bakhyun baru sadar dengan buku yang diambilnya. Buku tentang ilmu kedokteran. Sesungguhnya ia malas untuk membaca buku itu, hanya saja ia lebih malas lagi ketika harus menanggapi Chanyeol disampingnya.

"Memangnya tidak boleh kalau aku ke perpustakaan?. Aku kan juga berhak kesini". Jawab Chanyeol yang kini mulai membuka buku yang dibawanya.

"Maksudku kenapa kau duduk di dekatku? . Tempat kosong masih banyak Park Chanyeol bodoh!". Baekhyun sedikit meninggikan suaranya tanpa menganggu ketentraman perpustakaan. Alih-alih diam tidak menanggapi, Baekhyun malah meladeni orang yang dicurigainya ini sangat berbahaya.

"Kau akan mengambil keputusan apa sekarang?". Chanyeol tak menggubris perkataan Baekhyun sebelumnya. Ia malah merubah arah obrolan mereka dengan topik yang sedang Baekhyun hindari. Festival dan piano.

Baekhyun suka bermain piano. Tapi, semenjak ia siuman dari koma, Baekhyun menghindari piano dan musik klasik. Seperti ada sesuatu yang mencegah dia untuk bermain. Jika jemari Baekhyun menekan tuts piano, jantungnya berdegup kencang. Kepalanya pusing. Dadanya sangat sakit. Tangannya pun bergetar hebat. Dia seperti tengah memaksakan diri untuk mengingat sebagian memorinya yang menghilang akibat kecelakaan yang ia alami tiga tahun lalu. Kecelakaan yang merenggut sebagian besar memorinya.

"Aku akan menolak". Jawab Baekhyun .

"Kenapa?". Chanyeol melirik.

"Aku sudah tidak bermain piano lagi". Baekhyun berkata tanpa ekspresi.

"Permainan pianomu itu sangat bagus. Sayang jika tidak ditunjukan kepada orang-orang tentang bakatmu itu".

Baekhyun menatap Chanyeol. Memeperhatikan wajah pemuda itu dari samping dengan dahi yang berkerut. Setahu Baekhyun, selama ia mengenal Chanyeol, dia belum pernah sekalipun mempertontonkan keahliannya memainkan piano.

"Bagaimana kau tahu permainanku jika kau saja tidak pernah melihatku menyentuh piano?. Apakah sebelumnya kita pernah kenal?". Baekhyun memicing curiga.

"Kau lupa dengan titlemu sebagai pianis kecil dahulu?. Kau lupa dengan penghargaan yang kau peroleh?". Chanyeol balas menatap Baekhyun.

"Well,aku ingat. Karena penghargaan itu terpampang jelas diruang keluarga. Sepertinya kau suka melihat acara-acara klasik seperti itu, ya".

"Ya begitulah. Bukankah sudah menjadi kebiasaan bangsawan seperti kita menikmati hal yang berbau klasik dan elegan. Malahan akan terlihat aneh jika orang seperti kita sama sekali tak tahu dengan hal-hal yang demikian. Kita ini adalah orang kaya dengan didikan bangsawan". Chanyeol kembali membaca bukunya.

"Kau benar". Baekhyun meringis.

Dia tidak tahu bahwa kehidupan Chanyeol ternyata tak jauh berbeda dengannya. Chanyeol juga tak seburuk yang ia kira. Mungkin Baekhyun harus mulai bersikap baik dengan pemuda disampingnya. Masalah orang yang ia lihat dibank, mungkin saja itu bukan Chanyeol. Karena Baekhyun juga tak terlalu jelas melihat wajah orang itu disebabkan pencahayaan yang minim.

Baekhyun benar-benar remaja yang labil kawan.

"Oh, Guard or Killer?". Baekhyun keceplosan ketika tak sengaja melihat judul buku yang tengah Chanyeol baca.

"Kau mengingatnya tuan stalker?". Chanyeol tersenyum tipis dengan manik yang masih terpaku pada bacaan.

"Hish berhentilah memanggilku tuan stalker. Suruh siapa kau begitu mencurigakan di awal. Tapi serius, kau suka dengan bacaan yang seperti itu?". Tanya Baekhyun dengan nada yang lebih bersahabat.

Pernyataan yang mengungkapkan Baekhyun itu tak terduga bukanlah mitos. Ini sudah terbukti kebenarannya.

"Tidak juga sih. Hanya saja tokoh utama dalam cerita ini sangat mahir memainkan piano. Aku suka saja membaca novel dengan tokoh utama seorang pianis". Chanyeol menatap Baekhyun sejenak.

"Kau aneh sekali tuan Park...". Ungkap Baekhyun. Chanyeol terkekeh geli. Tangan besarnya reflek mengacak rambut Baekhyun gemas.

Baekhyun terpaku, tubuhnya menegang. Ia kenal dengan sentuhan ini. Hati kecilnya menjerit.

Chanyeol yang sadar akan tindakannya barusan segera memohon maaf. Sungguh dia hanya reflek mengacak rambut Baekhyun. Dia juga tidak menduga akan melakukan skinship seperti tadi.

"Cobalah untuk memikirkan tawaran bermain di festival nanti, Baekhyun".

"...Akan kupikirkan lagi...".

========Snipper Code======

Minggu yang cerah dikediaman Byun terusik oleh teriakan dari pemuda bersurai hitam keabuan yang memanggil ibunya dari lantai dua.

"EOMAAA...KAU TAHU DIMANA BUKU INSTRUMENTAL PIANOKU?". Baekhyun berlari menuruni tangga untuk menghampiri ibunya yang tengah sibuk membaca majalah di depan televisi.

"Baekhyun sayang...ini masih terlalu pagi untuk berteriak...kasihan ayahmu yang baru saja istirahat, nak". Nyonya Byun menutup majalah modenya. Kemudian menyuruh Baekhyun untuk segera duduk disampingnya sesaat setelah tubuh Baekhyun sampai dihadapannya.

"Kau ingin bermain piano lagi?. Bukankah sudah eomma bilang untuk tidak terlalu memaksakan diri ...". Nyonya Byun mengelus kepala Baekhyun sayang.

"Hanya untuk festival. Well, aku akan mencari cara untuk menghilangkan rasa sakitnya. Jadi, dimana eomma meletakan semua buku ku?". Baekhyun menyingkirkan tangan ibunya dengan halus. Ia sudah besar sekarang. Ia bukan anak kecil yang suka dimanja.

"Tapi eomma khawatir, Baekhyun. Bagaimana jika kau sampai pingsan seperti tempo hari?. Kau ingin membuat eomma dan appamu menjadi khawatir?".

"Bukannya seperti itu eomma. Hanya..."

"Cukup Baekhyun. Kau harus menuruti perkataan eomma kali ini!". Nyonya Byun menggentak putranya untuk kali pertama, wajahnya yang semenjak tadi ia tahan agar tidak kelihatan marah kini sia-sia. Satu fakta yang belum Bakhyun ketahu. Eommanya benci melihat dirinya bermain piano.

"Kenapa, eomma?". Baekhyun menatap ibunya. Dia butuh penjelasan yang logis.

"Sudah eomma katakan. Eomma itu sangat mengkhawatirkanmu". Nyonya Byun mengigit bibir bawahnya.

"Aku tidak akan mati hanya karena bermain piano eomma...Bukankah sebuah kemajuan jika nantinya memoriku akan kembali".

"TIDAK".

"Kau tidak tahu apa yang akan terjadi Baekhyun...". Nyonya Byun menatap putranya penuh harap.

Baekhyun berdiri. Eommanya memang selalu seperti ini jika menyangkut ingatannya. Memang salah jika Baekhyun ingin memori yang hilang itu kembali?.

"Aku akan mencarinya sendiri...". Baekhyun meninggalkan eommanya yang mulai gelisah.

"Baekhyun...eomma tidak mau kau meninggalkan rumah ini".

.

.

.

"Apakah tuan yakin tidak ingin saya bantu?".

"Iya. Aku akan mencarinya sendiri...".

Setelah sang pelayan meninggalkan Baekhyun, barulah pemuda itu mencari apa yang tengah ia ingin temukan. Untung saja ia mempunyai seorang pelayan yang bisa dibilang cerdas . Dan lagi, kenapa ia tidak kepikiran tentang gudang. Ah sungguh bodoh.

Baekhyun menyusuri tumpukan rak yang paling ujung terlebih dahulu . Tidak terlalu sulit sih untuk mencari nya, karena setiap kardus yang ada disana telah diberi nama. Jadi, ia hanya tinggal mencari nama benda yang dicari. Untuk ukuran gudang, tempat ini lebih mirip seperti tempat sebuah penyimpanan stok barang di mini market. Tidak ada debu, Sarang laba-laba, ataupun segelintir ungkapan tak bersih lain yang selalu menyelimuti gudang. Baekhyun sedikit terharu melihat gudangnya yang bersih dan terawat.

Rak pertama tidak ada. Rak kedua juga. Rak ketiga...

'Instrumental Piano' .

Baekhyun mendapatkan apa yang dicarinya. Kardus berukuran sedang segera ia angkat dari tempat. Untung saja kardus ini tidak berada dideretan tertinggi rak. Jadi, ia tak perlu repot-repot mengambil tangga yang sudah dipastikan sangat berat.

"Yosh! Selanjutnya aku akan memilih instrumen yang akan kumainkan...". Baekhyun sedikit mengintip kedalam kardus dengan kaki yang mulai berjalan mengarah keluar.

'bruuk' . Oke. Berkat kecerobohannya sendiri Baekhyun kini jatuh tersungkur dilantai gudang yang terbentuk oleh lantai marmer . Jika ia tak memiliki refleks yang bagus sudah dipatikan wajahnya akan mengalami cidera.

Kardus yang tadi ia bawa tepental kedepan dengan isi yang berceceran keluar.

"Sial...tadi aku menendang apa...". Baekhyun mendudukan tubuhnya . Tangannya mengusap kedua lutut yang terasa perih. Baekhyun meringis ketika mendapati lututnya lecet. Mungkin ini karma karena ia sempat membangkang kepada ibunya. Baekhyun menyesal.

Ia menoleh kebelakang untuk melihat kardus yang ia tendang.

Nasib kardus yang ia sandung juga tak berbeda jauh dengan yang ia bawa. Isinya berceceran. Hanya saja, ada sebuah barang dari kardus itu yang membuatnya penasaran. Sebuah kotak harta karun kecil yang terbuat dari beludru hitam dengan nama 'FIRTS ID' di depannya.

Baekhyun mengambil kotak itu. Lalu membereskan kekacauan yang ia perbuat.

=======Snipper Code=====

Luhan tengah menikmati makan malamnya ketika mendadak sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal memanggilnya. Dengan wajah yang berkerut karena heran, Luhan mengangkatnya.

"Yeoboseyo...".

"Ninth...pergilah kedai kopi tempat kau pertama kali menerima pekerjaan ini sekarang...".

Luhan tahu dengan siapa kini ia berbicara. Suara ini tidak berubah.

"Aku akan kesana segera...Master B...".

T B C AE DIKIT :v


Giman gimana? udah pada ngerti kan siapa-siapa aja orang yang bergabung dipasukan elit? :v wahahahaha...oh iya semoga di chap ini kalian merasa bingung plus penasaran...soalnya saya juga bikinnya dengan perasaan bingung :,v ...Hueeee abis ngeliat anime yang judulnya shigatsu wa kimi no uso :3 sedih bro ceritanya...chapter ini terinspirasi sama anime itu :v hohohohoho Baekhyun itu dulunya pianis :v eh ChanBaek momenna bertahan yea... ngehahahahaha...btw ceye lagi PDKT tuh . Oh iya buku Guard or Killer itu murni fiksi :,v jadi intinya kagak ada didunia nyata...

Tebakan kalian tenang identitas Baekhyun itu bener kok ;) ... pada konek alhamdulillah T.T...

SHINeexo

Yepsss tebakan kamu bener XD Karena dia...ah sudahlah tunggu saja lanjutannya ;)

Makasih atas reviewnya :D

Sebut saja B

wahhh sama..aku juga suka yang genre begitu XD ...hohoho masa? aku gak nyangka bisa serasa kaya detective conan :,v .

Iyaappss Baekhyun itu first...dan tebakan kamu tentang identitas yang lainnya bener semuah XD *peluk* ...Thirdbl siapa hayooo? liat aja chapter depan .. hahaha...

Makasih atas reviewnya :D

yousee

Siiipppp ...ini udah lanjut semoga kamu suka :D dan maksih atas reviewnya :D

Guest

Hahahaha seneng deh ada yang suka sama FF abalku ini...aku masih belum bisa bikin FF bagus lah T.T tapi kalo kata kamu bagus...aku sangat berterima kasih *bow

Tebakan kamu bener hehehe XD

Baekhyun bukan snipper...dia...ah lihat saja nanti...

yang jelas sekarang belum saatnya Baekhyun pegang senjata *plak :v

Makasih atas reviewnya... :D


Btw maafkan saya jika masih ada typo yang bertebaran...untuk sang pembaca gelap..makasih juga udah nyempetin baca ... XD

sampai jumpa di next chap :* .

oh iya jangan lupa reviewlah...sekali aja juga gak papa..tapi bagusnya berkali-kali sih :v *plak*..oke byeee~