SNIPPER CODE

Desclaimer:
Exo itu milik tuhan yang dijaga sama ortu mereka dan didebutkan sama SM :v. Author hanya minjam nama saja beib :3. Cerita milik saya murni sekali.

CAST: Byun Baekhyun, Park Chanyeol and other

Genre: Mysteri, romance, action, and little bit of comedy

Rating: T++

Pairing: ChanBaek, and other official exo couple

N/B: jalan cerita terinspirasi sama all anime yang pernah daku tonton :v

Aviance Present

.

.

.

Chapter 4 (LAGU)

Baekhyun mendesah. Tangannya terulur kedepan untuk menegakan kembali buku instrumental yang seharian ini ia pelajari. Ini sungguh sulit. Dia sama sekali tidak memperkirakannya. Byun Baekhyun mulai meragukan dirinya sendiri.

"Chopin Ballade no.1 in G minor op.23". Baekhyun membaca judul salah satu instrumen dengan suara malas.

Meja belajarnya terlihat masih rapih. Tidak ada satupun buku pelajaran dari sekolah yang membuka . Baekhyun melupakan kegiatan belajar wajibnya hanya karena sebuah tuntutan.

Tubuh Baekhyun perlahan merosot kedepan masih dengan posisi kedua tangan yang menyanggah buku instrumental lusuh miliknya.

"Aish...apa benar aku dulu adalah seorang pianis handal?. Seingat ku, aku tak pernah ikut dalam kontes piano apapun...dulu aku disibukan oleh...". Baekhyun tak melanjutkan.

Alis Baekhyun seketika mengerut. Aneh. Ini sangatlah aneh. Sungguh. Dia tak pernah merasakan ikut kontes piano apapun. Baekhyun sangat yakin. Tapi...piala, medali bahkan piagam yang terpajang bukanlah merupakan sebuah kebohongan.

"Kalau aku tidak pernah mengikuti kontes piano, lalu apa maksud dari semua penghargaan disana?. Dan...dan...memang apa yang aku lakukan dulu?...akh...". Baekhyun memegangi kepalanya. Menjatuhkan buku bercover putih gading begitu saja.

.

.

.

Flash Back

"Makan malam telah siap!". Teriak seorang remaja berkulit putih dari ujung ruang makan. Mengintrupsi kedua lelaki di depan televisi yang tengah asyik beradu dalam play station.

"Tunggu sebentar, Baek. Aku belum mengalahkan, hyeong". Sahut remaja berambut coklat dengan fokus mata kearah layar.

"Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku, Yeol. Calon master ini tidak mungkin semudah itu untuk dikalahkan". Pemuda tampan disampingnya menanggapi.

Mereka terlarut dalam permainan. Mengabaikan ajakan dari remaja yang sudah susah payah memasak hidangan makan malam.

"Rasakan saja pembalasanku...". Sang remaja memandang kedua orang itu kesal. Ia lantas berjalan menuju ruang tamu untuk menyetel musik klasik kesukannya sekaligus mengambil 'kesayangannya' dari dalam laci tepat dibawah alat pemutar lagu yang sudah lawas.

Lagu klasik yang ia putar mulai mengalun indah. Memecah kebisingan akibat suara play station di ruang keluarga.

Baekhyun mengisi pistolnya dengan satu buah peluru. Ia kembali keruang keluarga untuk melihat kedua orang terkasihnya. Ah...agaknya mereka sama sekali tak terganggu dengan musik yang telah diputar oleh Baekhyun. Melihat pemandangan yang tersuguh membuat seringaian khas Baekhyun keluar. Dengan apron yang masih ia kenakan, ia berjalan mendekati kedua orang yang masih saja tidak menyadari aura hitam pekat disekeliling si remaja manis yang kini sudah berdiri dibalik sofa.

"Hyeong...Baek memutar lagu klasik...'. Chanyeol tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya. Melirik kearah pemuda berambut hitam dengan ketakutan.

"M-masa?. Kau salah dengar kali...ah-ahaha...". Ia memaksakan untuk tertawa. Menghalau setiap fikiran negatifnya sekaligus menenangkan Chanyeol yang sudah mandi keringat sejak mereka menyadari lagu klasik berputar.

"Hyeong...aku merasakan hawa tidak enak dari arah belakang". Chanyeol kembali berkata dengan suara tercekat.

"Diamlah, bodoh. Aku juga merasakannya...". Bisik pemuda bersurai hitam legam.

Baekhyun menatap keduanya sinis dari belakang. Dan tanpa ragu iapun menembakan selongsong peluru tepat kearah televisi yang menyala. Wajahnya datar tanpa ekspresi meski apron bercorak kupu-kupu menghias.

'Baekhyun mengamuk!'. Jerit kedua sosok yang telah membuat Baekhyun jengkel setengah mati.

"Hyeong, kau laparkan?. Ayo makan...". Chanyeol bangkit.

"I-iya...".

========sniper code==========

Baekhyun menghadap Jonghyun malam itu juga. Dengan nafas yang memburu, ia melempar buku instrumental pianonya kemeja kerja sang kakak sepupu. Kemudian menjatuhkan tubuhnya begitu saja diatas sofa yang berjarak cukup jauh dari sana.

Ya. Setelah adegan pusing kambuhnya dan tak menemukan setitik pencerahan, Baekhyun menyerah. Dia lebih baik mengulang setahun lagi daripada membunuh dirinya sendiri. Oh sekarang dia sangat menyesal telah menentang ibunya.

Baekhyun melesat menuju kediaman keluarga Lee untuk menarik perkataannya tempo hari. Toh masih belum terlambat untuk mengundurkan diri.

"Ow ow ow...Ada apa ini, hmm?. Kelihatannya seseorang sudah menyerah dalam satu hari...". Jonghyun segera mendekati Baekhyun dengan buku Instrumental piano ditangan kanan. Lelaki itu mengamati sampul depannya dengan seulas senyum yang menghias.

"Sudah lama tidak melihat buku ini...". Ucapnya ketika ia sudah duduk disamping Baekhyun. Jonghyun memandang buku digenggamannya rindu.

Baekhyun memperhatikan reaksi Jonghyun dengan seksama. Dipandangya heran pria berwajah sempurna itu. Untuk ukuran orang semacam Lee Jonghyun, Baekhyun sangat meragukan jika pria itu mudah tersentuh hanya karena urusan sepele seperti buku usang pemberiannya dahulu. Memang apa yang menyebabkan dia sampai menunjukan wajah lemahnya seperti ini. Baekhyun terlalu bingung.

"Hyeong, aku tahu buku ini adalah pemberianmu saat aku ultah yang ke delapan. Serius deh... Aku tak yakin memori itu sebegitu menyedihkannya...". Baekhyun membuka suara.

"Eh...?". Jonghyun langsung menoleh.

"Jangan 'eh' saja...". Dengus yang lebih muda sembari memajukan bibirnya.

Jonghyun merasa malu karena ketahuan melakukan hal diluar kehendak dirinya. Ia menggaruk tengkuknya canggung lalu meletakan benda dengan cover putih gading diatas meja.

Matanya kembali kepada sang adik sepupu.

"Jangan mainkan yang ada dibuku ini...Hyeong tahu kau belum terlalu siap karena masih ada sedikit trauma...Menyerah seperti ini membuat hyeong meragukan gendermu sebagai seorang lelaki".

Perempatan siku muncul dipelipis Baekhyun. Oh, kakaknya sudah kembali kedalam mode menyebalkan. Tuhan tolong sembuhkan sepupu tersayang tapi bohong, milik Byun Baekhyun ini. Ampunilah dosanya yang selalu melecehkan gender dirinya ini. Baekhyun merancau di dalam hati.

Jonghyun merasa menang. Baekhyun pura-pura tidak melihat.

"Tapi...masalahnya, jariku terus bergetar ketika akan menekan tuts piano,hyeong...".

"Kalau masalah itu, aku tidak bisa memberikan solusinya. Karena perasaan yang kau keluarkan ketika hendak bermain piano ada disini". Jonghyun menunjuk dada sebelah kirinya.

Baekhyun kebingungan. "Hyeong, jangan mengelak...tinggal bilang saja kau tidak tahu caranya. Jangan sok keren". Mata Baekhyun berkilat tak suka. Oh tuhan, sepupunya mulai bertingkah sok keren pula. Hati Baekhyun menjerit.

"Aku tidak bertingkah sok keren...Yang kuucapkan itu serius. Dengar ya Baekhyun...". Jonghyun menatap intens adik sepupunya. "Nada yang indah tercipta karena permainan rasa dari si pemain musik...perasaan yang menuntun alunan melodi mengalun indah . Perasaan yang mendorong seserorang untuk bermain dengan indah itu berasal dari hati...bagus tidaknya permainanmu tergantung pada ini...". Jonghyun menunjuk dada Baekhyun. "Bagaimanapun juga, kau harus menemukan alasan hatimu sendiri (Kim Baekhyun)".

"Alasan?...". Baekhyun memiringkan kepalanya. Masih kurang paham.

"Cari tahu sendiri saja bocah...". Jonghyun melempar buku instrumentalnya kewajah Baekhyun.

Ingatkan Baekhyun untuk menghajar Lee Jonghyun nanti.

.

.

.

.

"Aku tak menyangka jika kita satu sekolahan". Chanyeol mengelus dagu dengan tangan kanan. Ia menatap lekat rekan kerja yang ternyata merupakan teman satu sekolahnya. Dunia memang sempit. Belum lagi kenyataan bahwa oang itu adalah sahabat dekat first.

"Second, kau terlihat seperti ahjussi mesum ". Ucap sakarstik pemuda tan disampingnya. "Kau terlihat ingin memperkosanya ". Celetuk dia lagi.

Chanyeol mendelik tajam. Menatap pemuda itu dengan dingin dan membunuh. Jika sudah ditatap begini, tidak ada lagi yang berani memprovokasi seorang Park Chanyeol. Pengecualian untuk first. Karena nyatanya, dialah satu-satunya orang yang mampu menandingi Chanyeol dalam mengancam. Setidaknya orang itu tidak disini, meski tak menampik bahwa ia merindukan first.

"Upps..Maaf...leader". Pemuda tadi mengangkat tangannya. Dia menyerah untuk kali ini.

"Leader kita first tahu. Dia hanya wakil saja". Seseorang yang duduk dihadapan pemuda jahil itu membuka suara. Wajahnya sangat serius. Menandakan ia tidak setuju dengan perkataan rekan kerjanya barusan.

Hening. Topik yang menyinggung masalah terdahulu.

"Geez...Aku hanya bercanda". Pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah merubah wajah seriusnya menjadi lebih santai tatkala menyadari atmosfer berubah.

"Sama sekali tidak lucu, fifth". Sahut sang ID keenam.

"Mianhae...". Ujar fifth penuh penyesalan meski wajah santainya tidak terlihat demikian.

"Ini bukan masalah yang dapat dibuat candaan". Sixth berkata. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Bocah ini bukannya malah yang paling sering memicu pertikaian dengan melibatkan masalah tersebut dengan third.

"Oke...Aku mengaku bersalah...cih, kau sama kakunya dengan third". Fifth meminum kopinya dengan wajah kesal.

Ninth menghela nafas melihat kelakuan rekan kerjanya. Mereka lebih heboh dari yang ia duga.

Kemudian, suara dari sang pemimpin terdengar.

"Astaga...kalian berbeda sekali ketika sedang di chat room". Chanyeol menggelengkan kepalanya. Mereka memang sangat lihai dalam menutupi rasa kehilangan itu, berbeda dengan dirinya. Ah, Chanyeol terkadang merasa malu pada dirinya sendiri.

Ia tak mempermasalahkan berdebatan tadi.

"Jaa...sembari menunggu dewan master, bagaimana kalau kita memperkenalkan identitas kita terlebih dahulu...well, walaupun beberapa dari kita sudah saling mengenal". Chanyeol mengatupkan kedua tangannya.

"Namaku Oh Sehun. ID ku fith". Singkat.

"Namaku Kim Jong In, tapi aku lebih suka dipanggil Kai. Aku tidak sekolah. Karena itu terlalu membosankan, jadi aku bekerja sebagai instruktur di akademi kepolisian hahahaha lucu juga karena mereka menerimaku bekerja disana dan...".

Alis Chanyeol berkedut.

"SIXTH". Panggilnya penuh penekanan.

"Aku Kim Jong In dengan ID sixth. Salam kenal". Ia duduk dengan tegang karena aura hitam yang mulai menguar dari tubuh Chanyeol. Benar-benar mengerikan. Pernah sekali ia mengabaikan aura hitam Chanyeol . Ketika itu terjadi, ia harus dilarikan kerumah sakit karena mimisan yang tak kunjung berhenti. Dia kapok. Sungguh.

"Namaku Xi Luhan. IDku ninth. Senang bisa bertemu kalian secara langsung". Luhan tidak bohong dengan perkatannya barusan. Ia sangat senang karena sekarang bisa tahu identitas dari rekannya meski tidak semua. Keinginan untuk membobol database organisasi jadi lenyap begitu saja. Luhan tersenyum.

Dan ia tidak menyadari tatapan kagum pemuda disampingnya.

"Park Chanyeol, pemimpin sementara dari Skuad elit". Chanyeol mengakhiri sesi perkenalan. Mereka pun berlanjut dengan berbincang sedikit mengenai masing-masing pribadi untuk mendekatkan diri. Team work sangatlah dibutuhkan untuk kelangsungan misi mereka. Semakin kau mengerti pribadi rekan kerjamu, semakin tinggi kerja sama yang akan terjalin.

"Yeorobun! ...".

Keempatnya serentak menoleh kearah pintu masuk cafe.

Disana berdiri seorang pemuda bermata bulat dengan tas selempangnya tengah melambai dengan ceria. Ketiga dari mereka melambai balik, kecuali Luhan yang kebingungan.

Luhan tidak tahu kalau skuadnya memiliki member seceria itu. Yang terlihat ceria hanya fifth dan sixth saja. Itupun bukan termasuk kedalam kategori ceria, lebih cendurung kejahil mungkin. Meskipun hanya di chat room, Luhan setidaknya bisa menebak karakter dari timnya yang terkesan serius. Mungkinkah salah satu dewan master . Luhan berspekulasi.

"Perkenalkan dirimu. Ada member baru disini". Chanyeol berkata pada pemuda ceria tadi tepat ketika ia telah sampai dihadapan meja yang ditempati Chanyeol dan yang lainnya.

"Namaku Do Kyungsoo, seorang penulis novel...".

"...Novel Boys X Boys". Timpal Kai mengintrupsi tanpa dosa. Membuat Do Kyungsoo menekuk wajahnya.

"Ya! Diamlah bodoh...Daripada kerjaanmu yang seperti pengkhianat itu. Masih mending seorang penulis best seller seperti aku". Kyungsoo menyalak.

"Setidaknya pekerjaan yang aku lakoni masih keren". Kai tidak mau kalah.

"Kau membuat ES(1) tambah kuat tahu...". Kyungsoo mendengus.

"Tapi karena itu aku bisa mendapat informasi tanpa dicurigai tahu". Kai membalas.

Mereka saling menggeram dan beradu tatapan membunuh satu sama lain. Tidak memperdulikan pengunjung yang mulai tertarik dengan keributan dadakan itu.

Luhan menggaruk tengkuknya. Chanyeol mendesah lelah. Sehun sibuk bermain ponsel.

"Mereka memang sering seperti ini, Lu...".

Luhan menoleh kearah Sehun yang masih asyik bermain kemudian mengangguk sebagai tanggapan. Sehun cukup menjelaskan konflik ini kepada Luhan yang kebingungan setengah mati.

=====snipper code=======

"Bermain dengan hati, ya...". Baekhyun mengelus dengan lembut tuts piano diruang musiknya. Jam sudah menunjukan waktu untuk tidur. Tapi, Baekhyun yang penasaran dengan perkataan sepupunya mengenai permainan dengan hati belum ada sedikitpun rasa kantuk. Ia penasaran. Sangat. Rasa penasaran itu yang membuatnya kini terduduk disebuah ruangan bernuansa putih yang cukup luas. Ia duduk didepan grand piano berwarna hitam .

"Aku tidak bisa bermain dengan hati...karena ini masih terlalu asing untuk ku".

"...Tapi, akan kucoba...". Ia meyakinkan dirinya sendiri.

Baekhyun memejamkan mata. Mencoba untuk menemukan alasan agar ia bisa bermain dengan hati. Agar ia tak menyakiti pikirannya.

FLASHBACK

"Baek...Mau kemana lagi sekarang?. Ini sudah sore...harusnya kita langsung pulang untuk berlatih". Ia menarik tangan bocah berambut coklat didepannya dengan wajah memohon. Bukanlah pertama kali si rambut coklat berlaku seenaknya sendiri. Hukuman yang selalu diterimanya juga tidak membuat bocah berumur sembilan tahun merasa takut atau menyesal. Hanya saja, Chanyeol yang bertugas sebagai partenrnya merasa dirugikan atas sikap si surai coklat. Dia sama sekali tidak pernah ikut kedalam masalah partnernya. Tapi, ia tetap terkena hukuman yang sama. Tidak adil.

"Heol...Chanyeol, kita tidak akan mungkin bisa menikmati hal semacam ini dengan tenang nanti. Kita ini calon incaran polisi loh...".

Alasan yang sering digunakan untuk menyangkal ucapan Chanyeol. Kalau sudah begini, ia biasanya akan meninggalkan Baekhyun sendiri dan keesokan paginya tahu-tahu sudah mendapat sanksi dari mentornya di tidak pernah sekalipun termakan oleh omongan partenrnya. Akan tetapi, mungkin ada baiknya juga mengikuti Baekhyun. Toh jika ia dihukum,kali ini murni karena kesalahan dirinya dan Baekhyun. Mungkin untuk satu kali ini.

"Haaah. Baiklah...sekarang aku ikut denganmu". Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun.

"Eh?! Yang benar?..." Baekhyun menatap sahabatnya senang. Chanyeol mengangguk."Untuk kali ini saja". Lanjutnya.

"...Yosh, kajja Yeollie...". Baekhyun menarik tangan Chanyeol tanpa permisi. Dia terlihat sangat bersemangat.

"Memangnya tidak apa-apa masuk kedalam sekolah lain?. Kalau ketahuan bagaimana?". Chanyeol bertanya. Matanya menatap punggung Baekhyun . Ia masih ditarik oleh si surai coklat.

"Aku sudah minta izin kepada penjaga gerbang...Aku bilang ingin menemui kakaku disini. Hahaha mereka tidak tahu saja kalau kakak ku anak SMA bukan anak SD".

Ah pantas saja tadi Baekhyun masuk kedalam pos penjaga sebelum memasuki gedung sekolah. Dia memang sangat cerdik. Tak heran jika para mentor menyukainya disamping sifat nakal yang ia miliki.

Samar-samar mereka mendengar alunan piano yang sangat indah. Nadanya sedih dengan tempo yang teratur. Baekhyun menghentikan langkahnya sejenak. Memejamkan mata untuk menikmati melodi indah ini. Dikepalanya ia seperti melihat partitur partitur dari melodi ini. Baekhyun tersenyum tanpa sepengetahuan Chanyeol.

"Baek?...kenapa berhenti?". Chanyeol kembali bertanya.

"Yeollie, aku tidak menyesal telah datang kesekolah ini. Mereka pasti memiliki seorang pianis yang hebat".

Chanyeol diam. Ia menajamkan indra pendengarnya. Ah, benar suara ini adalah piano. Mengalun dengan lembut dan sangat indah. Chanyeol juga tidak menyesal telah melanggar jadwal kegiatan mereka.

"Ayo kita lihat siapa orang itu...". Baekhyun berlari menyusuri koridor panjang untuk menemukan sosok pianis yang dengan hebatnya memainkan piano.

"Chakaman, Baek...". Chanyeol mengejar dibelakang.

Baekhyun telah sampai didepan ruang musik. Alunan piano masih terdengar meskipun sedikit lagi akan selesai. Tanpa berpikir lagi, Baekhyun membuka pintu yang menghalanginya.

.

.

.

.

Baekhyun kaget ketika ia tersadar jarinya telah menari dengan lihai diatas piano. Partitur musik dibayangnnya telah ia mainkan tanpa rasa sakit sedikitpun yang mengganggu. Membayangkan kenangan indah yang tak diingat sama sekali ternyata berhasil. Baekhyun bisa menguasainya.

"Kenangan yang hanya bisa dirasakan ...kenangan hangat ketika aku mendengarnya". Baekhyun kembali memejamkan matanya.

"Aku bisa...aku bisa bermain dari hati".

Tanpa sepengetahuan Baekhyun, kedua orangtuanya telah berdiri disisi pintu ruang musik. Melihat permainan yang sudah sangat lama tak mereka dengar.

"Dia memainkannya...Apakah ingatan itu telah kembali?". Nyonya Byun membuka suaranya. Ia bergetar. Matanya mulai terasa perih. Sang suami merangkul bahu istrinya. Menenangkan hati yang sedang gundah itu.

"Dia tidak akan pergi. Tidak semudah itu, sayang". Sahut Tuan Byun.

"River Flows In You. Memang seperti Baekhyun kita". Nyonya Byun meneggelamkan wajahnya kedada sang suami. Air matanya tak bisa ia tahan lagi. Antara cemas dan bahagia.

.

.

.

.

"Yeoboseyo...Hyeong kami sudah berkumpul".

"Datanglah ke ruang bawah tanah cafe".

Chanyeol menautkan alisnya. Saat pertama kali kesini saja ia tidak diizinkan untuk memasuki cafe. Apalagi dia meminta untuk masuk kedalam base bawah tanah begitu saja.

"Kau ihat pintu staff di dekat kasir?".

Chanyeol mencarinya.

"Iya. Aku lihat...".

"Masuk saja kesana . Ketika ditanya jawab dengan kode oprasi...".

"Baikalah. Aku mengerti". Oh seperti itu. Chanyeol mengerti.

Chanyeol mengantongi ponselnya. Ia kemudian berdiri.

"Ayo kita pergi...Pertemuannya ada dibase bawah cafe...". Chanyeol mengambil jaket merah marun yang tersampir dikepala bangku. Ia memimpin komando .

Luhan berjalan berdampingan dengan Sehun dipaling belakang. Didepannya Kyungsoo dan Kai yang terlihat tengah bertikai dalam skala kecil, lalu Chanyeol dengan wajah serius memimpin didepan. Dia memperhatikan dengan seksama. Ini adalah misi pertama yang melibatkan dirinya ikut secara fisik keseluruhan.

Kalau tidak salah, tadi Chanyeol berkata tentang base bawah cafe, ya. Mungkinkah cafe ini adalah markas pusat organisasi Black Phantom?. Tapi, bukankah letaknya tidak strategis jika dijadikan sebagai markas pusat. Jika polisi tahu, mereka akan sangat dengan mudahnya menggeledah cafe ini.

Luhan sibuk berpikir. Sadar-sadar ia sudah berdiri didepan pintu bertuliskan ruang staff. Disampingnya Chanyeol berdiri dan siap membuka pintu tersebut.

"Siapa kalian?". Tanya salah satu staff yang terlihat ketika Chanyeol membuka pintu. Cafe yang sedang sangat ramai menguntungkan pergerakan mereka.

"Kode silver satu...". Chanyeol sedikit berkata. si staff wanita membulatkan matanya.

"Kode konfirmasi?". wanita bertubuh semampai mendekati Chanyeol. Matanya menilai setiap pasang kepala disekitar si pemimpin skuad dengan dingin.

Chanyeol terdiam sejenak. Sudah lama sekali ia tak mendengar kode konfirmasi yang biasanya akan disebutkan oleh first ketika mereka sedang menghadapi misi yang sangat besar hingga melibatkan organisasi lain.

Sehun menepuk bahu Chanyeol dari belakang. "Santai saja, leader...".
Chanyeol menganggukan kepalanya.

"River flows in you 001".


TehBeCeh

Hollaaa...wahh Aviance udah satu tahun ya gak update *plak ...Mianhae aku gak update-update T.T soalnya pikiran mendadak kosong belum lagi kesayangan aku disita (read laptop) T.T

semoga chapter ini bisa mengurangi kekesalan kalian. Itupun kalo kalian emang kesel T.T...

Glosarium

1. ES = (Enemies Security)...maksudnya sih polisi ... XD mereka nyebut polisi sebagai musuh keamanan. Padahal mah mereka sendiri yang pantes disebut gitu *plak

Untuk chap next kayaknya bakal banyak glosarium deh u.u...


Review Replay

SHINeexo

Ahahahaha...penasaran ya sama isi kotaknya ? XD saya juga penasaran sama isi kotaknya apa *plak

Bukan begitu kok XD ...lihat aja nanti...kenapa sampai Nyonya Byun ngelarang anaknya begitu . Beliau mah gak masalah kok kalo Baekhyun pegang senjata api lagi. Asalakan... wahhh tunggu aja kelanjutannya XD

Thanks for review

yousee

Bakal nongol kok siapa sosok yang dianggep kakak oleh Chanyeol XD huahahahah...tunggu aja sebentar lagi ya kekekeke XD

Bingung dimananya? '-' ...coba bilang XD

Thanks for review

Guest

Bukan...Baekhyun tugasnya bukan jadi snipper...dia mah ahli jarak dekat *plak...yang snipper itu si Ceyenya huahahahaha... XD ...ini tuh code codean yang ditinggali ceye buat si cabe/? heheheheh

yeol udah gak kuat lama-lama jauh sama Baekhyun nih hehehe XD

Bukan hyung kandungnya ceye loh ini tuh. cuman orang yg ceye anggap kakaknya... dia bukan kris ...dan dia... liat aja nanti ya hahaha...otak saia juga panas karena bingung u.u

Jjinja?...wah seneng banget deh klo beneran begitu
Bener banget. Aku gak tega klo liat bekyun disiksa...sekali-kali lah dia begini kekeke... Gomawo bangat, beb ...

Maaf gak bisa fast update..nanti aku usahain T.T

Thanks for review

biezzle

Iyaappsss...bekyun itu adalah first.. XD dan...kenapa bisa begitu?...Black Phantom punya banyak rahasia dibalik semua itu...jadi tunggu aja ya XD hahahahahah

semoga tambah penasaran *plak XD

Thanks for review

Yo! mind to rnr XD

maaf ya kalau masih ada typo u.u