Tittle: I Hate You, Hyung chapter 2

Cast: Cho Kyuhyun(16 y.o), Lee Donghae as Cho Donghae(17 y.o), Park Jungsoo as Cho Jungsoo(20 y.o), and other.

Genre: Brothership, family, angst dll.

.

.

Warning: Typo bertebaran, cerita pasaran, jelek, alur membingungkan dan kekurangan lainnya.

.

This story is mine.

All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri.

.

Mata lesu dengan lingkaran hitam di sekitar kelopak matanya itu memandang sendu sebuah pemandangan memilukan di hadapannya.

Sebuah pemandangan yang begitu membuat hatinya sakit. Di sana, jauh dari tempat ia berpijak, dapat ia lihat dengan jelas sang adik, Kyuhyun, dengan tubuh bergetar menyayat-nyayat tangannya sendiri dengan brutal menggunakan sebuah cutter kecil yang berada di sebelah tangannya yang lain.

Darah memuncrat dari hasil sayatan itu. Mengalir menuruni kulit berwarna putih pucat miliknya. Tak ada ekspresi raut sakit disana. Yang Donghae lihat hanyalah sang adik begitu datar menatap luka-lukanya yang nampak mengerikan dan dalam itu.

Dengan langkah yakin Donghae menghampiri sang adik yang masih mengenakan seragam sekolah itu. Kyuhyun baru saja pulang sekolah kala itu, membuat Donghae menaruh curiga pada dongsaengnya yang langsung menuju ke arah belakang, bukan kamarnya.

"Kyuhyunie..." lirih Donghae kala ia tepat berdiri dihadapan adiknya yang sedang membelakanginya.

Kyuhyun terkesiap mendengar panggilan lirih itu dan tanpa sengaja menjatuhkan cutter bernoda merah darah ke rerumputan yang dipijaknya. Ia berbalik menatap si pemanggil yang adalah hyungnya itu. Dengan gelagapan ia sembunyikan tangannya yang penuh luka dibalik tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan saengie...?" iris mata Donghae memandang nanar noda-noda darah yang menetes dan jatuh di rerumputan hijau belakang rumah itu.

"Apa yang kau lakukan dengan itu Kyuhyunie...?" Tanya Donghae sembari menunjuk cutter bernoda darah itu dengan matanya.

Air mata mulai menuruni pipi tirus Donghae, melihat wajah pucat dan tubuh gemetar Kyuhyun rasanya beribu kali lebih menyakitkan dibanding kala jantungnya tengah kambuh.

"Tidak ada apapun" Kyuhyun mengelak, ia merapatkan tubuhnya ke pagar dibelakangnya. Kepala terus menggeleng.

"Kyu..."

"Pergi!"

"Kyuhyunie...jangan seperti ini saengie..." Donghae mencoba mendekati Kyuhyun.

"PERGI! JANGAN MENDEKAT!" Kyuhyun berteriak-teriak menyuruh Donghae menjauh. Bahkan mendorongnya hingga membuat hyungnya itu terjatuh.

"PERGI! AKU TIDAK GILA! Jangan bawa aku ke tempat itu lagi...hiks.. kumohon...hiks..." Kyuhyun merasa sangat ketakutan mendapati ada orang lain yang mengetahui apa yang ia lakukan, semacam de javu. Ia takut jika mereka tahu, mereka akan membawanya kembali ke tempat itu.

Donghae memeluk paksa tubuh gemetar sang adik, ia biarkan adiknya itu meronta bahkan memukulinya. Ia hanya ingin memeluk adiknya dan membuatnya tenang, hanya itu saja.

"Pergi...pergi...pergi..." suara itu semakin melemah hingga menyisakan tubuh yang terkulai tak sadarkan diri.

.

.

.

Donghae menyelimuti tubuh Kyuhyun sebatas dada.

Sesaat setelah Kyuhyun pingsan dengan payah ia membopong Kyuhyun menuju kamarnya. Di rumah tak ada siapapun selain dirinya.

Dengan cekatan ia mengganti baju adiknya dan membersihkan serta mengobati lukanya.

Sekarang yang ia lakukan hanya menatap sang adik yang telah lelap atau tak sadarkan diri itu. Jemari yang kurus miliknya mengusap lembut kepala sang maknae kala maknaenya itu nampak gelisah dalam tidurnya.

Tak ingin ia beranjak sedikitpun dari sang adik. Adiknya yang nampak begitu kuat dari luar ini nyatanya memiliki hati yang rapuh dan mudah tersakiti. Ia akan memendam semua lukanya dan akan dapat meledak sewaktu-waktu. Olehnya ia sangat menyayangi dan bertekad melindungi sang adik tercintanya.

"Kyunie...hiks...kenapa kau begini lagi? Hiks...bukankah kau sudah sembuh...hiks..." Donghae menutup mulutnya rapat-rapat untuk meredam isakanya.

Donghae tahu betul jika maknaenya ini mempunyai gangguan pada kejiwaannya. Tidak, ia tidak gila, hanya saja ia memiliki suatu sikap yang cenderung suka melukai diri sendiri dan orang lain.

"Kyuhyunie...hiks..."

Flashback...

"Tidakkah kau menyadarinya? Ia sering sekali melukai dirinya sendiri. Bukan sekali dua kali aku mendapatinya memecahkan kaca dan menggoreskannya pada tubuhnya!" Cho Younghwan, ayah dari Jungsoo, Donghae dan Kyuhyun ini nampak tengah gusar memikirkan sang putra bungsu. Putra bungsunya yang berlaku tak wajar dan suka sekali melukai diri sendiri.

"Aku pun menyadarinya yeobbo. Tapi Kyuhyun masih 8 tahun. Kejam sekali kau mengusulkan memasukannya ke rehabilitasi penyakit jiwa!" sang istri, Cho Hanna menolak mentah mentah usulan sang suami untuk memasukan Kyuhyun ke rumah sakit jiwa.

"Demi tuhan Hanna! Anak itu gila! Tidakkah kita malu keluarga Cho yang terhormat memiliki anak dengan kelakuan tak wajar? Ini keputusan terbaik, selagi ia masih anak-anak kita harus segera mengobatinya. Dengan begitu setidaknya ia akan sembuh ketika ia besar nanti" Tuan Cho berargumen.

"Kyuhyun tidak gila! Tega sekali kau mengatai anakmu seperti itu huh?!" Sela nyonya Cho yang tak terima anaknya di sebut gila oleh suaminya.

"Aku tetap tak setuju, bukankah kita ini dokter huh? Kenapa kita tak mencoba menyembuhkan Kyunie sendiri. Aku tak terima jika kau memasukan anakku ke rumah sakit jiwa!"

"Baik! Lakukan apa maumu. Tapi jika sekali lagi anak itu berbuat yang tak normal, maka tanpa pikir panjang aku akan mengirimnya ke rumah sakit" ucap tuan Cho tegas kemudian beranjak pergi meninggalkan nyonya Cho yang terduduk lemas di dinginnya lantai marmer.

Tanpa kedua orang itu sadari, seorang anak mendengar percakapan mereka semua "Kyunie...hiks...saengie..." ia membekap mulutnya kuat-kuat. Sedikit menarik napas guna menenangkan diri, anak itu memberanikan diri mendekati ibunya.

Dengan langkah sedikit tertatih ia menghampiri sang ibu yang masih terduduk lemas itu.

"Umma..." Donghae memanggil lirih ibunya. Membuat nyonya Cho menatap putranya itu. Oh tidak, apakah putranya itu mendengar semua pembucaraan tadi, tanya nyonya Cho dalam hatinya.

"Um-umma...hiks... Kyuhyunie tidak gila seperti...hiks..yang appa katakan bukan...?"

"Hae-ya, jangan berkata begitu nak" dengan segera nyonya Cho membawa tubuh ringkih yang masih terisak hebat itu kedalam pelukannya.

"Adikmu tidak gila Hae, tidak, sama sekali tidak"

"Hiks...jangan...jangan bawa Kyunie ke rumah sakit jiwa...hiks...kasihan dia umma. Tempat itu mengerikan...hiks..." Meski masih berusia 9 tahun, Donghae bukannya tak tahu betapa menyeramkannya tempat bernama rumah sakit jiwa itu, meski tak pernah kesana, ia mendengar cerita-cerita yang membuatnya bergidik mengenai tempat itu.

"Tidak Hae-ya, umma tidak akan membawanya kesana. Kita harus melindungi Kyunie bersama-sama ne?!" Ujar nyonya Cho, ia berharap putra keduanya itu mendukungnya. Tak ada lagi yang bisa ia mintai dukungan selain Donghaenya, Jungsoo, putra sulungnya itu memang selama ini tinggal bersama sang halmeoni jauh di ujung Korea sana, dan ia tak boleh tahu soal ini.

Cukup ia, suaminya dan Donghae saja yang tahu.

.

"Ani appa...hiks...jangan bawa Kyunie..." dengan tubuh lemah serta kaos yang berlumur darah itu, bocah yang hanya terpaut 1 tahun dengan Kyuhyun itu memeluk erat sang adik. Menjadikan tubuhnya yang lemah sebagai tameng guna melindungi sang adik, tubuh yang bahkan telah kehilangan darah dari luka yang menganga dari sudut lehernya.

"Anak itu sudah melukaimu Hae. Appa tak mau kejadian ini terulang lagi jika appa tak segera mengirimnya kesana" tuan Cho menatap berang sesosok tubuh kecil dalam pelukan Donghae.

"Serahkan Kyuhyun pada appa sekarang juga Cho Donghae!"

"Hyung...Hae hyung...hiks...Kyu takut hyungie..." lirih Kyuhyun begitu pelan dengan nada bergetar takut.

Donghae tersenyum dan mengeratkan pelukan itu "Tanang saja...akh. Hyung akan...hh...ssshh...melindungimu..." Donghae berujar yakin disela napasnya yang terasa berat dan begitu payah dirasanya. Ia kesakitan, namun ia mencoba menahan dan menghiraukan rasa sakit yang terus menyerangnya. Jangtungnya mulai berontak dan berdebar dengan kencang. Membuat rasa sakit itu semakin ketara, Donghae menggigit bibir bawahnya kuat-kuat senagai pelampiasan rasa sakitnya.

Ia tak boleh tumbang, jika ia sampai tumbang, tak akan ada lagi yang bisa melindungi Kyuhyun.

Sang umma hanya bisa memohon, namun Donghae tak yakin jika sang appa akan menuruti permohonan itu. Sakitnya kali ini membawa keberuntungan dirasa. Setidaknya sang appa tak akan bermain kekerasan padanya, dengan begitu ia bisa terus melindungi sang adik.

"Yeobbo, kumohon jangan. Kyunie tidak sengaja melakukan ini pada Donghae...hiks..." nyonya Cho ikut terisak, tak bisa ia bayangkan bagaimana kehidupan sang putra bungsu di masa mendatang jika masah kecilnya dihabiskan ditempat seperti itu. Ya, ia masih ingat benar betapa kalapnya tuan Cho kala melihat putra bungsunya menyayatkan sebuah luka di leher sang hyung, hingga membuatnya langsung memanggil petugas dari rumah sakit jiwa kemari.

"Aku tidak peduli. Anak itu sudah benar benar gila. Donghae menyingkirlah dari Kyuhyun sekarang juga!"

Emosi tuan Cho tak dapat ditahan lagi melihat bagaimana sang istri dan juga anaknya yang lain begitu menentangnya. Terlampau emosi hingga ia tak menyadari bahwasannya baru saja membentak Donghae dengan keras.

Sesuatu yang tak boleh dilakukannya pada Donghae.

"Ukh..." Donghae melenguh keras. Tubuhnya terjatuh dilantai begitu saja dengan tangan kanan meremas dada kirinya yang terasa sakit. Bentakan yang mungkin tak sengaja dikeluarkan sang appa padanya ini sungguh membuat jantungnya berhenti berdetak barang sejenak, kemudian diikuti detakan-detakan cepat dan keras yang membuatnya berkali lipat lebih sakit dari sebelumnya.

Nyonya Cho yang melihat itu segera menghampiri Donghae, ia memeluk tubuh yang gemetar dan memerah menahan sakit itu.

Sedang tuan Cho? Ah nampaknya kesempatan ini digunakan tuan Cho untuk menarik Kyuhyun. Menyeretnya menuju mobil berwarna putih yang terparkir di depan rumah.

"Ukh...jangan...appa. Jangan...eungh...hhh...jangan bawa Kyunie ke sana...ngghh!" Donghae berusaha bersuara melihat hal itu. Meski suara itu begitu lirih dan dianggap angin lalu oleh tuan Cho.

Tubuh Donghae terkulai tak berdaya dalam pelukan sang umma. Pandangnya yang mengabur melihat dengan jelas bagaimana air mata itu membasahi pipi chubby sang adik. Pendengarannya samar-samar mendengar teriakan minta tolong dari si bungsu yang dialamatkan kepadanya. Menahan segala rasa sakit yang bersemayam didadanya, Donghae mencoba bangkit berdiri.

"Appa...appa...hiks... Aku tidak mau...hiks...jangan paksa aku... Hiks...umma! Hae hyung! Tolong Kyunie..." tubuh kecil bocah berkulit pucat itu nampak meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dari beberapa orang berseragam putih yang berusaha memasukannya ke dalam mobil semacam ambulan.

"Hae hyung tolong...hiks...tolong Kyunie... Hae hyungie...hiks..."

"Lepas! Kyu tidak mau...hiks...hyung...hyungie..." salah seorang pria berseragam putih berhasil membawa masuk Kyuhyun ke dalam mobil.

"Saengie...akhh..." Donghae tetap berusaha bangkit dari posisinya meski sudah berulang kali terjatuh ia, mengabaikan seruan khawatir dari bibir sang umma yang berada disampingnya saat ini. Ia harus kuat, ia harus menghentikan perbuatan sang appa. Tak akan kubiarkan

Deruan mesin mobil mulai terdengar.

Oh tidak, mobil itu mulai bergerak. Entah tenaga dari mana, tubuh yang sudah terlalu lemah itu dipaksakan berlari mengejar mobil berkecepatan tinggi itu.

"Hh...hhh...Kyuh.."

Tubuh itu berhenti berlari kala pandangnya tak mampu menangkap siluet bayangan sang mobil. Donghae berdiri di tengah jalan raya yang cukup sepi. Napasnya berhembus kasar dan cepat.

'Brug'

Tubuh itu rebah di aspal jalan. Tubuhnya terasa begitu lemas. Matanya masih terbuka memandang kosong ke arah jalan.

"Kyu...hyu...nie..."

.

Hari itu, Donghae jatuh dalam kondisi koma.

Flashback end...

.

.

.

"Jungsoo! Tunggu aku!" Suara melengking nyaring diikuti derap langkah tergesa memecah keheningan di koridor kampus Seoul University.

Yang dipanggil menolehkan kepalanya dengan wajah memerah malu.

Bagaimana tidak malu jika namamu di teriakan sekeras itu hingga membuat orang-orang yang tengah berlalu lalang mengalihkan perhatian.

"Hah...hah...Jungsoo-ah kau tega sekali meninggalkanku..huh... hah...!" Seorang namja cantik dengan tubuh ramping miliknya menghampiri Jungsoo dengan napas tersengal.

'Pletak'

Sebuah jitakan bersarang di kepala Heechul.

"Heechul-ah kau membuatku malu"

"Yak kau! Tega sekali..." Heechul menggosok dahinya yang diyakininya terdapat jejak memerah disana.

"Kenapa meninggalkanku, kau lupa aku akan ke rumahmu untuk meminta bimbingan huh?!"

Jungsoo menepuk dahinya sendiri "Astaga Heechul-ah! Aku lupa...Eh tunggu dulu...aku baru sadar. Bukannya kita beda jurusan eoh, kenapa jurusan psikiater sepertimu malah meminta bimbingan kepadaku?" Jungsoo memang berada dalam jurusan cardiologi.

"Ayolah Jungsoo. Meski berbeda jurusan, tapi aku yakin kau bisa mengajariku tentang materi ini. Bukankah kau mahasiswa terpintar disini eoh" mohon Heechul mulai membawa-bawa gelar yang disandang Jungsoo disini.

"Aishh...ah..baiklah terserah kau kalau begitu. Tapi sebelum pulang aku harus ke apotik dulu. Obat Donghae habis, aku akan membelinya disana"

"Donghae? Adik yang sering kau ceritakan padaku itu? Ah aku jadi ingin bertemu dengannya. Tidak apa-apa, aku akan menemanimu membelinya hehe" Heechul mengakhiri ucapannya dengan cengiran lebar di bibirnya.

Heechul belum pernah bertandang ke rumah Jungsoo memang. Dan nampaknya ia akan bertemu dengan adik Jungsoo yang satu itu.

Mereka baru bersahabat sekitar 2,5 tahun yang lalu. Pertama kali bertemu saat menjalani ospek saat pertama kali masuk kuliah. Dan entah mengapa merasa cocok hingga menjadikan mereka sahabat akrab.

Jungsoo memang sering bercerita kepada Heechul. Terlebih Donghae, Jungsoo selalu bercerita betapa ia bangga memiliki adik yang begitu kuat seperti Donghae, yang bahkan begitu kuat menghadapi penyakitnya dari kecil. Ya, Jungsoo selalu membanggakan Donghae pada siapapun.

.

.

.

Kyuhyun terbangun dari tidurnya atau pingsannya. Matanya mengerjap memandangi langit-langit kamarnya.

"Akh..." denyutan di kepalanya terasa menyakitkan kala kesadaran penuh ia dapatkan.

"Apa yang terjadi?" Gumamnya pada diri sendiri.

Sekilas matanya menangkap lengan berbalut perban miliknya.

"Ini..."

"Uhuk...uhuk...ugh..." samar, suara batuk penuh kesakitan serta lenguhan sakit itu menyapa indra pendengarnya. Fikirannya hanya tertuju pada satu orang. Donghae hyung...

Entah mengapa ada rasa khawatir menyusup dihatinya membuatnya bergegas menuju kamar sang hyung.

.

"Uhuk...uhuk...ugh..." Donghae meremat seprai ranjanh miliknya dengan erat. Matanya terpejam, setitik air mata menetes dari pelupuk matanya kala rasa sakit luar biasa menyerangnya. Dadanya terasa panas dan sesak.

Tak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya meringkuk di atas ranjangnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan kebas. Tangannya yang gemetar hebat mencoba meraih sebuah tabung putih berisi obatnya yang terletak diatas nakas kecil tepat disebelah ranjangnya.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki, Donghae menggapai tabung putih itu, menggenggamnya erat kemudian.

Donghae terdiam sebentar, mengumpulkan tenaga untuk sekedar membuka tutup tabung itu.

Dan ketika ia membukanya...kosong. Tak ada sebutir obatpun yang tersisa disana. Oh tidak, obatnya habis, bagaimana ini.

"Eung..hhh...hyung...sa-kithh.." Donghae merintih lirih. Memanggil-manggil sang hyung, meski ia tahu sang hyung belum pulang dari kuliahnya.

"Euh...hh..." Sekelebat bayangan putih melintas membuat segalanya gelap dalam pandangnya.

.

Kyuhyun tengah berada di kamar Donghae sekarang. Matanya tak lepas mengamati tubuh sang hyung yang tertidur atau pingsan? dalam posisi meringkuk.

"Hae hyung..." Kyuhyun mendekat dan menggoyangkan tubuh hyungnya itu, sekedar memastikan hyungnya hanya sekedar tidur.

"Hyung...kau..." Kyuhyun membalik tubuh Donghae. Membuat posisi tidur namja itu terlentang. Membuat Kyuhyun dapat melihat dengan jelas betapa pias wajah sang hyung berbalut peluh dengan bibirnya nampak membiru, juga betapa susah payahnya sang hyung menarik satu tarikan napas dalam tidurnya. Membuatnya benar-benar yakin jika kondisi sang hyung tak baik-baik saja.

Pergolakan batin dialami Kyuhyun. Sisi malaikat dan sisi setan beradu argumen.

'Kau harus menolongnya Kyuhyun. Dia hyungmu'

'Tidak, kau tidak harus menolongnya. Ingat karena siapa kau diperlakukan berbeda'

'Kau yang membuatnya sakit Kyuhyun. Kau harus membawanya ke rumah sakit'

'Tidak perlu! Toh nanti hyungmu yang satu lagi bisa menolongnya'

'Ingat segala kabaikannya padamu Kyuhyun. Ia sangat menyayangimu. Tolonglah ia'

'Jangan! Biarkan saja dia. Jika dia mati karena penyakitnya, kau tak perlu mengotori tanganmu untuk menyingkirkannya'

Nampaknya sisi setan memenangkan hati Kyuhyun. Seringai lebar mengerikan nampak di sudut bibir merah itu "Benar..." Kyuhyun menatap tajam sang hyung "Biarkan dia mati karena penyakitnya. Hmm...itu terdengar lebih baik dari pada aku menghabisinya dengan tanganku sendiri" dengan langkah ringan Kyuhyun meninggalkan kamar itu. Ia bahkan tak menoleh sedikitpun, tak ada rasa bersalah sedikitpun dalam benaknya meninggalkan sang hyung yang tengah sekarat menghadapi dewa kematian.

Tbc...

Note: maaf pendek, saya mau belajar dulu wiinkkk*. Maaf banget kalo Kyu OOC banget disini. Saya mau bikin yang beda, biasanya kan Kyu penyakitan dan kesiksa mulu. Nah disini saya buat si epil jadi setan beneran eh mksudnya psiko sadis(kalo bisa hehe), dan si ikan cucut eh si nemo jadi korbannya. Buat penggemarnya ikan, maaf banget ne. Thanks a lot buat yang udah review! Semoga suka dengan chap ini wiiinnk*(saya seneng banget ngilang kkkk)