Tittle:

Sleep With Mr. Park

Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'

Karya Santhy Agatha

MinYoon Fanfiction

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Warning :

OOC, Typo(s).

©Jimsnoona

.

a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha. Jims hanya mengubah beberapa alur dan memberi penambahan serta pengurangan seperlunya sesuai kebutuhan, namun tidak akan mengubah plot serta konsep dari novel aslinya

Don't like, don't read.

.

.

.

.

.

BAB 2

Perjalanan itu terasa menyiksa dan panjang. Tubuh Yoongi dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Jimin ke bagasi dan dikunci dari luar.

Yoongi berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhirnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang makin menipis, Yoongi terdiam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya?

Lama sekali Yoongi menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat. Terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti.

Suara pintu mobil dibanting. Dan syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Yoongi bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur. Ah ya Tuhan, semoga semudah itu.

Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.

"Yoongi," itu suara Jimin dan lelaki itu memanggil namanya.

Wajah Yoongi langsung pucat pasi. Lelaki itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!

"Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak," Ada seberkas senyum di suara Jimin. Kurang ajar. Lelaki itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!,

"Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak ramah. Kusarankan kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh" Rumah Jimin.

Yoongi memejamkan matanya frustrasi. Dari informasi yang dia dapatkan, rumah Jimin yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal Jimin. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan Jimin. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin Jimin.

"Bagaimana Yoongi? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang," suara Jimin di luar menyadarkan Yoongi dari lamunannya. "Kenapa kau membawaku kemari?," gumam Yoongi penuh keberanian.

Terdengar suara Jimin terkekeh di luar sana,

"Menurutmu kenapa Yoongi? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?" Suara Jimin terdengar dekat,

"Kau sudah bermain api," bisiknya, "Sekarang saatnya kau untuk terbakar."

Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Yoongi belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Di belakang Jimin yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, Yoongi tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau Yoongi berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka.

Jimin mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk,

"Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar," gumamnya mengejek.

Yoongi menatap tangan itu lalu menggeram marah. Kurang ajar sekali iblis yang satu ini!

Dengan marah, ditepiskannya tangan Jimin dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo.

Akhirnya Yoongi berhasil berdiri keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya. Jimin mengamati Yoongi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,

"Mari, silahkan masuk. Selamat datang di rumahku," setengah memaksa lelaki itu mencengkeram lengan Yoongi yang kaku lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Bagian depan ruang tamu Jimin sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.

Jimin membawa Yoongi menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki tangga.

Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih,

"Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang," gumam Jimin datar.

Yoongi membelalakkan mata, marah pada Jimin,

"Atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal di mana. Aku mau pulang"

Bibir Jimin masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak. Mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin,

"Kau tidak bisa pulang. Sekarang, ini adalah rumahmu. Bersamaku"

Dengan cepat lelaki itu merengkuh pundak Yoongi, dan detik itu Yoongi menyadari bahwa lelaki itu akan menciumnya. Secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Jimin hanya mendarat di pelipisnya.

Cengkeraman Jimin di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan,

"Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satu-satunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau… Mati,"

Dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam, Jimin membuka pintu putih itu, dan mendorong Yoongi masuk. Lalu menguncinya dari luar, meninggalkan Yoongi yang menggedor-gedor dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.

.

.

.

"Menurutmu apakah dia sudah siap untukku?"

Jimin mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa di dalam kamarnya. Hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, lelaki itu menyesap anggurnya, lalu menatap Hoseok, pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri di depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.

"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada Anda, tetapi siap membunuh anda. Tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian" Jimin tersenyum tipis mendengar jawaban Hoseok itu,

"Ya, tatapan matanya membakar, penuh kebencian.," Jimin menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya,

"Tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini"

"Ya saya tahu," jawab Hoseok tenang, "Apakah Anda akan memaksanya…?"

"Aku tidak suka memaksa perempuan, kau tentu tahu"

Jimin terbiasa dikelilingi perempuan yang menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorang perempuanpun yang mampu menolak pesona Park Jimin. Dengan rambut hitam legam alaminya, mata cokelat pucat dan wajah tegas penuh kharismanya hampir bisa dikatakan sempurna seperti

malaikat…

Kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam, menakutkan. Jimin bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.

"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela" Tentu saja. Gumam Hoseok dalam hati. Kata-kata Jimin bagaikan perintah baginya.

.

.

.

Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk main-main. Hoseok mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif.

Dan kalau perempuan itu meminumnya, maka perempuan itu akan menyerah pada Jimin, dan menyenangkan tuannya.

Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Hoseok mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman Yoongi.

Obat ini akan membuat perempuan tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, perempuan itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Hoseok yakin, Yoongi akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.

Malam ini perempuan itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku. Hoseok tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.

.

.

.

Sudah hampir satu jam Yoongi dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di semua furniture-nya. Kamar ini dibuat untuk perempuan, dan Yoongi merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Jimin yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini.

Salah seorang pengawal Jimin yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apa-apa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar.

Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, Yoongi mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu. Benar-benar sungguh menggoda.

Perutnya sangat keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Jimin, dan sekarang dia kena batunya.

Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih panas. Mungkin jika aku mengintip sedikit apa makanannya… tidak! Yoongi menghardik dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus menyerah pada kekuasaan Jimin.

Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa. Yoongi melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda.

Akhirnya Yoongi menyerah. Dia haus sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan benar-benar pingsan. Yoongi tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.

Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya. Tanpa sadar segelas minuman itu tandas sudah, Yoongi meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah.

Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini,

Mata Yoongi berputar, ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana, yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Yoongi bisa mencari

cara keluar dari sana. Dengan hati-hati Yoongi melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa.

Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat. Lagipula Yoongi baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua, kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.

Yoongi mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan. Dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung. Entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar…

Kepanasan…

Ada apa ini? Yoongi meraba dahinya sendiri, terasa panas.

Apakah dia demam? Napas Yoongi terengah, semuanya terasa panas…

Terasa panas… Yoongi sangat butuh…

.

.

.

Jimin membuka pintu kamar tempat Yoongi dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Jimin tidak mengharapkan Yoongi masih bangun. Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata Jimin menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis. Gadis keras kepala. Geram Jimin dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam Jimin dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Dia tidak tahu bahwa Jimin akan menggunakan segala cara untuk membuat Yoongi menyerah padanya.

Gerakan gemerisik di ranjang membuat Jimin menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Jimin melihat Yoongi terbaring di sana, gelisah. Perempuan itu belum tidur rupanya, Dan dia tampak… tidak tenang.

Ingin tahu, Jimin mendekat, dan menemukan Yoongi berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan,

"Tolong…Euh, panas sekali….," suara Yoongi mendesah, seraknya terdengar begitu khas seperti orang kesakitan.

Mengernyitkan keningnya, Jimin duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Yoongi, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Jimin makin dalam, lalu kenapa perempuan ini bilang kalau dia kepanasan?

"Kau mau minum?," dengan cekatan Jimin mengambil gelas air di meja pinggir ranjang,

"Sini, aku bantu kau minum." Jimin bangkit dan mengangkat tubuh Yoongi, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Yoongi menggayut lemah di lengannya, dan napas perempuan itu terengah,

"Panas…. Tolong ini panas sekali….," Sekali lagi Yoongi mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa.

Jimin meminumkan air itu kepada Yoongi, dan dengan rakus Yoongi mengabiskan air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.

Pasti ada sesuatu, Jangan-jangan…

Jimin memundurkan tubuh Yoongi yang bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati Yoongi dengan jelas.

Wajah Yoongi merona kemerahan, peluh keringat menghiasi tubuh mungil Yoongi dan membuatnya terlihat mengkilat, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan. Jangan-jangan,

Dengan cepat Jimin membaringkan Yoongi di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya kemudian ia berteriak.

"Hoseok!"

Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, Hoseok muncul di depan Jimin,

"Ya Tuan?"

"Kau campurkan apa di minuman Yoongi?" Hoseok sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi.

"Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa"

Wajah Jimin mengeras.

"Ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalat wanita dalam pengaruh obat. Kau melakukan sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu"

Hoseok tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Jimin.

"Anda memerintahkan saya untuk membuat perempuan itu menyerah. Dia sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian. Obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah," Hoseok menatap mata Jimin dalam jeda singkat,

"Anda bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya"

"Dia kesakitan, kau tahu itu," geram Jimin marah.

Hoseok mengangkat bahunya kemudian bersiap untuk pergi.

"Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah Anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut."

"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"

"Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya."

"Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau bisa juga sepanjang malam?"

"Ini bisa berlangsung selama Anda ingin bersenang-senang, Tuan"

Jimin terdiam. Kata-kata Hoseok terasa begitu menggoda. Baik hati maupun pikirannya berkecamuk dalam kebimbangan, di satu sisi ia menginginkan Yoongi malam ini, namun di sisi lain ia merasa tidak tega dengan keadaan Yoongi yang tengah kesakitan.

.

.

.

Jimin kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat Yoongi kembali.

Yoongi masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika Jimin duduk di ranjang. Yoongi menatap Jimin dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.

"Aku sakit, nghh… tubuhku… panash…"

Jimin tersenyum dengan kelembutan yang aneh. Yoongi benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Yoongi dari

kesakitannya. Dan Yoongi membutuhkan Jimin untuk itu.

Jimin mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir Yoongi, kendati ia mendapati mata Yoongi yang membelalak kaget. Jimin tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.

"Kau tidak menyukainya?," bisik Jimin lembut.

Yoongi menatap Jimin, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus,

"Aku… apa yang terjadi pada diriku?"

Jimin mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya di pipi Yoongi, membuat tubuh Yoongi bergetar.

"Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu…"

"Obat? Apakah aku diracuni?"

"Itu bukan racun Yoongi, obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan"

Yoongi butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Jimin, sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi Jimin. Tetapi Jimin merengkuh Yoongi lagi dan berbisik lembut di telinga Yoongi,

"Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu," sambil berbicara, tangannya yang bebas turun mulai menyentuh dada Yoongi.

"Eungh~" Erangan Yoongi ketika merasakan jemari Jimin menyentuhnya terdengar begitu menderita.

"Terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?" Tangan Jimin bergerak ke pusat gairah Yoongi.

"Tidak!," Yoongi mencoba berteriak dan mencengkeram lengan Jimin,

"Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"

"Ini satu-satunya cara agar kau tidak kesakitan lagi, Sayang," suara Jimin terdengar sedikit parau, raut wajahnya menunjukkan ekspresi penuh penyesalan yang begitu dalam.

"Biarkan aku membantumu."

Yoongi mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan Jimin. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Yoongi membutuhkan jemari Jimin itu,

Ia membutuhkan…

"Aku akan menolongmu Yoongi, tapi kau juga harus menolongku. Aku juga butuh pelepasan sendiri. Lihat aku Yoongi, lihatlah tubuhku."

Jimin membuka jubah sutra hitamnya, dan tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Dan napas Yoongi tercekat ketika melihat bukti gairah Jimin begitu keras.

"Gunakan diriku Yoongi, biarkan aku merasakan tubuhku ada di dalam dirimu dan menyembuhkanmu,"

Kata-kata itu adalah satu-satunya kata yang mirip dengan permintaan yang pernah Jimin gunakan pada perempuan, dan hanya dia lakukan kepada Yoongi. Jimin melakukannya karena dia sangat bergairah kepada Yoongi, dia amat sangat bergairah, dan Yoongi tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya.

Tubuh Jimin sudah menindih Yoongi, dan perempuan itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Jimin menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh mungil Yoongi. Jimin menunduk dan mencicipi bibir Yoongi yang begitu menggoda dan menggairahkan, bibir itu begitu manis dan menggoda.

"Tenang sayang, aku mungkin akan menyakitimu," Jimin menahan pinggul Yoongi dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak secara acak, mendesaknya dengan mengundang.

Yoongi sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu, "Tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan."

Jimin mulai menelusuri daerah paling sensitif bagi Yoongi, jemarinya bergerak abstrak di dalam sana, mengabsen setiap bagian terkecilnya secara rinci demi memuaskan hasrat Yoongi yang memuncak. Gairah Yoongi semakin melejit, napasnya makin terengah menikmati segala sentuhan yang Jimin berikan, lembut namun seperti tersengat aliran listrik yang sangat dahsyat.

Detik itu juga Jimin mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Yoongi. Hati-Hati. Jimin menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Yoongi.

Hati-hati, perempuan ini masih perawan. Jimin mencoba mengingatkan dirinya lagi.

Penghalang itu ada,

seolah mencoba menahan Jimin memasukinya, dan Jimin mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Yoongi adalah miliknya!

.

.

.

Seperti yang Jims bilang, updatenya cepet, kan? Kurang baik apa ini chapter 2 Jiminnya udah bisa megang-megang Yoongi. Oya, kenapa hurt comfort umm.. mungkin karena nanti si Jimin bakal mati-matian susahnya menaklukan hati Yoongi xD saran dan masukannya Jims terima. Btw, jims buka jasa/? PM 24 jam lho. Ayo yang mau main Pm-pm-an, silahkan.

Makasih untuk semuanya yang sudah membaca, follow fave juga. Yang login udah jims bales via PM satu-satu. Silent reader juga makasih sudah membaca, ayo sekali-kali muncul kenalan sama Jims. xD bawel bgt, udahan deh. Terakhir, mind to review? :3

Jimsnoona.