Tittle:
Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha. Jims hanya mengubah beberapa alur dan memberi penambahan serta pengurangan seperlunya sesuai kebutuhan, namun tidak akan mengubah plot serta konsep dari novel aslinya
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 4
Jimin keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai.
Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh. Hoseok berdiri di sana, bekas-bekas pukulan Jimin masih menimbulkan memar-memar di sana sini, tetapi lelaki itu sepertinya sudah diobati.
"Bagaimana dia?" tanya Jimin dingin.
"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan. Anda sendiri Tuan Jimin, Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan perempuan itu…"
Jimin melirik pada Hoseok dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah.
"Tadinya aku berniat membunuhnya saja."
"Kalau begitu kenapa Anda menyelamatkannya?"
Jimin membalikkan tubuhnya dan menatap Hoseok dengan mata menyala-nyala.
"Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati," mata cokelat Jimin bagaikan berbinar di kegelapan malam.
"Dan kau, Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?" Hoseok menatap Jimin, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian dia langsung memasang wajah datarnya.
"Saya tidak sengaja membiarkannya lolos."
"Kau pikir aku bodoh?" suara Jimin menajam, setajam tatapannya.
"Kau adalah pengawalku yang paling berpengalaman, tak mungkin kau bisa diperdaya gadis itu, kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya."
Hoseok menelan ludahnya, "Saya ingin membebaskannya, saya takut dia akan membawa masalah untuk kita."
Jimin melempar handuknya dengan marah ke sofa,
"Dalam dua hari ini kau sudah dua kali mengambil keputusan sendiri dan menentangku. Dengarkan ini baik-baik, Hoseok," suara Jimin dalam dan mengancam.
"Sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat aku bisa."
Suara ancaman itu masih menggema di kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil-manggil meminta nyawa.
.
.
.
Ketika Yoongi terbangun, yang dirasakannya pertama kaliadalah rasa sesak di dadanya. Dia menggeliat panik,mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanyamencari oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafassecara normal," Suara Jimin membawa Yoongi kembali padakesadarannya.
Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Jimin sedangduduk di tepi ranjangnya. Yoongi beringsut sejauh mungkindari Jimin dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahayageli di mata Jimin. kekehan ringan sempat Jimin layangkan atas sikap Yoongi padanya.
"Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?" nada gelipun terdengan samar dalam suara Jimin.
Kurang ajar, batin Yoongi dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya. Tetapi, apakah benar Jimin yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Jimin sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?
"Ya, aku memang menyelamatkanmu," Jimin bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Yoongi.
"Tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku." Yoongi menatap Jimin geram.
"Apa maksudmu?"
Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Yoongi bergidik dan beringsut menjauh.
"Aku tidak suka bercinta dengan mayat," Senyum di bibir Jimin tampak kejam.
"Kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."
Ketika Yoongi menyadari maksud Jimin, sudah terlambat. Lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Yoongi tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Jimin yang besar dan kuat di atasnya. Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang,
"Kau… Kau mau apa?!" Yoongi mulai panik ketika Jimin yang setengah duduk di atasnya mulai membuka kancing kemejanya.
Senyum Jimin tampak penuh kepuasan melihat kondisi Yoongi yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat. Sejenak Yoongi terpana melihat kulit berwarna perungggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting. Dengan panik Yoongi mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.
Tapi percuma, ikatan Jimin ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Yoongi benar-benar tak berdaya.
"Semalam kau bercinta denganku, panas, dan memabukkan… Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu," suara Jimin merendah, penuh gairah.
"Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya." Nada suaranya membuat Yoongi bergidik ngeri.
.
.
.
Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Yoongi melihat ketika Jimin melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Yoongi, hingga napas mereka beradu, Jimin menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Yoongi, membuat Yoongi berjingkat dan berusaha meronta lagi.
"Sshhh… Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-ronta terus seperti itu." bibir Jimin merayap dan mendarat di bibir Yoongi.
Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Yoongi, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Yoongi yang lembut selembut kapas, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Yoongi yang hangat dan panas. Lidahnya mengait lidah Yoongi dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.
Ketika Jimin melepaskan bibirnya, napas Yoongi terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens dan intim yang pernah di rasakannya.
"Kau menyukainya bukan?' Jimin berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Yoongi.
"Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku…," tangan Jimin merayap ke bawah, meraba kulit leher Yoongi.
"Seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku," Jemari Jimin menyingkap rok Yoongi dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya.
"Di sini… Yang paling panas." Seringaian Jimin mendarat ke permukaan.
Yoongi menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Jimin yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya.
Jimin melirik ke pergelangan tangan Yoongi yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Yoongi.
"Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai."
Setetes air mata mengalir di sudut mata Yoongi, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri.
"Jangan lakukan ini, please…"
Mata Jimin sedikit melembut ketika mendengar permohonan Yoongi, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras. Park Jimin tetaplah manusia berhati iblis yang sangat kejam.
"Aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada Yoongi," Jimin membuka kancing kemeja Yoongi satu persatu, membiarkan payudara Yoongi terbuka bebas untuknya.
"Ini milikku," Jimin menyentuh payudara Yoongi dan menggodanya dengan menangkupkan melewati kedua tangannya, sangat menikmati ketika mendengar erangan tersiksa Yoongi.
"Seluruh tubuhmu milikku,"
Jimin mengecup ujung payudara Yoongi, mencecapnya dengan lidahnya. Lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping payudara Yoongi, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.
Yoongi melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.
Dan jemari Jimin menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Yoongi sesuka hatinya. Tubuh Yoongi meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Jimin, tapi lengan Jimin yang kuat menahan tubuhnya.
Kemudian bibir Jimin mengikuti jemarinya. Yoongi terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya. Seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.
"Jangan!" teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Jimin menyentuhnya.
Tetapi lengan Jimin yang kuat menahannya, menganggap seruan Yoongi bagaikan angin lalu dan kemudian, Yoongi melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Jimin di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas.
Panas bertemu panas dan dia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.
"Sshh… Semua bagian tubuhmu milikku Yoongi, Milikku." Jimin mencumbu pusat gairah Yoongi semakin dalam untuk menyatakan kepemilikannya.
Dan ketika Jimin selesai bermain-main, Yoongi sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah dan tubuh membara. Jimin menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Yoongi. Dada bidangnya menggesek payudara kenyal Yoongi, dan Yoongi merasakan kejantanan Jimin yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Yoongi inginkan.
Jimin menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Yoongi. Dan Yoongi merasakan tubuh Jimin yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang makin menghujam.
"Yoongi," Jimin mengerang merasakan tubuh Yoongi yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin.
Tapi tidak, malam ini untuk Yoongi. Jimin ingin Yoongi mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini. Ketika Jimin bergerak, Yoongi mengerang hebat. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya sendiri, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Jimin.
Jimin menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Yoongi dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.
"Kau milikku, Yoongi. Ingat itu baik-baik."
Sedetik kemudian, Jimin membawa Yoongi melewati pusaran gelombang yang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
.
.
.
Jimin mengangkat tubuhnya dari Yoongi yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Yoongi, Ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Jimin mengecup kedua pergelangan tangan Yoongi dengan sayang.
"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat."
Lalu Jimin bangkit, mengenakan pakaiannya dan menatap Yoongi yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya,
"Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya," gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Yoongi yang terbaring diam di ranjang.
Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Yoongi. Jimin benar, Yoongi tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.
.
.
.
.
Tbc.
Aduh, Jims deg-degan juga pas baca ulang kegiatan YoonMin barusan. Duh duh plis tolong rekam mereka berdua ;;_;; seperti biasa, makasih semuanya yang udah mau ngereview, fave dan follow. Salam manis dari Jims! :3
Mind to review again?
Jimsnoona.
