Tittle:

Sleep With Mr. Park

Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'

Karya Santhy Agatha

MinYoon Fanfiction

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Rated: M

Warning :

OOC, Typo(s), Mature Content.

©Jimsnoona

.

a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha. Jims hanya mengubah beberapa alur dan memberi penambahan serta pengurangan seperlunya sesuai kebutuhan, namun tidak akan mengubah plot serta konsep dari novel aslinya

Don't like, don't read.

.

.

.

BAB 5

Sudah hampir dua minggu Yoongi dikurung di dalam kamar putih ini, tidak boleh keluar sama sekali. Hari-hari Yoongi dilalui dengan menatap ke luar dari jendela lantai dua ke pekarangan rumah Jimin.

Yoongi sudah merasa begitu muak dan frustrasi karena bosan. Setelah memaksakan kehendaknya malam itu, Jimin tidak pernah mengunjungi Yoongi lagi.

Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Yoongi mencibir, mencoba mengabaikan perasaan seperti tercubit di dadanya. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa Jimin tidak melepaskannya?

Apakah karena lelaki itu tahu bahwa Yoongi berniat membunuhnya, jadi dia menawan Yoongi di sini karena menganggap Yoongi ancaman yang berbahaya? Kalau begitu kenapa Jimin tidak membunuhnya sekalian?

Beberapa lama terpaku di jendela, Yoongi menyadari bahwa ada kesibukan yang tidak biasa di luar sana. Beberapa mobil tampak lalu lalang keluar masuk rumah Jimin yang biasanya lengang. Sehari-hari pemandangan yang didapat Yoongi hanyalah pemandangan pengawal-pengawal Jimin dan beberapa pelayan yang lewat di halaman depan rumah.

Kali ini Yoongi melihat ada mobil bunga dan mobil katering. Apakah Jimin akan mengadakan pesta? Kalau iya, mungkin saja kesempatan Yoongi untuk melarikan diri bisa muncul kembali.

Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar putih membuka. Yoongi bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Karena yang masuk ke kamar ini selalu hanya Hoseok yang mengantarkan makanan, dan pelayan yang membersihkan ruangan dan membawakan pakaian ganti untuknya – tentu saja di bawah pengawasan Hoseok.

Yoongi tidak pernah berinteraksi dengan Hoseok lagi setelah kejadian kemarin, dan sepertinya lelaki itu juga tidak berniat untuk mengajaknya berbicara. Lagipula rasa bersalah yang ditanggung Yoongi terlalu besar. Karena dialah Hoseok dihajar oleh Jimin, bekas-bekas hajaran itu masih ada dari memar-memar di wajah Hoseok dan hidungnya yang patah.

Setiap melihat Hoseok, Yoongi disergap perasaan ngeri dan rasa bersalah yang luar biasa. Jimin mengancam akan membunuh siapapun yang lengah dan membiarkan Yoongi lolos. Apakah sepadan mengorbankan satu nyawa demi meloloskan diri? Yoongi memang tidak kenal dengan Hoseok, tetapi kalau mendapatkan kebebasan dengan mengorbankan nyawa orang lain, tetap saja terasa tidak benar baginya…

"Yoongi."

Itu suara Jimin. Yoongi terlonjak saking kagetnya. Dia menolehkan kepalanya, dan Jimin-lah yang berdiri di tengah ruangan, lelaki itu tadi sepertinya terdiam, mengamati Yoongi yang sedang melamun sambil memandang Yoongi yang sedang menatap ke luar jendela.

Otomatis Yoongi mengepalkan tangannya, reaksi impulsifnya ketika menyadari aura Jimin yang berkuasa memenuhi ruangan. Jimin melirik tangan Yoongi yang terkepal, dan senyum sinis muncul di bibirnya. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke belakang dan Yoongi baru menyadari ada orang lain di belakang Jimin, seorang laki-laki berbadan kecil dan sedikit gemulai,

"Ini Heechul," gumam Jimin tenang.

"Dia akan mempersiapkanmu untuk nanti malam," Setelah berkata begitu, Jimin melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.

Mempersiapkannya untuk apa?

.

.

.

"Kau sebenarnya cantik sekali Nona, hanya saja kau tidak pandai berdandan," Heechul bergumam dengan suara gemulainya, memoles wajah Yoongi yang masih memejamkan matanya di depan cermin.

Sementara Yoongi masih memejamkan matanya, diam karena didandani oleh Heechul. Kalau Jimin menyuruhnya didandani, maka dia pasti akan diperbolehkan untuk turun ke pesta yang diadakan Jimin. Hal itu berarti ada kesempatan baginya untuk melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, sudah selesai, coba buka matamu," gumam Heechul. Ada nada puas dalam suaranya.

Yoongi membuka matanya pelan-pelan karena bulu mata palsu terasa memberati matanya. Dan dia terpana menatap sosok yang balas menatapnya di depan cermin itu.

Yang menatapnya bukannya Yoongi, perempuan yang seumur hidupnya sangat jarang berdandan, yang ada di depannya adalah perempuan yang sangat cantik. Luar biasa cantiknya dengan riasan yang tidak terlalu tebal tapi sangat pas di semua sisi.

Heechul memang perias yang sangat berbakat, dan sangat terkenal tentunya dengan tarif sekali riasnya yang amat sangat mahal. Yoongi sering sekali mendengar nama perias ini di media sebelumnya, tapi tidak pernah berfikir bahwa dia akan merasakan tangan dingin sang perias berbakat ini.

Matanya terlihat begitu lebar, kuat, sekaligus rapuh dengan polesan warna cokelat keemasan, dan Heechul sedemikian rupa menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi sehingga tampak menarik dan aristrokat. Bibirnya dipoles dengan lipstick warna peach dengan nuansa yang membuat bibirnya seolah-olah selalu basah.

Yoongi menyentuh pipinya ragu, dan bayangan cantik di depannya juga menyentuh pipinya. Mata Yoongi terpaku, masih terpana akan bayangan di depannya. Heechul mendecak kagum melihat hasil karyanya sendiri, kemudian bergumam, mengalihkan perhatian Yoongi.

"Kau paling berbeda dari kekasih-kekasih Tuan Jimin sebelumnya," Heechul meringis, "Bukan berarti kau kurang cantik, tapi kau kurang glamour, kurang mempesona. Kekasih-kekasih Jimin sebelum-sebelumnya selalu cantik luar biasa, bagaikan seorang dewi."

Yoongi mendengus sinis, apakah Jimin juga menyuruh perias ini untuk mendandani kekasih-kekasihnya?

Heechul sibuk merapikan peralatannya di belakang Yoongi sambil terus bergumam.

"Tapi kau istimewa, harusnya kau bersyukur, Tuan Jimin tidak pernah menyuruhku mendandani kekasih-kekasihnya yang lain." gumaman Heechul itu telah menjawab pertanyaan Yoongi sebelumnnya.

"Dan yang paling sensasional adalah gaun ini, Tuan Jimin menyuruhku memesannya langsung dari perancangnya di Paris. Pesanan khusus karena diselesaikan hanya dalam waktu 1 minggu, gaun ini khusus dibuat untukmu, tiada duanya di dunia ini. Heechul berseru kecil dengan feminim, tampak terpesona dengan sesuatu di tangannya.

"Kau harusnya bersyukur karena Tuan Jimin memperlakukanmu dengan istimewa, cantik."

Yoongi menoleh, ingin tahu apa yang begitu menarik perhatian Heechul, dan sekali lagi dia terpesona. Di tangan Heechul, digantung di gantungan baju yang elegan, ada sebuah gaun yang luar biasa indahnya.

Gaun itu dibuat dari bahan sutera hijau berkilau dengan kristal kecil menyebar di sepanjang gaun, memberikan efek kilauan yang menakjubkan. Kaki gaun itu melebar ke samping dan menjuntai dengan indahnya. Gaun itu adalah gaun terindah yang pernah dilihat oleh Yoongi, dan gaun itu untuknya?

"Pakailah gaun ini, kau harus siap dalam setengah jam. Tuan Jimin ingin melihatmu sebelum ke pesta," gumam Heechul, menghamparkan gaun hijau itu di ranjang lalu melangkah keluar dari kamar.

Kata-kata terakhir Heechul sebelum pergi itu menyadarkan Yoongi dari keterpesonaannya akan keindahan gaun itu. Jimin telah memperlakukannya sama seperti kekasih-kekasihnya, yang bisa diperintah sesuka hati seperti boneka!

Kali ini dia tidak akan membuat Jimin puas. Yoongi bukan kekasih Jimin dan dia bukan boneka yang bisa diatur-atur sesukanya, Jimin harus menyadari itu

.

.

.

Jimin masuk dan Yoongi menunggu dengan penuh antisipasi.Jimin mengenakan jas hitam legam yang rapi. Rambutnyayang tertata begitu rapih dengan bagian dahinya yang disisir kebelakang, membuatnya tampak seperti iblis tampan yangbegitu menggoda.

Lelaki itu melangkah memasuki ruangan dan Yoongimerasakan Jimin tertegun dalam tiga detik sejenak setelah menatap wajah Yoongiyang sudah dirias sedemikian cantiknya.

Tetapi kemudian mata Jimin menatap ke arah Yoongi yangmasih mengenakan baju biasa yang selalu digunakannya dikamar itu. Mata Jimin menggelap seolah ada badai yangakan menerjang di sana.

"Kenapa tidak kau pakai gaunmu?" desisan Jimin memenuhi pendengaran Yoongi secara perlahan.

Yoongi mundur selangkah, menyadari intensitas kemarahan dalam suara Jimin. Lelaki satu ini mungkin menderita post power sindrome sehingga mudah naik darah kalau keinginannya tidak diikuti, batin Yoongi dalam hati.

"Aku tidak mau." Yoongi menegakkan dagunya menantang, meski batinnya sedikit kecut.

"Gaun itu khusus dipesankan untukmu," kali ini suara Jimin sedikit menggeram, menahan kesabaran yang telah di ambang batas.

Yoongi melirik gaun indah itu, gaun itu luar biasa indahnya, dan Yoongi sudah jatuh cinta pada gaun itu sejak pandangan pertama. Tetapi dia tidak boleh mengenakan gaun itu, meskipun batinnya berteriak-teriak ingin merasakan gaun secantik itu sekali saja.

Tidak! Dia tidak boleh mengenakan gaun itu, itu sama saja dengan mengakui penguasaan Jimin atas dirinya.

"Aku tidak mau memakainya!" Yoongi berhasil mengeraskan suaranya hingga terdengar Lantang.

"Aku bukan bonekamu yang bisa kau perintah-perintah semaumu!"

"Boneka katamu?" Jimin melangkah maju dan otomatis Yoongi melangkah mundur.

"Kau pakai baju itu atau aku akan memperkosamu sekarang juga di lantai. Supaya kau tahu bagaimana aku memperlakukan bonekaku!"

Jantung Yoongi berdetak sekejap merasa takut akan ancaman Jimin. Apakah Jimin akan melaksanakan ancamannya?

Tetapi melihat mata yang menyala karena marah itu, Yoongi tiba-tiba sadar bahwa Jimin tidak main-main. Lelaki ini menyimpan iblis di dalam dirinya, dan ketika iblis itu keluar, Jimin tidak akan segan-segan berbuat kejam.

Salah sendiri kau menantang Iblis ini, Yoongi! Yoongi mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

"Yoongi, kenakan gaun ini atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal." Jimin mulai mendesis marah.

Tangannya meraih gaun hijau itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Yoongi yang langsung menangkapnya dan memegang gaun itu dengan hati-hati.

Jimin memperlakukan gaun semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan kain lap murahan. Lelaki iblis ini memang tidak paham keindahan! Tanpa sadar kebencian Yoongi meluap lagi kepada Jimin, dorongan untuk menantang Jimin amatlah besar. Meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Jimin lebih jauh lagi.

Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.

"Pakai gaun itu, Yoongi." kali ini Jimin melangkah mendekat, seolah tak sabar.

Yoongi langsung mundur selangkah lagi, menjauhi Jimin, jantungnya berdegup kencang. Dia mulai merasa takut.

"Baiklah, aku akan memakainya, kau keluar dulu dari sini!" teriaknya marah karena dipaksa menyerah, air mata hampir menetes dari matanya.

Tetapi Jimin bergeming, lelaki itu menggertakkan gerahamnya menahan marah.

"Aku tidak akan pergi. Kesempatanmu sudah habis, tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk ikut pesta dan memakai gaun bagus. Sekarang cepat pakai gaun itu." Jimin tidak menaikkan suara sama sekali, tapi kemarahan di dalam suaranya menjalar ke udara dan memaksa Yoongi melakukan apa yang diinginkannya.

Dengan menahan air mata, dan menahan malu, Yoongi melepas pakaiannya di depan tatapan Jimin yang berdiri kaku menatapnya, kemudian mengenakan gaun itu. Gaun itu luar biasa bagusnya, meluncur pelan membungkus tubuhnya dan terasa sangat pas. Sejenak Yoongi melupakan perasaan frustrasi atas pemaksaan Jimin dan larut dalam keterpesonaan atas keindahan gaun itu di tubuhnya.

Jimin mengamati Yoongi sejenak dalam balutan gaun indah itu. Yoongi tampak seperti dewi hutan yang diturunkan dari khayangan, luar biasa cantiknya.

"Bagus." geram Jimin, lalu dengan gerakan cepat meraih gaun itu dan merobeknya dari tubuh Yoongi.

Yoongi terpana ketika Jimin merobek gaun itu di bagian dada. Gaun seindah dan sebagus itu rusak sudah, dengan robekan kain dan benang yang berjuluran, menyebabkan kristal-kristalnya terjatuh bertebaran dengan suara dentingan pelan di lantai. Mata Yoongi berkaca-kaca, tidak menyangka Jimin akan sekejam itu, merobek sebuah gaun yang sedemikian indahnya demi memamerkan arogansi dan kekuasaannya. Sungguh lelaki yang kejam!

"Kenapa kau tampak ingin menangis? Kau tidak mau memakai gaun ini, bukan?" gumam Jimin sambil menatap Yoongi tajam.

"Maka telah kukabulkan permintaanmu." Dengan gerakan tiba-tiba, Jimin meraih Yoongi, mencengkeram punggung Yoongi merapat ke arahnya. Yoongi mencoba meronta tapi tak berdaya.

"Mulai sekarang kau harus berfikir ulang kalau mau menantangku. Aku bukan orang baik dan aku tidak segan-segan berbuat kejam." Bibir Jimin terasa dekat dengan bibir Yoongi, dan napas lelaki itu sedikit terengah.

Kepala Jimin menunduk dan sejenak Yoongi merasa pasti bahwa Jimin hendak menciumnya. Tetapi entah kenapa leher lelaki itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya.

Jimin mendorong Yoongi menjauh. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu.

"Heechul!" suara Jimin sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.

Pintu terbuka, dan Heechul terburu-buru masuk. Lelaki itu terkesiap mendapati kondisi Yoongi yang penuh airmata dengan baju itu – baju eksklusif rancangan desainer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua perempuan itu – sekarang menjuntai sobek di dada Yoongi dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece untuk wajah Yoongi juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Yoongi.

"Bereskan dia," Jimin tidak menatap Yoongi lagi, lelaki itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.

.

.

.

"Kau benar-benar nekat menantang tuan Jimin seperti itu."

Heechul bergumam setengah menggerutu. Dari tadi lelaki gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Yoongi. Apalagi ketika tatapannya terarah pada gaun hijau Yoongi yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Heechul akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.

Untunglah Heechul membawa gaun cadangan. Gaun itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah gaun hijau yang sudah dirobek oleh Jimin. Warnanya merah marun dan berpotongan sederhana, membungkus tubuh Yoongi dengan sempurna.

"Nah sudah selesai" Heechul meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Yoongi di cermin,

"Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi."

Yoongi tanpa dapat ditahan melirik ke gaun hijau di lantai itu dan menghembuskan napas sedih. Tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena

setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Jimin.

Betapa mengerikannya lelaki itu kalau marah, Yoongi mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya.

Malam ini adalah pertama kalinya Yoongi diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Yoongi cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, pakai sepatu ini" Heechul meletakkan sepatu emas yang cantik di karpet,

"Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Jimin menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai."

.

.

.

Ketika Yoongi menuruni tangga, seketika itu juga hatinyaterasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaianspektakuler, semuanya pasti gaun rancangan terbaru daridesainer terkenal.

Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol disatu sudut dekat perapian, dan para perempuan tampakberkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar disemua sisi ballroom itu.

Sebuah meja sajian besar di sudut menyajikan berbagai jenismakanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayanipermintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putihhilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dansampanye yang mengalir tak ada habisnya.

Ketika Yoongi menuruni tangga, semua pandangan tertujupadanya, hingga Yoongi merasakan tangannya berkeringat.Yoongi mencari-cari Jimin, tetapi lelaki itu sepertinya tidak ada.

Dengan gugup, merasa terasing di keramaian, Yoongi berdiridiam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamatidaripada membaur. Dia mengernyit ketika menyadari bahwadi setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tigaorang pengawal Jimin dengan jas hitam yang serupa dantampak selalu waspada. Yoongi harus melewati mereka kalauingin keluar dari tempat ini.

"Itu kekasih Jimin yang terbaru?" sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Yoongi mendengarnya dengan jelas.

Yoongi menoleh dan mendapati segerombolan perempuan-perempuan cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci. Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Yoongi dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah.

"Aku mendengar Jimin mengajaknya tinggal bersama bayangkan! Tidak ada satupun perempuan yang pernah diajak Jimin tinggal bersama. Kupikir dia perempuan yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Jimin sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama."

"Aku pikir juga begitu." satu perempuan lain di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis.

"Mengingat sejarah kekasih-kekasih Jimin selalu luar biasa cantiknya... Tapi melihat dia, tampak sangat tidak cocok berada di sini, dia pasti bukan perempuan berkelas!" Yoongi memutar bola matanya kesal mendengar obrolan tidak penting perempuan-perempuan kurang kerjaan yang berdiri tak jauh darinya.

"Gaunnya gaun lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti gadis miskin." Suara perempuan lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana.

"Dia mempermalukan Jimin dengan penampilannya itu."

"Dia tak pantas bersanding dengan Jimin, berani bertaruh, sebentar lagi Jimin pasti muak dan mencampakkannya." perempuan seksi berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh,

"Begitu melihatku, Jimin pasti akan menyukaiku dan membuangnya."

Pipi Yoongi memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, Sabar Yoongi, desisnya dalam hati. Perempuan-perempuan jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun.

"Menungguku, sayang?"

Suara Jimin terdengar dekat sekali di belakang Yoongi hingga ia terlonjak kaget. Yoongi menoleh dan mendapati Jimin berdiri santai, sedikit bersandar pada jendela di dekatnya. Lelaki itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Yoongi makin merona, merasa malu sekaligus terhina.

Jimin mendekat, dan perempuan-perempuan di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya yang amat rupawan. Lelaki itu memang tampan, Yoongi menggumam dalam hati. Merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.

Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir tipis yang melengkung jantan, dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempesona.

Jimin tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan perempuan-perempuan muda itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka. Matanya terpaku menatap Yoongi, dan senyum miring muncul di bibirnya.

"Kau cantik sekali sayang." Jimin meraih Yoongi, merangkul pinggang Yoongi dengan sangat lembut, lalu mengecup hidung Yoongi mesra,

"Dari semua perempuan di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya Cuma sampah."

Jimin mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung oleh gerombolan perempuan itu. Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Yoongi menoleh, perempuan-perempuan itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Jimin. Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.

Jimin terkekeh, melihat tingkah mereka. Lalu menunduk dan menatap Yoongi, senyumnya langsung hilang.

"Jangan coba-coba melarikan diri dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun di sini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum. Ingat itu baik-baik, Yoongi." bisiknya dingin.

Sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Yoongi, dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Yoongi. Yoongi termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Jimin tadi. Apakah lelaki itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan perempuan-perempuan jahat itu?

"Sungguh kekasih yang baik."

Sebuah suara lembut terdengar di belakangnya. Yoongi menoleh dan berhadapan dengan perempuan cantik dengan gigi kelinci imutnya yang sangat menonjol, berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin perempuan inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.

"Siapa?" Yoongi mengernyit ketika menyadari komentar perempuan itu barusan, perempuan itu tertawa kecil, bahkan tawanya pun terdengar merdu, Yoongi membatin dalam hatinya.

"Park Jimin, kekasihmu." Perempuan itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Jimin.

"Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan perempuan-perempuan menjengkelkan itu, ups!" perempuan itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik.

"Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka." perempuan itu tertawa lagi.

Dia perempuan yang bahagia, Yoongi membatin dalam hati. Perempuan cantik yang bahagia, ralat Yoongi. Dengan gaun putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make up sederhana, dan tatapan matanya yang berbinar-binar penuh cinta. Perempuan di depannya ini tampak memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya, Yoongi mengambil kesimpulan dalam hati.

"Ah ya maaf, aku mengoceh ke sana kemari, tetapi lupa memperkenalkan diri." perempuan itu mengulurkan tangannya dan tersenyum amat manis dengan menampilkan gigi kelinci imutnya.

"Aku Jungkook" Senyum ramah perempuan itu menular, Yoongi membalas uluran tangan Jungkook dan ikut tersenyum lebar.

"Yoongi." gumamnya memperkenalkan diri

"Terima kasih sudah mau menyapaku" Jungkook tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan perempuan-perempuan tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain.

"Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu."

Yoongi mengernyit heran.

"Iri padaku? Kenapa?"

"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar, bukan?" Jungkook menampilkan tawa renyahnya.

"Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini. Kau adalah perempuan yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini, Yoongi."

"Aku, Kenapa?" Yoongi menatap Jungkook penuh ingin tahu.

"Karena Park Jimin, si tampan yang paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya." Jungkook mengedikkan dagunya.

"Meskipun memiliki banyak kekasih, Jimin dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran perempuan. Tidak pernah ada satu perempuanpun -selain pelayan –yang bisa tinggal di rumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Jimin lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya."

Yoongi sempat tercengang dalam beberapa detik, lebih memilih menemui kekasih-kehasihnya di hotel miliknya? Pantas saja, dia kan bukan kekasihnya! Sudah pasti berbeda, dia itu hanya tawanan Jimin.

Jungkook menatap Yoongi dan tersenyum. "Kaulah satu-satunya perempuan yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang. Mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini."

Yoongi tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yoongi bukan kekasih Jimin, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Jimin, tetapi lebih seperti tawanan. Dia disekap dan dilecehkan semau Jimin.

"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Jimin?"

Spontan Jungkook tertawa mendengar pertanyaan Yoongi.

"Tidak, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini. Aku tidak sempat mengagumi lelaki lain." Jungkook tersenyum dan matanya yang berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.

Yoongi memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Jungkook dibandingkan dirinya. Perempuan itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Jimin. Mata Yoongi berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Jimin yang malah membuatnya terjebak dalam cengkeraman lelaki iblis itu.

Jungkook memperhatikan raut kesedihan di wajah Yoongi, dan dahinya berkerut khawatir.

"Kenapa Yoongi? Apa kau sakit?"

Yoongi menatap Jungkook lagi, perempuan ini baik hati, mungkin saja Jungkook bisa menolongnya…?

"Tolong aku..." Yoongi berbisik lemah, takut suaranya ketahuan, oleh Jimin ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana.

"Tolong keluarkan aku dari sini."

Jungkook mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Yoongi, matanya menatap penuh tanda tanya.

"Apa Yoongi? Tapi... Bukankah…?"

"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang." suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Jungkook dari Yoongi.

Yoongi menoleh dan terpesona menatap Lelaki yang melingkarkan lengannya di pinggang Jungkook dengan posesif. Lelaki itu luar biasa tampan, dengan rambut dark brown yang berpadu nuansa keemasan dan mata coklat yang berkilau lembut.

Jungkook rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Yoongi pun, kalau memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik lelaki lain.

"Taehyung," Jungkook bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang-terangan yang dilakukan Taehyung.

Suami Jungkook tampak amat sangat mencintai isterinya, Yoongi berkesimpulan dalam hati. Lelaki itu menatap Jungkook seolah-olah akan melahapnya habis-habisan.

"Kita harus segera pulang. Mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah."

"Tapi Taehyung, kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."

"Sstt…" Taehyung menghentikan protes Jungkook dan menyentuh bibir Jungkook dengan jemarinya lembut.

"Sayang, aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku." gumamnya penuh arti.

Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Taehyung. Bukan hanya Jungkook, pipi Yoongi pun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Taehyung kepada isterinya. Jungkook menyentuh lengan Taehyung lembut, mengalihkan perhatian Taehyung yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Yoongi.

"Ini, kenalkan, Yoongi." gumam Jungkook lembut.

Yoongi mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Taehyung menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Yoongi merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari kilauan mata coklat miliknya itu.

"Yoongi yang itu?" ada nada tanya dalam suara Taehyung, Jungkook menyentuh lengan Taehyung lagi, mengingatkannya, lalu menatap Yoongi penuh permintaan maaf.

"Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan laki-laki." gumamnya pada Yoongi, meminta pengertian.

Yoongi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Taehyung sepertinya rekan bisnis Jimin. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Jungkook.

"Ayo sayang, kita berpamitan." Taehyung mengangguk pada Yoongi, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya.

"Tunggu sebentar, sayang." Jungkook mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya.

"Ini kartu namaku" digenggamkannya kartu nama itu di jemari Yoongi.

"Hubungi aku kapan saja kau mau. Aku pikir kita bisa bersahabat dengan baik." Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Yoongi yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.

.

.

.

"Dia meminta tolong kepadaku." Jungkook mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Taehyung. Lelaki itu masih berbaring santai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas.

Mata Taehyung terbuka, menatap Jungkook penuh ingin tahu.

"Siapa sayang?"

"Yoongi, kekasih Jimin."

Taehyung tercenung, lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Park Jimin. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi..." Taehyung mengusap-usapkan jemarinya di punggung telanjang Jungkook,

"Aku tidak terlalu menyukainya."

"Kenapa?" Jungkook menatap Taehyung ingin tahu,

"Yah, kau tahu sayang, Jimin terkenal sangat… Kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun. Kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas-kasihannya yang penuh aroganisasi."

"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Yoongi." Jungkook mengingat permohonan Yoongi tadi kepadanya.

"Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu. Pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Jimin menyanderanya di rumah itu dengan paksa?" Pikiran Jungkook berkelana atas rasa khawatirnya terhadap Yoongi.

"Mungkin saja begitu." Taehyung mengecup dahi Jungkook lembut.

"Tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita, sayang."

"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Jimin? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya, bukan?" Jungkook menatap Taehyung penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Yoongi tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.

Taehyung terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Jungkook, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba." didekatkannya wajahnya ke wajah Jungkook, menggoda bibir Jungkook dengan usapan bibirnya yang panas.

"Sekarang bisakah kita menghentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?" Jungkook tidak menolak, bercinta dengan Taehyung selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan.

.

.

.

Tbc.

Btw, baru mau bahas kenapa harus hosiki yang jadi pelayan Jimin tanpa ekspresi itu, awalnya juga jims bingung. Ada MinYoon, Vkook, NamJin juga. Nah hosiki kan jones/? *digiles* Tapi yah semuanya disini kebagian kok, jadi hosoek aja deh yang jadi pengawal Jimin. xD

Key, Sampai ketemu di chapter selanjutnya. :3

Terima kasih dan,

mind to review again?

Jimsnoona.