Sleep With Mr. Park

Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'

Karya Santhy Agatha

MinYoon Fanfiction

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Kim Namjoon

Kim Seokjin

Rated: M

Warning :

OOC, Typo(s), Mature Content.

©Jimsnoona

.

a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha. Jims hanya mengubah beberapa alur dan memberi penambahan serta pengurangan seperlunya sesuai kebutuhan, namun tidak akan mengubah plot serta konsep dari novel aslinya

Don't like, don't read.

.

.

.

BAB 6

Kopi sudah dihidangkan, pertanda meeting santai itu sudah usai. Beberapa lelaki memilih keluar untuk merokok, sedang Taehyung duduk diam di ujung sofa, mengamati Jimin yang masih sibuk mempelajari berkas-berkas di tangannya.

Jimin bukanlah lelaki yang bisa membaur, lelaki ini penyendiri, dan wataknya yang terkenal membuat orang-orang segan mendekatinya atau bahkan sekedar menyapanya. Taehyung tidak akrab dengan Jimin, mereka hanya berbicara tentang bisnis. Dan apabila menyangkut bisnis, Jimin cukup kooperatif.

Kerja sama mereka telah membuahkan banyak keuntungan bagi perusahaan masing-masing. Taehyung ragu untuk menanyakan perihal Yoongi kepada Jimin. Rasanya terlalu aneh untuk membahas masalah itu di sini. Tetapi isterinya – Jungkook yang paling cantik dan yang telah mengalihkan dunianya – telah berhasil membuatnya berjanji untuk melakukannya. Taehyung berdehem, menarik perhatian Jimin dari berkas-berkas yang ditelusurinya dengan serius.

"Kami, aku dan isteriku bertemu dengan kekasihmu semalam." Kepala Jimin langsung terangkat seperti disentakkan, ia menatap Taehyung dengan waspada.

"Oh ya?" nada suaranya santai, tetapi ketegangan dalam suara Jimin tidak bisa menipu Taehyung, ada sesuatu di sini, batin Taehyung dalam hatinya, ada sesuatu yang dirahasiakan Jimin.

"Yah, dia berkenalan dengan isteriku kemarin, dan berbicara panjang lebar dengannya," Taehyung berusaha memancing Jimin dan sepertinya pancingannya kena begitu saja, karena mata Jimin menyipit dan menatapnya curiga.

"Apakah dia mengatakan sesuatu kepada isterimu?"

Taehyung menatap Jimin lurus-lurus.

"Dia meminta tolong kepada isteriku untuk diselamatkan, supaya dia bisa keluar dari rumahmu." Bibir Jimin mengetat membentuk garis tipis, lalu dia segera berdiri.

"Bilang pada isterimu untuk tidak melakukan apa-apa. Perempuan itu milikku, dan siapapun tidak akan bisa melepaskannya dari rumahku, kecuali atas seizinku," Jimin menatap Taehyung lurus, menimbang-nimbang.

"Aku menghormatimu Taehyung, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang aku hormati dan aku tidak ingin hubungan saling menghargai ini rusak. Maaf, aku permisi dulu karena ada janji pertemuan dengan pihak lain setelah ini."

Setelah mengangguk kaku, Jimin melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting besar itu.

Taehyung duduk diam dan menyesap kopinya, matanya masih menatap pintu di mana Jimin menghilang di baliknya. Tingkah Jimin mengingatkannya pada dirinya dulu. Senyum muncul di bibir Taehyung. Jimin mungkin akan mengalami hal yang sama seperti dirinya, kalau dia tidak hati-hati kepada Yoongi

.

.

.

Ketika pintu kamarnya dibuka dari luar, Yoongi tidak menyangka kalau Jimin-lah yang masuk. Lelaki itu telah sepenuhnya mengabaikannya akhir-akhir ini. Yoongi bahkan hampir tidak pernah melihat lelaki itu, kecuali dari pemandangan ketika Jimin memasuki mobilnya di teras bawah yang kelihatan dari jendela lantai dua tempat Yoongi dikurung.

Dan seperti biasanya, lelaki itu tampak marah. Yoongi mengerutkan alisnya, kenapa lelaki itu tidak pernah sedikitpun tampak ceria dan tersenyum? Kalaupun tersenyum, senyumnya hanyalah senyum jahat dan sinis.

Apakah lelaki itu tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun di dalam hatinya?

Tanpa basa basi, Jimin melempar jasnya ke kursi dan melonggarkan dasinya, kemudian menggulung kemeja panjangnya lalu menatap Yoongi tajam.

"Apa yang kau katakan kepada Isteri Taehyung?" Yoongi langsung mengkerut takut. Jungkook mungkin telah menyampaikan permintaan tolongnya kepada Taehyung, dan Taehyung mengatakannya kepada Jimin.

Ketika rasa ketakutan menggelayutinya, Yoongi langsung menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan keberaniannya. Diingatnya wajah ayah dan ibunya yang bahagia, lalu tergantikan dengan wajah pucat mereka yang terbaring di peti mati. Kebencian dan kemarahan adalah senjatanya untuk menghadapi Jimin.

"Aku memang meminta tolong kepada Jungkook untuk menyelamatkanku," Yoongi mengangkat dagunya angkuh, menantang Jimin.

Jimin menggeram marah, matanya menyala.

"Coba saja kalau kau berani. Minta Jungkook untuk membebaskanmu, dan kalau perempuan itu berani melakukan sesuatu, aku akan melenyapkan nyawanya."

Jimin mendesis geram, "Dan aku tidak pernah main-main dengan perkataanku Yoongi, kebebasanmu akan diganti dengan nyawa orang-orang yang lengah atau orang-orang yang mencoba menyelamatkanmu."

Wajah Yoongi memucat. Apakah Jimin benar-benar akan melukai Jungkook? Diingatnya senyum lembut di wajah cantik Jungkook dan kebaikan hati perempuan itu. Ah ya Tuhan, Jungkook adalah satu-satunya kesempatannya untuk melepaskan diri. Tetapi jika gantinya Jimin akan melukai Jungkook, maka Yoongi tidak punya kesempatan apa-apa lagi.

"Kenapa kau tidak melepaskanku? Aku muak menjadi tawananmu."

Jimin menyipitkan matanya, mengamati Yoongi dari ujung kepala sampai kaki.

"Terlalu mudah jika aku melepaskanmu, kau pasti akan mencari cara untuk membalaskan dendammu lagi… dan terlalu mudah pula kalau aku membunuhmu, tubuhmu terlalu nikmat untuk mati sia-sia." Jimin melangkah mendekat, dan otomatis Yoongi langsung melangkah mundur.

"Jangan… jangan mendekat!" Yoongi tanpa sadar mencengkeram dadanya dengan gerakan melindungi diri.

Jimin sudah pernah memaksakan kehendak kepadanya, memar di tangannya masih terasa nyeri, bekas ikatan dasi yang kejam di pergelangannya. Jimin hanya tersenyum meremehkan melihat gerakan Yoongi di hadapannya yang nampak seperti kelinci yang ingin dimangsa olehnya.

"Kau tahu jika kau tidak akan bisa menolak kalau aku ingin memaksamu. Apakah kau tidak belajar dari pengalaman bercinta kita kemarin, Yoongi?" dengan tenang lelaki itu melemparkan dasinya yang sudah dilonggarkan ke lantai, lalu melepas kancing kemejanya, satu demi satu.

Yoongi menatap pemandangan di depannya itu dengan panik.

"Kau… kau mau apa?"

"Menurutmu aku mau apa?" Jimin melemparkan kemejanya dan berdiri dengan dada telanjang di depan Yoongi.

Tubuh lelaki itu luar biasa indah, ramping tetapi kuat dengan otot-ototnya yang menyembul, terlihat begitu keras.

"Aku mau mandi," Jimin tampak geli melihat keterkejutan Yoongi.

"Dan kau ikut denganku."

Wajah Yoongi memucat dan menatap Jimin dengan marah.

"Apa-apaan? Kenapa kau mandi disini? Kau… kau kan punya kamar mandi sendiri di kamarmu, ini… ini adalah…"

"Ini adalah kamar kekasihku," Jimin menyelesaikan kalimat Yoongi dengan tenang.

"Ya. Kau kekasihku Yoongi, kau harus terima itu. Kau ada di sini untuk memuaskan nafsuku."

"Kurang ajar!" Yoongi menyembur marah, dan didorong akan rasa tersinggungnya atas hinaan Jimin, Yoongi maju dan mencoba mencakar wajah Jimin.

Tetapi Jimin cukup gesit, digenggamnya lengan Yoongi, dan dengan gerakan cepat di telikungnya tangan Yoongi di belakang punggungnya.

"Tidak semudah itu Yoongi, ingat itu, aku laki-laki yang cukup kuat, kalau kau bersikap baik, aku akan bersikap baik kepadamu, tetapi kalau kau menantangku, aku mungkin akan menyakitimu." Dengan satu tangan masih menelikung Yoongi, lelaki itu meraih dagu Yoongi dan memaksa mengecup bibirnya dengan panas.

"Ketika aku bilang kau harus mandi denganku, maka kau harus melakukannya."

Jimin mendorong Yoongi masuk ke kamar mandi yang dipenuhi dengan nuansa marmer putih itu.

.

.

.

Jimin merasa dirinya hampir gila. Dia tidak berhubungan seks dengan wanita manapun akhir-akhir ini. Karena dia tidak tertarik. Gairahnya terpusat kepada Yoongi, perempuan ini membuatnya ingin menundukkannya, menaklukkannya, dan mendominasinya dengan posesif. Jimin ingin Yoongi tunduk di kakinya, memujanya seperti yang dilakukan banyak orang kepadanya.

Mungkin butuh waktu lama, Jimin mengernyit melihat ekspresi Yoongi. Perempuan ini harus selalu dipaksa, harus selalu diikat, dan Jimin sebenarnya tidak suka menyakiti perempuan yang akan ditidurinya.

Bukti gairahnya terlihat jelas, dan Yoongi menolak untuk melihatnya, Jimin mendorong tubuh Yoongi ke pancuran, membiarkan air hangat membasahi mereka berdua. Ketika Yoongi sekali lagi mencoba memberontak, Jimin mencengkeram kedua tangannya erat-erat ke dinding dan merapatkan tubuhnya, menempelkan bukti gairahnya kepusat tubuh Yoongi, membuat muka Yoongi merah padam.

"Hati-hati Yoongi, aku tidak ingin menyakitimu, aku cuma ingin mandi."

Yoongi mengerjap pelan.

"Mandi?"

Ada sinar geli di mata Jimin.

"Ya, mandi, kau pikir aku mau apa?" Pipi Yoongi makin memerah, apalagi ketika matanya tersapu pada kejantanan Jimin yang mengeras, terlihat jelas laki-laki itu sudah amat sangat terangsang.

Jimin mengikuti arah tatapan Yoongi dan tersenyum,

"Aku cuma ingin mandi, tetapi sepertinya kau lebih tertarik ke yang lain."

Yoongi menatap marah ke mata Jimin, tetapi lelaki itu hanya terkekeh.

"Terserah kau, kau mandi di sini bersamaku. Atau kalau kau lebih memilih menantangku, kita bisa berakhir dengan hubungan seks yang hebat di kamar mandi. Sekarang tolong gosok punggungku dengan sabun."

Jimin melepaskan celananya, terkekeh lagi ketika Yoongi langsung memalingkan mukanya, tak mau melihat.

"Ayo, gosok punggungku, Yoongi." Jimin membalikkan tubuhnya, membiarkan pundak dan bahunya diterpa air hangat dari shower, yang mengalir menuruni punggung berototnya dan turun ke pantatnya yang kencang…

Yoongi terpana dan mengerjapkan matanya ketika menyadari bahwa matanya terpaku pada keindahan tubuh Jimin yang berotot dan keras. Ramping tapi jantan, dan semua begitu proposional pada tempatnya, seolah Tuhan menciptakan laki-laki ini sambil tersenyum.

Jimin menolehkan kepalanya dan menangkap basah Yoongi yang sedang mengamati tubuhnya. Tatapan sayunya memancar, panas, dan bergairah. Tetapi kemudian dia mendapati mata Yoongi yang berputar ke seluruh penjuru kamar mandi. Perempuan ini masih belum menyerah dalam usahanya untuk melukai Jimin. Jimin berani bertaruh bahwa Yoongi sedang mencari-cari senjata, sesuatu – mungkin untuk dipukulkan ke kepala Jimin yang sedang lengah.

"Yoongi," suara Jimin terdengar rendah dan mengancam, meskipun sebenarnya lelaki itu sangat menikmati mengucapkan nama Yoongi lambat-lambat di mulutnya.

"Kalau kau tidak melakukan perintahku dan sibuk mencari cara untuk melakukan – entah rencana apa yang ada di dalam kepalamu yang cantik itu, maka mungkin saja aku akan berubah pikiran dan langsung menyetubuhimu saja saat ini juga."

Yoongi terlonjak, dan langsung meraih sabun cair, lalu mengusapkannya ke punggung Jimin yang keras dan berotot itu.

Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama terkesiap. Jimin bahkan tidak bisa menahan erangannya, kejantanannya sudah begitu keras. Seperti batu di bawah sana hingga terasa menyakitkan, memprotes untuk dipuaskan. Sentuhan tangan lembut Yoongi di punggungnya semakin memperburuk keadaan, membuatnya terangsang sampai di tingkat dia tak dapat menanggungnya.

Yoongi mengernyit mendengar suara erangan Jimin. Dia tidak dapat melihat ekspresi Jimin, hanya bisa melihat rambut belakang Jimin yang kecoklatan dan sekarang basah, menempel di tengkuknya.

"Kenapa?" Yoongi bertanya, pada akhirnya ketika Jimin mengerang lagi. Jemarinya menggosok lembut bahu dan punggung Jimin yang sekarang licin karena sabun. Guyuran air hangat membasahi mereka berdua, membuat kaca-kaca kamar mandi itu berembun karena uapnya.

Jimin menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya.

"Tidak apa-apa, Yoongi."

Suara Jimin berupa erangan yang dalam, mencoba menahan dirinya ketika tangan lembut Yoongi yang berlumuran sabun itu menyentuh pinggangnya. Dia ingin merenggut tangan Yoongi itu, menyentuhkan ke kejantanannya yang sangat menginginkannya, dan kemudian memuaskan dirinya di dalam tubuh Yoongi.

Tetapi dia tidak bisa. Jimin ingin membuat Yoongi menyerah dengan sukarela. Dua percintaan mereka yang terakhir tidak dilakukan dengan sukarela. Meskipun pada akhirnya Jimin bisa membuat Yoongi merasakan kenikmatan. Park Jimin tidak pernah memaksa perempuan jatuh ke dalam pelukannya. Para perempuanlah yang berebut untuk dipeluk olehnya. Dan itu harus terjadi pada Yoongi. Yoongi-lah yang harus menyerah dalam pelukannya.

Jimin memejamkan matanya, membayangkan bagaimana nikmatnya nanti ketika Yoongi pada akhirnya menyerah ke dalam pelukannya dan memohon kepadanya. Jimin melirik kepada Yoongi, dan… Astaga! Demi para dewa yang ada di semesta alam ini…

Yoongi masih memakai pakaian lengkapnya, dan yang membuat semuanya lebih buruk, pakaian Yoongi adalah rok panjang tipis berwarna putih. Dan ketika baju itu basah kuyup, malahan membuat tubuh Yoongi begitu seksi, tercermin samar-samar di balik pakaian putih yang membuatnya tampak misterius.

Jimin menggertakkan giginya. Dia tidak tahan lagi bermain-main dengan keadaan seperti ini. Ada di dekat Yoongi, telanjang, dan siap seperti ini membuatnya merasa hampir gila.

Perempuan ini harus menyerah padanya. Harus!

.

.

.

Jimin memasang jasnya dan menoleh pada Hoseok yang berdiri menungguinya di dekat pintu.

"Bagaimana dengan kasus terakhir itu? Sudah kau bereskan?"

Hoseok mengangkat bahunya,

"Tuan Namjoon memendam kemarahan kepada tuan. Apalagi karena tindakan tuan sudah menggilas habis seluruh perencanaan proyeknya."

Jimin tersenyum, membayangkan muka Kim Namjoon saat ini pasti sedang merah padam karena marah.

"Dia selalu marah kepadaku, sejak awal. Tetapi sampai sekarang dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kepadaku. Dia tahu dia akan mati kalau sekali saja dia mencoba membunuhku, lalu gagal."

"Bagaimana kalau dia mencoba dan berhasil?" Hoseok menyela dengan cepat.

"Tuan Namjoon sangat licik dan bertangan kotor. Dia menggunakan banyak orang untuk mencapai tujuan yang diinginkannya, kita tidak boleh meremehkannya dan harus selalu berhati-hati." Hoseok menatap Jimin dengan tatapan mata serius.

"Seharusnya tuan menyuruh saya untuk membereskan orang itu dari dulu, supaya dia tidak berani berbuat macam-macam."

Jimin menggelengkan kepalanya tak peduli.

"Dia tidak akan berani, dan kalaupun dia berani melakukan apapun… aku sendiri yang akan menghabisinya."

Kim Namjoon adalah salah satu musuh bisnis Jimin. Lelaki itu bersikap munafik karena di depan Jimin dia selalu bersikap baik dan bersahabat. Tetapi Jimin tahu kalau lelaki itu menyimpan kebencian yang amat mendalam kepadanya karena bisnisnya semakin terpuruk akibat gilasan ekspansi yang dilakukan Jimin.

Jimin sadar dia memang tidak boleh meremehkan Namjoon, karena Namjoon punya teman-teman penting di balik bisnis kotornya. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, lelaki itu berhubungan dengan sindikat senjata gelap dan kelompok-kelompok bawah tanah.

Tidak menutup kemungkinan Namjoon pada akhirnya akan menyewa salah seorang dari mereka untuk membunuhnya. Jimin, meskipun dibekali dengan kemampuan bela diri dan sangat ahli dalam berbagai jenis senjata serta dikelilingi oleh pasukan pengawalnya yang kompeten, harus selalu waspada.

Suatu saat, ketika Namjoon sudah terasa sangat mengganggu seperti hama penyakit yang harus dibasmi, Jimin sendiri yang akan membereskannya. Tetapi tidak sekarang, mungkin reputasi Jimin yang kejam membuat Namjoon sangat berhati-hati dalam bertindak, Jimin ingin melihat sejauh mana gerakan Namjoon, baru setelah itu dia memutuskan akan dibagaimanakan sampah itu.

Nanti. Gumam Jimin dalam hati, Sekarang dia harus makan malam dengan perempuannya. Setelah merasa puas dengan penampilannya, Jimin memutar tubuhnya dan mengedikkan bahunya kepada Hoseok.

"Dia sudah siap?"

Hoseok menganggukkan kepalanya.

"Heechul sudah menyiapkannya dari satu jam yang lalu."

Hoseok membungkukkan badannya, lalu membukakan pintu untuk Jimin.

.

.

.

Ketika didandani oleh Heechul, Yoongi sudah terlalu lelah untuk melakukan pemberontakan sekecil apapun. Dia bahkan tidak bertanya apapun ketika Hoseok mengantar Heechul ke kamarnya dan laki-laki itu tiba-tiba mendandaninya.

"Sepertinya kau berubah menjadi pendiam, kau tidak ingin tahu mengapa kau didandani?" Heechul bertanya setelah dia selesai mengoleskan eye shadow warna keemasan di kelopak mata Yoongi.

Yoongi hanya menggelengkan kepalanya, tidak mampu menjawab. Ingatan akan kejadian di kamar mandi tadi membuat perasaannya campur aduk. Oh ya, sesuai janjinya, Jimin hanya mandi. Setelah Yoongi selesai menyabuni punggungnya, Jimin meneruskan mandi dan kemudian dengan tatapan lancang, menawarkan diri untuk memandikan Yoongi – yang tentu saja langsung ditolaknya mentah-mentah dengan berbagai sumpah serapah yang menyembur dari bibirnya.

Jimin hanya tersenyum, mengambil handuk putih, mengikatkannya di pinggangnya dan melangkah pergi dengan santai. Meninggalkan Yoongi yang masih terpaku dalam guyuran air shower kamar mandi itu.

Jimin benar-benar terangsang. Yoongi tidak perlu memegang untuk mengetahui itu, bukti kejantanan Jimin sudah menonjol tanpa tahu malu. Tetapi kenapa lelaki itu tidak melakukan apa-apa kepadanya? Bukannya Yoongi ingin Jimin melakukan apapun kepadanya. Tetapi bayangan itu, bayangan Jimin yang bergitu bergairah tidak bisa hilang dari pikirannya.

Entah kenapa perasaan malu dan terhina merambati pikiriannya, Sungguh memalukan! Mungkinkah sebenarnya di dalam dirinya tersembunyi sosok perempuan jalang yang siap meledak? Atau jangan-jangan Jimin memang begitu ahli merayu perempuan sehingga membuat Yoongi hampir-hampir bertekuk lutut di kakinya?

"Sudah selesai." suara Heechul terdengar puas, mengembalikan Yoongi dari lamunannya.

Yoongi sedikit melirik ke cermin, pada mulanya tidak begitu tertarik akan hasil dandanan Heechul, tetapi mau tak mau pandangan matanya tertahan lebih lama di sana.

Gaun abu-abunya tampak menjuntai di belakang, dengan potongan sederhana, tetapi elegan. Rambutnya diangkat ke atas, memamerkan telinganya yang dihiasi anting rubi dengan ukiran emas. Secara keseluruhan, penampilannya tampak begitu elegan dan berkelas. Heechul memang hebat bisa membuat penampilannya berubah drastis seperti ini.

"Tuan Jimin akan mengajakmu makan di Loup Blanc."

Heechul mengernyit heran ketika melihat Yoongi tampak biasa saja mendengar nama restaurant itu.

"Hei, itu restaurant bintang lima paling berkelas di sini, di sana akan ada banyak mata yang melihat dan menilamu, tapi jangan pedulikan mereka."

Heechul memutar matanya genit,

"Mereka hanya iri karena kau bersama bujangan yang paling diminati."

Bujangan paling diminati? Tanpa sadar Yoongi memutar matanya, mungkin orang-orang itu terlalu silau akan ketampanan Jimin hingga buta akan semua sifat buruknya.

Pintu terbuka dan Hoseok masuk,

"Sudah siap?" pengawal berwajah dingin itu sedikit mengangkat alisnya melihat penampilan Yoongi, tetapi wajahnya tetap datar.

"Tuan Jimin sudah menunggu di bawah."

.

.

.

Yoongi diantar ke ballroom bawah dan Jimin berdiri di itu sekilas melemparkan pandangan memuji, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Di dalam mobilpun dilalui dalam keheningan. Lelaki itu rupanya berniat mempertahankan keheningan sampai ketujuan. Tetapi Yoongi tidak tahan, satu-satunya senjata agar dia tidak jatuh dalam pesona Jimin adalah dengan terus-menerus melawannya.

"Kenapa kau ajak aku makan malam di luar?" akhirnya Yoongi memecah keheningan itu dengan pertanyaannya.

Jimin menoleh sedikit dan menatap Yoongi dengan pandangan malas.

"Aku lapar."

Yoongi mendengus jengkel mendengar jawaban itu.

"Kau punya 3 koki hidangan internasional di rumahmu," begitu yang sempat Yoongi dengar dari obrolan para pelayan.

"Aku sedang ingin makan di luar, dan kau," Jimin menatap Yoongi dengan tatapan – awas kalau kau berani membantah-,

"Kau adalah kekasihku, jadi kau harus mendampingiku."

Tentu saja Yoongi membantah, "Aku bukan kekasihmu."

"Ya, kau adalah kekasihku. Perempuan yang kutiduri lebih dari satu kali otomatis menjadi kekasihku."

"Bukan!" Yoongi menyela keras kepala, mukanya memerah mendengar omongan Jimin yang vulgar itu.

"Yoongi," Jimin mengeluarkan suara mengancamnya yang khas.

"Jangan menantangku. Kau tahu aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, suasana hatiku sedang buruk dan aku muak dengan semua perlawananmu. Jadi jangan coba-coba memancing kesabaranku."

"Kalau kau muak denganku seharusnya kau lepaskan aku."

"Tidak." Jimin menjawab cepat, hanya sepersekian detik setelah Yoongi menutup mulutnya,

"Hentikan Yoongi, kau tidak akan kulepaskan."

"Kenapa?'

"Kau tahu kenapa…" Jimin jelas tampak jengkel.

"Tidak, aku tidak tahu." jawab Yoongi keras kepala.

"Karena," suara Jimin sedikit menggeram, dan dalam sekejap lelaki itu mencengkeram rahang Yoongi dengan jemarinya, lembut tetapi mengancam.

"Karena aku sangat suka memasukimu, merasakan kewanitaanmu membungkusku dengan panas, lalu mendengarmu merintih karena orgasmemu. Jelas?!"

Sangat Jelas. Dan Jimin berhasil membuat Yoongi terdiam. Sepanjang perjalanan mereka tidak berucap sepatah katapun lagi.

.

.

.

Di suatu sudut yang gelap sebuah telephone terangkat, Kim Namjoon sedang duduk di kursi besarnya sambil merokok. Segelas brandy dengan botolnya yang setengah penuh tampak di sampingnya, tampangnya yang sangar dengan hidung memerah karena mabuk tampak waspada.

"Sudah berhasil?" lelaki itu bertanya cepat.

Jeda sejenak, lalu suara dalam di sana menjawab dengan tenang,

"Mereka sudah keluar dari rumah itu. Rencana akan dijalankan nanti ketika mereka pulang."

"Bagus, kabari aku kalau sudah beres."

"Baiklah. Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Park Jimin."

Telephone ditutup, dan Namjoon terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal. Park Jimin, musuh besarnya. Lelaki itu sudah menghancurkan bisnisnya dengan ekspansi yang dilakukannya. Dan bukan hanya itu, Namjoon didera oleh perasaan iri dan benci yang luar biasa kepada Jimin. Entah kenapa Jimin diciptakan begitu sempurna, dari segi fisik. Sehingga semua wanita berhamburan untuk berlutut di kakinya.

Namjoon dengan wajah sangarnya sudah terlalu sakit hati karena ditolak perempuan, semua perempuan yang mau tidur dengannya hanyalah pelacur-pelacur yang harus dibayar. Park Jimin harus dienyahkan, lelaki seperti itu tidak boleh hidup di dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir lelaki itu hidup.

.

.

.

Tbc.

Siyaaaal, Jims kalo jadi Yoongi sih udah serangan jantung ngadepin Jimin. apapula kata-katanya di mobil, heol. Tapi memang novelnya sendiripun bagus ya, bisa bikin pembaca ikut terhanyut sama suasana.

Jims udah meminimalisir typo, kalau masih ada yang nyangkut juga berarti kurang teliti. Mohon maklum ya, ngedit via hp dan nyempetin update di tengah kondisi badan yang lagi kurang fit. Ayo kalian pada jaga kesehatan ya, lagi Musim sakit lho. T.T

Mohon maaf juga kalau chapter kemaren ada yg ga dispasi, pas di lappy perasaan udah rapih. Tetep aja ya berantakan dan penuh kekurangan. btw Jims sedia layanan PM kok. Yang Mau ngobrol jangan takut-takut. xD

Hahaha seperti biasa, terima kasih review fave dan follownya. oke sekian, see you…

Mind to review again?

Jimsnoona.