THE THINGS – bag. 2 : Path

Created by : Crypt14


Incheon Airport,

Incheon, South Korea - 09:00 a.m

"Yuhuu! Aku benar-benar nggak sabar. Kalian tau, aku nyaris nggak bisa tidur karena terlalu excited dengan liburan kita kali ini." Jihoon memekik riang. Pria bertubuh mungil itu tidak berhenti berceloteh sejak tadi mengenai betapa tidak sabarnya ia untuk pergi mengunjungi destinasi liburannya kali ini. Aku mengalihkan pandangan ku menuju seseorang yang berada tepat diseberang ku. Wonwoo, ia tak berhenti bergerak resah sejak tadi. Sesekali tampak menggigit bibir bawahnya. Buliran keringat meluncur bebas dari pelipisnya, padahal suasana diruang tunggu bandara terasa cukup sejuk. Hari ini kami ber-6 akan terbang menuju Rumania tepatnya menuju kota Cluj-Napoca sebuah kota yang terletak dilembah sungai Somesul Mic.

"Wonwoo, aku perhatikan kau kelihatan resah. Ada apa?." Soonyoung berujar, membuat pria bersurai caramel yang berada diseberang ku itu menatap tepat kearahnya. "Kau lupa, Wonwoo 'kan takut untuk pergi kesana jelas saja dia kelihatan resah." Aku melirik sekilas kearah Junghan yang menyeringai. Tawa mengejek dari ketiga orang lainnya terkecuali aku dan Soonyoung terdengar mendominasi. Aku berdecih malas, beranjak dari tempat dudukku menuju Wonwoo yang masih belum bergeming. "Ikut aku sebentar." Ucapku seraya menarik pergelangan tangannya menjauh dari kelompok.

"Berhentilah menunjukkan wajah khawatir mu." Ia masih terdiam, mata tajamnya hanya memandang kearah ku sendu. Tangan ku terulur menyerahkan cup berisi Americano dingin kepadanya. "Maaf Mingyu. Aku hanya merasa khawatir dengan liburan kita kali ini." Ia bergumam kecil dengan kepalanya yang tertunduk lesu. Americano yang sebelumnya aku berikan masih berada ditangannya utuh, buliran embun yang keluar dari sisi cup tampak membasahi telapak tangan miliknya. Aku menghela nafas sejenak, menarik bahunya yang lebih kecil dari milikku mendekat membuatnya menoleh kearah ku. "Jangan khawatir, aku sudah bilang akan menjaga mu dan membawa kau dan yang lainnya pulang dengan selamat 'kan?. Semua akan baik-baik saja, kau percaya padaku?." Aku balik menatapnya, mengulaskan sebuah senyuman untuknya. Wonwoo terdiam sejenak sebelum sebuah senyuman tipis juga tercetak diwajah sendunya.

"Hoi! Kalian kemana, sih? Kita sudah harus masuk kedalam." Junghan memekik cukup keras kearah aku dan Wonwoo, menatap kami dengan raut wajah kesalnya. "Kami hanya cari minum tadi aku rasa kau nggak perlu berteriak seperti itu. Kedengaran seperti orang kampung yang nggak sabar untuk naik pesawat tau nggak." Balasku ringan yang membuahkan tawa hebat dari Soonyoung. Junghan hendak kembali memekik sebelumnya namun tertahan karena Seungcheol memintanya untuk mengabaikan ucapan ku. Aku dan Soonyoung terkekeh geli setelah beranjak meraih beberapa barang-barang kami dan membawanya menuju pesawat.

Villa Parc

Cluj-Napoca, Romania – 10:17 p.m

Aku menghela nafas panjang, merenggangkan seluruh persendian ku yang terasa kaku. 13 jam berada diperjalanan cukup membuat seluruh tubuhku seakan mati rasa. Soonyoung dan Seungcheol tampak sibuk mengeluarkan tas-tas kami dari bagasi mobil sementara ketiga orang lainnya masih mencoba mengumpulkan kesadaran mereka yang sempat ditelan alam mimpi. Sejenak menatap kearah tempat penginapan yang akan kami gunakan beberapa hari selama di Romania. Sebuah penginapan bergaya Villa sengaja kami pilih karena kami pikir akan terasa lebih nyaman. Aku beranjak menuju bagasi mobil, membantu kedua sahabatku yang kelihatannya cukup kesulitan dengan seluruh barang bawaan kami.

"Sial, apa kau memasukkan seluruh perlengkapan rumah mu kedalam sini, Junghan." Soonyoung berucap dengan nada sedikit kesal sebelum meletakkan tas tangan berwarna hitam milik Junghan keatas sofa ruang tamu. "Kau itu berlebihan. tas situ isinya hanya baju saja, berat apanya." Balas Junghan yang kini tengah menyandarkan kepalanya kebadan sofa. Rasa penat menggelayuti kami setelah perjalanan yang cukup jauh, membuat kami semua pada akhirnya masuk kedalam kamar masing-masing guna memulihkan tenaga agar dapat beraktifitas esok.

Villa Parc

Cluj-Napoca, Romania – 10:00 a.m

Suasana ruang tamu penginapan itu begitu riuh. Masih terdengar argumen-argumen sengit yang keluar dari mulut Soonyoung dan Junghan. "Aku sudah bilang sebelumnya 'kan untuk berhati-hati saat memasukkan koper ku. Lihat, semalam pasti terbentur waktu kau membawanya." Junghan memekik keras kearah Soonyoung, pria manis itu masih sibuk menunjuk kearah lecet yang terlihat jelas dikoper silver miliknya. "Ck! Kau itu berisik tau nggak. Itu cuma lecet sedikit memang hidup mu bakal berakhir kalau benda itu rusak." Dengus Soonyoung tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Kedua remaja pria itu masih sibuk saling berargumen mengenai hal yang seharusnya tidak menjadi perdebatan besar. Jihoon pria mungil yang sedari tadi memperhatikan perdebatan antara sahabat dan kekasihnya mendengus sambil memutar kedua bola matanya malas melihat tingkah kekanakkan kedua orang yang berada tak jauh darinya itu, sementara Mingyu pria berkulit tan itu tampak acuh tak acuh dengan keadaan disekitarnya, tangan dan pandangnnya masih sibuk menuju kearah layar ponsel miliknya. Sedangkan Wonwoo, ia hanya menatap tanpa ekspresi kearah Junghan dan Soonyoung.

"Berhentilah meributkan hal nggak penting. Aku mau membicarakan rencana liburan kita." Pria dengan surai hitam yang sedari tadi hanya berdiri diambang pintu kamarnya memperhatikan keributan kecil itu beranjak, menempatkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Kelima temannya menatap kearahnya, tertarik dengan hal yang diucapkannya barusan. "Jadi, kapan kita pergi ke hutan itu?." Jihoon berujar dengan nada tertariknya.

"Kemungkinan besok pagi, jam sepuluh. Jadi, kalian harus bangun lebih awal karena jarak dari penginapan ini ke Hoia forest kurang lebih 30 menit." Ujar Seungcheol yang hanya ditanggapi anggukan mengerti dari keempat temannya kecuali Wonwoo yang hanya menatapnya datar. Deringan ponsel milik salah satu dari mereka membuyarkan keheningan yang sejenak tercipta. Wonwoo beranjak, meraih ponselnya dari dalam saku celana. Sekilas menatap kearah layar ponsel sebelum menyentuh layarnya dan beranjak dari tempatnya.

"Siapa yang menelfon mu tadi?." Mingyu pria itu mengintrupsi setelah melihat keberadaan Wonwoo didalam kelompok lagi. "Joshua, dia mau bertemu dengan kita dicafe dekat sini." Balasnya. Kelima temannya sejenak menatap kearahnya sebelum meng-iyakan permintaan pria itu. Hanya berjarak 5 menit dari penginapan ke-6 remaja pria tadi sudah berada dimeja yang terletak tak jauh dari pintu masuk café bersama dengan seorang remaja pria lainnya. "Kau kesini tapi nggak mengabari ku, Wonwoo. Aku rasa kau sudah cukup dewasa dan nggak akan tersesat lagi disini." remaja pria bersurai coklat kemerahan itu tertawa ringan, menyesap jasmine tea miliknya. "Bukan begitu, aku cuma nggak ingin merepotkan mu. Tapi nyatanya justru merepotkan paman Hong." Balas Wonwoo diiringi dengan kekehan kecil darinya. Kelima teman lainnya hanya tersenyum singkat mendengar pembicaraan kedua orang itu. Mingyu tampak menatap lekat kearah Joshua pria yang sedari tadi berbicara santai dengan kekasihnya. "Aku dengar kalian datang kesini untuk liburan?." Joshua menatap setiap orang yang berada dimeja itu, senyuman tipis masih tersungging dibibirnya. "Begitu lah." Balas Seungcheol singkat. "Lalu kemana destinasi liburan kalian?. Maksudku dikota ini tidak terlalu banyak tempat yang bisa kunjungi. Satu-satunya tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan hanya Ethnographic Museum dan National Museum selebihnya seperti yang kalian tau tempat ini lebih didominasi oleh gereja. Aku rasa kalian bukan kumpulan mahasiswa yang tertarik dengan hal seperti itu." Joshua terkekeh kembali, pandangannya masih menatap kesetiap orang yang berada disekitarnya. "Dan kau benar, Mr. Hong. Kami kesini bukan dalam rangka keagamaan-maupun-pendidikan. Oh Please! Aku sudah cukup bosan dengan aktifitas seperti itu." Ucap Jihoon seraya menyesap lemon tea miliknya. "Lalu destinasi wisata kalian yang sebenarnya akan kemana?"

"Hoia forest." Joshua seketika merubah air mukanya, menatap serius kearah Wonwoo dan teman-temannya. "Hoia forest?." Ia mengulangi kembali ucapan yang sebelumnya Mingyu katakan, mencoba memastikan kembali. "Yap, Hoia forest. Kau tau hutan menuju dimensi lain." Balas Junghan dengan mimic wajah misterius yang dibuat-buat. Tatapan Joshua segera jatuh kepada Wonwoo pria yang sejak percakapan mengenai liburan dimulai tidak sedikit pun mengeluarkan suaranya. "Kau akan berlibur ke Hoia forest?." Ujar Joshua masih menatap Wonwoo dengan pandangan tajamnya. Wonwoo tak bergeming, hanya menatap balik Joshua dengan pandangan aku-sudah-mencoba-melarang-mereka. Terdengar helaan nafas panjang dari Joshua, ia mengalihkan pandangannya kembali. "Aku sarankan kalian untuk tidak pergi kesana." Ucap Joshua pelan yang membuahkan decihan sinis dari bibir Seungcheol. "Kenapa? Karena mitos yang berkembang di masyarakat?." Balas Seungcheol dengan nada remeh.

"Mitos? Kau menganggap cerita yang beredar hanya mitos yang dibuat-buat." Seungcheol mengangguk pasti, masih mempertahankan ekspresi wajahnya yang tampak meremehkan setiap ucapan Joshua. "Kenapa?. Kau keberatan aku menganggap semua itu hanya mitos kacangan yang sengaja dibuat oleh orang tua untuk menakuti para pecundang." Ucap Seungcheol tajam. Joshua terdiam sejenak, memandang tajam Seungcheol. "Kau nggak tau apapun mengenai Hoia forest, Seungcheol-ssi. Jadi berhentilah berucap seakan-akan kau mengetahui tempat itu dengan baik." Ucap Joshua masih menatap tajam kearah Seungcheol yang membuahkan kekehan pelan darinya. Seringaian merendahkan tampak masih tersungging dibibir plum miliknya. Sejenak suasana terasa hening, tidak ada satupun dari ke-7 remaja pria itu beniat untuk membuka suara hingga desahan nafas Joshua memecah keheningan tersebut. Pria itu bangkit dari duduknya, masih menatap dengan wajah serius ke-6 pria yang berada didekatnya. "Jika kalian tetap berniat pergi, jangan pernah mengajak Wonwoo ku bersama kalian. Dan kau, Wonwoo. Bereskan perlengkapan mu, besok malam aku akan mengantar mu pulang kembali ke Seoul." Ucapnya sebelum beranjak pergi dari dalam café. Seluruhnya terdiam, masih berkutat dengan pikiran masing-masing.

"Cih! Satu lagi pecundang payah yang punya pikiran kolot." Gumam Seungcheol seraya bangkit dari duduknya dan beranjak untuk meninggalkan café, diikuti oleh Junghan, Jihoon dan Soonyoung. Sementara Mingyu dan Wonwoo, kedua remaja pria itu masih terdiam ditempat mereka. Wonwoo tampak tertunduk diam seakan begitu banyak hal yang menganggu pikirannya sedangkan Mingyu, pria berkulit tan itu hanya memandang kearah Wonwoo dengan alis yang bertaut.

Langit malam menyapa kota Cluj-napoca. Semilir angin terasa segar membelai kulit kedua orang remaja pria yang tengah berdiri tepat diteras penginapan yang mereka sewa sejak kemarin. Jam tangan yang melingkar ditangan salah seorang dari keduanya menunjukkan pukul 23:43. Suasana hening menjadi hal dominan yang mereka rasakan saat ini. Keduanya masih terdiam. Wonwoo, ia hanya terus menatap kosong kearah langit kota, pikirannya berkecamuk. Ia merasa harus menuruti ucapan Joshua, namun disisi lain ia berfikir tidak mungkin membiarkan Mingyu pergi kesana. "Wonwoo." Pandangannya beralih saat suara Mingyu mengintrupsi pendengarannya. Mata kecilnya hanya memandang kearah Mingyu, menunggu pria itu melanjutkan ucapannya. "Pria tadi, dia siapa mu kelihatannya dia sangat mengkhawatir 'kan mu. Apa dia salah satu mantan atau mungkin secret admirer oh bukan penggagum terang-terangan mu." Ucapnya dengan arah pandang menuju langit kota. Wonwoo terdiam sejenak, setelahnya terkekeh pelan kembali mengalihkan pandangannya menuju langit kota juga. "Joshua maksud mu. Dia sepupu ku." balasnya dengan nada pelan. Mingyu tertawa ringan, menggaruk tengkuknya canggung. "Jadi dia sepupu mu, aku nyaris salah paham." Desisnya pelan. Wonwoo tersenyum kecil tanpa melepaskan pandangannya dari langit kota Cluj-napoca.

.

.

.

Villa Parc

Cluj-Napoca, Romania – 09:00 a.m

Keadaan penginapan tampak cukup riuh. Pekikkan Jihoon terus terdengar memenuhi ruang tamu. "Lee Jihoon, bisa nggak berhenti berteriak seperti bocah idiot yang excited hanya karena melihat kotoran burung jatuh dari langit. Kau membuat kepala ku serasa mau pecah." Ucap Junghan sarkastik. Pria manis itu menatap tajam dari sudut matanya sementara yang ditatap tampak tak menghiraukan ucapan frustasi yang baru saja ditangkap indera pendengaranny. Jihoon masih sibuk berteriak meminta Seungcheol dan Wonwoo untuk mempercepat kegiatan mereka. Tak lama Wonwoo dan Seungcheol keluar dari kamar mereka masing-masing dengan ransel yang menggantung dipunggung keduanya.

"Seungcheol-ah, apa kita pakai pembimbing untuk masuk kedalam hutan nanti?."

"Kita gak butuh hal begitu aku rasa. Yang kita butuh ini." Ujar Seungcheol menanggapi pertanyaan Soonyoung seraya menunjukkan sebuah kompas ditangannya. Wonwoo menatap sekilas kearah Seungcheol setelahnya kembali menatap kearah luar jendela mobil yang dikendarai oleh Mingyu. 30 menit perjalanan ke-6 remaja itu tiba tak jauh dari pintu masuk hutan. Jihoon yang memang sangat tertarik dengan liburan mereka kali ini memekik tertahan. Ucapan kekaguman terus menguar dari mulutnya sementara ke-4 orang lainnya hanya memandang takjub kearah pepohonan rimbun yang kini berada dihadapan mereka. Wonwoo satu-satunya orang yang tampak resah setelah menapakkan kakinya tak jauh dari pintu masuk Hoia forest. Ke-6 remaja itu perlahan beranjak menuju kedalam hutan, rerimbunan pohon menjadi satu-satunya pemandangan yang berada dihadapan mata mereka kini. "This is really amazing." Gumam Jihoon saat kedua manik matanya menangkap pemandangan yang sangat atau tidak pernah ia lihat sebelumnya. Batang-batang pohon yang berada disekitarnya tampak membengkok seperti terpelintir. Ia berlari cepat menuju salah satu pohon sesaat sebelumnya menyerahkan kamera pada Soonyoung yang berdiri tak jauh darinya. Bunyi dari kamera terdengar menggema didalam hutan rimbun tersebut. Sinar matahari yang tampak sedikit terpias dari celah-celah pohon menjadi satu-satunya penerangan yang mereka dapatkan. Jihoon dan Soonyoung masih sibuk mengambil beberapa gambar dari setiap sudut hutan. Sementara Seungcheol, pria bersurai hitam pekat itu masih melangkah pelan menyusuri kekedalaman hutan yang juga diikuti oleh kelima temannya.

Wonwoo meraih ujung t-shirt Mingyu, membuat pemiliknya yang berada tepat didepan Wonwoo menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh. Manik mata Wonwoo masih memandang kearah sekeliling hutan. Pias khawatir tampak jelas diwajah pria berkulit putih itu. Mingyu beranjak, mengambil tempat disisinya, menggenggam tangan pria itu. "Berhenti khawatir, aku nggak akan meninggalkan mu. Jangan sampai melepaskan ini, okay?." Bisiknya, mengangkat genggaman tangan mereka keudara. Sejenak perasaan hangat memenuhi dada Wonwoo, entah setiap kali Mingyu mengatakan hal seperti itu ia selalu merasa terlindungi. Wonwoo tidak menampik bahwa ia memang berharap untuk dilindungi oleh Mingyu, meskipun dia tau seharusnya ia mampu untuk melindungi dirinya sendiri namun Wonwoo tetap akan bersikeras bahwa perlindungan yang diberikan oleh Mingyu jauh lebih dapat membuatnya tenang. Wonwoo tersenyum tipis, keduanya kembali melangkah mengikuti jejak yang diberikan oleh Seungcheol.

Ke-6 remaja itu semakin masuk kedalam hutan. Pencahayaan mulai terasa minim dititik ini karena pepohonan yang semakin menjulang dengan rimbunan dedaunan diatasnya yang menghalangi cahaya matahari untuk masuk. "Bisa kita berhenti sebentar, aku rasa Jihoon kelelahan." Soonyoung berucap cukup keras membuat seluruh anggota berhenti dan menatap kearahnya. Pria mungil disisinya tampak merunduk lesu sambil memegangi perutnya. "Ada apa? Jihoon-ah kau baik-baik saja?." Seungcheol beranjak mendekat kearah Jihoon, menyentuh lengannya pelan. "Aku mual dan kepala ku terasa sakit." Bisiknya lirih. Soonyoung yang sedari tadi berada disampingnya terus menatap khawatir Jihoon. Tangannya tak lepas mengelus punggung kekasihnya. "Seungcheol-ah, aku rasa aku akan membawa Jihoon kembali keluar hutan saja. Dia nggak akan mampu melanjutkan perjalanan." Ucapnya. Seungcheol menghela nafas sejenak sambil mengangguk paham. "Baiklah, kau bawa Jihoon keluar. Aku dan yang lainnya akan kembali sebelum senja kita bertemu ditempat kita memarkirkan mobil saja." Ujar Seungcheol yang langsung dibalas anggukkan oleh Soonyoung. Ke-4 orang lainnya kembali melanjutkan perjalanan setelah Jihoon dan Soonyoung beranjak untuk keluar dari hutan. Wonwoo mempererat genggaman tangannya pada Mingyu. Perasaan khawatir dan resah kembali menguar kedalam pikirannya.

Matahari tampak semakin meninggi diatas hutan Hoia. Ke-4 remaja itu sudah masuk terlalu dalam. Pias matahari semakin sulit mereka temui karena tingkat kerimbunan pepohonan disekeliling mereka. Mingyu menghentikan langkahnya. "Aku rasa kita sudah cukup masuk terlalu dalam, Seungcheol-ah. Aku khawatir Wonwoo dan Junghan sudah nggak kuat. Kau lihat Junghan, dia nggak mengeluarkan suara sedikit pun aku pikir dia kelelahan." Ucap Mingyu seraya menatap kearah Junghan yang sejak mereka mulai menjelajah memang tidak bersuara sedikit pun. Seungcheol mendekat kearah pria bersurai merah itu, menatapnya sejenak. "Kau lelah?." Ucapnya lembut yang dibalas anggukkan kecil dari Junghan. "Baiklah, kita istirahat dulu setelah itu kita keluar dari hutan ini."

Wonwoo side

Aku tersenyum tipis saat Mingyu menyerahkan sebotol air mineral yang diambil dari dalam ranselnya. Kami tengah beristirahat setelah berjalan tanpa henti untuk masuk kedalam hutan. Aku meneguk air mineral yang berada digenggaman ku, merasakan buliran itu perlahan membasahi kerongkongan ku yang terasa begitu kering sejak tadi. Kembali menatap kearah Mingyu saat ia tangannya kembali menyodorkan sepotong coklat. Aku meraihnya dan segera memasukkan potongan coklat itu kedalam mulutku. Terhenti sejenak saat ekor mataku menatap kearah Junghan yang duduk tak jauh dari tempatku dan Mingyu. Ia terlihat sangat tenang sejak kami menginjakkan kaki didalam hutan ini, aku bahkan tidak mendengar seucap kata pun keluar dari mulutnya. Biasanya Junghan akan mengeluh saat berada ditempat yang tidak memiliki penerangan cukup seperti saat ini, namun sekarang ia terlihat berbeda. Junghan tampak tidak mempermasalahkan mengenai hal yang sangat dibencinya. Aku segera mengalihkan pandangan ku saat kedua manik matanya menatap kearah ku. Mencoba berpura-pura tidak memperhatikannya.

"Aku rasa istirahatnya sudah cukup. Kita harus cepat keluar sebelum senja." Ucap Seungcheol seraya bangkit dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya kearah Junghan bermaksud membantunya namun sesegera mungkin ditepis oleh Junghan. Kejadian itu cukup membuat aku, Mingyu dan tentunya Seungcheol kaget. Pasalnya, Junghan tidak pernah menolak semua perlakuan Seungcheol. Kami terdiam sejenak. Mataku masih menatap kearah Junghan yang kini beranjak, melangkah lebih dulu kearah yang berlawanan dari arah yang kami tuju sebelumnya. Seungcheol perlahan mengikutinya begitu pula aku dan Mingyu.

Kami terus melangkah, menapakki tanah hutan yang berbau lembab ini. Sejak istirahat tadi aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku dari sosok Junghan yang terus berjalan dengan tenang didepan ku. Entah, akan tetapi sebuah perasaan mengganjal tentang Junghan menyeruak begitu saja dalam pikiran ku. aku mengeratkan genggaman tangan ku pada Mingyu.

Sudah hampir satu setengah jam kami terus berjalan tanpa berhenti. Langit tampak mulai meredup diatas sana. Aku melirik kearah jam tangan ku, pukul 15:15. Menghela nafas pelan. "Sudah mulai sore." Desis ku pelan. Mataku masih menatap kearah sekeliling hutan yang dipenuhi oleh rerimbunan pohon. Pohon-pohon itu menjulang begitu tinggi. Perasaan resah kembali menghantui ku, mengingat waktu terus berjalan sementara kami belum menemukan jalan keluar dari hutan ini. "Seungcheol-ah, sebenarnya kemana arah kita? Aku merasa kita hanya berjalan berputar saja sejak tadi, sebenarnya kompas mu itu berfungsi nggak, sih?." Mingyu merutuk kesal. Aku tau ia mulai kelelahan karena hal yang sama juga aku rasakan.

"Entahlah, sepertinya kompas ku nggak bekerja tiba-tiba." Seungcheol tampak memukul pelan kompas yang berada ditangannya. Ia menggeram kesal, membanting benda tersebut keatas tanah. "Kita tersersat?." Ucap Mingyu. Nada bicaranya terdengar begitu dingin, ia menatap tajam kearah Seungcheol yang kini menjatuhkan tubuhnya disisi pohon yang berada tak jauh darinya. Ia mengacak rambutnya seraya menggeram frustasi. "Cih! Bang*at! Seharusnya kami nggak mengikuti rencana mu yang masuk kedalam hutan ini tanpa pemandu." Gumam Mingyu. Aku kembali mengeratkan genggaman tangan ku, memberi kode untuk tidak memulai pertengkaran. Mingyu kembali berdecih kesal. ia menghela nafasnya kasar, gesture yang selalu dibuat untuk meredam emosinya. "Lalu sekarang bagaimana?. Hari sudah semakin sore, ponsel juga nggak bisa digunakan karena nggak ada sinyal." Mingyu kembali membuka suara, meminta Seungcheol untuk memberikan saran yang hanya dibalas gelengan lemah darinya. "Aku benar-benar nggak tau harus lewat mana. Kepala ku terus berdenyut saat masuk ke hutan ini, Fuck!." Mingyu kembali menatap tajam Seungcheol. Aku dapat mendengar bunyi gemeletuk yang berasal dari giginya yang beradu. Mingyu benar-benar berada dipuncak rasa kesalnya. Aku hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apapun untuk memberikan saran karena aku sendiri tidak mengenal hutan ini. Keheningan mengukung kami. Mingyu masih menatap kesal kearah Seungcheol, sementara aku masih memandangi Junghan. Ia benar-benar tidak mengatakan apapun bahkan disaat seperti ini.

Aku terhenyak saat pandangan ku bertemu dengan Junghan. Ia menatap ku datar dan entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku meskipun aku bersikeras untuk mencobanya. Aku menelan saliva ku sulit. Perlahan Junghan bangkit dan beranjak menuju ku. "Mingyu, bisa aku pinjam Wonwoo sebentar?." Baik aku maupun Mingyu terdiam sejenak seraya menatap kearah Junghan yang berdiri dihadapan kami. "Memang kau mau mengajak Wonwoo kemana?."

"Aku rasa gantungan ponsel ku jatuh saat kita mencari jalan keluar tadi. Bisa aku pinjam Wonwoo untuk menemani ku mencarinya sebentar?." Mingyu mengalihkan tatapannya kearah ku, meminta pendapat ku. aku menghela nafas panjang, melepaskan genggaman tanganku dan bangkit mengikuti Junghan yang sudah lebih dulu pergi.

"Junghan-ah, kau ingin mencarinya dimana? Kita nggak bisa pergi terlalu jauh dari Mingyu dan Seungcheol." Ucapku. Namun Junghan masih tetap meneruskan langkahnya seakan tak menggubris perkataan ku. "Junghan-ah.." panggilku lagi. Ia berhenti. Aku mencoba mendekat kearahnya, menyentuh bahunya pelan. Ia menoleh menatap datar kearahku. Perlahan ia lebih mendekatkan tubuhnya kearah ku hingga wajah kami berada pada jarak yang sangat dekat. Aku kembali menelan saliva ku sulit, perasaan ngeri memenuhi dada ku setiap kali menangkap cara Junghan menatapku. Ia semakin mendekat, mengarahkan bibirnya kearah telinga ku.

"Kita terjebak, Wonwoo."

.


CHIT CHAT : wuah, sebelumnya makasih banyak untuk jihokr, BSion, Firdha858, 17MissCarat, NichanJung, elfishynurul, DaeMinJae, Ourwonu and also Iceu Dogeryang udah mau review ff ini :D. Honestly, pas post pertama kali sedikit ragu takut banyak yang gak suka sama genre-nya hehe. Gak banyak chit chat yang mau aku sampein selain makasih untuk kalian yang udah mau baca, review, mem-favorite dan nge-follow ff ini, thank you so much tanpa kalian ff ini cuma butiran diamond /? xD. so this is the second chapter for The Things series semoga gak mengecewakan ya. Please tetap kasih saran dan kritik tentang ff ini 3

salam,

Crypt14