Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 8
Jimin masuk ke kamar perawatan Yoongi tengah malam. Saat itu Yoongi sudah tertidur pulas. Dengan langkah pelan tak bersuara, Jimin berjalan menuju tepi tempat tidur dan berdiri dekat di sana mengawasi Yoongi...
Begitu damai perempuan ini terpejam dalam lelapnya, seolah tak menyadari bahwa sekarang bahaya yang amat besar sedang mengintainya. Jimin sedikit membungkuk, lalu menyentuh pelan pipi Yoongi. Perempuan itu mengerang pelan lalu mengubah posisi tidurnya, tetapi tidak terbangun.
Jimin mengambil resiko dengan menunduk dan mengecup bibir Yoongi, merasakan manisnya bibir itu. Sampai kemudian dia larut dalam gairahnya yang tertahan dan melumat bibir Yoongi.
.
.
.
Yoongi merasakan gelenyar panas di seluruh tubuhnya, dan dia menggeliat, ada gairah menjalar dari bibirnya yang terasa nikmat dilumat seseorang. Dengan lemah Yoongi mengerjap setengah tidur dan membuka mata.
Lelaki itu, yang sedang membungkuk di atas tubuhnya dan melumat bibirnya, adalah Park Jimin. Jimin sedang melumat bibir Yoongi, kemudian dia berhenti dan menatap mata Yoongi, menyadari bahwa Yoongi sudah terbangun.
Dengan lembut Jimin menelusurkan tangannya di pipi Yoongi, lalu bibirnya mengikuti gerakan jemarinya. Yoongi memejamkan matanya, ini pasti mimpi. Park Jimin di dunia nyata tidak mungkin berbuat selembut ini, lelaki itu pasti akan langsung memaksanya, memperkosanya, dan memperlakukannya dengan kasar.
Ini pasti mimpi, karena sebelum tidur Yoongi berbaring dengan gelisah, mencoba menghapus memori bercintanya dengan Jimin yang seolah-olah selalu muncul dalam benaknya.
Dan karena ini mimpi, tak ada salahnya untuk menikmati. Yoongi setengah tersenyum, lalu menyentuh pipi Jimin dengan lembut. Dalam sekejap tubuh Jimin langsung kaku seperti terkejut merasakan sentuhan lembut jemari Yoongi di pipinya.
Yoongi langsung menarik tangannya panik, apakah Jimin dalam mimpinya ini akan berubah lagi menjadi Jimin dalam dunia nyata yang jahat?
Ternyata tidak, Jimin dalam dunia mimpi ini sangat lembut dan penuh kebaikan. Lelaki itu mengambil jari Yoongi dan meletakkannya kembali di pipinya.
"Sentuh aku di manapun kau suka, jangan berhenti..." bisik Jimin penuh gairah.
Yoongi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ini benar-benar mimpi yang sangat menyenangkan. Di bawah tatapan tajam Jimin, Yoongi menyusurkan jemarinya di wajah Jimin, mengagumi setiap kesempurnaan yang terpatri di sana.
Ketika jemarinya hampir menyentuh bibir Jimin, lelaki itu meraih tangannya, dan mengecupnya lembut, satu persatu jemarinya, Jimin menggulingkan tubuhnya ke samping Yoongi, ranjang rumah sakit yang lembut itu membuat tubuh mereka bersentuhan rapat.
Tangan Jimin menggenggam jemari Yoongi, lalu menyentuhkan jemarinya ke kejantanannya yang sudah sangat siap,
"Sentuh aku Sayang." bisiknya parau.
Wajah Yoongi memerah merasakan kekerasan yang panas di telapak tangannya, dengan lembut Jimin membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celananya,
"Rasakanlah tubuhku yang amat sangat mendambamu."
Yoongi meremas kejantanan itu dan Jimin mengerang, perasaan bahwa Jimin benar-benar bergairah atas sentuhannya membuat Yoongi merasa senang. Oh ya ampun, ini adalah mimpi erotis terbaik yang pernah dia alami.
Jemari Yoongi bereksplorasi di tubuh Jimin, dan lelaki itu membiarkannya sebebas-bebasnya. Akhirnya, ketika bibir Yoongi dengan penuh ingin tahu mencecap kejantanan itu, Jimin mengangkat kepala Yoongi dengan tatapan tajam berkabut yang penuh gairah.
"Giliranku." geramnya serak.
Yoongi dibaringkan dengan Jimin berbaring miring menghadapnya, lelaki itu mengecup dahinya, pelipisnya, ujung hidungnya, pipinya, bibirnya dengan kecupan-kecupan kecil yang lembut, Lalu bibir itu berhenti di bibir Yoongi, mencicipinya sedikit-sedikit di tiap ujungnya, meniupkan kehangatan yang basah di sana. Membuat Yoongi membuka bibirnya dengan penuh perasaan mendamba.
Jimin melumat bibir Yoongi yang membuka itu dan menyelipkan lidahnya ke dalamnya. Lidah mereka bertautan, panas dan basah. Bibir Jimin melumat bibir Yoongi tanpa ampun, mencecap setiap sisinya, dengan penuh gairah.
Yoongi merasakan jemari Jimin mulai membuka satu-persatu pakaian rumah sakit Yoongi, kemudian tangan yang panas itu serasa membakar di kulitnya yang telanjang, menyentuhnya dengan intens di semua sisi, menimbulkan geletar tiada duanya, yang membuat Yoongi menggeliat penuh gairah.
Bibir tebal Jimin menelusuri puncak payudara Yoongi dengan penuh hati-hati, merasakan berbagai sensasi kelembutan di sana, Yoongi mengerang frustasi begitu Jimin menyesapnya dengan lidah basahnya yang mengelilingi secara sensual.
Jemari Jimin menyentuh kewanitaannya dan mencumbunya dengan keahlian luar biasa hingga paha Yoongi terbuka, panas, dan basah siap untuknya.
Jimin sudah berada di atasnya dan menindihnya, Yoongi merasakan kejantanan Jimin yang begitu panas menyentuhnya.
"Apakah..." napas Jimin yang panas sedikit terengah terasa begitu erotis di bibirnya, Jimin mengecupnya lagi,
"Apakah aku akan menyakitimu kalau aku..."
Yoongi menggoyangkan pinggulnya putus asa, gairahnya memuncak tanpa ampun, dia ingin Jimin ada di dalam dirinya.
Oh ya ampun, dia sangat menginginkannya!
Gerakan-gerakan Yoongi yang tak berpengalaman itu membuat Jimin menggertakkan giginya menahan gairahnya yang memuncak. Akhirnya dengan satu gerakan yang mulus, Jimin menekan dirinya, menyatukan tubuhnya dengan Yoongi.
Percintaan mereka sangat penuh gairah dan luar biasa nikmatnya. Yoongi mencengkeram punggung Jimin yang berotot, melupakan rasa sakit di kepalanya, terlalu larut dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya. Jimin berusaha bergerak selembut mungkin, tetapi gairahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh gejolak, membawa Yoongi bersamanya.
Dan akhirnya ketika puncak itu datang, tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, dalam ombak kepuasan yang bergulung-gulung menghantam tubuh mereka.
Ketika Jimin menarik tubuhnya dengan hati-hati dari Yoongi dan berbaring di sebelahnya dengan lengan masih memeluknya erat, Yoongi sudah terlalu kelelahan untuk bergerak -sungguh mimpi yang luar biasa nikmatnya-desah Yoongi dalam hati, masih menggelenyar dalam sisa-sisa kenikmatan yang begitu memuaskan.
Ah, bahkan dalam mimpinya itu, dia bisa merasakan dengan jelas kecupan lembut Jimin di dahinya sebelum lelaki itu pergi.
.
.
.
Ketika terbangun di pagi harinya, Yoongi baru sadar bahwa itu semua bukanlah mimpi. Oh ya, bajunya memang terpasang rapi dan semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi rasa pegal dan kelembapan yang khas di antara kedua pahanya serta aroma parfum Jimin yang tertinggal di seluruh tubuhnya membuatnya sadar bahwa semalam, Jimin benar-benar berkunjung ke kamarnya dan bercinta dengannya.
Lelaki itu memperkosanya lagi ketika dia tidak sadar. Yoongi mengernyit, mencoba menahan rasa terhina yang menyesakkan dadanya.
Tetapi, apakah benar itu perkosaan? Malam kemarin Yoongi amat sangat bersedia untuk bercinta dengan Jimin. Bahkan dia mengalami orgasme! Ya, bahkan tubuhnya pun masih mengingat kenikmatan luar biasa yang didapatnya semalam.
Apakah bisa mencapai kepuasan ketika kau diperkosa?
Yoongi memegang pipinya yang memanas dengan jemarinya, merasa malu dan jijik pada dirinya sendiri. Mungkin memang benar di dalam dirinya tersembunyi wanita jalang, yang kemarin akhirnya keluar dan menguasai tubuhnya.
Yoongi telah ditaklukkan dalam pesona gairah Jimin yang luar biasa ahli. Dan sekarang ketakutan menerpa dirinya, bagaimana kalau pada akhirnya nanti dia menyerah dan dengan senang hati menjadi wanita murahan yang bersedia menjadi kekasih Jimin, bertekuk lutut di kaki lelaki itu seperti perempuan-perempuan yang lain?
Bagaimana dia mempertanggung jawabkan dirinya kepada ayah dan ibunya nanti?
"Kau tampak sedih."
Suara itu membuat Yoongi terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Dokter Seokjin berdiri di pintu, menatapnya penuh rasa cemas.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Kenapa hidupku tidak bisa biasa-biasa saja?
Tiba-tiba Yoongi merasa sedih atas perjalanan hidupnya. Dihadapkan pada Dokter Seokjin yang selalu tampak ceria dan tanpa beban membuat Yoongi ingin menangis, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Hei... Hei?" dokter Seokjin mendekati ranjang dan menyentuh lengan Yoongi,
"Kenapa Yoongi? Apakah kau baik-baik saja?"
Yoongi menganggukkan kepalanya, mengusap air matanya dengan malu,
"Saya baik-baik saja dok..."
Dengan ragu, Dokter Seokjin duduk di tepi ranjang.
"Apakah kau bertengkar dengan kekasihmu, Tuan Jimin… Aku mengerti, mengingat sifat keras dan dominannya yang terkenal itu.. pasti berat menjadi kekasihnya."
Yoongi menatap Dokter Seokjin tajam.
"Aku bukan kekasihnya, aku membencinya setengah mati hingga ingin membunuhnya." desis Yoongi penuh kemarahan.
Dokter Seokjin terpana kaget.
"Apa? Bukankah... Bukankah…"
"Dokter, aku bukan kekasihnya, aku disekap di rumahnya selama ini..." dan semua cerita itu mengalir dari mulut Yoongi, mulai dari kisah bisnis ayahnya dengan Jimin, kematian kedua orang tuanya, usahanya membalas dendam, sampai kemudian dia berakhir dalam sekapan Jimin.
Dokter Seokjin mendengarkan semua dengan takjub, dan ketika semua kisah itu berakhir, Dokter Seokjin menatap Yoongi tak percaya.
"Wow... tunggu sebentar, beri aku waktu, aku tak tahu harus bicara apa."
Yoongi menatap Dokter Seokjin penuh tekad.
"Saya mohon bantuan dokter untuk melepaskan saya dari sini, hanya dokter dan perawat dokter yang boleh masuk ke ruangan ini, sedangkan di luar semua penjaga berjaga ketat. Saya mohon dokter, saya sudah melupakan dendam saya, yang saya inginkan hanyalah melepaskan diri dari cengkeraman Jimin, dia lelaki yang sangat jahat dan kejam, mungkin saya akan berakhir mati di tangannya."
Dokter Seokjin tercenung mendengar kata-kata Yoongi.
"Oke... aku akan mencari cara, meskipun sepertinya sulit." lelaki itu berdehem pelan,
"Aku tidak menyangka kalau reputasi jahat Tuan Jimin memang benar adanya, menyekap perempuan tidak bersalah dan memaksanya menjadi kekasihnya, itu benar-benar tidak bisa dibenarkan." Dengan penuh keyakinan, Dokter Seokjin menggenggam kedua tangan Yoongi.
"Aku akan mengabarimu nanti, yang pasti, aku akan membantumu Yoongi, supaya kau bisa lepas dari Tuan Jimin yang jahat.
.
.
.
Jimin masuk ke kamar, hanya selang beberapa menit setelah Dokter Seokjin pergi, dan Yoongi senang karenanya, itu berarti tidak mungkin Jimin mendengar percakapannya dengan dokter Seokjin tadi.
"Bagaimana keadaanmu?" Jimin menatap Yoongi tajam tanpa senyum.
Ketika Yoongi menatap Jimin, mau tak mau kenangan percintaan mereka semalam berkelebatan di benaknya, tak tahan akan semua bayangan erotis itu, Yoongi memalingkan mukanya.
"Bukan urusanmu."
"Yoongi," Jimin memanggil nama Yoongi dengan nada jengkel.
"Kau harus cepat sehat supaya aku bisa membawamu pulang, di sini tidak aman."
"Kau yang diincar oleh musuh-musuhmu, kenapa aku yang harus repot?" sela Yoongi marah dengan tatapan berapi-api.
Jimin membalas tatapan Yoongi tak kalah tajam.
"Karena kau adalah kekasihku, dan Jinnie sedang mengincar kita berdua."
"Jinnie adalah nama pembunuh bayaran yang disewa oleh musuhku, Yoongi." Jimin melirik buku jarinya yang memar, yang kemarin dipakainya untuk menghajar Namjoon habis-habisan, sampai lelaki itu terkapar penuh darah, bahkan sudah tak mampu lagi memohon ampun kepadanya.
"Dia selalu berhasil membunuh siapapun yang menjadi targetnya. Dan kemarin kita berhasil lolos dari kecelakaan yang direncanakan oleh Jinnie... Psikopat itu tidak akan berhenti sebelum dia berhasil membunuh kita berdua."
Bulu kuduk Yoongi meremang, orang bernama Jinnie ini terdengar begitu mengerikan...
"Kau tidak aman di sini Yoongi." Jimin mengacak rambutnya frustasi.
"Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Jinnie, tidak ada yang tahu dia laki-laki atau perempuan, dia bisa menjadi siapapun. Bahkan saat ini aku tidak bisa mempercayai pengawal pengawalku sendiri, kecuali Hoseok. Di sini keadaanmu sangat riskan, di rumahku kau akan aman." Dengan tercenung Jimin mengawasi Yoongi,
"Kurasa kau sudah cukup sehat untuk pulang, nanti malam aku akan mengurus kepulanganmu dari rumah sakit ini."
Kalau dia pulang, maka kesempatannya untuk melarikan diri akan menguap begitu saja, pikir Yoongi panik. Dia tidak boleh pulang ke rumah itu!
Dengan impulsif Yoongi memegang kepalanya, pura-pura kesakitan,
"Kenapa Yoongi?" Jimin langsung bertanya cemas.
"Kepalaku... Kepalaku..." Yoongi mengerang berusaha sebaik mungkin terdengar sakit.
"Dokter!" Jimin memanggil setengah berteriak dan Dokter Seokjin yang kebetulan ada di dekat situ langsung masuk dengan cemas,
"Ada apa Tuan Jimin?"
"Dia kesakitan!" suara Jimin meninggi,
"Kupikir kondisinya lebih baik sehingga besok dia bisa pulang, tetapi dia kesakitan, kenapa dia kesakitan? Kau bilang lukanya akan membaik..."
Dengan cepat Dokter Seokjin menangkap isyarat mata Yoongi dan membaca situasi, dia berdehem mencoba terdengar serius,
"Seperti yang saya bilang, kondisinya masih belum stabil Tuan Jimin, kadang dia tampak baik, tapi kadang goncangan sekecil apapun bisa membuatnya kesakitan. Saya menganjurkan Anda tidak membawanya pulang dulu, atau kesembuhannya akan terhambat."
Jimin tercenung dan menatap Yoongi frustasi,
"Oke. Sembuhkan dia dulu!" gumamnya dingin
Dan Yoongi mendesah lega dalam hati, kesempatannya untuk melarikan diri masih ada.
.
.
.
Malam itu jam delapan, jadwal pemeriksaan Yoongi oleh Dokter Seokjin, lelaki itu datang tepat waktu, kali ini membawa perawat. Ketika Yoongi menyadari Dokter Seokjin memasuki ruangan, dia langsung terduduk tegak, waspada.
"Dokter..."
Dokter Seokjin memberi isyarat, menyuruh Yoongi menutup mulutnya. Lalu mempersiapkan jarum suntik. Yang tidak disangka Yoongi, ketika perawat itu sedang memeriksa infus Yoongi, Dokter Seokjin tiba-tiba menusukkan jarum suntik itu ke tubuh perawat itu. Dalam hitungan detik, tubuh perawat itu langsung ambruk tak sadarkan diri. Dokter Seokjin menopang tubuh perawat itu dan menyandarkannya di ranjang,
"Kau bisa bangun?" Tanya dokter Seokjin cepat.
Yoongi masih terpana akan kesigapan gerakan Dokter Seokjin, sampai kemudian dia sadar bahwa Dokter Seokjin sedang bertanya padanya, dia langsung menganggukkan kepalanya.
"Bagus, bisakah kau menukar bajumu dengan baju perawat ini? Aku akan menutup tirai untuk memberimu privasi."
Dokter Seokjin langsung menutup tirai dan menunggu di luar tirai. Detik itu juga Yoongi sadar, ini adalah rencana Dokter Seokjin untuk melepaskannya! Dengan sigap, melupakan bahwa kepalanya masih sakit, Yoongi mencoba berdiri, dan ketika bisa, dia langsung melepas pakaiannya dan menukarnya dengan baju perawat itu.
Setelah semua beres, Yoongi memanggil Dokter Seokjin yang segera mengangkat perawat yang masih pingsan itu dan membaringkannya di ranjang, lalu menyelimuti perawat itu.
"Kau harus bersikap biasa dan tidak mencurigakan." Gumam Dokter Seokjin ketika Yoongi sedang memasang topi perawat di kepalanya, lalu mendekap papan pemeriksaan di dadanya.
"Ayo."
Jantung Yoongi berdegup kencang ketika Dokter Seokjin membuka pintu. Dua penjaga yang ditempatkan Jimin di pintu tampak sedang bercakap-cakap. Dokter Seokjin mengangguk kepada mereka dan mereka membalas dengan senyum. Posisi tubuh Dokter Seokjin menutupi Yoongi sehingga tidak kelihatan, lalu dia menggiring Yoongi menuju lorong meninggalkan pengawal itu jauh di belakang. Ketika akhirnya mereka membelok di lorong tanpa ketahuan,
Yoongi menarik napas, lega luar biasa. Dokter Seokjin mengajak Yoongi setengah berlari ke tempat parkir, menuju kebebasannya.
.
.
.
Hoseok menyerahkan berkas-berkas itu kepada Jimin yang duduk di sofa,
"Ini beberapa orang yang mungkin bisa kita curigai."
Jimin mengambil berkas itu dan membacanya, lalu membolak-baliknya. Matanya terpaku pada salah satu foto di berkas itu,
"Kenapa dia masuk ke daftar ini?"
Hoseok melirik berkas itu.
"Karena kami memfilter semua pegawai rumah sakit yang masuk kurang dari 2 bulan sebelum kejadian kecelakaan itu." Jimin mengernyit lama. Sebelum kemudian wajahnya menegang.
"Dia punya akses bebas masuk ke ruangan Yoongi, kita harus ke rumah sakit segera!" Jimin meraih jasnya dan melangkah tergesa ke pintu diikuti Hoseok. Dan pada sat bersamaan, pintu di sisi lainnya terbuka, beberapa pengawal Jimin masuk dengan wajah panik dan nafas terengah.
"Tuan Jimin, Yoongi melarikan diri dari rumah sakit!"
.
.
.
.
.
To be continue.
Jims mencuri waktu buat sekedar nyempetin publish chap ini! xD
Yoongi diculik! Jimin bisa gak tuh bawa Yoongi balik lagi?
Keeey, terima kasih untuk semuanya yang udah mereview, follow dan favorite chapter sebelumnya. Dikit ya ini? tapi perasaan Jims ngeditnya udah banyak beudh sampe 15 pages. Okay, akhir kata, mind to review again? Kritik dan saran berlaku, yang mau ngobrol di PM juga boyeeeh. Kbye, Jims balik ngilang lagi.
Sankyu~ :3
Jimsnoona.
