THE THINGS – bag. 3 : Wrong
Created by : Crypt14
Tubuh itu terdiam, masih pada posisinya yang terbaring. Perlahan, kedua belah matanya terbuka, mengerjap menyesuaikan jarak pandangnya yang terasa mengabur. Pria bersurai caramel itu bergerak lemah, meringis kecil saat merasakan nyeri pada pundak dan kepala belakangnya. Ia membangkitkan tubuhnya, memposisikan tubuhnya menyandar pada batang pohon besar dibelakangnya. Tangan kanannya masih sibuk menyentuh kepala bagian belakangnya yang terasa terus berdenyut. Ia terdiam sejenak, memandang kesekelilingnya yang tampak sedikit gelap karena minimnya penerangan. Mencoba kembali mengingat apa yang terjadi padanya.
Helaan nafas panjang menguar dari belah bibirnya ketika memori otaknya kembali memutar ingatan beberapa saat yang lalu. Ia ingat saat Junghan meminta untuk menemaninya mencari gantungan ponselnya yang terjatuh. Ia ingat saat dimana ia meminta Junghan untuk berhenti mencari dan mengajaknya kembali ketempat dimana Mingyu dan Seungcheol berada. Dan ia juga mengingat tatapan dingin yang diberikan oleh Junghan sebelum ia berbisik ditelinganya dan mendorongnya keras hingga punggung dan kepala bagian belakangnya berbenturan langsung dengan batang pohon yang berada tepat dibelakangnya. Ia pingsan, dan Junghan meninggalkannya.
Wonwoo kembali meringis saat menyadari cairan kental berwarna merah merembes ketelapak tangannya saat ia menekan cukup keras kepala belakangnya. Membangkitkan tubuhnya yang terasa sangat lemas. Ia melangkah pelan, menyusuri jalan yang ia rasa dapat membawanya kembali menuju kelompoknya.
The Other side
"Mereka pergi sejak jam 10 pagi tadi?." Pria tinggi itu berucap pelan kearah pria paruh baya yang berada tak jauh dari penginapan yang ditempati oleh Wonwoo. "Ya, aku lihat mereka pergi cukup pagi. Ku dengar anak-anak itu akan ke hutan Hoia." Gumam pria paruh baya itu. Joshua terdiam sejenak, berterima kasih kepada pria tua dihadapannya sebelum berlalu menuju mobilnya. Ia menautkan alisnya, raut wajah serius terlihat dengan jelas. Matanya masih memandang kearah jalan menuju hutan Hoia.
30 menit berlalu, ia melangkah keluar dari mobilnya. Beranjak menuju penjaga yang berada disekitar tempatnya memarkir, setelahnya berlari cukup cepat menuju sebuah mobil yang tak jauh darinya. "Dimana Wonwoo!." ucapnya dengan nada cukup keras pada dua orang remaja pria yang tengah terduduk tak jauh dari mobil van putih yang terparkir. Sonnyoung dan Jihoon, kedua remaja pria itu sejenak menatap kearah Joshua. "Dia masih didalam hutan dengan Mingyu dan yang lainnya." Ujar Jihoon pelan namun masih dapat ditangkap oleh telinga Joshua. Pria itu kembali menautkan alisnya. "Mereka hanya ber-4?." Ucap Joshua kembali.
"Sebenarnya kami semua masuk kedalam tadi, tapi karena Jihoon sakit jadi aku membawanya keluar dari hutan." Jelas Soonyoung. Helaan nafas terdengar dari Joshua. Manik matanya memandang kearah hutan rimbun yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Pikirannya berkecamuk mengenai keadaan Wonwoo.
.
.
"Dimana Wonwoo?." Mingyu tampak bangkit dari duduknya saat matanya menangkap sosok Junghan yang kembali hanya seorang diri. Junghan terdiam, tidak menggubris pertanyaan dari pria berkulit tan itu. Ia menempatkan tubuhnya pada sisi salah satu badan pohon. Seungcheol dan Mingyu sejenak saling menatap bingung, setelahnya pria bersurai hitam itu mendekat kearah Junghan. Menepuk bahunya pelan. "Junghan-ah, dimana Wonwoo?." tanyanya lembut. Junghan masih tidak bersuara, matanya memandang sayu kearah Seungcheol. "Aku nggak tau." Balasnya lirih yang berhasil membuat Mingyu menautkan alisnya, menatapnya tajam. "Apa maksud mu nggak tau?!, Kau pergi dengannya tadi. Dimana Wonwoo?!." Mingyu menaikkan nada suaranya. Melangkah cepat kearah Junghan, meremas bahunya kuat. "Kau meninggalkan Wonwoo?!. katakan dimana kau meninggalkannya, Junghan!." Pekiknya kasar membuat Junghan balik memekik seraya memegangi kepalanya. "Aku nggak tau dimana dia! Aku nggak tau! Berhenti mengganggu ku, breng*ek!." Seungcheol yang melihat hal itu segera menarik Mingyu menjauh dari Junghan. Keduanya menatap pria bersurai merah itu dengan tatapan penuh tanya.
Mingyu beranjak, berlari cepat kearah yang dituju oleh Wonwoo dan Junghan sebelumnya tanpa menghiraukan pekikkan Seungcheol. Ia terus berteriak memanggil nama Wonwoo. kaki jenjangya tak berhenti menyusuri tanah hutan yang terasa sedikit lembab. "Wonwoo! kau mendengar ku?!. Berteriaklah!. Wonwoo-ah!." Pekik Mingyu. Gemaan dari suaranya memenuhi setiap sudut hutan yang terasa sangat sepi. Ia terus melangkah lebih dalam lagi. Manik matanya tak lepas mencari sosok Wonwoo.
.
.
Wonwoo side
Aku terus menyeret langkah ku. Rasa nyeri di kepala belakangku membuat pandangan ku tampak berkunang. Mataku tak lepas menatap setiap sudut hutan gelap ini. Senja datang, kilauan oranye langit masih terpias dari balik celah dedaunan rimbun. Aku kembali meringis, menyentuh kepala belakang ku. rembesan darah masih tersisa ditelapak tangan ku setiap kali aku menyentuhnya. Sepertinya kepala ku berbenturan sangat keras dengan badan pohon tadi. Aku masih melangkah pelan, menyusuri jejak yang sejujurnya tak ku ketahui akan mmbawaku kemana. Perasaan ngeri sedari tadi masih terus menghantui pikiran ku.
Nyaris satu jam aku menyusuri hutan ini berusaha menemukan jalan yang membawaku menuju tempat dimana Mingyu berada, namun nihil. Aku tersesat. Aku terdiam sejenak, menyandarkan tubuhku pada batang pohon. Menghilangkan penat yang terus menerus menghantam tubuh ku. Langit tampak mulai menggelap diatas sana. Rasa haus yang begitu kuat menyapa ku. Aku memijat pelipisku pelan. Suara dari binatang yang hidup didalam hutan ini menjadi pemecah keheningan. Aku terus mendengar suara burung sejak tadi namun mata ku tidak dapat menemukan seekor pun keberadaannya. Aku kembali menghela nafas berat.
Sebuah lemparan cukup keras mengenai pundak kiri ku, membuat ku sontak menoleh mencari seseorang yang melakukan hal itu. Namun hening dan kosong, tidak ada siapapun disekitar ku. Aku menatap krikil yang terjatuh tak jauh dari tubuhku. Menelan saliva ku sulit. Aku bangkit, kembali menyeret langkah ku. rasa takut yang teramat besar memenuhi pikiran ku. Aku memekik tertahan saat tubuh ku tersungkur cukup keras keatas tanah lembab hutan ini. Meringis kecil. Menatap kearah kaki ku, berpikir mungkin aku tersandung sesuatu namun nyatanya tidak ada apapun disana. Aku bersumpah merasakan sesuatu menahan ku kaki ku tadi. Aku kembali bangkit, menyeret cepat langkah ku. langit sudan benar-benar gelap diatas sana dan penerangan didalam hutan ini pun tidak lagi dapat aku temui. Peluh terasa mebasahi tubuhku. Aku menghentikan langkah ku kembali saat telinga ku menangkap suara tawa anak-anak dari kejauhan. Kembali, perasaan takut itu muncul membuat ku megenyahkan rasa sakit yang menghantam tubuhku guna berjalan lebih cepat.
Aku terus mendengar tawa serta nyanyian anak-anak dari kejauhan. Terkadang suara lenguhan lembu juga menguar dari dalam hutan yang tidak aku ketahui dari arah mana suara itu datang. Aku kembali terhenti disalah satu pohon, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru ku yang terasa kosong. Aku terhenyak, mataku memandang lurus. Tak jauh dari tempatku, dari dalam hutan gelap aku melihat sepasang mata yang memandang kearah ku dari balik pohon. Aku menelan saliva ku sulit. Perasaan ngeri yang teramat menyeruak. Aku seharusnya menjauh saat ini akan tetapi aku justru hanya terdiam menatap balik sepasang mata itu. Kaki ku seperti melekat pada tempat yang ku pijakki saat ini. Perlahan sosok itu mendekat, keluar dari kegelapan. Aku kembali terhenyak, seluruh tubuhku terasa menegang. Sosok kurus tinggi lebih dari dua meter dengan kepala yang terkulai disisi tubuhnya itu menyeret langkahnya menuju ku. Kulit pucat kekuningan yang tampak membusuk miliknya membuat isi perutku nyaris keluar begitu saja. Aku berusaha mengembalikan kesadaran ku. makhluk itu terus mendekat dengan langkahnya yang terseok. Jaraknya tak berada jauh dari ku, ia tersenyum aneh membuat ku secepat mungkin melangkah mundur. Perlahan, makhluk itu mulai mempercepat langkahnya menuju ku. aku berbalik, memaksa kaki ku untuk berlari menjauh. Aku menoleh sejenak, makhluk itu tampak semakin mempercepat langkahnya menuju ku. Aku terus berlari kencang, mengabaikan ujung-ujung ranting yang terus menggesek kulit ku meninggalkan sensasi perih disana.
Peluh terus membasahi tubuh ku. dadaku terasa begitu sesak seakan paru-paru ku akan meledak, namun aku tetap memaksa kan diri untuk terus berlari menjauh dari makhluk mengerikan itu. Jarak pandang yang terbatas membuat ku tidak menyadari akan keberadaan lereng disisi ku. Tubuhku terguling cepat dan terjerembab cukup keras. Aku meringis, mencoba menegaskan pandangan ku yang memburam. Tangan kanan ku tergerak menyentuh sisi kanan dahi ku yang terasa perih, merasakan cairan merembes keluar dari sana. Menggulingkan tubuhku, merubah posisi menjadi terpelungkup. Mataku menatap kesekeliling tempat, hanya kegelapan yang dapat ditangkap olehku. Namun setelahnya, manik mataku menangkap sebuah cahaya merah dari kejauhan. Cahaya merah pekat yang hanya tampak seperti titik dikejauhan. Aku menunduk, menyembunyikan pandangan ku dibalik lipatan tanganku dari cahaya itu. Keheningan terasa begitu mencekam saat ini. Aku masih terdiam, tubuhku terlalu lelah untuk digerakkan. "Mingyu…"
.
.
Kerumunan orang tampak terus merangsek masuk kedalam hutan. beberapa dari mereka terdengar menyebutkan nama-nama yang sejak sore tadi tak kunjung keluar. Jihoon masih menyorotkan cahaya senternya kekumpulan pepohonan disekitarnya, berharap menjumpai sosok temannya. "Mingyu! Seungcheol!" pekikkan terdengar menggema disetiap sudut hutan. "Joshua." Pria bersurai coklat kemerahan itu menoleh, menatap kearah pria tua yang mendekat kearahnya. "Aku rasa kita lebih baik kembali lagi kesini subuh nanti. Terlalu berbahaya masuk kedalam hutan saat malam hari." Joshua terdiam sejenak. Ia menggeleng tegas. "Aku nggak bisa hanya duduk diam saat ini, sepupu ku berada didalam sana dan aku yakin mereka nggak tau jalan keluar dari tempat ini." Tegasnya. Pria tua dihadapannya hanya menatap Joshua lekat setelahnya mengangguk, meng-iya-kan permintaan Joshua untuk kembali melanjutkan pencarian.
.
.
"Wonwoo! Jawablah kau dimana!." Mingyu terus memekik keras. Matanya masih menatap kedalam hutan. Kakinya masih melangkah diatas tanah lembab hutan itu. Sejenak ia terhenti saat manik matanya menatap sebuah titik merah dari kejauhan. Kedua alisnya bertaut, menajamkan penglihatannya. Perlahan ia beranjak menuju cahaya merah itu. Semakin dekat, namun tiba-tiba cahaya tersebut menghilang. Mingyu kembali melangkah menyusuri hutan gelap tersebut tanpa menggubris mengenai cahaya merah yang sebelumnya tertangkap oleh matanya. Ia tak berhenti meneriakkan nama Wonwoo berharap pria yang dipanggilnya itu mendengar panggilannya dan menjawab.
.
.
Wonwoo masih pada posisinya. Hembusan nafas yang terdengar tak beraturan menguar dari mulutnya. Perlahan, mengangkat kepalanya kembali menatap pepohonan rimbun yang mengelilinginya. Ia bangkit, kembali menyusuri hutan gelap itu. Menyeret langkahnya yang terasa begitu berat, berharap dapat segera menemukan ketiga orang temannya. Darah segar masih mengucur dari robekkan kecil didahinya. Sesekali tangannya menyeka cairan berwarna merah pekat itu, menyisakan jejak disekitar wajahnya. Langkahnya terhenti saat manik matanya menangkap seekor serigala hitam yang kini menggeram kearahnya. Ia masih terdiam, merasakan ngeri yang begitu besar memenuhi dadanya. Geraman masih terus terdengar dari serigala yang berdiri tak jauh darinya, perlahan mengambil langkah mundur guna menghindari hewan buas itu. Namun, belum sempat kakinya mengambil langkah, hewan berbulu hitam pekat dengan matanya yang menyala didalam kegelapan itu sudah terlebih dulu menyerangnya. Wonwoo tersungkur dengan hewan itu diatasnya, menancapkan rentetan gigi tajamnya kearah tubuh Wonwoo, berusaha mencabik daging yang menempel ditubuhnya. Wonwoo menghalangi serangan hewan itu pada wajahnya dengan kedua tangannya. Ia masih berusaha untuk lepas dari cengkraman rahang hewan itu. Sesekali memukul kepala serigala yang terus menyerangnya tanpa henti. Ia memekik keras saat gigi-gigi tajam hewan itu berhasil mencabik pergelangan tangan kanannya. Darah segar mengalir cukup deras dari luka cabik itu. Rasa perih dari luka itu tidak membuat Wonwoo berhenti menyerang hewan yang berada diatasnya. Ia masih menahan serangan hewan itu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya berusaha menggapai sebuah batu yang cukup besar yang berada tak jauh darinya. Ia masih berusaha menjangkau benda itu. Sebuah gigitan keras mengenai pinggiran telapak tangannya hingga menimbulkan bunyi retakkan tulang yang cukup nyaring, membuatnya kembali memekik keras. Tangannya terulur menghantam kan bongkahan batu sebesar genggamannya ke kepala hewan itu membuat hewan yang sedari tadi menyerangnya tersungkur kesisi tubuhnya. Wonwoo kembali menghantam kepalanya dengan batu digenggamannya hingga hewan berbulu itu berhenti bergerak. Bercak darah hewan buas itu memenuhi tangannya. Ia melangkah mundur, masih menatap takut kearah hewan yang kini tak lagi bernyawa itu.
Nafasnya tersengal hebat. Rasa perih yang sedari tadi ditahannya membuatnya pria itu tersungkur keatas tanah sambil menekan lukanya dengan baju yang masih dikenakannya. Buliran airmata merembes keluar dari kedua kelopak matanya saat rasa sakit itu semakin menjadi. Ia masih menekan kuat luka menganga dipergelangan tangannya. Ia bangkit, memaksakan tubuhnya untuk kembali menyusuri hutan. Wonwoo masih menyeret langkahnya, tangan kirinya masih sibuk menekan luka yang ditinggalkan hewan buas tadi dengan ujung bajunya. Rasa lelah dan haus yang teramat membuatnya nyaris putus asa untuk mencari jalan keluar. Namun, sebersit kepercayaan bahwa ia pasti dapat menemukan jalan keluar membuatnya kembali mengenyahkan rasa putus asa itu.
"Kau nggak perlu takut, aku janji kita pasti pulang dengan selamat."
Sebuah senyuman tipis terlihat jelas diraut wajahnya yang memucat. Perasaan hangat seketika memenuhi rongga dadanya saat ucapan Mingyu kembali berputar didalam otaknya. Wonwoo percaya Mingyu pasti akan membawanya pulang dengan selamat, ia hanya harus lebih berusaha. Hanya itu.
.
.
"Fuck!" Mingyu meninju keras batang batang pohon besar yang berada disampingnya. Nafasnya memburu hebat karena menahan emosi yang sedari tadi memenuhi dadanya. Sudah berjam-jam ia terus menyusuri hutan gelap ini untuk mencari keberadaan Wonwoo, namun ia belum menemukan sedikitpun tanda keberadaan kekasihnya itu. "Aku akan benar-benar membunuh Junghan jika terjadi sesuatu pada Wonwoo." desisnya. Matanya masih mengarah pada sekelilingnya. Ia berfikir, memutar otaknya kembali. mencari pilihan yang tepat agar dapat menemukan Wonwoo.
Sayup-sayup pendengarannya menangkap suara pekikkan dari beberapa orang. Mingyu kembali menegaskan pendengarannya. Manik matanya membulat seketika saat menyadari bahwa pekikkan itu nyata. Ia mempercepat langkahnya, mencari keasal sumber suara.
"Soonyoung!" 6 orang itu menoleh saat sebuah teriakkan mengintrupsi. Soonyoung pria yang namanya dipanggil membelalakkan matanya sebelum berlari kearah pria berkulit tan yang berada tak jauh darinya. "Kau selamat! Ya tuhan kami benar-benar khawatir dengan mu, Mingyu!." Ucapnya seraya memeluk erat pria itu. Kelima orang lainnya segera mengerubuninya. "Dimana Wonwoo?." Joshua berujar cepat. Matanya menatap tajam Mingyu.
"Entahlah, aku belum menemukannya. Junghan meninggalkannya didalam hutan saat mereka pergi untuk mencari gantungan ponselnya yang terjatuh." Balas Mingyu, raut wajah frustasi terpantri jelas diwajahnya. Joshua mencengkram kerah baju Mingyu, menatapnya dengan pandangan kesal. "Kau membiarkan sepupu ku sendiri didalam hutan. Bang*at kau, Kim!." Sebuah pukulan keras mendarat dirahang Mingyu setelahnya membuatnya tersungkur jatuh keatas tanah. Deru nafas cepat terdengar dari mulut Joshua. Emosi memenuhi rongga dadanya, ia nyaris kembali memukul Mingyu jika tidak dihalangi oleh beberapa penduduk local yang turut ikut dalam pecarian. "Kau nggak akan menemukannya jika seperti ini, Joshua. Kendalikan diri mu." Ucap salah satu pria paruh baya yang kini memegang lengannya. Ia masih menatap kearah Mingyu yang tengah dibantu berdiri oleh Soonyoung dan Jihoon. "Kau pikir aku hanya duduk diam sedari tadi?. Aku sudah mencarinya selama berjam-jam tapi belum juga menemukan tanda. Kau pikir hanya kau yang merasa frustasi?!." Ujar Mingyu sinis. Kedua remaja pria itu masih saling menatap tajam satu sama lain. Helaan nafas panjang menguar dari belah bibir Joshua. Ia memejamkan matanya sejenak. Menepis genggaman dari pria tua dihadapannya dan kembali melangkah menyusuri hutan gelap itu.
"Seungcheol dan Junghan sudah ditemukan nggak lama sebelum kami bertemu dengan mu tadi. Mereka berdua dibawa keluar dari hutan oleh beberapa penduduk yang tadi ikut mencari. Kau tau, tubuh Seungcheol penuh lebam biru saat kami temui, ia kelihatan seperti habis dihajar seseorang sedangkan Junghan pingsan." Jelas Soonyoung. "Sebenarnya apa yang terjadi setelah kami keluar dari hutan?." tanya Jihoon pelan. Mingyu menghela nafas panjang. Matanya masih menatap kesekeliling jalan yang dilaluinya. "Aku terpisah dengan Wonwoo karena Junghan meminta Wonwoo untuk menemaninya. Sejujurnya, aku agak ragu untuk meng-iya-kan keinginan Junghan. Aku merasa ia sedikit aneh sejak kita berada dihutan ini, tapi karena Wonwoo memutuskan untuk ikut aku nggak bisa menahannya. Tapi nggak lama Junghan justru kembali tanpa Wonwoo dan dia nggak mengatakan dimana ia meninggalkannya."
"Aku harap Wonwoo baik-baik saja." Gumam Jihoon lirih. Mereka masih menyusuri hutan untuk menemukan Wonwoo. sesekali manik mata Mingyu menatap kearah punggung Joshua yang berjalan tak jauh didepannya. Perasaan bersalah begitu menghantuinya. Seharusnya ia mengikuti perkataan sepupu kekekasihnya itu untuk tidak membawa Wonwoo masuk kedalam hutan ini. Ia merasa mengambil pilihan yang salah yang membuat Wonwoo berada dalam bahaya.
.
.
Wonwoo terbatuk keras. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak disisi pohon. Kerongkongannya terasa begitu kering. Rasa perih dan nyeri yang terus menghantam tubuhnya membuatnya ingin menyerah. Nafasnya tersengal hebat. Wajahnya pucatnya semakin memucat. Rembesan darah masih mengalir dari luka cabikkan hewan buas tadi. Langit masih tampak menggelap diatas sana. Ia melirik kearah jam tangan yang masih menempel dipergelangan tangan kirinya. Pukul 04:45. Nyaris subuh, tapi ia masih belum bisa menemukan jalan keluar maupun jalan menuju tempatnya dan Mingyu berada sebelumnya. Ia kembali menyeret langkahnya dengan terseok. Tak jauh dari tempatnya beristirahat sejenak tadi, ia menemukan tempat lapang yang tidak ditumbuhi oleh pohon sedikit pun. Hanya tumbuhan rendah dan lumut yang memenuhi lahan kosong itu. Ia menyeret kembali tubuhnya menuju tanah lapang itu. Tubuhnya terjerembab pelan. Ia berlutut, menatap langit yang masih tampak gelap diatas sana. Pandangannya mengabur. Perlahan menjatuhkan tubuhnya keatas tanah. Nafasnya masih tersengal hebat. Rasa pening yang terus menghantam kepalanya serta perih bercampur nyeri dari luka yang didapatnya membuat Wonwoo tidak lagi dapat menggerakkan tubuhnya. Ia masih menekan luka menganga itu dengan sisa kekuatannya. Pandangan sayunya masih tertuju kearah langit, menerawang. Memori otaknya berputar mengingat percakapannya tentang Joshua dengan Mingyu kemarin malam. Seulas senyum tipis tersungging dibibirnya yang memucat. Mingyu nyaris salah paham atas hubungannya dengan sepupunya itu. Menunjukkan bahwa Mingyu masih tetap memperhatikannya.
"Berhenti khawatir, aku nggak akan meninggalkan mu. Jangan sampai melepaskan ini, okay?."
Buliran air mata meluncur turun dari sudut mata sipitnya yang menyendu. Ia mengangkat lemah tangan kirinya keudara, menatap ruang kosong yang berada disela jemarinya. Ia seharusnya tidak pernah melepaskan genggamannya dengan Mingyu. Ia tau jika saat itu ia menolak untuk menemani Junghan ia pasti masih bersama dengan Mingyu-nya. Dan mungkin saat ini ia sudah berada dipenginapan mereka kembali, menikmati liburannya. Menertawakan lelucon kacangan yang dibuat oleh Soonyoung. Atau mendengarkan rencana-rencana lainnya yang dibuat oleh Seungcheol. Namun ia mengambil pilihan yang salah dan berakhir ditempat ini, sendiri.
"Mingyu-ah, tolong aku.."
Okay this is the 3th chapter, hehe sengaja aku posting berdekatan sama chapter sebelumnya karna aku memang lagi punya waktu luang xD. Anyway, aku masih terus bilang makasih banyak untuk kalian yang mau sempatin diri buat kasih aku review, mau favoritin dan mau follow ff ini, seluruh review kalian sangat membangun *bow mohon maaf kalau chapter ini membosankan, terlalu panjang, atau gak sesuai harapan kalian. Dan aku masih butuh kritik serta saran kalian. Ngomong" ada yang ngerasa gak ya kalau ff ini lebih terfokus ke wonwoo dibanding meanie? feeling meanienya kurang dapet ya x'D sebenernya aku agak confused cara ngasih feel meanie di ff ini karna genrenya yang horor adventure, agak gak mungkin kan aku masukkin adegan mingyu sama wonwoo lari"an diantara batang pohon ala2 film india gitu bisa jadi genre komedi x'D jadi kalo ada yang tanya feel meanienya dimana aku sebenernya bingung juga jawabnya. buat ku sih feel meanienya ada di interaksi mereka yang sedikit tapi penuh perhatian cieeee~ pokoknya kalo kalian meanie sejati pasti bakal tetep bisa ngerasain feelnya xD. okay cukup sekian deh aku ngocehnya, tetep jejakin review kalian ya dear *love sign
salam,
Crypt14
