THE THINGS – bag. 4 : End of Our Vacation

Created by : Crypt14


"Fuck!" Mingyu meninju keras batang pohon didepannya seraya berteriak frustasi. Langit tampak mulai menerang diatas sana namun mereka belum juga dapat menemukan Wonwoo. Ia berkali-kali menyeka airmatanya yang terus turun. Perasaan khawatir yang terlalu besar membuat pikirannya kacau. "Seharusnya aku menuruti permintaanya." Gumamnya lirih. Baik Soonyoung, Jihoon maupun Joshua dan yang lainnya hanya menatap nanar kearah Mingyu. Ia putus asa untuk bisa menemukan Wonwoo. Joshua menghela nafas pelan seraya menundukkan kepalanya. Matanya terasa panas dan dadanya terasa begitu sesak. Ia merasa begitu bersalah karena membiarkan sepupunya terjebak didalam hutan ini.

"Wonwoo pasti selamat, aku yakin dia pasti sedang mencari kita juga. Kau lupa diantara kita dia yang terkuat. Dia bahkan bisa selamat waktu jatuh dari Basket Boat saat main arum jeram 'kan. Kita nggak boleh putus asa." Ujar Jihoon. Nada suaranya terdengar begitu bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangisannya yang nyaris pecah. Matanya menatap keseluruh orang yang berada disekelilinya, mencoba meminta mereka untuk tetap bertahan. "Jihoon benar, kita nggak bisa pulang begitu saja dan menganggap Wonwoo hilang. Aku yakin dia selamat. Langit sudah cukup terang, bukannya akan lebih mudah untuk mencarinya." Soonyoung ikut memberikan semangat. Ia mengulaskan senyum penuh harap kepada orang yang berada disana. Memohon untuk tetap mencari sahabatnya.

Mingyu kembali menyeka airmatanya. Menatap kearah yang lainnya begitu pula Joshua. Beberapa penduduk local yang ikut mencari tersenyum kecil, menyalutkan keyakinan dari remaja-remaja itu. "Mari kita coba mencarinya lagi."

.

.

Wonwoo membuka matanya perlahan, menegaskan pandangannya yang tampak buram. Langit mulai mencerah diatas sana. Ia menarik nafas dalam. Rasa lelah masih mengukungnya. Ia hanya terdiam disana, menatap langit yang perlahan mulai membawa sang surya. Rembesan darah yang masih mengalir dari luka dipergelangan tangannya mulai mendominasi pakaiannya. Cairan itu meninggalkan begitu banyak bercak noda disana.

Mata sayunya masih memandang sendu langit. Hawa sejuk yang begitu kentara merangsek masuk kedalam tubuhnya. Sesekali angin dingin membelai permukaan wajahnya yang tampak begitu pucat. Ia terbatuk pelan, merasakan paru-parunya yang begitu hampa. Rasa haus yang terus ditahannya membuat tubuhnya benar-benar berada diambang batas. Sesekali menjilat bibirnya yang terasa kering, ia berharap hujan turun. Setidaknya hal itu dapat membantunya selamat dari dehidrasi.

Semilir angin sejuk kembali menerpa tubuhnya yang terasa basah oleh keringat dan darah. Matanya nyaris kembali terpejam sebelum pendengarannya menangkap suara teriakkan cukup keras. "Dia ada disini!."

Wonwoo menggeser tubuhnya sulit, menatap kearah seorang pria blonde yang berlari menujunya. "Ya tuhan, kau selamat!. Tenanglah, kami akan membawa mu keluar." Ia hanya memandang sendu kearah pria yang ia yakini penduduk local. Wonwoo tak menjawab, kerongkongannya terlalu kering hingga membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara. Derap langkah sekumpulan orang yang berlari menujunya menjadi satu-satunya suara yang dapat didengarnya.

"Wonwoo." ia menatap sendu pria yang kini berada disampingnya. Mingyu menariknya kedalam pelukkan. Membuat airmata kembali mengalir dari sudut matanya. "Maaf membuat mu seperti ini, Wonwoo-ah." Gumam Mingyu lirih. Ia masih memeluk Wonwoo, mencoba membuatnya tenang.

Bunyi sirine terdengar meraung tak jauh dari pintu masuk hutan Hoia. Kerumunan orang tampak memenuhi tempat itu. Mingyu masih menggenggam tangan kiri Wonwoo sambil membantu beberapa petugas medis untuk membawa Wonwoo kerumah sakit terdekat. "Kau akan baik-baik saja, tenanglah."

.

.

Wonwoo membuka matanya perlahan. Cahaya silau seketika memenuhi retina matanya, membuatnya sedikit menyipitkan mata kecilnya sebelum kembali membukanya. Ia memandang bingung kesekeliling ruangan. Setelahnya menyadari dimana ia berada sekarang. "Kau sudah bangun." Ia menoleh, menatap kearah pria berkulit tan yang teduduk disisi kasurnya. Melemparkan senyuman tipis seraya mengangguk. Mingyu membangkitkan tubuhnya. Menarik tangan kiri Wonwoo dan menggenggamnya erat. Matanya masih memandang penuh syukur kearah kekasihnya. Begitu banyak luka serta lebam yang memenuhi sekujur tubuhnya membuat Mingyu sulit mempercayai Wonwoo masih dapat selamat dan tersenyum padanya sekarang.

"Junghan, apa dia baik-baik saja?." Ujar Wonwoo lirih. Mingyu merubah ekspresi wajahnya seketika saat mendengar nama Junghan keluar dari mulut Wonwoo. Ia menghela nafas kasar, masih merasa sangat kesal jika mengingat kembali hal yang dilakukan oleh Junghan pada Wonwoo sebelumnya. "Untuk apa mengkhawatirkannya. Dia meninggalkan mu begitu saja." Balasnya sinis.

"Junghan baik-baik saja, Mingyu. Tolong jawab aku." Ucap Wonwoo kembali dengan suara seraknya. Mingyu menatap jengkel kearahnya, setelahnya menghela nafas panjang. "Dia baik-baik saja hanya mengalami trauma psikis." Jelasnya. "Seungcheol?." Ucap Wonwoo lagi. Mingyu kembali menatap Wonwoo, merasa bahwa kekasihnya begitu memiliki pribadi yang hangat. Disaat kondisinya yang jauh lebih mengkhawatirkan, dia justru bertanya tentang keadaan orang lain. "Seungcheol masih dalam perawatan, dia mendapat beberapa lebam ditubuhnya." Jelasnya kembali. Wonwoo tampak terdiam, menimbulkan keheningan diruang rawat itu.

"Mingyu-ah.." panggilan pelan. Mingyu yang masih menatapnya dengan tangan tergenggam hanya terdiam, menunggu Wonwoo melanjutkan kembali ucapannya. "Apa Junghan ada dirumah sakit ini juga?." Mingyu masih menatapnya, sedikit merasa bingung dengan sikap kekasihnya. "Dia dibawa tempat pemulihan trauma. Ada apa memangnya?." Wonwoo tak langsung menjawab pertanyaan Mingyu, matanya masih menatap langit-langit kamar inapnya. Hening sejenak, sebelum Joshua masuk kedalam ruangan itu. Keduanya menoleh, menatap kearah Joshua yang melemparkan senyuman tipis seraya beranjak menuju mereka. "Bagaimana keadaan mu?." Ucapnya sambil menyentuh puncak kepala Wonwoo. "Aku baik. Kau darimana?." Senyuman yang sebelumnya terlihat jelas dibibir Joshua perlahan hilang. Ia menghela nafas pelan. "Aku habis mengunjungi Junghan." Balasnya pelan. Baik Mingyu maupun Wonwoo menatap serius kearah Joshua. "Bagaimana keadaanya?."

"Kondisinya buruk. Dia terus berteriak ketakutan setiap kali orang lain mendekat kearahnya. Selain itu dokter yang menanganinya bilang kalau Junghan terus bergumam nggak jelas seperti menyebutkan ciri-ciri seseorang atau entah apapun itu. Dia mengalami trauma hebat aku rasa." Jelas Joshua. Wonwoo dan Mingyu terdiam kembali, merasa begitu menyesal untuk melakukan liburan kali ini. Begitu juga Jihoon, Soonyoung dan Seungcheol yang merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi oleh Wonwoo dan Junghan.

.

.

Seoul Traumatic Hospital,

Seoul, South Korea – One Week Later

"Kalian ingin menjenguk tuan Junghan?." Seorang perawat tersenyum tipis kearah 5 orang remaja pria yang berdiri tak jauh darinya. Ia memberikan isyarat kepada lima remaja itu untuk mengikutinya. Mereka melangkah, menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sedikit sibuk. "Bagaimana keadaannya sekarang?." Ujar Jihoon disela perjalanan mereka menuju ruang inap Junghan. Perawat wanita itu tampak menghela nafas berat sebelum kembali membuka suaranya. "Belum ada perkembangan yang signifikan mengenai keadaannya, Junghan-ssi masih sering berteriak ketakutan setiap kali dikunjungi oleh orang lain." Langkah mereka terhenti tepat didepan pintu masuk sebuah kamar. "Tolong jangan terlalu membuatnya tertekan, ya." Ucapnya sebelum memberikan akses masuk pada 5 pria itu dan berlalu pergi setelahnya. Wonwoo menjadi orang pertama yang melangkah masuk kedalam kamar itu sementara 4 orang temannya berdiri tak jauh dari pintu ruang inap. Matanya menatap lekat kearah Junghan yang terduduk diatas ranjangnya. Pandangan pria bersurai merah itu hanya jatuh kearah luar jendela bertralis ruangannya.

"Junghan-ah.." panggil Wonwoo, membuat si pria bersurai kemerahan itu menoleh kearahnya. Matanya memandang sendu Wonwoo yang kini tersenyum tipis kearahnya. Ia mengambil tempat disisi ranjang Junghan, masih tersenyum kearahnya. "Bagaimana keadaan mu?." Ucapnya lembut. Namun pria bersurai merah itu tampak tak menggubrisnya dan hanya menatapnya dengan ekspresi datar. Perlahan, Junghan mendekatkan dirinya kearah Wonwoo. menempatkan bibirnya pada telinga kanan pria berkulit putih itu dan membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Wonwoo melebarkan kedua matanya.

"Kita masih terjebak, Wonwoo-ah."

THE THINGS series 1 - End


Chit chat : wah, akhirnya selesai ff ini. Ngegantung ya? hehe jangan salahin aku tapi salahin yang punya ide. tetep mau blng big thanks buat yang udah mau review, follow & favorit ini ff and also big thanks buat partner aku dlm buat ff ini #cuming. Sebenernya yg punya ide ff ini bukan aku tp si cuming, aku cuma merealisasikan lewat kata2 krn cuming nilai story tellingnya 0.0001 x'D. udah deh gak banyak omong, keep review ya

salam,

crypt14