Sleep With Mr. Park

Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'

Karya Santhy Agatha

MinYoon Fanfiction

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Kim Namjoon

Kim Seokjin

Rated: M

Warning :

OOC, Typo(s), Mature Content.

©Jimsnoona

.

a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha.

.

.

Don't like, don't read.

.

.

.

BAB 10

Yoongi tertegun. Ulang tahunnya yang kedua puluh lima sebentar lagi. Kenapa Jimin bisa mengetahui begitu detail hari ulang tahunnya?

Yoongi tertarik, tetapi dia akan memuaskan Jimin kalau dia mengikuti Jimin untuk berbicara dengannya. Jangan-jangan memang itu tujuan Jimin, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan mengikuti Jimin.

"Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas disini." Api menyala di mata Jimin, dan tampak jelas lelaki itu mencoba menahan diri,

"Terserah, nanti temui aku di ruang kerjaku, Yoongi." suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.

.

.

.

Setelah puas menikmati hujan, Yoongi masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui Jimin, lagipula sepertinya lelaki tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Yoongi tidak yakin kalau Jimin akan menunggunya. Lelaki itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.

"Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?" suara di kegelapan itu mengagetkan Yoongi. Dia menajamkan matanya dan melihat Jimin duduk di sana, di keremangan kamarnya.

"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?"

Yoongi berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di diniding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Jimin, karena lelaki itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.

Yoongi berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu langsung menyelubungi Jimin. Lelaki itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan disebelah tangannya memegang gelas minuman. Yoongi melirik ke botol brendy yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Jimin selama menunggunya.

Apakah lelaki itu mabuk?

Jantung Yoongi mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Jimin sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk.

"Apa yang kau lakukan disini, Jimin?"

Jimin mendengus dan menatap Yoongi dengan tajam.

"Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku."

Yoongi mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Jimin bertindak di luar batas dia bisa segera melarikan diri. Jimin tersenyum melihat tingkah Yoongi,

"Kau seperti kelinci ketakutan lagi Yoongi, apakah kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di minumanmu, atau… melemparkanmu dari balkon lagi?" Jimin menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Yoongi.

"Apakah kau mabuk, Jimin?" Yoongi melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Yoongi ingin melarikan diri dari Jimin. Dia pasti bisa melakukannya.

"Park Jimin tidak pernah mabuk," Jimin melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap-endap mengincar mangsanya.

"Dan kau…. Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Yoongi."

Yoongi tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Jimin kehilangan kesabarannya, karena itulah Yoongi langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Jimin sudah ada dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.

Jimin mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Yoongi bisa merasakan kejantanan Jimin yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Jimin sudah menahannya di semua sisi.

Yoongi ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Yoongi mulai terengah-engah.

"Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri," Jimin berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Yoongi menggelenyar.

"Dan kau membuatku ingin melakukannya."

Yoongi terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma karena Jimin begitu kuatnya.

"Apakah kau akan memaksaku lagi, Park Jimin?" Yoongi berteriak di tengah usahanya membebaskan diri.

"Kalau iya, maka kau sudah membuktikan kepadaku, kalau kau memang adalah lelaki bajingan yang hanya bisa mendapatkan wanita dari pemerkosaan."

Kata-kata Yoongi rupanya berhasil membuat kesadaran Jimin kembali. Lelaki itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Jimin melepaskan Yoongi.

"Sialan kau dasar perempuan!" Jimin berbisik marah di telinga Yoongi dan meninggalkannya.

Sendirian, Yoongi berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Jimin ternyata juga mempengaruhinya. Dan Yoongi semakin takut akan tiba saatnya baginya, menyerah ke dalam pelukan Jimin.

.

.

.

Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Jimin luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.

Pagi tadi Jimin sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Hoseok dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan.

Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganyapun ikut kena semprot ketika dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi.

Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari berurusan dengan tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.

Hoseok masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Jimin,

"Ada apa?"

"Baju-baju untuk Nona Yoongi sudah datang."

"Bagus."

"Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah tuan sendiri bilang tidak akan menahan Yoongi lebih lama?"

"Tutup mulutmu Hoseok!" Jimin menggeram kesal,

"Biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!"

Hoseok mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena dampratannya seperti pagi tadi.

Jimin berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.

Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada perempuan-perempuan yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin sembarang wanita, dia ingin Yoongi.

Sialan!

Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada perempuan itu?

Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Yoongi, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Yoongi ada di kamar.

Heechul ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Yoongi, sedangkan perempuan itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan. Heechul langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Jimin masuk dengan wajah muram.

"Kau menyukai pakaian-pakaian itu?"

"Apakah pendapatku penting?"

Jimin menatap Yoongi marah, "Apa maksudmu?"

"Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Park Jimin bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak ada habisnya itu."

"Oh ya? Dan kau pikir itu karena siapa?"

"Karena siapa?" Yoongi menegakkan dagunya menantang,

"Karena kau, dasar perempuan kecil yang keras kepala!" Yoongi mengernyit marah,

"Dan apa yang kulakukan padamu wahai Tuan Jimin yang baik hati?"

"Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!"

"Kau pikir aku harus bagaimana, Jimin? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap menuntut dibebaskan."

"Selalu ke arah itu," gumam Jimin kesal.

"Aku masih belum ingin membahasnya," lelaki itu menatap Yoongi tajam.

"Aku memintamu melakukan sesuatu untukku, Yoongi."

Yoongi mengangkat alisnya, tertarik, Jimin tidak pernah meminta sesuatu. Lelaki itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.

"Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu."

Yoongi melangkah mundur tanpa sadar secara teratur,

"Menerimamu sebagai apa…? Apa kau sudah gila?"

"Hmm, Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan, kau akan tahu nanti, Yoongi." matanya menatap Yoongi penuh rahasia,

"Tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu."

"Hentikan kata-kata vulgarmu itu!" Yoongi berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.

Jimin terkekeh dengan santainya.

"Mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu."

Lelaki itu meraih Yoongi ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya. Jimin melumat seluruh bibir Yoongi, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Yoongi, bertautan dengan lidah Yoongi dan kemudian menjelajahi seluruh diri Yoongi, bibirnya bergerak melumat bibir Yoongi tanpa ampun.

Lelaki itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Yoongi terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Jimin yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.

Dengan napas terengah-engah Yoongi melepaskan dirinya dari pelukan Jimin.

"Yoongi, kau sudah siap untukku." mata Jimin menyala penuh gairah.

"Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan tidak saling menyiksa seperti ini?"

"Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu." Bantah Yoongi keras kepala.

Jimin menyipitkan mata, menatap Yoongi dengan tatapan menuduh.

"Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku, Yoongi."

Siapa yang tidak menginginkan lelaki yang luar biasa tampan ini? Semua perempuan pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau lelaki sekejam Jimin berperilaku lembut. Oh, Yoongi pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas secara tiba-tiba.

"Kau adalah pembunuh orangtuaku." Yoongi menatap Jimin dengan penuh kebencian.

"Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu."

Tertegun sejenak, lalu Jimin mundur selangkah dengan begitu dingin.

"Oke."

Dan ketika Yoongi mengangkat kepalanya, Jimin sudah keluar dari ruangan itu. Yoongi menghembuskan nafas panjang.

Apakah dia salah?

Tetapi bukankah semua yang dilakukan Jimin atas dasar nafsu? Lelaki itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya.

Tetapi setelah itu apa?

Yoongi tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Jimin seperti perempuan murahan, seperti para kekasih Jimin yang dicampakkan begitu saja setelah lelaki itu puas. Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari kehidupan Jimin dengan penuh harga diri.

.

.

.

Jimin berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Yoongi di lantai dua.

Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Jimin menatap jendela itu dengan pandangan frustrasi. Perempuan itu ada di sana dan Jimin seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap perempuan itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau dia sampai memaksakan kehendaknya kepada Yoongi.

Jimin tertegun ketika melihat bayangan Yoongi terpantul dari kamar. Sepertinya Yoongi berdiri dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang terlihat erotis.

Yoongi tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Jimin menatapnya dengan penuh minat. Lalu perempuan itu membuat gerakan membuka gaunnya. Jimin menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet perempuan berganti baju dengan penuh gairah.

Siluet Yoongi melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Lalu,

Sialan!

Jimin mulai mengumpat ketika bayangan Yoongi di jendela membuat gerakan mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya. Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Jimin menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Yoongi malah dengan kurang ajarnya memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela – meskipun dia tidak sengaja –

Jimin sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Jimin melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar. Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan Yoongi sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan gaun tidurnya dan sedang membaca sebuah buku.

Yoongi mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang.

"Ada apa Jimin?"

Jimin terengah menahan kemarahan.

"Jendela itu!" tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Yoongi dengan posisi siap bertarung.

"Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!" teriaknya marah.

Yoongi menatap Jimin bingung, "Memangnya kenapa?"

'Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri! Karena….'

Jimin berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya.

Ditatapnya Yoongi dengan dingin dan mendesis pelan.

"Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!"

Dan dengan penuh harga diri, Jimin melangkah keluar dari kamar Yoongi, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.

.

.

.

Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Yoongi, sepertinya mereka orang baru. Yoongi masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.

Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Yoongi tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Yoongi menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan perempuan itu memasang muka datar dan bergegas pergi.

Yoongi menoleh ke arah Heechul, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Yoongi yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Yoongi.

"Kenapa mereka bersikap seperti itu?" tanya Yoongi ingin tahu.

Heechul melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum.

"Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu."

"Penasaran denganku?"

"Kekasih Tuan Jimin yang terbaru," jawab Heechul datar.

"Ah, kau tidak tahu ya, semua orang kan membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gossip dan acara-acara gossip, yang membahas kekasih terbaru Park Jimin yang misterius. Kau adalah satu-satunya perempuan yang pernah tinggal bersama Jimin, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan ketika memeriksa sepraimu."

Pipi Yoongi merah padam, tetapi Heechul sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya.

"Yah para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka ahkirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gossip selanjutnya." gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Yoongi sambil mengangkat alisnya penuh curiga.

"Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya, apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu, Yoongi?" tanyanya penuh arti, membuat pipi Yoongi semakin merah padam.

.

.

.

"Nona Yoongi?" Hoseok masuk dan mengangkat alis melihat Yoongi mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.

"Apa?" suara Yoongi tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Jimin membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun yang ada di dekatnya.

"Tuan Jimin ingin bertemu dengan anda."

Bagus.

Yoongi menganggukkan kepalanya dan mengikuti Hoseok, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Hoseok membawa Yoongi ke kamar Jimin.

"Di kamar ini?"

Hoseok mengangguk, dan entah Yoongi salah lihat atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata lelaki itu.

Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Jimin.

"Ya Nona, Tuan Jimin ingin menemui anda di kamar ini."

Sejenak Yoongi ingin kabur saja. Tetapi Yoongi sadar, ini sebuah tantangan, Jimin menantangnya dan Yoongi tidak akan kalah.

"Baiklah." Yoongi menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Hoseok membukakan pintu untuknya.

Dia langsung dihadapkan oleh Jimin yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Lelaki itu menunggu Hoseok menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang.

"Selamat malam Yoongi." Jimin tersenyum tenang.

"Sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu yang ke dua puluh lima," senyumnya berubah misterius.

"Tetapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja."

Hening, Jimin terdiam dan Yoongi menunggu dengan ingin tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu.

"Aku sudah memutuskan masa depanmu." Mata Jimin begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam.

Masa depannya?

Memangnya siapa lelaki ini bisa memutuskan masa depannya?

Yoongi ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Jimin tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Yoongi berpikir bahwa Jimin mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Yoongi mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah kepada keterpesonaannya kepada Jimin.

Yoongi mengamati Jimin lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Jimin begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa menakutkan.

Yoongi tidak suka, dia lebih suka Jimin yang meledak-ledak dan marah daripada Jimin yang seperti Jimin yang meledak-ledak Yoongi bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Jimin yang begitu dingin yang bisa dilakukan Yoongi hanyalah menyurut mundur, ketakutan.

Jimin mengamati reaksi Yoongi melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya.

"Kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya, Yoongi. Mulai malam ini," Jimin mulai berdiri.

"Aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku."

Apa?

Keringat membasahi dahi Yoongi, Jimin bercanda bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pelayan-pelayannya?

Apakah Jimin ingin memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya?

Jimin tidak mungkin sekejam itu bukan?

Yoongi menatap mata Jimin dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya.

Lelaki ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?

"Bagaimana Yoongi? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?" Yoongi menatap Jimin marah.

"Kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu."

"Jangan menantangku Yoongi," Jimin mendesis tajam.

"Aku bukannya belum pernah melakukannya kepada perempuan yang kuanggap tidak berguna lagi."

Yoongi tertegun. Apakah Jimin benar-benar serius?

"Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Park Jimin dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku?" Jimin bertanya dalam nada rendahnya.

Apakah dia bisa melarikan diri dari sini?

Yoongi ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja?

Tetapi Yoongi yakin Jimin tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Jimin akan membiarkan Yoongi mati, tetapi dia akan memastikan Yoongi menderita dulu sebelumnya.

"Kau," Yoongi menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat.

Ada nyala di mata Jimin.

"Apa Yoongi? Aku tidak mendengar." Jimin sengaja dan Yoongi menggeram marah dalam hatinya.

Kurang ajar lelaki itu!

"Kau, aku memilih kau!"

Senyum di bibir Jimin adalah senyum kemenangan yang dingin.

"Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku." Lelaki itu membuka tangannya, dan Yoongi melangkah dengan tertahan ke arahnya.

Dengan sensual, lelaki itu meraih Yoongi dan mengecup bibirnya sekilas.

"Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini."

.

.

.

.

.

Tbc.

MEREKA MAU NGAPAIN?!

Mau bilang, ff ini kan remake dari novelnya mbak Santhy Agatha. Jims cuma ngubah-ngubah sesuai data MinYoon dan nambahin dikit-dikit bagian yang sekiranya perlu ditambah. Dan setiap chapter Jims publish sesuai novel aslinya. Jadi gitu, yang minta panjangin dll harap mengerti ya. :3

Btw, makasih banyak buat yang selama ini masih hadir dalam eksistensi kalian di kotak review.

Yang mau ngobrol-ngobrol di PM jangan sungkan yah, Jims gak gigit kok, serius! Hahaha

Oke, cukup sampai disini dan Terima Kasih.

See you next chapter! :3 (btw Jims udah ngedit sampai chapter 15.) *Ga Nanya.

Jimsnoona.