Sleep With Mr. Park

Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'

Karya Santhy Agatha

MinYoon Fanfiction

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Kim Namjoon

Kim Seokjin

Rated: M

Warning :

OOC, Typo(s), Mature Content.

©Jimsnoona

.

a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha.

.

.

Don't like, don't read.

.

.

.

BAB 11

Jimin membaringkan Yoongi ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik rok pendek hitam Yoongi dan langsung menyentuh pusat kewanitaannya. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Yoongi langsung mengangkat tubuhnya penuh gairah. Jimin menundukkan kepalanya, mengecup seluruh tubuh Yoongi dari dagu, leher, tulang selangkanya hingga pundak sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Yoongi menyerah kepada gairahnya.

"Ah sayangku, kau begitu indah."

Jimin menangkup kedua buah payudara Yoongi di telapaknya, merasakan dan menikmati kelembutan itu dengan memberinya kepuasan berupa; menyentuhnya dan meremasnya secara lembut dan hati-hati. Bibir panasnya turun dan menangkup pucuknya, melumatnya penuh gairah, membuat Yoongi hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu.

Lelaki itu menurunkan rok Yoongi dan mulai menyentuhnya, dimana-mana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya. Jemari Jimin menyentuh pusat kewanitaannya dan Yoongi merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Jimin mau memasukinya.

Dan Jimin sudah siap, Lelaki itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana. Yoongi mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata.

"Tenang sayangku," Jimin mulai terengah, menahan pinggul Yoongi yang bergerak secara acak menunjukkan gairah di bawahnya.

"Aku akan memuaskanmu sebentar lagi."

Jimin menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Yoongi dengan kasar. Yoongi sudah sangat siap menerimanya, tetapi Jimin bertekad memperlakukannya dengan sangat lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan Yoongi.

Ketika kehangatan Jimin merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Yoongi mengerang dan memejamkan mata.

Oh astaga!

Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, kedekatan yang telah dia sangkal selama ini. Rasanya luar biasa tepatnya!

Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya masing-masing. Sampai pada akhirnya tubuh Yoongi terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya yang didorong oleh rasa klimaks begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Jimin mengikutinya. Menyerah dalam orgasme bersamanya.

"Jimin, ahh…"

.

.

.

Ada yang berbeda dalam hubungan mereka. Yoongi menyadari pagi itu, mengingat senyum lembut Jimin ketika Yoongi terbirit-birit kembali ke kamarnya ketika hari hampir menjelang pagi. Terutama perasaan Yoongi ke Jimin, ada yang berubah.

Ternyata selama ini dia juga frustrasi oleh gairah yang tertahan, sama seperti yang dirasakan Jimin. Dan ketika semalaman mereka saling memuaskan gairah masing-masing, pagi ini perasaannya luar biasa bahagia. Yoongi bahkan merasa ingin bersenandung.

Pagi ini, karena Jimin biasanya sudah berangkat bekerja jam-jam segini, Yoongi memutuskan untuk mengisi waktunya dengan menjelajah seluruh isi rumah. Dia memutuskan untuk menjelajahi area sayap kanan rumah yang besar itu.

Tanpa di temani siapapun, Yoongi menyusuri lorong-lorong, ruangan demi ruangan, sampai akhirnya tiba di ujung lorong, dengan dinding yang sepenuhnya terbuat dari kaca, memantulkan cahaya matahari ke seluruh lorong dan pemandangan yang luar biasa indahnya di balik kaca.

Pemandangan kebun mawar berwarna merah tua yang merambat dan memenuhi taman kecil di sana. Yoongi terpesona hingga hampir sesak napas. Dia berdiri cukup lama di depan taman itu, lalu kemudian mengerutkan keningnya ketika menyadari, bahwa sayap kanan rumah ini, meskipun tampak bersih dan terawat, tampaknya hampir tidak pernah digunakan.

Yoongi menoleh ke kiri, dan menemukan sebuah pintu besar berwarna keemasan, dengan penuh rasa ingin tahu dia membuka handle pintu itu. Sepertinya susah dan macet, tetapi kemudian setelah Yoongi mencoba beberapa kali, pintu itu terbuka dengan mudahnya, dengan suara berderit karena engsel yang sudah lama tak diminyaki.

Ruangan itu temaram, karena jendela kamarnya tertutup rapat oleh gorden, baunya pengap seperti sudah lama tidak dimasuki. Yoongi meraba-raba dinding dan menemukan saklar di kamar itu, ditekannya saklar kamar itu, dan cahaya kekuningan yang lembut langsung menyinari seluruh ruangan.

Itu sebuah kamar. Kamar yang sangat feminim dengan nuansa merah muda yang lembut, hampir putih. Yoongi mengitarkan pandangannya ke kamar itu dan mememukan sesuatu yang membuatnya tertegun… Dan memucat pasi.

Ada sebuah lukisan besar yang digantung di kamar itu. Lukisan yang sangat besar dengan bingkai keemasan yang sangat indah. Tetapi bukan besarnya lukisan itu atau indahnya bingkai itu yang membuat Yoongi tertegun, tetapi orang dalam lukisan itu.

Di sana terlukis seorang perempuan yang sedang berdiri di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia sampai menampilkan Gummy smilenya, seolah-olah perempuan itu tidak bisa menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya. Perempuan itu memeluk perutnya yang sedikit buncit, sedang hamil muda, dia tampak penuh bahagia… penuh cinta, dan yang membuat Yoongi luar biasa kagetnya, wajah perempuan itu… Wajah perempuan itu… Sama persis dengan wajahnya.

Oh ya Tuhan! Sama persis! Bagaikan pinang di belah dua.

Meskipun perempuan di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminim, Yoongi sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak begitu serupa!

Tapi Yoongi yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!

Jadi siapakah perempuan itu? Siapakah dia?

"Seharusnya Anda tidak boleh ke area ini."

Suara dingin dan tenang di belakangnya membuat Yoongi terlonjak kaget. Dia menolehkan kepalanya gugup dan menemukan Hoseok berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin yang biasanya.

"Siapakah perempuan di lukisan itu, Hoseok?"

Hoseok melirik sekilas pada lukisan di dinding itu, Yoongi merasa melihat sepercik kesedihan di sana, meskipun dia tidak yakin, karena ketika menatap Hoseok lagi, lelaki itu sudah kembali memasang ekspresi datar.

"Saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda, Tuan Jimin akan sangat marah…"

"Kumohon," Yoongi menyela dengan cepat.

"Jika kau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku akan menanyakan langsung kepada Jimin."

Wajah Hoseok mengeras, "Anda tidak boleh melakukannya, saya tidak akan membiarkannya karena itu akan menyakiti Tuan Jimin."

Perkataan Hoseok itu makin membuat Yoongi penasaran.

Ada apa ini sebenarnya? Apakah inilah jawaban kenapa Jimin menyekapnya selama ini?

Yoongi akan mengejar jawaban itu dari Hoseok, apapun yang terjadi, ditatapnya Hoseok dengan keras kepala.

"Kalau begitu jelaskan padaku siapa perempuan ini, kenapa wajahnya begitu sama denganku, dan apakah ini penyebab Jimin menyekapku?"

Hoseok menghela nafas panjang,

"Baik akan saya jelaskan, tetapi jangan di sini, ayo ikut saya,"

Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar, seolah-olah berada di dalam kamar itu terasa menyesakkannya. Tiba-tiba Yoongi juga merasa sesak sehingga dia langsung mengikuti langkah Hoseok keluar dari kamar itu.

.

.

.

"Perempuan itu adalah Nyonya Park Suga," Hoseok bergumam datar, menatap mata Yoongi dalam-dalam.

Mereka sekarang duduk di ruang duduk di bagian belakang rumah yang berakses langsung ke taman belakang dan dilengkapi dengan sofa-sofa cantik yang nyaman dan meja kopi yang saat ini menyediakan kopi hangat yang mengepul di meja.

Yoongi mengernyit mendengar informasi itu, Park Suga?

Apakah dia ibu Jimin? Tetapi setahunya, ibu Jimin bernama Victoria.

"Bukan ibu Tuan Jimin," Hoseok sepertinya bisa membaca pikiran Yoongi,

"Nyonya Park Suga adalah almarhum isteri Tuan Jimin."

Yoongi terperangah dan tiba-tiba merasa sesak napas, dadanya seperti dihantam oleh ribuan ton batu sehingga terasa nyeri. Isteri? Jimin pernah punya isteri sebelumnya?

Dan kenapa wajah perempuan itu sama persis dengannya?

"Tuan Jimin menikahi Nyonya Suga ketika masih sangat muda, di Italia ketika Tuan Jimin lulus dari kuliahnya, pada usia 20 tahun. Mereka pasangan muda yang saling mencintai. Setahu saya, Tuan Jimin sangat mencintai isterinya," Hoseok berdehem,

"Saya sudah mulai bekerja kepada Tuan Jimin ketika itu… Dulu, beliau adalah orang yang baik, sangat mudah tertawa dan ramah… Tetapi, Nyonya Suga memang berbadan lemah sejak awal, dia mempunyai penyakit jantung dengan katup yang tidak sempurna,"

Hoseok menghela nafas panjang, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bercerita,

"Kemudian Nyonya Suga hamil… mereka sangat bahagia sekaligus cemas… bahagia karena itu adalah anak pertama mereka, dan cemas karena itu adalah kehamilan yang sangat berisiko… Nyonya Suga seharusnya tidak boleh hamil karena kondisi penyakitnya, tetapi dia perempuan yang keras kepala di balik tubuhnya yang lemah." Hoseok tanpa sadar tersenyum, melembutkan garis-garis datar di wajahnya.

"Dia bertekad untuk hamil dan melahirkan anak Tuan Jimin, meskipun semua orang menentangnya, bahkan Tuan Jimin sendiri."

"Jimin menentangnya?" Yoongi membayangkan seorang perempuan dengan tubuh lemah, tetapi mampu menantang seluruh dunia demi calon anak yang dikandungnya, sungguh perempuan yang luar biasa.

"Ya, sudah pasti Tuan Jimin menentangnya, kehamilan itu berbahaya, nyawa Nyonya Suga taruhannya," Hoseok menundukkan kepalanya sedih,

"Kemudian Nyonya Suga keguguran." Yoongi tertegun. Keguguran, jadi bayi mereka tak pernah lahir?

Tiba-tiba Yoongi merasa sedih mengingat senyuman Suga di lukisan itu, senyuman seorang calon ibu yang sangat bahagia, dengan tangan memeluk perutnya seperti melindungi sang buah hati yang sedang terlelap di sana.

"Tubuh nyonya Suga ternyata terlalu lemah untuk menumbuhkan seorang bayi dalam rahimnya, dia tidak mungkin mengandung sampai anak itu lahir, kenyataan itu menghancurkan perasaan Nyonya Suga dan membuat kondisi fisiknya makin lemah." Hoseok menghela nafas,

"Nyonya Suga semakin hari semakin sakit, hingga akhirnya sudah tak mampu bangun dari ranjangnya. Di suatu pagi, Tuan Jimin menemukannya sudah meninggal dalam tidurnya."

Air mata Yoongi menetes, meninggal karena patah hati. Yoongi teringat ibunya. Mereka berdua meninggal karena patah hati… Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka egois? Meninggalkan semua beban di dunia ini dengan lepasnya, tanpa memikirkan bahwa mereka juga meninggalkan patah hati bagi siapapun yang mereka tinggalkan?

"Sejak kematian Nyonya Suga, sepuluh tahun yang lalu… Tuan Jimin berubah, dia menutup hatinya. Dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia tidak pernah sama lagi sejak saat itu." Yoongi mengusap air matanya dan menatap Hoseok tajam.

"Jadi, karena itukah Jimin menyekapku di sini? Karena wajahku sama persis dengan almarhumah isterinya?" Hoseok menatap Yoongi dalam-dalam,

"Anda seharusnya tahu bahwa…"

"Hoseok." Suara dingin Jimin dari arah pintu membuat mereka berdua menoleh. Wajah Hoseok memucat menemukan Jimin sedang berdiri di sana, berdiri bersandar di pintu dengan wajah tidak terbaca.

"Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kau yang sedang asyik bergosip dengan Yoongi," Mata Jimin menajam,

"Tetapi aku membutuhkanmu sekarang. Ada sesuatu yang perlu kita bahas." Secepat kilat Hoseok berdiri, meskipun ada kekhawatiran yang terpancar di wajahnya, dia telah melangkahi wewenangnya dengan menceritakan tentang Nyonya Suga kepada Yoongi. Entah apa yang akan dilakukan Tuannya ini kepadanya.

Jimin bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Yoongi, dia membalikkan badan dan membiarkan Hoseok mengikutinya.

.

.

.

Yoongi termenung di kamarnya, seluruh kata-kata Hoseok terngiang di telinganya, berulang-ulang. Kisah tentang Park Suga yang cantik dan sempurna dan betapa Jimin mencintainya.

Jadi, selama ini dia hanya dipakai sebagai pengganti dari Suga. Entah kenapa perasaan sedih yang samar menyeruak di dada Yoongi, terasa begitu menyakitkan. Jimin menyekap dan mempertahankan dirinya di sini karena wajahnya mirip dengan Suga. Bahkan Jimin bercinta dengannya mungkin juga sambil membayangkan Suga.

Kemiripan wajahnya dengan almarhumah isteri Jimin-lah yang menyelamatkannya, mungkin. Kalau tidak dia sudah dibunuh dan dihancurkan oleh Jimin atas percobaannya melukai lelaki itu.

Ternyata, bahkan gairah Jimin yang meluap-luap itu bukan ditujukan kepadanya. Dia hanyalah sosok pengganti dari perempuan yang benar-benar diinginkan oleh Jimin.

"Aku berani bertaruh bahwa pikiran-pikiran yang buruk sedang berkecamuk di kepalamu yang mungil itu." Karena sibuk dengan pikirannya, Yoongi tidak menyadari kedatangan Jimin. Yoongi mengamati Jimin, lelaki itu tampak lelah.

"Aku ingin segera keluar dari sini, setelah aku mengetahui semuanya, kau tidak berhak lagi memanfaatkanku dan menahanku di sini." Yoongi mendongakkan dagunya dengan angkuh.

Jimin melangkah mendekat, berdiri di sofa di depan Yoongi duduk, dan menatap tajam.

"Kupikir semalam kita sudah mencapai kesepakatan, Yoongi."

"Semalam terjadi karena kau mengancamku!" Napas Yoongi terengah menahan emosi.

"Sekarang aku sudah kembali ke pikiran warasku."

"Tidakkah kau ingin bersamaku, Yoongi? Kita begitu cocok di ranjang, kau dan aku. Kita bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan."

"Aku menolak untuk dimanfaatkan untuk menjadi pengganti siapapun."

"Kau bukan pengganti siapapun!" Jimin menyela tampak marah, nada suaranya meninggi.

Mereka berdiri berhadap-hadapan saling mengukur kekuatan masing-masing. Akhirnya Yoongi berkata lebih dulu.

"Aku sudah mengetahui semua kebenarannya Jimin. Aku memang bersalah mencoba mencelakaimu. Tetapi itu tidak penting lagi. Kau memang bersalah atas kematian kedua orang tuaku, dan aku berhak merasa benci dan dendam kepadamu. Tetapi kau juga sudah menyelamatkan nyawaku, jadi aku menganggap kita impas. Kalau kau melepaskanku, aku berjanji tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi dan tidak akan pernah berusaha mencelakaimu lagi." Yoongi menatap Jimin sungguh-sungguh.

"Itulah penawaran terbaik yang bisa kuberikan."

"Penawaran katamu?" Jimin mengibaskan tangannya dengan rasa jengkel.

"Kau boleh berprasangka dengan semua kebencian tak beralasanmu itu, yang harus kau tahu, semua yang kau pikirkan di dalam kepala cantikmu itu… Salah besar."

"Aku tahu mana yang salah dan benar, Jimin. Dan kali ini aku bersungguh-sungguh denganmu." Yoongi menatap Jimin dengan tatapan mengancam.

"Pilihanmu hanya dua, melepaskanku, atau mendapati aku mati."

.

.

.

Yoongi melaksanakan ancamannya. Dia mogok makan. Di hari pertama Jimin masih menganggap remeh ancaman Yoongi yang kekanak-kanakan itu, dan menertawakannya.

Tetapi sekarang sudah hampir dua hari, dan Hoseok melapor bahwa Yoongi sama sekali tidak menyentuh makanan dan minumannya.

"Sama sekali?" Jimin berdiri dari duduknya dan menatap Hoseok dengan raut wajah frustrasi.

"Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya, kami meletakkan makanannya di kamar dan dia hanya tidur di sana. Ketika kami menengok nampannya, dia tidak menyentuhnya sama sekali, bahkan minumannya pun tidak disentuhnya. Anda harus melakukan sesuatu sebelum perempuan itu membahayakan dirinya sendiri." jawab Hoseok datar, meskipun ada nada khawatir di sana.

"Aku akan menengoknya."

Jimin melangkah memasuki kamar putih itu, dan menemukan Yoongi terbaring lemah di ranjang. Perempuan ini benar-benar keras kepala.

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?" Jimin mendesis menahan kemarahannya,

"Apakah kau ingin membunuh dirimu sendiri?"

Yoongi membalikkan badan dan menatapnya, membuat Jimin mengernyit, wajah Yoongi tampak pucat dan bibirnya kering, perempuan itu juga tampak lemah.

"Kau harus memakan makananmu Yoongi, kalau tidak kau akan sakit dan membahayakan dirimu sendiri." Jimin terus berkata, pikirannya kacau.

Yoongi menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Jimin. Jimin mengacak rambutnya frustrasi.

"Oke, kau mau apa?! Kau ingin bebas? Baik! Kau akan dapatkan apa yang kau mau, asalkan kau mau makan!"

Pernyataan itu membuat Yoongi menolehkan kepalanya lagi menatap Jimin, dia berdehem, tenggorokannya terasa kering membuatnya susah berbicara, perutnya terasa nyeri, dan kepalanya pusing.

"Kau… berjanji… Jimin?" gumamnya lemah.

Jimin menatap Yoongi marah, "Kau pikir aku bisa berbuat lain? Aku berjanji, kau bisa pegang janji seorang Park Jimin. Sekarang, biarkan aku membantumu minum!"

Sambil berdehem kembali karena tenggorokannya sakit, Yoongi berusaha menantang tatapan marah Jimin dan membaca arti yang tersirat di dalamnya. Ya, Park Jimin selalu menjunjung harga dirinya, dia tidak akan mengingkari janji. Setelah merasa yakin, Yoongi menganggukkan kepalanya.

"Astaga Yoongi," Jimin mendesah lega, meraih gelas air putih yang tak tersentuh, tak jauh dari ranjang, lalu duduk di samping ranjang dan membantu Yoongi duduk.

"Kau bisa minum?"

Yoongi haus sekali, dan keinginannya yang paling besar adalah langsung minum dari gelas itu dengan sekali teguk. Ketika menerima gelas itu, Yoongi langsung meneguknya dengan rakus, tetapi berhenti di tegukan pertama karena tersedak dan sakit di tenggorokannya.

"Pelan-pelan," bisik Jimin lembut, menjauhkan gelas itu dari Yoongi, tangannya refleks memegang tengkuk Yoongi supaya perempuan itu minum lebih hati-hati.

"Gadis keras kepala," Jimin menggerutu pelan.

Selanjutnya yang terjadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh Yoongi. Jimin duduk menerjangnya dan melumat bibirnya, sekaligus mengalirkan air minum itu ke kerongkongannya. Air minum itu meluncur dengan mulus ke kerongkongan Yoongi, membasahinya yang kehausan. Sejenak, ketika air itu telah seluruhnya berpindah, Jimin masih bermain-main di bibir Yoongi, mempermainkannya dengan gigitan kecil dan kecupan gairah.

Kemudian, sedikit terengah, Jimin melepaskan bibir Yoongi, mereka duduk dengan wajah berhadapan, sangat dekat hingga napas panas mereka bersahutan.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba Jimin menjauhkan tubuhnya dari Yoongi dan menatapnya tegang.

"Besok Heechul akan membantu mengemasi pakaianmu dan Hoseok akan mengantarkanmu pulang."

"Aku tidak mau membawa apapun dari sini, aku datang kesini tanpa membawa apapun, dan begitupun ketika aku keluar dari sini."

Jimin mendesis tajam, "Aku memaksa, Yoongi dan jangan bermain-main dengan kesabaranku."

Yoongi terdiam. Jimin membebaskannya, itu sudah cukup. Dan kalau konsekwensinya Yoongi harus bertoleransi dengan sikap arogan lelaki itu, mungkin itu cukup sepadan.

.

.

.

Pakaian-pakaian yang dibelikan Jimin untuknya sangat banyak hingga membutuhkan 3 koper besar untuk mengepaknya, belum lagi satu koper besar berisi perhiasan dan aksesoris seperti koleksi sepatu dan tas yang bahkan tidak sempat Yoongi pakai.

Pegawai Jimin sudah mengatur barang-barang itu dengan rapi di bagasi, dan Hoseok sudah berdiri di sisi mobil, mempersilakan Yoongi masuk untuk diantar pulang.

Yoongi melirik ke arah rumah besar itu, Jimin tidak ada dari pagi tadi, lelaki itu pergi entah kemana tadi pagi-pagi sekali dan Yoongi tidak berani bertanya kepada Hoseok.

Seharusnya Yoongi berbahagia, dahi Yoongi berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah kenapa. Dan Yoongi menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya ingin menangis.

Dengan cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Jimin, Yoongi memasuki mobil hitam itu. Hoseok menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Jimin dan melewati gerbang.

Detik itulah Yoongi memberanikan diri menatap rumah Jimin, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya, sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi pandangannya.

Selamat tinggal Park Jimin. Yoongi mengusap setitik air mata di sudut matanya. Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.

.

.

.

.

.

Tbc.

Bener kata Jimin, Yoongi gadis super keras kepala. Giliran dikasih bebas dia galau sendiri. xD

Makasih yang sudah membaca, mereview, memfollow dan memfavorite.

Thanks to (Reviewers ch. 10) :

hyera; GitARMY; mas seungcheol; applecrushx; Nyonya Jung; Vcookies; crownacre; Viyomi; Hanami96; JonginDO; csupernova; bbihunminkook; ; rossadilla17; chimslay; jimin' slave; Cupid; annisadamayanti54; yxnghua; siscaMinstalove; Hyob; syub0393; parasyub; Guest; 95oppars; michaelchildhood; JHyunra98; jennie; INDRIARMY; NanaKim7; Vanillalover; aliciabts01; fluxgirl; Phikukcb19; Kayshone.

Permintaan yang minta publishin 'A Romantic Story About Serena' dengan cast VKook, Eum… Jims pikir-pikir lagi ya, nanti kalau sempet Jims buat. Kalau ada waktu… Kalau ada waktu xD

Yang kemarin minta IG/Twitter Jims; Kyuminsimple

Silakan yang mau ngobrol-ngobrol disana, mention aja ya buat followbacknya. Hehehe

Mind to review again?

Terima kasih buat para reviewers baik yang login maupun yang ga login. :3

Jimsnoona.