Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil' karya Santhy Agatha.
.
.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 12
Hari pertamanya dalam kebebasan dan Yoongi luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Jimin mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah ini? Yoongi menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan Jimin dari pikirannya. Dia harus melupakan lelaki itu dan melangkah maju.
Pagi itu yang dilakukan oleh Yoongi pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Yoongi, menolak menyebut nama Jimin demi usahanya melupakannya. Tetapi Yoongi tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.
Diambilnya sayuran, daging sapi dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Yoongi menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja.
Sambil menyantap makanannya, Yoongi menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Yoongi harus bertahan hidup. Seperti semula.
Seingat Yoongi, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Yoongi harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Yoongi tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.
Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke Bank. Yoongi menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat. Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.
Lowongan kerja… lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya… mata Yoongi bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.
Ketika Yoongi selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Yoongi teringat bahwa dia harus ke Bank, dengan bergegas Yoongi mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.
Seketika Yoongi waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Jimin, tidak banyak yang tahu kalau Yoongi tinggal di rumah mungil ini.
Apakah itu musuh Jimin yang ingin mencelakainya? Yoongi bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, musuh Jimin pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Yoongi. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini?
Dengan hati-hati Yoongi mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Yoongi masih tidak bisa percaya bahwa Dokter Seokjin yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.
Yoongi meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan sangat hati-hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu.
"Siapa?" Yoongi menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.
"Selamat siang, Anda Nona Yoongi? Saya Kim Yesung, pengacara yang dikirim kemari."
Pengacara?
"Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun." Yoongi masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Yesung dengan curiga.
"Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda," Yesung tampak berdehem memikirkan sesuatu.
"Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Taehyung dan Jungkook." Yoongi tertarik.
"Apakah Jungkook yang mengirimmu kemari?"
"Sayangnya bukan, meski Jungkook menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan," Yesung mengangkat bahu acuh,
"Saya dikirim oleh Jimin." Yoongi mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya.
"Bolehkah saya masuk? Anda tenang saja, saya bukan orang jahat." Yesung tersenyum dengan gaya profesional.
Yoongi mempersilakannya masuk, dan dia duduk menatap lelaki itu mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.
"Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Jimin telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan Jimin atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya." Yesung meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi.
"Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan." Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Yoongi yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget.
Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!
"Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!"
"Nona," Yesung menyela sudah siap pergi dari rumah itu,
"Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi Jimin secara langsung."
Dan Yesung pun pergi meninggalkan Yoongi yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.
.
.
.
"Saya ingin bertemu Tuan Park Jimin." Yoongi bergumam gugup kepada resepsionis di lobby kantor yang mewah itu.
Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Yoongi merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Yesung kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionis yang menatapnya curiga.
"Park Jimin kata Anda? Apa Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini…"
"Saya tidak ingin melamar pekerjaan." Yoongi mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionist itu.
"Tolong atur pertemuan saya dengan Park Jimin."
"Nona, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Park Jimin tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu…"
"Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Jimin jam dua," sebuah suara yang dalam di sebelah Yoongi mengagetkannya.
Yoongi menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Well, satu lagi lelaki dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa. Batin Yoongi sambil menatap Taehyung yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini lelaki baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Yoongi mengingat kemesraan Taehyung dan Jungkook di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Taehyung dan Jungkook ketika mereka bertatapan.
Resepsionis itu menatap Taehyung dan sudah pasti mengenalinya,
"Oh, Tuan Kim Taehyung, selamat datang," sikapnya berubah ramah dan Yoongi mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionis itu menatap Taehyung dengan tatapan memuja.
"Mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Jimin mendadak harus ke luar negeri."
Taehyung dan Yoongi sama-sama mengerutkan keningnya.
Jimin ke luar negeri?
"Aku tidak menerima pesan itu," gumam Taehyung tajam, membuat resepsionis itu menunduk gugup hingga Yoongi merasa kasihan. Tetapi kemudian Taehyung mengangkat bahunya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari," Taehyung menoleh kepada Yoongi.
"Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah."
Yoongi mau tak mau menahan senyum. Taehyung tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Jimin.
"Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Jungkook menitip salam kepadamu, sampai jumpa, Yoongi." dengan senyumnya yang mempesona, Taehyung mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu.
Yoongi menatap punggung Taehyung yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Jungkook memiliki pasangan yang luar biasa seperti Taehyung.
"Nona Yoongi?" kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Yoongi menoleh dan mendapati Hoseok yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift.
"Apa yang Anda lakukan di sini?"
Yoongi mengerjapkan matanya,
"Aku mencari Jimin," ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Hoseok.
"Ini… aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini." Hoseok menatap berkas-berkas itu dan mengerti.
"Tuan Jimin ingin Anda menerimanya."
"Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya."
"Itu uang anda." sela Hoseok tenang,
"Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah ditake over oleh Tuan Jimin."
Yoongi tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.
"Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun," Hoseok menatap sekelilingnya yang ramai dan
tampak tidak nyaman.
"Mari saya akan jelaskan kepada Anda."
.
.
.
Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di lantai dua. Hoseok duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Yoongi duduk.
"Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?"
Yoongi menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.
"Tuan Jimin saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana." Hoseok mengubah posisi duduknya supaya nyaman.
"Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Jimin menahan saya."
Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Yoongi berdegup kencang.
"Tuan Jimin tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut," Hoseok mengangkat bahunya,
"Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Jimin bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan Jimin." Yoongi mengerutkan keningnya membantah.
"Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Jimin, kami sama sekali tidak bangkrut!"
Yoongi teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!
"Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas." Hoseok menghela nafas.
"Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda." Mata Hoseok menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.
"Ayah Anda datang kepada Tuan Jimin waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Jimin sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan Jimin."
"Penawaran?" Hoseok menatap Yoongi hati-hati.
"Ya… penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan Jimin berubah pikiran."
"Penawaran apa?"
"Anda." Yoongi tertegun, pucat pasi.
"Aku?"
"Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan Jimin, harap Anda memaklumi," Hoseok menghela nafas,
"Mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan Jimin, mengingat waktu itu reputasi tuan Jimin sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan Jimin."
Yoongi hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya?
Tidak mungkin!
Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!
"Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya," Hoseok berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Yoongi.
"Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan Jimin, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan Jimin langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda."
Fotonya yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Jimin. Dada Yoongi terasa perih menyadari kenyataan itu.
"Yah Anda mengerti sendiri, walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan…" Hoseok menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Yoongi yang pucat pasi.
"Anda tidak apa-apa nona?" Yoongi menganggukkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak apa-apa." suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.
"Tuan Jimin langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Jimin, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Jimin tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda…" Hoseok menatap Yoongi miris.
"Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda lalu datang kembali meminta tolong kepada tuan Jimin."
Yoongi hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Hoseok sebaik-baiknya. Apakah Hoseok berbohong? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur…
Yoongi cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Hoseok adalah kebenaran, maka Yoongi harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.
Yoongi sudah dijual menjadi isteri Jimin di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Yoongi mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.
"Tuan Jimin sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan Tuan Jimin tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Jimin membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya." Hoseok menatap Yoongi dalam-dalam,
"Itu semua karena Tuan Jimin mengkhawatirkan Anda."
Jimin mengkhawatirkannya?
Tidak mungkin! Lelaki itu hanya cemas, karena Yoongi adalah perempuan yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, perempuan yang diharapkannya bisa menggantikan isterinya, Tidak lebih…
"Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan Jimin menyela pembicaraan kita," Hoseok bekata-kata lagi,
"Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan Jimin hanya menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Suga. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan Jimin adalah benar-benar Anda, diri anda sendiri."
Seiring berjalannya waktu?
Hoseok mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Yoongi,
"Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan Jimin. Semua sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut."
Tiba-tiba Yoongi menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah.
"Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda," wajah Hoseok melembut melihat pipi Yoongi merona merah, lalu menatap Yoongi dengan menyesal.
"Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Yoongi. Percayalah, Tuan Jimin terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda – demi Anda." Hoseok menekankan kata-katanya sekali lagi.
"Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Jimin."
Yoongi merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Hoseok ini benar, dan sepertinya memang semua adalah kebenaran… Maka Yoongi harus merasa malu.
Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah.
'Kau boleh berprasangka dengan semua kebencian tak beralasanmu itu, yang harus kau tahu, semua yang kau pikirkan di dalam kepala cantikmu itu… Salah besar.'
Sekelebat perkataan Jimin tiba-tiba muncul di pikiran Yoongi.
Dan Jimin bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian dan tuduhannya. Kenapa Jimin tidak pernah membela diri dan membiarkannya makian liar dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?
"Sebentar lagi ulang tahun Anda… sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda… Tuan Jimin akan memperisteri Anda."
Yoongi membelalakkan matanya. Apakah Jimin masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Jimin kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Yoongi menolak Jimin, maka dia menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.
"Apakah… apakah Jimin menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya?" Hoseok langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Yoongi itu,
"Tidak. Tidak ada satupun perintah dari Tuan Jimin kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan Jimin berkesan merahasiakan semua ini dari Anda," Hoseok tersenyum lembut.
"Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan Jimin, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi."
Yoongi mengernyit, "Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya, jadi dia membebaskanku hanya sementara?"
Hoseok mengangguk, minta permakluman, "Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti -saya bisa menjamin itu-Tuan Jimin benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan Jimin benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Suga. Meminta izin kepada isterinya."
Yoongi memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih, kekosongan yang menyesakkan dadanya, hampir seperti… patah hati.
.
.
.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Yoongi sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa dia tahu, bahwa Jimin akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali dan jantungnya berdegup kencang. Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Yoongi sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Yoongi bertatapan wajah dengan Jimin. Lelaki itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir mereka bertemu. Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jacket khaki dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu Yoongi.
"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan," Yoongi berkata, mencoba mencari-cari mata Jimin, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.
Jimin terdiam, "Aku tahu kalau kamu tahu, Hoseok menceritakan pertemuan kalian." Lelaki itu menoleh ke belakang Yoongi.
"Bolehkah aku masuk?"
.
.
.
Tbc.
Siapa yang awalnya benci Park Jimin? Hahaha surprise ya ini buat kalian. xD Hm, masih ada kejutan lagi ga ya? Jims lupa. Hohoho
Terima kasih untuk reviewers di chapter sebelumnya. Btw Followersnya sudah melewati angka 100 tapi seperti biasa yang nongol ya itu itu aja ya, Jims sampai hapal lho. Mendadak pada ngilang xD gapapa, Jims tegar. Gyahahah. Terima kasih sudah membaca, Jims ga maksa kalian buat review. Jadi siders juga ga masalah, ada masanya para siders nongol, ye gak? xD
Untuk kejelasan sampai chapter ke berapa hm udah pasti sama kayak novel aslinya. hihihihihihi. stock masih banyak kok. /Ga.
See you next chapter.
Jimsnoona.
