Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha.
.
.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 13
Yoongi mundur dengan perasaan tidak nyaman. Membiarkan Jimin masuk ke dalam rumahnya sama seperti membiarkan iblis menguasai kehidupannya. Tetapi tidak ada pilihan lain, mereka harus berbicara, panjang lebar, bukan? Dan mereka tidak mungkin berbicara di ambang pintu seperti ini.
Yoongi memiringkan tubuhnya mempersilakan Jimin masuk ke rumahnya yang mungil tetapi bersih dan indah itu. Jimin langsung duduk di sofa cokelat, mulai tampak merasa nyaman, kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkan di meja. Dan Yoongi sedikit terpesona dengan manik coklat iblis di hadapannya kini.
"Apa yang kau rencanakan di hari ulang tahunmu?" Jimin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Tidak ada,"
Tentu saja bohong, Yoongi punya cheesecake strawberry dengan porsi kecil di kulkasnya. Tapi itu untuk dia makan sendiri nanti malam dan tentu saja tanpa gangguan Jimin. Jimin menatap Yoongi seolah mengukur-ukur kebenaran.
"Aku bisa mengadakan pesta untukmu."
"Aku tidak butuh pesta darimu."
"Hmm," Lelaki itu mendesah maklum, lalu ketika menatap Yoongi, tatapannya berubah menjadi serius.
"Kau tahu kan kenapa aku kemari?"
Yoongi mengangguk, "Dan sebelum kau katakan maksudmu, aku ingin membuat penawaran baru untukmu."
"Penawaran?" Jimin mengangkat alisnya bingung.
Penawaran apalagi? Batinnya berbisik kesal.
"Oke, jelaskan itu padaku."
"Aku akan mengembalikan semua uang yang pernah kau berikan kepada ayahku."
"Yoongi," Jimin terkekeh pelan, tawanya yang renyah membuat darah Yoongi berdesir seketika.
"Utang itu begitu besar hingga kau mungkin hanya bisa menggantinya dengan tubuhmu. Tidak. Aku menolak penawaranmu. Dan kau…" mata Jimin berubah sensual,
"Kau akan menjadi isteriku sebentar lagi sesuai perjanjian."
"Aku bukan barang yang bisa dibeli seenaknya, dan kenapa kau begitu santai? Ini masalah pernikahan bukan jual beli perusahaan."
"Aku hanya ingin kau menjadi isteriku, Yoongi." Jimin bersedekap, menatap Yoongi yang mulai emosi.
"Itu sudah kutetapkan sejak awal mula."
"Kenapa?" Yoongi tidak bisa menahan suara tajam di lidahnya.
"Karena kau ingin menjadikanku boneka pengganti Suga?" Wajah Jimin mengeras ketika Yoongi menyebut nama Suga, bibirnya mengetat.
"Jangan hubung-hubungkan dia dengan ini semua."
"Bagaimana aku bisa tidak menghubungkan dengannya?" Yoongi sudah menahan diri, tetapi suaranya meninggi.
"Semua ini karena wajah ini, karena wajah yang sama dengan almarhumah isterimu! Kau tidak bisa menganggapku sebagai penggantinya, Jimin! Kami orang yang berbeda, dan aku menolak diperlakukan seperti itu!"
"Aku tahu kalian orang yang berbeda," Jimin berdiri di depan Yoongi, siap berkonfrontasi.
"Percayalah, aku benar-benar tahu, karena gairah semacam ini, tidak pernah kurasakan dengan siapapun! Hanya denganmu, Yoongi."
Lelaki itu meraih Yoongi ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya. Dengan lembut. Tidak memaksa seperti biasa, dengan pelan dia menguak bibir Yoongi, mencicipinya pelan-pelan dan sangat hati-hati, kemudian melumatnya lembut. Lidahnya menelusuri seluruh bibir Yoongi dan kemudian bermain-main dengan lidah Yoongi di dalam sana, mencecap rasa manisnya habis-habisan. Ketika akhirnya ciuman itu selesai mereka sama-sama terengah-engah mengambil oksigen sebanyak mungkin.
"Apakah pada akhirnya kau mengakui kalau kau merindukanku?"
"Dalam mimpimu, Park Jimin!" Yoongi menjawab dengan ketus, membuat Jimin terkekeh geli.
"Kita adalah pasangan yang sangat cocok," Jimin mendekatkan tubuh Yoongi ke tubuhnya, dalam dekapan dadanya.
"Kaitkan kakimu di kakiku."
Yoongi menatap Jimin dengan cemas.
"Apa yang sedang kau coba lakukan, Jimin?"
"Lakukan saja sayang," jemari Jimin menyentuh paha Yoongi.
Mungkin sudah waktunya mereka berhenti berkata-kata dan berkomunikasi dengan dengan kecanggungan seksual yang selama ini ditahan. Jemari Jimin membimbing agar paha Yoongi melingkarinya tanpa jarak.
"Aku ingin menunjukkan padamu, bahwa kau tidak akan diperlakukan sebagai boneka. Kau bukan boneka, boneka hanya untuk dipajang di dalam rak. Aku ingin kau berada di tanganku, untuk disentuh, dipuaskan dan dimiliki dengan cara yang kusuka."
Yoongi terkesiap, merasakan jemari Jimin menyelusup ke balik roknya dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif.
"Ya sayang… seperti ini… " Jimin mendesah di telinga Yoongi, ia menyelipkan satu jari dan mencumbu Yoongi, berusaha sepelan mungkin meskipun hasratnya sudah hampir meledak setengah mati.
Yoongi terpekik dan mencengkram pundak Jimin dengan sangat erat. Jimin menunduk, tangannya yang bebas meraih tali atasan Yoongi dan menurunkannya dengan gerakan sensual, untuk membuka jalannya ke payudara Yoongi. Saat tangan Jimin menangkup payudaranya, Yoongi mengigit bibir Jimin penuh tuntutan.
"Menggigit, Yoongi?" Jimin menyeringai puas.
"Ck…ck…ck," jari Jimin bergerak lebih dalam lagi.
Gairah bercampur penentangan berkelebat di mata Yoongi ketika menatap Jimin.
"Kau akan membayar untuk semua ini, Park Jimin."
Jimin mulai mencium leher Yoongi, bertanya-tanya apakah Yoongi tahu betapa menggairahkannya dirinya dengan bagian atas kemejanya yang terbuka, menampilkan sebagian payudaranya yang begitu indah. Rambutnya tergerai berantakan di bahu dan sebelah kakinya melingkari pinggul Jimin dengan lembut. Mendadak Jimin tidak sanggup menahan diri lagi.
Dan ia pun bercinta dengan Yoongi-nya yang cantik. Saat itu juga hingga mereka berdua sama-sama dibutakan oleh hasrat yang membara.
.
.
.
Jimin mengetatkan pelukannya ke punggung Yoongi yang setengah tertidur, dipeluknya Yoongi yang masih lemas setelah orgasme yang mereka lalui. Yoongi akan menjadi isterinya. Bahkan ketika Yoongi menolak Jimin dengan kata-kata, Jimin tahu bahwa tubuh Yoongi tidak akan mampu menolaknya.
"Setelah ini apakah kau akan menerima lamaranku?" Yoongi terdiam, memejamkan matanya dalam pelukan Jimin.
Masih bertanya-tanya mengapa bercinta dengan seorang pria berbaju lengkap sementara dirinya sendiri telanjang bisa terasa begitu erotis. Walaupun sekarang ia tidak tahu bagaimana mereka bisa berakhir di ranjang ini, di tempat tidur ini. Dia sekarang telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun. Pakaiannya bertebaran dari ruang tamu sampai ke lantai di sebelah.
Jimin benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Ini akan menjadi pernikahan tanpa cinta. Yoongi memejamkan matanya, setidaknya bukan dari dirinya.
Ketika mengetahui bahwa Jimin bukanlah penyebab kematian kedua orangtuanya, perasaan Yoongi langsung terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Jimin yang begitu deras. Lelaki ini luar biasa pandai bercinta, dan dia sudah memiliki tubuh Yoongi. Kalaupun Yoongi menolak lamarannya, Yoongi yakin Jimin tidak akan pernah melepaskannya, apalagi membiarkannya menjalin hubungan dengan lelaki lain.
"Apakah kalau aku menolak kau akan memaksaku?" Yoongi menyuarakan pertanyaan di dalam pikirannya.
Hening sejenak, lalu Jimin mengusap punggung Yoongi dengan lembut.
"Mungkin," lelaki itu menghela nafas panjang.
"Yoongi, Aku bukan lelaki baik, mungkin kita akan menghabiskan hari-hari kita dengan penuh pertengkaran dan meledak-ledak. Tapi kau harus tahu satu hal, aku akan menjaga isteriku." Ucapan itu bagaikan janji, yang diungkapkan di kegelapan kamar itu. Tetapi pertanyaan-pertanyaan masih berkecamuk di benak Yoongi.
Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau ingin menikahiku? Batin dalam diri Yoongi bertanya-tanya.
Bahkan Yoongi sudah tahu jawabannya. Karena wajahnya, karena dia begitu mirip dengan kekasih sejati Jimin.
Kalau Yoongi mengambil resiko dengan menikahi Jimin, akankah suatu saat nanti Jimin akan benar-benar memandang wajahnya dan mengakui bahwa itu Yoongi, bukan Suga?
Akankah suatu saat nanti Yoongi diakui sebagai suatu pribadi yang asli, bukan pengganti dari siapapun? Resikonya terlalu besar. Tetapi godaan untuk jatuh ke dalam pelukan iblis ini terlalu menarik jika dilepaskan.
"Ya, Jimin. Aku bersedia menjadi isterimu."
Jimin memejamkan matanya dan memeluk Yoongi erat-erat.
"Dan aku berjanji padamu, kau akan dijaga sebaik-baiknya."
Begitu saja lamaran itu, tanpa pernyataan cinta yang romantis, tanpa perasaan menggebu-gebu yang biasanya dimiliki oleh pasangan yang terlibat romansa. Yoongi tidak pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar dengan cara seperti itu.
.
.
.
Pernikahan itu, karena dilaksanakan dengan gaya Park Jimin, menjadi sebuah pesta pernikahan yang luar biasa mewah. Segalanya yang terbaik. Gaun Yoongi didatangkan langsung dari Perancis, makanannya yang paling enak, langsung dari restaurant milik Jimin. Perempuan-perempuan menatapnya iri dan para lelaki memujinya karena pada akhirnya bisa membuat Park Jimin berlabuh. Semua perempuan pasti memimpikan pesta pernikahan yang seperti ini, pesta pernikahan yang bagaikan mimpi untuk puteri di negeri dongeng.
Tetapi tidak dengan Yoongi. Tiba-tiba dia dihinggapi ketakutan yang diam-diam melandanya. Dia sekarang sudah menjadi isteri Park Jimin. Tetapi bayang-bayang isteri Jimin yang terdahulu, Suga yang cantik, yang sebenar-benarnya ada di hati Jimin terasa menyesakkan dadanya.
Dan malam ini, di malam pernikahannya. Yoongi duduk di tepi ranjang Jimin, merasakan perasaan resah yang begitu mengganggu.
'Apakah aku menyesali ini?'
'Kenapa aku mau saja dinikahi oleh lelaki arogan ini?'
'Sebegitu besarkah pesona lelaki ini hingga membuatku rela hanya menjadi boneka pengganti?'
Pintu terbuka dan Jimin masuk, lelaki itu masih memakai jas yang dipakainya untuk pesta meski dasinya sudah dilepas dan kancing kemeja di bagian atasnya sudah dibuka.
"Kenapa dahimu berkerut?" Jimin melepaskan jasnya hanya mengenakan kemeja putih, lalu berdiri di depan Yoongi.
"Kau sudah berganti baju, hmm?" dengan lembut Jimin menghela pundak Yoongi supaya berdiri menghadapnya.
"Kau tampak lelah, apakah kau ingin tidur atau…" tatapan Jimin tampak sensual.
Yoongi menatap Jimin dalam-dalam. Apakah hanya gairah yang ada di dalam benak lelaki ini. Bahkan sampai sekarangpun Yoongi masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di dalam hati Jimin.
"Aku ingin membuat pengaturan," Yoongi bergumam cepat, sebelum dia kehilangan keberaniannya,
"Tentang pernikahan kita."
"Pengaturan?" Jimin mengerutkan kening, tampak tidak senang,
"Apa maksudmu?"
"Pengaturan tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pernikahan kita." Mata cokelat Jimin membara.
"Kau isteriku Yoongi, dan aku berhak atasmu."
"Kau bilang kau akan menghormatiku dalam pernikahan ini," Yoongi menatap Jimin tajam,
"Kalau kau tidak mau berkompromi atas pengaturanku ini aku…"
"Apa? Kau akan melarikan diri lagi? Akan mogok makan lagi?" Jimin melepaskan pegangannya dari Yoongi dengan pahit.
Pipi Yoongi merona malu, tetapi dia menegarkan diri,
"Aku hanya ingin menetapkan beberapa hal yang membuatku merasa aman."
"Oke," desis Jimin,
"Cepat katakan apa maumu dan aku akan memilah mana yang bisa kuterima dan mana yang tidak."
"Pertama, aku tidak mau dipaksa untuk bercinta denganmu kalau aku tidak mau, apalagi memakai obat itu." Jimin mengangkat alisnya dan menatap Yoongi dengan sensual.
"Diterima. Lagipula sepertinya aku tidak membutuhkan obat itu lagi." tambahnya penuh arti, membuat pipi Yoongi makin merona.
"Kedua aku ingin hubungan yang saling menghormati, aku akan menjaga kesetiaanku karena aku isterimu, dan aku mau kau juga."
Jimin terkekeh, "Diterima," jemarinya menyentuh pipi Yoongi lembut.
"Kau menjadi posesif kepadaku, hm?" godanya.
Yoongi berusaha mengabaikan kalimat-kalimat Jimin yang menjurus itu.
"Ketiga, aku tidak mau dibelikan apapun tanpa persetujuanku," masih teringat di pikiran Yoongi betapa banyaknya baju-baju yang dibelikan Jimin untuknya, belum lagi aksesoris dan perhiasan-perhiasan mahal yang dibeli Jimin seolah membeli sesuatu yang tidak berharga.
Jimin harus belajar bahwa memperlakukan perempuan dengan baik bukan berarti melimpahinya dengan harta dan benda.
"Ditolak," tatapan Jimin menajam lagi.
"Kau isteriku Yoongi, aku berhak membelikanmu apapun yang aku mau." Yoongi mengernyit dan menantang mata Jimin, mereka saling bertatapan tajam sampai akhirnya Yoongi menyerah.
"Oke, kau boleh membelikan asal tidak berlebihan." Jimin mengangkat bahunya.
"Apakah ini sudah selesai? Atau aku harus menunggu lebih lama untuk berlanjut ke babak selanjutnya?"
Pipi Yoongi merona dan menatap Jimin dengan waspada, babak selanjutnya?
"Malam pertama kita," Jimin mengucapkannya lambat-lambat dengan nada yang sangat sensual hingga membuat seluruh tubuh Yoongi menggelenyar.
"Kau tidak berpikir aku akan melewatkannya, bukan?"
.
.
.
.
.
Tbc.
Hai,
Siapa yang dari kemaren minta ini update? Okay selamat membaca dan selamat menikmati. Hohoho btw Jims juga update ff judulnya Shocked, yang iseng iseng mampir boleh tuh dibaca sekalian. Info buat This is Real, tetap Jims lanjutin tapi masih proses ya, tiba-tiba stuck. Hihihi kuncinya sabar aja yah. xD
Makasih yang di chapter sebelumnya udah nyempetin ngiri kotak review, sekali kali para followers dan favers nongol dong. :3 Siders juga makasih udah mau baca.
Anw, teruntuk kak Minki Army bisa kali yah bales pmnya Jims :v
Sekian, Thankyu dan sampai jumpa di chapter depan yang entah diupdate kapan xD
Rnr juseyo? :3
Jimsnoona.
