Sleep With Mr. Park

Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'

Karya Santhy Agatha

MinYoon Fanfiction

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Kim Namjoon

Kim Seokjin

Rated: M

Warning :

OOC, Typo(s), Mature Content.

©Jimsnoona

.

a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha.

.

.

Don't like, don't read.

.

.

.

BAB 14

"Aku masih punya satu syarat lagi, Jimin." Yoongi bergerak gusar dan tanpa sadar melangkah menjauhi Jimin.

"Aku ingin tinggal di kamar putih yang dulu, kau… eh… bisa mengunjungiku kalau kau perlu

sesuatu…"

"Cukup! Sekarang giliranku memberikan pengaturan untuk pernikahan kita!" kesabaran Jimin tampaknya sudah habis, lelaki itu meraih pinggang Yoongi lalu merapatkan di tubuhnya membuat Yoongi merasakan tubuh Jimin yang mengeras di sana.

"Kau rasakan itu?" Jimin menatap Yoongi, marah sekaligus bergairah.

"Aku berniat untuk menjadikanmu isteriku yang sesungguhnya. Bukan kekasih yang kukunjungi jika aku perlu bercinta."

Jemari Jimin menuruni sisi lengan Yoongi dengan sensual dan kemudian berhenti di sisi payudaranya, meremasnya dengan begitu lembut, membuat engahan nafas Yoongi terdengar berat.

"Dan jika kita melakukan itu, kita tidak akan tidur di kamar yang terpisah!"

Hening beberapa saat,

"Kenapa? Kau tidak suka dengan syarat dariku?"

Jimin terus menahan payudara Yoongi dengan posesif. Yoongi adalah isterinya, sekarang dia harus menerima seluruh dirinya, tidak lagi berusaha menentangnya sekehendak hatinya. Pilihannya adalah mereka suami isteri atau tidak sama sekali.

"Jika kau tidak menyukainya, lebih baik kita berhenti di sini sekarang juga," sambil berusaha menahan keposesifannya, Jimin memperlembut tuntutannya.

"Malam ini cukup sampai di sini kalau kau tidak siap."

Satu-satunya yang mendesak saat ini adalah tubuhnya yang berhasrat, tetapi Jimin masih mampu mengendalikannya jika Yoongi tidak mau melanjutkan. Perempuan ini telah menunjukkan keberanian besar dengan mengemukakan persyaratannya di depan Jimin dan Jimin menghargainya, oleh karena itu ia bersedia memberikan waktu sebanyak yang diinginkan Yoongi.

Yoongi hanya terdiam di sana, menatap Jimin dengan tatapan kosong. Astaga, apa sebenarnya yang ada di dalam kepala mungil itu? Yoongi pasti sudah larut dalam persepsi dan pemikirannya sendiri. Apalagi setelah dia mengetahui kisah tentang Suga.

Jimin sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya. Memang pada mulanya, dia menginginkan Yoongi karena kemiripannya dengan Suga. Tetapi sekarang, dia merasa Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua, dalam wujud perempuan yang sangat mirip dengan Suga. Tidak, dia tidak pernah membayangkan Suga. Tidak akan lagi setelah malam-malam kelam yang menghancurkan hati, yang dia lalui karena kematian Suga dulu, Suga telah berubah menjadi bayang samar yang kadang hadir dalam bentuk kenangan masa lalu yang indah. Jimin bahkan sudah berhasil tidak memikirkan Suga lagi sejak bertahun-tahun lalu.

Yoongi terasa… berbeda…

Tetapi bagaimana dia menjelaskannya kepada Yoongi?

Perempuan itu tidak akan percaya bahwa gairah yang meluap-luap ini memang murni untuk dirinya. Jimin menyadari bahwa ia menginginkan sebuah pernikahan yang nyata, bersama Yoongi.

Yoongi bagaikan malaikat yang menariknya dari kegelapan. Hatinya yang kelam telah tersentuh oleh secercah Matahari semenjak kehadiran Yoongi. Dan Jimin tidak ingin melepaskannya.

"Baiklah," suara pelan terdengar dari bibir Yoongi, terdengar enggan seolah-olah Yoongi tidak benar-benar setuju dengan dominasi Jimin dalam hubungan ini.

Dan itu membuat Jimin senang, seorang isteri yang selalu setuju dengan pendapat suaminya sama sekali tidak menyenangkan. Di dalam kehidupan pernikahan yang nyata, terdapat banyak ketidaksepakatan, sebanyak kasih sayang, tawa, maupun kesetiaan. Jimin tersenyum dan menatap Yoongi dengan penuh bergairah.

"Apakah kau sudah siap untukku Yoongi?" jemari Jimin mengusap ujung payudara Yoongi dengan lembut.

"Aku…" sekujur tubuh Yoongi bergetar,

"Mungkin aku perlu memeriksanya dulu,"

Jimin meluncurkan sebelah tangannya dari payudara Yoongi, mengusap perut Yoongi yang basah dan terus bergerak turun. Dan karena kaki Jimin, entah sejak kapan, berada di antara kakinya, Yoongi tidak bisa menghalangi niat Jimin kalaupun ia ingin.

Jimin bergerak perlahan-lahan, memperhatikan isyarat sekecil apapun kalau-kalau Yoongi ingin berhenti. Di luar dugaan, Yoongi tidak menolaknya sama sekali, tubuh perempuan itu menyambutnya dengan gemuruh gairah yang sama, membuat Jimin harus menggertakkan gigi demi menahan hasratnya yang semakin membuncah.

Yoongi membiarkan jemari Jimin menyentuhnya lebih intim. Tubuh Yoongi begitu lembut dan halus, sesekali ia gemetar ketika Jimin menyentuh tubuhnya di bagian yang paling sensitif, berusaha menemukan pusat dirinya yang sudah basah dan panas. Ketika akhirnya menemukannya, Jimin menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda dengan sensual, membuat Yoongi mengerang frustasi hingga tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Jimin sendiri sudah menegang putus asa.

"Ya, kau memang sudah siap," ucap Jimin sangat parau,

Lalu mendorong Yoongi terbaring di ranjangnya yang berseprai satin hitam. Jimin mengangkat kedua tangan Yoongi, meskipun Yoongi sedikit melawan akan hal itu. Sambil meletakkan kedua tangan Yoongi ke atas kepalanya, kemudian Jimin bergerak menindih Yoongi menghapus jarak di antara keduanya. Yoongi menatap Jimin dengan liar, merasakan seperti dejavu teringat peristiwa yang mirip, ketika Jimin mengikat kedua tangan Yoongi di atas kepala dengan dasinya, apakah Jimin akan mengikatnya lagi?

"Aku tidak perlu mengikatmu sayang," Jimin melepaskan tangan Yoongi dan mengecup bibirnya penuh gairah, jemarinya menyentuh kembali payudara Yoongi, membuat seluruh tubuh Yoongi menggelenyar panas.

"Jimin, nhh…" tubuh Yoongi bergetar karena gairah panas,

"Betul sayang, ucapkan namaku," Jimin bergeser turun dan menunduk, lalu mengulum puncak payudara Yoongi dalam bibirnya yang panas.

Yoongi mengerang setengah meronta, "Jimin… ahh… please…"

Erangan itu membuat Jimin ingin menyerah kepada Yoongi. Tubuhnya sendiri sudah sangat bergairah sampai terasa nyeri, Tetapi ia tahu betapa pentingnya mencumbu Yoongi sebelum bercinta dengannya. Setelah bercinta nanti, ia pasti ingin mencicipi Yoongi, lagi dan lagi. Dia ingin isterinya terus menginginkannya dengan hasrat yang sama besarnya.

Jimin menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Yoongi secara perlahan, kemudian Yoongi melingkarkan kedua kakinya di tubuh Jimin, mendekap Jimin ke tubuhnya, mulai membuka diri.

"Belum, sayang," Ketika Yoongi membuka bibirnya untuk memprotes, Jimin menciumnya lagi.

Karena bibir Yoongi telah terbuka, ciuman itu berlangsung dengan sangat sensual. Jimin mulai membelah kedua bibir Yoongi, menggodanya dengan belaian dan jilatan lidahnya kemudian mencicipi bibir Yoongi dengan sedikit lebih dalam.

Kedua tangan Yoongi mencengkeram rambut Jimin, menjambaknya dengan lembut sebagai pelampiasan, untuk sejenak Yoongi tampak ragu, tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Jimin dengan malu-malu dan hati-hati.

Jimin tidak dapat menahan diri lagi. Ia sudah berada di dalam tubuh Yoongi sebelum mereka

sempat menarik napas. Yoongi merapat, berusaha agar mereka menyatu lebih dalam lagi. Jimin menahan diri, meskipun gairah membuat tubuhnya menegang sempurna.

"Cium aku sayang, cium aku seperti kau menginginkanku untuk berada jauh di dalam dirimu, di dalam tempat yang belum pernah didatangi oleh siapapun." Yoongi merespon dengan malu-malu tetapi tepat, tubuh Yoongi sedikit maju ke atas, lalu menangkup wajah Jimin dengan kedua tangan dan menciumnya.

Kelembutan sikap Yoongi mengguncang Jimin, dan meruntuhkan segenap kendali dirinya. Sambil menjalin jemarinya dengan jemari Yoongi, Jimin mendesak lebih dalam. Api gairah berdesir di dalam tubuhnya, mendesaknya untuk menandakan kepemilikannya pada diri Yoongi.

Sambil menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Jimin bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Yoongi. Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Yoongi adalah miliknya. Selamanya, hanya dirinya yang boleh memiliki Yoongi.

Jimin meraih bibir Yoongi dengan ciuman rakus, memagut segala kelembutan pada bibir Yoongi dengan begitu intens dan bergerak kembali dengan kekuatan penuh. Bagi Yoongi, kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan seberapa jauh ia merasa melayang di udara. Sementara bibir mereka bertautan, sebelah tangan Jimin kembali bergerak ke payudara Yoongi, membelainya hingga merasakannya dengan hasrat memuja. Yoongi hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan itu dan dia berusaha menahan dirinya,

"Lepaskan sayang, jangan menahan diri lagi," alunan lembut Jimin seolah mengerti apa yang dirasakan Yoongi, permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Yoongi yang nyaris tenggelam dalam hasrat gairahnya.

Dan ketika jemari Jimin menyentuh sekujur tubuhnya, Yoongi menyerahkan dirinya. Tubuhnya mendesak di tubuh Jimin sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya. Orgasme Yoongi menggiring Jimin hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Yoongi. Terbenam dalam puncak kepuasannya.

.

.

.

Kehidupan perkawinan mereka berlangsung seperti yang seharusnya. Setiap malam Jimin selalu menyentuhnya, gairahnya seperti tak pernah habis. Tetapi hanya itulah saat mereka bisa dekat. Yoongi mengernyit menyadari bahwa dia hanya bisa dekat dengan suaminya ketika mereka bercinta. Jimin memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia tidak pernah kasar dan memaksakan kehendaknya lagi.

Lelaki itu hanya mengangkat alisnya ketika Yoongi mulai membantah kata-katanya, kemudian melangkah pergi. Memilih menghindari konfrontasi dengan isterinya.

Pernikahan mereka sudah berlangsung hampir dua bulan dan Yoongi masih merasakan ada yang mengganjal di hatinya. Oh ya, dia menyadari bahwa landasan pernikahan ini sudah salah dari awal. Hanya berlandaskan kontrak kerja yang dilapisi hasrat. Belum lagi alasan yang tidak mau diakui Jimin, bahkan sampai sekarang ini ; bahwa Yoongi hanyalah pengganti Suga.

Yoongi tidak pernah lagi mengunjungi sayap rumah yang menyimpan lukisan Suga itu, dan Hoseok bahkan sudah tidak pernah menyinggung tentang isteri pertama Jimin lagi.

Yoongi curiga bahwa Jimin melarang Hoseok dan semua orang di rumah ini membahasnya. Karena Jimin sendiripun tampak tak pernah menjelaskannya, Yoongi menjadi semakin bingung. Akan seperti apakah pernikahan ini nantinya?

Salahkah ia ketika menerima lamaran Jimin waktu itu? Dan satu lagi pertanyaan yang mulai mengusik hatinya, apakah ia mencintai Jimin?

Semakin Yoongi mencoba memikirkannya, semakin kepalanya terasa sakit. Ah, dia memang sering merasa pusing akhir-akhir ini, pusing yang aneh karena timbul tenggelam tanpa tahu waktu.

"Yoongi?" Jimin tiba-tiba sudah ada di depannya,

"Kau kenapa?" Lelaki itu mengernyit melihat Yoongi yang berjalan terhuyung-huyung sambil berpegangan di dinding lorong.

Yoongi mencoba berdiri tegak, tetapi pusing kali ini benar-benar menyerangnya dengan kuat sehingga dia oleng. Seketika itu juga Jimin langsung menangkapnya.

"Yoongi?!" Suara panik Jimin masih terdengar sebelum semuanya ditelan dalam kegelapan.

.

.

.

"Nyonya Yoongi hamil, selamat Tuan!" dokter tua itu menyalaminya dengan penuh semangat, "Akhirnya ada calon penerus nama Park yang akan terlahir." Jimin pucat pasi. Dokter itu terus berceloteh tentang kehamilan dan calon bayi mereka, tetapi yang ada di benak Jimin hanyalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang selama ini coba dia lupakan, dan sekarang kembali datang menghampirinya.

Jimin menyuruh Hoseok mengantar kepergian dokter itu, kemudian Hoseok kembali dan menatap Jimin dengan cemas. Lelaki itu tentu tahu apa yang berkecamuk di dalam hati maupun pikiran Jimin.

"Dia hamil," Jimin mengulang pemberitahuan dokter tadi, meskipun dia tahu Hoseok sudah mendengarnya, dia hanya ingin mengucapkannya supaya benar-benar yakin bahwa mimpi buruk itu ternyata telah menjadi nyata.

"Kondisi nyonya sangat sehat Tuan…"

"Sehat katamu?" Jimin membentak marah.

"Dia tadi pingsan di depanku, tampak pucat dan begitu lemah!"

"Tetapi Nyonya Yoongi tidak sama dengan…"

"Diam!" Jimin menggeram marah, matanya menyala-nyala penuh emosi.

"Yoongi tidak boleh hamil!" serunya memutuskan.

.

.

.

Yoongi membuka matanya dalam cahaya temaram di kamar Jimin. Yang ditemukan pertama kalinya adalah Jimin yang sedang duduk dengan wajah muram di kursi samping ranjang, sepertinya lelaki itu sedang menunggunya tersadar.

"Apa yang terjadi?" tanya Yoongi lemah, memegang kepalanya dan mengernyit, masih terasa pusing.

Jimin menatapnya tajam, tampak tidak suka dengan pemandangan Yoongi yang mengernyit kesakitan.

"Kau hamil," gumamnya datar.

"Oh," Yoongi terkesiap, otomatis langsung memegang perutnya dan menutupinya dengan gerakan melindungi.

Jimin mengikuti arah pandangan Yoongi dan ekspresi wajahnya mengeras.

"Kau harus menggugurkannya."

Kali ini Yoongi benar-benar terkejut dengan kata-kata Jimin sampai hampir terduduk dari ranjang. Tetapi rasa pusing langsung menghantamnya, hingga dia terbaring lagi.

"Apa katamu Jimin?" Yoongi menatap Jimin tak percaya. Dia tahu lelaki ini memang kejam. Tetapi meminta Yoongi mengugurkan kandungannya, yang adalah darah dagingnya sendiri benar-benar di luar dugaan.

"Aku tidak menginginkan anak itu, kau harus menggugurkannya segera, Yoongi."

.

.

.

.

.

Tbc.

Tunjukkan eksistensi kalian sebagai pembaca ini, yo?

Thankyu~

Jimsnoona.