Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha.
.
.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 15
"Tidak!" Yoongi berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Yoongi tidak tahu bagaimana perempuan hamil, dia memang tidak punya pengalaman, tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Yoongi langsung tahu bahwa ada sebuah ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya.
"Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Park Jimin! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!" Jimin menatap Yoongi dengan pandangan kesakitan pilunya.
"Aku tidak bisa Yoongi, aku tidak bisa kalau kau hamil!" lelaki itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu dalam sekali teguk. Ketika membanting gelasnya dan menatap Yoongi, matanya menyala-nyala,
"Suga, dia sempat hamil kau tahu, kemudian keguguran…" Yoongi tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Jimin.
Nama Suga seakan tabu untuk diucapkan ketika Yoongi masuk ke rumah ini sebagai Nyonya Park. Dan sekarang Jimin sendiriah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
"Tetapi kondisiku dan Suga berbeda, aku sehat-sehat saja…"
"Yang tidak orang lain ketahui adalah Suga hamil lagi setelah keguguran itu," Mata Jimin nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Yoongi di ruangan itu.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Suga berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya," Nafas Jimin tercekat,
"Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Suga sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan membuatnya semakin lemah. Kehamilan itu yang membunuhnya!"
"Tapi aku tidak sama dengan Suga, Jimin." Yoongi menyela, berusaha mengembalikan Jimin ke masa kini.
"Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku."
"Aku tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!" Jimin menyela marah, dan ketika menyadari wajah Yoongi memucat karena suaranya yang meninggi, Jimin memperlembut suaranya, tatapannya memohon.
"Aku minta padamu Yoongi, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi."
.
.
.
Dada Yoongi bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Jimin dan betapa egoisnya dia! Betapapun Jimin merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Yoongi, seharusnya lelaki itu sadar kalau yang ada di perut Yoongi ini adalah darah dagingnya, anaknya!
Sebegitu tidak berharganyakah Yoongi di mata Jimin sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Jimin kepada Suga di Masa lalu?
"Tidak Jimin," Yoongi menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap.
"Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya menganggapnya sampah…" Yoongi menatap Jimin dengan tatapan terluka yang dalam,
"Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga… dia adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku."
Jimin tertegun mendengar ancaman Yoongi itu, dia menatap Yoongi dan menyadari perempuan itu terluka. Jimin terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu melukai Yoongi. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah.
"Dengar Yoongi, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku…"
"Aku tidak ingin menentangmu!" Yoongi setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai. "Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Suga, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!"
'Anakmu juga.'
Kata-kata itu terasa menusuk dada Jimin hingga membuatnya mengernyit. Anaknya juga… Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Jimin pernah mengalaminya sekali. Dan jika dia harus mengalaminya lagi…
"Mungkin nanti kau akan berubah pikiran."
"Tidak akan Jimin." Yoongi menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi. Dan Jimin menatapnya dengan penuh rasa cemas, "Apakah kau pusing lagi?"
"Ya," Yoongi mengerang dan memijit kepalanya.
"Aku akan mengambilkanmu air," Jimin menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Yoongi,
"Ini… minumlah."
Yoongi menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Jimin meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang. Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Jimin langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Jimin tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua.
Yoongi-lah yang pertama kali memecah keheningan,
"Kau ingin tidur?"
Jimin menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah. Yoongi menggeser tubuhnya memudahkan Jimin untuk berbaring. Lelaki itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan.
Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.
.
.
.
Pagi harinya suasana begitu dingin, Jimin seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Yoongi tetap waspada. Mengingat sifat Jimin, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya. Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu?
Mengingat lelaki itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Hoseok.
Yoongi mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Jimin lebih mementingkan kenangannya akan Suga daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Yoongi harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini. Anak yang tengah dikandungnya.
"Anda akan mempertahankan anak itu kan?" suara Hoseok menyentakkan Yoongi dari lamunannya. Lelaki itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Yoongi.
Yoongi menatap Hoseok dan mencoba tersenyum, Hoseok sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Hoseok pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Jimin.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini."
Senyum terukir di bibir Hoseok, "Tidak nyonya, Tuan Jimin tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan Jimin menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Park yang harus saya hormati pula."
Kelegaan meliputi hati Yoongi, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Yoongi menatap Hoseok dengan ragu,
"Apakah kau tahu bahwa Suga meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?" Hoseok menatap Yoongi hati-hati dan menganggukkan kepalanya.
"Saya tahu, setelah kematian nyonya Suga. Hal itulah yang menghancurkan Tuan Jimin, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Suga. Nyonya Suga bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil…" Hoseok menghela nafas panjang dan menatap Yoongi lembut.
"Saya harap Anda memahami perasaan Tuan Jimin."
"Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Suga, dia menganggapku sama seperti Suga," Yoongi memejamkan matanya pedih.
"Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya," Hoseok menatap perut Yoongi dan tatapannya melembut di sana.
"Saya yakin Tuan Jimin tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Suga. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan Jimin adalah karena dia peduli kepada Anda."
Peduli kepadanya?
Bagaimana bisa?
Jimin menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut suatu kepedulian?
"Tuan Jimin menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Suga, dia takut kehilangan Anda." Yoongi menatap Hoseok dengan tak percaya.
"Dia tak mungkin takut kehilanganku."
"Percayalah kepada saya," Hoseok tersenyum lembut.
"Tuan Jimin memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu,"
Hoseok membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Yoongi dalam keheningan.
.
.
.
"Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?" Yoongi menatap Jimin yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Jimin memasuki kamar sedemikian larut, dan lelaki itu tampak lelah.
Jimin menatap Yoongi sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, ketika keluar dari sana, lelaki itu tampak segar dengan piyama abu-abunya.
"Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marah-marah sepanjang malam," dengan kasar Jimin menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Yoongi.
"Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu."
"Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah."
"Kita akan berdebat lagi malam ini ya," Jimin mendesah lelah.
"Aku lelah Yoongi, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu."
"Jimin," seru Yoongi setengah marah.
"Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!"
"Oke!" lelaki itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka.
"Silakan, lanjutkan kehamilanmu itu… tetapi…" mata Jimin menajam,
"Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi lagi."
Jimin mengalah. Yoongi terpana, sebelumnya Jimin tidak pernah mengalah secepat itu. Yoongi tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati-matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Jimin semudah itu mengalah kepadanya.
"Kenapa?" Jimin menatap Yoongi marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Yoongi.
Yoongi langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, "Tidak-tidak ada apa-apa."
"Tetapi aku punya satu syarat," gumam Jimin tenang, seolah-olah baru mengingatnya.
Yoongi terkesiap dan menatap Jimin waspada, dan reaksi itu membuat Jimin menahan tawanya.
"Tenang Yoongi, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu."
"Apa syaratmu?" Pandangan Jimin berubah sensual.
"Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu."
Pipi Yoongi memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Jimin. Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Jimin mengganggu kehamilannya…
"Baik," Yoongi mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang.
"Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku." Jimin hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Yoongi, matanya menyala dengan sensual.
"Apakah kau masih pusing seperti semalam?" Yoongi tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Jimin yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya. Jimin pasti akan bercinta dengannya ketika Yoongi sudah tidak pusing. Dan Yoongi tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah Jimin.
Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit pelan.
"Sebenarnya aku masih pusing."
"Benarkah?" Jimin menatapnya tajam bercampur kecemasan.
"Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah."
"Sudah…" sedikit geli Yoongi melirik Jimin, tetap berusaha berakting kesakitan.
Lelaki itu menatap Yoongi lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Yoongi bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Jimin sudah siap, keras, dan bergairah di sana.
Lelaki itu sudah begitu bergairah, dan Yoongi tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa…
Tetapi tidak! Yoongi tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Jimin, Yoongi ingin menghukum Jimin karena hatinya masih sakit atas usulan Jimin untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku pusing sekali," Yoongi sengaja membuat suaranya terdengar lemah.
"Aku mau tidur," Dengan gerakan sakit dibuat-buat Yoongi mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman.
Jimin hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Yoongi. Dia sudah dua hari tak bercinta dengan isterinya itu karena biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Yoongi yang sedang sakit kan?
Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Jimin melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan.
"Jimin," suara Yoongi menggugah penyiksaan yang dialaminya.
"Apa Yoongi?" Jimin menjawab kasar.
Diam-diam Yoongi tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Jimin. Rasakan kau, Tuan Park Jimin yang arogan, soraknya dalam hati,
"Aku… aku pusing…, maukah kau memijit kepala dan pundakku?"
.
.
.
.
.
Tbc.
Siapa yg ngedukung Yoongi buat ngehukum Jimin kayak gitu? xD Biar tau rasa si Jimin.
Terima kasih buat semuanya yg udah nyempetin review, fave sama follow. Fast update kan ini? serba salah juga Jims di sini, fast update eh pada ketinggalan, giliran updatenya lama banyak yg nagih. Yasudahlah, tengah tengah aja ya.
Rnr pwease? :3
thankyu.
Jimsnoona.
