Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
MinYoon version ©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha. Jims sedikit menambahkan pada chapter ini.
.
.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 16
Mata Jimin menyala ketika menatap mata Yoongi. Perempuan ini menatapnya tanpa dosa. Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Jimin?
Memijit Yoongi? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana Jimin bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Yoongi di tangannya?
"Oke, berbaliklah," Jimin menggeram lagi.
Yoongi tidak pernah meminta tolong kepadanya dan kalau Yoongi melakukannya, itu berarti Yoongi benar-benar kesakitan.
Jemari Jimin bergerak menyentuh kepala Yoongi, ke helaian rambut seperti sutera yang terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Jimin menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat di atas tubuh isterinya…
Sial!
Jangan pikirkan tentang itu, Man!
Jimin memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Yoongi terus menerus mendesah keenakan karena pijatan Jimin. Bahkan kadang mengerang, persis seperti erangannya ketika Jimin mencumbunya, dan itu luar biasa menyiksanya. Kejantanan Jimin sudah berdenyut-denyut dan Jimin merasa dirinya hampir meledak karena gairah, gairahnya kepada Yoongi.
"Sudah cukup?"
"Aku masih sedikit pusing di sisi ini," Yoongi memiringkan kepalanya, memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Jimin ingin mengigit lembut di bagian lunak sebelah sana…
Sial, sial, sial!
Sambil terus memijit Yoongi, Jimin menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Yoongi tampak santai, Jimin melepaskan pijitannya dengan hati-hati.
Bagus. Yoongi sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Jimin bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.
"Jimin."
Hampir saja Jimin mengerang mendengar panggilan Yoongi,
"Apa Yoongi?" desis Jimin serak.
"Sekarang aku sudah tak pusing lagi."
Hening.
Jimin tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Yoongi, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.
"Bagus," bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Yoongi dan melumat bibirnya tanpa ampun.
Gairahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Jimin menyentuh Yoongi di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati betapa tubuh Yoongi yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya.
Jimin mengecup seluruh tubuh Yoongi dengan penuh gairah membara, memberikan beribu tanda kemerahan, sebagai bukti hak milik di setiap inchi tubuh Yoongi dengan isapan kuatnya. Dan yang bisa Yoongi lakukan tak lain hanyalah meloloskan desahannya saat tangan kekar Jimin menyentuhnya semakin intim.
Payudara Yoongi tampak lebih berisi, mungkin karena kehamilannya. Ketika akan menyentuhnya seperti biasanya, Jimin tertegun dan menatap Yoongi,
"Apakah aku akan menyakitimu?" Yoongi tersenyum meminta pengertian.
"Sedikit nyeri di bagian situ," desahnya pelan sembari menggigiti bibir bawahnya.
Jimin tidak mengatakan apa-apa, lelaki itu hanya mengecup ujung payudaranya dengan sangat lembut, lalu memainkannya dengan lidahnya secara hati-hati, tangannya turun ke bawah dan menyentuh pusat kewanitaan Yoongi yang basah dan panas, menemukan bahwa Yoongi sudah siap dan bergairah untuknya.
Dengan menahan dirinya, Jimin menindih Yoongi dan menyatukan tubuhnya, menempel erat tanpa jarak yang tersisa, Jimin berusaha menahan diri supaya berhati-hati, karena isterinya ini sedang hamil.
Ya ampun!
Tubuh mereka menyatu dengan sempurna, hingga Jimin bergerak selembut yang dia bisa. Akan tetapi gairah sungguh menyala-nyala di seluruh aliran darah dan napasnya ketika akhirnya Yoongi mencapai puncak orgasme yang begitu tinggi, membawanya juga terjun bebas ke dalam jurang kepuasan yang amat dalam melampaui Samudera.
.
.
.
Pagi itu Jimin mulai terbangun dari tidur lelapnya. Menoleh sesaat untuk melihat keadaan isteri cantiknya yang masih tetap sama, Yoongi berada dalam dekapan hangatnya. Kehamilan isteri cantiknya sudah memasuki bulan trimester akhir yang tentu saja membuat perutnya makin membuncit.
Dalam pengawasannya selama ini Yoongi baik-baik saja, walaupun Jimin sempat kewalahan saat isterinya tengah mengalami masa ngidam yang cukup menyiksa dirinya. Alih-alih Yoongi pernah menyembunyikan acara ngidamnya namun Hoseok sebagai pegawai setianya akan dengan senang hati membeberkan semuanya kepada Jimin.
Pernah suatu ketika Yoongi meminta Hoseok membelikan jajanan kaki lima pada sebuah kedai kecil di pinggir jalan yang tentu saja tanpa sepengetahuan Jimin. Yoongi bersikeras akan membelinya jika Hoseok melakukan sebuah penolakan, akan tetapi Yoongi merasa senang begitu Hoseok mau menurutinya. Dan tentu saja membuat Jimin sedikit emosi mendengar pelaporan hal tersebut.
Semuanya mengalir begitu saja, Jimin tetap seperti biasanya dengan sifat ketidakpeduliannya terhadap kehamilan Yoongi. Ada saat dimana Yoongi meminta hal yang cukup mencengangkan baginya. Jimin bisa melihat jika wanita itu tampak ragu meminta satu hal itu kepadanya, permintaan Yoongi yang kini menjadi suatu rutinitasnya setelah bangun tidur dan di saat-saat tertentu.
"Ngh…" gumaman halus itu menyadarkan Jimin dari lamunan panjangnya, itu suara Yoongi yang masih setengah sadar.
"Selamat pagi." Sapaan itu Jimin berikan dengan konotasi yang datar, membuat Yoongi menoleh ke arahnya dengan ulasan senyum tipisnya.
"Jimin… sepertinya,"
"Aku tahu…" Jimin mendekat kearah Yoongi, gesturnya yang sedikit ragu mulai menghapus jarak di antara keduanya.
Yeah, permintaan Yoongi yang sudah menjadi sebuah kebiasaan di masa kehamilannya yang entah bisa disebut acara ngidamnya atau tidak. Sebelumnya Jimin memang melakukan penolakan hebat, namun dengan segala keluh kesah Yoongi yang dilaporkan dengan Hoseok membuat hatinya seakan terenyuh begitu saja. Yoongi hanya meminta suaminya mengelus perut buncitnya setelah ia terbangun di pagi hari. Dengan berat hati Jimin mau mengabulkannya.
"Suamiku yang terbaik…" Yoongi memejamkan matanya sejenak saat tangan Jimin mengelus daerah perutnya secara sensual.
Sentuhan Jimin pada perut buncitnya membuat pikirannya begitu tenang. Hati Yoongi berbunga melihat Jimin yang mulai menunjukkan adanya perubahan walaupun hanya sedikit. Akan tetapi pergerakkan janin di dalam rahimnya yang secara tiba-tiba membuat Jimin menghentikan perbuatannya dan mulai menghindarinya.
"Aku harus berangkat."
Jika seperti itu yang Yoongi lakukan hanyalah tersenyum maklum, Jimin memang begitu perhatian dengan caranya sendiri. Hubungan mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambah usia kehamilannya, Yoongi menyadari bahwa dia menyayangi suaminya. Ya, Yoongi menyadarinya ketika dia merindukan Jimin saat lelaki itu tidak ada di sisinya.
Astaga…
Merindukan Park Jimin adalah hal terakhir yang ada di pikiran Yoongi, tetapi itu memang terjadi.
Sembilan bulan telah berlalu, sekarang perut Yoongi sudah benar-benar buncit dan gerakannya lamban. Yoongi bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri karena terhalang oleh perutnya. Dengan lembut Yoongi mengusap perutnya, mungkin karena anak ini, mungkin juga karena perubahan hormon. Yoongi tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat Jimin, perasaannya menjadi hangat tak menentu arah.
Oh, Jimin masih sama, begitu dingin, kaku dan menakutkan bagi para pegawai hingga rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di ranjang mereka.
Gaya bercinta Jimin berubah sejak Yoongi hamil. Bahkan ketika usia kehamilan Yoongi beranjak makin tua, lelaki itu tidak menyentuh Yoongi lagi, sama sekali! Dia hanya mengusap lembut perut Yoongi sebelum mereka beranjak tidur. Dan meskipun masih belum kelihatan bisa menerima kehamilan Yoongi, setidaknya Jimin terlihat mencoba berkompromi dengannya.
Benarkah Jimin sebenarnya mencemaskan Yoongi?
Benarkah Jimin sebenarnya tidak menganggap Yoongi sebagai boneka pengganti Suga?
Jawabannya Yoongi tidak tahu sama sekali. Memikirkan itu semua membuat dadanya terasa seperti diremukkan secara paksa, begitu sakit dan sesak. Teringat akan sikap Jimin selama kehamilannya, lelaki itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya tetapi lelaki itu selalu berpura-pura bahwa kehamilan Yoongi tidak ada.
Yoongi tahu Jimin seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Yoongi membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya, dari sekelebat matanya, Yoongi tahu bahwa Jimin sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat buku-buku itu, tetapi tertahan karena Hoseok sudah membantunya duluan.
Pernah juga Yoongi membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi Jimin bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur. Yoongi juga teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Jimin pernah memeluknya dalam tidur, mereka bercumbu siap untuk bercinta, kemudian bayi itu menendang terasa begitu kencang hingga menohok ke perut Jimin, lelaki itu langsung mundur, mengucapkan berbagai alasan kemudian beranjak pergi.
Sebegitu paranoidkah Jimin dengan kehamilannya?
Sebegitu takutkah Jimin dengan bayi ini?
Bukankah keberhasilan Yoongi mengandung bayi ini hingga usia sembilan bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada Jimin bahwa Yoongi adalah calon ibu yang kuat dan sehat?
"Padahal kau tidak tahu apa-apa, Nak," Yoongi mengusap perutnya dengan sayang.
"Maafkan ayahmu yang konyol itu."
"Nyonya, ada yang ingin bertemu," Hoseok tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan Yoongi dari lamunannya.
Jungkook muncul di belakang Hoseok, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin baru berusia dua tahun. Anak itu seperti malaikat dengan mata hitam kelamnya yang menyala-nyala, mata Taehyung sekali.
"Aku dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?" Jungkook masuk, meletakkan Taejung dengan lembut di sofa dan memeluk Yoongi.
Sejak pernikahannya dengan Jimin, Yoongi bersahabat erat dengan Jungkook, dan Jimin membiarkannya karena memang Jungkook adalah satu-satunya teman Yoongi.
"Bagaimana kondisimu, sayang?" mereka duduk di sofa berhadap-hadapan, mata Jungkook menatap ke perut Yoongi yang terlihat membuncit.
"Kau harus banyak istirahat dan menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting."
Yoongi menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "semoga anak ini kuat, aku hanya merasa pusing-pusing dan mual setiap saat."
Jungkook tertawa, "Aku juga merasakan hal yang sama ketika mengandung Taejung, tapi di awal kehamilan bukan di akhir kehamilan," dengan sayang dia melirik putera pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermain-main di karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah.
"Rahasianya ada pada teh mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi morning sickmu, Yoongi."
"Terima kasih Jungkook,"
Yoongi menyentuh lengan Jungkook, benar-benar tulus dengan ucapannya. Berhari-hari dilewatkannya bersama Jimin yang selalu bersikap bahwa bayi itu tak pernah ada di perut Yoongi, kini rasanya begitu menyenangkan bisa bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya.
Jungkook menatap Yoongi prihatin, "bagaimana dengan Jimin?"
Jungkook tahu kisah tentang Suga tentu saja.
Yoongi mendesah,
"Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada, Dan dia… tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku… Aku jadi tidak yakin apakah aku hanya pengganti Suga atau..."
"Yoongi," Jungkook menyela dengan lembut.
"Terkadang ada laki-laki yang tidak bisa mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan cinta kepada Jimin?"
"Tidak mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya," pipi Yoongi merah padam.
Jungkook tersenyum, "Dan apakah kau mencintai suamimu, Yoongi?"
"Aku tidak tahu," Yoongi memegang pipinya yang mulai terasa panas.
"Perasaanku berubah, dulu aku begitu membencinya, tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira… Lalu aku memandangnya dengan lebih baik… sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada, apakah itu cinta, Jungkook?"
Senyum Jungkook melembut, "Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang perasaanku, rasanya memang membingungkan Yoongi. Kuharap kau menyadari perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Jimin menjelaskan perasaannya."
Yoongi menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang. Hanya sekejap seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Yoongi menggerakkan tubuhnya, hantaman itu terasa lagi. Lebih keras dan menyakitkan. Lalu dia merasakan basah, basah yang aneh.
Dia mendengar suara Jungkook yang terkesiap dan mengikuti arah pandangan Jungkook ke tengah pahanya… di sana, merembes begitu banyak darah yang menembus hingga pakaiannya.
Wajahnya pucat pasi, apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari taksiran persalinannya? Tetapi setahu Yoongi proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya didahului dengan pecahnya air ketuban atau keluarnya lendir bercampur darah… bukan pendarahan dalam jumlah seperti ini.
Ketika merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukul perutnya, Yoongi mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur. Terus, dan terus hingga membasahi roknya. Ada sesuatu yang salah di sini!
"Oh Tuhan, Yoongi, aku harus memanggil ambulan!"
Hoseok langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan, tetapi mengalirnya darah yang begitu banyak membuat kepalanya pening seketika.
Kegelapan langsung menelannya, membuat Yoongi tak sadarkan diri.
.
.
.
Ketika Jimin menerima telepon itu, dia sedang berada ditengah meeting penting. Tanpa pikir panjang, dia langsung melupakan semuanya dan meluncur secepat dia bisa ke rumah sakit tempat Yoongi katanya dibawa.
Tergesa-gesa Jimin berlari ke ruang gawat darurat dan hampir bertabrakan dengan Hoseok. Napas Jimin terengah dan menatap Hoseok yang tampak pucat dan cemas, Jimin melihat darah. Darah di lengan dan baju Hoseok yang kebetulan berwarna putih.
"Kenapa ada darah di bajumu," suara Jimin bergetar, menahan perasaan cemas yang membuat pikirannya bercabang kemana-mana.
"Nyonya… nyonya perdarahan, saya menggendongnya…"
Perdarahan?! Kenapa ada darah?
Mau tak mau ingatan Jimin melayang ke masa bertahun-tahun lalu ketika Suga mengalami keguguran, pendarahan yang sama.
"Di mana Yoongi?!"
"Dokter masih menanganinya Tuan."
"Jimin," suara Jungkook yang lembut mengalihkannya.
"Kondisi Yoongi mendekati kritis karena darahnya terus mengalir, dokter bilang ada yang salah dengan posisi plasentanya yang menutupi jalan lahir dan mengakibatkan perdarahan. Mereka sedang berusaha mengeluarkan bayinya."
"Bagaimana dengan Yoongi?" suara Jimin bagaikan erangan menahan siksaan.
"Yoongi tidak sadarkan diri sejak dibawa ke ambulan, Jimin." Jungkook memandang Jimin cemas,
"Mereka sedang berusaha di dalam sana," Jungkook menoleh pada ruang operasi di sudut dengan lampu merah yang menyala di atasnya.
"Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa."
Berdoa?
Jimin sudah lama tidak berdoa, dia pernah berdoa sebelumnya. Jiwanya yang kelam ini dulunya putih bersih. Percaya bahwa yang namanya Tuhan itu ada dan selalu tersedia untuk menolongnya. Tetapi Tuhan ternyata tidak ada ketika Suga yang dulu dicintainya meregang nyawa. Tuhan tidak ada. Itulah yang dipercaya Jimin setelah menguburkan Suga, sekaligus menguburkan seluruh kepercayaan yang dulunya pernah di pegangnya.
Jimin membuang hatinya, menjadi manusia berjiwa kelam yang jahat, dan kemudian lama- kelamaan wataknya berubah menjadi kejam. Tidak ada yang bisa menyentuh belas kasihan Jimin, tidak ada lagi.
Sampai ayah Yoongi datang dan menunjukkan foto anaknya untuk ditawarkan padanya. Jimin menyadari kemiripan itu, meskipun penampilan Yoongi di foto sangat berbeda dengan Suga, dengan kacamata tebal dan potongan rambut kunonya. Jimin tidak menampik, ketika membuat perjanjian pernikahan di usia Yoongi yang ke dua puluh lima itu murni karena ingin menjadikan Yoongi sebagai pengganti Suga.
Tetapi kemudian entah kenapa Jimin jatuh cinta kepada Yoongi, entah sejak kapan Jimin tidak tahu. Mungkin sejak dia selalu menerima foto-foto hasil pengintaian dari Hoseok yang membuatnya sadar bahwa Yoongi telah berkembang menjadi perempuan yang mandiri. Mungkin setelah percintaan yang dahsyat di malam pertama itu, atau mungkin juga setelah perkawinan mereka, Jimin tidak tahu. Yang dia tahu pasti, Yoongi tersimpan di hatinya. Hati yang dulu sudah dia buang dan ternyata selama ini hatinya masih ada di sana, menunggu untuk diisi kembali.
Dan sekarang, isteri dan anaknya sedang meregang nyawa di ruang operasi. Dan yang bisa Jimin lakukan hanyalah menunggu di sini seperti orang bodoh.
Isteri dan anaknya astaga! Bahkan Jimin selalu menutup mata, berpura-pura bahwa dia tidak mengakui keberadaan anak itu, selalu mengalihkan mata ketika menatap perut Yoongi yang semakin dan semakin membuncit setiap harinya. Yoongi berjuang sendirian selama masa-masa kehamilannya.
Sangat jauh dari yang dilakukannya ketika Suga mengandung, dia merawatnya, dia menjaganya di setiap langkahnya. Memastikan Suga sehat dan bahagia di setiap detiknya. Dan sekarang, kepada Yoongi, isterinya yang sesungguhnya sangat dicintainya, Jimin telah berbuat luar biasa jahat. Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?
Tuhan…
Jika Engkau benar-benar ada, Aku rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Yoongi.
"Kalau Yoongi tidak dapat diselamatkan," Suara Jimin tertelan di tenggorokannya.
"Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya."
Hoseok menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur Tuannya yang sedang cemas. Sementara Jungkook diam-diam menyusut air matanya. Jadi lelaki ini, yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai isterinya dengan segenap perasaan yang ia miliki.
Dengan sepenuh hatinya Jungkook berdoa,
'Kau harus hidup Yoongi, suamimu di sini, mencemaskanmu. Dia kelihatan sangat menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam, tetapi kau telah sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang lebih kelam.'
.
.
.
.
.
Tbc.
Ada yang mau usul apa nama yang cocok buat anaknya Jimin dan Yoongi? Kemarin yang minta Yoongi nya ngidam (GitARMY), sudah Jims tambahin seuprit ya. maapkeun kalau mengecewakan.
Btw Jims bingung nentuin kasus Yoongi di sini. Kayaknya sih Plasenta Previa. Tapi aslinya mbak santhy pake nambahin rasa sakit nyeri hebat sedangkan buat diagnosis Plasenta Previa gak ada nyeri hebat. Gak ada detail pastinya juga makanya Jims apus bagian nyeri kesakitannya Yoongi xD
Makasih banyak yang sudah mau nongol di chapter kemaren.
Thanks to (Reviewers ch 15) :
hannvv; gbrlchnerklhn; XiayuweLiu; bbihunminkook; Amelia307; Verver52; Jang Taeyoung: Diy94; INDRIARMY; vkris; GitARMY; DBSJYJ; Han Hyeji; siscaMinstalove; ayu andini; Cupid; peachpetals; AprilKimVTae; mas seungcheol; naranari II; Prasetyo Hestina845; 12; Yoonginugget; viertwin; 07; Guesteu; JonginDO; mari kim; rossadilla17; bizzleSTarxo; NanaKim7; yxxn; MINSEPHINEPARK9995; 95oppars; syub0393; mysuga; Vanillalovers; retna93; Guest; Reny Minyoon; annisadamayanti54; G'selviana851; sopiyuliawati15; GustiAyuArie; ut4; Wu Zhiyan; dyahsekar; Hanami96; Nyonya Jung; crownacre; aliens; BLUEFIRE0805; youngv97; vkookloveme; kurokuroninja; Guest; d14napink.
Mohon maaf kalau ada yang kelewat atau salah penulisan dalam usernamenya. Okay, bersediakah kalian nongol di kotak review lagi?
Sankyu :3
Jimsnoona.
