Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
MinYoon version ©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha.
.
.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 17
Entah sudah berapa jam waktu yang dibuang untuk proses operasi yang menyiksa itu, membuat Jimin duduk di sana dengan seluruh tubuh menegang dan tersiksa lahir maupun bathinnya. Hoseok masih menungguinya di sana, sementara Jungkook sudah berpamitan, karena puteranya membutuhkannya. Jungkook bilang akan kembali besok pagi.
Lalu terdengar tangis bayi. Tangisan bayi yang sangat kuat dan keras, seakan memompa seluruh udara yang ada ke dalam paru-parunya untuk bernapas. Jimin terkesiap dan saling berpandangan dengan Hoseok, tubuhnya makin menegang. Apakah itu suara anaknya?
Tiba-tiba lampu menyala hijau dan tak lama dari itu seorang perawat keluar, memanggil namanya, "Tuan Park Jimin."
Jimin diajak masuk ke ruangan dalam di bagian ruang persiapan operasi, yang menjadi pembatas antara ruang tunggu dengan ruang operasi.
"Ini Putera anda Tuan Jimin, kami menunjukkannya terlebih dahulu sebelum dia dibawa ke kamar bayi."
Bayi itu menangis begitu keras, seolah-olah memprotes kenapa dia direnggut dari kehangatan yang nyaman di perut ibundanya ke dunia yang penuh marabahaya ini.
Jimin mengamati bayi itu dengan takjub, mahluk kecil tak berdaya itu, yang selama ini tumbuh di perut Yoongi, darah dagingnya, yang tumbuh dari percintaannya dengan Yoongi. Makhluk itu begitu tak berdaya, dan ingatan bahwa Jimin memusuhinya dulu terasa begitu konyol. Anak laki-laki ini anaknya. Buah cintanya dengan Yoongi.
Untuk sesaat Jimin merasakan ada getaran hebat pada jantungnya, matanya menatap anaknya dengan penuh detail. Ada rasa penyesalan yang menyelinap di hatinya mengingat kembali saat dulu ia menolak keras kehadiran buah hatinya itu.
Sang Perawat menunjukkan alat kelamin bayi tersebut kepada Jimin, seorang anak laki-laki yang sehat. Dan wajahnya itu, yang bahkan sudah menunjukkan kemiripan khasnya dengan seluruh keturunan Park. Kemudian Jimin melihat anaknya di bawa ke ruang perawatan. Sejenak Jimin masih tertegun di sana, lalu teringat kepada Yoongi…
Yoongi… Bagaimana isterinya?
"Suster," Jimin memanggil suster itu, berusaha agar tidak terdengar panik.
"Bagaimana dengan isteri saya?"
Suster itu melirik ke ruang operasi sebentar, "Masih belum sadar Tuan, kondisinya cukup stabil meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi waktu-waktu mendatang, Anda bisa menengoknya nanti ketika dia sudah dipindahkan dari ruangan operasi ke ruangan Iccu." Suster itu pergi meninggalkannya, memaksanya menunggu ke dalam ketidakpastian yang menyiksanya lagi.
Kalau dulu, Jimin pasti akan membentak, memaksa, menggunakan cara kasar agar bisa dituruti kemauannya. Dia ingin melihat Yoongi segera! Kenapa para dokter tidak becus itu begitu lama menanganinya?!
Tetapi Jimin menahan dirinya. Tidak. Mereka sedang menyelamatkan Yoongi. Dia tidak boleh mengganggu mereka, karena nyawa Yoongi taruhannya.
.
.
.
Ruangan Iccu itu sepi, hanya ada Yoongi dan suara detak jantungnya yang tergambar di monitor. Yoongi masih belum sadarkan diri dan menurut penjelasan dokter tadi, kondisinya masih belum
lepas dari kritis. Jimin duduk di sana, di samping ranjang Yoongi, mengamati wajah Yoongi yang terbaring pucat pasi. Dia pernah mengalami ini sebelumnya dan ternyata Suga tidak pernah terbangun lagi.
Akanlah Yoongi melakukan hal yang sama pada dirinya seperti Suga yang dulu?
"Kau tidak boleh meninggalkanku Yoongi," Jimin menggeram dengan suara parau.
"Kau tidak boleh meninggalkanku sebelum aku mengizinkanmu, putera kita menunggu di sana, ingin disusui jadi kau harus bangun dan menyusuinya, membantunya tumbuh menjadi anak yang sehat… yang..," suara Jimin tertelan oleh isak tangisnya, menyadari bahwa dia sudah berkata-kata terlalu banyak dan Yoongi sama sekali tidak membalas perkataannya.
Jimin lalu menyentuh jemari Yoongi dan menggenggamnya, sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya.
"Maafkan aku," bisiknya sangat parau.
"Maafkan aku karena selalu memaksamu, menyakitimu, bahkan ketika kau mengandung anakku, aku tidak pernah memperhatikanmu seperti seharusnya, Yoongi." Dengan lembut Jimin mengecup punggung tangan Yoongi lama, penuh perasaan mendalam.
"Bangunlah sayang, akan kutebus semua kesalahanku padamu."
Hening, Hanya suara monitor jantung yang terdengar teratur di ruangan itu. Jimin menggenggam jemari Yoongi makin erat.
"Bangun sayang, apakah kau akan tega meninggalkanku dan putera kita? Kau bahkan belum memberinya nama, akan aku panggil apa dia?"
Mata Jimin berkaca-kaca, terasa panas membakar. Dia tidak pernah menangis sebelumnya, tetapi kediaman Yoongi yang begitu berbeda dengan kesehariannya yang berapi-api membuatnya merasakan aliran dingin merayapi benaknya.
Ketika kemudian panas membakar itu berubah menjadi tetesan hangat yang mengalir di sudut matanya, suara Jimin berubah serak.
"Aku mencintaimu Yoongi, isteriku. Dan aku bersumpah akan mengabdikan seluruh kehidupanku kepadamu jika kau mau bangun dari tidur pulasmu yang menakutkan ini."
Air mata Jimin menetes di jemari Yoongi. Dan kemudian jemari itu bergerak, membuat Jimin terpaku. Jemari itu bergerak lagi, samar-samar hingga kemudian gerakannya lebih mantap.
Bersamaan dengan itu, bulu mata Yoongi bergerak-gerak beserta kelopak mata cantiknya, membuat Jimin menunggu dengan cemas. Lalu setelah penantian yang sepertinya terasa seumur hidupnya, mata Yoongi terbuka langsung menatap mata Jimin yang basah.
"Kenapa… Kau… menangis?"
Jimin langsung memasang muka sedatar mungkin meskipun perasaannya meluap-luap, penuh rasa bahagia.
"Mataku kemasukan debu."
"Oh," Yoongi memejamkan mata lagi, sepertinya percakapan itu membuatnya lelah.
"Anakku?"
"Dia laki-laki kecil yang sehat dan sempurna, tangisannya sangat keras membuat para suster harus menutup telinga dengan kapas ketika mengurusnya."
Yoongi tersenyum, dan mencoba membuka matanya lagi.
"Namanya …"
"Apa Yoongi?"
"Aku mempersiapkan namanya…" suara Yoongi melemah,
"Yoonji."
"Yoonji?" Jimin mengerutkan keningnya, dari sekian banyak nama, kenapa Yoongi memilih nama itu?
Yoongi tersenyum lemah.
"Dia… putera… dari seorang… malaikat."
Aku iblis yang jahat! Bukan malaikat! Batin Jimin berteriak keras membantah. Setelah semua yang dia lakukan kepada Yoongi, perempuan itu masih menganggapnya sebagai malaikat?
"Men…cin…."
"Apa, Yoongi?" Jimin berusaha mendekatkan telinganya ke bibir Yoongi karena suara Yoongi semakin lemah,
"Aku… Mencintaimu… Jimin." Lalu Yoongi kembali tak sadar, meninggalkan Jimin kembali dalam tidur lelapnya.
Air mata mengalir lagi di mata Jimin, mata hati seorang iblis yang telah disentuh oleh sang malaikat. Yoongi salah, dia bukanlah malaikat. Yoongi adalah malaikatnya. Dan pernyataan cinta Yoongi membuat dada Jimin terasa sesak. Sesak oleh perasaan meluap-luap yang tak pernah terungkapkan sebelumnya.
.
.
.
Kondisi Yoongi membaik seiring berjalannya hari, bahkan pagi ini dia sudah diperbolehkan menyusui Yoonji, untuk pertama kalinya.
Yoongi menerima bayi itu di pelukan lengannya degan takjub. Bayinya, puteranya, yang selama ini bertumbuh di perutnya dan dikandung olehnya. Sekarang ada di dunia nyata, dengan rambut tebal hitam kelamnya dan mata cokelat milik ayahnya, yang sekarang sedang penuh air mata. Ya, Yoonji sedang menangis keras-keras sekarang, diikuti suara tangisnya yang sangat nyaring.
"Dia lapar." suster Lee terkekeh geli dan membantu Yoongi setengah duduk, Yoongi membuka gaun pasiennya dan mendekatkan payudaranya, Secara otomatis Yoonji langsung mencari dan melahap putting susu ibunya, kemudian menghisapnya dengan begitu rakus. Yoongi takjub merasakan bahwa puteranya berbagi makanan dengan dirinya, bahwa tubuhnyalah yang memberikan makanan untuk puteranya.
"Dia sepertinya sangat lapar," suara itu berasal dari ambang pintu dan Yoongi menoleh, mendapati Jimin berdiri di sana.
Hari ini jam sembilan pagi, dan Jimin sepertinya belum pernah pulang dari rumah sakit, lelaki itu tampak lelah. Jimin berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari puteranya yang menyusu. Puteranya sedang menyusu di tubuh isterinya. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya.
"Kau tampak lelah." Yoongi menatap Jimin lembut, tangannya meraih pipi Jimin, mengusapnya dengan tatapan prihatin.
Lelaki itu mengalihkan pandangan dari puteranya ke mata Yoongi, menatap Yoongi dengan mata beningnya yang berwarna cokelat.
"Aku belum pulang, Hoseok membawakanku baju ganti dan aku mandi serta bercukur di sini, di lantai atas aku punya kamar sendiri."
Yoongi baru sadar bahwa ini rumah sakit yang sama tempatnya dirawat setelah kecelakaan dan kemudian diculik oleh psikopat kejam itu. Ini adalah rumah sakit milik Jimin.
"Yah ini rumah sakit yang sama," Jimin tersenyum meminta maaf.
"Tetapi kali ini tidak ada lagi penjagaan di depan, aku sibuk mengurusmu sampai aku tidak sempat mencari musuh." Yoongi tersenyum mendengarnya. Tepat ketika Yoonji melepaskan putingnya dan tertidur lelap dengan pipi montoknya masih menempel di payudara ibunya.
Diperbaikinya posisi tidur Yoonji sehingga nyaman, dan Jimin mengikuti semua itu dengan pandangan lembutnya.
"Kau mungkin bisa pulang dan beristirahat Jimin…"
Jimin mengangkat bahu, "Aku akan pulang untuk beberapa urusan, mungkin beberapa jam, lalu aku akan kembali," dengan canggung Jimin berdiri, sejenak hanya menatap lama, lalu mengangguk dan melangkah pergi.
Seorang suster masuk dan berpapasan dengan Jimin di pintu, dia bertugas mengambil Yoonji dan membawanya ke kamar bayi.
"Sungguh anda isteri yang beruntung memiliki suami sebaik itu," suster itu tersenyum menatap punggung Jimin yang hilang di balik pintu.
"Dan seorang Park Jimin pula, Anda sungguh beruntung dicintai seperti itu."
Yoongi mengernyit, menyerahkan Yoonji untuk digendong sang suster dengan hati-hati.
'Beruntung? Apakah maksud suster itu dia beruntung karena memiliki suami seperti Park Jimin?'
"Oh, Anda tidak tahu ya?" suster itu meletakkan Yoonji dengan lembut di kereta kaca khusus bayi yang dibawanya kemudian menutupinya dengan kelambu transparan.
"Tuan Jimin sangat setia menunggui Anda saat tak sadarkan diri hampir 2 hari lamanya. Dia selalu ada di sana tak pernah meninggalkan Anda. Kondisi Anda saat itu masih belum pasti, kadang Anda tersadar dan meracau. Lalu tak sadarkan diri lagi, kadang kondisi Anda sangat drop sehingga kami harus menangani Anda secara intensif, dan Tuan Jimin menuntut untuk ada di sini, setiap detiknya mendampingi Anda. Ketika kondisi Anda stabil, dia ada di sebelah ranjang Anda, mengajak Anda berbicara dan menggenggam tangan Anda. Sepertinya semua penantiannya tidak sia-sia karena akhirnya Anda bangun dan membaik," suster itu tersenyum memuji.
"Sungguh suatu anugerah yang tak terkira, bisa memiliki suami sebaik itu."
Lalu dengan mendorong kereta bayi suster itu pergi meninggalkan Yoongi yang masih termenung di atas ranjang. Benarkah Jimin, Jiminnya yang sombong, arogan, dan pemarah itu melakukan semua yang dikatakan oleh suster itu? Benarkah Jimin mencemaskannya sampai sedemikian?
Rasanya tidak bisa dipercaya…
.
.
.
Yoongi sudah boleh pulang bersama Yoonji dan Jimin menjemputnya tepat waktu. Lelaki itu tidak berubah, tetap begitu dingin hingga Yoongi berpikir jangan-jangan yang dikatakan suster waktu itu hanyalah kebohongan atau khayalan semata. Jimin duduk di sebelah Yoongi dalam mobil itu diam dan menatap ke jendela, tampak menjaga jarak sepertinya.
"Kau… eh, sudah baikan?" Akhirnya Jimin memecah keheningan, menatap ringan pada Yoonji yang tertidur di pelukan Yoongi kemudian tatapannya melembut.
"Dia sepertinya sangat sehat."
"Dia menyusu dengan kuat," Yoongi tersenyum dan mengecup dahi Yoonji dengan sayang.
Semula Yoongi merasa sedikit takut atas reaksi Jimin kepada Yoonji. Lelaki itu membenci Yoonji dengan alasannya ketika dia di dalam kandungan Yoongi, apakah lelaki itu akan membenci Yoonji ketika dia sudah lahir ke dunia ini?
Sepertinya Jimin menyayangi Yoonji, meskipun tidak ditunjukkannya dengan kata-kata. Yoongi sering menangkap tatapan penuh kelembutan yang dilemparkan Jimin kepada Yoonji. Oh ya, Yoongi mengerti, seorang Jimin mungkin tidak bisa lepas dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada Anak kecil, tetapi Yoonji telah mencuri hati Jimin dan Yoongi mensyukuri itu semua.
Mereka sampai di rumah dan dengan takjub Yoongi menyadari bahwa kamar bayi sudah disiapkan. Kamar itu terletak di kamar kecil yang memiliki pintu penghubung dengan kamar mereka sehingga Yoongi bisa dengan mudah mendatangi Yoonji ketika putera mereka membutuhkannya.
Dengan lembut, Yoongi meletakkan Yoonji yang tertidur pulas di boks bayi berwarna babyblue. Bayi itu sangat pandai, tidak rewel dan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan suasana di tempat barunya. Jimin berdiri di ambang pintu penghubung dan mengamati Yoongi, kemudian membalikkan badannya hendak pergi.
"Jimin,"
Lelaki itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Yoongi,
"Ada apa?"
"Apakah… apakah setelah sekarang kita mempunyai putera, kau masih menganggapku sebagai pengganti Suga?"
Yoongi harus bertanya, dia tak tahan lagi memendamnya. Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putera dan Yoongi tidak mampu hidup dalam ketidakpastian semacam ini. Anaknya harus tumbuh di keluarga yang saling mencintai dan ketiika Jimin tidak bisa memberikannya, maka Yoongi akan pergi.
"Apa?" ada nyala api di mata Jimin dan itu seharusnya sudah bisa menjadi tanda peringatan untuk Yoongi, tetapi dia tidak mau mundur dan dia tidak bisa.
"Kau selama ini selalu menganggapku sebagai pengganti Suga. Sekarang kita mempunyai Yoonji, aku hanya ingin menunjukkan sikapku. Aku tak mau menjadi pengganti seseorang, jadi mungkin aku akan pergi bersama Yoonji."
Wajah Jimin mengeras. "Kau pikir apa yang sedang kau katakana padaku, Yoongi?"
"Aku sudah mempelajari surat perjanjian itu, dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus menikahimu di usiaku yang ke dua puluh lima tahun, tidak dituliskan ketentuan apabila kita
berpisah… saat ini aku ingin berpisah,"
'Kau bilang waktu itu kau mencintaiku!' Jimin ingin meneriakkan kata-kata itu di depan Yoongi, dia begitu marah hingga buku-buku jemarinya mengepal sampai memutih.
"Berani-beraninya kau mengajukan perpisahan kepadaku? Tidak pernah ada seorangpun yang bisa meninggalkan Park Jimin!"
.
.
.
.
.
Tbc.
Kurang baik apa Jims update di malam minggu, menemani kalian wahai para jombs. /?
Habis lahiran minta cerai… Cuma Yoongi yang kayak gitu.
Banyak yang ngusulin namanya ya hehe makasih banyak, Jims sampe bingung milihnya tapi akhirnya pake itu aja. Walaupun pasti kalian bacanya suka ketuker dikit Yoonji Yoongi. xD
Bisa nebak dong ya ff ini sudah mau tamat, heum.. biasanya chapter terakhir pada males review 'kan? Jadi Jims update sebulan kemudian aja.
See you dan terima kasih banyak! :3
Jimsnoona.
