Sleep With Mr. Park
Remake fanfiction from 'Sleep With The Devil'
Karya Santhy Agatha
MinYoon Fanfiction
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Rated: M
Warning :
OOC, Typo(s), Mature Content.
MinYoon version ©Jimsnoona
.
a/n: Fanfic ini merupakan remake dari sebuah novel yang berjudul 'Sleep With The Devil'karya Santhy Agatha.
.
.
Don't like, don't read.
.
.
.
BAB 18
Wajah Yoongi tampak sedih sekaligus kuat membalas tatapan Jimin yang membara.
"Aku tidak bisa hidup hanya sebagai boneka pengganti seseorang. Aku juga punya kepribadian sendiri dan aku lelah denganmu, Jimin."
Kemarahan Jimin yang semula memuncak langsung surut begitu saja mendengar perkataan Yoongi. Kenapa Jimin tidak menyadarinya? Yang diinginkan Yoongi hanyalah pengakuan bahwa dia bukanlah pengganti Suga. Hanya itu saja. Dan Jimin bodoh karena selama ini tidak menyadarinya. Baiklah, jika memang itu yang diinginkan Yoongi, dia akan memberikannya.
"Ikut aku."
Jimin menggandeng tangan Yoongi dan membawanya keluar kamar, dia setengah menyeret Yoongi yang kebingungan menuruni tangga, langsung menuju sayap kebun mawar itu. Sayap rumah di mana lukisan Suga terpasang rapi di balik pintu bernuansa emas.
Para pelayan tampak mengintip mendengar keributan itu, bahkan Hoseok juga muncul dari depan dengan waspada. Tetapi kemudian langsung mundur ketika menyadari bahwa Jimin membawa Yoongi ke sayap rumah itu.
Jimin berhenti menyeret Yoongi ketika mereka berada di pintu kamar emas itu,
"Kau ingin jawaban, bukan?"
Jimin melangkah masuk dan kemudian keluar lagi sambil membawa lukisan Suga yang semula tergantung di dinding. Lalu melangkah dengan langkah berderap marah meninggalkan Yoongi.
Dengan segera Yoongi mengikutinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Jimin kepada lukisan itu. Jimin melangkah ke halaman belakang, membanting lukisan itu di tanah, dan ketika Yoongi menyadari apa yang akan dilakukan oleh Jimin, semuanya sudah terlambat.
"Jangan!"
Terlambat. Jimin sudah melemparkan api ke lukisan itu, lalu dalam beberapa detik api itu sudah membakar kanvasnya yang rapuh. Seluruh lukisan Suga yang sedang hamil muda dan tersenyum itu habis menjadi arang tipis yang kehitaman dilalap oleh api yang begitu ganas. Yoongi berdiri terpaku menatap sisa pembakaran itu dan menoleh menatap Jimin dengan bingung.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Karena," Jimin tiba-tiba meraih Yoongi dan merenggutnya ke dalam pelukannya. Ciumannya kasar sekaligus mendamba, penuh gairah membara.
Bibir Jimin melahap bibir Yoongi seolah-olah akan mati bila tidak mencecapnya. Lidahnya menjelajah dengan banyak bergairah yang memuncak, mencicipi seluruh rasa manis Yoongi yang
sudah lama tidak dicecapnya. Jimin memuaskan kerinduannya, amarahnya dan rasa frustrasinya dalam ciuman itu. Sebuah ciuman menggelora yang hanya dilakukan oleh pasangan yang luar biasa merindu.
Ketika Jimin melepaskan ciumannya yang membara itu, tubuh Yoongi lemas hingga Jimin harus menopangnya dengan lengan kekarnya. Dalam gerakan tegas, lelaki itu mengangkat dagu Yoongi dan menghadapkan ke arahnya.
"Karena Nyonya Park Yoongi, aku mencintaimu, sungguh mencintaimu, sebagai Yoongi yang menjengkelkan dan keras kepala yang selalu menentang kekuasaanku." Jimin melumat bibir Yoongi lagi yang tengah menganga takjub dengan penuh gairah.
"Kau tersimpan di hatiku," dengan lembut Jimin membawa tangan Yoongi ke dadanya, jantungnya berdebar sangat kencang di sana.
"Hati ini dulu sudah kubuang jauh-jauh ke dasar, tetapi kau membawanya ke permukaan lagi dan
meletakkan dirimu di sana. Aku tidak bisa mengeluarkanmu dari sana setelahnya. Di dalam sini, sudah tersimpan dengan sangat rapih," Jimin menatap lukisan yang sudah terbakar habis itu.
"Aku pernah mencintai Suga sebelumnya. Tetapi sekarang, dia hanyalah kenangan yang harus kuhormati. Hanya itu. Cintaku kepadanya sudah pergi pelan-pelan seiring berjalannya waktu, dan kutegaskan padamu Nyonya Park Yoongi yang keras kepala, aku memperisterimu bukan karena kau harus menggantikan siapapun, aku memperisterimu karena aku mencintaimu dan ternyata kita sangat cocok di ranjang merupakan bonus tersendiri."
"Jimin…" pipi Yoongi memerah, berusaha menahan Jimin mengucapkan kata-kata vulgar yang lebih parah.
Mereka ada di ruang terbuka dan Yoongi tahu para pelayan yang terkejut dengan kehebohan itu sedang berkumpul di sudut-sudut, berusaha menguping dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jimin menghentikan ucapannya dan menyadari bahwa banyak yang mengintip mereka dengan diam-diam, tetapi dia tak peduli lagi.
"Sekarang Nyonya Park Yoongi, waktumu untuk menjawab!" Jimin berdiri di situ menatap Yoongi dengan tatapan arogannya, sejenak memunculkan dorongan hati Yoongi untuk melawannya.
Rupanya Jimin menyadari niat Yoongi entah dari ekspresi wajahnya, atau mungkin dari kilatan matanya,
"Dan jangan mencoba membantah," Gumam Jimin sombong,
"Aku tahu kau juga mencintaiku." Yoongi merasa pipinya memerah, panas sampai ke telinga-telinganya.
"Darimana kau berkesimpulan seperti itu?"
"Aku mendengar pengakuan itu langsung dari bibirmu," Jimin tersenyum puas menatap Yoongi yang kebingungan.
"Ketika kau terbaring koma, kau berkali-kali mengigau dan mengucapkan 'aku mencintaimu Jimin' berulang-ulang dengan kerasnya hingga semua dokter dan suster mendengarnya dengan jelas."
Sebenarnya Yoongi hanya mengucapkan satu kali dan hanya Jimin yang mendengarnya, tetapi sungguh memuaskan melihat wajah Yoongi yang makin memerah karena malu ketika mendengar kata-katanya barusan.
"A-aku tidak mungkin mengucapkan itu… mana buktinya?" Jimin bersedekap, menatap Yoongi dengan puas.
"Para dokter dan perawat bisa menjadi saksi," dia mulai merasa geli melihat ekspresi Yoongi yang tampak amat malu.
"Mungkin… mungkin itu akibat pengaruh obat."
Yoongi berusaha menghindari tatapan Jimin, merasa amat sangat malu. Benarkah dia meneriakkan kata-kata cinta kepada Jimin ketika dia sedang tidak sadar? Astaga alangkah malunya dia saat ini, dia tidak mau ke rumah sakit itu lagi. Titik.
Jimin terkekeh melihat ekspresi Yoongi yang berubah-ubah, dengan lembut dirangkumnya wajah Yoongi di kedua tangannya, menatapnya dengan beribu kelembutan.
"Yoongi, kau sungguh keras kepala. Di sini aku, seorang Park Jimin menyatakan cintanya kepadamu dan kau bahkan masih menyangkal perasaanmu kepadaku," tawa di mata Jimin menghilang dan berubah menjadi sensual. Bibirnya mendekat ke bibir Yoongi dan mengecupnya dengan kecupan yang panas dan menggoda.
"Katakan kau mencintaiku."
Yoongi mengerang dalam hati merasakan ciuman itu, Jimin curang telah memanfaatkan pesona tubuhnya untuk memaksa Yoongi mengakui perasaannya. Bibir Jimin mengecupnya dengan kecupan-kecupan kecil menggoda di sekitar bibrinya, membuat Yoongi ingin meminta lebih banyak lagi, bahkan lebih dari itu.
"Katakan Yoongi," bibir Jimin menggoda Yoongi lagi, lelaki itu sudah sangat mengenal Yoongi dan mengetahui kelemahan Yoongi, ketika Jimin mengigit bibirnya lembut dan melepaskannya. Yoongi setengah menjerit, setengah mengerang.
"Ya!" seru Yoongi hampir berteriak, marah karena didesak oleh sang suami.
"Aku mencintaimu Jimin!"
Jimin langsung melumat bibir Yoongi, memuaskan gairahnya dan mencium Yoongi lagi, dan lagi tanpa ampun, menghujamkan sejuta kasih sayang yang hadir diantara keduanya.
Para pelayan hanya menatap takjub kepada Tuan dan Nyonyanya yang berciuman dengan mesra di Taman. Pun Hoseok yang mengamati sedari tadi tersenyum samar, lalu membalikkan badan memasuki rumah dengan perasaan lega. Lega karena Tuannya, Park Jimin, akhirnya menemukan cahaya yang membawanya kembali kepada kebahagiaan.
.
.
.
Pesta itu berlangsung elegan, sebuah jamuan makan malam yang diadakan Jimin bersama rekan-rekan bisnisnya, untuk keberhasilan proyek mereka yang terbaru.
Yoongi ada di sana bersama Jungkook dan isteri-isteri pengusaha lainnya, mengamati Jimin yang ada di seberang ruangan, sedang mengobrol dengan rekan-rekannya.
Jantung Yoongi berdegup kencang. Dia sudah menghitung di kalendernya. Malam ini dia sudah bebas. Dan memang kondisi tubuhnya sudah membaik sejak hampir dua bulan melahirkan. Dan Jimin masih belum tahu itu.
Jimin sendiri merasakan Yoongi sedang mengamatinya membuat gairahnya naik, gelenyar ketegangan seksual telah mengelilingi di antara mereka mengingat telah lama waktu yang terlewatkan dalam bercinta. Jimin menunggu dengan sabar dan menahan diri, meskipun lama-lama hal itu membuatnya sedikit frustrasi, dorongan untuk memeluk Yoongi, merasakan Yoongi menyerah di dalam pelukannya sangat kuat. Mereka belum pernah bercinta sejak pernyataan cinta yang hebat itu dan Jimin terobsesi, ingin menunjukkan kepada Yoongi, betapa hebatnya sebuah percintaan jika kedua pasangan telah terbuka untuk saling mencintai.
"Jimin," suara Taehyung menggugah Jimin dari lamunannya, dia menoleh dan mendapati Taehyung sedang bersama dengan seorang lelaki.
"Aku ingin memperkenalkan salah satu rekan bisnisku, kami mengembangkan kerja sama di bidang properti," Taehyung mengedikkan bahunya, dan menyebut nama sebuah perusahaan yang cukup terkenal karena maju pesat dalam waktu singkat. Gosipnya karena pemiliknya adalah seseorang yang jenius.
"Dia pemilik perusahaan itu," jelas Taehyung tenang.
"Kenalkan Park Jimin, ini Cho Kyuhyun."
Jimin menjabat tangan yang kuat itu dan menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Lelaki yang kuat jiwanya, batinnya.
"Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama," Kyuhyun menggumam dengan suara bassnya yang tenang, lalu mengangguk untuk berpamitan karena ada urusan lain.
Taehyung dan Jimin menatap kepergian Kyuhyun dengan teliti.
"Dia si jenius yang membuat perusahaan luar biasa itu?"
Taehyung tersenyum, "Kenapa? Tidak sesuai bayanganmu?"
Entah sejak kapan Jimin dan Taehyung berteman. Mungkin karena kedekatan isteri-isteri mereka.
"Sama sekali tidak sesuai bayanganku. Aku membayangkan seorang laki-laki aneh yang serius dengan penampilan tak kalah serius, Kyuhyun terlalu tampan untuk menjadi seorang jenius yang menghebohkan."
Kali ini Taehyung terkekeh mendengar kata-kata Jimin, "Dia memang tampan, tapi dia tak pernah punya reputasi sebagai playboy, seperti kita sebelum menikah." Taehyung melirik Jimin dengan tatapan menyindir.
Jimin tersenyum miring, "mungkin agar tidak merusak reputasi jeniusnya," sahut Jimin asal. "Kurasa aku akan menyukainya kalau ada kesempatan mengenalnya."
Taehyung tersenyum lagi, "yah kau akan lebih sering bertemu dengannya nanti, kami sudah bersahabat sejak lama. Dia sudah menjadi patner bisnis resmiku sejak sebulan yang lalu."
Taehyung melirik jam tangannya, "Sudah malam, kami harus segera berpamitan. Terima kasih atas pesta yang luar biasa ini, Jimin."
"Sama-sama, Taehyung."
.
.
.
Tamu terakhir sudah pulang dan para pelayan mulai membersihkan seluruh rumah supaya esok hari seluruh bagian rumah sudah bersih dan sempurna.
Yoongi sedang duduk di depan meja rias setelah mencuci muka, dia mengganti bajunya dengan gaun tidur. Saat itulah Jimin masuk, tampak begitu tampan dan mempesona, dengan kemeja putih yang sudah dibuka dua kancing atasnya.
"Hmm, aromamu sangat menyenangkan." Jimin memeluk Yoongi dari belakang dan menempelkan bibirnya ke leher Yoongi, mengecupnya lembut.
Yoongi tersenyum menatap rambut coklat Jimin yang terpantul di cermin sementara lelaki itu mencumbu lehernya dengan penuh minat.
Kehidupan pernikahan mereka luar biasa baiknya setelah pernyataan cinta itu. Semua salah paham sudah dilepaskan, Jimin berhasil meyakinkan Yoongi bahwa di satu titik tertentu dia sudah jatuh cinta kepada Yoongi tanpa dia menyadarinya, Yoongi percaya karena dia pun merasakan hal yang sama.
Tidak ada yang tahu kapan cinta itu muncul, Sungguh tak terduga, Yoongi tidak menyangka akan jatuh cinta dan berbahagia menjadi seorang isteri dari lelaki yang bahkan di pertemuan pertama mereka menyekapnya di dalam bagasi, melemparnya dari balkon, menculik dan menahannya di
rumahnya hingga menghujaninya dengan berbagai arogansi yang tidak terkira.
Tetapi Yoongi memang jatuh cinta, kepada Jiminnya yang tampan, yang meskipun emosinya masih meledak-ledak dan arogansinya sering muncul ke permukaan, lelaki itu ternyata juga mencintai Yoongi dan memperlakukannya dengan luar biasa lembut.
Ketika tidak ada penghalang di antara mereka, Jimin ternyata adalah suami yang baik. Dia memperlakukan Yoongi dengan hormat dan penuh kasih sayang. Kadang mereka masih beradu argumentasi, tetapi mereka menikmatinya sebagai rutinitas suami-isteri, bukan sebagai ajang luapan kebencian.
Dan terhadap Yoonji, Jimin benar-benar menjadi ayah yang luar biasa. Begitu penuh kasih sayang dan ketakjuban, layaknya seorang ayah baru dengan putera pertamanya. Yoongi membayangkan betapa Yoonji nanti akan begitu mirip ayahnya dan mungkin menjadi anak yang memuja ayahnya, semoga begitu.
Mengenai kehidupan percintaan mereka di ranjang…, Well selama ini mereka belum bisa melakukannya karena Yoongi belum boleh melakukannya setelah melahirkan. Tetapi hari ini bisa. Yoongi mengingat hitungan kalender itu dan jantungnya berpacu liar, Jimin sekarang sedang menggigit ringan telinga Yoongi, lalu membalikkan tubuh Yoongi dengan lembut dan memeluknya erat. Pelukan itu begitu erat hingga Yoongi bisa merasakan kejantanan Jimin yang menekan tubuhnya dengan kerasnya.
"Mungkin aku harus memelukmu beberapa lama, sebelum aku masuk ke balik selimut, mencoba tidur dan menjadi gila seperti biasanya malam-malam yang kita lewati," Jimin menyentuh bibir Yoongi dengan jemarinya, lalu mengecupnya lembut.
"Malam ini aku sudah bebas." Yoongi berbisik pelan sambil berjinjit di telinga Jimin.
Kata-katanya langsung berimbas ke seluruh bagian tubuh Jimin. Matanya menyala penuh gairah dan antisipasi. Yoongi bisa merasakan bahwa di bawah sana Jimin makin mengeras menekan tubuhnya.
"Jadi…" suara Jimin terdengar parau menahan frustasi.
"Kau sudah bisa…"
Yoongi menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Detik itu juga Jimin langsung mengecup bibirnya dengan penuh kehausan, melahapnya tanpa ampun, malam ini mereka bisa menuntaskan kerinduan penyatuan mereka, yang telah tertahan sekian lama. Tanpa melepas kecupannya, Jimin mengangkat tubuh Yoongi, lalu membaringkannya di ranjang dan menindihnya dengan semangat, senyumnya penuh gairah dan matanya penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Park Yoongi dan kuharap aku bisa menjadi lelaki yang bisa kau andalkan," tatapan melembut, Jimin membuat mata Yoongi berkaca-kaca.
Mereka telah melalui segalanya, kebencian yang meluap, kemarahan, kesalahpahaman, dan kemudian kekecewaan, Tetapi pada akhirnya mereka dipersatukan oleh cinta, yang luar biasa
dalam dan tumbuh begitu saja tanpa di sadari.
Yoongi menatap Jimin tak kalah lembut dan kemudian memejamkan mata ketika bibir Jimin menunduk ke arahnya, hendak mengecupnya dengan kecupan lembut.
"Dan aku juga mencintaimu, Park Jimin, suamiku, ayah dari Anakku." suara Yoongi berubah menjadi desahan ketika bibir Jimin melumat bibirnya dalam gairah cinta yang menggelora.
"Anak kita, Park Yoonji anak kita, sayang." Penjelasan Jimin membuat hati Yoongi selalu berbunga saat-saat pengakuan itu terucap dengan penuh kepastian.
Jimin mengangkat gaun tidur Yoongi kemudian membuangnya ke segala arah. Setelah penantian panjang itu, Jimin menyaksikannya kembali. Gairahnya menumbung pesat begitu tubuh Yoongi tersaji di hadapannya. Semua masih sama, halus lembut dan mulus.
Yoongi tidak bisa lagi menahannya, dia sudah di ambang batas. Tanpa malu, ditariknya Jimin lebih dekat, erat, menipis jarak hingga tubuh keduanya menempel. Jimin mendesis nikmat begitu kejantanan kerasnya dihimpit oleh paha dalam Yoongi.
Setelah selesai membuka seluruh penghalang, Jimin melesakkan kejantanannya ke dalam diri Yoongi. Gairahnya menggila saat rasa panas di antara keduanya membakar. Rasa cintanya bergelora sampai langit ke tujuh. Kenikmatan itu masih sama.
Jimin mengecup seluruh tubuh Yoongi, menandainya dalam setiap jengkal dengan hisapan kuatnya yang membuat Yoongi mengeluarkan erangannya lagi. Kecocokan mereka di ranjang sudah terbukti dengan jalinan percintaan yang intim.
Dengan perlahan, gerakan erotis keduanya berlomba menjemput gairah panasnya. Jimin memperdalam hujamannya pada Yoongi, hingga menembus puncak orgasme bersama.
"Karena kau kelemahanku, Yoongi."
.
.
.
THE END
.
.
.
Happy Birthday Min Yoongi, kekasih hati kesayangannya Park –mezum- Jimin.
Gak terasa ya udah selesai. Mohon maaf jika selama ini ada kekurangan, yang tiap chapter kependekan, yang karakternya kayak gini gitu, dan yang lain-lain, Jims hanya membuat sesuai takaran isi novelnya aja. Juga chapter ini ada sedikit penambahan Rated M, sorry nya kalau gagal, Jims ga jago bikin rated M xD. Aslinya ngegantung lho, nanti daripada kalian protes jadi ya Jims berbaik hati ngasih bonus. XD
Yang minta epilog, Jims udah ke notice kok. Yang pasti tunggu aja ya ketidakpastiannya dikarenakan… semester 6 padat syekaliii, dinas dua bulan di puskesmas bayangin betapa maboknya dua bulan, Maaan.
Makasih yang selama ini udah ngikutin sampai akhir, baik yang nyempetin review, yang fave follow, yang baca diem-diem, yang awalnya muncul tapi makin lama makin ilang juga makasiiih. Ini Remake pertama Jims. Makasih mba Santhy Agatha yang udah buat cerita bagus seperti ini.
Thanks to: Reny Minyoon; kurokuroninja; 12; Guesteu; bbihunminkook; curw; mas seungcheol; michaelchildhood; Wu Zhiyan; suga; seoul; Dororong; DBSJYJ; Kidkiddo; yxnghua; Cupid; Han Hyeji; siscaMinstalove; peachpetals; JonginDO; youngv97; devimeilysa; nanseyoo; naranari II; Min513; fluxgirl; viertwin; Mayang556; gbrlchnerklhn; XiayuweLiu; crownacre; annisadamayanti54; INDRIARMY; rossadilla17; GustiAyuArie; Viyomi; MINSEPHINEPARK9995; yxxn; applecrushx; Khayalanjomblo; Vanillalovers; dyahsekar; Jang Taeyoung; 07; milazhegahh07; 95oppars; Hanami96; Phikukcb19; Prasetyo Hestina845; d14napink; NanaKim7; sopiyuliawati15; vkris; terbangtankan; 060425; Rezi451; Sachiko01; HelloLSn; hosokpie98; bizzleSTarxo; ut4; AprilKimVTae; BLUEFIRE0805; shiro nyan; 1; yoonmin cute; Yunia753; mari kim; Hantu Just In; ryubby; GithaCallie; parasyub; .heart; yoonmin baby; hmr; yoonginugget; XiayuweLiu; JeonJeonzKim; 9593; kkwonzz; junghoseok166; dinner40; she3nn0; RositheDoctor; grace; Mita622; mysuga.
Sampai ketemu di ff Jims yang lain! lobyu tomaath :3
Jimsnoona.
