"Perhatian.. perhatian... pesawat menuju Indonesia dengan nomer penerbangan XXXXX akan segera berangkat sepuluh menit lagi. Bagi para penumpang di harapkan segera melakukan check-in di gate..."

"Itu penerbangan kita," seru Sakura semangat.

"Yosh~ kita berangkat," imbuh Naruto.

"Indonesia.. Tunggu kami," gumam Sasuke lirih.

.

.

.

.

.

Tour de Indonesia : East Java (Jawa Timur)

.

.

.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story from Akemi Miharu

Team Seven

Advanture, Friendship, Traveling

Rate : K

Warning : AU, geje, OOC, OC, alur cepat, mainstream, dll

Tidak berkenan silahkan tekan 'back' dan cari yang sesuai selera

.

.

.

.

.

Happy reading ^-^

.

.

.

.

Note : disini ada karakter luar (OC) dengan ciri-ciri

Nama : YuraYuki (pen name)

Kulit kuning langsat khas orang indonesia, tinggi, rambut hitam panjang, sedikit tomboy

.

.

.

.

.

Chap 2 : Bromo, kami datang !

.

.

.

.

.

.

Perjalanan Jepang-Indonesia memakan waktu lebih dari tujuh jam. Untung saja mereka tidak transit dibeberapa negara sehingga tidak memakan waltu yang lebih lama. Hari sudah mulai siang ketika mereka tiba di Bandara Juanda, Sidoarjo, Indonesia.

"Huaa~ badanku pegal semua," ucap Naruto sambil melakukan beberapa gerakan peregangan.

"Jelas saja, Dobe. Kau hanya tidur sepanjang perjalanan. Oi, Sakura. Mana temanmu?"

"Mungkin sudah menunggu dipintu keluar,"

"Ya sudah, kita kesana," ucap Sasuke datar. Sakura dan Naruto mengikuti pemuda berambut raven itu.

Dipintu keluar terlihat banyak orang yang sedang menunggu. Tak jarang dari mereka membawa sebuah kertas dengan nama diatasnya. Iris emerald Sakura mulai fokus mencari namanya diantara berbagai nama yang ada.

"Hah, kenapa tidak ada?" Sasuke nampak mulai kesal karena ia tidak menemukan nama Sakura.

"Aku juga tidak lihat Sakura-chan, jangan-jangan dia tidak datang,"

"Jangan begitu Naruto, mungkin dia sedikit terlambat," ujar Sakura berusaha menutupi rasa khawatirnya. Ya sebenarnya gadis itu takut juga kalau Yura benar-benar tidak datang.

"Ohayou~ maaf apa anda yang bernama Chery?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba menepuk pundak Sakura pelan membuat gadis musim semi itu sedikit kaget. Dipandangnya gadis yang kini ada dihadapannya. Rambut hitam dengan kulit kuning langsat sedikit kecoklatan.

"Ah, maaf. Anda mungki salah orang," ujar Sakura lembut. Sakura dapat melihat iris gadis dihadapannya sekidit melebar.

"Oh, maaf saya kira anda teman saya. Sekali lagi saya minta maaf," ujar gadis itu sedikit membukuk sebelum melangkahkan kakinya pergi.

"Ah, apa mungkin Chery-chan tidak jadi ke Indonesia tanpa pemberitahuan?" gumam gadis itu pelan, namun masih terdengar oleh Sakura. Sejenak Sakura terdiam.

'Eh, tunggu. Tadi dia bilang Chery kan? Arg... Sakura no baka! Dia pasti Yura,' batin Sakura, merutuki kesalahannya sendiri.

Dengan cepat gadis merah muda itu menghampiri gadis yang tadi menyapanya. Sasuke dan Naruto yang tidak tahu apa-apa, terpaksa ikut berlari mengejar gadis itu.

"Aah... Gomenasai, apa kamu Yura?" tanya Sakura begitu jarak mereka dekat. Gadis itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Sakura.

"Iya, bagaimana kamu tahu?" gadis itu balik bertanya.

"Ah, syukurlah. Aku Chery, tapi nama asliku Haruno Sakura. Kau bisa panggil Sakura saja," seulas senyum terukir di wakah keduanya.

"Tadinya aku berfikir bahwa kau tidak jadi ke sini. Oh ya, selamat datang di Indonesia, Sakura," ucap Yura dengan semangat.

"Eh, itu temanmu?" tunjuk Yura pada dua pemuda yang masih ngos-ngosan karena mengejar Sakura. Apalagi suhu Sidoarjo sedang dalam masa panas-panasnya, membuat wajah tampan (Sasuke) dan imut (Naruto) mereka mengeluarkan peluh.

"Ah, iya. Yura perkenalkan ini Uchiha Sasuke, dan yang ini Namikaze Naruto," ujar Sakura sambil menunjuk Sasuke dan Naruto bergantian.

"Hn,"

"Yo, salam kenal," Naruto menampakkan senyum lima jari khasnya.

"Salam kenal, aku Yura Yuki tapi kalian bisa panggil Yura. Selamat datang di Indonesia. Ah kalian pasti lapar, bagaimana kalau kita makan dulu?" tawar Yura ramah.

"Ide bagus. Aku lapar sekali," ucap Naruto setuju. Sasuke dan Sakura mengangguk kecil.

"Baiklah, ayo ikut aku,"

Dan keempat remaja itu memulai perjalanan mereka.

.

.

.

.

.

"Pertama kita akan ke Gunung Bromo, gunung yang paling keren di Jawa Timur. Tapi itu menurutku sih, hehehe," ujar Yura mulai menjelaskan. Saat ini mereka didalam mobil milik Yura, melanjutkan perjalanan menuju tempat pertama.

"Benarkah? Aku sudah tidak sabar. Aku pernah baca jika sunrise disana indah sekali," ucap Sakura semangat. Sedangkan Sasuke dan Naruto? Mereka berdua sedang tidur dikursi belakang karena kelelahan.

"Eh, Yura. Apa tidak apa-apa jika kau mengantar kami?"

"Tenang saja, kau kan temanku jadi tidak masalah. Toh orang tuaku sudah mengijinkan. Nah lebih baik kita tidur dulu, perjalanan masih panjang," saran Yura, diikuti anggukan setuju dari Sakura. Tak berapa lama dua gadis itu menyusul Sasuke dan Naruto ke alam mimpi. Meninggalkan bapak sopir sendiri. Sabar ya pak..

.

.

.

.

.

"Ugh, badanku sakit semua," gerutu Naruto saat mereka samapi dipenginapan di daerah Bromo. Pumuda pirang itu nampak menggerek-gerakkan anggota badannya. Matahari sudah terbenam digantikan oleh bulan dan bintang.

"Bbrrr.. Disini dingin sekali," ucap Sakura sambil mengeratkan jaketnya.

"Pantas kau menyuruh kami bawa penutup telinga," imbuh Sasuke.

"Ya, Bromo memang dingin. Tapi aku pikir tidak sedingin Jepang jika sedang musim dingin. Ah, sebaiknya kita makan lalu istirahat. Besok kita akan melihat sunrise dari puncak Bromo," ucap Yura sambil memandu mereka memasuki penginapan.

Setelah check-in dan menaruh barang mereka di kamar, mereka bergegas menuju ruang makan yang ada di penginapan itu.

Seorang pelayan segera menghampiri dan memberikan buku menu pada keempat remaja itu. Dengan antusias Sakura dan Naruto membalik-balik halaman buku itu. Sesekali alis mereka tertekuk ketika membaca menu yang sangat asing bagi mereka.

"Soto? Apa itu?" tanya Naruto sambil menunjuk salah satu foto yang ada di daftar menu.

"Aku kira sejenis sup, benarkan Yura?"

"Benar Sakura. Soto terbuat dari kaldu ayam yang diberi berbagai bumbu dan rempah. Untuk isian biasanya mie putih, kentang gorang, irisan daging ayam, telur dan sayur mayur. Jenis soto banyak, tergantung daerahnya,"

"Sama dengan ramen, banyak jenis tergantung daerah," kata Sasuke.

"Tepat sekali. Setiap daerah punya ciri khas masing-masing,"

"Lalu ini apa?" tanya Sakura sambil menunjuk gambar sup dengan kuah hitam.

"Oh, itu rawon?"

"Ra-one?" eja Naruto dengan wajah polosnya.

"Hei hei, itu nama film Naruto-san. Ra-won," eja Yura. "Ini seperti sup tapi dengan kuah hitam karena ditambah bumbu bernama kluwak. Isinya daging sapi, serta sayur mayur,"

"Klu- klu- klu- apa?" Saruka mengeryit heran. "Susah sekali namanya,"

"Hahaha, klu-wak Sakura. Sejenis buah atau rempah? Err.. aku tidak terlalu tahu. Tapi yang pasti berwarna hitam, biasa juga dibuat sambal. Kalau di Jepang mungkim sejenis wasabi,"

"Apa rawon juga punya banyak jenis?" tanya Sasuke penasaran. Sangat tidak Uchiha kan? Biarlah.

"Em, aku tidak begitu tahu. Tapi kemungkinan iya. Baiklah kalian mau pesan apa?"

"Aku mau ra-one," ucap Narutoasih dengan ejaan awal, membuat Yura tersenyum kecil dan menggeleng pelan.

"Aku mau coba soto," ujar Sakura sambil menutup buku menu ditangannya.

"Soto," ucap Sasuke singkat.

"Aku rawon saja. Baiklah dua rawon dan dua soto," ujar Yura pada pelayan yang sedari tadi sudah menunggu. Dengan cepat pelayan itu mencatat serta mengulang pesanan, setelah semua benar ia tersenyum kemudian meningggalkan meja mereka.

.

.

.

.

.

"Kura- Sakura.. Ayo bangun," ucap Yura sambil menggoyang-goyang bahu Sakura pelan.

"Egh, ada apa Yura?" tanya Sakura dengan suara sedikit serak.

"Kita akan segera berangkat ke kawah, jika tidak kita bisa telat dan ketinggalan sunrise,"

"Baiklah. Apa Sasuke dan Naruto sudah bangun?" tanya Sakura sambil meraih jaket dan syal yang tergeletak tak jauh dari tempat tidurnya.

"Belum, tapi aku sudah menyuruh temanku membangunkan mereka. Setelah semua siap kita akan segera berangkat dengan jeep temanku," ujar Yura. Sakura hanya mengangguk saja tanda paham.

"Oh ya, jangan lupa bawa kamera," pesan Yura sebelum meninggalkan Sakura untuk bersiap-siap.

.

.

.

.

.

Untuk mencapai gunung, mereka harus melewati padang pasir yang luas. Hal itu hanya bisa ditempuh dengan beberapa cara, naik jeep, motor trail atau kuda. Dua opsi terakhir sangat memakan tenaga dan waktu. Untunglah Yura meminta bantuan salah satu temannya sehingga mereka bisa naik jeep.

"Sugoi~ seru sekali -ttebayo," ujar Naruto girang. Direntangkan kedua tangannya ke atas. Mobil itu sesekali melompat kecil akibat gundukan pasir.

"Kau berisik, Dobe," ucap Sasuke dengan nada sinis.

"Tch, terserah kau, Teme. Yang penting ini menyenangkan," seru Naruto kegirangan.

"Maafkan kedua temanku, Yura. Mereka memang seperti itu," ucap Sakura dengan perasaan bersalah dan malu. Malu karena punya teman seperti Naruto yang terkadang (tidak pernah tidak) hiperaktive.

"Iie, tidak masalah Sakura. Lagipula perjalanan ini jadi ramai. Oh kita akan segera sampai," ujar Yura, diikuti anggukan oleh Sakura dan yang lain.

Tak berapa lama, jeep itu berhenti tak jauh dari kaki gunung. Sakura, Sasuke dan Naruto terdiam melihat gunung yang ada di depan mereka, tidak terlalu tinggi namun sangat terjal.

"Bagaimana kita naik -ttebayo?" ucap Naruto sambil mengedipkan matanya beberapa kali.

"Yura," panggil Sakura lirih.

"Ada apa Sakura?"

"Kita akan mendaki?" tanya Sakura ragu.

Paham dengan maksud gadis merah muda dihadapannya, Yura tersenyum dan menggeleng cepat. "Tidak, Sakura. Kita akan naik lewat itu," otomatis pandangan ketiga remaja itu mengikuti arah telunjuk Yura. Samar-samar mereka melihat deretan beton sepanjang sisi gunung.

"Syukurlah," ucap Sakura lega.

"Tangga?" gumam Sasuke.

"Hah, aku malas naik -tttebayo, tangganya banyak sekali," gerutu Naruto.

"Walaupun lelah, tapi akan sepadan dengan apa yang disuguhkan, Naruto-san. Tangga ini sedikit mempermudah pengunjung naik ke atas, untuk jalur penambang belerang juga. Baiklah kita langsung naik saja,"

Sakura, Sasuke dan Naruto berjalan dibelakang Yura dan rombongan yang lain. Suhu saat itu sangat dingin membuat mereka semakin mengeratkan pelukan pada jaket dan menurunkan topi mereka untuk menutupi telinga.

Ketika sampai dibagian bawah tangga, ketiganya menatap ngeri deretan anak tangga itu. Terjal dan tinggi.

"Yura, kira-kira berapa jumlah anak tangga ini?"

"Kira-kira 250 anak tangga, Naruto-san. Tapi menurut cerita jumlah anak tangga ketika kau naik dan turun akan berbeda,"

"Aneh sekali, bukannya seharuanya sama? Apa kau pernah coba Yura?"

"Tidak pernah, Sakura. Aku akan lelah duluan sebelum selesai menghitung," Yura tertawa kecil, Sakura hanya bisa ber-'oh' ria.

"Aku jadi ingin mencobanya," ucap Naruto.

"Aku tidak yakin kau bisa, Dobe," cela Sasuke.

"Tch, kita tidak akan tahu jika tidak mencoba, Teme," ujar pemuda pirang itu semangat. "Ah- bagaimana jika kita bertanding menghitung anak tangga ini,"

"Mendokusai,"

"Oi, oi kau meniru gaya si bocah nanas, heh Teme? Bilang saja kau takut kalah dariku," ucap Naruto sambil memasang senyum jail. Sasuke menatap tajam wajah pemuda pirang dihadapannya.

"Aku tidak akan pernah kalah darimu, Dobe,"

"Coba buktikan, Teme," tantang Naruto semangat 45 yang diajarkan Guy-sensei.

Bletak ! Bletak !

"ITTAI~" teriak Naruto sambil memegang kepalanya sedangkan Sasuke meringis kecil menahan sakit yang ia terima. Suara jitakan yang keras kontan membuat Yura dan rombongan yang lain menatap iba dua pemuda asal Jepang itu.

"Kalian ini berisik sekali," amuk Sakura.

"Sakura, sudah tidak apa-apa," ujar Yura sambil menepuk pelan punggung Sakura, berusaha menenangkan gadis itu. "Kita segera naik, sebentar lagi matahari akan muncul,"

Ketiga remaja itu serempak mengangguk. Sakura dan Yura berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Sasuke dan Naruto.

Baru setengah jalan, peluh sudah menetes di pelipis Sakura. Badan gadis itu mulai memanas karena jantungnya bekerja cepat. Sesekali ia berhenti untuk mengambil nafas, kemudian melanjutkan kembali perjalannannya. Begitu pula dengan Naruto dan Sasuke yang mulai merasa nafasnya menjadi pendek.

"I-ini sama sa-saja dengan pelajaran Guy-sensei, berlari mengelilingi lapangan," ujar Naruto lirih dengan nafas satu-dua.

"Oi, apa masih lama?" tanya Sasuke entah pada siapa.

"Sebentar lagi, ganbate minna~," ucap Yura yang merasa pemuda itu bertanya padanya, sekaligus memberi semangat pada mereka bertiga.

Benar juga, setelah menaiki beberapa (puluh) tangga akhirnya mereka sampai di puncak gunung Bromo. Langit diatas mereka masih gelap, namum mereka dapat melihat semburat merah yang mulai muncul di ufuk timur.

"Kita tepat waktu," ujar Yura. "Silahkan menikmati kawan-kawan, inilah keidahan Bromo," lanjut Yura dengan nada bangga yang sangat ketara.

Ketiga remaja itu tertegun. Rasanya mereka berada di atas awan. Menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan diata puncak Gunung Bromo. Semburat merah matahari berbaur indah dengan warna biru langit yang cerah, tak terhadang awan.

"Sugoi~" ucap Naruto, dengan pandangan penuh takjub. Matanya tak berkedip menatap pemandangan di hadapannya

Sakura yang tersadar dari kekagumannya segera mengeluarkan kamera dari balik jaketnya. Bukan kamera DSLR-nya yang ia bawa (dan sekarang Sakura merutuki kebodohannya karena tidak membawa kamera itu) hanya sebuah pocket kamera kecil. Dengan cepat gadis itu mengabadikan lukisan Tuhan yang nampak dihadapannya.

"Sakura?!" Yura menepuk bahu temannya itu. "Bagaimana jika aku foto kalian bertiga dari belakang dengan latar sunrise itu? Pasti akan bagus,"

"Boleh juga, mohon bantuannya Yura," jar Sakura semangat, kemudian berjalan menghampiri kedua sahabatnya. Mengambil tempat ditengah-tengah mereka. Kedua tangannya terulur menggenggam tangan kedua sahabatnya.

Sasuke dan Naruto yang terkejut hanya bisa menatap heran gadis disamping mereka. Namun seulas senyum mengembang di wajah ketiganya. Mereka angkat tangan mereka tinggi-tinggi, hendak menyambut indahnya dunia dihadapan mereka.

Cklik !

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N :

OHAYOU MINNA~ akemi kembali dengan lanjutan fic aneh bin abal ini #ditimpukreaders #kabur. Yah walaupun peminatnya sedikit, tetap akan akemi lanjutkan sampai 'fin' *semangat45

Akh, sebelum ada yang tanya Akemi mau menjelaskan beberapa hal.

Q : kenapa team seven dan Yura bisa bercakap-cakap?

A : disini mereka pakai bahasa jepang, tapi karena akemi gak pandai bahasa itu jadi saya ubah ke mode Indonesia. Jadi gak perlu bingung cari subtittle (kan repot, masa fic pakai sub tittle -_-)

Q : kenapa Yura bisa nemanin mereka?

A : Yura sudah masuk waktu libur jadi bisa nemanin mereka. Kebetulan kampus Yura libur lebih dahulu :)

Sekian saja penjelasan dari akemi. Jika ada pertanyaan lain silahkan tulis di review atau pm ya. Nulis kritik dan saran juga tidak apa-apa *bigsmile

Yosh~ sekian dulu dari akemi..

Naruto : oi, ada yang kurang akemi !

Akemi : *muka bingung* Apa Naru-nii?

Naruto : balesan review dodol *tepokjidat

Akemi : eh iya, ini untuk yang sempet login ya. Untuk Namikaze Taufik, terimakasih sarannya, akan akemi pertimbangakan kok :) untuk yg login silahkan periksa inbok ya

Naruto : nah sekian, curhatan dari author yang mengaku adik saya. Oh, jangan lupa review minna~ jaa nee~

Akemi : oi, oi itu bagianku. Hash yasudah, jaa nee minna~