"Sakura?!" Yura menepuk bahu temannya itu. "Bagaimana jika aku foto kalian bertiga dari belakang dengan latar sunrise itu? Pasti akan bagus,"
"Boleh juga, mohon bantuannya Yura," ujar Sakura semangat, kemudian berjalan menghampiri kedua sahabatnya. Mengambil tempat ditengah-tengah mereka. Kedua tangannya terulur menggenggam tangan kedua sahabatnya.
Sasuke dan Naruto yang terkejut hanya bisa menatap heran gadis disamping mereka. Namun seulas senyum mengembang di wajah ketiganya. Mereka angkat tangan mereka tinggi-tinggi, hendak menyambut indahnya dunia dihadapan mereka.
Cklik !
.
.
.
.
.
Tour de Indonesia : East Java (Jawa Timur)
.
.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story from Akemi Miharu
Team Seven
Advanture, Friendship, Traveling
Rate : K
Warning : AU, geje, OOC, OC, alur cepat, mainstream, typo(s)
Tidak berkenan silahkan tekan 'back' dan cari yang sesuai selera
.
.
.
.
.
Happy reading ^-^
.
.
.
.
Note : disini ada karakter luar (OC) dengan ciri-ciri
Nama : YuraYuki (pen name)
Kulit kuning langsat khas orang indonesia, tinggi, rambut hitam panjang, sedikit tomboy
.
.
.
.
.
Chap 3 : Kota Malang dan segudang pesona
.
.
.
.
.
.
Matahari sudah mulai tinggi, tapi hawa dingin masih tetap saja menusuk tulang. Sakura, Sasuke dan Naruto kini masih saja asik berkeliling kawah Bromo walau bau belerang menyengat hidung mereka.
"Kawan-kawan, bagaimana pendapat kalian?" tanya Yura tiba-tiba.
"Keren," ucap Naruto seraya mengacungkan dua jempolnya semangat.
"Aku setuju dengan Naruto. Tak kusangka disini benar-benar indah," imbuh Sakura. Sementara itu Sasuke hanya terdiam. Iris onyxnya menatap lekat gadis yang ada di sampingnya.
"Baiklah, kita kembali ke penginapan. Setelah sarapan kita akan berangkat ke tempat selanjutnya," ujar Yura diikuti anggukan setuju oleh Sakura dan Naruto. Mereka berempat lantas turun melalui tangga yang sama saat mereka naik.
Ketika sampai di bawah, iris Onyx Sasuke tak sengaja melihat seorang anak kecil yang tengah membawa beberapa buket bunga kering. Senyum tipis tiba-tiba muncul di bibirnya, tanpa disadari oleh yang lain. Dengan cepat tangannya menarik lengan Yura, sedikit menyeret gadis itu untuk ikut dengannya.
Yura yang kaget hanya bisa memekik kecil. Naruto yang melihat itu hanya terdiam karena kaget. Sedangkan Sakura? Ups, lihatlah sekarang wajahnya mulai memerah. Entah karena lelah atau...
"Ada apa Uchiha-san?"
"Bantu aku," ucap Sasuke singkat.
"Bantu?" alis Yura berkerut dalam mendengar penuturan pemuda itu. Namun tak lama, kerutan itu menghilang ketika mereka sampai di tempat anak kecil tadi.
"Ah, aku paham sekarang. Apa kau membeli bunga kering?"
"Hn,"
Yura hanya tersenyum saja mendengar jawaban ambigu Sasuke. Perhatiannya beralih pada anak laki-laki dihadapannya.
"Adik, kakak ingin membeli buket milikmu. Berapa harganya?"
"Kakak atau kakak laki-laki ini yang ingin membeli?"
"Kakak laki-laki ini," jawab Yura. "Memang beda ya?"
"Beda, kak," jawab anak itu mantap. Oh ya, Yura paham sekarang. Mungkin harga yang dipatok untuk turis lokal dan turis asing berbeda. Ya, Yura paham benar soal itu. Namun ternyata alasan anak itu melenceng dari perkiraan Yura.
"Jika kakak yang beli, kakak boleh memilih kesukaan kakak. Tapi kalau kakak laki-laki ini yang beli, aku sarankan pilih yang ini," kata si anak sambil memperlihatkan sebuah buket bunga yang sangat manis. Perpaduan warnanya cantik, bunga yang dipakai juga indah.
"Memang kenapa?"
"Karena kelihatannya kakak ini membelikan untuk kakak berambut merah muda yang ada disana. Jadi aku pikir bunga ini yang paling cocok," ucap anak itu dengan polosnya, Yura tersenyum kecil seraya mengusap puncuk kepala anak itu.
"Apa katanya?" tanya Sasuke demgan raut tak sabar.
"Anak ini bilang, kau sebaiknya memilih bunga ini. Karena menurutnya bunga ini yang paling cocok untuk Sakura," iris Sasuke melebar mendengar terjemahan Yura.
'Bagaimana anak ini bisa tahu?' batin Sasuke seraya menatap tak percaya anak dihadapannya. Sang anak hanya tersenyum ceria seakan mengatakan 'apa tebakanku benar kakak?'.
"Hn, aku ambil,"
"Baiklah, kakak ambil yang ini. Berapa?"
"Sstt.. Saku, mereka sedang apa?" bisik Naruto pada gadis disampingnya.
"Kau ternyata sangat pintar Naruto, jelas-jelas mereka sedang membeli sesuatu. Kenapa masih tanya padaku?" amuk Sakura tak jelas asalnya.
"Oi, oi.. kenapa kau marah padaku?"
"Sudah, aku tunggu di mobil saja," dengan langkah kesal Sakura segera menuju mobil jeep yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tak beberapa lama Yura dan Sasuke kembali ke tempat Naruto. Sebelah tangan Yura memegang buket bunga kering yang tadi mereka beli.
"Naruto-san, di mana Sakura-chan?" tanya Yura ketika tak melihat Sakura disana.
"Sakura sudah menunggu di mobil -ttebayo,"
"Em baiklah," ucap Yura. Ketiganya berjalan menghampiri mobil mereka. Teman Yura sudah bersiap dibalik kemudi.
"Kalian lama," gerutu Sakura, tangannya terlipat di depan dada sementara wajahnya memasang raut kesal.
"Gomenasai," ujar Yura dengan nada menyesal. "Ah, Sakura bagaimana menurutmu bunga ini? Cantik?"
Sekilas Sakura melirik bunga kering yang dipegang gadis berparas cantik disebelahnya. Cantik, ah bukan sangat cantik malah. Cocok sekali untuk Yura. Apalagi itu dari Sasuke, ya Sasuke. Sakura hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dirinya terlalu malas untuk memberi tanggapan.
"Yokatta~ karena Sakura bilang cantik, bunga kering ini untuk Sakura saja," Yura menyerahkan buket itu dengan senyum yang mengembang sempurna, bahkan jika di teliti ada sedikit mimik geli disana.
Sakura hanya terdiam, menatap Yura tak percaya. 'Bagaimana dia memberikan bunga itu untukku? Bukankah Sasuke membelikan untuknya?' batin Sakura.
"Eh, etto~ "
"Ambillah Sakura, lagi pula Uchiha-san memilihkannya untukmu," ucap Yura riang, sedangkan Sakura terdiam, terkejut, heran tak percaya. Raut wajahnya berganti dengan cepat selama sepuluh detik. Uchiha bungsu hanya terkikik pelan melihat raut Sakura yang menurutnya lucu.
"A-arigatou," dengan sedikit enggan menerima buket bunga dari Yura. Ah, bukan. Tapi dari Sasuke melewati Yura untuk Sakura. Baiklah, ini terlalu bertele-tele.
"Doitta. Karena semua sudah siap, kita kembali ke penginapan dan bersiap ke tempat selanjutnya,"
.
.
.
.
.
Tepat pukul dua siang mereka segera meluncur ke tempat selanjutnya, Kota Malang. Kota terbesar kedua setelah ibu kota provinsi, Surabaya. Malang juga terkenal dengan tim sepak bola-nya yang berjuluk singo edan. Selain itu terkenal juga akan universitas-universitas ternama yang ada di Kota ini serta destinasi wisata yang bisa dibilang subur, mirip jamur di musim hujan.
"Nee Yura-chan, bagaimana Malang itu?"
"Malang kota yang indah, Naruto-san. Banyak taman, bangunan jaman Belanda yang masih ada di beberapa tempat, juga banyak pantai yang ada di selatan Kota Malang. Dan ya, Malang bisa di bilang kota yang dingin," ucap Yura dengan semangat.
"Yura lahir di Malang?" kini giliran Sakura yang memberi pertanyaan.
"Tidak. Tapi Malang adalah rumah kedua-ku. Setibanya di Malang kita akan ke Hotel untuk beristirahat, lalu-"
"Bisakah kita ke tempat wisata saja. Aku kemari untuk berlibur, bukan untuk menginap di hotel," potong Sasuke cepat. Sakura menatap kesal pemuda bersurai raven itu, namun si tersangka hanya mengangkat bahunya sebentar dan memasang wajah inoncent-nya.
"Baiklah. Kita akan ke tempat icon kota Malang berada, sekalian beristirahat. Aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa, karena selama di sini kalian adalah tanggung jawabku. Aku tidak mau di sebut tuan rumah yang tidak sopan," ucap Yura dengan nada dalam. Sebenarnya ia hanya ingin membuat teman-temannya ini nyaman berada di Indonesia. Tapi siapa samgka sikapnya malah membuat salah satu tamunya tersingung.
Menyadari perubahan hati Yura, Sakura segera mengalihkan pembicaraan. "Ah, Yura nanti apa kita bisa mencoba makanan baru lagi? Kau tahu makanan di sini membuatku terkejut dan penasaran,"
Yura tersenyum tipis. "Tentu saja. Malang adalah kota kuliner. Banyak sekali jenis makanan yang muncul di sini,"
"Benarkah? Aku sangat ingin mencobanya,"
Dan mari kita tinggalkan kedua gadis yang kini telah berganti topik yang menyangkut fashion dan hal-hal feminim lainnya. Kita lihat dua pemuda yang duduk santai di jok belakang.
"Kau ini keterlaluan, Teme. Yura-chan hanya mengkhawatirkan kita, kau malah berkata seperti itu," kata Naruto dengan pelan, hampir seperti berbisik. Berusaha agar tidak terdengar oleh dua gadis di depannya, terutama Yura.
"Tapi kenyataanya seperti itu kan?" elak Sasuke tak mau kalah.
"Kau ini. Hei Yura-chan sudah berbaik hati menemani dan menjadi tour guide kita selama di sini, merencanakan semuanya sendiri dan kita tinggal mengikuti. Setidaknya kau harus bersikap baik padanya, Teme. Apa kau tidak ingat saat di Bromo dia membantumu membeli bunga?"
"Hn," tangan kanan Sasuke segera meraih earphone yang ada di dalam tasnya. Menyumpal telinganya sebelum pemuda pirang disebelahnya mulai berceramah lagi.
"Hoi, dengarkan ketika orang bicara. Jangan kabur begitu, Teme," lengan Naruto menyikut pelan rusuk bungsu Uchiha itu.
"Setiba di sana aku kan minta maaf, jadi diamlah, Dobe," ucap Sasuke pelan yang berbuah senyum kemenangan dari pemuda di sampingnya.
"Itu baru sahabatku, Teme,"
.
.
.
.
.
Mobil hitam itu malaju dngan kecepatan sedang di jalanan kita Malang yang ramai, terlebih pada jam pulang kantor seperti sekarang. Perjalanan mereka memerlukan waktu dua setengah jam akibat jalan yang padat.
Memasuki daerah kota, Yura meminta sang sopir untuk berhenti di daerah pertokoan.
"Kenapa berhenti Yura?" tanya Sakura sambil mengusap matanya pelan. Nampaknya gadis itu baru bangun dari tidurnya.
"Ah, maaf membuatmu terbangun Sakura. Aku akan membeli beberapa makanan riang dulu untuk nanti, kau tidur saja lagi,"
"Aku ikut saja," pinta Sakura. "Aku tidak mau ditinggal disini sendiri," imbuh Sakura sambil melirik sopir dan dua pemuda yang masih tertidur lelap di kursi belakang.
"Ah, baiklah," ucap Yura akhirnya.
"Yosh, kita belanja," seru Sakura girang. Keduanya segera turun dan masuk ke salah satu toko yang lumayan besar.
"Ini tempat apa Yura?"
"Ini pusat oleh-oleh, Sakura-chan. Di sini terdapat banyak oleh-oleh khas Malang. Dan yang paling terkenal adalah kripik tempe," kata Yura sambil meraih sebuah keranjang berwarna biru didekap pintu masuk.
"Tempe?" alis Sakura terangkat, lagi-lagi bahasa asing memasuki otaknya. "Apa itu?"
Senyum maklum terlukis di bibir Yura, temannya ini benar-benar punya rasa ingin tahu yang besar. Dengan sabar gadis bersurai hitam itu mulai menjelaskan. "Tempe adalah salah satu olahan dari kedelai. Sama seperti tofu yang ada di Jepang. Namun cara pembuatannya berbeda. Tempe di buat menggunakan jamur agar butir-butir kedelai saling tersambung satu sama lain,"
"Lalu?"
"Jika sudah matang, kedelai akan padat demgan serat-serat. Bentuknya beragam, bisa kotak atau lonjong, tergantung wadah yang digunakan saat proses fermentasi," Yura mengambil salah satu kripik tempe yang ada disana dan menunjukkannya pada Sakura. "Kalau yang ini bentuknya bulat lonjong sebelum di potong. Ah iya, kalian suka rasa apa?"
"Memang ada rasanya?" tanya Sakura lagi.
"Ada dan variasinya juga banyak,"
"Kalau begitu satu bungkus tiap satu rasa," ucap Sakura.
"Kau yakin Sakura? Apa tidak terlalu banyak?" tanya Yura memastikan, kalau di hitung ada lebih dari sepuluh rasa.
"Kita ada lima orang termasuk supirmu Yura, lagi pula Naruto makannya banyak," kata Sakura berusaha menyakinkan temannya itu. "Ah, apa ini Yura? Apa ini kripik buah?"
"Iya. Di Malang tidak hanya terkenal dengan kripik tempenya saja. Ada juga kripik ameka macam buah,"
"Sugoi~ Benar-benar kreatif. Kalau begitu kita beli ini juga. Eh, tidak apa kripik tomat?"
"Sakura-chan tomat itu bukan buah. Lagi pula akan susah jika dibuat kripik,"
"Hehe, benar juga. Kalau begitu aku ambil ini saja," tangan Sakura segera meraih beberapa bungkus kripik buah, tentu setelah menanyakan pada Yura.
Lima belas menit kemudia dua gadis itu telah keluar dari sana. Beberapa mata nampak menatap heran sekaligus takjub ke arah mereka, terutama Sakura. Kontan saja hal itu membuat Sakura bergidik.
"Etto Yura," panggil Sakura pelan.
"Nani?"
"Kenapa mereka memperhatikan kita?" bisik Sakura, takut jika ada yang mendengar.
"Mungkin karena warna rambutmu Sakura-chan. Rata-rata rambut orang Indonesia adalah hitam legam, jadi mereka takjub dengan warna rambutmu yang merah muda,"
"Kalian lama," geram Sasuke ketika keduannya telah duduk manis di mobil. Sasuke telah bangun dan tengah fokus pada gedget di tangannya, sementara Naruto masih tertidur.
"Tch, kami pama karena membeli cemilan untuk kalian juga, Sasuke. Dan berhentilah mengeluh," ucap Sakura tak mau kalah.
"Kalian ini serasi ya," kata Yura dengan polosnya. Sasuke segera membuang muka ke arah jendela, begitu juga degan Sakura.
"Hoam~ tentu mereka serasi Yura. Mereka berdua kan saling mencintai tapi terlalu gensi un-ITTAI~" pekik Naruto sambil memegang kepalanya yang mendapat jitakan sayang dari Sasuke dan Sakura.
"Benarkan mereka serasi, sampai-sampai membully-ku secara bersamaan,"
"Diam kau, Dobe. Suaramu membuah telingaku sakit," ucap Sasuke dingin dan dalam plus melayangkan deathglare yang membunuh pada pemuda pirang itu.
"Sekali lagi kau bicara Naruto no Baka, kau tidak akan mendapt jatah cemilan yang kami beli," ancam Sakura.
'Nah benarkan mereka serasi,' batin Naruto sambil meringis kecil.
"Sudah-sudah, kita sudah hampir sampai di tempat pertama," ucap Yura berusaha menghentikan pertengkaran ketiga sahabat itu.
Tak berapa lama ke empat remaja itu sampai di salah satu ikon kota Malang. Sebuah tugu yang terletak di tengah kolam, di depan bangunan yang bertuliskan kantor Bupati.
"Bapak tunggu disini sebentar ya, Yura antar mereka ke taman dulu," ucap Yura kepada sopirnya. Sang sopir hanya mengangguk paham dengan perintah nona mudanya itu. "Baiklah teman-teman, selamat datang di Malang," ucap Yura riang.
"Kota yang nyaman," Sakura segera mengeluarkan pocket kameranya dan mengambil beberapa foto. "Yura, apa kita boleh ke taman itu?"
"Tentu saja, Sakura-chan. Taman itu memang diperuntukan bagi umum, banyak turis yang datang kemari untuk bersantai disana. Ayo, aku akan antar kalian kesana,"
Keempatanya segera menyeberang untuk sampai di tempat yang Yura maksud. Taman itu terlihat tertata rapi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Taman itu berbentuk bulat, ditengahnya terdapat sebuah kolam dengan ratusan bungan teratai air yang tengah mekar.
"Kalian silahkan berkeliling, aku akan ke hotel dulu untuk reservasi,"
"Kau berniat meninggalkan kami?" tanya Sasuke tajam.
"Maaf Uchiha-san, tapi iya aku harus pergi dulu. Kasihan supirku jika harus menunggu di mobil, maka dari itu akau akan ke hotel dulu agar beliau bisa istirahat. Lagi pula hotelnya dekat sini,"
Naruto yang mendengar percakapan mereka segera menyikut rusuk Sasuke, mengisyaratkan akan Sasuke segera minta maaf. "Hah, maafkan aku karena keras kepala,"
Yura tertegun sejenak, namum sejurus kemudian senyum mengembang di wajahnya. "Iie~ jangan terlalu dipikirkan. Nikmati suasanannya ya, dan akan ada pertunjukan menarik nanti. Aku pergi dulu,"
"Yura kemana?" tanya Sakura tiba-tiba. Karena asik mengambil foto, gadis itu ridak sadar jika Yura telah pergi.
"Sedang memesankan hotel, kita jalan-jalan dulu -ddtebayo," teriak Naruto girang yang tentu saja menarik perhatian pengunjung yang lain.
Bleetak...
"ITTAI~ kenapa kau memukulku Teme?" pekik Naruto tak terima.
"Kau berisik. Lihat kita jadi pusat perhatian sekarang,"
Benar saja, banyak pengunjung lain yang memperhatikan mereka dengab tatapan kagum, heran dan terpesona. Yah, jelas saja dua pemuda berparas tampan dan satus gadis manis pasti membuat semua orang terpesona kan?
"Sudahlah. Kita berkeliling saja," ucap Sakura. Tangannya segera menarik tangan Sasuke dan Naruto, memaksa dua pemuda itu untuk berjalan sedikit cepat.
Tiga puluh menit mereka gunakan untuk mengitari taman itu. Sesekali berhenti untuk berfoto ria dan mengamati sesuatu yang menarik. Tanpa terasa matahari sudah nulai terbenam dan malam mulai menyelimuti mereka.
Ketiganya memutuskan untuk duduk di atas rumput dan membuka kripik yang tadi ia beli bersama Yura. Dengan semangat Sakura menceritakan pengetahuan baru yang ia dapat hari ini.
"Ternyata kalian disini," Yura tiba-tiba datang dengan nafas yang memburu, tangan kanannya memegang beberapa bungkusan. "Aku sampai harus berlari karena takut kalian tersesat,"
"Haha, kau terlalu berlebihan Yura. Kami bukan anak-anak, jadi tidak perlu khawatir seperti itu," ucap Sakura seraya menepuk rumput disebelahnya, mengisyaratkan agar gadis itu duduk disana. "Minumlah dulu dan atur nafasmu,"
"Hn, arigatou nee. Apa kalian sudah berkeliling?"
"Hn. Dan ternyata orang-oramg disini ramah dam murah senyum," kata Sasuke.
"Mereka tidak seperti dirimu yang muka tembok, Teme," cibir Naruto.
"Dan mereka juha tidak seperti doromu yang selalu tebar senyum, Dobe,"
Sakura menepuk dahi lebarnya pelan, nampak lelah dengan sikap dua sahabatnay itu. "Hah, mulai lagi,"
Yura tertawa lepas mendengar keluh kesah Sakura serta melihat dua pemuda yang terus saja berdebat. "Aku senang bisa berkenalan dengan kalian," ucap Yura tulus.
"Kami juga senang bisa bertemu denganmu dan belajar banyak tentang Indonesia. Terima kasih untuk beberapa hari ini Yura," kata Sakura, tangan gadis itu terulur memberikan pelukan hangat pada Yura.
"Lain kali kau yang harus ke Jepang Yura. Kami yang akan menjadi pemandumu," ujar Naruto diikuti 'hn' pelan dari Sasuke.
"Arigatou nee~ Ah iya sebentar lagi pertunjukan akan dimulai,"
"Pertunjukan?"
"Ia Uchiha-san, pertunjukan lampu. Memang tak sebagus di luar, tapi menurutku ini cukup indah,"
Benar saja, tak berapa lama seluruh lampu taman mati untuk beberapa saat.
"Yura," desis Sakura cemas, tangannya menggenggam erat tangan Yura dan Sasuke yang berada di kiri kanannya.
"Tenang Sakura, hanya sebentar kok," kata Yura meyakinkan.
Perlahan lampu disekitar tugu mulai me yala, warna kuning putih yang mendominasi. Disusul oleh asap yang melingkupi tugu itu. Tak berapa lama lampu mulai berganti menjadi warna warni, demikian pula lampu yang menyinari beberapa air mancur kecil di jalan menuju tengah tugu. Sederhana namun memukau.
Dengan cekatan Sakura kembali memotret keindahan itu. Tak dipungkiri, ia telah terhipnotis oleh keindahan negara bernama Indonesia.
"Hei, aku tidak menyesal datang kemari. Indonesia benar-benar indah -ttebayo," seru Naruto.
"Ya. Dengan berbagai keaneka ragaman yang membuat setiap orang terpesona," imbuh Sasuke.
"Jika begini aku tidal keberatan jika harus mengelilingi Indonesia untuk menemukan kejutan lainnya," kata Sakura sambil kembali membidik tugu yang kini tengah bermandikan lampu warna-warni dengan kamera sakunya.
Cklik !
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
A/N :
OHAYOU MINNA~ Akhirnya selesai juga chap 3. Huwee... maksa sekali ceritanya. Oh ya, terima kasih bagi para readers yang sudah membaca dan mau menunggu kelanjutan fic ini.
Akemi juga telah membuat keputusan bahwa cerita ini fokus pada persahabatan dan travelling untuk mengenalkan Indonesia khususnya Jawa Timur, jadi tidak akan ada alur lain. Romencenya pun cuman nyerempet-nyerempet karena kepentingan cerita. Bagi Namikaze Taufik maaf ya sarannya sementara ini Akemi tolak.
Baik sekarang saatnya bales review...
Arashi no Magatama : Arigatou nee~ akemi senang jika ada yang suka fic ini ^-^ mampir lagi ya :)
Hana-chan : hehe, maaf karena Akemi meng -OOC-kan Sasuke. Demi kepentingan cerita soalnya, agak ribet juga kalau sepanjang cerita Sasuke cuman diem dan pasang muka tembok *di amaterasu. Maaf ya karena updatenya telat *bow*
Iruel'x 89 : arigatou sudah mampir. Gomenasai, sepertinya tidak akan ada penjahat dalam fic ini. Tapi usul tetap Akemi tampung untuk fic selanjutnya :)
Namikaze Taufiq : arigatou sudah mampir lagi. Untuk update tidak pasti karena Akemi sedang sibuk2nya nugas. Jadi mohon sabar ya :)
YogaKRG : sepertinya saya harus berterina kasih pada Taufiq-san dan Yoga-san karena bersedia mampir. Tidak akan discont kok, hanya saja kemungkinan updatenya lama :)
Sakura Haruno : Romance mungkin ada di chap-chap akhir, tapi tidak bisa janji :(
Si Unyil : Etto~ sepertinya tidak bisa. Akemi takut keluar dari konsep awal. Tapi terima kasih sarannya..
Wokey semua review sudah di balas. Terima kasih karena sudah mampir dan maaf jika ada kata-kata serta typo yang masih saja nyempil nan mengganggu (Akemi cepet2 soalnya, hehe). Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak kalian di review ya :)
Sampai jumpa lagi... Jaa nee~
