Tour de Indonesia : East Java (Jawa Timur)
.
.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story from Akemi Miharu
Team Seven
Advanture, Friendship, Traveling
Rate : K
Warning : AU, geje, OOC, OC, alur cepat, mainstream, typo(s)
Tidak berkenan silahkan tekan 'back' dan cari yang sesuai selera
.
.
.
.
.
Happy reading ^-^
.
.
.
.
Note : disini ada karakter luar (OC) dengan ciri-ciri
Nama : YuraYuki (pen name)
Kulit kuning langsat khas orang indonesia, tinggi, rambut hitam panjang, sedikit tomboy
.
.
.
.
.
Chap 5 : The last destination, Kota Reog
.
.
.
.
Dini hari Sakura terbangun, merasakan tubuhnya pegal karena tidak bisa tidur dengan nyaman. Iris emerald-nya terbuka pelan, mengecek keadaan. Dibelakang, Sasuke dan Naruto masih tertidur pulas, sang sopir masih fokus menyetir sambil sesekali bersenandung, sementara Yura terlihat fokus dengan gedgetnya.
"Ohayou Yura, kau tidak tidur?"
"Ah, ohayou Sakura-chan. Tidur kok, hanya terbangun tadi untuk ibadah,"
"Oh begitu. Apa tujuan kita masih jauh Sakura?"
"Sudah dekat, mungkin satu sampai dua jam lagi. Lebih baik kau tidur lagi Sakura-chan, kalau sudah tiba ditempat tujuan akan aku bangunkan,"
"Em baiklah, oyasumi Yura," ujar Sakura yang kembali bersandar, mencari posisi yang nyaman untuk tertidur.
"Oyasumi Sakura,"
.
.
.
.
.
Ketika Sakura terbangun matahari sudah terlihat bersinar. Jam digital didashboard mobil menunjukkan angka tujuh dan lima belas.
"Tidurmu nyenyak sekali," ujar Sasuke dari belakang.
"Tapi kelihatannya Naruto lebih nyenyak," kata Sakura ketika melihat pemuda bersurai pirang itu masih tertidur (yang anehnya dengan posisi yang terlihat sangat nyaman).
"Yura sedari tadi kau tidak tidur?" tanya Sakura ketika melihat Yura masih asik dengan gedgetnya.
"Aku tidak bisa tidur lagi Sakura, hehe~"
"Maaf nona, apa kita mampir untuk sarapan dulu?" tanya si sopir dengan nada sopan dam tentunya dengan bahasa Indonesia.
"Em, tidak usah pak. Langsung ke tempatnya saja," jawab Yura setelah diam sejenak.
"Baik, non,"
"Baiklah~ Kita akan segera sampai!" sorak Yura riang.
"Kalau begitu, Sasuke bangunkan Naruto!" perintah Sakura.
"Hn,"
.
.
.
.
.
"Astaga Yura~~ Hisashiburi!" teriak seorang gadis ketika melihat Yura berdiri di depan pagar rumahnya. Rumah sederhana dengan pekarangan yang lumayan luas, terdapat pohon anggur dan sebuah kolam ikan disalah satu sisinya.
"Lyn! Hisashiburi!" balas Yura dengan penuh semangat.
"Kau ini lama sekali, kukira kau tidak jadi kesini," ujar gadis itu.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan acara penting ini? Oh ya, apa kami terlambat?"
"Tidak. Waktu kalian pas sekali, malam ini adalah malam pembukaan dan aku sudah pesankan tiket,"
"Ehem~ Yura~~" panggil Sakura pelan, sedikit tidak enak mengganggu reuni dua gadis itu.
"Ah, sumimasen karena melupakan kalian, hehehe. Oh ya, dia Evilyn, sahabatku sejak kecil,"
"Yoo~~ Yoroshiku nee~ Kalian bisa panggil Ilyn saja," sapa Ilyn dengan bahasa Jepang yang lancar.
'Sifatnya mirip Naruto,' batin Sakura dan Sasuke.
"Yoo~ Ilyn! Naruto desu, yoroshiku~"
'Tuhkan mirip,' batin mereka lagi.
"Aku Sakura, salam kenal," ujar Sakura sembari menjabat tangan gadis bersurai hitam panjang itu.
"Sasuke," singkat, padat, jelas.
Sakura melirik pemuda raven disampingnya, menyikut perut Sasuke pelan.
"Apa?" ketus Sasuke.
"Kau ini jangan dingin begitu,Sasuke," tegur gadis musim semi itu.
"Sudah tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan yang setipe dengan dia. Ayo masuk, kalian sudah sarapan?" ketiga remaja itu kompak menggelengkan kepala mereka.
"Kau ini sadis sekali Yura," ejek Ilyn, nada yang digunakan tampak serius.
"Hei! Kau yang menyuruhku!" protes Yura.
"Hahaha~ Aku hanya bercanda Yura. Mari masuk," ajak gadis itu.
"Sakura dan Yura tidur dikamar sebelah kanan, sedangkan Naruto dan Sasuke dikamar sebelah kiri ya. Kalian taruh saja dulu tas kalian, akan kusiapkan sarapan,"
"Terima kasih Ilyn," ucap Sakura.
"Sama-sama, anggap saja rumah sendiri. Okey!"
"Dia baik," ujar Sakura ketika Ilyn pergi.
"Ya. Dia sahabat paling baik yang pernah kupunya. Ah kau ke kamar dulu saja, aku akan bantu dia. Jika semua telah siap akan aku panggil,"
"Okey,"
.
.
.
.
.
Sebuah tikar terbuah dari anyaman bambu tergelar rapi ditengah ruangan. Berbagai macam makanan tersedia diatasnya.
"Sugoi~~" ujar Naruto.
"Ini kau yang masak Ilyn?"
"Yups! Tentu saja," kata Ilyn dengan bangga.
"Dia chef yang handal," imbuh Yura.
"Sudah sudah, jangan membuatku besar kepala. Mari duduk, kita makan," ajak Ilyn.
"Yura, ini makanan apa saja?" tanya Sakura.
"Ilyn, jelaskan!" perintah Yura. Deatglare langsung melayang ke arah gadis itu.
"Hei! Kau kan chef-nya, jadi tugasmu untuk menjelaskan," elak Yura dengan santainya.
"Cih, alasan. Hem, baiklah mari kita mulai penjelasannya!"
"Yang pertama, ini namanya pecel. Sayur-sayuran dicampur dengan saus kacang, agak sedikit pedas dan ada beberapa sayuran yang terasa pahit. Tapi tenang, aku sudah mengatasinya," terang Ilyn.
"Kedua, ini rica-rica ayam. Hampir mirip teriyaki jika di Jepang, tapi ini pedas,"
"Lalu ada sayur sop. Ya, biasalah. Kalian pasti sudah tahu. Dan sebagai pelengkap, ada sambel tomat, tempe tahu goreng dan krupuk,"
"Wah~ Kau hafal Ilyn?" pandangan takjub terpancar jelas di iris saphire Naruto.
"Mochiron! Kan aku yang masak!"
"Bisakah kita langsung makan, aku lapar~" pinta Sakura dengan wajah memelas.
"Tentu saja, ittekimasu~"
"Ittekimasu~"
.
.
.
.
.
Setelah selesai sarapan, ke lima remaja itu berkumpul didekat kolam ikan. Ilyn telah menggelar tikar serta menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk mereka.
"Lalu untuk apa kita kesini Yura?" tanya Sasuke.
"Kita akan melihat festival paling akbar tahun ini," kata Yura penuh semangat.
"Festival tahunan yang paling ditunggu-tunggu," tambah Ilyn.
"Memang festival apa?"
"Festival Reog Nasional, Sakura. Dimana banyak penari-penari reog yang akan berkumpul. Bukan hanya Jawa Timur, tapi juga dari daerah lain,"
"Apa itu reog -ttebayo?"
"Reog itu jenis tarian tradisional daerah Ponorogo. Em, sepertinya aku punya fotonya. Sebentar," tangan kanan Ilyn bergerak mengutak-atik ponsel berwarna hitam miliknya.
"Ini dia!" seru Ilyn sembari menunjukkan foto 'reog' pada Naruto dan yang lain.
"Yang mana yang namanya reog?"
"Yang kau lihat ini adalah Reog, Naruto. Reog merupakan perpaduan beberapa tarian yang tergabung menjadi satu. Dalam tarian tersebut mewakili simbol-simbol dan memiliki alur cerita,"
"Kau lihat topeng macan dengan bulu merak yang indah?"
"Hm," sahut Sakura dan Naruto.
"Biasanya orang menyebut itu Reog karena itu pertunjukan utama dalam tari reog. Tapi nama sebenarnya adalah dadak merak,"
"Lalu mana yang kau maksud dengan tarian-tarian lain?" tanya Sasuke.
"Wah, susah jika menjelaskannya kalau tidak melihat secara langsung. Nanti saja saat melihat pertunjukannya,"
"Memang kapan pertunjukannya Ilyn? Aku tak sabar,"
"Sebentar lagi, Sakura. Kurang lima jam lagi, hehehe," kata Ilyn dengan santainya. Sakura dan Naruto hanya bisa terdiam sembari memandang gemas gadis itu.
"Kau ini selalu saja," gumam Yura. "Maafkan dia, dia memang begitu,"
"Hei! Aku kenapa? Lima jam itu sebentar, karena kalian akan kuajak jalan-jalan dulu," bela gadis bersurai hitam itu.
"Memang kita akan kemana? Aku tak tau kau akan mengajak kami jalan-jalan?" bisik Yura.
"Hei, sebagai tuan rumah yang baik aku harus mengajak kalian berkeliling," balas Ilyn yang juga berbisik.
"Yura, Ilyn? Ada apa?" tanya Sakura bingung melihat kedua gadis dihadapannya berbisik.
"I-iie, Sakura. Yossa~ sebaiknya kalian segera bersiap. Kita akan jalan-jalan,"
.
.
.
.
.
"Ini dia," ujar Ilyn ketika mereka tiba disalah satu rumah bergaya joglo. Halaman luas dengan berbagai macam perlatan yang tergeletak.
"Tempat apa ini?"
"Tempat pembuatan segala macam peralatan untuk reog. Mulai dari jaranan sampai topeng dadak meraknya,"
"Semua handmade?" pekik Sakura tak percaya. Gadis musim semi itu tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya membuat semua itu.
"Tentu saja. Semua dikerjakan dengan tangan. Maka dari itu proses pembuatannya lama dan biayanya sangat mahal. Alat musiknya pun juga dibuat dengan tangan dan tidak setiap orang bisa membuatnya," terang Ilyn panjang lebar.
"Lyn, i-ini berat sekali ttebayo," protes Naruto ketika mencoba mengangkat salah satu dadak merak yang sedang dipersiapkan untuk acara nanti malam.
"Jelas saja Naru, satu dadak merak bisa sampai 50 kg. Itu untuk orang dewasa. Untuk anak-anak biasanya lebih ringan. Dan dipakainya dengan mengigit kayu yang ada didalam topeng,"
"Digigit?" tanya Sasuke memastikan. Ah, jika diperhatikan seksama, bungsu Uchiha itu sedikit bergidik membayangkannya.
"Iya, digigit."
"Tidak sakit?" sahut Naruto.
"Entah, aku tidak tahu. Selama ini yang memainkan dadak merak selalu laki-laki,"
Keempat remaja itu hanya mengguk pelan. Kemudian asik melihat-lihat kegiatan yang ada disana.
.
.
.
.
.
.
Tepat pukul tujuh malam, kelima remaja itu telah tiba di aloon-aloon kabupaten Ponorogo. Pusat kabupaten tersebut telah ramai dipenuhi orang-orang, baik dari sekitar Ponorogo hingga turis mancanegara.
"Ilyn, ini acara apa? Kenapa ramai begini?" tanya Sakura setengah berteriak. Suara disana benar-benar ramai.
"Ini malam pembukaan festival satu suro sekaligus festival reog nasional, Sakura. Biasa juga disebut Grebeg Suro oleh masyarakat Ponorogo. Disini banyak kelompok reog yang akan tampil dari seluruh penjuru Indonesia," Sakura hanya mengguk pelan. Kelima remaja tersebut segera beranjak menuju bangku penonton.
"Astaga," beberapa kali Sakura terhuyung kebelakang karena terdorong oleh keramaian. Namun Sasuke selalu menjaga gadis itu. Mengawasinya dan memegangnya ketika Sakura mulai terdorong.
"Jangan lepaskan peganganku!" perintah Sasuke. Tangan kirinya menggemggam erat tangan gadis musim semi itu.
"H-hai'.."
Dengan sedikit perjuangnya, kini mereka telah duduk dibangku masing-masing. Posisinya berada didepan panggung sehingga mereka bisa melihat pertunjukan dengan leluasa.
Tak berapa lama musik mulai terdengar. Musik khas untuk mengiringi tari reog.
"Ini tarian pertama. Para lelaki itu disebut Warok. Warok sendiri sudah jadi identitas warga Ponorogo," jelas Ilyn ketika enam orang pria dengan pakaian serba hitam menari dengan gagahnya diatas panggung.
Setelah beberapa lama, tarian berganti. Kini sembilan gadis berpakaian putih terlihat tengah 'menunggangi' kuda dari anyaman bambu.
"Tarian ini disebut Jathilan. Dulunya ditarikan oleh laki-laki dengan gaya gemulai. Tapi sekaramg sudah tidak lagi,"
Tarian berganti dengan beberapa anak kecil yang menari dan melompat dengan lincah. Anak-anak tersebut memakai topeng berwarna merah. "Ini disebut Bujang Ganong atau Ganongan. Ditarikan oleh anak-anak. Manggambarkan kegesitan dan kelincahan. Ketiga tari itu adalah tari pembuka. Setelah ini akan muncul adegan intinya, Klono Sewandono dan dadak merak akan muncul,"
Benar saja. Tak beberapa lama, muncul seorang pria gagh perkasa menggunang topeng dan memegang cemeti. Setelah itu dadak merak muncul sembari mengibaskan bulu meraknya. Dalam adegan terlihat penari pria itu tengah bertarung dengan dadak merak.
"Aku melihat mereka bertarung atau hanya aku saja yang berlebihan?" tanya Sakura.
"Hehe, mereka memang tengah bertarung, Sakura. Dalam skenario memang begitu jalan ceritanya,"
"Skenario? Tari ada skenario?" sahut Sasuke. Oh.. rupanya bungsu Uchiha ini punya rasa penasaran yang besar.
"Yaa.. begitulah. Skenario yang dimainkan disesuaikan dengan acara dimana mereka tampil. Bisa tentang percintaan, bisa juga tentang cerita kesatria seperti sekarang ini," jelas Ilyn panjang lebar.
Keempat remaja itu mengangguk dan kembali menikmati pertunjukan. Sesekali berdecak kagum dengan penampilan kelompok reog itu.
Kebudayaan Indonesia begitu beragam. Reog hanya salah satu dari sekian banyak kebudayaan itu. Jika orang luar saja bisa menghargai kesenian Indonesia. Bukankah memalukan sebagai putra bangsa, jika kita tidak ikut melestarikannya.
