"Bangun tidur kusiram ladang~
tidak lupa ku beri pupuk~
abis sirem ku berburu barang~
ambil benda yang bisa dijual~"
"HAHAHAHA ayah! Kau boleh mengusirku! Tapi wanita pintar ini tidak akan setolol kau kira! Aku akan menjadi kaya dan menggosok mukamu dengan kekayaanku! HAHAHAHAHA" Aku bisa gila membayangkan uang yang akan kudapat. Setelah aku mati-matian berburu di hutan, aku mendapat hasil yang luar biasa. 10.000G! HAHAHAHAHAHA Ini bahkan hampir setara dengan uang jajanku setiap minggu.
Aku mulai terbiasa dengan kehidupan di desa sunyi ini. Setelah mendapat motivasi, aku sudah tidak mengeluh lagi dan bekerja dengan sepenuh hati.
Tetapi suatu hari, aku melihat sapi di ladangku.
Dia mengamuk di ladangku! Hohohoho mahluk sialan ini berani sekali mengamuk disini. Aku menyentuh tepi topi koboiku lalu berlari ke arah sapi brengsek ini. Dann..
"Sapi brengsek sialannnnnnnnnnnnnn!" Rasakan Tendangan maut Rachel!
Sapi itu mental dan terkapar di ladang.
"Makanya jangan macam-macam sama Rachel! Hahahaha!" Tawaku di menginjak tubuh sapi itu.
"..."
Aku menoleh kebelakang dan mendapati seorang cowok ganteng berambut pirang di depan ladangku. Dia menatap lekat-lekat kearahku lalu ke arah sapi yang pingsan.
Tawaku pudar. Ya ampun, bilang kek kalau ada cowok ganteng. Malu besar aku. "Eh...Anu.. Ini sapi ngamuk...Jadi ya..." Aku bingung mau ngomong apa. Masa aku bilang, sapi ini menyerangku. Tapi itu sapinya dah K.O. Jelas kalo kau nanya anak TK, pasti mereka bisa menjawab, akulah pelakunya dan sapi itu korban.
"Minggir kau." Kata cowok itu dengan sinis. Lalu ia mendekati sapi tersebut.
Sikap apa-apaan itu! Masa ada cewek cakep dibilang gitu?! Emang sih kalau cewek cakep ini kuat dan bisa meng KO satu sapi, tapi tetap saja! Muka boleh bagus tapi kalau sikap brengsek gitu? Maaf ya, ga level.
Aku menatap cowok ganteng itu dengan kesal. Berharap tatapanku bisa menghancurkannya atau minimal membakarnya.
"Untung dia tidak apa-apa. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya aku hajar kau tanpa peduli kau cewek atau bukan!" Kata cowok itu seusai ia memeriksa sapi itu.
"EH! Lu nyalahin gue?! Sapi lu tuh yang ngamuk-ngamuk ke ladang gue minta digebuk!"
"Kalo dia ngamuk emang kenapa?! Kan tidak perlu hajar sampe sekarat gitu!"
Aku mengepalkan tanganku dan menggertakkan gigiku "HEH! ITU SAPI HAMPIR BIKIN GUE MATI KELAPARAN! KALO GA DARI HASIL LADANG, GUE MAKAN APA?!"
Cowok itu hendak membalas perkataanku ketika terdengar suara lenguhan sapi. Kami berdua menatap sapi yang sudah segar bugar itu.
Lalu sapi itu berjalan kearahku dan menjilat mukaku dengan lidahnya, membuat wajahku basah. SAPI BRENGSEK! GA CUKUP APA LU HANCURIN LADANG GUE, SEKARANG LU MAU HANCURIN MUKA GUE?!
"Tidak mungkin." Ucap cowok itu tidak percaya. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Dia biasanya tidak pernah suka sama orang. "
'Maksud lu gue bukan orang?' Batinku sambil mengepalkan tanganku.
"Bahkan denganku, ia tidak mau. Tetapi dengan cewek setan ini..." Cowok ini menatapku dengan tatapan aneh. Menduga-duga jangan-jangan cewek ini pake pelet.
Melihat itu, aku punya ide cemerlang. "Yaampun kau lucu sekali." Kataku sambil mencubitnya dengan kencang. Alhasil, ia melenguh girang. Jangan-jangan sapi ini...Masochist?!
"Hei~ kau mau tinggal di ladangku ga?" arti lainnya bayar segala kerusakanmu dengan tubuhmu!
Sapi itu menjawab dengan girang tan[pa mengetahui arti lain kata-kata itu. Cowok itu yang tadinya batu kembali jadi manusia. "Tu-Tunggu! Siapa bilang kau boleh taruh dia diladangmu?!"
"Huweeee... Maafkan aku. Tapi kita tidak mungkin bisa bersama..." Mewekku sambil memeluk sapi. Sapi itu pun melenguh sedih.
"Sekarang...Kita lihat siapa yang setan disini~~" Seruku sambil menangis. Suaraku sengaja dikeraskan agar membangunkan orang-orang. Biar mereka melihat betapa brengseknya cowok ini!
"Kh! Baiklah ia boleh tinggal! Kasih nama sana! Gue dah ga peduli lagi!" Gerutu cowok itu lalu berjalan pergi.
"Hei!"
"Apa?" Jawabnya sambil membentak.
"Bagaimana cara merawat sapi?" Tanyaku polos.
"Baca bukunya di rak kamar lu! Biasakan membaca makanya!" Serunya sebelum hilang ditelan bumi. Telen aja dia, gue bersyukur banget kalo dia ditelen dan gak kembali lagi.
"Hm..Pantes kau gak suka sama dia. Siapa sih yang demen cowok nyebelin kek gitu?" Kataku sambil mencubit sapi gratisku. Sapi itu hanya menjawab dengan melenguh riang.
Melihat ia begitu senang dicubit, aku beri namanya Chubby. Lumayan, pagi-pagi udah dapat sapi gratis. Aku pun menaruhnya di kandangnya.
Setelah beberapa saat, aku sadar, kok dia bisa tau, kalo rak buku gue ada buku tentang cara merawat sapi? Ah bodo amat, males gue mikirin gituan.
