Care & Custody

Author: Me!

Genre: Masukkan semua genre di sini Σ(゜ロ゜;) - kecuali mungkin supernatural & fantasy -

Pairing: R27, FonxVerde

Disclaimer: penulis ff ini tidak memegang hak cipta anime/manga KHR

Warning: BL/shounen-ai/boyxboy; update tidak sesuai timeline, lebih mirip drabble/chapter pendek tanpa plot

Aku tahu cara menulisku aneh dan humornya garing, tapi karena belum ada yang komplain... aku fokus untuk menjadi lebih produktif dulu, oke?


I. Bagaimana Fon dan Verde Bercakap-Cakap di Koridor

Entry: Minggu, 13 Maret 2016

Words: 550+

[AN: Setiap Verde sedang berpikir, pikirannya selalu kemana-mana. Hal ini menunjukkan kalau dia bisa berpikir lebih cepat dari anak biasa... dan dia kurang waras, eh]

Setelah menginspeksi kamar barunya di Fiona yang mirip penjara tanpa gembok dan jendela berjeruji, Fon bergegas pergi ke ruang makan di lantai B2. Dia masih punya waktu sebelum makan malam dimulai, tapi siapa tahu akan ada yang menghadangnya di jalan. Misalnya seperti antrian lift, lift yang macet, anak-anak perempuan yang ingin menarik perhatiannya (seperti yang biasa terjadi di luar sana), DAN - terutama - seorang anak berkacamata dan berambut hijau yang tidak asing.

-...-...-

"Koridor dua," Verde bergumam, menunjuk arah datangnya Fon. "Lantai B4. Apa yang telah kau lakukan, hmm?"

"Emm, maksudmu selain berjalan menuju ruang makan, berbicara denganmu, dan bernapas?"

"... itu sedang,Idiot." Fon tidak tahu apakah normalnya seseorang harus merasa tersinggung dipanggil idiot oleh orang berotak jenius. Karena, jika orang jenius tersebut menganggap dirinya normal, maka tidak salah ia menganggap kebanyakan orang idiot. Namun, jika orang jenius tersebut menganggap dirinya jenius, maka orang yang ia anggap idiot sama dengan atau lebih bodoh dari primata. Tetapi toh, Fon kan tidak normal, jadi Fon berhenti memikirkan apa yang seharusnya orang normal lakukan dan mulai melakukan segala hal dengan gayanya. Jadi dia tersenyum.

Jika Verde mulai mengganggap anak yang di hadapannya cenderung masokis atau sedikit 'cacat' di kepala, Verde tidak menunjukkanya... atau dia menunjukkannya dengan memperbaiki letak kacamatanya - yang sebetulnya ia lakukan untuk memantulkan cahaya lampu yang akan menyembunyikan kilatan yang sebenarnya di matanya - dan tersenyum mengejek... Oke, tampaknya dia cukup banyak menunjukkannya, tapi kan bukan berarti Fon bisa mengetahui isi pikirannya. Palingan dia mengira kalau Verde perlu ke toilet atau semacamnya. Renato sering mengatakan bahwa semua raut wajahnya selain ekspresi bosan dan mode ilmuwan gila-nya seperti orang kebelet pipis.

"Apa yang kau lakukan sebelum dibawa kesini? Atau lebih tepatnya, apa yang kau lakukan sehingga kau terdampar di sini?"

Sejenius-jenius-nya seorang anak yang tiba-tiba jadi yatim piatu dengan cara yang paling abnormal sekalipun, tidak akan bisa anak itu sampai di Fiona tanpa lilitan takdir... atau perbuatan bodoh dan gila seperti membalas kematian kucing tua-mu pada tetanggamu dengan membunuh masal seluruh anggota mafia yang ternyata ia ketuai hanya dengan sebuah garpu, teori yang Verde lebih suka daripada hal abstrak beranama takdir. Terutama karena teori itu berasal dari tidak lain dan tidak bukan adalalah teman-tapi-musuh-nya, Renato.

Renato terdampar di panti itu karena dibuang oleh orangtua kandungnya. Sehingga, dia selalu berkata bahwa ia tinggal di Fiona karena takdir agar ia tidak melukai hati kecil-nya sendiri. Pertemuannya dengan Verde juga karena takdir. Tapi, menurut Verde Renato hanya sedang dihipnotis pengasuh-nya.

Ketika Fon hendak menjawab, Verde mendahuluinya, "Kau punya kucing tua yang mati baru-baru ini?"

"Emm... tidak."

"Oh, bukan kucing. Kalau begitu kelinci? Anjing? Hamster? Jerapah? Buaya? Kalau aku punya buaya!"

Fon hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Jadi, hewan peliharaan apa yang kau punya?"

"... kumbang?" Fon pernah menangkap banyak kumbang dengan adik laki-laki bungsunya, Alaude, saat mereka liburan ke Jepang. Dia tidak pernah melihat kumbang-kumbang-nya lagi sejak Kyouya, adiknya yang satu lagi, mengambil kumbang-kumbang itu untuk bermain dengan burung mungil peliharaannya, yang sebenarnya adalah monster.

"Serius? Lebih buruk dari kucing tua," kini Verde memandang Fon seakan-akan dia lebih gila dari seorang anak yang membalas dendam dengan sebuah garpu.

"Kalau maksudmu teman baik hewan, aku punya Lichi. Dia itu kera jenis-"

"-Hei! Kau mengalihkan perhatianku!"

'Aku tidak melakukan apa-apa!' tangis Fon dalam hati.

Terkadang, orang yang mempertanyakan kewarasan orang lain tidak lebih waras dari orang yang dipertanyakan.

Endtry


Sekali lagi, kalau ada pertanyaan PM aja, atau kalau ada yang mau tahu cerita tentang apa ini sebenarnya (berarti spoiler) tapi malas membaca tulisan aneh ini dan menunggu, aku akan dengan senang hati memberitahukannya lewat PM, oke?