Let's Just Fall In Love Again

Five

Author: Byunna Park

Rate: T

Genre: Romance

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Other Cast: Lu Han, Kris Wu, Kim Jongin, Oh Sehun

Warning: OOC/GS/typo(s)/gaje/pasaran/crack couple/don't like, don't read.

Let's Start

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun, kenapa gadis itu tiba-tiba pingsan? Apa Baekhyun terlalu shock melihatnya? Apa jangan-jangan Baekhyun sebenarnya sakit tapi memaksakan diri untuk datang menemuinya? Atau Baekhyun terlalu takut kalau yang menemuinya ini adalah penipu?

Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Ia sangat takut dan khawatir karena Baekhyun belum juga bangun setelah ia memanggil namanya berkali-kali. Otak Chanyeol blank karena terlalu paniknya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia akhirnya hanya mengangkat tubuh Baekhyun lalu membaringkannya di bangku taman dengan kepala yang ia letakkan di pahanya. Berkali-kali ia menepuk pelan pipi Baekhyun sambil memanggil-manggil namanya tapi tetap tidak berhasil.

"hey adik kecil, bisa kemari sebentar?" teriak Chanyeol pada dua bocah laki-laki yang sedang bersiap-siap untuk menerbangkan layang-layangnya.

"ada apa hyung?" tanya salah satu bocah laki-laki itu setelah berlari ke arah Chanyeol.

"hyung bisa minta tolong?"

"minta tolong apa?'

"tolong belikan hyung minyak aroma terapi ya, di warung sekitar sini, bagaimana?"

Dua bocah kecil itu pun masih terlihat berpikir. Salah satunya menyikut perut temannya dan memberi tatapan seperti bertanya 'bagaimana ini?'. Seolah mengerti arti tatapan temannya, yang disikutpun hanya mengendikkan bahunya.

"ini uangnya, nanti sisanya untuk kalian berdua"

Mata kedua bocah kecil itu berbinar melihat selembar uang yang nominalnya cukup besar kalau hanya untuk membeli minyak aroma terapi. Tanpa pikir panjang bocah laki-laki itu pun langsung menyambar uang yang disodorkan Chanyeol.

"baik hyung, kami akan segera kembali, ayo!" ajak salah satu bocah yang gigi depannya ompong lalu menyeret temannya untuk ikut membeli minyak aroma terapi.

Chanyeol terkekeh sambil menggelengkan kepalanya memandang kepergian dua bocah itu,'anak zaman sekarang'.

Pandangannya lalu beralih menatap Baekhyun yang masih belum sadar. Wajahnya memang pucat, tapi masih terlihat cantik di mata Chanyeol dan sampai sekarang masih bisa membuatnya terpesona. Betapa beruntungnya ia dulu pernah menjadi seorang yang special dihidup gadis itu.

"kau masih tetap cantik Baek dan semakin cantik" gumam Chanyeol dan dengan tanpa sadar tangannya membelai pipi mulus Baekhyun.

'astaga! Apa yang aku lakukan? Maaf Baek aku tidak bermaksud kurang ajar padamu' rutuknya dalam hati. Bisa-bisanya ia mengagumi paras Baekhyun saat gadis itu terbaring lemah tak berdaya dan itu karenanya.

"ini hyung minyaknya" ucap bocah kecil tadi sambil menyodorkan botol minyak aroma terapi pada Chanyeol.

Chanyeol pun tersenyum lalu mengambil botol kecil itu,"terima kasih".

"tadi sisanya kami belikan layang-layang dan es krim, tapi masih sisa juga"

Tangan Chanyeol mengacak-acak rambut bocah itu,"tidak apa-apa, untuk kalian saja"

Kedua bocah itu lagi-lagi tersenyum lebar menampakkan gigi mereka yang ternyata sama-sama ompong,"terima kasih hyung, kami pergi dulu ya" pamitnya sambil melambaikan tangannya. Chanyeol hanya tersenyum dan mengangguk.

Tanpa buang waktu lagi, ia segera membuka tutup minyak aroma terapi tersebut dan mendekatkannya ke hidung Baekhyun dengan harapan aroma yang menyengat itu bisa menyadarkan Baekhyun.

Dan usahanya tidak sia-sia karena tidak lama kemudian kening Baekhyun terlihat berkerut dan lama-lama matanya terbuka. Chanyeol lega bukan main dibuatnya.

.

.

.

"syukurlah kau sudah sadar" ucap Chanyeol dengan diiringi helaan nafas lega.

Baekhyun mencoba membiasakan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya, semuanya masih terlihat buram. Sedetik kemudian matanya berhasil terbuka lebar saat pandangannya pertama kali menangkap sosok tampan yang tersenyum padanya.

Segera saja ia menegakkan tubuhnya dan menatap Chanyeol curiga,"si-siapa kau? Dan apa yang kau lakukan padaku?" tanya Baekhyun panik sekaligus takut sambil menggeser duduknya menjauh dari Chanyeol.

"te-tenang, tenang Baek, aku tidak berbuat macam-macam padamu. Tadi kau pingsan" terang Chanyeol mencoba meyakinkan Baekhyun.

Baekhyun mengerutkan keningnya,'pingsan pingsan pingsan' ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Seingatnya tadi sepulang kuliah ia pergi ke taman kota lalu ada seorang pemuda tampan yang menghampirinya dan berkata kalau ia…

'ASTAGA! JANGAN-JANGAN…' mata gadis itu melotot. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya tak berani menatap pemuda tampan yang duduk di sebelahnya.

"Baekhyun, kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol yang semakin khawatir.

Tapi Baekhyun hanya diam sambil memeluk erat tasnya. Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sebenarnya juga masih belum percaya kalau yang ada di hadapannya ini adalah Yoda gendutnya. 'bagaimana bisa? Oh Tuhan sulit dipercaya'

"kau tidak usah takut, aku bukan penipu, sungguh. Percayalah padaku!" yakin Chanyeol karena Baekhyun masih memalingkan wajahnya tanpa bersuara sedikitpun.

"ap-apa buah kesukaanku?" tanya Baekhyun pada akhirnya.

"strawberry"

"saat SMP aku lemah dalam pelajaran apa?"

"matematika"

"siapa nama teman dekatku waktu SMP?"

"Do Kyungsoo"

"siapa pacar Kyungsoo waktu SMP?"

"Kim Jongin"

"berapa kali Chanyeol datang ke rumahku?"

Chanyeol terdiam sejenak, kepalanya menunduk lalu menggeleng,"Chanyeol tidak pernah ke rumah Baekhyun, karena Baekhyun tidak mau memberitahu alamat rumahnya. Baekhyun bilang kakaknya akan menggantungku di tiang listrik jika aku datang ke rumahnya"

Dan entah kenapa mata Baekhyun berkaca-kaca mendengarnya. Ya, pemuda itu memang Chanyeol, Yoda gendutnya. Chanyeol memang tidak pernah kerumahnya, dulu mereka hanya bertemu saat di sekolah saja. Baekhyun sendiri yang melarangnya karena Baekbeom –kakak laki-laki Baekhyun itu melarang adiknya berpacaran dan kalau sampai Baekbeom tahu… entahlah mungkin Baekbeom akan mencincang Chanyeol sampai badannya kempes. Huufh kakaknya itu memang menyebalkan. Padahal dulu saat Baekbeom SMP, Baekhyun pernah memergokinya menulis surat cinta, cih! yang tua memang selalu ingin menang sendiri.

Perlahan Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol yang sampai sekarang masih menundukkan kepalanya. Ia sungguh merasa bersalah karena sempat meragukan pemuda tampan dihadapannya ini.

"Chanyeol!" panggil Baekhyun lirih.

Sontak Chanyeol mendongak menatap Baekhyun. Senyumpun perlahan menghiasi wajah tampannya saat Baekhyun memanggil namanya dan itu tandanya Baekhyun sudah percaya padanya.

"maafkan aku. Ak-aku …aku hanya–"

"tidak apa-apa Baek, aku mengerti. Kau pasti masih trauma dengan kejadian kemarin" potong Chanyeol. Baekhyun tersenyum kecut, ini semua salah orang gendut kemarin. Ugh! Sekarang Baekhyun sungguh tidak enak hati pada Chanyeol.

Baekhyun tiba-tiba menoleh menatap Chanyeol kembali saat mendengar pemuda itu terkekeh.

"tidak usah merasa bersalah begitu. Sudah lupakan saja, yang penting kita sudah bertemu" ucap Chanyeol membuat Baekhyun perlahan tersenyum lalu tertawa besama mengingat pertemuan mereka yang sama sekali tidak mulus.

"kenapa tadi kau pingsan? Kau sakit?" tanya Chanyeol, raut khawatirnya kembali lagi.

Baekhyun lagi-lagi melotot, wajahnya memerah malu. Pingsan setelah melihat wajah tampan Chanyeol itu sungguh memalukan. Jujur saja ia sudah merasa lemas saat jam kuliahnya usai, tapi pikiran yang tidak tenang membuatnya tidak nafsu makan dan parahnya melihat wajah Chanyeol yang sekarang berhasil membuatnya shock. Tubuhnya semakin melemas dan akhirnya tidak sadarkan diri. Andai saja ia mematuhi perintah Luhan untuk makan terlebih dahulu, mungkin hal memalukan ini tidak akan terjadi. Dan memang penyesalan selalu datang terlambat Baek.

"tidak Yeol aku baik-baik saja. Mungkin karena…" Baekhyun terdiam sejenak masih mencari-cari alasan yang tepat," eumm karena…"

Kryuuk~

WHAT THE F***! Bunyi nista macam apa itu. Kenapa banyak sekali hal yang memalukan hari ini, setelah tadi pingsan di depan Chanyeol lalu sekarang perutnya yang berulah, apa sebenarnya salah hambamu ini Tuhan –Baekhyun menjerit prustasi dalam hati. Mukanya memerah malu, ingin rasanya ia menutupi wajahnya dengan tumpukan buku-buku kuliahnya.

Dan sialnya lagi suara nista itu juga tertangkap oleh indera pendengaran Park Chanyeol. Pemuda itu mengerutkan keningnya dengan menatap Baekhyun untuk meminta penjelasan. Sedangkan yang ditatap hanya bisa memalingkan muka merahnya karena malu stadium 4.

"Baek, jangan bilang kalau kau belum makan"

Terlambat untuk Baekhyun berbohong karena perut bodohnya sudah berkata jujur. Mungkin itu adalah bentuk protes perutnya karena belum di isi sejak tadi malam dan tadi pagi ia hanya makan selembar roti padahal kuliah pagi sampai sore. Ia sebenarnya juga kasihan dengan perut malangnya ini tapi mau bagaimana lagi, ia memang tidak nafsu makan sebelum bertemu dengan Chanyeol.

Dan akhirnya hanya cengiran bodoh yang ia berikan pada' mantan' Yoda gendutnya.

.

.

.

"Chanyeol, kau tidak perlu membeli makanan sebanyak ini" ucap Baekhyun merasa sungkan sambil menatap berbagai macam makan yang sudah tersaji di mejanya. Perutnya semakin berdemo saat ia melihat makanan yang kelihatannya sangat lezat tersebut.

Setelah mendengar bunyi protesan dari perut Baekhyun dan menduga Baekhyun pingsan karena lapar –walau Baekhyun tidak menjawab saat ia bertanya– Chanyeol langsung mengajak Baekhyun ke sebuah restoran di sekitar taman kota tanpa mendengar penolakan dari Baekhyun.

"tidak apa-apa anggap saja ini permintaan maafku untuk yang kemarin"

Kening Baekhyun berkerut,"kenapa kau yang meminta maaf, aku yang salah Yeol"

"tidak, aku yang salah karena memberi informasi yang tidak jelas padamu"

"tapi tetap saja aku yang ceroboh" ujar Baekhyun lirih dengan menundukkan kepalanya.

"sudah, lupakan saja yang kemarin. Sebaiknya sekarang kau makan, aku kasihan dengan perutmu yang terus protes dari tadi" ujar Chanyeol sambil terkekeh menggoda Baekhyun.

Ugh! Perut sialan kenapa berbunyi terus dari tadi –umpat Baekhyun dengan muka yang lagi-lagi memerah. Ia bersumpah akan mengisi perutnya ini sampai penuh jika ingin bertemu lagi dengan Chanyeol. Eh.. bertemu lagi dengan Chanyeol? Baekhyun harap sih iya, tapi…. Ah entahlah.

Baekhyun berusaha untuk makan dengan seanggun mungkin. Kalau saja yang dihadapannya ini Kris atau Luhan, semua makanan ini pasti sudah habis dalam waktu kurang lebih 5 menit karena memang ia bisa makan dengan brutal jika perutnya sudah lapar. Tapi Baekhyun belum gila untuk melakukan itu di depan Chanyeol.

Sial! Kenapa ia salah tingkah sendiri seperti ini, pipinya terus mengeluarkan blush-on alami. Ia sungguh tidak bisa makan dengan tenang kalau Chanyeol menatapnya terus menerus seperti itu. Tapi, tunggu! Apa Chanyeol tidak makan?

"Chanyeol, kau tidak makan?" tanya Baekhyun menghentikan sejenak acara makannya.

Yang di panggil pun terlihat tersentak kaget,"eh! Eung tidak, aku sudah makan tadi. Kau saja yang makan. Ayo habiskan Baek!" jawab Chanyeol lalu mengambil potongan daging dan meletakkannya di mangkuk nasi Baekhyun.

"kalau begitu aku juga tidak mau makan" protes Baekhyun lalu melipat tangannya dan menyandarkan punggungnya di kursi.

"hey! Jangan begitu,kasihan perutmu nanti bisa-bisa kau sakit maag"

"tapi bagaimana bisa aku makan dengan lahap sementara orang yang ada di depanku hanya melihat saja, ugh! Aku merasa menjadi orang yang tidak berperasaan"

Chanyeol akhirnya menghela nafas,"baiklah, baiklah! Aku akan ikut makan besamamu" ucapnya menyerah agar Baekhyun mau melanjutkan makannya. Sedangkan Baekhyun tersenyum puas karena taktiknya berhasil.

"tapi aku punya satu permintaan"

"permintaan apa?" tanya Baekhyun bingung.

Tanpa menjawabnya terlebih dahulu, Chanyeol mencomot sayuran berwarna hijau yang setahu Baekhyun bernama brokoli dan berniat menyuapkannya pada Baekhyun.

"aku ingin kau memakan brokoli ini"

Reflek Baekhyun memundurkan wajahnya lalu menggeleng. Brokoli? Hell, Baekhyun tidak suka sayuran. Sedari tadi memang satu-satunya piring yang tidak di sentuh Baekhyun adalah piring yang berisi brokoli saus tiram.

"tidak Yeol! Aku tidak mau, rasanya tidak enak" tolak Baekhyun mentah-mentah.

"brokoli ini sudah dimasak Baek, tidak seperti sayuran mentah lagi. Ayolah coba sedikit saja! Jangan terlalu banyak mengkonsumsi daging, itu tidak bagus untuk kesehatan. Kau juga harus banyak memakan sayuran" paksa Chanyeol karena ia tahu dari dulu Baekhyun memang tidak suka makan sayur.

"sedikit saja, aku jamin tidak akan terasa mentah lagi"

Chanyeol memang sengaja memesan brokoli saus tiram dan mengamati Baekhyun saat makan untuk memastikan saja apakah sudah ada perubahan atau belum. Dan ternyata dugaannya tepat, sejak tadi Baekhyun tidak menyentuh piring yang berisi brokoli itu. Baekhyun memang tidak berubah, gadis itu masih tidak suka sayur.

Dengan ragu Baekhyun pun menerima suapan Chanyeol. Baekhyun memejamkan matanya erat dan mulai mengunyah dengan cepat brokoli yang ada di dalam mulutnya lalu menelannya dengan tekstur yang masih kasar. Yah, Chanyeol memang benar, rasanya sudah tidak seperti sayuran mentah karena ada bumbu-bumbu yang meresap di dalamnya.

"aku pikir rasanya akan sama seperti wortel mentah karena biasanya orang akan memasak sayuran itu setengah matang" ucap Baekhyun setelahnya. Ia memang anti makan sayur-sayuran terutama wortel. Berawal dari saat ia masih kelas 1 SD nyonya Byun mencekokinya dengan jus wortel katanya bagus untuk mata tapi rasanya membuat Baekhyun ingin muntah, sejak saat itu Baekhyun tidak mau makan sayur. Baginya rasa jus wortel itu sangat sangat mengerikan.

Chanyeol terkekeh,"lain kali kau harus sering-sering mencoba makan sayur Baek. Kalau kau sering mencobanya, aku yakin lama-lama kau akan suka"

"yeah, mungkin aku mau sering-sering mencobanya kalau kau paksa terus–" oops, sepertinya ia keceplosan. Secara tidak langsung ia menginginkan Chanyeol untuk terus memperhatikannya.

Chanyeol pun tertawa mendengarnya. Sedangkan Baekhyun hanya tersenyum canggung sambil memainkan sumpit di mangkuknya.

"baiklah, aku akan mengirim sayuran setiap hari padamu jadi kau harus siap-siap memakan banyak sayuran setiap harinya"

Baekhyun menggeleng,"ti-tidak Yeol, aku hanya bercanda tadi"

"sayangnya aku menganggapnya serius"

Sudut bibir Baekhyun tertarik kebawah,"Yeol, jangan! Please!" mohonnya dengan puppy eyes yang sangat manjur saat ia gunakan pada Luhan. Selain ia bisa gila melihat banyak sayuran ia juga tidak mau merepotkan Chanyeol.

"jangan melihatku seperti itu, tidak akan mempan kalau ini menyangkut kesehatanmu sendiri"

Baekhyun beralih mengerucutkan bibirnya,"huuh kau seperti ibuku saja"

"karena kalau tidak dipaksa, kau tidak akan pernah mau makan sayur sampai kapanpun" ucap Chanyeol lalu terkekeh.

"baiklah baiklah tuan Park, kau berhasil memaksaku"

Chanyeol hanya tertawa melihat wajah pasrah Baekhyun.

Walaupun dulu nyonya Byun sering memaksa Baekhyun untuk makan sayur sampai mulutnya berbusa tapi tetap saja tidak mempan sampai nyonya Byun menyerah. Tapi sepertinya beda kalau yang memaksanya adalah cinta pertamanya.

Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi antara Chanyeol dan Baekhyun. Mereka memilih untuk makan dengan tenang. Tapi Baekhyun tetap saja masih merasa canggung jika hening seperti ini karena ini pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama. Hening? Ah, Baekhyun rasa tidak juga karena sedari tadi ada suara-suara yang sungguh mengganggu indera pendengarannya. Lebih tepatnya bersumber di meja sampingnya, dimana terdapat segerombolan gadis-gadis remaja. Sesekali Baekhyun melirik mereka dan sungguh ia tidak suka itu, gadis-gadis itu terus-terusan mencuri pandang ke arah Chanyeol dan saling berbisik satu sama lain. Dihadapannya sekarang memang ada seorang yang sangat tampan, mungkin gadis-gadis itu terpesona melihatnya dan Baekhyun merasa sangat tidak suka. Pasalnya baru kali ini ada yang melirik laki-laki yang bersamanya dengan tatapan penuh ketertarikan. Berbeda saat ia bersama mantan-mantannya yang dulu, tidak ada satu pun gadis lain yang meliriknya dan Baekhyun merasa tenang akan hal itu. Tapi sayang sekali, kali ini bukan laki-laki unik –dan aneh menurut Kris– yang bersamanya, bisa dibilang ia bersama pangeran tampan yang didambakan setiap wanita –mungkin– dan ini memang konsekuensi yang harus ia terima. Ingin rasanya ia berteriak pada gadis-gadis itu agar tidak melirik Chanyeol terus menerus, tapi sekali lagi Baekhyun belum gila untuk berani melakukannya. Lagi pula ia tidak punya hak untuk melakukan itu. Memang saat SMP Chanyeol adalah pacarnya, tapi itu dulu entah sekarang bagaimana. Mungkin sekarang Chanyeol sudah menemukan hati yang lain karena mustahil pemuda setampan Chanyeol tidak mempunyai pacar.

Baekhyun menghela nafasnya. Perasaannya semakin campur aduk setelah bertemu dengan Chanyeol, antara senang, takut dan…bingung.

.

.

.

Baekhyun mengeratkan jaket Chanyeol yang membungkus tubuhnya. Tak terasa hari mulai gelap saat mereka keluar dari restoran dan hawa dingin pun dengan senang hati menyapa mereka. Chanyeol langsung melepas jaketnya untuk ia berikan pada Baekhyun karena tidak mungkin ia membiarkan gadis itu kedinginan mengingat Baekhyun hanya memakai kemeja yang berbahan tipis.

Mereka memutuskan untuk kembali ke taman, tempat semula mereka bertemu. Bermaksud untuk menghabiskan waktu berdua lebih lama lagi. Hanya memandang langit malam yang sangat cerah dengan bulan yang bersinar terang ditemani dengan jutaan bintang –sudah mampu membuat mereka tersenyum.

Baekhyun memasukkan kedua tangannya di saku jaket Chanyeol dan sejenak memejamkan matanya merasakan kelembutan belaian angin di wajahnya. Jantungnya terus berdetak kencang tapi sungguh baru kali ini ia merasa nyaman dan bahagia ketika bersama seseorang. Ya, bersama cinta pertamanya. Baekhyun sungguh berharap Tuhan berbaik hati untuk menghentikan waktu agar pertemuan ini tidak cepat berakhir. Kenapa berat sekali rasanya kalau harus berpisah lagi.

Gadis itu membuka matanya kembali, lalu ia menoleh ke arah Chanyeol yang duduk disampingnya. Ia tersenyum melihat Chanyeol yang masih menatap langit. Wajahnya seakan ikut bersinar saat terkena sinar bulan.

Tampan

Mengetahui fakta itu, entah kenapa senyumnya perlahan luntur, kepalanya beralih menunduk. Rasa gelisah dan takut mendatanginya. Chanyeol sudah berubah sekarang. Chanyeol yang sekarang bukan 'Yoda gendutnya' walau sikapnya dari dulu tidak berubah, selalu berhasil membuatnya nyaman dan mampu membuat cupid terus menancapkan ribuan panah cinta di hatinya. Pasti juga banyak sekali gadis-gadis yang mengejarnya –sesuatu yang paling ia takuti dan kenapa harus Chanyeol, Tuhan? Kenapa harus Chanyeol? –sesalnya dalam hati.

"Baek, kau tidak apa-apa?"

Baekhyun sontak mendongakkan wajahnya kembali lalu tersenyum dan menggeleng menandakan kalau ia baik-baik saja.

"kau masih kedinginan? Kalau masih kedinginan sebaiknya aku antar kau pulang sekarang"

Baru Chanyeol akan beranjak dari duduknya tapi sudah ditahan oleh Baekhyun sehingga pemuda jangkung itu duduk kembali.

Baekhyun menggelengkan kepalanya lagi,"tidak Yeol, aku baik-baik saja kau tidak usah khawatir"

"benarkah?" tanya Chanyeol untuk meyakinkan karena sungguh ia tidak mau Baekhyun sakit setelah ini.

Baekhyun menjawabnya dengan anggukan mantap.

"Yeol, aku ingin marah padamu" ucap Baekhyun memulai pembicaraan mereka dengan bibir sedikit mengerucut.

Terlihat Chanyeol menaikkan kedua alisnya tidak mengerti,"ke-kenapa Baek?"

"sudah hampir 3 tahun berada di Seoul kenapa kau tidak pernah memberi kabar padaku?"

Chanyeol tersenyum kecut lalu menundukkan kepalanya,"maaf Baek aku memang payah. Aku tidak tahu harus bagaimana memberi kabar padamu, karena alamat rumahmu saja aku tidak tahu apa lagi nomor ponselmu. Aku seperti sudah kehilangan jejakmu"

Baekhyun menatap sendu ke arah Chanyeol, menyesal kenapa dulu ia tidak memberi alamat rumahnya pada pemuda itu.

"aku sungguh beruntung saat pertama kali kembali ke Seoul, Tuhan mempertemukanku dengan Jongin walau awalnya Jongin tidak mengenaliku dengan itu aku juga berharap akan bertemu denganmu. Tapi sudah hampir 3 tahun aku juga tidak kunjung bertemu denganmu di kampus itu. Jongin bahkan juga tidak tahu saat aku bertanya tentangmu karena katanya kalian tidak melanjutkan di SMA yang sama dan itu juga penyebab Jongin putus dengan Kyungsoo. Ternyata memang harapan untuk bertemu dengamu sangat tipis sampai akhirnya kata-kata 'kalau jodoh pasti akan bertemu' tertanam di otakku"

Pipi Baekhyun merona dibuatnya, secara tidak langsung Chanyeol berkata kalau mereka berjodoh karena Tuhan mempertemukanya kembali. Jangan ditanya, jantung Baekhyun ingin lompat rasanya. Tapi tunggu! Apakah itu berarti selama ini Chanyeol masih mengharapkannya?

"seharusnya aku datang ke acara reuni itu tapi sayang sekali ada sesuatu hal yang tidak bisa aku tinggalkan" yeah deadline dari dosen Chang yang tidak bisa membuatnya pergi malam itu.

Baekhyun pun mengaguk mengerti,"aku tahu, menjadi asisten dosen semakin membuatmu sibuk"

Chanyeol sontak menatap Baekhyun,"ba-bagaimana kau bisa tahu?"

"Jongin yang mengatakannya padaku, kau memang si jenius yang hebat Yeol" puji Baekhyun dengan memberi kedua jempolnya pada Chanyeol.

Pemuda itu hanya terkekeh kecil,"tidak juga Baek, jenius itu terlalu berlebihan"

"tapi kau bisa mendapatkan sesuatu yang orang lain belum tentu bisa seperti mendapat beasiswa di Seoul University yang aku yakin butuh perjuangan keras untuk mendapatkannya dan juga terpilih menjadi asisten dosen, apa namanya kalau tidak hebat?"

"semua orang pasti bisa asal mereka mempunyai kemauan dan berusaha"

"huufh! Ya ya ya tuan Park saya mengerti, sangat-sangat mengerti" ucap Baekhyun yang menyerah tidak mau berdebat dengan Chanyeol lagi. Chanyeol hanya tertawa melihat wajah merengut Baekhyun.

"lalu, bisa kau jelaskan tentang eum…" Baekhyun menggigit bibir bawahnya, merasa ragu untuk menanyakannya pada Chanyeol. Tapi rasa ingin tahu terus mendesaknya untuk bertanya,"tentang…ini" lanjut Baekhyun, jari telunjuknya dengan canggung menusuk-nusuk lengan Chanyeol yang sudah tidak empuk lagi seperti dulu.

Chanyeol mengerutkan keningnya tidak mengerti,"hn? Apa?"

"eung…kenapa kau jadi kempes begini? Mana Yoda gendut yang dulu?" tanya Baekhyun hati-hati lalu menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak dengan pertanyaan yang ia lontarkan.

Yang ditanya pun malah tertawa,"apa perubahanku terlalu terlihat?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya,"sangat, sampai-sampai aku tidak mengenalimu tadi"

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum,"aku sebenarnya juga tidak tahu kenapa karena aku merasa tidak ada yang berubah dalam diriku atau mungkin hanya orang lain yang bisa melihatnya. Mungkin berawal saat masa SMA, masa dimana aku sangat disibukkan dengan kegiatan ekskul yang sempat membuat nilaiku turun. Aku baru merasakan kalau tubuhku terasa lebih ringan saat aku sakit tifus karena mungkin pola makanku yang tidak teratur dan tidak sehat. Kau tahu? Aku sudah lebih gemuk sekarang, dulu aku lebih kurus dari ini Baek"

Mulut Baekhyun menganga mendengarnya,"wow benarkah? Kau sama sekali tidak diet?" tanya Baekhyun tidak percaya.

Kepala Chanyeol menggeleng,"kau boleh percaya boleh tidak, aku sama sekali tidak melakukan diet. Selama SMA aku 2 kali terserang tifus dan mungkin itu salah satu faktor utamanya ditambah lagi kegiatan ekskul yang aku ikuti cukup banyak, jadi mungkin padatnya kegiatan mampu menyusutkan tubuhku" terang Chanyeol lalu terkekeh dan diikuti Baekhyun. Gadis itu pun mengangguk mengerti.

Chanyeol memang tidak bohong tentang apa yang ia alami saat SMA, tapi ada satu hal yang tidak ia ceritakan pada Baekhyun, tentang faktor pikiran dan rasa rindu yang berkepanjangan. Sejak pindah ke Busan, pikiran Chanyeol semakin dipenuhi oleh Baekhyun. Bagaimana kabar Baekhyun? sedang apa dia sekarang? Apakah Baekhyun masih ingat padanya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang terus menghantui pikiran Chanyeol sampai konsentrasi belajarnya menurun dan nilai Chanyeol tidak terlalu memuaskan seperti saat SMP di tahun pertamanya menjadi siswa SMA. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti berbagai macam ekskul untuk mengalihkan pikirannya tentang Baekhyun. Bukan ia mau melupakan Baekhyun, tidak sama sekali. Hanya saja ia tidak mungkin kan terlalu lama larut dalam pikiran yang sungguh menyiksa karena faktanya Baekhyun sudah tidak bersamanya lagi. Ia tidak menyangka kalau efeknya akan sebesar itu, perasaannya memang tidak main-main, ia baru menyadarinya saat sudah berpisah dengan Baekhyun. Ya, cinta pertama yang sangat menyiksa batin karena tidak bisa bersama. Dan ternyata faktor utamanya adalah Baekhyun.

Baekhyun sendiri juga tidak menyangka kalau Chanyeol akan setampan itu saat badannya kurus dan pipinya tirus. Mungkin karena pipi bantalnya yang menutupi wajah tampannya dulu. Tapi Baekhyun sungguh merindukan Chanyeol dengan tubuh gajahnya yang sangat menggemaskan –menurut Baekhyun.

"oh iya, kalau boleh tahu, kenapa kau mengambil ekonomi? Bukannya dulu kau sangat menyukai biologi?" tanya Chanyeol.

Baekhyun pun tertawa lalu menggelengkan kepalanya,"entahlah, sejak SMA aku sudah terbiasa mengikuti Luhan"

"Luhan?" tanya Chanyeol dengan kening berkerut.

"ya, Luhan sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Sejak SMA bahkan sampai sekarang aku terus bergantung padanya. Entah kenapa aku selalu mengikuti pilihan yang ia ambil seperti menentukan jurusan apa yang kami ambil nanti saat kuliah. Yah walau akhirnya kami sering mendapat kelas yang berbeda. Awalnya memang sulit tapi Luhan selalu membantuku. Luhan sendiri memang menonjol dalam pelajaran ekonomi saat SMA" jelas Baekhyun.

"asal kau menikmatinya dan tidak menjadikannya sebagai beban, kesulitan itu akan hilang dengan sendirinya"

Baekhyun mengangguk membenarkan ucapan Chanyeol,"ya, walau jiwaku dulu bukan ekonomi tapi seiring berjalannya waktu aku bisa menguasainya dan aku sudah merasa nyaman sekarang"

"bagus" Chanyeol member 2 jempolnya pada Baekhyun,"aku tahu kau selalu berusaha untuk menakhlukkan sesuatu yang tidak kau kuasai, seperti matematika dulu"

Baekhyun hanya tersenyum dan mengangguk.

Tidak lama ia mendengar bunyi ponsel tapi bukan miliknya dan ternyata ponsel Chanyeol yang berbunyi.

Pemuda itu terlihat mengeluarkan ponselnya dari saku untuk melihat siapa yang menghubunginya. Setelah itu ia menoleh ke arah Baekhyun dengan raut yang seperti meminta izin,"Baek–"

"angkat dulu saja Yeol" ucap Baekhyun mengerti apa yang akan Chanyeol katakan. Chanyeol pun hanya mengangguk lalu segera menganggakat panggilan itu.

"ya?"

"…"

"maaf Jen, oppa sedang ada urusan di luar. Kerjakan dulu sebisamu dan kirim soal-soal yang tidak bisa kau jawab lewat email. Nanti oppa akan bantu mencari jawabannya"

Baekhyun diam-diam mendengarkan percakapan Chanyeol dengan seseorang di telepon. Samar-samar ia mendengar suara perempuan walau ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Baekhyun mengigit bibir bawahnya, jantungnya berdetak semakin tidak nyaman. Apakah itu pacar Chanyeol?

"maaf Baek"

Suara Chanyeol menyadarkan Baekhyun kembali dari lamunannya. Gadis itu pun tersenyum,"tidak apa-apa. Siapa? Pacarmu?" dan entah kenapa pertanyaan itu justru seenaknya keluar dari mulutnya. Bekhyun sedikit menyesal dengan apa yang ia tanyakan, ia takut jika kenyataan yang sekarang membuat hatinya retak.

Kening Chanyeol berkerut kembali,"hn? Pacar? Apakah aku terlihat sudah mempunyai pacar?" alih-alih menjawab, Chanyeol malah balik bertanya.

Baekhyun mengangkat bahunya,"mungkin" dan Chanyeol tertawa kecil menanggapinya membuat Baekhyun bingung kenapa Chanyeol tertawa.

Perlahan Chanyeol menghentikan tawanya kemudian terdiam menatap lurus kedepan dengan pandangan yang susah di artikan. Suasana menjadi hening, hanya suara semilir angin yang berhembus sampai…

"boleh aku jujur padamu?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

"tentu saja" dan Baekhyun harap-harap cemas dengan apa yang akan Chanyeol katakan.

"sesungguhnya selama ini aku merasa hubungan kita belum berakhir"

Deg

Baekhyun membelalakkan matanya dengan jantung yang semakin berdetak tidak karuan 'belum berakhir?'

"aku tidak bisa menjalin hubungan dengan orang lain sementara aku masih merasa terikat hubungan denganmu. Kau ingat kan saat terakhir kita bertemu? Seingatku memang tidak ada kata-kata putus yang kita ucapkan"

Tubuh Baekhyun bergetar mendengarnya. Memang tidak ada kata putus saat itu, justru mereka berpisah dengan saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Baekhyun tidak menyangka jika ternyata Chanyeol bertahan selama itu. Selama ini ia memang menganggap hubungannya dengan Chanyeol berakhir dan mencoba untuk move on dengan menjalin hubungan bersama orang lain. Apakah itu berarti Baekhyun sudah menghianati Chanyeol selama ini? Perasaan Baekhyun semakin kacau saja.

"ma-maaf Yeol! Tap-tapi aku kira kita sudah…" Baekhyun kembali menggigit bibir bawahnya tidak sanggup meneruskan kata-katanya.

"tidak apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf begitu, aku mengerti. Aku saja yang keras kepala, dengan masih menganggap hubungan kita masih terus berlanjut. Keadaanlah yang mengakhirinya, bukan aku atau pun kau" ucapnya walaupun tidak bisa di pungkiri kalau ia kecewa, tapi ia tidak bisa menyalahkan Baekhyun karena memang tidak adanya komunikasi antara mereka selama lebih dari 5 tahun, ia saja yang keras kepala. Hanya orang bodoh yang mau bertahan menunggu sesuatu yang belum pasti –dan orang itu adalah Park Chanyeol.

Baekhyun terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Perasaannya semakin campur aduk. Tiba-tiba ia merasa bodoh karena bisa-bisanya menganggap hubungan mereka berakhir begitu saja. Tapi Chanyeol benar, keadaanlah yang memaksa hubungan itu berakhir. Dengan tidak adanya komunikasi antara mereka selama bertahun-tahun dan Baekhyun merasa tidak ada harapan lagi untuk hubungan itu. Tapi ternyata Tuhan merpertemukan mereka lagi sekarang, membuat Baekhyun bingung harus bagaiamana.

"tapi bisakah kita berteman seperti dulu lagi?" tanya Chanyeol membuat Baekhyun mendongak untuk menatapnya dan menghentikan pikiran-pikiran yang berkecamuk di otaknya.

Gadis itu memandang Chanyeol dengan raut menyesalnya. Wajahnya memanas melihat ketulusan di wajah tampan tersebut. Apakah Chanyeol ingin memulainya dari awal lagi?

Dengan perlahan ia pun menganggukkan kepalanya dan membuat Chanyeol tersenyum senang.

"terima kasih"

.

.

.

"kau tinggal disini?" tanya Chanyeol setelah Baekhyun turun dari jok belakang motornya. Matanya menatap bangunan yang menjulang tinggi di depannya.

Baekhyun mengikuti arah pandang Chanyeol sekilas lalu beralih menatap Chanyeol,"ya, berdua dengan Luhan. Tapi apartemen ini sebenarnya milik Luhan, setelah lulus dari SMA si rusa itu terus memaksaku untuk tinggal bersamanya" jawab Baekhyun dan membuat Chanyeol terkekeh.

"ini pakailah!" Baekhyun menyodorkan jaket Chanyeol yang sedari tadi membungkus tubuhnya,"lihat! kulit mu sudah menyerupai es, kau pasti kedinginan"

"tidak, kau tenang saja aku ini laki-laki, angin malam sudah makananku sehari-hari Baek" canda Chanyeol sambil terkekeh. Pemuda itu memang seakan sudah kebal dengan angin malam yang terkadang dinginnya seperti menusuk tulang karena ia sering pulang kerja sampai larut malam.

"iiissh kau ini, jangan menyepelekan hal-hal semacam itu karena lama-lama akan berdampak buruk bagi kesehatanmu. Kau sendiri kan yang bilang untuk selalu menjaga kesehatan"

"baiklah kapten, saya mengerti" ujar Chanyeol yang menyerah lalu memakai jaketnya.

Baekhyun terkekeh mendengarnya,"kau tahu, jaket yang dulu pernah kau pinjamkan padaku sampai sekarang masih kusimpan dengan rapi di lemari"

"benarkah?" tanya Chanyeol setengah tak percaya kalau Baekhyun masih menyimpan jaketnya.

"ya, dan sepertinya ia menunggu sang tuan untuk mengambilnya"

"tapi sang tuan sudah memberikannya pada seorang gadis cantik, jadi ia tidak mungkin menunggu sang tuan lagi karena sudah ada gadis cantik yang memilikinya"

Astaga! Pipi Baekhyun merona hebat. Sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum dengan malu. Dan Baekhyun harus mencatatnya baik-baik, ini gombalan pertama Chanyeol untuknya. Apa seperti ini yang Luhan rasakan saat Kris mengeluarkan kata-kata gombalnya yang membuat Baekhyun serasa ingin muntah jika mendengarnya, tapi kenapa rasanya beda jika yang mengatakannya adalah Chanyeol?

Baekhyun lalu berdecak kesal untuk menutupi malunya,"ck, kau ini" tangannya mencubit pinggang Chanyeol, membuat pemuda itu pura-pura meringis kesakitan.

"sudah sana pulang, sudah malam"

Chanyeol menganggukkan kepalanya,"tapi setelah kau masuk kedalam"

"kenapa memangnya? Kau takut ketahuan kalau motormu ini ternyata bisa berubah menjadi optimus prime jika tidak ada yang melihat?"

"hmm bisa jadi, optimus prime versi roda dua"

Dan percakapan konyol itu pun membuat mereka tertawa.

"eumm ya sudah aku masuk dulu ya, terima kasih untuk hari ini dan maaf telah banyak merepotkanmu"

"tidak ada yang direpotkan Baek, aku senang bisa bertemu lagi denganmu" kata Chanyeol yang di angguki oleh Baekhyun tanda ia juga senang dengan pertemuan mereka hari ini.

"ya sudah, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai segera hubungi aku, okay?" pesan Baekhyun. Chanyeol pun segera memberi hormat pada gadis cantik di depannya.

"siap kapten"

Baekhyun lagi-lagi terkekeh,"bye!" ucapnya sebelum berbalik dan dengan langkah pelan memasuki gedung apartemen itu.

Chanyeol hanya terus menatap tubuh ramping itu yang perlahan menjauh. Kenapa rasanya berat sekali kalau harus berpisah seperti ini. Ia masih belum merasa puas dengan pertemuan ini, waktu berlalu sangat cepat hari ini. Chanyeol ingin lagi, lagi, dan lagi bertemu dengan gadis cantik yang dari dulu sampai sekarang menjadi satu-satunya penghuni ruang di hatinya.

"e.. Baekhyun!" panggil Chanyeol sebelum Baekhyun benar-benar memasuki gedung itu. Sontak Baekhyun membalikkan badannya kembali.

"ya?"

"apakah kita masih bisa bertemu lagi?"

Mendengarnya membuat Baekhyun mengeluarkan senyuman paling manis, yang mungkin membuat Chanyeol tidak bisa tidur malam ini.

"tentu saja"

.

.

.

Chanyeol menyusuri lorong apartemen itu dengan bersiul-siul dan melempar-lemparkan kunci motornya ke atas. Sepertinya suasana hati pemuda itu sedang baik.

Ya, jelas. Asal tahu saja, 5 tahun lebih Chanyeol menunggu hari ini tiba. Hari dimana Chanyeol bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Kembalinya sosok Baekhyun mampu membersihkan sarang laba-laba yang selama bertahun-tahun mengisi hatinya dan yang pasti membuat hari-harinya lebih berwarna kembali. Ia bertekad untuk mengembalikan hubungan mereka seperti dulu lagi, yah walaupun ia harus memulainya dari nol. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja karena semua butuh proses.

Cklek

"aku pul– ouwh" Chanyeol langsung memalingkan mukanya saat setelah ia membuka pintu apartemen ia sudah di sambut pemandangan sepasang kekasih yang berciuman mesra di sofa depan televisi.

Sehun yang mengetahui Chanyeol sudah pulang langsung mendorong dada Jongin sehingga pagutan mereka lepas dan itu membuat Jongin mendengus kesal.

"kau mengganggu saja Park" gerutu Jongin lalu setelah itu kepalanya terkena pukulan manis dari tunangannya.

"sorry, sorry! Silahkan dilanjutkan, anggap saja aku tidak ada" ucap Chanyeol sambil berjalan memunggungi dua sejoli itu menuju kamarnya.

"iiish memalukan sekali" lirih Sehun dengan muka merahnya saat Chanyeol sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya.

"kenapa? Bukankah Chanyeol sudah biasa melihat kita berciuman? Dan secara tidak langsung kita memberi les gratis agar dia bisa mencium pacarnya nanti"

Pletak

Satu lagi pukulan penuh cinta dilayangkan Sehun ke kepala tunangannya,"tapi tetap saja memalukan"

Gadis itu kemudian beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu kamar Chanyeol. Sedangkan Jongin beralih menyalakan televisi.

Tok tok tok

"Chan-Chan! Kau harus cerita padaku bagaimana pertemuan mu hari ini, lancar?" tanya Sehun di depan pintu kamar Chanyeol.

"pertemuanku sangat lancar Hunna" teriak Chanyeol dari dalam.

Sehun pun tersenyum ikut senang, walaupun awalnya ia tidak menyukai Baekhyun tapi kalau Chanyeol menyukainya mau tidak mau ia harus mendukungnya asal itu membuat sahabat baiknya bahagia.

"syukurlah, aku kira gadis itu akan ceroboh lagi"

"tidak Hunna, kemarin dia salah orang karena kesalahnku juga yang memberi informasi tidak jelas"

"lalu bagaimana orangnya?"

"Baekhyun gadis yang baik, masih sama seperti yang dulu"

Sehun pun mengangguk mengerti,"tapi kau juga harus hati-hati. Dulu dan sekarang berbeda, jangan mudah percaya dengan sikap baiknya begitu saja. Kalau suatu hari ia meminta ini itu padamu atau memintamu menemaninya berjam-jam di salon, sudah jangan di teruskan"

"Baekhyun bukan tipe gadis seperti itu Hunna" sahut Chanyeol.

"sayang, berhenti mencurigai seseorang!" tegur Jongin.

Sehun mengerucutkan bibirnya,"aku tidak mencurigai, hanya memperingatkan saja"

"sudahlah, biarkan Chanyeol menilai sendiri mana yang terbaik untuknya, tugas kita hanya mendukungnya saja"

Gadis berbibir tipis itu akhirnya menghela nafas menyerah. Ia kemudian kembali duduk di sebelah Jongin lalu memeluk sang kekasih dari samping.

"aku hanya khawatir, karena ini pertama kalinya aku melihat ia mendekati seorang gadis"

Jongin pun membelai rambut Sehun lalu mencium pucuk kepalanya,"aku tahu, tapi cobalah untuk percaya padanya. Jangan sampai kekhawatiranmu ini menjadi beban untuk Chanyeol, biarlah semua berjalan dengan sendirinya"

"huufh baiklah tuan Kim, aku mengerti"

Jongin terkekeh lalu mencium gemas pipi Sehun yang selalu kemerahan seperti bayi.

.

.

.

Gadis itu memasang wajah datarnya saat melihat acara kuis di televisi. Matanya memang sedari tadi fokus ke acara televisi tapi tidak dengan pikirannya. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Setelah pulang Baekhyun hanya terus memeluk boneka gajahnya dan melamun. Sesekali juga iya senyum-senyum sendiri tapi tidak lama kemudian wajahnya datar kembali. Sepertinya perasaan Byun bungsu ini sedang tidak menentu.

'Lu, cepatlah pulang!' batinnya sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia butuh Luhan sekarang, butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahnya.

Ini memang sabtu malam, dan sudah kebiasaan Kris mengajak kencan Luhan sampai larut malam.

Cklek

Sontak Baekhyun menengok ke arah pintu dan pucuk dicinta ulam pun tiba, Luhan akhirnya pulang juga.

"aku langsung pulang saja ya, sudah malam" pamit Kris dan di angguki oleh Luhan.

"hati-hati!" Kris pun memberi ciuman selamat malamnya sebelum pergi meninggalkan apartemen itu. Setelah itu Luhan segera menutup pintu dan matanya terbelalak saat melihat Baekhyun dengan tampang 'puupy minta di pungut' menatap ke arahnya.

"oh, syukurlah kau belum tidur" seru Luhan lalu beringsut duduk di samping Baekhyun.

"bagaiamana? Kau tidak salah orang lagi kan?" tanya Luhan yang sepertinya sangat penasaran dengan pertemuan Baekhyun dan Chanyeol.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis.

"syukurlah" sorak Luhan ikut senang,"lalu, bagaimana dia sekarang?"

Mendengar pertanyaan Luhan, Baekhyun menghela nafasnya membuat kening Luhan berkerut dan membuat gadis Cina itu bertanya-tanya ada apa lagi dengan pertemuan kali ini, kenapa sepertinya ada yang membuat Baekhyun galau lagi.

"kenapa?"

"Chanyeol sudah berubah Lu"

"berubah bagaiamana?"

"Yoda gendutku sudah tidak ada lagi, dia sudah kurus sekarang dan… sangat tampan"

Mata Luhan langsung berbinar mendengarnya,"waaah~ benarkah?"

Dan Baekhyun mengangguk,"Ya, mungkin kau juga akan terpesona kalau melihatnya"

"astaga! Setampan apakah dia? Lebih tampan mana dengan siluman jerapahku?"

"relatif, tapi karena aku sudah kenyang melihat siluman jerapahmu itu setiap hari jadi menurutku lebih tampan Chanyeol"

"aku jadi penasaran, tapi apa sikapnya juga berubah?"

Pipi Baekhyun pun langsung merona,"tidak, dia masih baik, perhatian dan selalu membuatku nyaman berada didekatnya" ucapnya dengan tersenyum mengingat kebersamaan mereka hari ini.

"ugh! Kau beruntung sayang" ucap Luhan dan setelah itu memeluk Baekhyun dari samping,"lalu apa yang membuatmu seperti orang galau begini?"

Baekhyun langsung menatap dengan raut sendu,"aku baru sadar kalau selama ini aku telah menghianatinya"

"menghianatinya bagaimana?"

"kami mempunyai anggapan yang berbeda. Saat berpisah memang tidak ada kata-kata putus yang kami ucapkan. Selama ini ia menganggap hubungan kami masih berlanjut dan ia tidak mau membuka hatinya untuk orang lain. Padahal kalau kau melihat Chanyeol yang sekarang, kau pasti tidak percaya kalau ia belum mempunyai pacar karena mustahil tidak ada gadis yang menyukainya…"

"Sedangkan aku, sudah menganggap itu berakhir tepat setelah kami berpisah dan membuka hatiku untuk orang lain karena memang aku rasa tidak ada harapan lagi untuk hubungan itu. Tapi kau boleh percaya atau tidak, perasaanku dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Sampai sekarang aku belum menemukan orang yang bisa membuat jantungku berdetak tidak nyaman selain Chanyeol. Aku bingung harus bagaimana Lu" Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menutupi rautnya yang kacau.

Luhan pun menatap prihatin pada sahabatnya itu, ia tahu Baekhyun pasti merasa bersalah akan hal itu,"apa dia memaksamu untuk kembali padanya?"

"tidak, dia hanya berkata jujur padaku dan dia hanya berkata ingin berteman denganku seperti dulu"

"itu tandanya ia ingin memulai dari awal lagi, melewati proses demi proses untuk bisa menyatukan hubungan kalian kembali tanpa ada keterpaksaan di salah satu pihak. Tapi semua kembali padamu, apa kau juga ingin memulainya dari awal lagi? Jika kau memang tidak ada niatan untuk mengembalikan hubungan kalian, sebaiknya kau berhenti mulai sekarang dan lupakan dia, jangan memberi harapan palsu pada seseorang karena itu hanya akan menyakitinya"

"aku juga masih ingin bersamanya Lu, rasanya berat sekali kalau harus berpisah dengannya lagi" ungkap Baekhyun jujur.

"lalu apa lagi yang masih mengganggu pikiranmu?"

"aku takut"

Luhan memandang Baekhyun bingung,"takut kenapa?"

"dia sangat tampan sekarang Lu, pasti banyak sekali gadis-gadis yang menginginkannya" ujar Baekhyun yang selalu gelisah kalau memikirkan hal itu.

Luhan memutar bola matanya dan mendengus prustasi,"Baek, aku mohon hilangkan ketakutanmu yang satu itu, untuk kali ini cobalah untuk menerima kesempurnaannya. Kau beruntung Baek, harusnya kau bersyukur"

"aku juga yakin hidupmu tidak akan tenang jika kau sampai melepaskan Chanyeol, karena aku tahu kau sangat mencintainya, terlihat saat kau bercerita tentangnya selama ini padaku" lanjut Luhan.

"tapi bagaimana kalau ternyata dia berbohong?"

"maka dari itu, untuk mengetahui ia berbohong atau tidak kau harus mencoba mengenalnya lebih jauh lagi"

Baekhyun terlihat merenung memikirkan saran Luhan dengan sebaik-baiknya. Apakah ia bisa melawan pikiran negatifnya terhadap orang tampan? Haruskah ia mencoba untuk mempercayai Chanyeol? Ia tidak mau merasakan tekanan batin seperti yang Luhan rasakan dulu tapi ia juga tidak mau kehilangan Chanyeol lagi… 'Ugh! Kenapa harus serumit ini? Oh Tuhan! Berikanlah petunjuk pada hambamu ini' jerit Baekhyun dalam hati.

"bagaiamana? Maju?"

"… atau mundur?" tawar Luhan.

Baekhyun masih terdiam dan masih berpikir. Oh God! Luhan tidak mengerti dengan sahabatnya itu, apa susahnya untuk mencoba sekali saja. Kalau sampai ia tidak mau mencobanya? Mau sampai kapan ia terus mencari laki-laki aneh yang lain lagi karena percumah saja kalau pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa merebut hatinya.

Byun bungsu itu memejamkan matanya erat-erat dan mengepalkan tangannya untuk meyakinkan keputusan yang akan ia ambil.

"baiklah, aku akan mencobanya"

Tbc

Masih ada yang nunggu cerita ini? maaf maaf lama. Belakangan ini banyak sekali hal yang terjadi sampe kepala saya ikut nyut-nyut an -_-. Tapi akhirnya saya bisa lanjutkan cerita yang ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan ^_^.

And special for you Beibs: rifdafairuzs, exindira, Babies BYUN, vitCB9, unny2013, Shouda Shikaku, indaaaaaahhh, ChanBaekLuv, chanbaekalogy, Majey Jannah 97, Selichious ZeLuS, chanbaekjjang, sayakanoicinoe,baekmuffy, bellasung21, Nisa0517, , ByunXi, kahunxo, kimei135, Chocolate Bubbletea, jung oh jung, Baekkiee, nugu, nugu, changyu, Reyna Bee, Shallow Lin, Guest, parklili, tarizaexotic, EXOTIC, Vegi0611, babybyun, byunbaekchan, Bubble Tea 137, byun najla, Nyonya Nam, shin il kwang, Febrizadianthyyahoo.Com, jinyeoley, nur991fah, byunbaekk, inggit, chenma, Uchiha Chiba Asuka, Rizky2568, dzdubunny, park almae, Byun-Dogii, Baekkie, 407bubleblue, park sehan, KyungIn.KIM, KaiHun maknae, Choi Chan Ni, VelanditaSelly, parkchanbyunbaek, hunipples, Sefan, Guest, jengkyeol, GalaxYeol, Ikki Ka Jung99, Guest, Guest, luhan, HamsiahRF, baeksounds & semua yang sudah baca cerita ini –dapet kecup sayang dari Chanyeol dan saya :*

See you next time…. Bye bye! #terbang ke Brasil~