Tiga sekolah terbawah adalah yang terburuk di antara semuanya. Tempat dimana murid-murid bermasalah berkumpul menjadi satu. Ada beragam macam, mulai dari kesulitan dalam belajar, sifat nakal yang berlebihan, 'kelainan jiwa', berpenyakitan, dan lain-lain. Lucy memutuskan untuk masuk ke SMA Fairy Tail, karena masih membuka pendaftaran murid baru, padahal sekolah lain sudah menutupnya.
"Tunggu! Kamu serius mau masuk ke SMA Fairy Tail?" tanya ibunya khawatir. Lucy hanya menganguk pelan, memakai sepatu dan berjalan pergi meninggalkan rumah. Dia tidak ingin membahas apapun sekarang. Ujian masuk jauh lebih penting
Usulan tersebut, sebenarnya tidak diterima dengan lapang dada, oleh orang tua Lucy. Mereka punya alasan tersendiri. SMA Fairy Tail adalah, sekolah peringkat tiga terbawah. Bayangkan saja, jika orang normal masuk ke sana, dia tidak akan betah, apalagi menurut rumor di sekitar masyarakat, murid di sana tidak ada yang normal. Bahkan sering menjadi pelopor tawuran antar sekolah lain. Pokoknya yang terburuk, terendah, terpayah!
Lucy POV
Akhirnya sampai juga di sana. Sekolah itu cukup besar, dari luar tak kalah hebat dengan SMA Blue Pegasus atau Lamia Scale. Aku melangkahkan kaki masuk, jelas masih sepi, karena semua murid, baru saja selesai mengikuti ujian masuk. Mungkin hanya aku saja, yang mengikuti ujian susulan, sendirian di ruang pengawas. Keputusanku tepat kan? Kalau mau, aku masih bisa mundur sekarang, tetapi...tidak, tidak, harus bersikap adil!
"Apa kamu Lucy Heartfilia, peserta ujian nomor lima ratus lima?" tanya seorang pengawas. Sekali lagi aku sekedar menganguk pelan, dia memperbolehkanku masuk, memberi lembar jawaban beserta soal
Benar dugaanku, soalnya tidak sesulit yang kupelajari selama ini. Setiap hari, aku belajar mati-matian dari siang hingga malam, mempelajari rumus matematika, bahasa inggris, Jepang, ilmu pengetahuan alam, dan sekarang seluruh usaha keras itu sia-sia. Ya, setidaknya masih bisa menikmati masa-masa SMA. Mendapat teman baru, lulus dengan nilai baik, bahkan kalau bisa punya pacar! Tetapi ayah mana mungkin setuju, jika anaknya berpacaran dengan lelaki berandalan.
Normal POV
Di luar ruang pengawas, ada beberapa orang tengah menonton Lucy mengerjakan soal. Baru setengah jam berlalu, dia terlihat lancar-lancar saja mengerjakan soal. Masih ada banyak waktu tersisa, sebelum lembar jawaban dikumpulkan. Seorang lelaki berambut salam, melihat jam tangan yang kaca luarnya sedikit retak, merasa bosan karena sama sekali tidak menarik. Bagaimana bisa, dia berada di sana? Karena diajak temannya, yang entah kenapa sangat serius.
"Murid unggulan memang beda. Soal itu baginya pasti sangat mudah" komentar salah satu dari mereka. Lelaki salam itu menghela nafas panjang, masih memperhatikan lewat kaca jendela
"Apa sih menariknya? Kalian mau menyapa murid baru?"
"Tentu saja, jawabannya adalah iya! Lihatlah, dia begitu cantik dan pintar. Apa kamu tidak tertarik, Natsu?"
"Hah...? Aku tidak salah dengar? Mau cantik atau tidak, apa peduliku. Dasar Loke playboy" ledeknya tersenyum usil, yang bersangkutan membalas dengan senyuman pula. Orang di sebelah mereka berdua, lelaki berambut raven, menonton pertengkaran kecil itu, sesekali tertawa kecil merasa lucu
"Lihat, dia sudah selesai" ucap murid lainnya, kali ini wanita. Namun yang aneh adalah, dia meneguk sebotol bir tanpa dimarahi! Memang tidak aneh, untuk murid di SMA Fairy Tail
"Cana, berhentilah minum bir! Kalau ketahuan bisa gawat!" peringat si rambut raven, yang entah sejak kapan tidak lagi memakai seragam
"Hoi otak es, pakailah bajumu dengan benar, bikin malu saja" tanpa mempedulikan ucapan Natsu, celingak-celinguk mencari seragamnya yang mendadak lepas
"Ada ramai-ramai apa ini?" hal paling ditakutkan justru terjadi. Seorang lelaki separuh baya, yang merupakan guru di sekolah itu, memergoki kelakukan mereka
"Gildarts-sensei! Eto...eto...kami hanya...ingin menyapa murid baru!" jelas Loke tersendat-sendat, kehabisan alasan untuk membela diri
"Percaya diri sekali. Lucy adalah murid unggulan, mana mungkin mau berteman dengan kalian? Jadilah pintar dan keluar dari sekolah ini, baru bisa dianggap sederajat olehnya" ucap sensei mengacak-acak rambut Loke, tertawa geli melihat kelakukan muridnya, yang selalu bersemangat kapan pun
"Perkataan sensei benar, murid pintar sepertinya, hanya memandang kami sebelah mata. Sudahlah, aku mau pulang"
Pasti Natsu tersinggung, tanpa perlu mengatakannya pun, mereka semua bisa membaca, dari raut muka serta tingkah laku. Sadar bahwa Lucy telah menyelesaikan ujian. Tiga orang lain buru-buru pergi meninggalkan ruang pengawas, dan bersembunyi dibalik tembok. Mau berkenalan pun, usai mendengar perkataan Gildarts-sensei, niat tersebut langsung dikubur dalam-dalam. Kekesalan Natsu bukanlah tanpa alasan, beberapa tahun lalu...lupakan saja, jika diceritakan, hanya memperburuk suasana.
Lucy POV
Fyuhh...selesai juga! Aku harus datang lagi tanggal delapan nanti, untuk melihat daftar murid yang diterima. Semoga keberuntungan selalu menyertai. Ternyata ibu menungguku sedari tadi, memakirkan mobilnya di depan gerbang sekolah. Beliau juga bertanya, perihal ujian masuk dan beberapa hal lainnya. Malas menjawab, aku sekedar berkata 'ya', 'iya', serupa makna beda kata. Tergambar jelas, ibu masih tidak ikhlas, membiarkanku masuk ke SMA peringkat tiga bawah.
"Aneh, aku merasa ada yang mengintai. Apalagi ketika ujian berlangsung" gumamku seorang diri, yang tidak sengha terdengar oleh ibu
"Mereka pasti anak-anak nakal yang ingin iseng, jangan dipedulikan. Ingat, setelah masuk sekolah, kamu tidak boleh bergaul dengan berandalan. Benar juga, mana mungkin ada murid baik di sana? Kalau kamu sendirian bagaimana?" kecemasan ibu terlalu berlebihan, pikirku pura-pura tidak mendengarkan. Pasti ada, sebejat apapun sebuah sekolah, kebaikan selalu setia menyertai
Tanggal 8, bulan Juli, tahun X789
Sambil mengenggam secarik kertas, bertuliskan nomor peserta, mataku berpindah dari ujung ke ujung, mencari angka lima ratus lima, dan bingo! Tertera jelas di antara lima ratus empat dan lima ratus enam, aku sempat takut, kepala sekolah tidak mau menerima murid pintar, tetapi mana mungkin, ya? Hahaha...jalan pikirku memang terkadang aneh. Ibu pun sukses dibuat bingung, oleh sifat keras kepalaku yang mau bersekolah di sini.
"Cih...ternyata murid itu diterima" gerutu seorang lelaki berambut salam. Murid siapa yang dia maksud? Entahlah, untuk apa dipedulikan. Aku harus segera pulang dan memberi tau ibu, lalu ayah
"Sudah jelaskan. Sekolah ini menerima siapa pun, asalkan lulus ujian tes masuk" jelas temannya yang lain. Aku tertarik menguping, cepat atau lambat, mereka bisa saja menjadi teman sekelasku
"Tetap saja, aku tidak mengerti jalan pikir si murid rangking dua seluruh Magnolia. Paling tujuannya buruk, seperti menghancurkan sekolah dari dalam, menindas murid lain, menyombongkan diri, dan lain-lain" tuduhnya menggetarkan hatiku. Kenapa dia sampai berpikiran seperti itu?
"Jangan asal menuduh! Kamu masih saja kekanak-kanakan! Loke, bantu aku nasehati dia"
"Natsu si kepala batu, tidak mau mendengarkan apapun perkataan kita. Ayo pulang dan rayakan keberhasilan ini"
Keberhasilan, ya...orang tuaku pasti beranggapan, anaknya gagal dan tidak berguna. Dengan langkah lunglai, aku berjalan menuju gerbang sekolah. Jam menunjukkan pukul sebelas, moodku hilang untuk pergi jalan-jalan, tetapi rasanya bosan jika berada di rumah terus. Seseorang tengah bersandar di tembok, melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Benar juga, hari ini kan Levy mau mentraktirku, karena terlalu memikirkan kejadian tadi sampai lupa.
"Selamat siang, Lu-chan!"
"Selamat siang, juga..."
"A-ada apa? Kamu tidak diterima? Jangan membuatku khawatir, cepat katakan!"
"Tidak, tidak, bukan itu. Aku diterima kok. Langsung pergi saja, nanti kuceritakan di sana"
Mengobrol singkat pun mulutku terasa berat. Semangkuk es campur adalah menu santapanku siang ini. Sekarang kami berada di kedai Ibu Meredy, yang terkenal dengan aneka macam pencuci mulut. Levy memakannya lahap, sedangkan aku hanya melamun seperti orang bodoh, memandangi lelehan es batu serta susu kental manis, yang turun dari puncak serpihan.
"Melihatnya tidak membuatmu kenyang. Makanlah, bukankah kamu suka es campur?" tanya Levy berhenti sesaat, menaruh sendoknya dalam mangkuk
"Iya, itu makanan favoritku sampai kapan pun. Tetapi...arghh...bagaimana mengatakannya?"
"Ceritakanlah, Lu-chan sudah berjanji, lho"
"Begini. Saat melihat papan pengumuman, aku mendengar ada tiga orang lelaki, yang membicarakan murid baru. Siapa sangka, anak bernama Natsu itu ternyata membicarakanku, berkata hal-hal buruk, kalau aku akan menghancurkan sekolah dari dalam, menindas murid lain, menyombongkan diri"
"Kejam sekali...Lu-chan tidak salah sangka?"
"Mereka pasti membicarakanku, buktinya Natsu berkata 'si murid rangking dua seluruh Magnolia'"
"Natsu-san rupanya, dia memang sering berkata buruk. Eh, Lucy-san masuk SMA Fairy Tail? Kenapa?"
"Saat ujian masuk aku pingsan, jadi gagal. Meredy-san mengenal Natsu? Apa anakmu bersekolah juga di sana?" tanyaku memberondong. Jika dugaan tersebut benar, aku bisa mengajaknya berteman. Jadi tidak perlu takut, berteman dengan murid berandal. Kalian pasti berpikir, aku terlalu percaya diri, Meredy-san merupakan orang baik, pasti anaknya juga baik!
"Hehehe...begitulah, anakku bersekolah di sana. Natsu-san pelanggan tetap di sini, sama seperti Lucy-san, dia juga suka makan es campur" aku jadi tidak ingin memesannya lagi...
"Siapa namanya? Kelas berapa? Laki-laki atau perempuan?"
"Namanya...oh Natsu-san, Loke-san, Gray-san, akhirnya kalian datang. Tumben terlambat"
Sial, kenapa mereka harus datang di saat-saat seperti ini sih?! Aku menarik tangan Levy kasar, tak lupa meninggalkan uang di meja. Malas rasanya, jika harus bertemu Natsu dan kawan-kawan. Kami sempat berpapasan selang satu menit, kemudian saling melewati satu sama lain
Empat hari lagi sekolah dimulai, aku lebih memilih untuk mempertahankan suasana hati, agar tidak badmood nanti.
Hari Senin...
Kriing...kriiing...kriing...
CKLEK!
Yosh, hari yang baru telah dimulai!
Bersambung...
A/N : Oke, cerita akan dimulai dari sekarang. Bab prolog telah selesai! Review please?
Balasan review :
Fic of Delusion : Thx ya udh review. Gimana chap dua? Seru? Biasa aja? Semoga kamu suka!
Iccha6799 : Thx ya udh review. Syukurlah kalo bagus
vaudyanurulfatimah : Thx ya udh review. Kalo mau ngirim cerita, klik doc manager, terus upload file, new story, pilih fandom, chara dll, dan selesai
omponk : Udah lanjut kok. Thx ya udh review
