Ding...dong...ding...dong...
Hari yang benar-benar memalukan! Saat aku masuk ke dalam kelas, semua orang di dalam menghilang entah kemana, tas mereka pun tidak ada di tempat. Karena itulah, aku mencari ke segala penjuru sekolah, berpikir ada pelajaran olahraga, praktek di lab IPA, tugas melukis di ruang seni budaya, atau mungkin ada hal lain. Tetapi ternyata...
"Lucy-san, bel pulang sudah berbunyi. Apa kamu masih ada urusan di sekolah?" tanya Loke yang membuatku tersadar. Hari ini adalah awal sekolah dimulai, belum ada pelajaran atau tugas dan lain-lain
"Ehehehehe...aku balik dulu!"
Setiap kali mengingat kejadian tadi, ingin rasanya aku mengulang waktu, membuat diri sendiri terlihat bodoh, itu bukan diriku. Di depan sekolah, lebih tepatnya jika dikatakan sebelah kanan gerbang. Ada seorang perempuan berambut biru sebahu, mengenakan bando kuning yang menjadi ciri khasnya. Levy melambaikan tangan padaku, berlari menghampiri seperti biasa dia lakukan setiap bertemu.
"Siang, Lu-chan! Bagaimana sekolahmu?" wow...Levy nampak keren sekarang, ketika memakai seragam SMA Blue Pegasus, bahkan aku sampai terkesima
"Lu-chan?"
"A...ah...eto...eto...aneh sekali. Kamu sendiri? Sudah menemukan teman baru?"
"Emm...! Aku senang. Namanya Jenny, dia merupakan murid paling populer di sekolah"
"Maksudmu, Jenny yang sering muncul di majalah sorcerer?" tanyaku yang sekali lagi dibuat kaget. Ada banyak orang hebat di sana, entah berapa puluh atau mungkin ratus
"Seratus untukmu. Nee...ne...kita mau kemana?"
"Aku sedang malas jalan-jalan. Kalau Levy-chan punya tempat menarik untuk dikunjungi, boleh-boleh saja"
"Bagaimana jika kita, pergi ke..." belum selesai melanjutkan perkataannya. Remukan kertas tepat mendarat di jidat Levy, dia membuka dan membaca pesan di dalamnya, yang tertulis 'pergi dari sini!'. Aku memandangi sekeliling, mendapati Natsu masih berkeliaran di depan sekolah, langsung berlari setelah sadar keberadaannya diketahui olehku
Mungkin aku harus memberi peringatan pada Levy, agar tidak dekat-dekat dengan sekolah, terutama Natsu. Dia masih terdiam, semenjak kejadian tadi. Mau jalan-jalan pun, mood kami berdua seakan menghilang begitu saja. Jam tepat menunjukkan pukul sebelas, sekarang mau melakukan apa?
"Maaf, dia memang begitu orangnya" ucapku tengah membicarakan Natsu, berusaha mengimbangi langkah kaki dengan Levy, yang entah kenapa berjalan sangat cepat
"Tidak apa-apa. Ini semua salahku. Lu-chan, kita bertemu di tempat lain saja nanti, misalnya taman kota"
"Baiklah, aku terima usulanmu. Masih mau pergi jalan-jalan?"
"Tentu, kenapa tidak?"
Levy memang cepat tanggap, tanpa perlu memberi penjelasan panjang lebar pun, dia bisa mengerti situasi dan kondisi sekarang. Namun, ada beberapa hal yang membuatku penasaran, mengenai murid di bangku depan, serta beberapa rahasia, yang mungkin sengaja disembunyikan dariku. Levy seakan tau, siapa Natsu sebenarnya, dan semua itu...sangat menjengkelkan.
Keesokan harinya...
Pikiranku masih terusik sejak kemarin, bangku di depan masih kosong seperti kemarin. Pandangan mataku tidak lekat dari sana. Belum lama datang, Chelia-san tengah melangkahkan kaki menuju kemari. Memang, kemarin Natsu berkata, dia tidak menerimaku sebagai anggota di kelas ini, sehingga masalah apa pun yang terjadi, bukanlah urusanku.
"Pssttt...Lucy-san!" panggilnya pelan, kicauan burung pun dapat mengalahkan suara bisikan Chelia-san. Aku menengok ke arah jendela, pandangan mata kami saling bertemu, dan dia memberitauku beberapa hal
"Murid yang duduk di bangku depan itu namanya Wendy Marvell. Dia punya adik lelaki, setahun lebih muda dari kita. Wendy jarang masuk, karena mengidap penyakit serius"
"Penyakit serius?!" teriakku sangat keras, membuat seluruh murid di kelas tertuju perhatiannya. Termasuk Natsu dan kawan-kawan, yang baru menginjakkan kaki di depan pintu
"Hoi Chelia, kamu memberitau Lucy tentang masalah Wendy?!" tanya Natsu tak terima. Dia menundukkan kepala merasa bersalah, karena telah melanggar pesannya kemarin
"Memangnya kenapa? Aku juga ingin membantu! Penyakit apa yang Wendy idap? Dimana dia tinggal? Jawab aku Chelia-san, jawab aku!" jika dikatakan meminta, lebih tepat dikatakan memaksa. Aku menggoyangkan bahunya berulang kali, namun dia tetap terdiam membatu
"Bukan kamu yang akan menyelamatkannya, melainkan aku!" tunggu, apa maksud ucapan Natsu barusan? Aku hendak mengejar, namun tangan Gray mencegatku tanpa berkata sepatah kata pun
"Menyelamatkan...? Apa maksudnya?" gumamku seorang diri, melepaskan pegangan Gray paksa
"Mungkin terdengar kejam, tetapi Natsu ingin mengusirmu secara tidak langsung" jelas Loke singkat. Aku mulai mengerti, dia memang sengaja, memberiku tekanan seberat mungkin, lalu karena tidak tahan, akhirnya keluar dari sekolah
Walau tadi sempat dicegat, aku tetap mengejar Natsu keluar kelas. Setelah bersusah payah mencari, dia berada di halaman belakang sekolah, duduk di atas ranting pohon sambil menengadahkan kepala, melihat langit biru penuh awan putih.
"Apa yang kamu lakukan? Sebentar lagi bel masuk berbunyi"
"Bolos satu mata pelajaran tidak berarti apa-apa. Pergilah, kamu hanya menganggu" balasnya ketus. Aku berusaha memanjat pohon, meski agak kesulitan. Duduk di sebelahhnya yang semakin berekspresi tidak bersahabat. Kalau dia benar-benar benci padaku, dorong saja dari ini, mudah bukan?
"Awas, nanti kamu tidak bisa turun"
"Jika tidak bisa turun, kamu pasti menolongku. Bukankah begitu?" skak mat! Natsu terdiam cukup lama, tetap mengalihkan pandangannya dari wajahku
"Kenapa kamu yakin, aku pasti menolongmu?"
"Karena kamu orang baik, aku menyakini hal itu sejak kemarin. Dasar tsundere akut"
"Heh...lucu sekali" sekali loncat, dia mendarat mulus di atas rerumputan. Aku tidak menyangka, jarak antara atas dan bawah terpaut cukup jauh
"Be-benar juga...aku takut ketinggian"
"Ha...jangan sombong karena bisa naik, tetapi tidak bisa turun. Memalukan sekali. Aku ingin melihat, apa keyakinanmu masih bisa bertahan, setelah terjebak dalam kondisi seperti itu? Lucy Heartfilia"
GLEK!
Tantangannya membuat bulu kudukku merinding! Natsu pergi dari halaman belakang, meninggalkankanku seorang diri di atas pohon. Dia pintar juga. Keyakinanku tidak akan goyah, hanya karena masalah sepele. Lihatlah, aku pasti bisa menggoyahkan hati bajumu. Sampai kapan kau bisa bertahan, Natsu?
Normal POV
Semua pandangan mata tertuju pada Natsu, dia masuk ke dalam kelas seperti biasa, acuh tak acuh terhadap Giladarts-sensei, yang memasang tatapan death glare nan mengerikan. Gray terus memasang ekspresi curiga, Loke menaikkan sebelah alisnya, melontarkan pertanyaan dalam bentuk bahasa isyarat. Namun dihiraukan sepenuhnya, dengan lagak santai tanpa rasa bersalah, Natsu mengeluarkan buku pelajaran dan bertanya.
"Sensei, bisa kita mulai pelajarannya sekarang?"
"Tunggu sebentar sensei! Hoi Natsu, kemana Lucy? Dia mengejarmu kan tadi?" tanya Gray penuh amarah. Natsu terdiam, senyum miring miliknya, semakin menyulut emosi, pemuda berambut raven itu
"Memang benar, si bodoh itu mengejarku. Entahlah, sekarang dia kemana, ya? Oh, jangan-jangan...kamu menyukai Lucy"
"Kau...!" tamparan nyaris mendarat di pipi Natsu, jika Loke tidak menghentikan pertengkaran mereka. Gray mulai tenang kembali, mendudukkan pantatnya di tempat semestinya
"Lucy kesayanganmu baik-baik saja. Dia sedang berada di UKS karena terjatuh. Aku menolongnya lho, me-no-long-nya, apa masih kurang?"
"Sikapmu terkadang membuatku jengkel. Tidak heran, sebentar lagi, sekolah bisa ditutup akibat ulahmu. Jika benar-benar terjadi, mau menyalahkan siapa?" Natsu hampir terpancing emosinya, dia lebih memilih berpura-pura tidak tau. Pelajaran pun dilanjutkan, sampai bel istirahat berbunyi
Diam-diam di belakang, Gray dan Loke memantau gerak-gerik Natsu, yang terlihat mencurigakan sejak awal masuk. UKS terletak dekat dari tempatnya berdiri, dia tidak masuk ke dalam atau sekedar bertanya dari luar, justru membelok arah jalan. Kecurigaan mereka terbukti, Loke membanting pintu keras, Gray ikut masuk ke dalam dan memeriksa sekitar ruangan. Tiap hordeng dibuka lebar, tidak ada seorang pun di sana, hanya ranjang kosong bersprei putih.
BLAM...! TREK, TREK!
Suara putaran kunci terdengar jelas. Natsu menyeringai kejam, meninggalkan kedua sahabatnya yang terkunci di dalam, dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Sialan, anak itu...!" kali ini emosi Loke yang meledak-ledak. Dia memutar grendel pintu berulang kali, namun terkunci rapat
"Mengalihkan misi. Prioritas utama kita adalah, mencari kunci cadangan dan keluar. Setelah itu, kamu bisa menghajar Natsu kapan pun"
Natsu POV
Hahahaha...dasar orang-orang bodoh! Mereka tidak akan pernah bisa keluar, aku telah mengambil kunci cadangan, sedangkan kunci utama, selalu berada di dalam saku celanaku. Rencana ini sukses besar, jangan pernah meremehkanku, terutama si Gray Fullbuster itu, mentang-mentang dia adalah ketua geng kami. Aku hendak menuju kantin, sampai suara teriakan menghentikan langkah kaki.
Ada apa sih, pagi-pagi begini sudah ribut?
"Tolong, tolong! Ada yang terjebak!" seorang murid perempuan dari kelas sebelah terus berteriak, mengundang murid lain yang merasa penasaran. Aku menerobos mereka, mendapati Lucy masih duduk manis di atas pohon
"Turunlah, aku akan membantumu"
"Maaf, tetapi aku hanya ingin ditolong oleh Natsu. Itu saja" apa dia gila? Aku tidak berpikir sampai sejauh ini. Jika tidak mengambil tindakan, ranting pohonnya bisa patah terlebih dahulu!
"Dasar keras kepala. Tunggulah, aku akan mengambilkan tangga" teriakku sambil berlari ke arah gudang. Kenapa sangat jauh sih? Bisa-bisa Lucy membentur tanah, sebelum aku sempat memberi bantuan
Hosh...hosh...hosh...
KREK...KREK...KREK...PLUKK!
"HUWAAAAAAA!"
Timingnya tidak tepat! Dengan sembarangan aku melempar tangga, berlari sekuat tenaga dan...
BRUKKK!
Tersandung batu sehingga Lucy menindih punggungku. Dia pikir aku matras apa?! Tubuh beratnya sekali, membuatku kesulitan sewaktu bangun.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku" ucapnya mengulurkan tangan. Aku langsung menepis, bangkit sendiri dan menepuk debu yang menempel di seragam
"Ehemmm...baiklah, aku mengakui keteguhan hatimu. Tetapi, soal masalah itu, kamu tetap tidak boleh ikut campur. Biar aku yang menyelesaikannya"
Kepalaku menengok ke belakang sesaat, Lucy menggembungkan kedua pipinya merasa sebal, ekspresi yang kuanggap lucu sampai ingin tertawa. Benar saja, mulutku tidak lagi kuat menahannya, mengeluarkan suara sekeras mungkin hingga lelah, bahkan perutku terasa sakit.
"Hahahaha...tidak seharusnya aku begini"
"Hahaha...kamu selalu bisa membuatku tertawa. Terima kasih, Natsu"
"Jika kamu sedih, aku berjanji akan membuatmu tertawa. Bagaimana pun caranya"
"Janji adalah janji, harus ditepati"
Dan jari kelingking kami berdua, saling mengait satu sama lain.
"Wanita sialan. Jangan pernah muncul dalam ingatanku lagi!"
Ding...dong...ding...dong...
Lucy POV
Sudah kuduga, hati bajanya dapat dilelehkan oleh api keteguhan milikku. Bel pulang berbunyi nyaring, beberapa murid masih tinggal di dalam kelas. Chelia-san pulang terlebih dahulu, aku tengah berbenah. Air muka Natsu terlihat buruk, dia menyambar tas hitam miliknya, melangkahkah kaki pergi keluar. Kesempatan terbuka lebar, aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin!
"Pasti dia akan membawaku ke tempat Wendy!"
Hanya bisa mengandalkan firasat, dan lagi, stalker bukanlah keahlianku. Langkah Natsu membawaku ke suatu tempat, sebuah rumah kecil yang terlihat seperti gubuk. Ada kandang ayam di dekatnya, menimbulkan bau tidak sedap. Mungkin tak sengaja, aku menginjak kotorannya, urusan itu dipikirkan nanti saja.
Aku mengikuti dari belakang, dia masuk ke dalam kamar bobrok. Ada seorang anak perempuan, terbaring lemas di atas lantai, memakai selimut tipis yang tidak bisa menghilangkan gigilan ditubuhnya. Merasa penasaran, aku berjalan mendekat dan PREK! Sepatu bekas kotoran ayam tadi, menginjak ranting sampai patah. Natsu menengok ke belakang, pandangan mata kami pun saling bertemu.
"Lucy...?"
"Aku bisa menjelaskannya" ucapku terlalu pelan. Natsu pasti marah, karena aku melanggar ucapannya. Lagi pula, apa maksud dari 'aku yang akan menyelamatkannya'? Jangan-jangan...
"Kamu jatuh cinta dengan Wendy?"
Sementara itu Levy...
"Lu-chan kemana, ya? Padahal dia yang memintaku datang. Katanya mau menceritakan sesuatu" gerutu Levy memperhatikan jam tangannya, menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit
"Aku tunggu sebentar lagi, deh. Hand phone-nya juga tidak aktif"
Sementara itu Gray dan Loke...
"Loke, kamu bawa hand phone tidak? Jika ada, hubungi Mira-sensei atau Gildarts-sensei, siapa pun juga boleh. Asal mereka masih ada di area sekolah"
"Benar juga, kenapa tidak dari tadi saja?" Loke merabah kantong celana, baju, bahkan sampai memutar balikannya, berharap ada benda yang jatuh dari saku. Harapan Gray sirna seketika, waktu melihat hasilnya nihil
"Ada sebungkus permen, mau?"
"Dasar bodoh! Kamu masih bisa bercanda di saat genting seperti ini. Kalau begitu, kita gunakan cara terakhir" ucap Gray terlihat santai. Ketua memang bisa diandalkan, pikir Loke dengan mata berbinar-binar
"TOLONG, SIAPA PUN TOLONG BUKA PINTU!" teriakan Gray terdengar membahana, ditambah suara ketukan pintu yang keras. Loke juga mengikuti, hanya ini satu-satunya harapan mereka
CKLEK!
"WOY, TOLONG BUKAIN PINTU!" karena asyik sendiri, Gray tidak sadar jika pintunya sudah terbuka. Kepalan tangan itu, tanpa sengaja meninju seorang lelaki berambut biru, dia tergeletak di lantai, mengelus kepalanya yang terbentur, serta mengelap darah dari hidungnya menggunakan seragam
"Ittai...apa maksudmu meninjuku? Bukan begitu caranya memberi sambutan"
"Ma-maaf...aku...lupakan. Omong-omong, terima kasih telah membuka pintunya, Jellal. Kau penyelamat kami!"
"Tetapi bagaimana bisa?" tanya Loke menghancurkan kesenangan Gray. Bunga-bunga bermekaran pun mendadak layu
"Karena aku adalah ketua OSIS, jadi punya empu-nya kunci. Sekarang, jawab pertanyaanku, kalian mengunci diri di UKS, melewatkan hampir seluruh mata pelajaran hanya untuk bermaho ria? Begitu, hah...?" tuduh Jellal sembarangan. Gray hendak buka mulut, tetapi si perayu wanita sejati itu main kabur
"Tu-tunggu, mau kemana kau?!"
"Ceritakanlah semua itu pada Erza-sensei nanti. Bye!"
"Sial, dia mau melapor rupanya!" teriak Gray lagi, terlalu kesal sampai menendang rak di sebelah
Masalah individu, diselesaikan masing-masing.
Bersambung...
Balasan review :
Fic of Delusion : Thx ya udh review. Bakal ada yang lebih, lebih dan lebih gila lagi malah, wkwkwkw. Tunggu terus kelanjutannya
udin dragneel : Thx ya udh review. Oke deh bakal dilanjut
Iccha6799 : Thx ya udh review, kasih semangat pula.
