Sementara itu Natsu dan Lucy...
"Kamu menyukai Wendy?" tanyaku sekali lagi. Sekejap Natsu memalingkan mukanya, semburat merah menghiasi kedua pipinya, dari segi itupun sudah tergambar jelas
"Bu-bukan begitu. Karena Wendy adalah teman sekelasku, wajar bukan jika ingin menolongnya?!" tanya Natsu tak terima, dengan tuduhan tanpa dasar yang kulontarkan. Aku menganggukan kepala tanda mengerti. Sayangnya, ekspresimu tidak berkata demikian
"Masa? Apa iya? Kamu serius?" pertanyaan dariku semakin membuat Natsu terdesak. Akhirnya dia pun keceplosan
"Jangan mempermainkanku! Jika menyukainya, Mystogan bisa...cih, aku tidak mau menyebut nama itu seumur hidup. Semua ini salahmu"
"..." menjawab balasannya justru memperparah rasa bersalahku. Diam adalah pilihan terbaik untuk sekarang
"Bagaimana kondisimu? Masih muntah darah?"
"Natsu-san tidak perlu mengkhawatirkanku. Pulanglah bersama temanmu itu" ucap Wendy lesu. Kondisinya pasti benar-benar parah, si hati besi pun bisa diluluhkan hanya dengan melihatnya
"Teman? Dia bukan temanku! Dasar penganggu, pergi kau dari sini!" bentak Natsu keras. Aku terdiam sejenak, belum pernah ada yang membentakku seperti ini. Sakit namun tak berdarah. Aku mundur beberapa langkah. Pintu berada pada jangkauan, aku bisa saja kabur, tetapi...
"Semakin kamu menginginkanku pergi, aku jadi ingin semakin menetap. Biar aku membantu, sekali ini saja"
"Memangnya, apa yang kamu tau mengenai kondisi Wendy?! Aku tidak..." ucapan Natsu seketika terhenti, waktu melihat seorang anak lelaki, masuk ke dalam kamar bobrok ini. Aku mengingatnya, dia murid yang Natsu beri uang
"Senpai...? Eto...eto...mengenai hutang...ini, ambillah. Walau tidak seberapa, tetapi..."
Yang membuatku kaget adalah, Natsu menolak mentah-mentah selembar uang lima ratus yen, justru dia memberi lebih. Aku tersenyum menyaksikan pemandangan mengharukan itu, bersyukur bisa menjadi saksi dari kebaikan seorang hati baja. Padahal, kau tidak perlu bersandiwara terlalu jauh, kau larut dalam peranmu sendiri, menyembunyikan sejuta kebohongan dibalik punggung, melupakan apa yang selama ini kau anggap asli.
"Belilah makanan bergizi untuk Wendy. Kamu adiknya, paling tau bagaimana kondisinya"
"Terima kasih banyak, senpai! Kamu selalu membantuku, bagaimana caraku membalasnya?"
"Kita lihat nanti saja. Kalau begitu, sampai jumpa" aku sempat melihatnya, seutas senyum yang tidak pernah Natsu tunjukkan kepada siapa pun, termasuk Loke dan Gray. Kami berpamitan pada Wendy juga adiknya. Pasti sulit, terjebak dalam nasib yang tidak menguntungkan
Arah pulang langsung kubelok, tidak mengatakan sampai jumpa atau apa pun ke Natsu. Dia juga acuh tak acuh, terus berjalan lurus sambil bersenandung. Entah mengapa, lagu yang dinyanyikannya terdengar sedih, meski anak itu tetap tersenyum riang. Apa yang kusaksikan sekarang adalah palsu, namun berbeda dengan tadi. Ada banyak teka-teki dalam dirinya, dan semua tersimpan rapi dalam berangkas bernama hati.
"Aku pulang" seruku melepas sepatu. Masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas ranjang
"Hari ini sore sekali. Ada kegiatan apa?" tanya ibu dari arah dapur. Dari jarak segini pun, aku bisa mencium bau daging yang digoreng
"Hanya menjenguk teman saja. Aku belum tau mau ikut klub apa"
Dan sekarang, aku tengah memegang formulirnya. Meski terbilang sekolah peringkat tiga rendah, ada banyak klub yang bisa kuikuti, seperti sastra, musik, memasak, dan lain-lain. Benar juga, aku seakan melupakan hal penting, tetapi apa? Suara getaran HP membuyarkan lamunanku, melihat nama yang tertera di layar ponsel, sukses membuatku terdiam seribu bahasa. Levy!
"Halo"
"Lu-chan, kamu menjahiliku, ya?"
"Maaf, maaf. Aku ada urusan mendadak, jadi tidak bisa menemuimu di taman kota. Kapan-kapan, aku traktir es krim deh. Anggap saja sebagai ucapan maaf"
"Hahaha...aku bercanda. Soal masalah yang ingin kamu ceritakan itu, apa bisa dikatakan sekarang?"
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Aku penasaran, dengan bangku depan yang selalu kosong, bahkan sejak upacara penerimaan siswa baru. Namanya Wendy, dan dia sakit parah sehingga jarang masuk"
"Kamu akan menolongnya, bukan?"
"Pasti tanpa perlu diragukan. Namun, ada penganggu yang menghalangi, tidak lain Natsu sendiri. Bahkan dia membentakku di depan Wendy, menyebalkan sekali"
"Heh...jarang mendengarmu mengeluh. Ini bukan Lu-chan yang aku kenal"
"Ayolah, aku juga manusia biasa, yang bisa merasa lelah, tertekan dan stres. Kesampingkan masalah itu, kamu sudah memutuskan mau ikut klub apa?" meminta rekomendasi dari Levy merupakan solusi sementara, untuk keluar dari masalah ini. Otakku tidak bisa dipaksa terus berpikir
"Klub sastra, pilihanku tidak pernah berubah. Apa yang membuatmu jadi bimbang begini?" tanya Levy heran
"SMA Fairy Tail kan, notabene murid memiliki nilai akademis di bawah rata-rata. Aku takut, jika yang ikut klub sedikit, atau mungkin hanya aku seorang! Tetapi tidak ada salahnya mencoba. Terima kasih"
"Berjuanglah!"
Panggilan ditutup dalam menit ke tiga. Aku bergegas mandi dan dipanggil makan malam. Sepotong steak medium rare menjadi santapan hari ini. Biasanya Virgo yang memasak, dia adalah pembantu di rumah kami. Ada juga Cancer, yang bekerja di bagian dapur. Melihat ibu masuk ke dapur adalah pemandangan langka, ayah pasti berpikiran sama. Selesai makan malam, aku mencegat beliau yang ingin pergi ke ruang tamu, hendak menonton televisi dan menghabiskan waktu bersama ayah.
"Ibu, aku ingin ikut klub sasta, apa boleh?" tanyaku tanpa keraguan sedikit pun. Seharusnya tidak terlalu sulit menyakinkan ibu, apalagi aku mengikuti kegiatan bersifat positif
"Jawaban ibu kali ini adalah tidak!" langsung ditolak mentah-mentah!
"Ke-kenapa? Biasanya ibu setuju. Saat aku duduk di bangku SMP pun, ibu memperbolehkanku ikut dua sekaligus!"
"Sekarang keadaannya berbeda, Sayang. Kebanyakan murid di SMA Fairy Tail adalah berandalan. Mana mungkin, kegiatan klub bisa berjalan normal, yang ada, kamu akan terseret dalam pergaulan buruk"
"Huft...temboknya terlalu tinggi untuk ku panjat" gumamku seorang diri. Menaiki tangga menuju lantai dua, menutup pintu kamar dan mengambil ponsel di meja belajar
To : Levy-chan
Dugaanku benar, ibu tidak mengizinkanku ikut klub apa pun. Menjelek-jelekan murid di sana pula. Apa mungkin ibu masih menentang? Aku merasa tidak salah ambil keputusan, apa salah ingin masuk dengan kemampuan sendiri?
SEND!
Masalah yang sudah lalu pun aku ungkit kembali. Belum benar-benar terselesaikan sepenuhnya. Ibu menaruh banyak harapan, pada putri tunggal keluarga Heartfilia, lalu seenak jidat aku menghancur leburkan semuanya. Perasaan bersalah kembali mengusik, kenapa 'mereka' tidak mau pergi meninggalkanku jauh-jauh? Getaran hand phone merusak suasana sunyi di dalam kamar, aku membaca tiap kalimat seksama, berpindah sampai akhir.
From : Levy-chan
Menurutku wajar, jika ibumu tidak mengizinkan. Tante hanya takut, anak semata wayangnya hilang arah. Lu-chan adalah pewaris tunggal rumah sakit paman Jude. Tante pasti ingin, kamu masuk ke SMA Blue Pegasus, dan adegan paling parah adalah, mungkin saja tante tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidup. Kecuali Lu-chan bisa menunjukkan, bahwa semua itu salah.
Lagi-lagi berkata bijak, itulah yang menjadikannya penasehat terbaik. Aku mengetik balasan, lalu mengambil buku pelajaran. Baiklah, mulai sekarang aku harus berjuang, membuktikan pada ayah dan ibu kalau anak mereka bisa diandalkan, untuk mejadi seorang dokter di masa depan!
Keesokan harinya...
Kring...kring...kring...
KLEK!
"Hoammzzz...waktu berjalan cepat"
Mataku masih berat, terbuka dan tertutup berulang kali. Usai mencuci muka di kamar mandi, semangatku tak kunjung bangkit dari alam kubur. Aku menuruni tangga gontai, ya ampun, pasti karena efek membaca buku hingga larut malam. Sesekali ibu menepuk pundakku pelan, jika tidak, kesadaranku bisa benar-benar menghilang.
Semoga saja ada hal menarik hari ini.
"Selamat pagi, Chelia-san" sapaku berusaha terlihat segar. Mungkin dengan mengobrol sebentar, aku tidak lagi merasakan kantuk. Kami berjalan bersama menuju sekolah, baru kali ini ada seseorang di sebelahku selain Levy
"Kurang tidur? Lucy-san nampak lelah"
"Hehehe...kemarin aku membaca buku, karena terlalu asyik jadi kebablasan"
Cepat juga ternyata. Gerbang bercat hitam menunjukkan sisi kirinya, yang diapit tembok batu bata. Aku mengajak Chelia-san berlomba lari, siapa yang paling cepat tiba di kelas adalah pemenangnya. Jelas, dia kesulitan mengimbangi langkahku, akibat permintaan mendadak barusan. Kelas masih kosong, baru beberapa murid yang datang. Aku kembali memperhatikan bangku depan, kondisi Wendy memang tidak memungkinkan.
Hosh...hosh...hosh...
"Lucy-san, kamu...terlalu...cepat..." ucap Chelia-san sambil mengatur nafas. Aku mengabaikannya dan duduk. Menopang kepalaku memakai tangan kanan, menikmati hembusan angin sejuk lewat jendela
"Melamun? Apa yang kamu pikirkan?"
"Bukan apa-apa, tidak penting kok" balasku memaksakan senyum, terlihat kaku memang jadinya
Natsu menyusul masuk, bertepatan dengan bunyi bel pukul tujuh lewat sepuluh. Aku penasaran, apa dia marah padaku? Sudah pasti kan. Wajah kami tidak bertemu walau hanya sebentar, menatap lurus ke depan, memperhatikan Gildarts-sensei menjelaskan materi baru. Lamunanku terpecah berkeping-keping, semua tengah sibuk mencari anggota untuk kerja kelompok. Hmm...apa yang kulupakan?
"Lucy, hoi Lucy!" panggil Gray sebanyak dua kali. Barulah aku memberi respon
"Ada apa?" tanyaku polos seperti anak berusia lima tahun, yang tidak tau apa pun. Lalu bertanya tanpa tanggungan beban berat
"Belum dapat kelompok kan? Mau bergabung?" oh, ternyata ini yang kulupukan. Iya ya, Gildarts-sensei meminta kami, membentuk kelompok beranggotakan lima orang, lalu mengerjakan soal matematika halaman dua puluh
"Tentu"
"Kenapa kamu mengajak Lucy? Jellal juga masih menganggur"
"Anak itu mana mau, bergabung dengan kita bertiga. Pikirkan sisi positifnya, jika mengajak Lucy, maka tidak perlu bersusah payah mengerjakan" aku bisa mendengarmu, Gray
"Terserah kau saja!"
"Jangan marah-marah. Sebenarnya baik aku maupun Gray, tidak ingin mengajakmu bergabung, karena ulahmu kemarin, Jellal melapor pada Erza-sensei. Kami pun terkena imbasnya, dihukum mencambut rumput sampai sore hari"
"Kita ini sahabat, jangan perhitungan!"
"Ehem..." deheman Gray membuat Loke dan Natsu berhenti sibuk sendiri. "Baiklah, aku akan membagi tugas. Lucy, Natsu dan Chelia mengerjakan di kelas. Aku dan Loke mengerjakan di perpustakaan. Ada yang keberatan?"
"Boleh di halaman belakang sekolah?" tanya Natsu memberi usul. Gray hanya mengiyakan tanpa banyak omong. Kami bertiga berjalan santai, walau dia tak sudi berdiri di sebelahku, sehingga memimpin langkah di depan
"Sial...kenapa aku harus mengerjakannya bersamamu? Si kepala es itu...awas saja nanti"
Tidak bisakah mulutmu berhenti menggerutu, meski sehari saja? Aku juga keberatan, dan menerima keputusan itu dengan terpaksa. Justru di sini, mungkin akulah yang paling banyak mengeluh. Kami berteduh di bawah pohon rindang, mengingatkanku akan kejadian kemarin. Natsu tampak seperti hero sungguhan. Sayangnya, dia yang sekarang berbeda kepribadian.
"Kamu dan Chelia-san mengerjakan nomor ganjil, sedangkan aku genap. Bagaimana?"
"Seenaknya memberi perintah" jika tidak ada Chelia-san di sini, aku ingin mendekap mulutnya menggunakan kaos kaki berbau busuk, biar tau rasa anak itu!
"Sudah, sudah. Natsu-san setuju kan? Ayo kita kerjakan"
Sejam telah berlalu. Aku menggaruk belakang kepala setiap kali kesulitan. Syukurlah, kemampuan matematikaku tidak buruk, bahkan selesai terlebih dahulu sebelum Chelia-san dan Natsu. Kenapa julukan otak jenius bisa melekat padaku, ya? Mengerjakan lima belas soal sampai menghabiskan satu jam mata pelajaran cukup lama.
"Ada kesulitan? Mau kubantu tidak?"
"Aku bisa mengerjakannya sendiri. Eto...ini dikali ini, maka hasilnya segini!" seru Natsu girang, dia tersenyum bangga setelah berhasil menyelesaikan satu soal. Aku nyaris tertawa, mungkin lebih tepatnya terlanjur tertawa. Suara yang kukeluarkan dibuat sedemikian rupa, bisa gawat jika Natsu tau
"Ano...Natsu-san, lima kali lima itu dua puluh lima, bukan tiga puluh" ucap Chelia-san memberitau. Natsu kembali meliihat soal, menggerutu tidak jelas ketika menyadari letak kesalahannya
"Jelas-jelas lima kali enam, bukan lima kali lima"
"Kita harus mengulang dari awal lagi, karena Natsu-san salah mengerjakan di pertengahan cara"
"Argghhh...! Kenapa matematika itu harus ada di dunia?!" sekarang dia stres tingkat berat, mengacak-acak rambut merasa kesal. Diam-diam aku mengambil ponsel dari saku rok, memotretnya tanpa sepengetahuan Natsu. Dasar bodoh, hihihihi...mungkin yang kulakukan bagi kalian adalah kejam, tetapi pemandangan ini langka dan hanya terjadi satu kali dalam seabad
Drrrttt...
Ada SMS masuk? Punya siapa tapi? Natsu menatap layar ponselnya serius, membaca pesan singkat dari seseorang bernama Romeo.
Gawat Senpai! Wendy-nee masuk rumah sakit karena sesak nafas. Datanglah menjenguk sepulang sekolah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.
"Hoi Natsu, kamu mau kemana?!" teriakku mencegat larinya. Dia mendecih pelan, tidak membalas dan langsung pergi ke rumah sakit. Chelia-san mengikuti di belakang, mau bagaimana lagi, aku juga!
"Lho, kenapa ikut? Seharusnya kamu memberitau Gildarts-sensei!" masih saja mau mengusirku, dasar keras kepala
"Temanmu maka temanku juga. Lagi pula kita ini sekelas! Jadi wajarkan saling tolong-menolong?" bantahku melawan
Sesampainya di rumah sakit, Natsu bertanya pada bagian administrasi. Usai diberitau dimana kamar Wendy, kami bertiga berlari menaiki tangga. Dia tidak sabaran menunggu lift, padahal berada di lantai empat. Aku dan Chelia-san mengatur nafas terlebih dahulu, sedangkan Natsu terus berlari menghampiri ranjang paling pojok.
"Dok, bagaimana keadaan Wendy sekarang?" tanya Natsu gegabah. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Pasti dia tidak kalah khawatirnya dengan Romeo
"Untuk saat ini baik-baik saja. Kanker-nya berhasil dikendalikan"
"Terima kasih dokter"
Suasana hening, dan pertanyaan Natsu memecah lamunan kami bertiga.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Biaya pengobatannya terlalu mahal. Jika aku tidak membayar uang muka, Wendy-nee akan diusir dari rumah sakit! Maaf, kami menyusahkanmu setahun terakhir ini, tetapi senpai selalu..."
"Menolong orang tidak boleh perhitungan. Berapa banyak yang harus dibayar?"
"Tiga juta joul" ucap Romeo mengalihkan pandangannya, meremas ujung celana gelisah
"Banyak sekali. Darimana aku bisa mendapat uang sebanyak itu dalam satu hari?"
"Tidak perlu dicari. Lebih baik tanyakan pada Wendy, apa permintaan terakhirnya" aku buka mulut setelah terdiam lama, menyimak pembicaraan mereka berdua, yang tidak akan pernah menemukan solusi apa pun. Natsu menarik kerah bajuku, membuat wajah kami berdekatan sekitar tiga centi meter
"Menanyakan permintaan terakhirnya? Apa kamu gila?! Dokter berkata Wendy baik-baik saja, telingamu tuli bukan?!"
"Hanya untuk sekarang, kamu tau kondisi Wendy ke depannya, tidak bukan? Ayahku membuka rumah sakit, aku menjadi asistennya selama tiga tahun. Entah berapa banyak, pasien yang meninggal tepat di depanku. Ekspresi mereka sekarat, tidak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Wendy termasuk salah satunya. Wajah memelas yang dia tunjukkan kemarin, adalah bukti konkret"
PLAKK...!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kananku. Buliran jernih berlinang di pelupuk mata Natsu, yang sebentar lagi akan tumpah deras jika tidak segera diusap. Wendy membuka mata perlahan-lahan. Senyum pilu miliknya, dapat menggores hati siapa pun dengan kesedihan berarti.
"Siang Natsu-san, kamu tidak pergi ke sekolah?"
"Mendengarmu masuk rumah sakit, aku segera ke sini. Lucy dan Chelia juga"
"Terima kasih telah datang menjenguk, itu membuatku senang, Natsu-san, apa kamu tau? Tadi aku bermimpi jalan-jalan di pantai. Kalian semua berteriak memanggil namaku, tetapi aku tidak menyahut, terus berjalan ke depan sampai seorang wanita berbaju putih bersih memelukku erat"
"Jangan pergi terlalu cepat. Aku berjanji akan menyelamatkanmu!" seru Natsu kembali mengucap kaulnya, menggengam tangan kecil Wendy penuh harap, jauh lebih erat dari pelukan si malaikat, jauh lebih kuat dari panggilan maut. Dia menggelengkan kepala pelan, menyentuh tangan Natsu lembut
"Pergi terlalu cepat apanya? Merupakan suatu keajaiban, bisa bertahan tiga setengah tahun. Natsu-san, dengarkan permintaan terakhirku. Bawa aku ke sekolah besok, pertemukanlah aku dengan Mystogan"
"Ta-tapi, lelaki brengsek itu..."
"Bukan salahnya memutuskanku. Tolonglah, kabulkan permintaan terakhirku" pinta Wendy terisak-isak, membuat hati baja Natsu meleleh seketika
Mulutku sukses dibuat bungkam, kejadian pilu kembali terulang hari ini. Chelia-san menangis tanpa suara. Topeng ketegaran masih melekat di wajahku, yang menutupi sendu agar tidak dilihat siapa pun. Ayah selalu berkata, kehidupan dan kematian adalah saudara kembar yang tak terpisahkan, mereka berdua selalu menyertai hidup manusia, tanpa bisa ditentang bahkan oleh manusia terkuat sekali pun.
Keesokan harinya...
Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh, aku berangkat lebih awal, ingin segera sampai di sekolah dan bertemu Wendy. Mungkin tidak perlu, di digendong Romeo menuju gerbang, Chelia-san dan Natsu setia menemani. Lima menit awal suasana masih terasa damai, sampai beberapa murid dari sekolah lain, tengah mempergunjingkan Wendy.
"Lihat, Chelia sedang berjalan bersama murid SMA Fairy Tail. Aku heran, kenapa dia keluar dari Lamia Scale, hanya untuk temannya yang kini lumpuh itu?"
"Entahlah, mungkin otaknya bermasalah. Sayang sekali, padahal sekolah berharap banyak. Dasar pengkhianat"
Pengkhianat...pengkhianat...pengkhianat...
Ucapan mereka terngiang dalam ingatanku. Aku tidak menyangka, Chelia-san pindah agar bisa terus bersama Wendy. Natsu hampir melayangkan tinju, jika Wendy tidak menghentikan tindakannya yang dapat memancing masalah. Mendadak Chelia-san berhenti melangkah, menundukkan kepala tanpa alasan jelas. Aku ingin merangkulnya, berkata kamu tidak perlu menghiraukan ucapan mereka, semua itu bukan kesalahanmu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Sahabatku jauh lebih berharga dari apa pun! Kalian boleh menghinaku bodoh, kalian bolen menjelek-jelekkanku, tetapi jangan pernah sakiti Wendy! Aku menyayanginya, lebih dari yang kalian ketahui!" teriak Chelia-san menahan amarah. Isak tangisnya ditahan sekuat tenaga, dia pun menyusul Natsu dan kawan-kawan
Semua berusaha semaksimal mungkin, untuk menjadikan hari ini yang terbaik bagi Wendy. Saat istirahat tiba, aku, Chelia-san dan Wendy mengobrol mengenai suatu hal, yaitu masalah paling rahasia milik perempuan, cinta. Identitas Mystogan pun sudah jelas sekarang, dia adalah pacar Wendy sewaktu bersekolah di SMP Lamia Scale. Namun, karena kondisi penyakitnya yang parah, dia terpaksa pindah ke SMA Fairy Tail ketika lulus nanti, dan Chelia mengikutinya.
"Sepulang sekolah, apa Chelia dan Lucy-san, mau menemaniku pergi ke rumah Mystogan?"
"Boleh-boleh saja, tetapi...apa Mystogan-san akan menerima kedatangan kita? Kamu ingat, saat Natsu-san meminta hal serupa? Ditolak mentah-mentah bukan? Maaf mengatakan ini, tetapi aku pikir...dia pacar yang buruk"
"Masih mau bertemu dengannya? Kalau diusir lagi bagaimna?" tiba-tiba Natsu ikut bergabung. Mengabaikan dan seenak jidat mengambil tempat dudukku
"Biar aku yang bicara, Mystogan pasti mau mendengarkan"
"Karena itu permintaanmu, biar aku yang mengabulkannya. Tidak apa-apa kan?" tanyaku menyela obrolan mereka. Entah kenapa, ucapan itu dapat lancar keluar dari mulutku
"Aku saja tidak bisa, bagaimana kamu si orang asing?" Natsu tidak mempercayaiku sedikit pun, meski hal tersebut sangatlah jelas
"Jangan remehkan orang asing, Natsu"
Yosh, waktunya beraksi! Akan kubuat si hati baja terkesima, lihat saja!
Pulang sekolah...
Seharusnya kami bertiga saja yang pergi, tetapi Natsu memaksa ikut dan beginilah jadinya...beradu argumen sepanjang perjalanan. Aku heran, kenapa dia bersikeras mengusirku sejak awal masuk? Sekarang pun masih sama, dengan sombongnya berkata "Tenagamu tidak diperlukan", "Pergilah, biar aku dan Chelia yang mengurusnya", bla...bla...bla...terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan! Besok-besok aku harus membawa selotip, lalu mulut berisiknya disumbat sebanyak empat kali!
Tok...tok...tok...
CKLEK!
"Halo, siapa ya?" tanya seorang pria membuka pintu. Dia menatap kami satu per satu, lalu menganggukan kepala tidak jelas
"Kalian rupanya, kirain siapa. Mau mencari Mystogan, ya?" hebat sekali dia, bisa langsung sadar hanya dengan melihatnya. Mungkin karena keberadaan Wendy, yang kugendong akibat mati lemas, sehingga kesulitan berjalan
"Cepat beritau, dimana kakakmu itu!"
"Jam segini dia masih ikut kegiatan klub. Mau menunggu di dalam? Paling jam empat sore pulang"
"Untuk apa? Kita pergi ke sekolahnya saja langsung! Di SMA mana dia sekarang?"
"Blue Pegasus. Aku sarankan jangan pergi menyusul. Mereka semua membenci kita, dan di sana ada...kamu tau kan, siapa yang aku maksud?
"Sial! Kenapa dia tidak sekolah di SMA lain saja? Dasar penganggu! Sama seperti orang di sebelahku" sindir Natsu menengok ke arahku. Sadarilah posisimu, kita ditontoni tetangga tau!
"Ma-masuklah, apa kata tetangga nanti" gumam Jellal seorang diri. Kami memasuki rumahnya yang terbilang cukup besar. Natsu langsung duduk, menghentak-hentakkan jarinya di atas tangan. Apa dia tidak diajari etika? Membuat malu saja...
"Hoi Jellal, kamu tidak bohong kan?"
"Mana mungkin aku bohong. Calon pacar Erza-sensei, adalah orang yang jujur, baik hati, suka menolong, tidak sombong dan rajin menabung. Mau melihat ini?" menyodorkan buku tabungan dengan bangganya, lalu tertawa seperti tante-tante sedang memegang kipas menutupi mulutnya. Gaya yang norak
Beberapa jam kemudian...
Jam hampir menunjukkan pukul lima tepat, dan Mystogan-san belum datang juga! Natsu mulai tidak sabar sekaligus kesal, dia pun berdiri hendak memberi pelajaran pada Jellal, sampai suara denyit pintu menghentikan niatnya.
"Teman-temanmu datang berkunjung? Jarang sekali"
"Mereka tidak mencariku, tetapi kamu"
"Mencariku untuk apa? Oh Natsu-san, apa kabar? Sudah lama, ya" sengaja basa-basi, huh? Natsu buka mulut, menyuarakan apa maksud kedatangan kami
"Langsung ke pointnya saja. Wendy ingin bertemu denganmu"
"Pulanglah, aku tidak ingin..." ujung-ujungnya diusir. Aku tidak tau, masalah apa yang terjadi di antara Wendy dan Mystogan di masa lampau, yang kutau adalah, kami harus mengabulkan keinginan terakhirnya
"Apa kamu tau? Wendy sekarat. Dia menunggumu sampai tertidur, nafasnya tersengal-sengal, aku tidak yakin, dia bisa bertahan lebih lama. Setidaknya, biarkan Wendy meninggal dalam pelukanmu"
Benar, setidaknya biarkan Wendy, meninggal dalam pelukanmu. Agar penyelasan dan keinginannya terbalaskan.
Bersambung...
Balasan review : (pundung cuman satu, tapi saya senang banget /apamaunya)
Fic of Delusion : Maaf ya baru diupdate sekarang, kamu gak bosen nunggu kan? Yap, Lucy memang sangat ambisius di sini, lagi-lagi OOC wkwkwkw. 'dianuin' itu maksudnya apa ya? Gagal paham nih. Thx ya udh review, maaf kalo chap 4 panjang banget.
