"Syukurlah, keinginan Wendy bisa terwujud. Aku senang..."

"Tentu, aku juga senang"

"Hey...suatu hari nanti, aku ingin menjadi dokter. Menyelamatkan banyak orang, menjalin hubungan, bersosialisasi. Tidak akan kubiarkan mereka meninggal, aku berjanji"

"Dan keinginanku untuk mengusirmu semakin kuat"

Kriing...kriing...kriing...

Mimpi kah? Gumam Lucy baru terbangun dari tidur.

Aneh, padahal aku tidak ingat, Natsu berbicara seperti itu kemarin, ketika pemakamannya dilaksanakan. Dia terlihat sama dengan kebanyakan orang, meratapi nasib malang milik Wendy, dan menangis tanpa suara. Jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima, aku harus bersiap-siap, jika ingin lebih cepat sampai.

Ibu menunggu di ruang makan. Lagi-lagi ayah melahap sarapan sambil membaca koran, kebiasaan buruknya yang tidak pernah hilang sejak dulu. Aku menarik kursi untuk diduduki, memoleskan selai cokelat pada sepotong roti, karena masih terlalu pagi, jadi aku berlama-lama saat menyantapnya. Membosankan sekali...apa tidak ada hal menarik? Misalkan kasus pembunuhan, penelantaran anak, kebakaran, asal jangan politik, terlalu monoton.

"Oh, ibu lupa memberitaumu. Hari ini ada perbaikan jalan, ambillah rute membelok nanti" kenapa baru sekarang?! Aku memasukkan setengah roti sekaligus ke dalam mulut, meneguk segelas susu hangat terlalu cepat sampai tersedak, lalu berpamitan dan memakai sepatu keluar rumah

Ayah sempat memarahiku, karena melanggar tata cara makan yang benar. Mau bagaimana lagi, aku juga tidak mau dan terpaksa, perutku sukses dibuat sakit karena sistem kebut semenit tadi. Niat bersantai di sekolah pun terpaksa aku lupakan. Tinggal dua puluh menit lag, sebelum bel masuk berbunyi, jika langkah kakiku tidak dipercepat, bisa terlambat nanti.

Jalan menanjak di depan terlihat familiar. Kemarin aku melewatinya bersama Natsu, Wendy dan Chelia-san. Mendadak senyumku menjadi getir, tak kuasa mengingat semua itu. Lamunanku dibuyarkan, oleh keributan tetangga sebelah. Suara mereka terdengar keras, terjadi adu bantah satu sama lain. Dari jarak cukup dekat, aku melihat ada Jellal di sana, bersama saudara kembar dan ibunya, mungkin? Mengingatkanku pada permintaan Meredy-san hari Minggu kemarin.

Flashback...

Levy mentraktirku makan di kedai Ibu Meredy. Kami janjian di taman kota jam sebelas siang. Kali ini aku memesan es serut. Semenjak diberitau, Natsu suka makan es campur, dalam hatiku berjanji, tidak akan menyantapnya lagi sampai kapan pun, agak berlebihan memang. Air muka Meredy-san terlihat buruk, apalagi dia melamun saat mengelap gelas, sehingga terjatuh dan pecah berkeping-keping.

"Tidak biasanya, melihat Meredy-san memecahkan gelas" komentarku yang dibalas senyum kecil, penuh sejuta tanda tanya. Levy juga berpikiran sama, aku memutuskan bertanya

"Ada masalah apa? Mungkin kami bisa membantu"

"Benarkah?! Bibi tidak perlu sungkan?" Meredy-san kembali bersemangat, usai mendengar tawaran cuma-cuma dariku. Tanpa aba-aba langsung menyebutkan permintaannya

"Lucy-san, tolonglah anak bibi, onegai!"

"Nama anak bibi siapa dan apa masalahnya?"

"Jellal Fernandes, dia satu sekolah denganmu. Anak itu menyukai gurunya sendiri, bibi sudah menjelaskan panjang lebar, hubungan antar murid dan guru adalah tabu, hal aneh semacam itu mustahil terjadi dan lain-lain. Bibi juga berkata, ingin membantunya cari jodoh, tetapi Jellal masih keras kepala"

Cari jodoh? Kedengarannya terlalu berlebihan. Aku mengerti apa maksud Meredy-san, dia ingin agar Jellal melupakan Erza-sensei, dan mencari cewek lain yang lebih pantas juga sederajat. Aku mengiyakan pelan, luapan kegembiraannya tergambar jelas, tanganku sampai dijabatnya berulang kali.

End flashback...

Sekarang adalah kesempatan emas! Aku berjalan mendekat, mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Seseorang membukanya kasar, membuatku tersentak kaget hingga terjatuh. Jellal memandang heran, langkah Mystogan-san terhenti ketika saudara kembarnya menghalangi jalan di depan. Aku bangkit berdiri, merasa panik tidak tau harus berkata apa. Ayolah, kapan lagi kalau bukan sekarang?!

"Eto...eto...mau berangkat bersama?" tawarku yang mengakibatkan, pandangan mata Jellal semakin bertambah heran. Mystogan-san mendahului, tidak mempedulikan kedatanganku yang mendadak ini

"Aku pikir Erza-sensei, ternyata si murid baru. Cepatlah, nanti kita bisa terlambat" ajaknya ketus. Dia seakan membenci kedatanganku. Setelah dimarahi habis-habisan pun, masih saja memikirkan Erza-sensei

Diam-diam aku sempat menguping. Meredy-san memarahi Jellal karena masalah itu, Mystogan-san ikut buka mulut, lalu mereka berdua ribut sendiri. Nama Wendy sempat diungkit, yang semakin menaikkan volume suara Mystogan-san. Walau tidak paham, sekiranya aku bisa mengambil kesimpulan seperti tadi. Jellal berjalan sangat cepat, meninggalkanku di belakang seorang diri. Dia pasti takut terlambat, ketua kelas memang jagoan. Meski alur pikirannya tidak dapat ku mengerti.

Ding...dong...ding...dong...

Padahal kami hanya perlu tiga menit, kenapa bel masuk berbunyi?! Kali ini aku memimpin jalan, berlari secepat mungkin sebelum Gildarts-sensei datang, sekarang giliran Jellal yang tertinggal. Pintu kelas ku buka lebar-lebar, mengatur nafas terlebih dahulu baru menaikkah kepala. Semua pandangan mata tertuju padaku, Gildarts-sensei tengah memegang buku cetak sejarah, penjelasannya terhenti seketika, waktu melihatku dan Jellal datang bersamaan. Tatapan itu, beliau telah salah sangka!

"Ini tidak seperti yang sensei pikiran. Saya dan Jellal...hosh...hosh..." berapa banyak tarikan nafas, yang harus ku ambil? Rasanya sesak, untung saja penyakit asmaku belum kambuh

"Duduklah. Keterlambatan lima menit bisa ditoleransi"

"Terima kasih, sensei"

Ya ampun, jantungku deg-degan saat menunggu jawaban Gildarts-sensei. Syukurlah beliau adalah orang baik, jika Erza-sensei yang menjadi wali kelas, mungkin aku dan Jellal sudah dihukum berdiri. Baru-baru ini aku ketahui, selain menjabat sebagai guru, Erza-sensei juga memegang peran komite kedisiplinan sekolah. Semua murid, bahkan Gildarts-sensei sekali pun berkata, beliau galak dan sadis. Selera Jellal mengenai wanita terbilang aneh.

Bel istirahat berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Kami berdua, tengah menyantap bekal makan siang. Telur gulung kesukaanku terjatuh dari apitan sumpit, terkejut melihat kedatangan Jellal, yang terbilang mendadak. Dia mau membalasku rupanya! Mencurigakan sekali,

"Ikutlah denganku" pinta Jellal acuh tak acuh, dengan terpaksa mengikuti kemaunnya. Suasana hatiku bertambah buruk, ketika Chelia-san memberi kode aneh berupa ancungan jempol, kamu pikir aku mau kencan apa?!

"Ki-kita mau kemana?" tanyaku gelagapan. Ekspresinya horror!

"Seperti yang kamu ketahui, itu adalah UKS, di sebelahnya ada toilet pria dan wanita, bla...bla...bla..."

"Eh?"

"Kamu mendengarkanku tidak? Selanjutnya halaman belakang sekolah"

Ternyata dia hanya memanduku, pekerjaan itu tidak cocok untuknya kalau boleh jujur. Ada banyak tempat rahasia, seperti gudang di halaman belakang sekolah, lahan berkebun untuk siswa, kandang hewan, dan lain-lain. Keinginanku masuk klub bertambah kuat, SMA Fairy Tail memiliki banyak kehebatan, yang tidak diketahui orang awam, ibu dan ayahku termasuk salah satunya.

Kesenyapan menguasai, aku canggung untuk buka mulut, hanya ada kami berdua di sekitar koridor lantai bawah. Jangan takut, dia itu orang baik! Meski sedikit kasar, juga norak.

"Di-di sini sepi, ya!" ucapku memberanikan diri. Jellal terdiam sejenak, menghentikan langkah kakinya begitu juga denganku

"Baru sadar? Ayo pergi ke lantai tiga, ada yang ingin aku tunjukkan"

Deretan kelas berjajar rapi, mulai dari A sampai D. Di sinilah murid SMP menimba ilmu, yakni lantai tiga. Aku asal masuk sekedar melihat-lihat, mendapati bangku kosong tanpa tas di samping meja. Jellal ikut masuk ke dalam. Seluk beluknya pun tak luput dari penyelidikanku, loker, bank data kelas, rak buku, meja guru, belakang papan tulis. Hasilnya nihil. Kelas ini kosong, tidak ada tanda-tanda pernah ditempati, lantai marmer berwarna putih itu berkilau diterpa sinar matahari, seakan baru dibersihkan tadi pagi.

"Selamat, kamu adalah orang pertama, yang menginjakkan kaki di kelas satu D"

"Bohong...katakan Jellal, kamu berbohong, kan?" bola mataku melebar, menyadari dugaan tersebut memang benar adanya

"Hanya tiga kelas yang terpakai. Ada sekitar sembilan puluh murid, dari kelas satu sampai tiga SMP yang terdaftar resmi. Sekolah ini akan ditutup, setelah kita semua lulus"

"Lalu, kenapa kamu tidak mencengahnya?! Ketua OSIS memiliki wewenang untuk itu!"

"Kepala sekolah yang menyuruhku, beliau sendiri putus asa. Kamu masuk ke SMA Fairy Tail, karena sakit demam ketika ujian berlangsung. Aku heran, kenapa murid peringkat dua se-Magnolia, melepas kesempatannya untuk masuk ke sekolah terkenal tanpa ikut tes"

Kenapa...kenapa semua orang menyindiri sedemikian rupa? Waktu itu Natsu, sekarang Jellal. Aku meremas ujung rok kesal, mereka tidak mengerti...mereka tidak akan pernah mengerti...

"Aku ingin masuk dengan kemampuanku sendiri. Memangnya kenapa, salah?! Terkesan menyombongkan diri? Menyia-nyiakan kesempatan?! Aku mau dipandang sederajat. Hak istimewa atau apa pun itu, apa gunanya?!" bentakku meninggalkan kelas. Jellal masih terdiam di tempat, mengumamkan satu hal sesudah aku pergi

"Tempatmu bukan di sini, Lucy Heartfilia"

Sial, aku membencimu Jellal, cowok tampan apanya, perkataanmu begitu keji dan tidak kemanusiaan. Mereka pikir, orang jenius itu robot apa? Padahal aku juga manusia, yang bisa merasa sakit hati, lelah karena terus diejek, terkadang ingin bunuh diri, akibat frustasi berlebih. Aku sampai di depan kelas, mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin, menggunakan kedua lubang hidungku. Kepalaku diangkat ke atas dan kosong, hanya ada Natsu yang sedang duduk memandang jendela.

Seandainya saja, aku tidak berjanji apa pun pada Meredy-san. Urusan asmara Jellal bukanlah hal penting, tombol mundur menghilang dari pilihan, seiring berjalannya waktu. Lebih baik aku cepat melunasi hutang, sebelum surat tagihan dikeluarkan.

"Natsu, ada yang ingin aku bicarakan"

"Langsung saja. Mendengar perkataanmu membuang waktuku"

"Kali ini sangat penting. Aku ingin kamu menolongku, dengan amat sangat memohon" ucapku serius, menekankan kalimat terakhir, yang membuat Natsu membeku di tempat

"Menolong apa? Kenapa aku harus menyia-nyiakan tenaga untuk membantumu?!"

"Bantu aku menyakinkan Jellal, kalau Erza-sensei bukanlah pujaan hatinya"

"Tentang Jellal? Lupakan saja. Sebanyak apa pun kamu menyakinkannya, dia tidak akan merubah pilihan secepat itu. Menyerahlah, dan jangan ikut campur urusan orang lain, cewek menyusahkan"

"Dia temanmu juga, kan? Atau mungkin, Natsu Dragneel adalah lelaki pilih kasih? Cowok macam apa kau ini? Sangat mudah menyerah, padahal belum mencoba sedikit pun. Aku mohon, demi Jellal" kepalaku didekatkan, membuatnya terpaksa menatap lekat iris karamelku. Hembusan nafas Natsu, terasa jelas membekas di kedua pipiku, tersengal-sengal penuh kehangatan

"Baiklah, biaklah, aku mau membantu! Sebelumnya, singkiran dulu wajahmu dariku" ucapnya terpaksa setuju. Aku sadar diri dan kembali menjaga jarak. Wajah kami benar-benar dekat tadi! Jantungku seakan mau berhenti. Natsu memalingkan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya

"Maaf, aku terbawa suasana tadi. Jangan bertindak sembarangan, tunggu aba-aba dariku, oke?"

"Terserah apa katamu"

Sore harinya jam pulang sekolah...

Hari Senin memang spesial. Aku baru pulang sekolah jam tiga lewat sepuluh menit. Jellal berlari menghampiri seorang wanita tinggi berambut scarlet. Ya, dia adalah Erza-sensei, guru paling killer yang pernah ada. Jarak kami lumayan dekat, percakapannya bukanlah mustahil, untuk didengar oleh kedua telingaku.

"Mau pulang bersama, sensei?" tawar Jellal tersenyum penuh arti. Berbeda sekali ketika bersama denganku

"Lagi-lagi menawarkan hal serupa. Jellal-san, sudah berapa kali saya bilang, guru dan murid harus menjaga jarak, kita bukan teman apalagi kekasih"

"Jangan menolak, sesekali terimalah. Ya?"

"Sekali ini saja. Rumahmu kan jauh, sensei khawatir kamu sampai larut malam"

"Siap laksanakan, darling, hahaha..." suara tawanya renyah berbalut kegembiraan. Julukan perayu wanita sejati memang cocok, sampai menambah kata 'darling' segala. Setampan apa pun seorang pria, aku tidak yakin, dia bisa meluluhkan hati Erza-sensei dengan mudah

Sayangnya, tampangmu begitu menyedihkan, Jellal Fernandes.

"Maaf sensei, boleh saya pinjam Jellal sebentar? Tidak lama, hanya lima menit saja"

"Tentu, kenapa tidak?

"Jangan langsung pulang, tunggu aku, ya, sensei!" Jellal berseru dari kejauhan, sebelum tubuh ramping Erza-sensei menghilang dari pandangan. Aku membawanya ke gudang dekat halaman belakang sekolah. Ada yang ingin aku bicarakan empat mata

"Pasti kamu marah, karena kesempatan emasmu aku rebut begitu saja"

"Cepat katakan apa maumu. Aku tidak enak hati, membuat Erza-sensei menunggu"

"Aku ingin menolongmu mendapatkan Erza-sensei. Jadi, apa yang akan kamu lakukan, demi merebut hati beliau?"

"Kalau berkata ingin menembaknya, bagaimana? Kamu masih mau menolongku?"

"Boleh-boleh saja, tetapi jika ditolak jangan sakit hati"

"Lelaki sejati mana mungkin sakit hati, hanya karena cintanya ditolak mentah-mentah. Air mataku terlalu berharga, untuk dibuang percuma"

"Pegang perkataanmu, Jellal"

Bersambung...

Balasan review :

Fic of Delusion : Thx ya semangatnya, ini memang kebiasaan buruk author yang suka pesimis. Pas liat traffic stats saya sangat puas :D Thx juga udah review dan mendadak saya paham soal kata 'dianunin', wkwkwkw. Cuman kayaknya gak enak didengar.

rui : Thx ya udh review, ternyata SR benar2 ada wkwkwkw. Tunggu terus kelanjutannya. Maaf ya kalau lama banget update-nya